SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Ketika Musim Semi Berhias " Matsuri "

Ketika Musim Semi Berhias " Matsuri "

Share:
Author : nilautami73
Published : 07 Oct 2014, Updated : 07 Dec 2014
Cast : Rosemarie, Mr. Oaks & Ethan
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |929 Views |1 Loves
Ketika Musim Semi Berhias " Matsuri "
CHAPTER 1 : Ketika Musim Semi Berhias " Matsuri "

Matsuri, sebuah kata yang terdengar indah, bukan ?

Namun ‘Matsuri’ bukan nama sejenis bunga seperti halnya Sakura yang juga terdengar indah. Bukan pula pernak - pernik warna - warni buat dekorasi. Matsuri berarti festival. Dan Jepang punya begitu banyak festival yang menandai setiap musim.

Jepang pada dasarnya adalah negeri para petani. Festival di Jepang biasa mengikuti siklus musim, khususnya musim bertani. Itulah sebabnya sebagian besar festival berkaitan dengan kalender pertanian. Meskipun mengikuti siklus musim yang sama, setiap wilayah bisa saja punya corak festival tersendiri. Misalnya, untuk merayakan syukur atas panenan, masing - masing wilayah punya festival musim yang khas. Tujuannya sama yakni syukur kepada para Dewata setempat dan sekaligus doa mohon panen yang lebih baik untuk tahun mendatang. Namun bentuk perayaannya bervariasi dengan nama lokal dan penekanan khusus yang bisa saja berbeda - beda pula.

Musim semi (Haru), yang saat ini sedang dalam peralihan ke musim panas (Natsu), juga punya aneka festival yang khas. Salah satu festival paling awal sudah berlangsung pada permulaan bulan April ketika orang Jepang merayakan ‘Hana Matsuri’ untuk memperingati kelahiran Buddha. Sesungguhnya inilah saatnya bunga - bunga mulai bermekaran, ya, saat paling awal di musim semi. Karena itu pula berbagai festival sejak bulan April sampai dengan awal bulan Juni banyak berkaitan dengan makhluk indah alami yang satu ini, yaitu bunga.

 ‘Hanami’ merupakan festival musim semi yang paling populer. Orang berkumpul dalam berbagai macam kelompok dengan berbagai kategori, entah perusahaan, keluarga, lingkungan atau apa pun saja, untuk bersama - sama menikmati bunga Sakura. Biasanya berlangsung pada saat bunga Sakura sedang pada puncak mekarnya disuatu wilayah tertentu. Sambil makan dan minum dalam suasana gembira, entah pada waktu siang atau malam hari, orang duduk - duduk santai dan berlama - lama di bawah naungan pohon - pohon ceri dengan bunga Sakuranya yang lebat.

Liburan musim semi terindah yang kami habiskan kali ini bersama – sama keluarga adalah di kota tua Takayama Jepang.

Senin. Dengan sedikit tergesa – gesa, aku mengayuh sepeda menuju kampus, perjalanan sepanjang kota cukup menyenangkan. Memasuki gerbang utama kampus, suasana masih sepi, ada beberapa mobil dosen dan pelajar lain yang terparkir rapi di halaman parkir utama kampus.

Aku sempatkan mampir di cafe kampus terlebih dahulu, dan sapa lembut dari Mr. Oaks menggodaku “Apakah Anda ingin sesuatu untuk sarapan, Rosemarie ?” Aku tertawa. “Tidak, terima kasih. Aku sudah terlalu banyak makan di rumah,” kataku. Dia tertawa sambil tangannya sibuk membersihkan meja. Mataku sibuk mencari Ethan, putra pertama Mr. Oaks, sahabat baikku di kelas (kebetulan kami sama – sama satu jurusan). “ Aku benar - benar terkejut Anda tidak makan lebih banyak pagi ini,” katanya dan berjalan ke dapur dengan setumpuk piring kotor. Aku berdiri, “ Aku akan membantu mencuci piring,” aku menawarkan jasa. Ethan berdiri di belakangku. Aku menatap wajah terkejutnya. “ Anda bisa mencuci piring ?” Dia bertanya. Aku tertawa lagi. “ Hukuman resmi untuk seorang Putri sepertiku. Ibuku biasa menyuruh kita untuk mencuci, mengeringkan dan berkemas piring dan perlengkapan lain yang kotor sehabis makan bersama di meja makan sebelum kami pergi,” aku menjelaskan dan menuju dapur. “ Di sini tempatnya, Rosemarie.” Mr. Oaks melemparkan aku spons lembut. “ Anda dapat mencuci dan aku yang akan mengeringkan,” katanya. Aku tersenyum, berusaha menahan tawa dan berjalan ke wastafel. Cangkir kecil dari plastik sudah diisi dengan air sabun. Dan hanya perlu beberapa menit saja, aku telah selesai membantu mereka sebelum bersama – sama Ethan menuju kampus untuk memulai hari.

Jam 2 siang, pelajaran akhir usai. Perutku lapar sekali, kutinggalkan Ethan, sedikit berlari menuju café kampus. Kursi penuh sesak oleh beberapa mahasiswa/wi sedang asyik menikmati makan siang mereka, beruntung tinggal satu kursi di pojok, dan aku langsung menuju ke situ. Daftar menu spesial hari ini …..  Aku pesan Butterscotch Cannoli, Mango Sorbet yang lezat, dan segelas susu segar dingin. Satu jam aku tenggelam menikmati lezatnya masakan olahan tangan Mr. Oaks sendiri, tanpa kusadari Ethan sudah berada di café membantu ayahnya melayani pembeli yang semakin berjubel.

“ Itu baik - baik saja, ayah. Aku akan keringkan dan segera berkemas pergi,” kata Ethan. Diam – diam aku masuk ke dapur, aku menatapnya ketika dia mulai mencuci gelas dan yang lainnya satu per satu. Beberapa percakapan ringan yang tidak aku mengerti, “ Oh, tidak, tidak. Bila kamu pikir saya akan bisa berbicara lagi dengannya ? Kamu melihatnya hampir setiap hari.” Aku mengerjapkan mata sejenak ketika aku mendengar     Mr. Oaks mengatakan  sesuatu lagi, “ Pergilah, hibur saudaramu,” katanya. Ethan menatapku dan tersenyum sebelum meninggalkan dapur. Aku bermaksud membantu meneruskan mencuci piring saat beliau datang dan berdiri di sampingku. Aku mengangguk sedikit. “ Jadi kau tahu,” kataku dan dia mulai mengeringkan piring – piring yang sudah tercuci satu per satu. Dia terkekeh. “ My dear, saya membaca surat kabar hari ini dan aku sangat terkejut membaca sebuah berita buruk tentang perusahaan tempat putra keduaku bekerja. Telah terjadi sesuatu yang buruk dengannya ! ” katanya. Aku ikut prihatin dan menatapnya, “ Yah, semoga anakmu baik – baik saja. “ Dia mengangguk. Aku menyerahkan piring terakhir yang sudah bersih, kemudian titip salam buat Ethan, hari sudah hampir senja, waktu bagi aku untuk pulang. Hampir separuh waktuku di kampus selalu kuhabiskan bersama dengan Mr. Oaks, dia adalah seorang pria paruh baya yang terkenal bijaksana dan ramah, supel, senang bergaul disamping masakan – masakan hasil ciptanya yang selalu lezat dan tidak pernah membosankan. Seperti hari ini, aku memang sengaja datang lebih awal untuk mengintip menu terbaru dia !  “ Oooh, saya sudah membaca artikel tentang anak Anda. Aku takut sekali, kecelakaan itu sangat mengerikan dan menelan korban jiwa banyak sekali !” aku memulai percakapan kecil dengannya. Tawa  Mr. Oaks memenuhi ruangan café dan aku ikut tertawa. Dia menatapku, matanya yang baik dan hangat, seperti Ethan. “ Saya sangat berharap Anda dan Ethan menemukan cara untuk selalu bersama - sama untuk waktu yang lama. Anda benar - benar seorang gadis yang luar biasa. Aku suka cara Anda berpikir, dan aku tidak mengatakan semua ini karena kau seorang putri, saya benar - benar bersungguh -sungguh. “ Dan aku percaya padanya ketika ia mengatakan ini. Aku dengan Ethan, tapi pada saat yang sama aku tidak begitu yakin karena kami hanya berteman biasa. Menurut pendapatku, apakah kami berkencan, tapi ketika Anda benar - benar melihat hal itu, kami merasa tidak.

Dan musim liburan tiba kembali.

Aku memutuskan untuk bermain ke rumah nenek di desa Charonne. Beliau memiliki peternakan sapi perah dan aku senang sekali jika musim memerah susu sapi tiba. Rumah nenek sangat besar, megah seperti sebuah kastil di tengah hutan belantara, tidak ada apa – apa, hanya sebuah nyanyian sunyi alam pedesaan. Di rumah ini hanya ada nenek dan beberapa sepupuku yang mengurus peternakan sapi perah keluarga kami. Chanelle adalah sepupuku yang paling tua, berkepribadian lucu dan memiliki postur tubuh agak gendut tetapi tetap memiliki wajah yang cantik dan menarik. Dia tertawa padaku ketika aku masuk ke ruang perpustakaan dengan syal musim dingin membalut hangat bahuku. Hawa dingin memukul – mukul tubuhku setelah aku menyelesaikan mandi malam ini. Aku tersenyum, dengan menggigil aku menuju sofa dan dia duduk di sebelahku. Dia pindah sedikit dan menatapku. Chanelle tersenyum, matanya yang gelap penuh hiburan. “ Kau sudah gila,” katanya sambil cekikikan. Chanelle memiringkan kepalanya. Jari - jarinya menyentuh pipiku ringan. “ Biarkan aku menebak, kamu lakukan semua apakah untuk aku?” kata Chanelle. Aku tersenyum sedikit. “ Aku mengenal keluarganya. Ini semacam pekerjaan berat buat aku,” katanya sambil mengangkat bahu. Chanelle tersenyum lagi. “ Tadi siang dia kesini dan menanyakanmu. Aku berpikir, itu hanya cara Anda, Matthew untuk mengenal adik sepupuku yang baru datang dari kota. Ini seharusnya yang Anda lakukan,” katanya dan perlahan - lahan meletakkan tangannya dipangkuannya. Mata Chanelle turun naik dan ia tampak tidak yakin. Sementara aku hanya menanggapi ringan tentang perkenalanku dengan dua pemuda ganteng di desa ini, Matthew dan Mark ! Aku tahu ada yang disembunyikan Chanelle tentang kedua laki – laki tadi. Dan seperti biasa, hasratku sangat menggebu untuk mengetahui ada apa ? Tiba – tiba handphonenya berdering …… “ Dengar Matius, aku tahu kita harus berbicara tentang ciuman itu tapi ...” Dia mengambil napas goyah dan aku bisa melihat air mata terbentuk di matanya. “Saya harus memberitahu Anda sesuatu tentang semalam,” katanya dan menatapku dengan mata berkaca - kaca. “ Ada alasan lain mengapa saya ingin pergi dengan Anda tadi malam,” katanya mengulang lagi dengan nada sedikit keras. Aku mengangguk, menunggu dia untuk melanjutkan perbincangan dengan seseorang.   “ Orang tua saya telah berjuang dan berdebat banyak akhir – akhir ini mengenai hubungan kita yang kian hari semakin tidak jelas, bahwa Anda telah lupa untuk meluangkan sedikit waktu datang ke istana ini. Ini justru membuat aku benci berada di rumah dan berada di sekitar Anda lagi, selalu membantu saya lupa.” katanya dengan nada suara retak diakhir percakapan. Aku tidak tahu dan tidak begitu mengerti tetapi yakin ada hubungannya dengan dua pemuda desa tadi siang yang sempat berkenalan dengan aku ! “ Ada apa?” tanyaku. Chanelle hanya mengangguk sedikit. Dia menarik napas pelan – pelan dan dengan gemetar melanjutkan lagi perbincangan mereka lewat handphone.

“ Matius, aku berencana memberitahu Anda tadi malam tapi kemudian ...” Dia melemah dan aku mengerti. Aku mengangguk. “ Maafkan aku terpaksa mengambil keputusan ini untuk sementara waktu, sampai ada kesepakatan yang terbaik untuk diambil berdua !” katanya mengakhiri percakapan. Beberapa air mata menetes dan dia mengusap langsung dengan kedua tangannya yang putih pucat. Dia menghela napas. “ Ini bukan salahmu berkenalan dengan mereka. Karena kebetulan aku saat ini benar - benar kacau, aku mencoba untuk menariknya bersama – sama sebagai jalan terbaik yang kami bisa lakukan bersama, tapi ... ”  Air mata mulai mengalir dengan deras dan aku mendekat. Aku membuka tanganku dan memeluknya erat, berusaha untuk menghiburnya. Aku mengusap punggungnya dengan lembut. “ Maafkan aku karena baru mengetahui hubunganmu dengan Matius, aku hanya ingin mencari seorang teman dan kebetulan dia yang pertama lewat. Aku tidak tahu kalau hubungan kalian sedang rusak.” Aku memeluknya lebih dekat dan mengharap dia segera beristirahat dan berusaha untuk melupakan kejadian buruk yang menimpanya.

Pagi yang cerah. Berjalan – jalan di sepanjang rute Saint Blaise bukanlah hal yang biasa, Anda dapat melihat gereja yang sama dengan yang di Saint Germain Des Pres, melewati pemakaman tempat kakek tercinta tidur dalam damai, yang menunjukkan lokasi desa tua Charonne pernah berdiri dan cukup terkenal dengan budaya unik mereka. Pemakaman kecil bergaya pedesaan dengan latar belakang gereja adalah hal yang jarang ditemukan di Paris. Kembali ke rumah nenek. Aku melihat sebuah mobil mewah warna hitam, sangat elegan berhenti tepat di depanku. Satu juta pikiran berjalan dalam kepalaku. Aku perlu membuat penjelasan kepadanya bahwa ia bermain - main dengan orang yang salah ! Pintu terbuka dan aku harus menarik napas ketika kesempurnaan menakjubkan sebuah permata Aquamarine muncul dan keluar dari mobil di depan ku. Ketika dia menoleh ke belakang, aku melihat sinar merah muda di rambut pirangnya yang panjang. Aku melihat dia dengan anggun mengangkat payung hitam besar di atas kepalanya saat ia keluar. Dia mengenakan gaun putih selutut meskipun dalam cuaca dingin seperti ini, dengan sepatu hak tinggi warna hitam. Dia mengenakan sweater kasmir merah muda yang tampaknya cukup hangat membalut tubuhnya yang tinggi langsing. Semua pikiran dihentikan, dari pikiran ku ketika mata biru cerah itu terkunci menatap langsung ke mataku. Dia sedikit tersenyum. “ Hai.” Suaranya manis, energik dan percaya diri, seperti sebuah alunan musik masuk ke telinga ku. Aku tersenyum. “ Hai,” kataku juga. Aku tidak tahu ada apa selanjutnya dalam ruang tamu rumah kami. Dia adalah tamu sepupuku Chanelle. Hampir menjelang malam, tamu itu pamit. Chanelle hanya mengantar sampai pintu rumah, belum mobil itu keluar dari halaman depan rumah kami, Chanelle sudah buru – buru masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan kasar ! Aku sudah dapat menebak, mereka sudah resmi bubar ….. tetapi aku tahu persis sepupuku yang satu ini. Kupikir masih ada hari esok yang indah dia akan lalui bersama – sama Mark. Dan aku berharap, liburan musim dingin yang akan datang, sudah melihat dia dan Mark dalam gaun indah serba putih di pesta pernikahan mereka nanti.

Kembali ke kota.

 Aku mendapat kejutan yang tidak mengenakkan. Café milik Mr. Oaks terbakar seminggu yang lalu akibat kerusakan jaringan listrik. Beberapa media surat kabar dan televisi setempat memberitakan kabar ini karena tidak hanya café saja, api menjalar kebagian gedung – gedung beberapa fakultas yang berdekatan dengan areal café. Tidak ada yang tersisa, semua ludes termasuk apartemen tempat Mr. Oaks sekeluarga tinggal yang letaknya tidak jauh dari café yaitu di belakang bangunan café berjarak kurang lebih 500 m. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah aku harus segera menjumpai beliau, menanyakan kabar beliau. Kukayuh sepeda dengan kecepatan tinggi, aku tahu salah satu keluarga beliau yang tinggal di dekat pertokoan mewah tidak jauh dari kampus Universitas Paris. Nyonya Lydia, salah satu adik beliau mengatakan bahwa setelah bencana itu melanda keluarga Oaks, mereka memutuskan untuk pindah ke luar negeri, memulai bisnis baru. Nyonya Lydia memberikan secarik kertas tertulis alamat baru mereka yang lengkap beserta nomer – nomer telepon yang bisa dihubungi. Dari teman – teman yang lain aku mendapat informasi bahwa setelah bencana itu, Ethan juga telah memutuskan untuk pindah kuliah. Dia mengambil salah satu program bea siswa untuk pertukaran pelajar yang berprestasi tetapi memiliki masalah keuangan pribadi yaitu untuk pelajar yang kurang mampu.

Pulau Dewata !

Hampir dua tahun berlalu sejak kejadian mengerikan tersebut. Aku masih berhubungan dengan keluarga Ethan yang saat ini tinggal di Indonesia tepatnya di salah satu pulau kecil, pulau Dewata. Aku membawa setumpuk brosur pariwisata tentang keindahan dan keajaiban yang dimiliki oleh pulau tersebut. Musim dingin sebentar lagi tiba, dan tentu saja aku akan menyusun rencana baru untuk berlibur kesana, menjumpai Ethan dan kita bisa bersama – sama lagi untuk menikmati liburan yang mengasyikkan, jalan – jalan di pantai Kuta dengan pasir putihnya atau naik – naik ke puncak gunung Agung Karangasem, menikmati dan menghirup udara segar pedesaan. Tentu mereka akan dengan senang hati menunggu kedatanganku.

Hmmmmmmmmmmmmm …… dan aku terlelap tidur dalam buaian mimpi indah, membayangkan bersama seseorang yang jauh di sana, menjadi teman sekaligus mungkin akan menjadi bagian hidupku di masa depan.

 

 

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK