home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > ESCAPADE

ESCAPADE

Share:
Author : 8jan95
Published : 24 Jul 2014, Updated : 24 Jul 2014
Cast : Oh Hayoung, Son Naeun, Kim Namjoo
Tags :
Status : Complete
1 Subscribes |931 Views |6 Loves
ESCAPADE
CHAPTER 1 : ESCAPADE

 

Son Naeun tidak pernah membayangkan orang tuanya akan bertindak sejauh itu dalam menyingkirkannya dari bagian keluarga. Masih dapat terputar di benaknya pertengkaran malam itu saat dirinya tahu berita yang cukup mengejutkan itu. Naeun menggelengkan kepalanya, menengok kembali ke arah mobil kedua orang tuanya yang hendak pergi.

Malam itu tidak ada yang berbeda dari Naeun. Seperti biasa, ia tertelungkup di atas tempat tidurnya sembari membaca sebuah buku yang berjudul “How to Get Rid: Your Sister 3”, jilid ke-3 dari sebuah novel seri kegemarannya. Hingga malam indah yang sunyi itu hancur oleh sebuah berita yang terucap dari mulut ayahnya.

“Mulai besok kau tidak akan tinggal bersama kami lagi,” sebuah kalimat bernada tegas terucap. Naeun mengira perkataan itu hanya sebuah lelucon belaka dan tidak menggubrisnya sama sekali. Hingga ayahnya menghembuskan napas sambil menunjukkan sebuah brosur asrama kepadanya.

Wajah Naeun merengut setelah melihat gambar dalam brosur itu. “Kau ingin mengusirku dari rumah?”

Ibunya yang datang bersama ayahnya mencoba membela suaminya, “Tidak, bukan seperti itu. Kami hanya ingin kau mendapatkan pendidikan yang lebih bagus, Naeun-ah.”

“Kau berbohong. Kalian ingin mengusirku dari rumah pasti demi Seeun kan? Ini semua pasti gara-gara Seeun!” bentak Naeun sambil membanting bukunya ke lantai. Buku novel yang dibacanya kini tergeletak di lantai, beberapa helai kertas tampak terlepas dari lem yang seharusnya dapat menyatukannya. “Kalau saja Seeun tidak lahir…”

“Jaga bicaramu Son Naeun!”

Naeun menatap tidak percaya ke arah ayahnya. Sekali lagi mereka membela adiknya. Sekali lagi Seeun menang dan Naeun kalah. Sekali lagi perasaan sakit itu muncul di hatinya.

“Kami sudah tidak dapat mentolerir perbuatanmu terhadap Seeun. Dia itu adikmu! Seharusnya kau jaga dia dengan penuh kasih sayang, bukan malah menyakitinya!” bentak ayahnya sebelum pergi meninggalkan kamar Naeun. Ibunya hanya menatapnya penuh rasa sebelum membalikkan badannya untuk mengikuti suaminya pergi meninggalkan Naeun sendiri.

Gadis itu terpuruk ke lantai. Seeun sudah merenggut semua darinya, bahkan kedua orang tuanya. Untuk apa Naeun memberikan kasih sayang kepada seseorang yang telah merebut dunia darinya? Untuk apa saat orang itu sudah mendapatkan terlalu banyak cinta saat Naeun tak mendapat apapun.

Naeun bergidik mengingat kejadian yang baru saja terjadi kemarin malam. Sejumput kepedihan terasa kembali di dadanya, namun juga ada sedikit rasa lega yang terasa.

Mungkin memang sudah menjadi takdirnya untuk menjadi sebatang kara dan terlepas dari keluarga. Mungkin saja.

 

Terduduk diam di bangku penumpang bagian belakang mobil, Hayoung menatap ke arah  depan dengan tatapan kosong, sementara paman dan tantenya bercengkrama dengan riang di kursi bagian depan. Pelan-pelan ditundukkan kepalanya.

Ingin sekali rasanya ia menangis, namun apadaya air matanya sudah tidak kuat untuk mengalir lagi.

“Kita sudah sampai,” pamannya berucap sambil membuka pintu mobil dan keluar menuju bagasi mobil.

Tantenya bangkit untuk membukakan pintu mobil untuknya dan membantunya—lebih tepatnya seperti memaksanya—keluar dari mobil.

Hayoung mengangkat wajahnya untuk menatap bangunan asing yang berdiri di hadapannya, mencoba tidak menghiraukan cibiran tantenya tentang bagaimana lamban dirinya. Tanpa disadarinya, pamannya telah berhasil membawakan semua barang dan perlengkapan yang ia butuhkan dan menaruhnya di dekat tempatnya berdiri.

“Kuyakin kau akan senang berada di sini,” ucap pamannya sembari menepuk pundaknya pelan. Seulas senyum tulus terukir di wajahnya yang tampak lelah itu.

“Kalau ada masalah apapun jangan segan untuk menghubungi paman. Mengerti, Hayoungie?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan. “Terima kasih, paman. Atas segalanya.”

Pamannya tersenyum sejenak. “Apapun untukmu, Hayoungie. Kau tahu? Aku merasa sangat bersalah semenjak kepergian kedua orang tuamu dan sudah menjadi tanggung jawabku sebagai adik dari ayahmu untuk merawatmu selepas…. kepergian mereka,” senyumnya berubah dan menyaratkan kesedihan yang dirasakannya.

“Itu semua bukan salahmu, pam—”

“Sayang! Ayo cepat kita berangkat!” suara tinggi melengking milik tantenya tiba-tiba memotong perkataan Hayoung.

“Bersikaplah yang baik, Hayoung. Dan berbahagialah,” pesan pamannya sebelum pria itu berbalik badan dan pergi meninggalkan Hayoung berdiri mematung di depan gedung besar milik asrama putri itu.

Tanpa memiliki pilihan lain, Oh Hayoung mengumpulkan semua barang bawaannya dan membawanya secara susah payah melewati pintu gerbang Asrama Putri Myeongseong. Sambil menghirup udara dingin sekitar, Hayoung bertekad untuk tidak menangisi kepergian kedua orang tuanya lagi dan mencoba untuk hidup berbahagia seperti pesan pamannya.

 

 

Namjoo membanting tas ransel berwarna hitam miliknya ke atas salah satu kasur yang terletak dalam ruangan. Matanya sekilas menyapu seluruh ruangan sebelum beranjak ke tempat yang telah dipilihnya. Dihempaskan badannya di atas tempat tidur kecil di sebelah kanan ruangan sebelum terdengar sebuah seruan kecil keluar dari mulutnya.

“Ah, yang benar saja,” dengus Namjoo kesal. Badannya seketika terpentok tas besarnya yang penuh terisi dengan pakaian saat dijatuhkan ke atas kasur. Saking kesalnya, Namjoo membanting lagi tasnya ke lantai dan menutup matanya sembari mendesah.

Kim Namjoo sampai di tempat ini pun bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan atas permintaan kedua orang tuanya. Namjoo yang usil dan tidak bisa diam selalu saja membuat masalah dimana pun ia berada. Bukan hanya itu saja, ia juga sempat membuat malu keluarganya yang terkenal dengan gelar terhormatnya itu.

“Apa salahnya bersenang-senang selagi muda? Dasar orang tua,” omelnya dengan dirinya sendiri. Omelannya tidak berhenti di situ saja dan bahkan ia melanjutkannya sambil memukul-mukul bantal guling yang terletak di sampingnya. Hingga terdengar suara pintu kamar dibuka oleh seseorang.

Tanpa berkata apapun, seorang gadis masuk ke dalam ruang kamar sambil menyeret kopernya. Matanya memindai sekeliling ruangan, benaknya menimbang-nimbang tempat tidur mana yang akan ia pilih. Hanya tersisa kasur tingkat yang belum ditempati di sebelah kiri ruangan, sementara tempat tidur tunggal di seberang sudah dimiliki seseorang.

Namjoo mengamati gadis itu menyeret koper dan tasnya yang lain menuju bagian bawah kasur tingkat tanpa berkata apapun, membuat salam pun tidak. Ia mendengus, sengaja dikencangkan sedikit agar didengar gadis asing itu.

“Cara yang bagus untuk menyapa,” sindir Namjoo.

Gadis asing berambut coklat panjang itu akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Namjoo. Sambil terduduk di atas kasur yang baru saja dipilihnya ia menjawab, “buat apa menyapa orang asing tidak dikenal.”

‘Tch. Angkuh sekali,’ benak Namjoo.

Walaupun ia sadar akan keangkuhan gadis asing nan misterius itu, Namjoo tak bisa mengelak kalau ia suka dengan keberanian dan caranya bicara yang terus terang itu. Dapat disimpulkan, Namjoo mulai menyukai gadis itu.

Dengan seulas cengiran terukir di wajahnya, Namjoo mulai berbicara lagi kepada gadis itu—tidak peduli dia ingin mendengarnya atau tidak. “Namaku Namjoo dan aku suka gayamu,” ucapnya dengan sedikit terkekeh.

Garis keras di wajah gadis asing itu seakan semakin memudar seiring berjalannya waktu dan tentu saja, ocehan Namjoo. Tanpa bisa menahan kegaduhan yang ditimbulkannya akibat ocehannya yang tiada henti, gadis itu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menanggapinya.

“Baiklah. Aku Naeun dan bisakah kau diam?”

Sentak Namjoo pun terdiam, walau hanya untuk jangka waktu yang cukup singkat—yah, hanya sepersekian menit—sebelum dilanjutkan ocehannya dengan menginterogasi Naeun.

Naeun mengehela napas panjang. Nampaknya ia harus membeli penyumbat telinga nanti.

 

 

“Kau yakin tidak ingin membenahi barang-barangmu?” tanya Naeun kepada gadis yang sedang asyik membalik halaman majalah di atas kasurnya.

“Buat apa? Toh aku akan segera keluar dari sini,” cengir Namjoo dengan percaya diri tanpa menengokkan kepalanya dari majalah. Naeun hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Namjoo.

Mereka sudah lumayan akrab sekarang. Tepat saat Naeun mengeluarkan majalah fashion miliknya, mata Namjoo bergelimang dan benar-benar terfokus pada segumpulan kertas warna-warni berisi katalog busana itu. Yah, walaupun Naeun harus mengorbankan salah satu majalahnya, setidaknya gadis liar itu dapat berhenti mengoceh dan membuat pusing kepala Naeun.

“Hei,” suara Namjoo tiba-tiba terdengar. Naeun menengokkan kepalanya sejenak untuk melihat ke arah Namjoo yang ternyata tengah menunjukkan sebuah halaman majalah kepadanya.

“Apa?”

Shinzu’i White Concert!” ucapnya dengan penuh semangat. Naeun tidak bisa tidak menaikkan alisnya melihat wajah Namjoo yang tiba-tiba merona.

Shinzu’i mengadakan konser dengan tema Putih itu SHINZU’I dan tebak siapa bintangnya?”

Naeun hanya mengangkat bahunya tidak tertarik dengan topik tersebut.

A PINK!” suara Namjoo meninggi dengan semangatnya, membuat Naeun harus menutup telinganya.

“Lalu?”

“Kau bercanda! A Pink sekarang sedang menjadi tren! Masa kau tidak tahu?”

Naeun mengangkat bahunya lagi tanpa menjawab. Ia menyimpan tasnya di dalam lemari dan menutupnya, selesai dengan baju-baju dan barang bawaannya yang lain. Sementara Namjoo masih tidak percaya dengan jawaban Naeun tentang grup idola kesukaannya yang memang sedang tenar di industri musik Korea sekarang.

Keheningan singkat yang terdapat dalam kamar itu terusik ketika terdengar suara ketukan dari arah pintunya. Dengan perlahan-lahan, pintu itu terbuka menampilkan sosok seorang gadis jangkung berparas cantik yang melongokkan kepalanya ke dalam.

Gadis itu nampak terkejut ketika mendapati kamar yang akan ditempatinya ternyata sudah ada penghuninya—atau lebih tepatnya penghuni lainnya.

“Siapa di sana?” Naeun bertanya ketika pintu kamar tiba-tiba tertutup kembali tanpa seorang pun memasukinya.

Sedetik-dua detik berlalu tanpa ada jawaban dari luar. Nampaknya gadis itu masih terlalu gugup untuk berani menjawabnya.

“Na-namaku Oh Hayoung..” suara gadis itu terbata-bata dan sangat pelan, hampir tidak kedengaran.

“Apakah kau akan menempati kamar ini juga?” tanya Naeun. Lagi-lagi tidak ada jawaban.

Naeun menengok ke arah Namjoo yang membalas tatapannya dengan gelengan kepalanya. “Sepertinya.”

“Masuklah,” suara Naeun lembut ketika menyuruh gadis itu, menyadari betapa gugupnya pasti gadis baru itu.

Dua pasang mata tertuju ke arahnya saat Hayoung memasuki kamar barunya yang akan dihuninya untuk waktu yang cukup lama itu. Ia tidak bisa menahan gemetar di seluruh badannya bahkan ketika ia telah berhasil membawa seluruh barang bawaannya ke dalam kamar. Dan gadis itu, Oh Hayoung, hanya berdiri terpaku di depan pintu dengan kepala tertunduk ke bawah.

Namjoo menghela napas, tidak tahan dengan sikapnya yang kelewat malu-malu. Ia pun bangkit dari kasurnya dan menarik lengan gadis itu. “Tempatmu di atas karena Naeun telah mengambil yang bawah duluan.”

“Namaku Namjoo, gadis cantik tapi dingin yang di situ bernama Naeun,” sambungnya sambil memperkenalkan mereka berdua kepada gadis itu. Naeun memutar matanya saat Namjoo memanggilnya gadis dingin tapi tak berkata apapun.

Diperhatikannya gadis baru bernama Hayoung itu dari ujung kepala sampai kaki; Naeun tambah yakin ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu yang menyebabkannya menjadi seperti ini. Dia tidak tahu pasti, hanya sekedar firasat.

“Hei, tenanglah. Kau sudah menjadi teman kami sekarang,” ucap Naeun lembut walalu suaranya masih terdengar dingin.

Namjoo meliriknya. “Kau tidak pernah memintaku menjadi temanmu,” protesnya.

“Diamlah, Namjoo,” balas Naeun setengah kesal. “Duduklah. Hayoung kan?”

Hayoung menganggukkan kepalanya sejenak. Kali ini berani untuk mengangkat kepalanya dan mengamati kedua gadis yang baru saja ditemuinya, Naeun dan Namjoo. Mereka berdua tampak jelas berbeda. Naeun, seperti yang dikatakan Namjoo, memang gadis yang sungguh cantik. Namun ada sesuatu, seperti aura, yang keluar dari dalam dirinya yang seakan membuatnya sulit untuk didekati.

Lain halnya dengan Namjoo. Gadis itu tidak kalah cantiknya dari Naeun, dengan matanya yang super besar dan bulat, dan lesung pipit yang terbentuk ketika ia menyengir kepadanya. Walaupun tatapan matanya penuh dengan rasa dingin dan angkuh, tapi ada kesan lain yang tercipta. Ada sesuatu yang menyenangkan dan liar dari gadis itu, Hayoung bisa merasakannya.

“Jadi, ceritakan tentang dirimu,” Naeun angkat bicara saat ia telah duduk di bagian ujung kasur, masih tidak terlalu nyaman dengan kedekatan di antara mereka.

Hayoung terdiam. Hal macam apa yang harus diceritakan kepada dua orang asing yang baru saja ditemuinya?

“Sepertinya dia tidak akan mulai,” celetuk Namjoo.

“Kalau begitu kau saja yang mulai duluan,” cetus Naeun.

Namjoo membelalakan matanya, tetapi sebuah cengiran mulai terbentuk di wajahnya. “Baiklah. Tapi kalian harus memasang kedua telinga kalian dengan benar karena aku tidak akan melakukan siaran ulang pada ceritaku.”

Naeun hanya mengangkat alisnya sebagai jawaban sementara Hayoung menangguk pelan. Cukup puas dengan respon yang diterimanya, Namjoo pun memulai cerita tentang kisah hidupnya dan bagaimana ia bisa berada di Asrama Putri Myeongseong.

 

 

“Lihat dia begitu terobsesi memenangkan tiket konser apalah itu,” sindir Naeun yang sedang mengamati Namjoo mengoleskan body lotion bermerek Shinzui’i secara perlahan di kulitnya.

Sudah beberapa hari berlalu sejak pertemuan pertama mereka dan tanpa membutuhkan waktu yang lama, ketiganya langsung akrab saat itu juga. Dimulai dari cerita Namjoo yang penuh petualangan dan candaan tentang bagaimana dirinya bisa dikirim oleh kedua orang tuanya ke asrama putri tersebut, dilanjutkan dengan cerita Naeun yang penuh dengan rasa kesal dan sakit hati atas perlakuan kedua orang tuanya yang selalu membedakan dirinya dengan adiknya.

Setelah mendengar kisah kedua gadis lainnya, Hayoung pun akhirnya berani membuka ceritanya sendiri yang penuh dengan kesedihan dan pilu, yang membawa air mata dan pelukan yang berhasil mendekatkan mereka secara sekejap.

Bagaimana tidak? Seorang gadis kaya raya yang dulunya bahagia kini tidak lain menjadi seorang gadis yatim piatu yang dibenci tantenya sendiri dan hidup di asrama, jauh dari keluarga. Bahkan Namjoo yang tampak tegar dan Naeun yang tampak dingin pun ikut meneteskan air mata ketika mendengar kisahnya.

Di malam itu juga mereka membuat janji; janji akan kebahagiaan yang akan mereka raih bersama-sama.

“Bahkan unnie, kau tahu?” suara Hayoung kini tidak lagi pelan dan mulai menyaratkan keceriaan saat bersama dua orang kawannya itu. “Dia membeli semua produk kecantikan dari perusahaan tersebut demi memenangkan tiket konser itu!”

Hayoung tertawa lepas diikuti oleh Naeun yang membuat Namjoo cukup jengkel. “Yah, Oh Hayoung!”

“Aku melihat body cleanser dan bahkan body scrub bermerek yang sama di peralatan mandinya,” lanjut Hayoung, masih dengan tawa riangnya.

“Hei, aku tahu dia punya facial wash bermerek Shinzu’i juga di dalam laci mejanya,” sambung Naeun.

“Ayolah, itu tidak lucu!” wajah Namjoo cemberut kesal atas ledekan teman-temannya. “Lagipula kalian akan berterima kasih padaku nanti.”

“Apa maksudmu?” tanya Naeun tertarik dengan kalimat terakhirnya.

“Tidak tahu. Coba kau beri tahu,” Namjoo dengan sengaja mempermainkan kedua gadis itu sementara ia menyembunyikan sesuatu di belakang mereka.

“Ayolah, unnie. Aku penasaran,” pinta Hayoung semanis mungkin.

Seulas senyum jahil terukir di wajah Namjoo ketika tangannya merogoh ke dalam saku tasnya. Kedua mata bulatnya memperhatikan ekspresi wajah yang dikeluarkan temannya. Dengan gerakan cepat Namjoo mengeluarkan tiga carik kertas dari tasnya dan menunjukkannya ke depan wajah teman-temannya.

Tiga tiket SHINZU’I White Concert.

Mata Naeun terbelalak, mulut Hayoung terbuka lebar menyaksikan benda yang seakan bersinar di tangan Namjoo itu.

“Bagaimana kau mendapatkannya?” Naeun bertanya dengan penuh takjub.

“Kapan?” Hayoung juga masih tekagum-kagum dengan tiga lembar kertas itu.

“Jangan ditanya. Pokoknya aku memiliki sumber sendiri,” jawab Namjoo dengan menambahkan kedipan genit di akhir kalimatnya.

Hayoung tiba-tiba teringat sesuatu. “Tapi bagaimana cara kita bisa ke sana?”

“Kau tahu, kita hanya diperbolehkan keluar asrama setiap hari minggu dan itu pun dibatasi dengan jam malam.”

“Tenang saja, Oh Hayoung. Aku sudah merencanakan semuanya.”

 

 

“Tunggu dulu. Jadi maksudmu, rencana besarmu itu adalah ‘Naeun bisa memikirkan suatu cara yang bisa menyelundupkan kita keluar’? Itu saja?” Naeun bertanya tidak percaya.

Namjoo mengangguk dengan percaya diri.

“Kim Namjoo! Yang benar saja!”

“Ayolah, unnie. Kau yang pintar di sini, tentunya kau bisa kan menyelundupkan kita keluar? Satu hari saja, ya?” pinta Namjoo dengan nada manisnya.

“Tsk. Baiklah, akan kucoba memikirkannya. Tapi kalau sampai kita tertangkap, aku tidak akan segan menyalahkanmu sebagai otak dibalik semua ini, Namjoo.”

“Tidak masalah buatku,” ujar Namjoo dengan berani.

Dan memang tidak salah pilihan Namjoo dengan mempercayakn Naeun dalam hal merencanakan ide penyelundupan. Tidak butuh waktu yang lama, hanya sekitar satu jam lebih tepatnya, Naeun sudah memiliki rencana yang dapat membawa mereka keluar dari asrama pada hari Kamis.

Ya, mereka berencana untuk membolos beberapa pelajaran karena konser akan dilaksanakan pada hari Jumat. Dan mereka pastinya butuh waktu lebih untuk mencari dimana tempat konser itu dilaksanakan, apalagi mereka hanya bertiga dan saling memandu satu sama lain.

Kamis pun datang tanpa dirasa-rasa. Ketiga gadis itu sudah bersiap-siap dengan rencana mereka, bahkan Naeun sudah menuliskannya di atas selembar kertas yang ditempel di dinding kamar, yang berisikan:

1.Hayoung berpura-pura sakit.

Alasan: Karena jadwal menstruasinya datang.

Setelah membasahi wajah dan sebagian rambutnya, serta menambahkan polesan lipstick berwarna pucat, Hayoung dengan akting seperti orang kesakitannya perlahan-lahan mengunjungi klinik asrama. Walaupun gugup dan badannya gemetar, perawat asrama cukup teryakinkan dengan caranya berlakon, apalagi ditambah dengan cara bicaranya yang terbata-bata saking gugupnya. Alhasil Hayoung mendapatkan jatah bolosnya dengan sangat mudah.

2.Naeun dan Namjoo berpura-pura bertengkar (atau tidak?).

Waktu dan tempat: Dilaksanakan saat pelajaran olah raga.

Sepertinya dewi keberuntungan berada di pihak mereka saat guru olah raga mengumumkan bahwa kegiatan yang akan mereka lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah dodge ball. Tentunya kesempatan yang tepat untuk Naeun melemparkan bolanya dengan sengaja ke arah Namjoo yang sengaja tidak menangkapnya, bahkan membiarkan dirinya terkena pukul bola tersebut. Perkelahian pun terjadi di antara mereka dan tampak sangat meyakinkan—mungkin mereka benar-benar berkelahi? Yah, walaupun kericuhan yang ditimbulkan cukup besar dan cukup meninggalkan beberapa luka kecil seperti cakaran dan hilangnya beberapa helai rambut akibat perkelahian mereka, setidaknya mereka mendapatkan apa yang mereka mau.

 

Sore hari saat semua murid beserta pengawas dan guru sedang berkumpul bersama mengadakan acara kerja bakti mingguan, ketiga gadis tersebut di bawah kepemimpinan Namjoo diam-diam meninggalkan kamar mereka menuju pagar belakang yang membatasi halaman asrama dengan dunia luar.

Dengan mengendap-endap dan saling berimpitan, Namjoo, Naeun, dan Hayoung bergegas keluar gedung. Mereka selalu berhenti di setiap sudut, mengintai keadaan sekitar dan memastikan kalau jalan di depannya aman untuk dilalui.

“Seperti di film-film saja rasanya,” celetuk Hayoung yang tidak bisa menyembukan rasa gugup sekaligus semangatnya dalam melanggar sebuah peraturan. Memang Hayoung adalah tipe gadis yang selalu menaati peraturan, tidak seperti Namjoo.

“Sst! Kau bisa membuat kita ketahuan!” bentak Namjoo pelan.

“Maaf…”

“Sudahlah diam!”

“Hei, kalian terlalu berisi—”

“Apa yang kalian lakukan?”

Kalimat Naeun tiba-tiba terpotong oleh suara orang keempat yang seketika membuat ketiga gadis itu berdiri terpaku di tempat.

Perlahan dan hati-hati ketiga gadis itu mencoba menolehkan wajah mereka ke arah sumber suara dan mendapati, tidak lain dan tidak bukan, adalah Park Chorong, gadis ketua asrama bagian tempat mereka tinggal yang terkenal dengan kedisiplinannya yang sangat ketat.

“Mau kemana kalian?” tanya Chorong sambil mengamati ketiga gadis itu.

Tidak ada seorang pun yang menjawab di antara mereka, hingga Namjoo berdeham pelan. Tentu saja sebagai otak dibalik rencana kepergian mereka ini, Namjoo merasa ia harus bertanggung jawab. Tapi Chorong tidak memberinya kesempatan untuk berbicara, bahkan ketika gadis itu sudah membuka mulutnya, siap dengan kata-katanya, Chorong sama sekali tidak mempedulikannya.

“Mau kabur ya?” tanyanya lagi, nada suaranya mengejek.

“B-bukan begitu sunbaenim..” Hayoung terbata-bata angkat bicara, mencoba menjelaskan dan langsung terdiam ketika tatapan tajam dan menyeramkan dari Chorong menatapnya.

“Chorong unnie, tolong dengarkan aku dulu,” Naeun, sebagai orang yang paling dekat dengan Chorong di antara mereka bertiga—walaupun sebenarnya tidak bisa dibilang dekat juga—mencoba mengambil hatinya.

“Son Naeun,” wajah Chorong berpaling ke arahnya, “jujur aku kecewa denganmu.”

Naeun sontak tertunduk malu atas perkataannya.

“Park …Chorong-unnie. Dengar,” Namjoo mencoba mengalihkan perhatiannya sekarang. “Namaku Kim Namjoo dan kedua temanku ini tidak bersalah. Kami hanya ingin menonton konser, itu saja,” jelasnya dengan nada enteng, seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali.

“Kim Namjoo? Sudah kukira kau akan membuat masalah cepat atau lambat mengingat alasanmu dikirim ke sini,” terang Chorong.

“Kau kira dengan berbicara dengan cara seperti itu aku akan memaafkanmu dan membiarkanmu pergi? Mungkin aku akan membiarkan kedua temanmu ini pergi kalau saja…” potong Chorong sambil menimbang-nimbang sejenak, “…kalau saja kau bisa membuktikan bahwa mereka memang benar-benar tidak bersalah dan bersedia menerima hukumanmu sendiri.”

“Baiklah, aku bersedia,” jawab Namjoo dengan berani. Sontak semua pandangan kini terfokus padanya.

Memang sesuai perjanjian Namjoo harus bertanggung jawab bila mereka tertangkap, namun Naeun tidak sepenuhnya menyangka bahwa ia benar-benar serius akan mengorbankan dirnya sendiri seperti ini.

S-sunbaenim! I-ini bukan sepenuhnya salah Namjoo unnie. Aku juga ingin menonton konser itu jadi aku juga bersalah,” Hayoung tiba-tiba angkat bicara, mencoba membela kawannya. Tidak habis pikir, seorang gadis pemalu yang bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya saat bicara kepada orang-orang yang baru ditemuinya kini mencoba membela temannya di depan seorang senior yang menyeramkan.

“Hayoung-ah..” Namjoo yang masih terkejut dengan pembelaan dari Hayoung mencoba untuk mendiamkannya.

“Tidak, aku juga bersalah,” ujar Hayoung yakin.

“Baiklah, aku mengerti,” ucap Chorong tiba-tiba. “Ini merupakan salah satu trik kalian kan? ‘Mari saling menyalahkan diri sendiri dan membuat simpati bila kita tertangkap’, bukan begitu Son Naeun?” mata Chorong tertuju pada Naeun.

Naeun melirik kedua temannya sambil menghindari tatapan Chorong, menimbang-nimbang jawaban apa yang harus diberikannya.

Walaupun tidak ingin mengakuinya, Namjoo setengah berharap Naeun akan membela mereka, tidak peduli atas perlakuan dingin darinya selama ini terhadap Namjoo—dan juga, terkadang Hayoung—serta sindiran-sindiran kasar yang selalu dilontarkannya. Namjoo hanya berharap Naeun menganggapnya teman sahabat seperti Namjoo menganggap Naeun dan Hayoung sebagai sahabatnya, walau mereka belum lama bertemu.

“Tidak,” Naeun akhirnya menjawab. Hati Namjoo saat itu juga melemas mendengar jawaban Naeun.

Unnie..” Hayoung tidak percaya.

“Kami tidak merancang skenario apapun terhadapmu, Chorong unnie. Bisa kukatakan itu salah satu kesalahanku yang bertugas merencanakan kepergian ini. Kami bertiga memang sepenuhnya bersalah tapi tolong, kali ini saja, biarkan kami mengunjungi konser itu,” Naeun memohon sungguh-sungguh kepada Chorong. Ia tahu bahwa Namjoo sangat ingin menonton konser idolanya itu dan pastinya akan sedih sekali bila tidak jadi.

“Naeun unnie…” Hayoung yang tidak bisa menahan air matanya lagi memeluk Naeun dengan erat. Sungguh tidak dapat dibayangkan seseorang seperti Naeun yang selalu membanggakan dirinya sendiri kini merendahkan dirinya, memohon sesuatu yang bahkan tidak begitu diminatinya. Hanya karena temannya sangat menginginkan hal itu.

“Kumohon Chorong unnie.

 

 

Hayoung, Naeun, dan Namjoo tengah berada di dapur asrama dimana mereka harus melaksanakan hukuman yang diberikan Chorong sebelumnya. Dapat dikatakan ia sudah berbaik hati dengan menangani masalah hukuman itu sendiri daripada melaporkan mereka bertiga ke ibu kepala asrama. Tentu saja hukuman yang diberikan akan lebih berat dibandingkan membersihkan seluruh benda di dalam dapur asrama hingga bersih.

Kedengarannya mudah dilaksanakan memang. Namun kalau benda-benda yang harus dibersihkan itu seperti peralatan memasak yang sudah berkali-kali dipakai tanpa dicuci, peralatan makan sekian ratus siswi belum termasuk guru serta orang-orang lain yang tinggal di asrama, dan juga dinding dan lantai serta meja-meja dan rak yang dipenuhi noda dari bermacam-macam kejadian dan bahan makanan ….tidak akan segampang yang dipikirkan.

“Maafkan aku, unnie,” Hayoung tiba-tiba membuka mulutnya untuk berbicara di sela-sela pekerjaannya mencuci peralatan makan. Sudah beberapa jam mereka menghabiskan waktu di dapur membersihkan segala macam hal yang terlihat.

“Gara-gara aku berbicara kita semua menjadi dihukum dan tidak bisa menonton konsernya,” Hayoung cemberut.

“Eiy, apa yang kau katakan? Ini semua bukan salahmu, Hayoung. Kalau ada seseorang yang harus disalahkan tentu saja itu Namjoo,” balas Naeun sambil bercanda.

“Kok aku?” Namjoo yang sedari tadi sibuk menggosok-gosok dinding menengokkan kepalanya ke arah kedua gadis itu.

“Kalau saja kau tidak menyarankan kita kabur secara diam-diam dan kalau saja kau tidak berisik sewaktu kita mengendap-endap keluar, kita pasti tidak akan berada di sini.”

“Tapi kan kita tertangkap saat kau bicara!” protes Namjoo. “Lagipula kau juga senang sekali saat kutunjukkan tiket konser itu..”

Naeun tertawa kecil melihat bibir Namjoo yang mengerucut karena kesal. “Iya, aku memang senang,” ujarnya sambil tersenyum.

“Tuh kan!”

“Hei, unnie,” suara Hayoung tiba-tiba terdengar kembali setelah diam sejenak mendengarkan pertengkaran kecil mereka.

“Iya, Hayoungie?” sahut Namjoo dan Naeun serentak, membuat mereka tertawa sejenak akan hal itu.

“Walaupun kita tidak jadi menonton konser, aku tetap senang. Karena kalian sudah memberi cukup kebahagiaan padaku walau hanya sedikit-sedikit. Tidak banyak,” ujar gadis yang paling muda di antara mereka itu.

Hayoung menyengir ke arah dua gadis lainnya sementara Naeun berpura-pura menyeka air matanya menggunakan tangannya yang tertutup sarung tangan berwarna pink.

“Hayoungie-ku sudah tumbuh dewasa!” canda Namjoo diikuti tawanya. Ketiga gadis itu tertawa bersama-sama hingga Hayoung tiba-tiba menghentikan tawanya dan memasang wajah serius.

“Hei, unnie,” sahutnya lagi.

“Kerjalah yang benar!” seru Hayoung sambil tertawa.

 

 


 

 

POPULAR FANFICTION

BERITA PILIHAN

COPYRIGHT 2024 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK