home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Beside You

Beside You

Share:
Author : Nuevelavhasta
Published : 21 Dec 2014, Updated : 16 Feb 2015
Cast : Kris, Marilyne Wu (OC- Kris' daughter), Xi Luhan, Huang Zitao, Zhang Yixing
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |1074 Views |2 Loves
Beside You
CHAPTER 1 : Beside You

Beside You

Author             : Nuevelavhasta

Length             : Oneshot

Genre              : Family

Rate                 : T

Main Casts      : Wu  Yifan, Marilyne Wu

Cameos           : Xi Luhan, Huang Zitao, Zhang Yixing

Disclaimer       : Fanfic ini author dedikasikan buat my beloved daddy, Mr. Wu. Asli buatan author tanpa plagiat. Plagiarism in any form will get a karma, kkk

A/N                 : Fanfic ini udah pernah author publish di salah satu fanpage (link: https://www.facebook.com/FanfictionKoreaJohEun/photos/a.662288100547509.1073741846.399754310134224/662293607213625/?type=3&theater) dengan pen-name Kuuru-K, tapi karena author masih labil jadi author ganti pen-name yang sekarang ini. So, I didn’t do any plagiarism.

 

Fanfic yang release di hari ulang tahun author’s beloved daddy, Wu Yifan. Semoga kalian jatuh cinta sama couple bapak-anak ini.lol.

 

           

Happy Reading!

 

Guangzhou, China, 6th November 2014. D-Day. 08.01 AM

            Alarm di nakas di samping tempat tidur Yifan berdering. Tangan panjang pria jangkung itu dengan malas meraih alarm itu dan meraba-rabanya untuk menemukan tombol off, sehingga ia bisa dengan cepat membungkam raungan alarm yang memekakkan telinga itu. Setelahnya tentu ia tidak segera bangun. Yifan lebih memilih untuk memejamkan matanya lagi dan membuat dirinya seperti kepompong dalam selimut tebalnya. Toh ia sedang liburan ysekaligus kembali ke kampung halamannnya. Tidak ada alasan baginya untuk menjadi rajin seperti saat ia di Kanada atau Amerika.

            Semenit kemudian Yifan membuka matanya lagi. Otaknya berusaha mengingat tanggal berapa sekarang. Sepertinya libur panjang sudah membuatnya lupa akan hari. Ah, Yifan ingat. Sekarang tanggal enam November. Hari ulang tahunnya. Yifan kembali meraih ponselnya dan mengecek ponselnya. Ada ucapan selamat ulang tahun dari ibunya dan Luhan. Tapi tidak ada pesan ulang tahun apapun dari putrinya, Marilyne.

            Yifan mengerang kecewa mengetahui hal ini. Ia kembali menggulung dirinya dengan selimut dengan perasaan kesal. Baginya ini sungguh keterlaluan. Putrinya sendiri tidak bisa ke Cina hari ini dan putrinya bahkan tidak mengingat hari ulang tahunnya? Tidak ada ucapan khusus untuk Yifan dari putrinya sebagai ganti dari absennya putrinya? Yifan rasa dia ingin menjewer putrinya jika mereka bertemu. Sesaat kemudian Yifan mengerang kecewa, lagi. Putrinya masih berada di California untuk kuliah. Dan Marilyne baru akan mendapatkan jatah libur bulan depan.

            “Kurasa ini akan jadi ulang tahun yang menyebalkan,” gumam Yifan.

***

California, Los Angeles, USA. 16th October 2014. D-21. 11.23 AM

            Ruang kuliah jurusan Psikologi pagi ini kelihatan penuh dan cukup ramai. Dosen Cliff tengah berbicara di depan tentang ‘alter-ego’ dan semua mahasiswa sibuk mencatat. Sesekali ada yang mengacungkan tangan untuk bertanya dan Mr. Cliff dengan senang hati menjawabnya.

            Jam Mr. Cliff memang tidak pernah sepi dari kehadiran mahasiswa. Pria baruh baya yang begitu supel dan asyik itu menjadi salah satu dosen favorit mahasiswa Psikologi di UCLA. Bahkan bukan hanya jurusan Psikologi saja, melainkan lintas jurusan.

            “Okay, so I’ll give you guys assignment,” kata Mr. Cliff seraya tersenyum. Tapi gumaman kecewa para mahasiswa tidak bisa disembunyikan. “No, no, it won’t burdened you. The assignment is make a paper about alter ego. 150 pages, minimal. Assemble it on next month, okay?” lanjut Mr. Cliff.

            Keluhan yang berdengung di antara mahasiswa baru itu semakin ramai.

            “Call it as your warming-up guys. See you!” Mr. Cliff tersenyum pada para mahasiswa sebelum pergi.

            “What a sweet warming-up,” gumam Marilyne sambil membereskan buku-bukunya yang berserakan di meja.

            “You call it as a ‘sweet warming-up’? It’s a torturing warming-up!” seru Jack yang duduk di samping Marilyne tertahan.

            “Jack’s right.” Adam tiba-tiba datang merangkul Jack.

            “Cut it off, guys. Let’s get outta this class!” Phoebe menepuk pundak teman-temannya.

            Keempatnya lalu pergi menuju ke taman kampus yang cukup ramai. Terlihat beberapa kelompok mahasiswa tengah bercengkrama di berbagai titik taman kampus. Keempatnya memilih untuk duduk-duduk di bawah pohon maple yang daun-daunnya mulai menguning karena musim gugur sudah datang. Angin dingin khas musim gugur mulai terasa.

            “Hey, bagaimana dengan keluar pada Jumat malam besok?” usul Adam. “Klub basket libur, kan? Kudengar pelatih Wu pulang ke Cina,” tanya Adam pada Marilyne.

            “Bahkan meski pelatih Wu pergi ke galaksi lain sekalipun, tidak akan ada libur untuk tim basket. He’s so mean! Dan aku pasti akan jadi korban pertamanya jika aku berani melanggar aturannya. I wish that I could kick him right now,” rutukan Marilyne mengundang tawa yang lain.

            “How dare you say such a thing like that about your father,” Jack tergelak. Sementara Marilyne hanya membalas dengan pandangan ‘why-not?’.

            “Tentu kau dan tim basket harus berlatih keras. Akan ada turnamen persahabatan sebentar lagi. Jadi yaaaaahhh, kurasa aku akan pergi bersama Phoebe, Jack, Lizzy, and Hye Sung,” goda Adam.

            “Adam! How dare you do that to me?! Geuraeseo, uri jinjja kkeutnaseo! Kkeut! Kkeut! Neowa na, kkeut!” Marilyne setengah memekik.

            Jack dan Phoebe tertawa melihat tingkah Marilyne. Marilyne begitu lucu ketika ia marah atau kesal sambil mengucapkan kata-kata dalam bahasa Korea. Dan Adam tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin tertawa, tapi ia juga bingung apa yang dibicarakan Marilyne tadi.

***

            Marilyne baru saja tiba di apartemennya pada malam hari setelah mengikuti latihan basket. Biasanya sepulang latihan, ayahnya akan ikut ke apartemennya dan menginap di apartemen Marilyne. Tapi kali ini ayahnya sedang berada di Guangzhou, jadi Marilyne pulang seorang diri.

            Air hangat cukup menyegarkan tubuh Marilyne kembali. Marilyne lalu membuka laptopnya untuk mulai menyicil tugas yang diberikan oleh Mr. Cliff di kampus tadi. Baru saja Marilyne memulai dan selesai menulis dua paragraph, teleponnya berdering. Telepon dari ayahnya, Wu Yifan.

            “Hey, dad,” angkat Marilyne sambil masih berpaku pada layar laptop.

            “Hey, dear. Bagaimana kabarmu di sana?” suara husky Yifan terdengar. Di seberang, Yifan mulai bisa mendengar suara ketikan keyboard.

            “Baik-baik saja, tapi kurasa tugas-tugas yang mulai berdatangan akan membuatku tidak baik. Bagaimana denganmu, dad?”

            “Tidak ada yang sebaik pulang ke kampung halaman,” Yifan tertawa kecil.

            “Yah, terima kasih untuk telah tidak mengajakku ke Guangzhou untuk bertemu nenek dan malah meninggalkanku sendirian di sini dengan segala kesibukan di klub basket yang juga menyedot semua energiku. Terima kasih banyak, dad,” balas Marilyne sewot.

            Terdengar suara tawa Yifan di seberang sana. “Ngomong-ngomong, apa kau bisa ke Guangzhou besok tanggal enam November, dear?

            Marilyne berhenti mengetik sejenak. “Kenapa? Apa ada sesuatu penting yang terjadi?” alis Marilyne bertaut berusaha mengingat sesuatu itu.

            “Kau melupakannya?” nada kekagetan tidak bisa disembunyikan dari suara Yifan.

            Marilyne sejenak berpikir. “Tidak, aku mengingatnya!” sergah Marilyne.

            “Oh ya? Apa itu?” bibir Yifan tersenyum lebar menanti jawaban dari putri semata wayangnya.

            “Super Junior’s anniversary!” jawab Marilyne setengah berseru dengan mantapnya.

            Senyum yang tadi menghiasi bibir Yifan kini pudar dan digantikan oleh wajah datar khas miliknya. “Ya! Marilyne Wu! Dasar kau anak durhaka! Bisa-bisanya kau mengingat ulang tahun idol grup favoritmu sementara kau melupakan ulang tahun ayahmu sendiri!” omel Yifan.

            Marilyne sedikit menjauhkan telepon dari telinganya ketika Yifan mengomel. Omelan ayahnya itu cukup memekakkan telinganya. Hanya ringisan yang keluar dari bibirnya. “Mianhae, abeoji,” kata Marilyne selembut mungkin ditambah sedikit nada aegyo untuk merayu ayahnya.

          Yifan terdengar menghela nafas. “Jadi bagaimana? Kau bisa ke Guangzhou tanggal enam November besok?”

            Marilyne membuka to-do list miliknya. “I’m afraid I can’t, dad. I’m so busy. Sorry,” balas Marilyne masih dengan aegyo di akhir kalimat.

            “Kau benar-benar tidak bisa datang untuk ayahmu ini?” suara berat Yifan terdengar begitu kecewa. Tidak ada yang ia harapkan selain kehadiran putrinya di sampingnya saat umurnya bertambah satu tahun.

            “Sorry, dad. Jinjja mianhaeyo.” Marilyne menggigit bibir bawahnya.

            “That’s okay, dear. Aku tahu kau begitu sibuk. Jaga kesehatanmu di sana. Wo ai ni, Mei Lin. Love you, Marilyne,

            “I love you too, dad.” Marilyne mengakhiri teleponnya.

***

Guangzhou, China. 6th November 2014. D-Day. 10.07 AM

            Hari masih pagi. Jam baru menunjukkan pukul sepuluh lebih sedikit. Kesibukan di kota Guangzhou mulai menggeliat. Suasana musim gugur benar-benar terasa. Entah ini hanya perasaan Yifan atau memang angin dingin musim dingin mulai menyusup di antara angin musim gugur.

            Tidak ada hal berarti yang dilakukan Yifan di rumahnya selain menonton televisi ditemani seduhan secangkir kopi untuk menghangatkan dirinya. Bel di rumah Yifan lalu berbunyi. Pria jangkung itu dengan malas berjalan ke pintu dan membukakan pintu untuk tamunya.

            “Happy birthday!”

            Yifan tersenyum melihat siapa yang datang, Luhan, sahabatnya itu datang dengan membawa ayam nanas untuknya. Kedua pria itu saling berangkulan sebelum masuk ke dalam.

            “Aku bawakan ayam nanas untukmu,” kata Luhan.

            “Eo, gumawo. Kurasa aku akan memakannya nanti ketika aku sudah benar-benar lapar. Kau mau sesuatu? Kopi…atau teh…atau yang lain?” Yifan beranjak dari tempat duduknya dan menuju dapur dengan model pantry di samping ruang tengah.

            “Moccacino, kalau kau tidak keberatan,” jawab Luhan.

            Yifan mengangguk mengerti. Dengan cekatan ia segera membuatkan sahabatnya itu satu cangkir moccacino. Suara tawa dari salah satu reality show di tv menjadi background music kedua pria itu. Luhan tertawa kecil. Rupanya ia juga menyimak reality show yang tengah tayang.

            “Moccacino.” Yifan duduk kembali di kursinya tadi sambil menyodorkan satu cangkir moccacino pada Luhan.

            “Thanks.” Tanpa basa-basi, Luhan segera menyeruput moccacino panas itu. Ia sedikit tersentak karena panas moccacino yang terasa begitu tiba-tiba membakar lidahnya. “Jadi ada apa denganmu? Hari ini adalah hari ulang tahunmu tapi kenapa kau terlihat begitu murung?” tanya Luhan.

            “Apa terlihat begitu jelas?” Yifan balas bertanya.

            Luhan mengangguk. “Sangat jelas,” jawab Luhan dan menyeruput moccacinonya lagi. “Jadi ada apa? Kau mau bercerita padaku?”

            Yifan ikut menyeruput kopinya sebelum mulai buka mulut. “Marilyne. Aku sedang kesal dengannya atau…entahlah.” Yifan mengangkat bahunya. “Aku belum menerima ucapan ulang tahun darinya sama sekali.” Yifan memamerkan ponselnya pada Luhan. pesannya dengan Marilyne berakhir kemarin sore dengan ucapan ‘I love you’ dari Marilyne kemarin siang.

            “Mungkin dia sibuk.” Luhan mencoba membuat Yifan untuk tetap berpikir positif.

            “Tapi pagi-pagi sekali dia sudah membuat hashtag #HappyAnniversarySJ #LongLastSJ di akun twitter-nya!” erang Yifan kesal. Luhan hanya mampu tertawa ketika ia membaca kicauan Marilyne yang ditunjukkan oleh Yifan. “Dia benar-benar anak durhaka. Dan mengesalkan. Aku tidak pernah menyangka jika mengurus seorang anak perempuan akan menjadi selelah ini,” Yifan terus mengomel sembari jemarinya bermain di layar ponselnya.

            “Mengurus anak memang melelahkan,” koreksi Luhan. “Tapi menyenangkan. Mungkin itu pekerjaan paling melelahkan yang juga paling menyenangkan di dunia,” lanjut Luhan.

            Yifan tidak bergeming. Tapi sedetik kemudian matanya membelalak lebar. Luhan yang mengetahui ini segera bertanya.

            “Ada apa?” selidik Luhan.

           “Marilyne Wu!! Kau tidak akan selamat nanti! Argh!” seru Yifan kesal sambil membanting ponselnya ke sofa.

            Luhan beringsut ke sofa dan meraih ponsel Yifan. Marilyne meng-upload sebuah foto saat ia dan teman-temannya berjalan-jalan. “No class? Let’s chill out at Adam’s mansion!” tulis Marilyne. Luhan tertawa kecil. Sementara Yifan terus-menerus mengomel seorang diri.

            “Bagaimana dia bisa bersenang-senang di sana dan melupakan ulang tahun ayahnya?” ratap Yifan.

            Tawa Luhan pecah. Tingkah Yifan yang begitu kekanakan dan manja membuatnya sedikit geli. Maksud Luhan, Yifan adalah seorang duda dengan satu putri remaja, tapi tingkahnya tidak jauh beda dari anak remaja yang sedang terkena cinta monyet. Bukan rahasia lagi jika Yifan dan Marilyne adalah pasangan ayah-anak yang kompak, bahkan keduanya lebih terlihat seperti sepasang kekasih daripada ayah-anak.

            “Hentikan keluhanmu itu. Kau menggelikan,” sahut Luhan dan dibalas tendangan kaki oleh Yifan.

 

Beijing, China. 5th November 2014. D-1. 11.14 PM

            Bel di rumah Luhan terus berbunyi. Pria yang tengah bersantai di rumah seorang diri itu melangkah menuju pintu dan membukakan pintu untuk tamunya. Batinnya bertanya-tanya siapa yang datang bertamu ke rumahnya selarut ini?

            “Halo, paman!” sapa tamu itu.

            “Marilyne?” mata Luhan membelalak lebar. Tidak bisa dipungkiri jika ia merasa cukup terkejut. Terlebih saat ia mengingat cerita Yifan di telepon beberapa hari lalu tentang betapa kecewanya pria itu karena Marilyne putrinya tidak bisa datang saat hari ulang tahun Yifan.

            “Jadi…apa aku boleh masuk atau hanya akan berdiam di depan rumahmu, paman?” pertanyaan Marilyne membuyarkan kekagetan Luhan.

            “O…oh, masuklah.” Luhan menyingkir memberi jalan lalu menutup pintu dan mengikuti Marilyne ke ruang tengah. “Kukira Yifan memberitahuku jika kau tidak bisa datang,” kata Luhan. “Oh ya, kau mau minum?” tawar Luhan.

            “Aku mau…coklat panas,” sahut Marilyne. Luhan bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan tamunya itu minuman.

            “Jadi bagaimana bisa kau ke Cina? Kupikir kau begitu sibuk dengan kuliahmu,” tanya Luhan dengan suara agak keras sembari membuat coklat panas di dapur.

            “Aku beruntung karena aku mendapat jatah libur karena tim basketku menang lagi. Walau liburnya hanya sampai Senin depan.” Marilyne membolak-balik majalah bulanan yang tergeletak di meja Luhan.

            Luhan datang sambil membawa coklat panas yang uapnya mengepul naik keatas. Aromanya pasti menggoda siapa saja yang meminumnya.

            “Xiexie, paman.” Marilyne menyesap coklat panasnya perlahan. “Mmm, ini enak sekali. Yeoksi!”

“Jadi apa kedatanganmu ke rumahku ini adalah kejutan untuk ayahmu?” tanya Luhan langsung to the point.

           Marilyne menjentikkan jarinya. “Yup! Huaaa, paman pintar sekali. Tapi jangan bilang ayah soal ini, ok? Ah ya, karena ulang tahun ayah adalah besok dan aku masih terkena jet lag, apa aku bisa menginap di sini malam ini, paman? Besok setelah energiku pulih aku akan segera pergi ke Guangzhou.”

            “Eo, tentu saja.” Luhan mengangguk. Bagaimana mungkin ia menolak permintaan dari anak sahabatnya yang sudah seperti keluarga sendiri? “Besok aku juga akan ke Guangzhou. Kau mau ikut pergi bersamaku?”

            “Tidak akan seru jika kita pergi bersama-sama. Aku juga tidak yakin bisa bangun pagi besoknya. Jet lag ini benar-benar menyiksaku,” erang Marilyne sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.

            “Geurae. Tidak apa-apa.” Luhan tersenyum mengerti.

            “Tapi ngomong-ngomong dimana bibi dan Junjie ge? Aku baru sadar kalau rumah paman sangat sepi.” Marilyne melongok-longokkan kepalanya mencari istri Luhan dan putra Luhan.

            “Bibi sedang pergi ke Shanghai dan Junjie ke Macau bersama teman-temannya,” jawab Luhan.

            “Padahal aku ingin bertemu Junjie ge.” Bibir Marilyne sedikit mengerucut. “Aku tidak punya salah apa-apa pada Junjie ge kan, paman? Dia selalu kelihatan tidak suka tiap kali melihatku,” kata Marilyne pada Luhan.

           Luhan terkekeh. “Tentu saja ia kelihatan tidak suka. Kau dan semua kejahilanmu itu,” Marilyne tertawa pelan. “Ja, kalau kau ingin segera tidur, kau bisa gunakan kamar di lantai dua. Di sebelah kamar Junjie,”

            “Eo, aku butuh tidur segera.” Angguk Marilyne.

 

Guangzhou, China. 6th November 2014. D-Day. 07.45 PM

            Hari sudah berganti malam. Matahari sudah terbenam di langit Guangzhou beberapa waktu lalu. Tapi mendung di wajah Yifan belum juga pergi. Seharian ini ibu dan sahabat-sahabatnya, juga rekan-rekan kerjanya sudah mengucapkan ucapan selamat ulang tahun padanya. Tapi belum dengan Marilyne, putrinya.

            Ponsel di samping Yifan bergetar. Marilyne menelepon. Tapi anehnya Yifan tidak menunjukkan raut senang sedikitpun.

            “Daddyyyyyyyy!” lengkingan Marilyne yang khas menyapa telinga Yifan.

            “Hmmm,” gumam Yifan sebagai balasan. Tangan kirinya memegang ponsel dan tangan kanannya mengganti channel tv.

            “Kau kenapa dad? Kau terdengar tidak begitu bersemangat,” kata Marilyne.

            Yifan menghela nafasnya berat. “Lupakan saja. Mood ayah sedang buruk hari ini. Ayah butuh moodbuster dan yang pasti moodbuster itu bukan kau,”

            “Apa aku membuat kesalahan, dad? Tega sekali kau!” rajuk Marilyne. Tentu ia tidak terima. Selama ini moodbuster ayahnya hanyalah dia. Hanya Marilyne. Tidak ada yang lain.

           Yifan mengusap wajahnya. “Marilyne Wu, aku berjanji akan menendangmu saat kita bertemu nanti. Aku janji. Aku janji,” gumam Yifan.

            Tidak ada sahutan dari Marilyne. Yifan berharap Marilyne merenung dan menyadari kesalahannya kali ini. Yifan juga tidak berinisiatif untuk memulai percakapan. Perang dingin seperti ini akan terjadi jika Marilyne membuat kesalahan. Yifan tidak akan mulai bicara sebelum Marilyne minta maaf dan memberi Yifan penjelasan. Di tengah ‘perang dingin’ di telepon itu, bel rumah Yifan berbunyi.

            “Who’s that, dad? A guest?” tanya Marilyne.

            Yifan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. “Entahlah. Ayah baru akan mengeceknya.”

            Dan begitu Yifan membuka pintu, Yifan terkejut bukan main. Di hadapannya kini berdiri putrinya, Marilyne, sambil membawa kue tart yang dihiasi lilin. Yifan sempat terbengong selama beberapa detik.

            “I know it’s kind of late, but happy birthday, dad!” senyum Marilyne mengembang. Suara Marilyne bisa Yifan dengar dari hadapannya dan dari telepon di tangannya.

            “Aish, dasar bocah satu ini!” Yifan merasa gemas. Pria itu tidak bisa menyembunyikan senyum dan kegembiraannya.

            Duo ayah-anak itu segera masuk ke dalam. Marilyne menaruh kue tart di meja ruang tengah. Setelah itu keduanya berpelukan erat.

            “You do like my surprise, don’t you, dad?” kekeh Marilyne. “Happy birthday, my lovely dad!” Marilyne menjewer kedua telinga ayahnya.

            Yifan mengeratkan pelukannya. “I do. Aku sangat menyukainya hingga aku ingin menghajarmu. Congrats, Lyne! Kau sudah sukses membuat mood ayah hancur dan naik dengan begitu drastis hari ini.” Marilyne tertawa. Sedikit lega juga karena Yifan sudah melupakan tentang perkataannya yang ingin menendang Marilyne.

            “Time to blow the candles and make a wish, dad.” Marilyne mengingatkan.

            Yifan tersenyum dan tertawa kecil. “Well, aku ingin berterima kasih pada Tuhan untuk hari ini. Terima kasih juga telah memberiku putri yang…entahlah aku harus berkata apa.” Yifan mengerling pada Marilyne yang terkikik pelan. “Terima kasih pula karena aku dapat berkumpul dengan putriku―”

            “Semoga daddy berumur panjang dan sehat selalu!” potong Marilyne.

            Yifan tersenyum pada Marilyne. “Ya, itu juga.” Yifan lalu meniup lilinnya diikuti tepuk tangan meriah dari Marilyne seorang diri. Yifan lalu memotong kue di hadapannya  dan memberikannya pada Marilyne. “Special for you, dear,” kata Yifan.

            “Thank you, dad.” Marilyne mencium pipi Yifan. Aroma musk dari tubuh Yifan menguar dan masuk ke indra penciuman Marilyne. Keduanya lalu menikmati kue tart hand-made dari Marilyne sambil menonton tv. Tapi sepertinya keduanya lebih asyik dengan obrolan mereka daripada menonton tv.

            “Jadi kau berbohong pada ayah? Soal kau yang tidak bisa pulang dan soal foto yang kau upload di Twitter itu?” Yifan memandang tajam Marilyne.

            Marilyne menahan tawanya. “Tentu saja! Itu foto dua minggu lalu saat aku dan teman-teman bermain ke mansion milik Adam. Namanya juga kejutan. Tapi ayah menyukainya, bukan?” Marilyne memamerkan senyum konyolnya.

            Jemari Yifan menghapus lembut krim yang menempel di pipi Marilyne. “Yah, untuk kali ini kau ayah maafkan.”

            “Thanks, dad!”

            “Jadi kapan kau tiba di Cina?” tanya Yifan.

            “Aku tiba di Beijing kemarin malam sekitar jam sembelas malam. Lalu aku menginap di rumah paman Luhan. Aku tertidur begitu lama karena jet lag. Lalu Junjie ge juga bersedia membantuku menghias kue, kemudian aku berangkat ke Guangzhou dan disinilah aku sekarang. Bersama ayah.” Marilyne memeluk lengan kiri Yifan.

            “Jadi Luhan ikut berpartisipasi dalam ini semua?” tanya Yifan kaget. Marilyne mengangguk santai. “Aish, dasar! Pasti dia sangat senang melihatku bad mood tadi,” rutuk Yifan.

            Marilyne tertawa. “Aku dapat jatah libur sampai Senin depan. Aku tahu aku masih berada di sini sekitar sampai tiga hari ke depan, tapi bagaimana jika malam ini kita jalan-jalan, dad? Aku rindu dengan suasana Guangzhou di malam hari,” tawar Marilyne.

            “Kenapa tidak?” balas Yifan.

***

            Malam semakin merambat. Tapi itu tidak menyurutkan niat Marilyne dan Yifan untuk berjalan-jalan di Guangzhou, kota kelahiran Yifan. Keduanya menuju ke Shaiman Island terlebih dahulu. Hanya berjalan-jalan santai sambil mengambil beberapa selca dengan latar belakang langit malam Guangzhou dan gedung-gedung yang apik di sana. Berjalan berdua di tepian sungai dengan latar belakang gedung perkantoran Guangzhou membuat duo ayah-anak itu lebih leluasa untuk bercakap-cakap.

            “Aku sedikit cemburu dengan ayah tadi,” celetuk Marilyne. Alis Yifan bertaut. “Saat di taksi. Percuma aku bicara dengan bahasa Inggris jika dia sama sekali tidak bisa bahasa Inggris dan membaca huruf latin. Aku juga sudah susah payah menjelaskan dengan bahasa Cina tapi dia tetap tidak mengerti. Tapi begitu ayah yang bicara, dia langsung paham. Aku iri karena ayah bisa menguasai empat bahasa, sementara aku..hanya…dua?” Marilyne menyampaikan uneg-unegnya.

            Yifan tertawa. “Belum terlambat untuk mempelajari bahasa lain, dear.”

            “Tapi sungguh, aku merasa seperti alien terdampar tiap kali pergi ke Cina. Semua hanzi itu…aku tidak bisa membacanya!” Marilyne berseru tertahan.

            “Kau bukannya tidak bisa, kau hanya malas. Percuma ayah mengajarimu,” goda Yifan.

            “DAD!” Marilyne memukul lengan Yifan. “Tapi kemampuan bahasa Cinaku juga tidak seburuk itu, tahu! Aku sedikit-sedikit bisa mengerti apa yang orang-orang ucapkan dan aku juga bisa membaca sedikit Hanzi!” Marilyne menghentakkan kakinya ke tanah.

            “And I’m a pro at Chinese language.” Yifan tertawa pelan.

            “You don’t say, dad!” lagi, Marilyne memukul lengan ayahnya yang tengah tertawa. “Tapi aku suka berada di sini, di Guangzhou. Ini yang ketiga kalinya aku ke Guangzhou, tapi entah kenapa ini sudah terasa seperti rumahku sendiri.” Marilyne merentangkan tangannya lebar-lebar.

            Yifan lalu merangkul Marilyne. “Mau jalan-jalan ke Beijing Lu sekarang? Kurasa Beijing Lu akan lebih menarik di malam hari seperti sekarang.” Senyum Yifan.

            Akhirnya keduanya terdampar di Beijing Lu. Sebuah pedestrian shopping street yang terkenal di Guangzhou. Ada banyak toko-toko brand lokal yang kualitasnya bisa dibilang mumpuni di sini.

            Benar kata Yifan. Beijing Lu di malam hari begitu ramai dan indah. Yifan dan Marilyne berbaur bersama manusia-manusia lain yang ada di sana. Sesekali mereka masuk ke toko yang menarik perhatian mereka dan membeli beberapa barang.

            “Aku tidak mau beli barang lagi, dad. Aku masih di sini sampai besok Senin dan jadwal wajibku sampai waktu itu tiba adalah jalan-jalan bersamamu. Pasti ada banyak yang ingin kubeli besok-besok,” rengek Marilyne. Empat tas belanjaan sudah ditentengnya.

            Yifan mengambil semua tas belanjaan milik putrinya dan membawakannya. Tangan kanan dan kirinya penuh dengan tas belanjaan. “Baiklah. Kita akhiri window shoppingnya sampai di sini. Kau lapar? Atau haus? Ayah akan membelikan sesuatu untukmu,”

            “I’m okay with whatever, dad,” jawab Marilyne lemas.

            “Okay then. Mau ikut?”

            Marilyne menggeleng. “No, thanks. Aku hanya akan menunggu ayah di sini saja. Sambil mengambil oksigen banyak-banyak,” tolak Marilyne.

            “Geurae, kau bawa ini semua sebentar. Ayah tidak akan lama.” Yifan menyerahkan semua tas belanjaan pada putrinya.

            “Lalu apa tujuan ayah mengambilnya dariku tadi?” sahut Marilyne dengan poker face-nya. Tapi terlambat. Yifan sudah pergi.

            Marilyne memilih untuk menunggu ayahnya di bawah pohon sambil melihat orang-orang yang lalu-lalang. Kemudian seorang pria jangkung berdiri di samping Marilyne. Pria itu sibuk dengan teleponnya. Dari nadanya terdengar jika pria itu sedikit kesal. Sedikit mencuri dengar, Marilyne rasa orang itu akan janji untuk bertemu dengan orang di sekitar sini.  Pria itu lalu menutup teleponnya dan hanya berdiri menunggu.

            “Aish, dia menyebalkan sekali harus terlambat,” gumam pria itu pelan dalam bahasa Korea. Marilyne semakin penasaran dengan orang di sampingnya ini.

            Sedetik kemudian pria itu menengok kearah Marilyne di sampingnya yang terus memandangi dirinya. Butuh beberapa detik bagi Marilyne sebelum menyadari jika pria itu memergoki dirinya tengah mengamati pria itu.

            “Ah, mianhae,” ceplos Marilyne dalam bahasa Korea.

            Pria itu tersenyum. “Gwaenchana.”

            “Wajah paman seperti tidak asing bagiku. Rasanya aku pernah melihat paman….” Marilyne mengerutkan keningnya. Ia berusaha menggali memorinya.

            Pria itu tertawa. “Kuharap kau tidak bertemu dengan dopplegangerku. Mitos yang beredar, itu sedikit berbahaya.”

            “Aku serius. Rasanya aku tidak asing dengan paman,” sahut Marilyne.

            Pria di sampingnya tertawa kecil. Ia mulai berpikir jika gadis di sampingnya ini pastilah sudah gila. “Kau membuatku sedikit takut. Kau tahu?” kata pria itu.

            “Mianhaeyo.” Marilyne tersenyum. “Aku tahu itu konyol.”

            Pria tadi nampak berpikir. Ada yang tidak asing dengan wajah gadis di sampingnya ini. Pria itu yakin. Tapi ia tidak tahu apa itu.

            “Sudah menunggu lama?” seorang pria lain menepuk pundak pria tadi. Ia berbicara dalam bahasa Cina yang membuat Marilyne lebih tertarik.

            “Lama sekali, ge! Aish, seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi sendirian di tempat seramai ini. Bagaimana bisa kau tidak menemukanku dalam waktu singkat, uh?” omel pria yang berbincang dengan Marilyne tadi dalam bahasa Cina yang cepat. Marilyne kali ini benar-benar merasa seperti alien.

            “Hey, dear. Here it is.” Sebuah suara menginterupsi.

            “Thanks, dad.” Marilyne menerima roti dan kopi Starbucks dari ayahnya dengan sumringah.

            Mata Yifan memicing pada pria yang berdiri tidak jauh dari putrinya. “Tao? Yixing? Itu kalian?” selidik Yifan.

            Pria jangkung tadi terkejut. Terlihat jelas tubuh dan raut wajahnya menegang. Pria itu menoleh dengan cepat ke samping. Matanya bertemu dengan mata Yifan. Keduanya tidak bisa menyembunyikan kekagetan mereka. Pantas saja saat suara tadi menginterupsi, Tao merasa tidak asing. Yixing juga tidak kalah terkejut ketika ia melihat Yifan.

            Suasana menjadi sedikit awkward. Yifan tentu tidak bisa melupakan sebuah tragedi kecil di masa lalu yang sudah membuat sikap Tao, orang yang telah ia anggap adiknya sendiri, berubah drastis kepadanya. Yifan bisa melihat sorot benci dari mata Tao yang tertuju padanya. Sedangkan Yixing nampak ragu untuk menyapa Yifan. Yixing tidak membenci Yifan seperti Tao, hanya saja…ia ragu. Hanya itu.

            “Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian?” tanya Yifan.

            Yixing tersenyum mendengar reaksi hangat dari Yifan. “Kami baik-baik saja, ge―”

            “Hhh, beraninya kau bertanya seperti itu,” Tao memotong perkataan Yixing yang belum selesai. Yifan terkejut dengan reaksi Tao, tapi ia tidak berbuat apa-apa.

            Yifan lalu tersenyum. “Syukurlah kalian baik-baik saja,”

            “Bagaimana denganmu, ge?” tanya Yixing.

            “Yixing ge! Apa yang kau lakukan? Tidak ada gunanya kau bertanya pada orang itu!” sentak Tao pada Yixing.

            “Tao!” suara Yixing meninggi. “Kau juga! Tidak ada gunanya kau terus membenci Yifan ge seperti ini! Kita sudah bukan bocah lagi! Sudah berapa tahun berlalu dan kau masih menyimpan rasa benci itu di hatimu? Kenapa kau tidak mau mencoba untuk mengerti barang sebentar saja?!” tegur Yixing dalam suara keras.

            Beberapa orang yang lalu-lalang terlihat memperhatikan pertikaian di antara pria-pria itu. Tapi kemudian mereka melanjutkan jalan mereka. Itu bukanlah sesuatu yang mau mereka pedulikan. Tao dan Yixing masih bersitegang, Yifan hanya mampu menunduk, dan Marilyne memilih untuk diam melihat.

            “Untuk apa aku harus mengerti, Yixing ge?! Untuk apa?! Dialah yang meninggalkanku, meninggalkan kita tanpa berkata apapun! Dia juga tidak pernah bercerita pada apapun pada kita! Bahkan aku! Kenapa aku harus mengerti? Dia tidak mau berbagi apa yang dirasakannya denganku, untuk apa aku harus mengerti?!” Tao balas membentak.

            “Yifan ge punya alasannya sendiri, Tao! Dia bukan tipe orang yang suka berbagi ceritanya. Aku pikir kau sebagai orang yang sangat dekat dengannya bisa mengerti Yifan ge. Tapi apa?! Sikapmu itu sungguh keterlaluan!” Yixing membela Yifan.

            Tao menggenggam kerah baju Yixing. Marilyne membelalakkan matanya. Apakah mereka akan berkelahi disini? “Kenapa kau terus membela dia padahal kau sendiri juga merasakan sakit, ge? Kenapa?!”

            Yixing memandang Tao lurus. “Karena tidak ada gunanya terus membenci seseorang, Tao. Perasaan benci itu hanya akan menambah beban di hati,” kata Yixing kalem.

            “Hentikan omong kosongmu itu!” desis Tao.

            Yifan maju ke tengah dua ‘adik’nya yang tengah berseteru itu dan melerai keduanya. “Hentikan, kalian semua. Ada putriku di sini, aku tidak ingin ia melihat ini,” kata Yifan.

Tao menghempaskan tangan Yifan yang menggenggam tangannya. Ia melirik Marilyne sekilas. Rupanya gadis yang tadi ia ajak bicara adalah putri Yifan? Ini adalah jawaban dari rasa familiar Tao tadi ketika ia melihat Marilyne. Hidung dan dagu Marilyne benar-benar persis seperti milik Yifan. Yixing menoleh kearah Marilyne dan tersenyum. Marilyne juga membalas senyuman Yixing. Gadis itu kemudian mendekat kearah ayahnya.

            “Senang bertemu dengan kalian, paman Yixing, paman Tao.” Marilyne membungkukkan badannya. Tao melengos.

            “Maaf, atas tadi.” Yixing berbicara dalam bahasa Korea sambil tersenyum tipis.

            “Gwaenchanayo.” Marilyne balas tersenyum.

            “Kau sudah besar, uh? Lihat, kau sudah tumbuh jadi gadis cantik sekarang. Terakhir kali paman melihatmu, kau masih begitu kecil dan dalam gendongan ibumu. Waktu berlalu dengan cepat, hum?” kata Yixing.

            “Xiexie, paman. Ya, waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa. Ayah sering bercerita tentang kalian berdua.” Marilyne terkikik. Meski ia sendiri tidak ingat pernah bertemu Yixing saat ia masih kecil dulu, tapi Marilyne suka melihat senyum Yixing. Senyum yang entah kenapa membuatnya tenang.

            “Kau masih ingat paman Tao? Dulu ia senang menggendongmu.” Yixing membawa Marilyne sedikit bernostalgia.

            “Eo? Dulu paman Tao juga pernah bertemu denganku?” Marilyne balik bertanya.

            Yixing tertawa. “Tentu saja! Dan paman Luhan.”

            “Aku pergi. Berada di sini membuatku muak!” Tao melempar tatapan benci sekali lagi pada Yifan sebelum pergi.

            “Tao!” Yixing berseru dan berlari kecil menyusul Tao yang sudah berada beberapa langkah di depannya.

            “Paman!” tanpa disangka, Marilyne berlari mengejar Tao lalu menggenggam tangan Tao. Langkah Tao dan Yixing berhenti. Yixing memandang Marilyne terkejut.

            Tao hanya memutar sebagian tubuhnya dengan malas. “Ada apa, nona?” tanya Tao. Berusaha sesopan mungkin. Bagaimanapun, Marilyne bukanlah orang yang tepat untuk pelampiasan amarahnya pada Yifan. Walau Tao masih membenci Yifan.

            “Xiexie, paman,” kata Marilyne. Alis Tao bertaut. “Untuk menemani ayah di saat-saat tersulitnya. Ayah sering bercerita tentang paman juga.” Marilyne tersenyum pada Tao.

            “Aku tidak terkesan sama sekali,” balas Tao dingin. Ia hendak pergi tapi lagi-lagi genggaman Marilyne mengurungkan niatnya.

            “Hari ini adalah hari ulang tahun ayah. Paman tidak ingin mengucapkan sesuatu untuk ayah?” celetuk Marilyne.

            “Seperti hal itu penting saja!” tukas Tao dan berjalan pergi. Raut wajah Marilyne segera berubah menjadi sedikit kecewa. Dalam hati Marilyne bertanya-tanya, apa benar orang yang begitu dingin padanya tadi adalah orang yang sama dengan orang yang dulu pernah menggendongnya?

            “Zhù nǐ shēng rì kuài lè, Yifan ge!” seru Yixing dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.

            Yifan tersenyum dan melambaikan tangannya pada Yixing. Keduanya saling melempar senyum sebelum akhirnya Yixing berlari pergi menyusul Tao. Marilyne-pun kembali ke tempat ayahnya berdiri, tidak jauh dari tempatnya tadi.

            “Apa yang sudah kau lakukan, huh?” sahut Yifan ketika Tao dan Yixing sudah hilang dari pandangan mereka. Tangan Yifan mengacak-acak rambut Marilyne pelan.

            Marilyne mengangkat bahunya. “Tidak ada. Aku hanya tanpa sengaja bertemu dengan paman Tao. Aku ragu paman Tao akan bersikap baik lagi padamu, dad. Tapi aku punya setitik keyakinan jika ia mendoakan ayah dalam hatinya tanpa ayah ketahui,” jelas Marilyne. “Tapi aku suka paman Yixing. Aku merasa…dekat dengannya,” lanjut Marilyne.

            Yifan tersenyum lagi. “Ja, mari kita pergi ke tempat lain dan lupakan apa yang barusan terjadi,” saran Yifan.

            Malam semakin larut. Tapi Guangzhou belum juga tertidur. Terutama Zhuhai, tempat perbatasan antara Guangzhou dan Macau. Ya, Guangzhou memang sangat dekat dengan Macau. Mungkin hanya butuh waktu dua jam dengan mobil untuk pergi ke Macau dari Guangzhou.

            “Sebenarnya aku ingin ke Macau, dad.” Marilyne menarik-narik lengan coat Yifan.

            “Ayah juga. Tapi sayangnya kita tidak membawa surat-surat kelengkapan untuk imigrasi, dear,” balas Yifan.

            Marilyne menggembungkan pipinya. “Besok kita harus ke Macau!” paksa Marilyne.

            “Okay,” sahut Kris singkat.

            “Aku juga ingin ke Guangzhou International Food Festival!”

            “Okay,”

            “Lalu ke Zengchen!”

            “Okay,”

            “Aku juga ingin mencoba bersepeda keliling kota Guangzhou!”

            “Okay,”

            “Lalu pergi mengunjungi nenek!”

            “Okay,”

            “Kita juga harus pergi ke desa Baishui dan melihat air terjun Baishui!” paksa Marilyne dengan suara lebih keras.

            “Ya! Harusnya ayah yang berkata begitu. Ayah yang berulang tahun tapi kenapa kau yang banyak meminta, uh?” tegur Yifan.

            Marilyne terkekeh menyadari kekanakannya barusan. “Dad?”

            “Hm?” sahut Yifan.

            “I love you!” cup! Marilyne mengecup pipi Yifan dengan tiba-tiba, lagi.

            “Ya! Jangan lakukan itu di tempat umum!” tegur Yifan.

            “Memang kenapa? Aku senang bisa kencan dengan ahjussi tampan sepertimu, dad. Hahahahaha,” Marilyne tertawa cukup keras.

            Yifan menghela nafasnya. “Ya ampun, bagaimana bisa aku punya putri segila ini?” gumamnya.

            “Dad, coba cek lini-masa Twitter-mu,” kata Marilyne pelan.

            “Huh?” alis Yifan bertaut.

            Marilyne menyenggol lengan ayahnya yang membawa banyak barang belanjaan. “Sudah, cek saja.” Marilyne menahan tawanya.

            “Aku harap kau tidak macam-macam.” Yifan memberi Marilyne tatapan tajamnya. Entah kenapa perasaannya jadi sedikit tidak enak ketika Marilyne menyuruhnya untuk membuka akun Twitter.

            Dan terkejutlah Yifan ketika ia melihat timeline Twitter-nya. Marilyne baru saja mem-post fotonya bersama Yifan saat mereka mengambil selca di tepian sungai di Shaiman Island tadi dalam pose yang cukup intim dimana Yifan merangkul Marilyne dan Marilyne dengan tiba-tiba mencium pipi Yifan. Tapi bukan itu yang membuat Yifan terkejut. Melainkan apa yang ditulis oleh putrinya.

            “Have a date with a handsome ahjussi. Kkkk. Ahjussi, saranghaeyo~~ kkkk

            “Ya! Marilyne Wu!” seru Yifan. Marilyne yang berada di sebelahnya tertawa cukup keras. “Ya ampun, orang-orang pasti akan menyangka kau sedang berkencan…dengan…ahjussi? Ya ampun, kau mau menghancurkan image-mu, huh? Kau ingin membuat semua orang salah paham lagi, HUH?” omel Yifan.

            “A waeeee? Igeon jinjja sinanda!” elak Marilyne kemudian kembali tertawa.

            “Kau tidak menderita father-complex atau ada keinginan untuk incest, bukan?” selidik Yifan sedikit bergidik ngeri.

            “Maldo andwe!” elak Marilyne tegas. “Ya ampun, aku hanya ingin bersenang-senang dan bercanda tapi kenapa ayah menanggapinya dengan begitu serius, uh? Dan apa-apaan dengan incest tadi? Ayah terlalu banyak membaca ‘novel sensual’! Omo, aku tidak habis pikir kenapa eomma bisa jatuh cinta pada pria seperti ayah!”

            “Mwoya?” suara Yifan meninggi ketika putrinya menuduhnya terlalu banyak membaca novel dewasa dan ‘kenapa-eomma-bisa-jatuh-cinta-pada-pria-seperti-ayah’. Marilyne segera berlari menjauh dari ayahnya. “Ya! Kemari kau Marilyne Wu! Berani-beraninya kau menuduh ayahmu!” Yifan berusaha mengejar putrinya. Ia sedikit kesusahan karena belanjaan yang dibawanya.

            Marilyne berhenti berlari. “Itu fakta, dad!” seru Marilyne dari kejauhan lalu kembali berlari lagi.

            “YA!” Yifan belum menyerah mengejar putrinya.

           

 

Beside You ― END

Vhasta’s spot  :

            Heeeunnnggg…akhirnya selesai juga fanfic spesial ulang tahunnya daddy Wu ^^ . Kkkk, bagaimana pendapat readers sekalian? Author rasa fanfic ini masih gaje. And to be honest, author juga sedikit geli pas nge-review ini fanfic. Apalagi pas baca Yifan-Marilyne’s moment. Ini bapak ama anak kenapa sih? Yakin mereka bapak-anak? Kok romantis amat? *jangan tanya readers, author. Pan author sendiri yang bikin -_- * Hehehehe, iya juga sih. Aaahh, tapi author suka banget sama couple khayalan ini >.< *apadah ini* Well, bagaimana dengan readers?

See ya in the next fanfic~!! Ppyonggg!!

 

Regards,

 

Nuevelavhasta

POPULAR FANFICTION

BERITA PILIHAN

COPYRIGHT 2024 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK