Luna tersenyum lebar, menyipitkan matanya dengan mulut terbuka. Ia terlihat begitu ceria memandang Luhan yang hanya diam tanpa berekspresi apa-apa seraya menyesal satu cup kopi yang telah ia pesan.
Malam ini Luna dan Luhan berjanji bertemu di kafe yang sering mereka kunjungi sejak semasa sekolah dulu.
“Luhan, aku senang sekali bisa melihatmu sedekat ini lagi. Sudah lama kita tak bertemu seperti ini.” kata Luna mengawali pembicaraan. “Ku harap kau baik-baik saja.” lanjutnya.
“Sebenarnya aku tidak sedang tidak baik-baik saja. Coba posisikan dirimu sebagai perempuan yang harus melepaskan lelaki yang kau cintai dengan terpaksa karena direbut perempuan lain.” ucapan Luhan mengundang rasa iba Luna.
“Aku tahu perasaanmu seperti apa. Ma’af karena aku juga mendukung hubungan Kris dan Ji Yeon.” kata Luna.
“Berhenti membicarakan mereka. Jadi, kapan kita akan mulai rekaman? Hmm.. ku rasa single duet kita akan sukses. Aku bangga bisa featuring dengan penyanyi solo berbakat sepertimu.” Luhan mencoba bersikap biasa-biasa saja. Ia ingin menghindari pembicaraan yang mengusik perasaannya kini.
“Ne. Mohon bantuannya sunbae.” Jawab Luna dengan bahasa formalnya tanpa menghilangkan senyumnya. Bagaimana pun juga Luhan tidak hanya sebagai senior di sekolahnya, ia juga seniornya di dunia entertainment karena dia lebih dulu debut dari Luna.