home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > BOOK ONE

BOOK ONE

Share:
Author : Frohmafitri
Published : 04 Jan 2016, Updated : 04 May 2016
Cast : Kim Nara, Chanyeol exo, Siwon super junior , Baekhyun, Kai, Luhan, Kris, Jonghyun cnblue
Tags :
Status : Ongoing
1 Subscribes |2028 Views |1 Loves
BOOK ONE
CHAPTER 11 : BAB TUJUH PART II

*REVIEW

Hai? Merasa lebih baik, kan?

Sebelumnya maafkan tentang Kai. Aku akan menjelaskannya besok.

 Maaf juga atas kelancangan luhan tempo hari di rumah sakit.

Nara, sebaiknya kita bertemu. Hubungi nomorku jika kau bersedia.

Kai atau aku akan menjemputmu langsung.

Hubungi aku secepatnya. Oke?

Chanyeol

*NEXT

            Ku pegang kepalaku— pusing.

Telepon bordering ketika aku melangkah melewati pintu kamar dan aku berbalik untuk mengangkatnya, tapi sudah terlambat. Aku sudah mengatur system penerima pesan untuk menjawab pada dering ke tiga. Aku tahu apa yang akan di dengar penelpon : penjelasan bahwa aku sedang tidak ada di rumah dan hubungi aku lagi ke sini sejam lagi atau langsung ke ponselku.

Aku menengok jam di atas televisi. Hampir lewat pukul Sembilan pagi. Tak lama ada pesan suara masuk:

Nara? Kau tidak dirumah? Ponselmu dimana? Kau tidak membalas pesanku dan nomormu selalu di alihkan. Siwon, ia memberi jeda di sana. Nara? Aku menghubungimu dari tadi subuh. Jika satu jam lagi ponselmu masih di alihkan juga, aku akan mengirim Jong hyun kesana.

Aku melihat jam dan ku periksa ponselku. Terlihat baik-baik saja. Oh... astaga, pantas saja. ponselku dibiarkan dalam mode penerbangan. Aku mengalihkan modenya lagi. Pesan Siwon langsung bercucuran masuk ke kotak pesan.

Siwon terkenal suka khawatir berlebihan.

Oppa, tenang. Oke? Aku membalasnya sekarang. Aku dirumah, ponselku baik-baik saja. jangan konyol dengan mengirim Jong hyun kemari.

Ku kirim pesan singkat itu dulu.

Kemudian melanjutkan ke pesan kedua.

Aku baik-baik saja, oppa. Aku di ruang membaca tadi. Jadi tidak mendengar teleponmu. Aku tidak keluar rumah dan aku masih harus beristirahat bukan? Kau tahu seperti apa Baekhyun? Ia jelas melarangku kemana-mana. Aku sayang padamu.

Aku mengirimnya.

Kepalaku sakit bukan main. Mustahil untuk tahu berapa banyak rasa sakit yang berasal dari kelelahan, dan berapa banyak yang berasal dari hal yang di terima otakku.  Keadaan hening, kecuali suara-suara yang di keluarkan tubuhku. Ini merupakan salah satu momen dalam hidupku di mana aku tidak tahu apakah harus menangis, tertawa atau melarikan diri.

Dengan desah pelan kepasrahan, aku berjalan ke ruang tamu—

Membuka box kecil yang menggantung di dinding, ada beberapa kunci mobil tergantung disana. ku ambil salah satunya, lalu berjalan lagi ke bawah. Mengeluarkan mobilnya ke halaman rumah.

            Langit masih mendung dan udaranya agak beraroma tanah. Ku putuskan untuk mencuci mobil malangku sebagai pengalihan. Begitu mulai membersihkan bagian dalam mobil, aku kaget dengan banyaknya kertas serta pulpen dan sampah permen yang ku temukan. Melihat setumpuk kertas di kursi belakang membuatku meringis, data itu belum sempat ku sentuh untuk di analisa. Beberapa minggu lagi mereka akan memintanya. Jika mengetahui bahwa data tersebut masih tergolek lemah di belakang jok kursi mobilku tepat seperti pertama kali aku menaruhnya, ku yakin mereka akan murka. Marahnya pria berdasi lebih membahayakan dari berandalan brengsek seperti Kris sekalipun.

            Selanjutnya, aku mengambil ember dan slang lalu menyabuni seluruh permukaan mobil yang terjangkau tangan kecilku, tapi sewaktu menangani bagian atap, malah badanku yang basah kuyup dan spons yang kugunakan jatuh berkali-kali. Dari sisi manapun ku coba, tetap saja sia-sia— atapnya tak terjangkau.

            Sambil mengumpat, aku mulai membersihkan spons yang jatuh sudah terhitung belasan kali dari rumput dan serpihan pasir yang menempel. Ingin rasanya ku lempar benda yang sedang berusaha ku bersihkan ini kedalam semak-semak berduri di sebelah sana. Saking frustasinya, akhirnya ku lempar benda lembut tak bersalah itu ke dalam ember.

            “Kelihatannya kau butuh bantuan.”

            Aku terperanjat mendengar suara dingin itu. Jong hyun berdiri tepat beberapa meter dariku dengan tangan terselip di saku celana jins hitamnya. mata dengan perpaduan coklat tua dan hitam kelam itu berkilat-kilat. Oh.. Siwon.!.

            Kemunculannya yang tiba-tiba cukup membuat jantungku melompat keluar dari tempatnya. Aku bahkan tidak mendengarnya membuka pintu gerbang.

            Jong hyun mengenakan kaos tipis berwarna hitam, sangat tipis untuk cuaca musim dingin. Aku tidak tahu harus marah atau tidak dengan adanya Jong hyun disini. Ia bermulut pedas dan berhati dingin. Aku tidak berselera berdebat dengannya pagi ini. ia tidak tersenyum dan tidak juga terlihat ingin menyerangku dengan kata-kata atau pertanyaannya lagi pagi ini. yang ku lihat justru expresi penerimaan yang sangat terpaksa, mirip seperti ekspresiku ketika Siwon menyuruhku melakukan hal yang ku benci.

            “Siwon?”

            “Kau buta?”

            Sudah kuduga, ia tidak sebaik itu tanpa menyerang balik semua yang keluar dari mulutku.

            “Siwon yang menyuruhmu kemari?”

“Kau terlihat seperti ingin melemparnya lagi kali ini,” matanya terarah ke spons di dalam ember yang mengambang di atas buih sabun. Ia mengabaikan pertanyaanku seperti biasanya. “Sepertinya hari ini aku ingin berbuat baik, sebelum jatuh korban.”

            Aku menyibak rambut yang menutupi wajahku dengan cepat, apa yang barusan ia katakana? Korban? Siapa yang kubunuh dalam hal ini?

            Jong hyun merebut slang yang sedang kugenggam dan menyiram spons kotor itu sebelum menyelupkannya ke dalam ember sabun yang berbusa, memeras kelebihan airnya.

            “Jika kau seperti itu terus, bukan mencuci mobil namanya. Tetapi kau berniat mandi di tengah musim dingin dan di luar ruangan. Kau belum puas keluar masuk rumah sakit?. Tidak pernah kusangka mencuci mobil sekecil ini akan terlihat heboh jika kau yang melakukannya, setelah memperhatikanmu lima belas menit yang lalu, kuputuskan kau tidak bisa di biarkan untuk melakukan hal semacam ini lagi sendirian. Kasihan sekali spons ini. kau berusaha sangat keras untuk membunuhnya.”

            Hah..! “Apa yang kau lakukan disini oppa? Aku tidak bernafsu berdebat denganmu pagi ini., dan kau? Sudah memperhatikanku dari tadi? Bahkan sudah lima belas menit?”

            Ia mengangkat bahu.

            “Kau bisa dengan sangat mudah mencuci mobilmu ke tempat pencucian mobil, kenapa harus berusaha sekeras ini.”

            “Dan berhenti mengabaikan setiap perkataanku oppa. Mencuci disana membuatku mengeluarkan uang lebih.”

            “Memang sih,” ia menunduk mulai membersihkan bagian pijakan kaki yang terlewat olehku sebelum kembali ke bagian paling atas atap mobil. “Akan lebih berguna jika kau membawa mobilmu ke bengkel segera. Cuaca musim dingin disini buruk sekali, kau perlu menggantinya dengan yang baru, banmu sudah gundul.”

            Aku tidak perduli dengan banku yang gundul. Aku sedang berpikir apa yang ia lakukan disini dan mengobrol denganku sampai membantuku mencucikan mobil. Selama dirumah sakit ia selalu mendebat perkataanku.

            “Kau sudah merasa lebih baikan, Nara? Melihatmu sudah berkeliaran di rumah ini.” ia menyelesaikan bagian atap mobil dalam waktu singkat, megambil slang dan menyiraminya kembali sampai busa itu hilang. “Ku pikir aku perlu meminta maaf atas perbuatanku tempo hari.”

            “Kau pikir?” aku melotot. Setelah mengabaikan semua perkataanku— berkata dingin dengan orang sakit. Di tambah mengabaikan setiap perkataanku barusan.

            “Yeah... setidaknya aku sudah membayarnya dengan ini hari ini.” ia mengangkat slang air yang baru saja digunakan untuk menyiram mobilku. “Kau punya acara hari ini? ingin ku temani?”

            Wuuahh.... siapa yang merasukinya pagi ini? “Kau benar Jong hyun oppa?” tanyaku.

            “Sepertinya kau memang buta?” Jong hyun menghadapku, matanya menyipit.

            Sebagian diriku benar-benar dongkol. Inginku injak kakinya meskipun enggan. Dia berjalan melewatiku dan mematikan keran air.

            “Yeah,” katanya. Mengitari mobil sambil terus memeriksanya. “Sejujurnya, aku tidak punya pilihan. Aku harus berbuat baik.”

            “Kau bukan orang yang akan melakukan hal itu.”

            “memang tidak.” Jong hyun bergerak ke bagian kemudi. Duduk disana, “Tapi, temanmu menyita kunci lemari yang penuh dengan kameraku, dan dia tidak akan mengembalikannya sampai kau— aku minta maaf.”

            Aku mencoba untuk tidak tertawa, tapi gagal. “Baekhyun?”. Jong hyun mengangkat sebelah alisnya, “Dia? Menyita seluruh kameramu?” ku lihat jonghyun menghela nafas, turun dari kemudi. Kembali ke sisiku.

            “Lucu?”

            Aku mengulum senyum,“Itu sangat menggelikan.”

Jong hyun menatapku jengkel.

Aku bersedekap. “Hmm... kalian habis bertengkar?” aku tersenyum ketika melihat matanya menyipit. “Karena sikapmu?” aku memberi jeda, sangat menikmati momen ini. “Terhadapku di Rumah sakit?” Jong hyun bersender ke mobil. “Sepertinya Baekhyun tidak marah padamu.” Lanjutku.

Jong hyun membungkuk dengan cepat dan mencabut rumput di dekat kakinya, memutar—memainkannya.

“Kau tidak pernah melihat Baekhyun marah?”

Aku berdeham. “Well... nyaris tidak pernah.”

Sejenak Jong hyun menatapku, tangannya masih memilin-milin rumput yang sudah hancur. “Kau mempunyai teman pendendam.” Keluhnya.

Oh tuhan. Aku senang mendengarnya.

“Kalau begitu, kenapa kau disini, selain menyampaikan keluhanmu yang payah itu?”

Jong hyun mengumpulkan ember dan berbagai semprotan—menggulung slang pembersihnya. “Aku Cuma heran, kenapa dia sebegitu sensitivenya jika menyangkut dirimu.”

“Yah, terimakasih sudah mencucikan mobilku.” Balas dendam dengan mengabaikannya. Aku menarik nafas tajam, ingin melangkah mundur.

“Apa?” Jong hyun terdengar kecewa. “Ayolah?” pinta Jong hyun, “Aku tidak berniat bersikap menyebalkan,” sangkalnya.

Alisku mencelat.

“Apa?” Tanya Jong hyun. “Ada yang mau kau katakan, Nara?”

Aku hanya menatapnya, tak tahu harus bilang apa.

“Aku benar-benar minta maaf.” Jong hyun sudah berada di hadapanku lagi. “Aku hanya terlalu khawatir—sikap Siwon sepertinya mempengaruhiku.”

Aku meragukannya.

“Ku mohon, mungkin kau bisa membujuk Baekhyun?”

Aku terdiam, mengangkat kepala. Aku tahu dia menyebalkan, tapi Jong hyun tidak selalu seperti itu.

“Tenang saja.” aku menyeka dahi. “Dia tidak akan berbuat sejauh itu- aku tak akan membiarkannya.”

Jong hyun tampak begitu lega sampai-sampai ku pikir dia akan loncat kegirangan. “Syukurlah. Aku harus pergi Nara, tapi akan ku perbaiki sikapku. Aku janji.”

Aku mengangkat bahu. “Tak ada yang perlu di perbaiki, itu bukan salahmu.” Itu, salahku. Membuat kalian khawatir.

Ekspresi aneh melintas di wajahnya. “Tapi Baekhyun menjadikannya masalah besar. Sampai ketemu lagi nanti.” Ia memberi jeda, “Jangan mengabaikan Siwon Nara, kau satu-satu keluarga baginya.” Kata Jong hyun perlahan.

Sambil mengangguk, aku mengamati Jong hyun yang berjalan ke gerbang. Tadi itu apaan sih? Seumur-umur baru kali ini Jong hyun bersikap lunak kepadaku.

Aku tersenyum bangga. Baekhyun? Kau keren.

 

***

==>NEXT

synopsis bab 7 part 3^^

Hari ini aku makan sedikit dan perutku bergemuruh ketika menyadari hal itu.

            Chanyeol akan menungguku di suatu tempat. Lalu perutku bergolak, sejenak rasa lapar di gantikan perasaan mual. Otomatis kakiku terangkat dari pedal gas.

            Ku gertakan gigi dengan frustasi.

            Ku periksa GPS di depan. Aku akan segera tiba di tempat pemberhentian kecil, di tempat bernama Geumdae-ri. Mungkin aku akan berhenti untuk menyantap sesuatu di sana. Menunda pertemuan dengan Chanyeol selama beberapa saat.

            Jangan bertingkah seperti criminal, saran otakku.

            Aku menyetir sedikit lebih cepat, bertanya-tanya apakah tempat seperti itu aman bagiku. Apakah aku melakukan hal yang benar kali ini?.

***

POPULAR FANFICTION

BERITA PILIHAN

COPYRIGHT 2025 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK