SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > A Sacrifice

A Sacrifice

Share:
Author : nanda18
Published : 07 Apr 2015, Updated : 23 Apr 2015
Cast : #Jungkook bts #Suga#Irene redvelvet
Tags :
Status : Ongoing
2 Subscribes |5222 Views |1 Loves
A Sacrifice
CHAPTER 2 : At First Time We Met

Sampai pada tempat yang tepat. Pada tempat yang membahagiakan. Awal baru bagi seorang Irene, jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta yang mematikan. Dia telah sampai di asrama tempat dia akan tinggal bersama dengan berbagai remaja dari berbagai negara tapi Irene sangat beruntung kali ini dia sekamar dengan anak Indonesia asal Surabaya,Namanya Jessica. Dia pengemar berat Super Junior. Gadis berambut lurus kecoklatan itu membuka kopernya dan terlihat koleksi Super Junior kesayanganya.

            “Kau Lihat ini ? Aku bersiap untuk melihat konser Super Junior. Hmm” dia memakai topi beserta pakaian yang dia bawa serta peralatan yang dia akan bawa saat melihat konser.

            “Letakkan itu, Kau tidak akan meninggalkan kelas hanya untuk melihan Super Juniorkan ?” ucap Irene. Dia membongkar kopernya. Ucapan Irene sukses menekuk wajah Jessica. “Aku ingin melihatnya,secara langsung dinegaranya.”  Jessica membaringkan tubuhnya diranjang. “Nanti pasti ada konser mereka saat kita liburan,oke?”

            Jessica bangun dari tempat tidurnya. “Kalau begitu kau harus bersama denganku saat melihat konser ya?” nadanya bersemangat menapakkan wajah bahagia. “Ah,Baiklah.”

 

***

            Hari petama masuk kedalam Universitas Seoul, Sungguh sangat menyenangkan. Irene mengambil makananya dari kantin Universitas lalu menaruhnya diatas meja dengan Jessica yang menyusul di belakangnya.

            “Kita coba lihat apakah yang ada di film-film ada di kisah nyata keseharian mereka.” Mata Jessica menyapu seluruh ruangan. Irene tidak peduli dengan apa yang Jessica katakan. Dia hanya peduli pada makananya.

“Wah, tampan sekali. Apa dia memiliki sikap seperti Gu Joon Pyo?” Jessica memandangi seorang pria yang sedang berjalan bersama dengan 3 orang temannya. “Wah,orang itu mungkin akan membuat film.”Lanjutnya berbicara ketika melihat beberapa orang membawa sebuah peralakan pengambilan gambar.

“Ayo,kita kesana nanti.” Pinta Jessica. Irene hanya diam tak peduli. “Ah, ayolah kau ini,kenapa pergi ke negara ini kalau tidak ingin tau perfilman mereka.” Jessica merengek.

            “Makanlah makanamu, nanti kita akan kesana tidak ada kelas setelah ini.”

            “Chinca-yo ?”

            “Jangan mentapku dengan wajah seperti itu.”

            Seusai makan siang Irene dan Jessica mengikuti orang-orang yang sedang sibuk mengambil gambar. Mereka berdua merunduk,dan seringkali mengendap-endap melihat pengambilan gambar. Satu kata yang harus diucapkan saat melihat pengambilan gambar ini yaitu, Amazing! Mata Jessica tidak lepas dari pemandangan pengambilan film yang ada di depan matanya. Dia melihat sekalilingnya dengan cermat sementara Irene hanya berdiri tidak menatap apapun hanya menyilakan kedua lengannya diatas dada. Jessica menarik tangan Irene,mereka menyelinap lebih dalam lagi,tapi Irene tidak mempedulikan apa yang dibicarakan oleh Jessica tentang kekagumannya dan ocehan lain yang keluar dari mulutnya. Mata Irene brhenti pada satu titik ketika melihat seorang pria yang datang mendekati mereka.

            “O-Ow, sepertinya kita harus pergi.” Irene mengoyahkan tangan Jessica tapi tidak begitu peduli dia hanya diam masih terpaku dengan pembuatan film yang sedang dibuat. “Jessica,ayo!” Irene berbisik tapi Jessica tetap kokoh membelakanginya.

            “Siapa disana ? tidak ada yang boleh melihat saat syuting ini.” Teriak namja yang semakin mendekati mereka. Sotak Jessica terkejut dan menoleh kearah Irene.

            “Apa yang kau katakan tadi?” tanyanya dengan wajah dungu.

            “Ah,Lupakan sudah terlambat dan sepertinya kita membuat kesalahan datang kemari pria itu sudah datang dengan wajah yang menyeramkan.” Jawab Irene sambil melihat seorang pria yang berdiri tepan 10 langkah di hadapannya.

            “Lalu, apa yang harus kita lakukan.” Jessica berbisik menutupi tubuhnya dibalik tubuh Irene yang lebih pendek darinya. Pria itu sudah berdiri tepat dihadapannya.

            “Kau siapa?” tanya pria itu. Wajah orientalnya perlahan terlihat ditabrak oleh cahaya matahari yang masuk perlahan melalui sela jendela.

            “Maafkan saya tuan, Kami hanya ingin melihat pengambilan gambar disekitar sini.” Gadis Indonesia itu berbicara dengan lancar dalam bahasa Koreanya. “Pergi dari sini!” pinta pria itu dengan dingin. Irene hanya membungkuk dan pergi bersama Jessica. Wajah pria itu sangat mengintimidasi dan Irene sangat tau kalau dia sangat tersinggung dengan kedatangannya. Mereka berjalan keluar, tapi tanpa sengaja Irene menabrak seorang Pria berkacamata dan membuat Laptopnya terjatuh. “PRAAAKK”  Mata Irene membulat melihat Laptop itu terbelah menjadi dua.

            “Maafkan aku, kau tidak apa-apa?” Irene merunduk menolong Pria yang ada di hadapannya. Jessica hanya terdiam dan terpaku. Pria itu memakai kacamtanya yang terjatuh dilantai lalu memfokuskan padangannya pada sebuah bongkahan sampah Laptop yang terbela. “O-o-ttoke?” pria itu merangkak menujuh laptopnya seakan masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat lalu memandangi Irene yang masih berada di hadapannya.

***

            Karena tabrakan itu, Mereka sedang berdiri menghadapan seorang Dosen. Pria yang baru saja dia tabrak adalah pria yang menulis dan megedit semua Film garapan seorang pria yang mengusir Irene dan Jessica tadi.

            “Jadi,kalian minta perpanjangan waktu untuk membuat film?”

            “Maaf pak, ada sedikit kecelakaan.” Ujar salah seorang pria bermata sipit di hadapan salah satu guru besar di Universitas itu.

            “Min Yoongi-sshi, sudah berapa kali kukatakan kepadamu agar tidak melakukan kesalahan,proyek ini adalah proyek akhir yang harus kau selesaikan secepat mungkin dan sebaik mungkin atau clubmu akan segera dibubarkan.”

Pria bermarga Min itu hanya tertunduk diam. Sementara pria yang dipanggilnya guru itu hanya menatap Min Yoongi dengan tatapan mengintimidasi. Irene melihat wajah Pria yang bernama Min Yoongi dan memandangnya dengan pilu.

            “Karena ini kesalahan saya,bisakan cabut jadwal short program saya di Universitas ini, saya bersedia membantu Min Yoon Gi untuk membuat filmnya.” Kata-kata itu keluar dari mulut Irene secara sepontan.

Jessica melonggo melihat ucapan sang sahabat dan menggaruk tengkuk lehernya. Dalam hati dia hanya berkata apa yang sedang dia lakukan? Dosen itu hanya diam dan memandang Irene Intens dari atas hingga bawah. “Baiklah, akan aku cabut programmu dan aku perpanjang pengumpulan Film itu aku undur sampai 2 bulan lagi.”

            Jessica mendongak sempurna melihat pria bermarga Lee berbicara,lalu memandang wajah Irene yang terlihat sama sekali tidak ada wajah penyesalan. Min Yoongi hanya menatap dengan tatapan kosong menyembunyikan ketidak percayaannya.

            “Mulai hari ini kau tidak bisa ikut short program kami ataupun tinggal di asramanya. Uang akan aku kembalikan padamu kau bisa pergi dari Universitas Ini dengan segara.” Dosen Lee segerah melemparkan pandanganya pada Min Yoongi dan temannya yang lain Taehyun. “Kau juga tidak akan ada film kalau dia tidak datang kehadiran anak ini, siapa namamu ? “ tanyanya kepada Irene. “Irene.”

            Mereka keluar ruangan bersama, Jessica menyeret Irene. “Kau? Apa kau gila ini hari pertama kita kenapa kau melepaskannya? Kau tidak mau melihat konser Super Junior bersamaku ? waktumu pasti akan tersita dengan pria-pria pembuat film itu.”

            “Sudahlah.” Belum selesai Irene berbicara. Min Yoongi datang memotong pembicaraan. “Terima kasih telah membantu kami dan merelakan semua yang kau miliki tapi kami rasa kami tidak membutuhkan bantuanmu.” Min Yoongi meninggalkan Irene dan Jessica yang sedang terperanga mendengar ucapan Min Yoongi sementara Taehyun hanya memandangi kedua gadis berkebangsaan lain itu.

“Aku penulis skenario, aku pernah membuat film dan menjadi salah satu pemenang short drama di Singapura,Indonesia dan Thailand. Kau akan membutuhkanku meskipun tidak banyak.” Teriak Irene tapi teriakan itu tidak menghentikan langkah Min Yoongi hanya TaeHyun yang agak tercengang namun enggan menoleh kearah Irene dan hanya terus mengikuti langkah  Min Yoongi.

***

            Malam hari, Irene telah siap mengemasi barangnya yang baru saja kemarin dia bongkar. Jessica tak henti-hentinya menangis bahkan dia sudah menghabiskan 2 kotak tisu yang berserakan mengelilinginya. Dia merasa menyesal karena dia yang mengajak Irene untuk pergi melihat pembuatan film itu. Jessica juga tidak tau kalau tuan Lee akan langsung memutuskan untuk mencabut program yang diikuti oleh irene dngan cepat dan tadi sore surat pernyataan pengeluaran sudah berada diatas meja makan Irene. Pemandi sekaligus senior mereka Choi Young Min langsung menyuruhnya berkemas pada malam ini juga.

            “Aku kesal sekali Pria bermarga Lee itu sungguh keterlaluan, padahal kau sudah menyerahkan semuanya untuk Min Yoongi itu tapi bisa-bisanya secepat ini kau ditendang, paling tidak tunggulah 3 hari atau seminggu lagi.”  Jessica menyingkirkan kotoran hidungnya dengan tisu. “Kau pikir ini lelucon?” tanggap Irene.

            “Setidaknya dosen itu punya rasa belas kasih, lalu kau besok mau tidur dimana? Kau tidak tau tempat ini ? kau tidak tau wilayah ini aku juga.” Jessica melanjutkan tangisnya.

            “Aku juga tidak tau, tidak tau kalau akan terjadi hal seperti ini.” Irene membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang ada dikakinya. Mencoba memejamkan mata meskipun Jessica masih saja menangis. Dia hanya berharap mata Jessica tidak bengkak besok pagi.

Sampai pada tempat yang tepat. Pada tempat yang membahagiakan. Awal baru bagi seorang Irene, jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta yang mematikan. Dia telah sampai di asrama tempat dia akan tinggal bersama dengan berbagai remaja dari berbagai negara tapi Irene sangat beruntung kali ini dia sekamar dengan anak Indonesia asal Surabaya,Namanya Jessica. Dia pengemar berat Super Junior. Gadis berambut lurus kecoklatan itu membuka kopernya dan terlihat koleksi Super Junior kesayanganya.

            “Kau Lihat ini ? Aku bersiap untuk melihat konser Super Junior. Hmm” dia memakai topi beserta pakaian yang dia bawa serta peralatan yang dia akan bawa saat melihat konser.

            “Letakkan itu, Kau tidak akan meninggalkan kelas hanya untuk melihan Super Juniorkan ?” ucap Irene. Dia membongkar kopernya. Ucapan Irene sukses menekuk wajah Jessica. “Aku ingin melihatnya,secara langsung dinegaranya.”  Jessica membaringkan tubuhnya diranjang. “Nanti pasti ada konser mereka saat kita liburan,oke?”

            Jessica bangun dari tempat tidurnya. “Kalau begitu kau harus bersama denganku saat melihat konser ya?” nadanya bersemangat menapakkan wajah bahagia. “Ah,Baiklah.”

 

***

            Hari petama masuk kedalam Universitas Seoul, Sungguh sangat menyenangkan. Irene mengambil makananya dari kantin Universitas lalu menaruhnya diatas meja dengan Jessica yang menyusul di belakangnya.

            “Kita coba lihat apakah yang ada di film-film ada di kisah nyata keseharian mereka.” Mata Jessica menyapu seluruh ruangan. Irene tidak peduli dengan apa yang Jessica katakan. Dia hanya peduli pada makananya.

“Wah, tampan sekali. Apa dia memiliki sikap seperti Gu Joon Pyo?” Jessica memandangi seorang pria yang sedang berjalan bersama dengan 3 orang temannya. “Wah,orang itu mungkin akan membuat film.”Lanjutnya berbicara ketika melihat beberapa orang membawa sebuah peralakan pengambilan gambar.

“Ayo,kita kesana nanti.” Pinta Jessica. Irene hanya diam tak peduli. “Ah, ayolah kau ini,kenapa pergi ke negara ini kalau tidak ingin tau perfilman mereka.” Jessica merengek.

            “Makanlah makanamu, nanti kita akan kesana tidak ada kelas setelah ini.”

            “Chinca-yo ?”

            “Jangan mentapku dengan wajah seperti itu.”

            Seusai makan siang Irene dan Jessica mengikuti orang-orang yang sedang sibuk mengambil gambar. Mereka berdua merunduk,dan seringkali mengendap-endap melihat pengambilan gambar. Satu kata yang harus diucapkan saat melihat pengambilan gambar ini yaitu, Amazing! Mata Jessica tidak lepas dari pemandangan pengambilan film yang ada di depan matanya. Dia melihat sekalilingnya dengan cermat sementara Irene hanya berdiri tidak menatap apapun hanya menyilakan kedua lengannya diatas dada. Jessica menarik tangan Irene,mereka menyelinap lebih dalam lagi,tapi Irene tidak mempedulikan apa yang dibicarakan oleh Jessica tentang kekagumannya dan ocehan lain yang keluar dari mulutnya. Mata Irene brhenti pada satu titik ketika melihat seorang pria yang datang mendekati mereka.

            “O-Ow, sepertinya kita harus pergi.” Irene mengoyahkan tangan Jessica tapi tidak begitu peduli dia hanya diam masih terpaku dengan pembuatan film yang sedang dibuat. “Jessica,ayo!” Irene berbisik tapi Jessica tetap kokoh membelakanginya.

            “Siapa disana ? tidak ada yang boleh melihat saat syuting ini.” Teriak namja yang semakin mendekati mereka. Sotak Jessica terkejut dan menoleh kearah Irene.

            “Apa yang kau katakan tadi?” tanyanya dengan wajah dungu.

            “Ah,Lupakan sudah terlambat dan sepertinya kita membuat kesalahan datang kemari pria itu sudah datang dengan wajah yang menyeramkan.” Jawab Irene sambil melihat seorang pria yang berdiri tepan 10 langkah di hadapannya.

            “Lalu, apa yang harus kita lakukan.” Jessica berbisik menutupi tubuhnya dibalik tubuh Irene yang lebih pendek darinya. Pria itu sudah berdiri tepat dihadapannya.

            “Kau siapa?” tanya pria itu. Wajah orientalnya perlahan terlihat ditabrak oleh cahaya matahari yang masuk perlahan melalui sela jendela.

            “Maafkan saya tuan, Kami hanya ingin melihat pengambilan gambar disekitar sini.” Gadis Indonesia itu berbicara dengan lancar dalam bahasa Koreanya. “Pergi dari sini!” pinta pria itu dengan dingin. Irene hanya membungkuk dan pergi bersama Jessica. Wajah pria itu sangat mengintimidasi dan Irene sangat tau kalau dia sangat tersinggung dengan kedatangannya. Mereka berjalan keluar, tapi tanpa sengaja Irene menabrak seorang Pria berkacamata dan membuat Laptopnya terjatuh. “PRAAAKK”  Mata Irene membulat melihat Laptop itu terbelah menjadi dua.

            “Maafkan aku, kau tidak apa-apa?” Irene merunduk menolong Pria yang ada di hadapannya. Jessica hanya terdiam dan terpaku. Pria itu memakai kacamtanya yang terjatuh dilantai lalu memfokuskan padangannya pada sebuah bongkahan sampah Laptop yang terbela. “O-o-ttoke?” pria itu merangkak menujuh laptopnya seakan masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat lalu memandangi Irene yang masih berada di hadapannya.

***

            Karena tabrakan itu, Mereka sedang berdiri menghadapan seorang Dosen. Pria yang baru saja dia tabrak adalah pria yang menulis dan megedit semua Film garapan seorang pria yang mengusir Irene dan Jessica tadi.

            “Jadi,kalian minta perpanjangan waktu untuk membuat film?”

            “Maaf pak, ada sedikit kecelakaan.” Ujar salah seorang pria bermata sipit di hadapan salah satu guru besar di Universitas itu.

            “Min Yoongi-sshi, sudah berapa kali kukatakan kepadamu agar tidak melakukan kesalahan,proyek ini adalah proyek akhir yang harus kau selesaikan secepat mungkin dan sebaik mungkin atau clubmu akan segera dibubarkan.”

Pria bermarga Min itu hanya tertunduk diam. Sementara pria yang dipanggilnya guru itu hanya menatap Min Yoongi dengan tatapan mengintimidasi. Irene melihat wajah Pria yang bernama Min Yoongi dan memandangnya dengan pilu.

            “Karena ini kesalahan saya,bisakan cabut jadwal short program saya di Universitas ini, saya bersedia membantu Min Yoon Gi untuk membuat filmnya.” Kata-kata itu keluar dari mulut Irene secara sepontan.

Jessica melonggo melihat ucapan sang sahabat dan menggaruk tengkuk lehernya. Dalam hati dia hanya berkata apa yang sedang dia lakukan? Dosen itu hanya diam dan memandang Irene Intens dari atas hingga bawah. “Baiklah, akan aku cabut programmu dan aku perpanjang pengumpulan Film itu aku undur sampai 2 bulan lagi.”

            Jessica mendongak sempurna melihat pria bermarga Lee berbicara,lalu memandang wajah Irene yang terlihat sama sekali tidak ada wajah penyesalan. Min Yoongi hanya menatap dengan tatapan kosong menyembunyikan ketidak percayaannya.

            “Mulai hari ini kau tidak bisa ikut short program kami ataupun tinggal di asramanya. Uang akan aku kembalikan padamu kau bisa pergi dari Universitas Ini dengan segara.” Dosen Lee segerah melemparkan pandanganya pada Min Yoongi dan temannya yang lain Taehyun. “Kau juga tidak akan ada film kalau dia tidak datang kehadiran anak ini, siapa namamu ? “ tanyanya kepada Irene. “Irene.”

            Mereka keluar ruangan bersama, Jessica menyeret Irene. “Kau? Apa kau gila ini hari pertama kita kenapa kau melepaskannya? Kau tidak mau melihat konser Super Junior bersamaku ? waktumu pasti akan tersita dengan pria-pria pembuat film itu.”

            “Sudahlah.” Belum selesai Irene berbicara. Min Yoongi datang memotong pembicaraan. “Terima kasih telah membantu kami dan merelakan semua yang kau miliki tapi kami rasa kami tidak membutuhkan bantuanmu.” Min Yoongi meninggalkan Irene dan Jessica yang sedang terperanga mendengar ucapan Min Yoongi sementara Taehyun hanya memandangi kedua gadis berkebangsaan lain itu.

“Aku penulis skenario, aku pernah membuat film dan menjadi salah satu pemenang short drama di Singapura,Indonesia dan Thailand. Kau akan membutuhkanku meskipun tidak banyak.” Teriak Irene tapi teriakan itu tidak menghentikan langkah Min Yoongi hanya TaeHyun yang agak tercengang namun enggan menoleh kearah Irene dan hanya terus mengikuti langkah  Min Yoongi.

***

            Malam hari, Irene telah siap mengemasi barangnya yang baru saja kemarin dia bongkar. Jessica tak henti-hentinya menangis bahkan dia sudah menghabiskan 2 kotak tisu yang berserakan mengelilinginya. Dia merasa menyesal karena dia yang mengajak Irene untuk pergi melihat pembuatan film itu. Jessica juga tidak tau kalau tuan Lee akan langsung memutuskan untuk mencabut program yang diikuti oleh irene dngan cepat dan tadi sore surat pernyataan pengeluaran sudah berada diatas meja makan Irene. Pemandi sekaligus senior mereka Choi Young Min langsung menyuruhnya berkemas pada malam ini juga.

            “Aku kesal sekali Pria bermarga Lee itu sungguh keterlaluan, padahal kau sudah menyerahkan semuanya untuk Min Yoongi itu tapi bisa-bisanya secepat ini kau ditendang, paling tidak tunggulah 3 hari atau seminggu lagi.”  Jessica menyingkirkan kotoran hidungnya dengan tisu. “Kau pikir ini lelucon?” tanggap Irene.

            “Setidaknya dosen itu punya rasa belas kasih, lalu kau besok mau tidur dimana? Kau tidak tau tempat ini ? kau tidak tau wilayah ini aku juga.” Jessica melanjutkan tangisnya.

            “Aku juga tidak tau, tidak tau kalau akan terjadi hal seperti ini.” Irene membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang ada dikakinya. Mencoba memejamkan mata meskipun Jessica masih saja menangis. Dia hanya berharap mata Jessica tidak bengkak besok pagi.

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK