home_icon
SIGN IN
SIGN UP
https://nagaempire1.com/ https://empire88m.com/ https://botakempire19.com/ https://uncleempire19.xyz/ https://indobet11g.com/ https://mukapoker1.lol/ https://mukacasinob.com/ https://138.197.6.28 https://138.68.168.98 https://152.42.182.182/ https://planetaryconquest.com/ https://internationalpeaceday.com/ https://weidenfeldlaw.com/ https://notariamc.com/ https://inetskate.com/ https://newdatingway.com/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/store/botak-empire/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/shop/empire88/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/uncle-empire/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/indobet11/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/naga-empire/ https://pakbol88.com/
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > I Need You

I Need You

Share:
Author : larasatylaras
Published : 13 Nov 2013, Updated : 22 Jan 2014
Cast : Choi Si Won | Choi Na Young | Summer Choi | Jay Lee (Lee Hyun Jae) | Ahn Cheon Sa | Lee Dong Hae
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |13473 Views |2 Loves
I Need You
CHAPTER 2 : So Would You Let Me

I Need You—So Would You Let Me

            “Hari ini aku akan bertemu dengan temanku hingga sore. Kalau kau pulang dan aku belum, kau panaskan saja masakan yang sudah aku masak. Semuanya ada di lemari pendingin.”

            “Siapa temanmu?”

            “Eumm, sebenarnya bukan temanku juga. Tapi, teman ibuku.”

            “Teman ibumu?”

            “Iya.”

            “Kenapa dia ingin bertemu denganmu?”

            “Dia dulu mempunyai hutang pada ibuku, jadi, dia ingin menemuiku untuk melunasi semua hutangnya.”

            “Oh, baiklah. Kalau begitu aku berangkat! Hati-hati!”

         Si Won mengecup singkat bibir NaYoung dan berlalu berangkat kerja. Na Young melambaikan tangannya hingga Si Wonsudah tidak nampak lagi di pengelihatannya. Wanita itu kemudian menatap langit yang tidak secerah biasanya dan tersenyum miris. Mungkin hari ini akan hujan dan angin akan berhembus kencang—ucapnya dalam hati. Dia kemudian kembali masuk ke dalam rumah.

            Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap foto pernikahannya berukuran besar yang tergantung manis di tembok ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan. Dirabanya perlahan bingkai fotoyang sedikit berdebu, ah, dia lupa untuk membersihkannya. Biasanya dia akan membersihkan dan mengusap foto itu setiap hari.

            Diambilnya pigura yang menggantung tersebut dan membawanya masuk ke dalam kamar. Mungkin ini hari termalas sedunia untuk Na Young, tapi biarlah, dia hanya ingin memeluk erat pigura tersebut dan memandangi foto tersebut tanpa rasa bosan. 

Dan setelah lelah memeluk dan memandangi pigura tersebut, NaYoung beranjak dan mengeluarkan sebuah koper berukuran besar dari bawah kasurlalu meletakkan piguran tersebut di bagian paling atas. Dia kemudian memandangi sekeliling kamarnya menyimpan dengan rapi semua memori yang sudah terjadi ditempat kecil itu. Hingga langkahnya membawanya keluar dari rumah kecil itu diiringi hembusan angin yang nampak gelisah dan awan sudah dirudung kepanikan karena hujan sudah merindukan bumi.

“Selamat tinggal. Aku mencintaimu." Kalimat terkahir tersebut dia ucapkan dengan segala emosi yang dia pendam dalam-dalam.

***

“Ah, sepertinya ramalan cuaca hari ini tidak meleset! Angin sudah kencang seperti ini." Ucap salah seorang teman Si Won ketika merekamasih bekerja di bangunan. Si Won segera melemparkan pandangannya ke langit yang sudah mulai gelap. "Owh, dingin sekali anginnya." rutuktemannya.

Bukannya bergegas mencari jaket atau apapun yang kiranya cukup menghangatkan tubuhnya seperti pekerja lain, Si Won malah tersenyum dan menikmati setiap hembusan angin tersebut.

"Hei, Si Won!! Pakai jaket ini! Kau mau mati kedinginan?"

"Iya, hyeong." Si Won menerima jaket yang diberikan salah seorang temannya. 

"Hyeong, bisakah hari ini aku ijin kerja setengah hari. Tiba-tiba saja aku tidak enak badan."

"Benarkah? baiklah, pulang dan istirahatlah!"

"Terima kasih, hyeong." Si Won bergegas melepas helm pelindung dan berlari pulang kerumahnya. Dia tahu jika hari ini pasti akan turun hujan. Dan dia ingin segera pulang memastikan jika istrinya baik-baik saja. 

Tempo gerak langkahnya semakin cepat ketika dia merasakan setitik air jatuh dari langit mengenai ujung hidungnya yang mancung. Dan rintik itu semakin lama semakin deras diiringi dengan suara guruh yang menggelegar,angin pun tak luput menyemarakkan badai hari itu. Langkah Si Won dirasanya semakin berat tapi tidak begitu dia perdulikan. Dia berhenti sejenak ketika mencapai pagar rumahnya yang sudah berkarat dan terkunci rapat. Pria itu kemudian merogoh saku celananya dan segera membuka gembok yang juga berkarat termakan waktu dan mempersulitnya. Entah kenapa hari ini apa-apa yang biasanya sangat mudah menjadi sulit untuknya.

Dilemparkannya begitu saja gembok yang sudah terbuka dan kembali dia harus repot-repot membuka pintu ketika dia tidak mendengar jawaban istrinya dari dalam rumah. Dalam keadaan basah kuyup Si Won mencari ke seluruh penjuru rumah, suaranya bahkan sudah hampir habis meneriakkan nama Na Young.

“Apa dia belum pulang?” tanyanya entah pada siapa. Dia berniat untuk mencari Na Young, takut-takut jika istrinya tidak berani pulang karena hujan badai, tapi langkahnya berhenti ketika tidak mendapati pigura besar yang biasa menghiasi ruang keluarga yang juga ruang multi fungsi di rumahnya yangkecil itu. Perasaan Si Won semakin dimainkan oleh beribu pertanyaan dan tebakan yang dia ciptakan sendiri. “Tidak, dia tidak membawanya serta, kan?” tanyanya lagi entah pada siapa.

“Anakku!”

Si Won menolehkan kepalanya cepat ketika mendapati suara ibunya yang memanggil. Dilihatnya wanita berusia hampir kepala lima namun masih terlihat modis diusianya berdiri dengan angkuhnya di depan pintu dengan payung berwarna hitam dan beberapa orang berpakaian hitam-hitam dibelakangnya.

“Kenapa ibu bisa tahu aku disini? Kenapa ibu kemari? Bukankah ibu tidak merestui kami dan tidak ingin melihat kami?” rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja.

“Ibu punya banyak mata. Mencarimu di tempat kumuh seperti ini bukan perkara sulit. Ibu kesini untuk menjemputmu.”

“Menjemputku? Menjemput kami maksud ibu?”

“Siapa yang kau maksud dengan ‘kami’ disini? Ah, kau dan wanita itu? Lupakan! Ibu kesini hanya untuk menjemputmu!”

“Tidak! Kalau ibu ingin membawaku, bawa juga istriku!” tolak SiWon keras.

“Cihh, wanita itu membuatmu menjadi keras kepala seperti ini. Kau dengar, ibu tidak mau berlama-lama di tempat kumuh seperti ini. Jadi, sebaiknya kau segera masuk ke mobil dan ikut dengan ibu!”

“Tidak mau! Sekalipun ibu memaksaku!”

“Istrimu sudah tidak peduli denganmu! Dia pergi meninggalkamu! Kau harus tahu itu! Kau lihat saja isi lemarimu! Apa ada satu barang miliknya yang tertinggal?”

Si Won seperti kerbau yang dicolok hidungnya dan menurut memeriksa kamarnya yang… kosong. Tidak ada satupun barang Na Young dikamar mereka. Pakaian yang menggantung hanya miliknya, kosmetik pun sudah bersih dari mejarias kecil dan kuno itu, lemari hanya menyisakan bajunya yang tertumpuk rapi. Pria itu berjalan keluar kamar dan berniat mencari istrinya yang pergi entah kemana. Tapi orang suruhan ibunya sudah terlebih dahulu menghadang langkahnya dan menyeretnya kembali ke kehidupannya yang dulu, namun kini telah hancur tanpa Na Young.

***

A couple years later…

            Dentuman musik serasa memekakkan telinga beradu dengan tawa, rayu manis, dan segala tingkah busuk yang memuakkan. Club termahal itu sudah menjadi rumah kedua bagi pria yang kini duduk menikmati gelas kelima berukuran besar wine yang dipesannya,di kanan dan kirinya wanita dengan pakaian serba minim dan menggoda setiap matapria hidung belang untuk disentuh, menemaninya menghabiskan malam itu.

            Tidak boleh minum soju dan sebagainya dan tidak merokok—pria itu tersenyum kecil mengingat sederet kalimat yang sudah dihapalnya di luar kepala. Kalimat yang setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik dia baca. Bahkan tidak hanya kalimat itu,tapi kalimat-kalimat yang lain juga. Tapi apa peduli orang yang menulisnya? Orang yang biasa mengingatkannya yang menuliskan kalimat itu bahkan pergi begitu saja membawa seluruh kehidupannya yang dengan suka rela dia berikan.

            “Hey,ladies! Time is up! Now, this young crazy man must go home!” wanita-wanita penggooda yang mengelelilinginya, menciuminya, dan meraba-rabanya pergi meninggalkan pria tersebut setelah salah seorang pria menghentinkan aktifitas mereka. “Let’s go back home, dude!” ajak pria yang baru datang tadi dengan menyeret tangannya.

            “Leave me, bastard!

            “Hey,bastard! Kau akan melakukan ini terus-menerus hanya karena wanita itu? Kau bisa mati perlahan-lahan, stupid! Kau bahkan tidak akan bisa menemukannya jika kau mati!”

            “Just shut up your fucking mouth, Dong Hae! Bawa dia kemari maka aku akan berhenti melakukan semua hal bodoh yang dilarangnya itu!” gertaknya dan menghisap panjang sepuntung rokok dan menyesakkan puntung rokok tersebut kemeja, bukan pada asbak.

            “Si Won!!” pekik pria yang dipanggilnya Dong Hae itu. “Aku sudah muak denganmu!” Dong Hae melayangkan satu tinju yang sangat keras dan mengena tepat pada rahang kanan Si Won membuat pria tersebut mengerang dan mengumpat mati-matian. Dia berniat membalas perlakuan sahabatnya itu tapi pukulannya meleset karena dia sudah terlalu mabuk dan malah ambruk hingga tersungkur sendiri ke lantai. Kontan kejadian tersebut membuat seluruh mata memandangi kedua pria tersebut. “Kau menyedihkan sekali!” Dong Hae dengan susah payah dibantu oleh salah seorang waitress yang sudah dikenalnya mengangakat tubuh Si Won dan memasukkannya ke dalam mobil.

            “Kalau saja aku bisa menceritakan semuanya.” Ucap Dong Hae yang dibalas dengan igauan Si Won menyebutkan nama NaYoung berulang kali. “Ah, mereka berdua benar-benar menyulitkan posisiku!” Dong Hae mengacak rambutnya frustasi.

***

            Si Won diam termangu menatap keluar jendela kamarnya. Hujan turun di awal September di penghujung musim panas. Angin berhembus masuk ke dalam kamarnya meniupkan kerinduan untuk dirinya. 

            “Kau… tidak sedang menangis karena aku belum bisa menemukanmu, kan? Kau tidak sedang menangis karena aku tidak menuruti semua yang kau tuliskan, kan? Kau tidak sedang menangis karena aku, kan?” Si Won terdiam sejenak menikmati air yang turun dari langit dan membasuh kerinduannya akan hujan yang sebenarnya tidak dia inginkan kedatangannya. “Atau kau sedang ingin memelukku saat ini? Karena angin berulang kali menerpa tubuhku.” Tapi hanya hujan dan angin lah yang mampu membuatnya merasa jika Na Young berada di dekatnya. Disisinya.

            Memanggil namanya melalui tiupan angin yang berhembus kecil.

            Memeluknya erat ketika angin bertiup kencang.

            Tersenyum untuknya ketika gerimis.

            Tertawa bersamanya ketika hujan rintik.

            Dan menangis karenanya saat hujan turun dengan lebatnya seperti saat ini.

          Sudah habis air matanya menangisi wanita yang dia sendiri bahkan tidak tahu pergi kemana. Dua tahun sudah dia membenci ketika angin bertiup dan hujan turun, tapi ketika hujan tidak turun dan angin tidak bertiup dia begitu merindukan saat keduanya datang secara bersamaan.

***

     Di saat yangbersamaan namun dengan jarak yang memisahkan berkilo-kilo meter jauhnya, seorang wanita yang dipenuhi dengan peluh nampak asyik dan begitu berkonsentrasi pada benda bulat berwarna hijau yang memantul-mantul ke dinding dan ketika bola tersebut berbalik ke arahnya, dia dengan sangat cekatan menangkis bola tersebut. Kegiatan yang sudah lama tidak dia lakukan.

       “Istirahat dulu!” perintah salah seorang pria dengan rambut gondrong dan sedikit ikal dibagian bawahnya. “Let’s have a rest.”

     Wanita tersebut membiarkan bola tersebut lolos dari tangkisannya. Kemudian tersenyum mendapati pria yang baru datang tersebut.

        “Sudah hampir dua jam kau menghabiskan waktumu bermain squash.” Pria tersebut kemudian tersebut memeluk wanita tersebut dengan erat. “Ehm… kau harus segera mandi dan pulang.”

          “Kau meledekku karena aku bau?” 

       “Tidak, Summer. Aku tidak meledek wanita yang aku cintai ini. Hanya saja… kau memang butuh mandi supaya terlihat lebih cantik. Bukan begitu?” diangkatnya dagu wanita yang dipanggilnya Summer tersebut dan mengecupnya singkat. “Aku tunggu di mobil! Bergegaslah!”

          “I know, I love you Jay.

         “I love you too, Summer.”

***

            “Jay!”

    “Ya?” Jay menolehkan kepalanya sejenak ketika Summer memanggilnya kemudian pandangannya kembali terfokus pada jalanan New York yang ramai.

           “Perasaanku tidak enak.”

            “Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”

       “Entahlah.Hanya saja… aku merasa ada sesuatu yang sangat penting yang… yang… bagaimana aku menjelaskannya padamu, ya?” Summer diam sejenak memikirkan cara untuk menjelaskan apa yang dia maksudkan. “Seperti seseorang yang aku rindukan.”

            “Apa?”

            “Kampung halaman kita mungkin? Tidakkah sebaiknya kita kembali saja? Aku sudah mulai bosan dengan New York.” Keluhnya. Jay tersenyum sejenak memahami maksud Summer.

          “Kita bicarakan ini nanti. Setidaknya sampai Baby D bisa kita bawa kemana-mana. Dia masih terlalu kecil untuk perjalanan jauh.”

            “Ah, iya.Kasihan Baby D.”

            “Oh iya, ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”

            “Apa?”

            “Apa… aku punya nama lain selain Summer? Maksudku, kita orang Korea bukan, jadi tidak mungkin aku bernama Summer dan kau bernama Jay. Ini kan, hanya nama kita saat di NewYork.”

           “Tapi aku suka memanggilmu dengan nama Summer.”

            “Tapi Jay, bahkan Baby D saja kita beri nama tidak seperti itu.”

            “Aku terkadang memanggilnya  Messi.” Kekeh Jay.

         “Jangan bercanda! Jangan memanggilnya dengan pemain bola faforitmu itu!” protes Summer.

           “Sorry, honey.” Jay melepaskan seatbelt Summer ketika tanpa Summer sadari percakapan tadi berlanjut hingga keduanya sudah sampai rumah. Summer bergegas masuk kedalam rumah dan menemui anaknya yang sedang tertidur pulas dikamar.

            “Baby D!”Summer memeluk anaknya yang berusia satu tahun lebih itu dan menciuminya berulang-ulang. “Mommy kangen,sayang. Maaf ya, tadi mommy tinggal bermain squash.” Summer tersenyum kecil.

            “Tadi dia rewel sekali.”

        “Mom,” Summer melihat ibu mertuanya sudahberdiri di dekatnya. “Terima kasih sudah menjaga Baby D hari ini.”

            “With my pleasure, Summer.”

            “Apa dia tidur sudah lama?”

            “Sekitar satu jam yang lalu.”

       “BABY D!!!” anak laki-laki tersebut terbangun ketika mendengar teriakan ayahnya dan menangis kencang.

            “Jay!!” geram Summer membuat Jay meringis dan menggaruk tengkuknya merasa bersalah.

***

POPULAR FANFICTION

BERITA PILIHAN

COPYRIGHT 2024 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK