Aku terus berlari kearah taman didekat sana untuk mancari Nirma dan Haru, tatapi ketika sudah sampai di taman, aku sama sekalih tidak menemuka istriku dan anakku itu.
Kemana mereka??
Aku pun berjalan kearah jalan raya besar, berharap menemukan sesosok perempuan yang sedang menggendongkan anaknya. Tapi nihil, malam ini aku sama sekalih tidak menemukannya.
Apakah dia sudah kembali ke rumah? Aku lalu mencoba menghubungi Suho yang mungkin masih berada dirumahku. Tapi mereka bilang, Nirma dan Haru berlum sampai juga di rumah.
Arrgggghh!! Kemana mereka??? Aku tidak tahu harus bagaimana? Menghubungi Nirma juga pasti tidak bisa, karena waktu itu smartphone nya sudah kurusakan. Jadi saat ini dia pasti pergi tidak membawa hp sama sekalih!
Sambil berjalan gontai aku tiba-tiba saja menemukan sebuah kerumunan orang di tepi sana. Ada apa? Kulihat sebuah mobil ambulan tiba-tiba datang mendekati kerumanan tersebut.
Oh! Tidak! Jangan-jangan!
Aku segera berlari kearah kerumanan tersebut, kucoba menyelinap untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata ada dua orang yang tergeletak di atas jalan, kulihat seluruh badannya yang ditutupi kain.
“Ya, siapa mereka?” Tanyaku kearah bapak disampingku.
“Mereka berdua adalah seorang ibu dan anak perempuan. Mereka kecelakaan barusan beberapa menit yang lalu.” Jelas ahjushi itu
“Mwo???! Bisakah aku melihat mereka sebentar!” Kataku sambil mendekati kedua mayat yang tergeletak diatas jalan tersebut.
Tapi pihak petugas tidak mengizinkan aku untuk membuka kain yang menutupi wajah mereka. Dengan alasan sedang masih diinvestigasi oleh polisi. Tapi aku terus mengelak, aku minta mereka untuk mengizinkanku. Tapi mereka tetap tidak mau.
“Ya!! Kenapa!!!” Bentakku kearah mereka. “Aku hanya ingin memastikan mereka itu keluargaku atau bukan!”
“Maaf, Pak, kami tidak bisa...” Kata petugas, dan kini aku melihat petugas rumah sakit segera membawa masuk mayat tersebut ke dalam ambulance.
“Baiklah kalau begitu bagaimna ciri-crinya mereka?” Tanyaku kearah mereka.
“Yang ibu berkulit agak hitam, sedangkan si anak perempuanya berambut panjang sebahu...” Jawab si petugas kearahku.
Ketika mendengarkan perkataan mereka, tiba-tiba saja duniaku terasa runtuh. Aku seperti di jatuhkan sebuah gunung yang jatuh mengenai kepalaku dari atas langit. Kedua lututku kini langsung gemeteran.
“Nirma yaa.... Haru ya....” Lirihku pelan dan tidak percaya dengan semua yang diucapkan si petugas.
FLASHBACK-
“Apa katamu sayang? Adik kecil? Kau ingin punya Adik?” Nirma berkata sambil mendekatkan wajahnya kearah wajah tembem Haru di pelukannya. Ia lalu mulai memindahkan tatapannya kearahku, “Yoboo, Haru minta adik kecil....” Tanyanya kearahku yang sedang meneguk minuman.
Aku pun langsung keselek karena permintaan Haru, “Mwo?? Baiklah kita bisa membuatnya nanti malam ini. Hahaha” Jawabku sambil terkekeh-kekeh.
“Appa, Haru ingyin adik cecil...” Haru lalu berkata kerahku dengan manja.
“Iya sayang, iya, Malam ini akan appa buat dengan Eomma mu...”
Nirma lalu mencubit lenganku dengan gemes, “Ya, Kau ini, bukannya kau pernah berkata tidak mau punya anak lagi untuk saat ini? Karena kau belum mendapatkan pekerjaan yang tetap???” Tanyanya.
“Mwoyaa?? Kata siapa? Aku mau bikin anak yang banyak denganmu. Hahaha. Kalau nanti Haru punya adik, Haru ingin adik perempuan atau adik laki-laki?” Tanyaku kearah Haru sambil mencubit pipinya gemes.
“Hem, namja yaa appa! Haru ingin adic laki-laki...” Jawab Haru Sambil sumringah.
“Jinja? Kalau kau punya adik laki-laki kau ingin beri napa apa nantinya??” Tanyaku lagi dengan usil.
Haru tampak bingung, ia hanya menggaruk-garukan kepalanya. Tapi, di sampingku Nirma sudah angkat bicara, “Ya, bagaimana kalau kita kasih namakan ia dengan Wiyifan atau Kris?” Usulnya.
Aku melihat kearahnya sambil mengangkat kedua alisku dengan kaget, “Ya!! Aku tidak rela kau memberikan nama anak kita dengan nama Kris EXO! Yobo, sadarlah ini tentang anak kita, jangan samakan dengan kucing peliharaan kita dirumah yang sama-sama kau kasih nama dengan sebutan Exotic??? Apa itu???” Protesku panjang.
Nirma hanya tertawa-tawa saja mendengarkan protesku. Aku mengira ia mungkin tadi sedang bercanda saja. Tapi di pangkuannya, Haru tampak menganguk-angukkan kepala mantap mendengarkan usalan gila ini.
“Eung~ Eomma! Haru ingin adik Haru dicacih nama sama sepelti oppa-oppa eksso... tapy Haru ingin, adic Haru di kacih nama Baekhyun. Haru cuca Baekhyun!” Pintanya sambil merenggek-renggek kearah Nirma.
Kini lagi-lagi aku hanya menepuk jidatku dengan lemes. Aku lalu menatap wajah istriku dengan kesel, “Kau lihat ini semua karena dirimu....” Ujarku kearahnya.
“Hahaha, Yobo... kau ini kenapa? Ini kan hanya imajinasi anak kecil...” Balasnya sambil mengecup keningku dengan lembut.
FLASHBACK-END-
Aku mencoba mengelap air mataku untuk sekian kalinya, aku selalu saja menangis jika mengingat kejadian masa laluku dengan Nirma dan Haru. Saat ini aku sedang duduk di Rumah Sakit. Untuk menunggu hasil autopsi dari rumah sakit.
Saat aku mengetahui ciri-cri mayat yang kecelakaan di sana, aku tahu kalau ciri-cirinya itu adalah mirip Nirma dan Haru. Aku benar-bener telah menyesali perbuatanku. Kalau saja aku tidak melarikan diri dari rumah. Kalau saja aku tidak berburuk sangak dulu dengan Kris mungkin tidak akan begini jadinya...
“Hiks! Nirma.... Haru yaaa.... hiks!” Aku menangis kecengukan sambil mengelap air mataku yang sudah membasahi muka ini.
“Mianhee!!” Teriakku saat itu di lorong rumah sakit yang sangat sepi.
“Maaf, apa anda termaksud keluarga si korban?” Tiba-tiba saja seorang dokter datang mendekatiku.
“Hyung!!!!” Aku mendengar Xiumin berlari kearaku. Kulihat dia kesini bersama Kai. Aku baru saja menelepon mereka memberi kabar mengenai kecelakaan ini.
“Kenapa kau ada disini!!” Teriak Kai kearahku dan berdiri membelakangi dokter yang tadi sebenarnya ingin mengatakan sesuatu dneganku.
“Mereka kecelakaan...” Jawabku lirih
“Mwo???” Xiumin dan Kai berteriak bersamaan.
“Ya! Ini sebenarnya salahku! Aku menyesal sudah membenci istriku karena dia terlalu menyukai Kris Exo dan EXO! Aku menyesal sudah cemburu dengan Kris! Karena Nirma tidak pernah melukiskan diriku! Tetapi dia hanya mau melukiskan Kris saja!!” Kataku Panjang sambil meraung-raung nangis di bangku.
“Maaf, sebenarnya apa betul bapak ini kelurga korban???” Dokter yang tadi pun masih tetap bertanya kearahku. Tapi aku memasih saja tetap memanangis meraung-raung menyesali tindakanku.
“Hyung....se—“ Xiumin seperti ingin berbicara, tapi langsung cepatku potong pembicaraannya.
“Aku menyesal juga tidak pernah memuji hasil lukisan istriku selama hidupnya. Padahal aku sangat-sangat menyukai lukisannya.... Hiks... bodohnya aku ini... huweee hiks! Aku kangen sekalih dengan Haru anak ku juga, dia sangat menyukai EXO juga. Hikss!!!” Tangisanku mulai pecah lagi.
“Ya Paboyaa...” Tiba-tiba saja terdengar suara.
Aku mendongkakkan kepalaku, untuk melihat siapa yang berdiri didepanku.
“Jadi selama ini kau terlalu cemburu???” Kata si pemilik suara itu lagi.
“Jadi selama ini sebenarnya kau menyukai lukisanku, eoh??” Tanya si pemilik suara itu lagi.
“Ni-ni-nirma....” Panggilku kearah seseoarang yang sudah didepanku ini.
Apa mataku saat ini sedang salah melihat? Aku melihat sesosok bayangan Nirma yang berdiri didepanku. Ia kini sedang menggendong Haru yang tertidur lelap di pelukannya.
“Mwo?? Kau mengiraku sudah mati hah?!” Kata Bayangan Nirma itu.
Aku masih saja bengong melihatnya. Karena tidak menyadari dengan apa yang kulihat sekarang.
“Apa aku bisa melihat hantu???” Kataku berbicara pada diriku sendiri. Aku kini merasa seperti orang bodoh.
Xiumin dan Kai pun langsung tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapanku. Si Kai bahkan tertawa sampai memukul-mukul tembok rumah sakit dan memegang perutnya karena kesakitan.
“Hyung! Ini sebenarnya noona Nirma! Kenapa kau kira dia hantu???” Tanya Kai kearahku sambil kecekikikan geli.
“Mereka tidak kecelakaan, hyung, tadi aku dan Kai menemukan mereka berdua di supermarket. “ Jelas Xiumin sambil menahan ketawanya didepanku. Ia tidak seperti Kai, Xiumin selalu bersikap sopan denganku.
“Ne! Tadi Haru kehausan saat aku pergi mencari-carimu diluar, makanya aku ke supermarket dulu untuk membelikannya minuman!” Nirma bercerita kepadaku.
Aku saat itu hanya bengong saja.
Yang aku tahu, ekpresiku saat itu sangat memalukan.
Mulutku terbuka lebar
Kedua mataku hanya menatap Nirma dengan tatapan kosong.
Aku seperti orang dongo saja.
Kejutan kali ini benar-benar membuatku shock.
__________ NEXT TO EPILOG