“Nara?”
Bukan Baekhyun yang memanggil namaku, dan aku menoleh untuk melihat siapa gerangan yang bisa masuk ke brangkasku. Suaranya tidak kukenali. Detik itu juga, aku berharap bukan Kris yang berdiri disana. dengan keterkejutan yang memusingkan, pria— itu berdiri di ambang pintu kamar, tubuhnya yang tinggi tersorot lampu-lampu di atasnya membentuk bayangan lain di lantai. Ia tinggi, putih dan tampan, itu yang di tangkap oleh mataku.
Ia menyunggingkan senyumnya yang menawan dan ekspresinya alih-alih tampak ngeri, ia malah menatapku penuh sahabat. Aku melayangkan pandangan panik kepadanya, dan melihat ternyata itu sudah terlambat. Ia sudah maju kearahku, dan sorot matanya seperti mengejek.
Aku baru saja hendak bertanya kepadanya; begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku— apa yang dia lakukan dirumahku? Dimana Baekhyun? Namun ia kembali tersenyum. Aku tidak bergerak. Posisiku kaku.
“Hei? Aku bukan hantu.” Ia memulai percakapan.
Barulah kemudian, aku mengubah posisiku. Berdiri—siaga. Aku tak bisa merasakan perasaan lain selain putus asa saat ia melangkah lagi lebih dekat. Kini hanya berjarak dua meter dariku.
“Rumahmu keren.” Pujinya, kemudian duduk di ujung ranjang tempat tidurku.
Aku berusaha menarik nafas. “Siapa kau?” suaraku gemetar.
“Ayolah Nara, duduklah.” Ia menepuk-nepuk tempat yang kosong. Aku berani bersumpah kakiku keram. “Aku Kai. Chanyeol menyuruhku mengembalikan tasmu.” Ia menaruh tas kecil berwarna putih di atas kasur. “Mereka tidak bisa masuk kemari.” Ia tersenyum bangga. Yeah! Benar! Mereka tidak bisa masuk, lalu apa yang pria ini lakukan di kamarku?
“Bagaimana denganmu?” aku bertanya. Ia harus memberi penjelasan yang masuk akal.
“Aku? Itu mudah, kau ingin melihatnya?”
“Tidak perlu.” Aku menolak.
“Jelaskan sebelum aku memanggil polisi.” Gertakku.
“Woow.. wow.. tenang..” ia berdiri. Wajahnya panik. “Oke,,oke.. aku jelaskan,” ia berhenti “Mulai dari mana?” ia bertanya padaku.
“Siapa kau?”
“Aku Kai! Bukannya tadi sudah ku sebutkan?”
“Seharusnya kau bersikap baik di rumah orang lain” peringatku.
“Oke, maaf.” Ia kembali duduk diranjangku.
“Berdiri.” Ucapku marah. Ia melirik ke arahku dan tak menggubris. “Tidak mau?” aku protes. Lalu ku lihat ia bergerak dengan malas sebelum berdiri, memasukkan tangannya ke saku— menghadap ke arahku. Menunggu.
“Oke... kalau begitu. Kau di pihak siapa?” aku memastikan.
“Pihak? Maksudmu?” tanyanya bersikap seperti orang tolol. “Aku benar-benar tidak tahu pihak yang kau maksud.” Ia menjelaskan.
“Kau bilang Chanyeol yang menyuruhmu?”
“Memang.”
“Kau temannya?”
“Apakah aku terlihat seperti musuhnya?” ia menunjuk-nunjuk tasku.
“Kau temannya?” aku mengulangi.
“Iya.” Mimik wajahnya kesal. Aku menghela nafas lega. Urat-urat sarafku yang tegang mulai mengedur. Aku mencoba rileks.
“Maafkan aku, duduklah. Kau harus menjelaskan bagaimana caramu melewati setiap keamanan di rumah ini.”
“Gampang. Aku hanya memikirkan rumahmu, dan detik berikutnya aku sudah disini.” Jawabnya santai.
“Aku atau kau yang gila disini?” tanyaku marah. “Kau alien?” ku dengar nada bicaraku setengah berteriak.
“Aku tidak gila— dan ku beri tahu satu hal. Kami bukan alien.” Ucapnya sedikit kecewa. “Kau terlalu banyak menonton film Nara.” Keluhnya. “Kau penggemar Kim soo hyun? Dramanya maksudku.” Ia mengejek, “Aku seperti ini sejak lahir, dan ku pikir kau sudah tahu kami. Bukannya kau sudah bertemu Chanyeol?” ia balik bertanya.
“Dia sepertimu?” aku melotot.
“Dia? Chanyeol? Tidak, dia api.” Ia berbicara hal-hal yang sulit aku mengerti.
Tanganku menekan-nekan kening berkali-kali. Aku pusing. Ku lihat ia tertawa, suaranya bergemerincing, seperti genta angin.
“Duduklah Nara, Chanyeol akan membakarku hidup-hidup jika kau sampai pingsan.” Ia menyerukkan jari-jarinya ke rambut coklat terang yang berantakan.
Jujur saja, aku tidak benar-benar bisa memahami jalan pikirannya. Ia seperti itu sejak lahir? Lalu mengapa aku tidak? Siwon? Bagaimana dengan Jong hyun? Baekhyun?.
“Pergi kemana temanmu barusan?” sambungnya, mengganti topik.
“Ia belanja.” Keluhku.
“Nara?” suara serak memanggilku. Aku menoleh enggan. “Sepertinya kau belum tahu akan hal itu. Datanglah mengunjungi kami. Tidak! Aku akan menjemputmu bila perlu. Chanyeol meninggalkan nomornya di ponselmu. Sepertinya ia juga menulis sedikit pesan disana.” Katanya tenang. “Luhan, akan dengan senang hati menjelaskan semuanya, dan aku dengan senang hati membuktikannya untukmu.” Ia sama sekali tak menggubris reaksiku.
Akhirnya, ia menghapus senyum yang sedari tadi mengembang di wajahnya dan memelototiku. “Ini bisa mudah, atau bisa juga sulit Nara, tapi pokoknya—” ia berhenti, sengaja menggantungkan kalimat itu. “Itu akan menyenangkan.” Ia nyengir— senyum lebarnya menampakkan sederet giginya yang sempurna. “Ngomong ngomong, temanmu. Sepertinya dia bagian dari kami.” Imbuhnya ragu. “Nanti saja kita diskusikan. Temanmu sudah di depan. Aku tidak ingin berkelahi dengannya, aku tidak tahu dia memiliki apa.” Jelasnya singkat lalu berdiri. “Rumahmu bagus, Siwon pantas diacungi jempol.” Sedetik kemudian dia menghilang.
Kebuntuan. Begitulah yang kupikirkan. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya bereaksi akan hal barusan. Aku hanya terdiam— tak bergeming.
Namun perasaan putus asa itu sesaat lenyap; di gantikan rasa takjub dan rasa keingintahuan yang tinggi. Terlalu banyak teka-teki di sekelilingku. Potongan-potongan puzzle acak di tebarkan di otakku dalam waktu kurang dari lima menit.
Kurasakan kepalaku berdenyut-denyut. Jantungku berdetak lebih cepat lagi. Aku terduduk di ujung ranjang. Tanganku yang lain menopang tubuhku yang mulai lemas. Berbagai spekulasi hilir mudik di kepalaku. Baekhyun?. Aku mengernyitkan dahi. Mataku terpejam. Tanganku beralih memegangi perutku. Aku mulai merasakan mual lagi.
Aku merasa bagai terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak berkesudahan. Dalam mimpi itu aku harus berjuang, berpikir terus sampai otakku serasa ingin meledak, tapi aku tak sanggup menerima pengetahuan-pengetahuan baru yang sangat asing.
Tapi ini bukan mimpi, dan juga bukan kenyataan yang melegakan. Jadi, apa hubungan itu semua dengan keluargaku? Kami di kelilingi musuh-musuh yang luar biasa berbahaya. Kris. Siapa dia sebenarnya? Siapa mereka semua?
“Nara?” aku kaget— kelopak mataku terbuka lebar-lebar dan terkesiap melihat kamarku gelap.
Sedetik kemudian lampu kembali menyala. Terang. Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian terlonjak lagi waktu Baekhyun menyentuh bahuku.
“Nara? Mengapa lampu kamarmu mati?” Baekhyun menjatuhkan barang belanjaannya di ranjang sebelum menghampiriku.
Ku pandangi Baekhyun lekat-lekat, mencari tanda-tanda bakal munculnya kejanggalan lain. Semacam kekuatan aneh seperti Kai. Alisku tetap terpatri membentuk garis khawatir di atas mata coklatku yang was-was. Aku mengingatkan diriku lagi. Aku bisa rileks. Aku harus bisa. Aku bersusah payah, menahan diri untuk tidak keceplosan mengenai penyusup yang sopan tadi.
“Kau tidak apa-apa? Lampunya rusak? Sudah lama seperti itu?” tanyanya terus. Sementara aku diam. Tak bergeming. Baekhyun merangkul tubuhku, menepuk-nepuk pundakku. Mencoba menenangkan. Menurutnya, aku pasti sedang syok karena lampu lampu itu mati. Aku bahkan tidak tahu kalau lampu kamarnya mati. Sejak kapan dan aku heran aku baik-baik saja. aku bernafas— mendesah.
“Tidak apa Nara,” Baekhyun masih menepuk-nepuk punggungku. “Maafkan aku” keluhnya menyesal.
Baekhyun menatapku lekat-lekat, sejenak melupakan suasana hatiku yang muram dan tidak menentu. Kulit Baekhyun, seperti biasa, lembut, putih dan sangat hangat. Dengan lembut di ramasnya jari-jariku. Ku tatap mata coklat tuanya yang berkilauan, dan hatiku bagai di remas keras-keras. Mendengar detak jantungku yang tak beraturan, Baekhyun tersenyum menghibur.
Ia mengangkat tangannya yang bebas dan menyentuh bahuku dengan jemarinya yang hangat sambil bicara, “Jadi, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi dan aku akan mengganti lampunya.”
“Ya, aku setuju.” Aku tidak bisa menirukan cara bicara Kai yang tenang tadi. Kemampuanku payah. Aku berbalik supaya bisa menyembunyikan ekspresi wajahku.
“Bisakah kau membantuku?” Baekhyun mencairkan suasana.
“Tergantung apa yang kau minta.” Aku menghargai usahanya.
“Emm....” kulihat ia hanya tersenyum. “Emmm....,” ia kembali tersenyum.
“Apa?” tanyaku penasaran. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Baekhyun hanya menggumamkan ‘Emmm’ berulang kali sembari tersenyum geli.
“Kau sudah melakukannya.” Jawabnya lagi.
“Apa yang kulakukan? Aku tidak melakukan apa-apa!” protesku.
“Kau melupakannya barusan, dan aku mendapat tambahan lain. Kau tersenyum.” Wajahnya bening tampak senang. Kekhawatirannya memudar. “Bagus.”
Kata-kata meluncur dari bibirku dalam bentuk bisikan. “Kau tahu apa yang ku inginkan sebagai balasannya sekarang?”
Baekhyun menunggu was-was.
“Aku punya pertanyaan.” Kerutan dalam muncul di dahi Baekhyun yang mulus. “Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku?” rasanya aku sudah sering sekali menanyakan hal yang serupa, tapi kali ini berbeda.
“Tidak ada Nara.” Jawabnya sungguh-sungguh.
Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan diri. “Aku lapar.” Kuputuskan untuk mengganti topik. “Jadi, kalau kau tidak keberatan memperbolehkan aku membantumu memasak, adakah hal lain yang bisa ku kerjakan?”
“Hmm? Mungkin kau bisa menemaniku saja di dapur?”
“Itu bukan pekerjaan Khyun.” Keluhku.
“Itu pekerjaan. Kau duduk dan menemaniku.” Tawa baekhyun pecah berderai. “Tidak malam ini Nara. Please?”
Aku menghela nafas, menyerah. “Tentu,” kataku, sebelum mendengar omelan lebih lanjut darinya.
Cahaya akhirnya memudar di luar jendela. Hari ini mendung dan itu membuat hari menjadi terasa panjang, seakan enggan berakhir, membuatku tidak bisa melihat sunset dengan jelas sore ini.
Baekhyun mengajakku ke dapur, sesuai pekerjaan yang ia berikan. Aku hanya duduk di meja makan, melihatnya mondar-mandir kesana-kemari. Ia membeli banyak sekali kebutuhan. Menurutku itu cukup untuk tiga bulan.
Baekhyun masih terus berkicau, berpura-pura marah terhadapku tentang dapur yang tidak ada isinya. Ia mengeluarkan tiga kotak telur, lalu menyusunnya di lemari es— Paprika, tomat dan masih banyak sayuran lainnya disana. ia menjejalkan hampir semua barang belanjaan itu ke lemari es.
Sejak kelas satu SMA, Baekhyunlah yang selalu ada di sampingku. Kami sama-sama tidak memiliki orang tua. Itu sebabnya Siwon tidak memberi larangan yang berarti bagiku untuk terus didekat Baekhyun. Menurut Siwon, ia dapat diandalkan. Baekhyun anak yang periang dan dewasa menurutnya. Ia hampir tidak pernah benar-benar marah terhadapku, terlepas dari apapun yang ku kerjakan— terlepas dari semua konflik yang pernah menghampiri kami. Baekhyun benar-benar orang yang baik.
Baekhyun berdiri di depan kompor, mengenakan kaos polkadot putih berlengan panjang-serta celana jins biru selutut. Hanya baekhyun yang bisa memakai baju dengan motif seperti itu dan tetap terlihat menarik. Rambut pirangnya yang ditata lurus menutupi sebagian keningnya dan mata coklatnya yang bening tampak cemerlang, sangat berbeda dengan mataku.
Baekhyun berbalik dan melambaikan spatula kayu ke arahku, membuat telur yang baru setengah matang bercipratan ke kompor. Aku mengamati kekacauan yang ada dan memikirkan cara terbaik untuk mengatasi kekacauan ini tanpa menyinggung perasaannya.
“Tidak bisakah aku membantu Khyun?” ia masih terus menggoreng telur di wajan. Mengoreknya kemudian membaginya ke dua piring lalu meletakkan bagian yang separuh gosong di hadapanku.
Aku mendesah, kurasa sudah terlambat melakukan perbaikan. “Kau membuat telurnya menjadi terlihat menyedihkan Khyun.” Protesku.
“Hehe..” ia menyeringai geli. “Tidak apa. Nanti juga kita akan menghancurkannya bukan?” ia membela diri.
“Visual itu penting.” Ucapku lagi.
Ia meringis, “Lain kali,” janjinya.
Baekhyun tidak terlalu pandai menghadapi penggorengan, namun dia hebat menghadapi oven pemanggang.
Hidungku tergelitik aroma yang familier. Ia membuat bubur dan di oven sedang ada sesuatu yang di panggang terbalut oleh alumunium. “Kau membuat menu favorit kita?” tanyaku penasaran.
“Yup.” Suaranya bangga. Tak lama, ia mengeluarkan nampan kecil yang penuh dengan udang, potongan ikan salmon yang sudah dilumuri oleh keju dan beberapa parsley.
“Nyam..” aku antusias. “Makananmu penuh gizi Khyun.” Pujiku.
“Tentu, dan kau.” Ia mengeluarkan bubur ke dalam mangkuk menjadi dua pula, “Harus menghabiskannya.” Ia menaruhnya di meja.
“Well... kita berdua.” Tolakku.
Baekhyun menuang jus jeruk yang baru di beli ke dua gelas. Membawanya ke hadapanku lagi, di ikuti kursi yang ditarik kebelakang sebelum Baekhyun mendudukinya.
Kami makan dengan tenang. Buburnya hangat-halus dan jauh lebih enak dari yang di Rumah sakit. Aku berulang kali memuji bubur yang ia buat, tapi tidak untuk telurnya. Aku menggeser kursi, lalu menggeliat. “Berapa banyak teman yang kau miliki Khyun?”
“Maksudmu orang-orang yang berlatih bersamaku? Aku bertemu beberapa teman lain hampir setiap hari. Ada beberapa orang yang ku ajak bicara di ruang......”
“Di luar itu?” potongku.
“Emm..” ia mencoba mengingat, “Kau termasuk?”
“Tidak.”
“Kalau begitu tidak ada.” Jawabnya ringan dan melanjutkan makan. “Kau?” ia balik bertanya.
“Kau.” Jawabku singkat, “hmm...” ucapku ragu, “Aku menemukan teman baru Khyun...” aku masih ragu-ragu, untuk mengatakannya atau tidak, “Chanyeol namanya.” Masa bodoh pikirku.
Ia membalas pernyataanku dengan pertanyaan konyol. “Keren?”
Aku tersedak telur, mendengar Baekhyun tertarik dengan bahasan itu. “Keren? Hmmm...” aku mencoba berpikir, “Sama kerennya denganmu.” Jawabku singkat.
Baekhyun membawa piring dan mangkuk ke bak cuci. “Nara, dia mungkin keren. Tapi aku yakin, aku jauh lebih keren darinya.” Ia terkekeh.
Aku meringis. Iyuh. Iyuh. “Apa ini semacam puber kedua yang perlu ku khawatirkan Khyun?”
Seraya mencuci piring ia menengok ke arahku. “Nara, aku mempercayai penilaianmu, akan lebih baik jika kau juga mempunyai teman lain selain diriku.” Ia terdiam, melanjutkan mencuci piring. “Kau tahu dia dimana?” tanyanya lagi.
Entah kenapa, aku tidak suka Baekhyun berkata seperti barusan. “Aku tidak dapat berbincang banyak dengannya.” Balasku, kukerutkan bibir dengan serius.
Baekhyun tersenyum kecil, lalu melanjutkan, “Terlibatlah dengan kehidupan, dan bukan dengan pria itu Nara.” Ia menasehatiku.
“Itu terdengar masuk akal.” Setengah mendukung gagasannya.
Baekhyun mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya berkilat-kilat. “Hmmm... tadi aku melihat sesuatu yang menarik.”
Aku tersenyum. “Apa?”
“Apa kau ingin melihatnya?” Baekhyun menunjukkan DVD film Avengers terbaru.
“Wow.” Aku terlonjak kaget. “Benar?” seruku riang.
“Ide yang bagus?” tanyanya bangga.
“Well... itu ide yang sangat bagus. Kau memang bisa di andalkan.” Pujiku lagi. Aku melihatnya tersenyum bangga.
***
Cahaya lampu berpendar-pendar diluar sana. Angin kencang meliuk-liukkan pohon dan ranting, terdengar angin menjatuhkan dahan dan dedaunan di luar sana. Beberapa helai daun terlihat melayang-layang sebelum jatuh ke sungai di bawah sana. Musim dingin sudah dekat. Beberapa hari ini hujan di sertai angin kencang hampir hadir di setiap malam.
Aku dan Baekhyun tidak menghiraukan keadaan diluar. Deburan ombak terdengar lirih dari dalam. Berdebam beberapa kali. Dengan di temani French fries yang baru dibuatkan oleh Baekhyun beberapa waktu lalu. Aku merengek padanya ingin di buatkan itu untuk menonton film. Ia menyerah dan melenggang ke dapur untuk menggorengnya, setelah itu menabur bubuk rasa keju di atasnya— juga menuangkan satu gelas susu hangat dan satu gelas lagi jus jeruk dari dalam lemari es. Melihatnya mampu mengatasi penggorangan dengan cukup baik kali ini, “Kau pintar.” Aku tersenyum sembari mengacak-ngacak rambutnya.
Setengah berteriak aku bertanya, “Khyun, kau sudah menontonnya?”.
“Belum. Aku kan baru membelinya dan belum sempat ku sentuh.” Aku hanya memastikan, mungkin saja ia sudah lebih dulu menonton itu di bioskop bersama teman-temannya minggu kemarin.
“Oke.. aku harus menontonnya sampai habis.”
“Kau yakin?” Tantangnya.
“Tentu.” Jawabku mantap.
Baekhyun memasukkan kaset DVD itu, kemudian menekan beberapa tombol di sana. Dan layar mulai silih berganti memperlihatkan gambar-gambar yang hebat. Baekhyun duduk di ujung sofa, ia memangku cemilan dengan menyandarkan bahunya ke sandaran kursi.
Waktu mulai berjalan jauh lebih cepat di banding sebelumnya. Filmnya tepat seperti yang kami harapkan. Di bagian awalnya saja sudah menegangkan dan hebat. Aku bertahan selama dua jam, menonton warna warni dan gerakan-gerakan di layar. Selama dua jam pula aku tidak memikirkan hal lain. Benar-benar fokus hanya menonton filmnya.
Aku memeluk kedua kakiku dengan kedua tangan. Kedinginan lagi, pikirku. Aku terbaring lelah. Baekhyun sudah tidak lagi di sofa. Ia memainkan film lain-masih ingin menonton. Ku biarkan ia melakukannya. Aku memandang keluar kaca di dekat dapur yang terlihat dari sini, hatiku di liputi perasaan bersalah. Kepalaku diliputi pertanyaan-pertanyaan. Ingin rasanya sekarang juga aku menemui Chanyeol untuk meminta penjelasan mengenai ini semua. Namun, aku menahan diri. Sejak mimpi buruk atau kejadian yang aku masih ragu akan mempercayainya atau tidak, badanku sedikit terasa aneh.
“Dingin Nara?” Tanya Baekhyun, menyelimutiku sebelum aku sempat menjawab.
“Kau tidak?”
Baekhyun menggeleng.
Aku sendiri yang membeku kedinginan. Lalu Baekhyun menyentuh keningku dengan jari-jarinya dan tangannya panas.
“Astaga, Khyun— kau demam?, tanganmu panas sekali!”
“Aku merasa baik-baik saja.” ia mengangkat bahu. “Sehat walafiat.”
Aku mengerutkan kening dan menyentuh kepalanya. Kulitnya membara di bawah jari-jariku.
“Tanganmu sedingin es.” Protes Baekhyun.
“Mungkin memang aku yang kedinginan.” Jawabku, Baekhyun berdiri dan mengambil selimut yang lebih besar di kamarku dan ia berniat menutup seluruh tubuhku dengan itu.
Aku memang kedinginan. Kubiarkan ia melakukan hal itu. Tiba-tiba Baekhyun merangkul pundakku sebelum aku protes “Diamlah.” Selanya.
Aku menyerah. Badanku mulai merasa sedikit...... aneh.
“Kau menginginkan sesuatu?” Tanya Baekhyun.
Aku menggeleng. Untuk sementara aku ingin melupakan semuanya. Baekhyun membenarkan selimut lagi, memastikan tubuhku tertutup semua.
***
==>NEXT
synopsis bab 7 part 1^^
Tentu saja perlu waktu yang sangat lama. ketika aku menemukan ada banyak pengertian yang harus dibaca-mulai dari pengertian-penelitian-film-sulap; lalu aku mencari lagi dibuku lain dan menemukan sesuatu yang menarik perhatianku; Teleportation-frost-flame-mind-levit.
SAINS GILA
Manusia yang dapat berteleportasi? Atau dapat melawan gravitasi bumi? Manusia penyembuh dan pembuat salju?
*****