home_icon
SIGN IN
SIGN UP
https://nagaempire1.com/ https://empire88m.com/ https://botakempire19.com/ https://uncleempire19.xyz/ https://indobet11g.com/ https://mukapoker1.lol/ https://mukacasinob.com/ https://138.197.6.28 https://138.68.168.98 https://152.42.182.182/ https://planetaryconquest.com/ https://internationalpeaceday.com/ https://weidenfeldlaw.com/ https://notariamc.com/ https://inetskate.com/ https://newdatingway.com/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/store/botak-empire/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/shop/empire88/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/uncle-empire/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/indobet11/ https://misau.gov.mz/wp-content/uploads/naga-empire/ https://pakbol88.com/
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > My Lovely Songsaenim

My Lovely Songsaenim

Share:
Author : hyenichan27
Published : 23 May 2014, Updated : 23 May 2014
Cast : Kim Joon Myeon a.k.a Suho, Park Hyerin, Byun Baekhyun
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |1228 Views |3 Loves
My Lovely Songsaenim
CHAPTER 1 : The First Time I Meet You

Author’s POV

Detak jarum jam terdengar di seluruh sudut ruangan bergaya minimalis itu. Di sana duduk dua orang perempuan yang saling berhadapan di atas sofa empuk berwarna putih. Seorang perempuan paruh baya tengah memandang serius secarik kertas yang tergenggam di tangannya. Sedangkan perempuan satunya lagi yang berusia 19 tahun tengah asyik mendengarkan lagu melalui earphone-nya.

 

“Memalukan sekali” celetuk wanita paruh baya itu tiba-tiba. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah ibu dari gadis muda yang duduk di hadapannya.

“PARK  HYERIN” teriak wanita paruh baya penuh kesal.

 

“Apa kau memanggilku?” tanya gadis yang duduk di hadapan wanita paruh baya itu. Gadis muda itu bernama Park Hyerin. Dia gadis yang cantik, berkulit putih, hidung mancung, dan memiliki rambut larus sebahu yang dicat kecoklatan dan dibiarkan terurai.

 

“Eomma benar-benar tidak menyangka akan mendapat surat peringatan seperti ini. Memangnya apa yang kau lakukan selama ini Hyerin-ah? Pamit meninggalkan rumah untuk kuliah, tapi ternyata kau tidak pernah hadir dalam setiap kegiatan perkuliahan” kata eomma Hyerin tak percaya.

 

Hyerin hanya diam. Dia tetap fokus pada lagu yang ia dengarkan. Bahkan dia menutup matanya dan menambah volume I-Podnya.

 

“Eomma tidak tahu lagi bagaimana cara mendidikmu. Tiap kali eomma menasehatimu kau selalu bersikap seperti ini. Bisakah kau sedikit menghargai eomma mu ini sekali saja?” kata-kata eomma Hyerin terdengar putus asa.

 

“Apa eomma juga pernah menghargai ku sebagai seorang anak?” Hyerin kini balik bertanya. Dia melepas earphone dari telinganya dan mulai menatap eommanya tajam.

 

“Apa maksudmu?” eomma Hyerin penasaran.

 

“Eomma telah memisahkan ku dengan oppa dan appa ku. Bahkan selama sepuluh tahun aku tak pernah lagi melihat mereka. Eomma juga tak pernah mengizinkan ku bertemu dengan mereka. Apakah itu bisa disebut sebagai menghargai hak seorang anak?” Hyerin berkata demikian dengan amarah yang tertahan. Suaranya bergetar dan matanya sedikit memerah karena menahan air mata. Ya, air mata kesedihan karena perpisahan dengan oppa dan appanya tercinta

 

“Cukup Hyerin, jangan kau teruskan ucapanmu. Apa kau tidak bahagia dengan kehidupan mewah yang kau punya sekarang?” eomma Hyerin mencoba menenangkan diri. Dia berkata penuh kemenangan.

 

Hyerin tertawa sinis. Dia tak habis pikir jika eommanya benar-benar dibutakan oleh harta kekayaan hasil perceraian dengan appanya. Meski usia Hyerin masih 9 tahun ketika perceraian orang tuanya terjadi, tapi dia sudah memahami segala keadaan sebenarnya. Tentang ibunya yang gila harta dan appanya yang dibuang karena tak lagi kaya. Oppa yang dicintainya pun ikut dibuang karena eommanya menganggap dia hanya akan menyusahkan keluarga. Hyerin sama sekali tak akan lupa dengan apa yang terjadi di keluarganya sepuluh tahun silam.

 

“Aku lebih baik hidup di jalanan dari pada harus hidup di penjara bersama orang yang gila harta” dengan sekali sentakan, Hyerin mengambil tasnya lalu berdiri. Meninggalkan ruang kerja eommanya dan membiarkan kata-kata terakhirnya menggantung di udara.

 

Eomma Hyerin hanya diam. Bola matanya bergetar. Tangannya terayun ke depan melemparkan vas bunga hingga terjatuh ke lantai menjadi pecahan-pecahan tajam.

 

***

 

“Antarkan aku ke tempat biasa!” perintah Hyerin kepada sopir pribadinya ketika di dalam mobil.

 

“Maaf nona, tapi nyonya besar memintaku untuk mengantar anda ke kampus” jawab Shin ahjussi, sopir pribadinya, mantap.

 

“Sekarang ahjussi memihak siapa, eoh?” tanya Hyerin dengan nada sedikit meninggi.

 

“Maaf nona, tapi ini perintah dari nyonya besar. Saya tidak bisa membantah. Lagi pula, saya sudah dengar tentang surat peringatan itu. Saya benar-benar prihatin, nona. Selama saya bekerja dengan keluarga nona, saya selalu menuruti apa kata nona. Tapi untuk kali ini, saya tidak bisa. Bagaimana pun juga, saya melakukan ini demi kebaikan nona” Shin ahjussi berkata panjang lebar. Mendengar kata-kata itu, hati Hyerin sedikit luluh. Ya, bagaimana pun juga, setelah kepergian appanya, satu-satunya orang yang bisa menghibur dan menenangkan hatinya adalah Shin ahjussi.

 

“Maafkan aku, ahjussi. Aku telah berkata kasar pada mu tadi. Terima kasih atas perhatiannya. Anak ahjussi pasti senang bisa memiliki appa seperti ahjussi” Hyerin tersenyum pahit.

 

Shin ahjussi hanya tersenyum “Nona bisa saja”. Dan dia pun kembali berkonsentrasi menyetir.

 

***

 

Suasana sekolah tampak ramai ketika melihat mobil mewah berwarna merah milik Hyerin memasuki area kampus. Bagaimana tidak, puteri pewaris Grup Shinhwa itu tak pernah menginjakkan kakinya di kampus sejak pertama kali kegiatan perkuliahan dimulai. Keramaian ini sudah diprediksi oleh eomma Hyerin, Park Ji Hyun. Bahkan beberapa wartawan dari berbagai media massa datang ke kampus hanya untuk meliput kedatangan Park Hyerin. Ya, Grup Shinhwa telah berada di posisi puncak dalam dunia bisnis Korea Selatan. Jadi tidak mengherankan bila berita tentang Hyerin yang tidak pernah masuk kuliah langsung beredar ke seantero negeri. Akhirnya, ketika Hyerin baru tiba di area kampus, dia telah disambut oleh puluhan bodyguard yang telah berjaga di tempat parkir untuk mengamankan Hyerin dari para wartawan.

 

“Shin ahjussi, bagaimana ini?” tanya Hyerin khawatir.

 

“Nona tetap tenang. Tersenyumlah dan jangan menjawab beragam pertanyaan dari para wartawan. Itu hanya akan mempersulit keadaan nona” jelas Shin ahjussi.

 

“Tersenyum?” tanya Hyerin.

 

“Iya, tersenyum” jawab Shin ahjussi.

 

Hyerin memikirkan kembali nasehat Shin ahjussi. Tersenyum? Bagaimana mungkin? Di depan ruang publik Hyerin tak pernah tersenyum. Dia benar-benar malas jika harus menampilkan sebuah kebohongan di hadapan publik. Seperti yang dilakukan beberapa bulan lalu, ketika dia mengadakan jumpa pers untuk mengumumkan dirinya sebagai pewaris Grup Shinhwa, dia tak pernah tersenyum kepada wartawan. Padahal sebelum menuju ruang jumpa pers, nyonya Park Ji Hyun telah mengingatkan Hyerin untuk tersenyum. Tapi itu tak dilakukannya, dia malah melempar botol minuman ke arah wartawan yang menanyakan hal-hal aneh kepada dirinya, yaitu “apakah anda sudah punya kekasih?”. Ah, Hyerin benar-benar malas mengingat kejadian itu.

 

“Nona” panggilan Shin ahjussi membuyarkan lamunan Hyerin.

 

“Ya, ahjussi. Baiklah, aku akan keluar dan tersenyum. Aku akan bertingkah seolah-olah tidak terjadi sesuatu” kata Hyerin sambil tersenyum paksa.

 

Dan ketika Hyerin keluar dari mobil, puluhan wartawan menyerbu dirinya. Blitz kamera berkali-kali menyilaukan mata Hyerin. Ribuan pertanyaan terlontar dari mulut para wartawan. Hyerin hanya menjawabnya dengan tersenyum bahkan sesekali melambai ke arah wartawan. Puluhan bodyguard telah siap mengawal perjalanan Hyerin menuju gedung fakultas. Setelah berdesak-desakan dengan para wartawan, akhirnya Hyerin sampai di gedung fakultas. Para wartawan tak bisa masuk ke dalam gedung karena dilarang oleh petugas dari universitas.

 

“Huh,,,,,,, akhirnya sampai juga!” Hyerin bernafas lega, merapikan bajunya, dan menguncir rambutnya ke belakang. Dia melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Dia pun langsung berlari menuju ruang kelasnya. Di belokan pertama, dia bertabrakan dengan seorang namja.

BRUKKKK

 

“Maafkan aku nona” kata namja itu.

 

Hyerin menunduk, melihat blouse yang dipakainya basah terkena kopi dan menyisakan bekas warna yang pastinya sulit dihilangkan dalam waktu sekejap.

 

“Maaf? Apa kau tidak tahu kalau lima belas menit lagi kelas akan dimulai, eoh? Dan sekarang kau telah membasahi baju ku dengan kopi mu itu. Hah, ini benar-benar tidak lucu. Berapa harga kopi mu itu sampai-sampai kau berani menumpahkan kopi itu di baju ku, eoh?” Hyerin benar-benar naik pitam dan tidak tahu siapa yang diajaknya bicara sekarang.

 

“Kopi ini memang terlihat sepele. Tapi apa kau tahu jika kopi ini adalah salah satu komoditi terpenting dalam dunia bisnis Korea Selatan, eoh?” pria itu berkata santai seraya membuang gelas kopinya ke tempat sampah yang berada tepat di sebelahnya.

 

“Bicara mu seperti seorang dosen saja. Ya, kau pikir kau siapa? Benar-benar sok tau tentang bisnis” Hyerin tersenyum sinis.

 

“Yang pasti aku bukanlah Park Hyerin yang tidak pernah ikut kegiatan perkuliahan”. Setelah berkata seperti itu, pria yang menabrak Hyerin tadi meninggalkan Hyerin sendiri. Kata-kata terakhirnya benar-benar menyakitkan. Hyerin tak menyangka akan direndahkan seperti ini.

 

“Ya, berhenti kau. Kau pikir kau siapa, eoh?” teriak Hyerin pada pria itu. Tapi pria itu tak berhenti berjalan apalagi berbalik ke arah Hyerin.

 

“Aissshhhh,,,,jinja. Dasar pria sombong. Awas kalau bertemu lagi”.

 

Setelah puas mengumpat namja itu, Hyerin pun menelpon sekretaris pribadinya.

 

“Ya, Kim ahjussi. Bisakah kau mengantar pakaian ke kampus ku?”

…………..

“Nde, terserah saja. Suruh pelayan di rumah mengambilkannya untukmu”

…………..

“Ani. Semua baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir. Urus saja pekerjaan mu di kantor”

…………..

“Nde, aku tunggu lima belas menit”

 

Tuttt,,,,,tuuuuttttt,,,,tuuuut

 

Sambungan terputus. Hyerin mematikan handphonenya dan berjalan menuju toilet. Namun tiba-tiba seorang namja berteriak ke arahnya.

 

“PARK HYERIN”

 

Hyerin sontak menoleh. Dilihatnya namja itu tengah berlari menghampirinya.

“Apa kau masih mengingat ku?” tanya namja itu setelah tiba di tempat Hyerin berdiri.

 

Hyerin menatapnya intens dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia mencoba mengingat kembali siapa namja yang berdiri di hadapannya ini. Hyerin sama sekali tak asing dengan wajahnya. Dengan sedikit ragu, Hyerin mencoba menjawab pertanyaan namja itu.

 

“Byun,,,,,Baek,,,,Hyun???” tebak Hyerin hati-hati.

 

“Ya, kau benar. Aku Baekhyun” jelas Baekhyun seraya tersenyum manis.

 

“Aaahh,,,Baekhyun oppa. Kau sudah kembali dari Amerika rupanya. Bagaimana kabarmu, oppa?” Hyerin langsung memeluk tubuh Baekhyun erat. Ya, mereka memang baru pertama bertemu setelah tujuh tahun Baekhyun meninggalkan Korea Selatan untuk belajar di negeri Paman Sam, Amerika. Sejak kecil mereka telah berteman akrab karena orang tua Baekhyun adalah teman dekat dari orang tua Hyerin. Tak ada perubahan drastis dari Baekhyun, dia tetaplah namja tampan, manis, ramah, dan murah senyum. Itu lah yang mungkin membuat Hyerin cepat mengenali Baekhyun.

 

“Baik. Lalu kau…..??????” Baekhyun bertanya seraya melepas pelukan Hyerin yang membuatnya hampir mati karena susah bernafas. Lalu mata Baekhyun menangkap sebuah noda kopi tertempel di blouse yang dikenakan Hyerin. “Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Bekhyun khawatir.

 

“Nde, aku baik-baik saja, oppa. Kau tidak perlu khawatir soal ini” Hyerin menunduk, melihat blousenya yang kotor.

 

“Hanya saja, tadi ada sedikit insiden kecil antara aku dengan orang aneh di sini. Tiba-tiba aku bertabrakan dengan seseorang yang membawa kopi dan akhirnya pakaian ku kotor seperti ini. Tapi, aku tidak apa-apa” lanjut Hyerin yang diakhiri dengan sebuah senyum kecil yang terkembang di bibirnya.

 

“Jinja????” tanya Baekhyun meyakinkan.

 

“Nde, oppa” Hyerin tersenyum ramah.

 

“Hyerin, ayo ikut aku!” ajak Baekhyun.

 

“Ke mana?” tanya Hyerin penasaran.

 

“Ke kantin. Entah kenapa setelah melihat noda kopi di pakaian mu, aku jadi ingin minum kopi”

 

“Heheheh,,,,,oppa bisa saja” Hyerin tertawa mendengar alasan Bekhyun yang konyol itu.

 

“Bagaimana, kau mau tidak?” tawar Baekhyun lagi.

 

“Aniyo, oppa. Aku tidak bisa. Aku harus membersihkan ini”.

 

“Kenapa kau selalu menolakku, Hyerin?” bujuk Baekhyun.

 

“Aku tidak menolak mu, oppa. Tapi,,,,,,,,,,” belum selesai bicara, Baekhyun langsung menarik tangan Hyerin dan mengajaknya ke kantin.

 

***

 

“Baiklah, kau mau pesan apa?” tanya Baekhyun ketika sampai di meja kantin.

 

“Aku,,,,,,pesan coklat panas saja. Aku benci kopi”

 

“Satu cangkir kopi dan satu cangkir cokelat panas” ucap Baekhyun pada pelayan

 

“Baik, tuan” pelayan itu pun meninggalkan Baekhyun dan Hyerin berdua di meja bundar dekat jendela.

 

“Omong-omong kenapa kau memesan cokelat panas? Apa karena insiden tadi?” tanya Baekhyun setengah bercanda

 

“Mungkin” jawab Hyerin sambil tersenyum.

 

“Heheheh,,,,,sudahlah, jangan diingat lagi. Yang lalu biarlah berlalu.”

 

“Tapi aku kesal, oppa. Kalau baju ku tidak kotor seperti ini, aku pasti akan masuk kelas”

 

“Tapi bukankah, keadaan seperti ini yang paling kau inginkan, eoh?” Baekhyun balik bertanya.

 

“Heheheheh” Hyerin tertawa tiba-tiba.

 

“Wae???”

 

“Kau benar, oppa. Ah, kenapa aku tidak menyadarinya sedari tadi?” Hyerin menepuk dahinya pelan.

 

“Tapi aku lebih suka kau masuk kuliah seperti ini” Baekhyun tersenyum

 

“Wae????”

 

“Kau tahu, selama belajar di Amerika, aku tidak merasa bahagia. Tidak ada yang ku ganggu, tidak ada yang ku nasehati, dan tidak ada seseorang yang bisa ku jadikan teman mengobrol” ujar Baekhyun. Pandangannya menerawang ke luar jendela.

 

“Huh, gaya bicara mu seolah kau tidak memiliki teman di sana”, ledek Hyerin seraya menerima minuman dari pelayan yang baru saja tiba di meja mereka.

 

“Aish,,,,,siapa bilang? Aku di sana sangat populer Hyerin-ah. Banyak bule yang mengejar-ngejar diriku. Hanya saja, aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Aku tetap tertarik dengan satu orang saja” ucap Baekhyun seraya tersenyum. Sorot matanya benar-benar penuh kebahagiaan ketika mengucapkan kata-kata tadi.

 

“Oh, ya??? Siapa gadis itu?” Tanya Hyerin sedikit kaget. Dia mencondongkan mukanya ke arah Baekhyun.

 

“Aish,,,,,singkirkan wajah mu dari hadapan ku, bodoh” Baekhyun mendorong wajah Hyerin pelan.

 

“Ya, oppa. Kau benar-benar jahat” kata Hyerin seraya memancungkan bibir.

 

“Kau tidak perlu tahu siapa gadis itu. Yang terpenting sekarang adalah aku sudah  kembali ke Korea Selatan dan  aku bisa bertemu lagi denganmu, satu kampus denganmu,,,,,dan akhirnya ada seseorang yang bisa ku ganggu. Ini mengingatkan ku dengan waktu kita masih duduk di bangku sekolah menengah pertama” lanjut Baekhyun.

 

“Apa kau merindukan ku, oppa?” tanya Hyerin sedikit menggoda.

 

Mendengar pertanyaan itu, Baekhyun yang tengah menyeruput kopi langsung terbatuk-batuk.

 

“Uhuk,,,,uhukkk,,,,,uhuk”

 

“Hahahahahah” Hyerin tertawa lepas

 

“Ya, kenapa kau tertawa?” tanya Baekhyun dengan wajah kesal.

 

“Aku hanya bercanda, oppa!!!”

 

Tiba-tiba raut wajah Baekhyun berubah menjadi sedikit masam. Ada rasa kecewa yang terbesit di hatinya ketika Hyerin berkata bahwa dia bercanda.

 

“Ya, aku tahu kau bercanda. Tapi, tidak bisakah kau sedikit mempedulikan ku????”

 

“Nde, maafkan aku, oppa!” ucap Hyerin sambil menahan tawa. Dia kemudian membantu Baekhyun membersihkan kopi yang sedikit belepotan di sudut bibirnya dengan tisu. Suasana tiba-tiba menjadi canggung.

 

“Permisi, nona. Apa aku mengganggu?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di meja Hyerin dan Baekhyun.

 

“Ah, sekretaris Kim. Kenapa kau baru datang sekarang?” tanya Hyerin seraya menarik tangannya dari bibir Baekhyun. Baekhyun yang sedikit malu dan gugup, berdehem keras.

 

“Maaf, nona. Jalanan Seoul hari ini macet. Dan saya harus menghindari para wartawan yang tengah berjaga di depan gerbang kampus” jelas sekretaris Kim.

 

“Apa? Para wartawan bodoh itu masih berjaga di depan kampus? Huh, aku benar-benar tidak menyangka. Baiklah, mana baju ku?” tanya Hyerin ketus.

 

“Ini nona” sekretaris Kim lalu menyerahkan tas yang berisi baju Hyerin.

 

“Oppa, aku ganti baju dulu, ya” Hyerin menoleh ke arah Baekhyun.

 

“Nde, jangan lama-lama. Atau kau akan ku tinggal”.

 

“Arra”

 

Hyerin pun melangkah pergi menuju toilet untuk berganti pakaian. Sepuluh menit kemudian, dia keluar dari toilet dan menghampiri Baekhyun yang masih duduk di tempat yang sama seperti tadi.

 

“Oppa, aku ke kelas dulu, ya” ucap Hyerin seraya membenarkan tasnya.

 

“Kelas? Bukankah kau sudah telat?” tanya Baekhyun heran.

 

“Arra. Tapi siapa yang berani menentangku, eoh?” Hyerin berkacak pinggang.

 

“Baiklah. Aku juga harus pergi, karena masih ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan. Sepertinya, ada beberapa syarat administrasi yang belum aku lengkapi. Aku harus mengurusnya sebentar. Kau jaga diri baik-baik, ya” jelas Baekhyun.

 

“Nde,,,,,,hati-hati, oppa”.

 

 “Nde”

 

Hyerin melambai ke arah Baekhyun yang beranjak meninggalkan kantin. Dan dia sendiri dengan ditemani sekretaris Kim menuju ruang kelas untuk mengikuti kegiatan perkuliahan.

 

***

 

Hyerin’s POV

 

Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah. Ya, walaupun sebenarnya kegiatan perkuliahan telah dimulai enam bulan yang lalu, tapi aku tidak pernah masuk kuliah. Aku lebih sering menghabiskan waktu ku di panti asuhan bersama puluhan anak yatim piatu yang hidupnya kurang beruntung. Aku melakukan itu, karena aku merasa hidupku sama dengan mereka. Mungkin secara materi aku tak pernah kekurangan, tapi aku benar-benar haus akan kasih sayang keluarga. Sejak perceraian orang tua ku terjadi, aku lebih sering menutup diri. Hanya Baekhyun, Shin ahjussi, dan anak-anak panti yang bisa menghiburku. Mereka adalah tempat di mana aku mencurahkan segala keluh kesah ku, mereka lah yang mungkin bisa melihat tawaku yang ku sembunyikan dari dunia. Bahkan kepada eomma ku sendiri, aku tak pernah tersenyum.

 

Tapi Tuhan amat menyayangiku. Dia tak pernah membiarkan ku kesepian. Tuhan telah menghadirkan kembali Baekhyun ke dalam hidupku. Aku tak pernah berpikir bahwa dia akan kembali ke Korea Selatan. Ku pikir dia akan pergi selamanya, meninggalkan ku sendiri di tengah dunia yang sama sekali tak berpihak padaku. Dan sekarang Baekhyun telah kembali. Aku benar-benar bahagia melihat kedatangannya. Dia seperti belahan jiwaku. Apa pun yang aku rasakan, dia selalu bisa memahami. Tapi perasaan ku hanya sebatas perasaan adik kepada kakaknya. Aku tak pernah menganggapnya lebih.

 

“Nona, apa tidak apa-apa jika masuk sekarang? Kelas sudah dimulai 30 menit yang lalu” ucap sekretaris Kim tiba-tiba

 

“Diamlah” bentak ku pada sekretaris Kim yang sudah membuyarkan lamunan ku. Setelah ku bentak seperti itu, sekretaris Kim hanya menunduk tak berani berkata apa-apa lagi. Ya, aku memang sering berbuat kasar kepada anak buah eomma ku.

 

Tak terasa, aku dan sekretaris Kim telah sampai di depan ruang kelas. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kelas tanpa melihat siapa yang sedang menerangkan pelajaran. Aku hanya terus berjalan menuju tempat duduk paling belakang. Dan tiba-tiba………………….

 

“Siapa yang memberimu izin masuk ke ruang kelas ini?” tanya songsaenim yang tengah mengajar di depan kelas.

 

Aku pun menghentikan langkahku. Berdiri di tengah kelas dan sama sekali tidak menoleh ke belakang.

 

Namun, ada yang aneh dari suara songsaenim. Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar suara itu. Tapi suara siapa? Ingatan ku pun kembali pada insiden kecil pagi ini ketika aku tengah berlari menuju ruang kelas dan kemudian menabrak seorang namja yang tak ku kenal. Setelah tabrakan kecil itu, aku dan dia terlibat sedikit perdebatan.

 

“Kopi ini memang terlihat sepele. Tapi apa kau tahu jika kopi ini adalah salah satu komoditi terpenting dalam dunia bisnis Korea Selatan, eoh?”

 

Oh, apakah orang yang telah menabrak ku pagi ini adalah seorang songsaenim? Dengan sangat hati-hati, aku memberanikan diri menoleh ke belakang. Mencoba memastikan apakah benar songsaenim yang sedang mengajar ini adalah orang yang menabrak ku pagi ini.

 

Omo, ternyata benar. Dia adalah orang yang menabrak ku dan menumpahkan kopi di atas baju ku. Aku benar-benar tak percaya bahwa dia adalah seorang songsaenim. Padahal dia masih sangat terlihat muda, tampan, dan enerjik. Dia pantasnya menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir. Atau jangan-jangan, dia adalah mahasiswa tingkat akhir yang menjadi asisten songsaenim. Dan dia mengajar di kelas karena songsaenim yang sebenarnya sedang tidak bisa mengajar. Ya, dia pasti seorang asisten songsaenim.

 

 

~~~~TBC~~~~

POPULAR FANFICTION

BERITA PILIHAN

COPYRIGHT 2024 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK