home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Miracles In December

Miracles In December

Share:
Author : bbuyooo
Published : 26 Dec 2013, Updated : 26 Dec 2013
Cast : Kim Seokjin (BTS), Kim Haewon (OC)
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |1267 Views |0 Loves
Miracles In December
CHAPTER 1 : Miracles In December

Seoul, 25 Desember 1995.

            Butiran-butiran salju turun, memenuhi pinggiran Kota Seoul dengan warna putih yang suci. Mulai menutupi segala yang ada di atas permukaan tanah. Juga menutupi hati yang hitam dengan warna putih. Membuat manusia kembali lahir dengan hati yang lebih baik. Hati yang putih bersih layaknya salju.

            Nyonya Song, pemilik sebuah panti di pinggiran Kota Seoul, sedang menyiapkan makan malam dibantu beberapa pengurus panti dan anak-anak panti. Kadang, terdengar lelucon dan canda tawa dari mereka semua.

            “Oek, oek ...!”

           Nyonya Song menghentikan pekerjaannya—mengaduk adonan—ketika tiba-tiba ia mendengar suara tangisan. Bukan tangisan dari anak-anak panti yang ada di dalam rumah, melainkan dari luar. Yang mengejutkan, suara itu terdengar seperti tangisan bayi!

            “Tolong berhenti sebentar!” perintah Nyonya Song kepada semuanya. Semua orang yang berada di dalam dapur segera menghentikan pekerjaannya masing-masing. “Kalian dengar suara itu?” tanya Nyonya Song.

            Semuanya saling berpandangan. Bingung.

            “Suara?” tanya salah satu anak, Min Yoongi.

            Nyonya Song mengangguk. “Eo, suara tangisan,” jawabnya dengan suara pelan.

            “Oek, oek ...!”

            Suara itu terdengar lagi. Seisi ruangan langsung berpandangan dengan ekspresi terkejut. Nyonya Song segera menyuruh mereka semua untuk mencari sumber suara itu di halaman panti.

            Semuanya berpencar. Ada yang mencari di balik semak-semak, teras, tempat bermain, dan seluruh penjuru panti. Salju yang mulai turun dengan deras menyulitkan proses pencarian. Namun, Nyonya Song masih belum menyerah, ia benar-benar tidak bisa tinggal diam jika ada anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya.

            “Ketemu!”

            Seorang anak laki-laki bernama Kim Namjoon berjalan ke arah Nyonya Song sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih berwarna merah dan menangis kencang. Beberapa anak dan pengurus panti mengerubunginya, kemudian membawa bayi itu ke dalam panti.

            Nyonya Song masih menelusuri halaman panti. Ia yakin, ada satu bayi lagi yang ditelantarkan karena tadi ia mendengar tidak hanya satu tangisan. Ia yakin ia mendengar dua. Dan ia tidak akan berhenti mencari sampai bayi itu ditemukan.

            “Oek, oek ...!”

            Suara itu muncul dari sudut halaman panti. Nyonya Song segera berlari menuju sudut halaman yang dipenuhi semak-semak dan pohon cemara yang penuh dengan hiasan yang menyala-nyala. Tepat di bawah pohon cemara, ia menemukan seorang bayi perempuan yang mungil sedang menangis dengan suara keras. Ukuran bayi ini lebih kecil daripada bayi laki-laki tadi.

            “Omo! Kasihan sekali, ayo kita ke dalam!” seru Nyonya Song penuh dengan rasa iba. Ia segera menggendong bayi itu dan berlari ke dalam panti untuk menghangatkan bayi itu.

            Hari ini, 25 Desember 1997, telah diturunkan dua malaikat berhati suci di Kota Seoul.

***

Seoul, 25 Desember 2003.

            “Kim Seokjin! Bukan begitu caranya mengaduk adonan!”

            “Siapa suruh menugaskanku untuk mengaduk adonan? Sana, kerjakan sendiri kalau kamu bisa! Memangnya kamu pikir ini mudah?”

            Nyonya Song menghentikan pekerjaannya dan menghampiri kedua anak yang sedang bertengkar itu. “Ada apa? Kenapa kalian bertengkar lagi?” tanyanya.

            Salah satu dari mereka, Kim Haewon, membuka mulutnya, “Eomma, Seokjin tidak mengaduk adonannya dengan benar! Waktu kutegur, ia malah marah!”

            Nyonya Song mengalihkan pandangannya pada anak laki-laki di sebelahnya, Seokjin. “Benar begitu, Seokjin?” tanyanya lembut sambil membelai rambut Seokjin dengan penuh kasih sayang.

            “Aku memang marah tadi, tapi itu karena ia menegurku dengan cara membentak. Aku, kan, tidak terima!” jawab Seokjin, membela dirinya. “Kalau ada yang membentak eomma, pasti eomma melakukan hal yang sama denganku, kan?”

            Nyonya Song tersenyum mendengar jawaban keduanya. Ia membelai kepala Haewon dan Seokjin, kemudian Nyonya Song berkata, “Sekarang, kalian dengarkan dulu, ya.” Nyonya Song mengambil napas. “Haewon, kamu ini perempuan. Kamu harus berperilaku lembut dan halus. Kendalikan bicaramu dan emosimu. Berlaku manis dan haluslah pada semua orang, termasuk Seokjin. Dan Seokjin, kamu, kan, laki-laki. Jangan pernah membentak perempuan, itu benar-benar tidak baik. Kamu harus mengendalikan emosimu dan ucapanmu, Seokjin. Jadilah laki-laki yang bisa menjadi panutan bagi orang lain,” jelas Nyonya Song.

            Haewon dan Seokjin hanya menatap satu sama lain.

            “Lagipula, kalian lahir di tanggal yang sama dan spesial, 25 Desember. Kalian adalah malaikat, hati kalian begitu suci dan putih. Kalian membawa kebahagiaan. Jadi, untuk apa kalian bertengkar? Bukankah kalian berdua adalah saudara?” Nyonya Song menatap Haewon dan Seokjin secara bergantian. “Mengerti, kan? Janji tidak akan bertengkar lagi?”

            Haewon dan Seokjin menganggukkan kepala mereka. “Ne!”

            25 Desember 2003, untuk pertama kalinya, Haewon dan Seokjin berdamai.

***

Seoul, 25 Desember 2009.

            Seokjin melihat dua pasang sarung tangan berwarna merah yang dijual di kios yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sarung tangan itu terlihat hangat. Udara yang dingin benar-benar membuat tangannya beku dan mati rasa. Ia benar-benar membutuhkan sarung tangan itu.

            “Haewon-a,” panggilnya pada Haewon yang sedang membeli bunggeoppang.

            Haewon menoleh. “Eo?”

            “Aku ke sana sebentar, ya,” kata Seokjin. Ia menunjuk kios yang menjual sarung tangan itu. “Nanti kamu tunggu saja di sini,” lanjutnya.

            “Oh, baiklah.” Hanya itu yang keluar dari bibir Haewon sebelum ia kembali sibuk membeli bunggeoppang.

            Seokjin berjalan menuju kios itu dan melihat-lihat barang yang dijual. Ia memegang sarung tangan merah itu. Hangat. Tangan Seokjin mengambil dua pasang sarung tangan berwarna merah. “Ahjussi, berapa harganya?” tanya Seokjin.

            “Enam ribu won,” jawab paman penjual itu. “Hanya ini, Nak? Tidak ada yang mau kamu beli lagi? Kamu tidak mau membelikan syal untuk pacarmu itu?” tanyanya. Paman penjual itu mengambil sebuah syal berwarna abu-abu terang dan menawarkannya pada Seokjin. “Ini hangat. Kasihan kalau dia kedinginan, kan,” ucapnya lagi. Kali ini ia menunjuk Haewon yang sedang berdiri di depan kios bunggeoppang.

            “Eh? Dia bukan pacarku, Ahjussi,” ucap Seokjin, mengoreksi.

            “Bukan, ya?” tanya paman itu.

            Seokjin menggelengkan kepalanya dan tertawa renyah. “Tapi, aku beli syal ini.”

            “Kuberikan diskon karena hari ini hari Natal. Total semuanya sepuluh ribu won.” Paman penjual itu memasukkan semua barang yang dibeli Seokjin ke dalam sebuah kantung plastik.

            Seokjin segera membayarnya dan tersenyum pada paman penjual. “Gamsahamnida, Ahjussi!” ucap Seokjin.

            “Selamat Natal, Nak!” seru paman penjual itu pada Seokjin. Seokjin hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.

            Seokjin berjalan menuju Haewon yang berdiri di depan kios bunggeoppang. Ia melihat gadis itu menggosokkan kedua telapak tangannya satu sama lain. Terlihat sekali kalau ia kedinginan.

            “Lama sekali,” keluh Haewon. “Aku kedinginan di sini.”

            Seokjin hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu dan mengeluarkan sepasang sarung tangan dari kantung plastik tadi. “Kemarikan tanganmu,” perintahnya.

            “Eh?”

            “Sudah, sini. Tidak usah bertanya,” perintah Seokjin.

            Haewon menatapnya dengan tatapan bingung. “Buat apa?” tanya Haewon.

            Seokjin tidak menjawab. Ia meraih tangan kanan Haewon dan memakaikan sebuah sarung tangan di tangan gadis itu. Kemudian, ia memakaikan yang sebelahnya lagi di tangan kiri Haewon. Lalu, Seokjin mengambil syal dari kantung plasti tadi dan memakaikan syal itu di leher Haewon.

            “Untukku?” tanya Haewon.

            Seokjin mengangguk kecil. “Tadi katanya kamu kedinginan, kan?”

            “Terima kasih!” seru Haewon senang. “Kamu nggak beli?”

            “Beli, kok,” jawab Seokjin. Ia mengeluarkan sepasang sarung tangan yang sama seperti milik Haewon dari kantung plastik. Seokjin memakainya dan memasukkan kantung plastik kosong itu ke dalam tasnya. “Aku, kan, juga kedinginan,” lanjut Seokjin.

            Tiba-tiba, sebuah bunggeoppang masuk ke dalam mulut Seokjin yang belum tertutup. Ia menatap Haewon dengan pandangan ‘yang-benar-saja’.

            “Bunggeoppang-nya masih hangat. Siapa tahu tubuhmu juga jadi hangat,” ujar Haewon pelan. “Ayo, jalan. Kalau kita diam saja di sini, kita bisa mati kedinginan. Kamu nggak mau beku, kan?” ajak Haewon.

            Seokjin hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. Ia menggenggam tangan mungil Haewon dan mulai berjalan. Bisa ia lihat wajah Haewon yang bersemu kemerahan karenanya.

            Tanggal 25 Desember 2009, ini pertama kalinya Seokjin melihat wajah Haewon yang bersemu kemerahan.

***

Seoul, 25 Desember 2012.

            Salju turun tidak terlalu deras. Suhu di luar juga tidak sedingin biasanya, jadi, tidak masalah bagi Haewon dan Seokjin untuk berjalan-jalan malam ini.

            Malam ini, jalan dihiasi dengan lampu yang berkerlap-kerlip dan pohon natal yang dihias dengan sangat indah. Membuat suasana menjadi semakin menyenangkan bagi Haewon dan Seokjin.

            “Kita mau ke mana lagi?” tanya Haewon. “Sudah malam. Pulang, yuk!” ajaknya.

            Seokjin menggeleng. “Ke Sungai Han, yuk.”

            “Ke Sungai Han? Mau apa? Berenang?” Haewon bergurau.

            Seokjin hanya mendengus dan menjawab, “Siapa tahu kita bisa lihat bintang.”

            “Ehm, boleh juga.”

            Haewon dan Seokjin berjalan ke arah Sungai Han. Suasana sepi. Ya, siapa juga yang mau ke sungai malam-malam begini?

            “Duduk sini,” perintah Seokjin pada Haewon. Ia menepuk-nepuk tempat kosong di sebelah tempat ia duduk. Haewon hanya menurut dan mengikuti Seokjin melihat ke arah langit malam.

            Senyuman terukir di bibir Haewon ketika melihat langit yang dihiasi bintang dan salju. Ia bisa melihat bintang yang berkerlap-kerlip di atas sana. Begitu bercahaya dan begitu cantik. Membuatnya terkagum-kagum. Salju yang turun juga mempercantik suasana. Malam jadi tidak terlihat begitu gelap. Langit malam terlihat begitu cantik. Terlihat indah dan anggun.

            “Ah!” pekik Haewon sambil menunjuk sesuatu di atas sana. “Bintang jatuh!” pekiknya lagi. “Semoga aku—Yah, bintangnya sudah hilang ...,” gumamnya penuh kekecewaan.

            Seokjin menertawakan sahabatnya itu. “Kamu lelet, sih!” ledeknya.

            Haewon hanya menggembungkan pipinya. Kesal. “Memangnya kamu sempat menyelesaikan permintaanmu, hah?” Haewon bersungut-sungut.

            “Aku nggak minta apa-apa,” jawab Seokjin sekedarnya. “Aku nggak pernah menggantungkan harapan pada bintang,” lanjutnya.

            “Bohong. Pasti dulu kamu pernah,” kata Haewon tidak percaya.

            Seokjin menggeleng kuat. “Nggak. Aku menggantungkan harapanku pada diriku sendiri. Bukan pada bintang.”

            “Kupikir kamu percaya.”

            “Aku percaya pada diriku sendiri. Asal aku berusaha, aku pasti bisa mengabulkan harapanku sendiri.”

“Kalau kamu menggantungkan harapanmu pada bintang, apa yang ingin kamu minta?”

            “Entahlah,” jawab Seokjin tidak yakin. “Mungkin berdoa untuk kesehatan orang-orang di sekitarku?”

            “Sesederhana itu?” Haewon bertanya lagi.

            “Atau mungkin ...,” Seokjin menghentikan ucapannya.

            “Mungkin apa?” tanya Haewon penuh rasa penasaran.

            “Aku akan minta agar bisa selalu bersamamu.”

            Haewon terbengong-bengong mendengar perkataan Seokjin. Menatap balik tatapan Seokjin yang intens melihat ke dalam matanya. Mencerna kata per kata yang keluar dari bibir tebal Seokjin barusan.

            “Hah?”

            Hanya itu yang keluar dari bibir Haewon.

            Sebelum Haewon sempat berkata-kata lagi, Seokjin sudah memeluk tubuh mungilnya. Pelukan Seokjin terasa begitu nyaman dan hangat. Entah kenapa, Haewon dibuatnya merasa sangat aman dan disayangi. Membuat Haewon merasa dilindungi.

            “Aku mencintaimu. Kamu tahu itu, kan?”

            Seokjin masih tetap memeluknya dalam kehangatan.

            “Aku nggak memaksamu untuk mencintaiku, semua pilihan ada di tanganmu. Walaupun aku merasa, semua yang kita lakukan selama ini adalah hal yang spesial.”

            Haewon bisa mendengar jantung Seokjin yang berdetak dengan cepat. Ia berharap Seokjin tidak mendengar detak jantungnya yang juga berdetak begitu cepat.

            “Semua perlakuanmu sejak kecil, aku merasa ada yang begitu menyayangiku selain eomma. Kedua orangtuaku membuangku, begitu juga dengan kedua orangtuamu. Aku merasa, semua ucapan eomma selama ini benar. Kamu adalah malaikat yang diturunkan untuk membawa kebahagiaan pada orang lain.”

            Napas Seokjin terasa begitu hangat di telinga Haewon.

            “Karena sudah ada malaikat di dekatku, aku merasa nggak perlu menggantungkan harapan pada bintang. Itu alasannya.”

            Dan detik itu juga, Haewon membalas pelukan Seokjin. Membuat Seokjin terkejut, tapi beberapa detik kemudian, ia tersenyum.

            Malam ini, tanggal 25 Desember 2012, adalah pertama kalinya mereka mengetahui perasaan satu sama lain.

***

Seoul, 25 Desember 2014.

            Seokjin menggenggam tangan Haewon yang terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Matanya masih terpejam, wajahnya masih pucat, walaupun tidak sepucat kemarin. Wajahnya memancarkan rasa sakit. Mungkin karena selang infus dan alat-alat lain yang ‘disambungkan’ dengan tubuhnya.

            Kira-kira tujuh bulan yang lalu, Haewon divonis mengidap kanker darah. Ia sempat merasa shock. Namun, bukan Haewon namanya kalau mudah putus asa. Haewon sadar, dengan sisa hidupnya yang—diramalkan—tidak panjang itu, ia memutuskan untuk menjalani hidupnya dengan penuh semangat seperti biasa. Semua penghuni panti asuhan mengetahui bahwa Haewon mengidap penyakit yang begitu parah, tapi mereka memilih untuk menyimpannya dan menganggap Haewon sehat seperti biasa.

            Seokjin sendiri tentu saja terkejut begitu mendengar vonis yang dijatuhkan dokter. Tapi, menangis pun tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Menangis tidak akan membuat Haewon kembali sehat. Dan ia tahu, Haewon paling tidak suka ditangisi.

            Untuknya, wajah Haewon yang tak sadarkan diri begitu menyakitkan untuk dilihat. Memancarkan kesakitan yang amat sangat. Terlihat begitu menyedihkan. Seokjin tahu, sebenarnya Haewon kesakitan selama ini, hanya saja, ia tidak ingin memperlihatkannya pada orang lain. Haewon selalu ingin terlihat baik-baik saja. Haewon tidak suka ada orang yang menangis karenanya. Ia tidak mau orang lain merasa sakit dan sedih karenanya.

            Walaupun sebenarnya, melihat Haewon berpura-pura sehat lebih menyakitkan.

            Seokjin mendekatkan wajahnya ke arah telinga Haewon. Seokjin mulai berbisik, “Haewon-a, aku minta maaf atas segala kesalahanku selama ini. Aku minta maaf jika aku tidak bisa mengontrol emosi dan perkataanku saat masih kecil dulu. Aku minta maaf jika aku sering mengejekmu. Aku minta maaf jika aku belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.”

            Seokjin menggenggam tangan Haewon lebih erat.

            “Haewon-a, aku mencintaimu. Kamu tahu itu, kan?” bisik Seokjin. “Kalau kamu lebih memilih dan lebih bahagia untuk berada di sebelah Tuhan, tidak apa-apa. Aku tidak akan sedih. Asalkan menurutmu itu lebih baik, aku tidak apa-apa.”

            Pandangan Seokjin mulai kabur. Air mata mulai menggenangi kelopak matanya.

            “Hari ini tanggal 25 Desember. Ulang tahun kita. Kalau kamu menginginkan agar segera berada di sebelah Tuhan, aku akan minta Tuhan mengabulkannya. Aku tahu, kalau itu memang benar-benar harapanmu dan Tuhan benar-benar mengabulkannya, itu akan jadi hadiah terbaik yang pernah kamu dapat, kan? Dan melihatmu bahagia, itu juga hadiah terbaik dalam hidupku.”

            Setetes air mata turun dari mata Haewon yang masih terpejam. Haewon memang tidak melihat, tapi Seokjin tahu, Haewon mendengar ucapannya.

            25 Desember 2014. Ini kali pertama Seokjin melihat Haewon menangis.

***

Seoul, 25 Desember 2020.

            Tangan Seokjin menyentuh album foto yang terlihat usang. Diusapnya album itu secara perlahan, membuat debu-debu yang ada di permukaan album itu menempel di tangannya. Natal tahun ini ia lalui di panti asuhan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekarang masih pagi. Masih terbilang sangat pagi malah. Tapi Seokjin sudah rapi sejak tadi.

            Seokjin membuka halaman pertama album tersebut. Ia melihat foto dua orang bayi yang sedang tertidur berdampingan. Ia kenal bayi itu.

            Kim Seokjin dan Kim Haewon. Hari pertama mereka di panti setelah kami menemukan mereka berdua di sebuah Natal tahun 1995.

            Seokjin tersenyum kecil. Tangannya segera membalik halaman album. Di halaman kedua, ia melihat foto semua penghuni panti asuhan yang didirikan oleh mendiang Nyonya Song. Matanya menangkap sosoknya saat masih kecil. Membuat senyumnya makin mengembang.

            Panti Asuhan Nyonya Song. Anak-anakku begitu manis, kan?

           Beberapa halaman selanjutnya memperlihatkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam maupun luar panti. Bola mata Seokjin menatap selembar foto di saat ia dan Haewon bertengkar karena adonan kue. Senyum Seokjin berubah menjadi tawa kecil. Konyol jika ia mengingatnya.

            Haewon dan Seokjin berjanji padaku untuk tidak bertengkar lagi. Senangnya, melihat anak-anakku akur kembali.

            Tangannya kembali membalikkan halaman album itu satu persatu. Ada fotonya bersama beberapa anak panti yang dekat dengannya, seperti si Kembar Jimin dan Jeongguk. Ada juga foto para pengurus panti.

            Seokjin terus membalikkan halaman album hingga akhirnya ia sampai di halaman terakhir. Foto seorang gadis memenuhi sebagian halaman, di sebelah foto itu, terlihat sebuah amplop tulisan yang sudah mulai pudar.

            In memoriam, Kim Haewon. Malaikat yang turun pada tanggal 25 Desember 1995, menjelma menjadi anak yang tumbuh dengan hati yang suci dan begitu kuat. Anakku, apakah kamu bahagia berada di samping Tuhan? Eomma harap begitu.

            Seokjin terpaku melihat tulisan Nyonya Song. Apakah Nyonya Song juga berpikiran sama dengannya? Apakah beliau berpikir bahwa kebahagiaan Haewon adalah berada di samping Tuhan?

            Amplop berwarna kekuningan itu sekarang ada di tangan Seokjin. Ia membuka amplop itu perlahan-lahan dan menemukan selembar kertas yang juga sudah berwarna kekuningan. Matanya mulai membaca tulisan yang tertulis dengan rapi di atas kertas itu.

            Annyeong, Kim Haewon di sini!

            Apakah seseorang telah membuka surat dariku? Apa kabar kalian semua? Apa kabar Nyonya Song? Apa kabar Seokjin? Dan apa kabar diriku, Kim Haewon beberapa tahun mendatang? Aku di sini masih melawan leukimia yang bersarang di dalam tubuhku. Tenang saja, aku akan terus berjuang untuk bisa sembuh! Bukan Kim Haewon namanya kalau patah semangat! Fighting!

            Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalaku.

            Bagaimana keadaan Panti Asuhan Nyonya Song? Apakah ada perkembangan? Apa masih banyak anak yang bernasib sama dengan kami? Bagaimana keadaan anak-anak yang seumur denganku? Apakah kalian sudah sukses? Apakah kalian masih suka menggantungkan harapan pada bintang—kecuali Seokjin—sepertiku? Hei, ada apa saja di zaman kalian?

            Aku, di sini, sangat penasaran dengan keadaan kita semua di masa depan. Rasanya, aku benar-benar ingin menciptakan mesin waktu dan melihat kehidupan kita semua di masa depan. Bagaimana menurut kalian? Apa ideku ini bagus?

            Ah, tidak perlu mesin waktu. Tentu saja seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaanku tadi akan terjawab dengan sendirinya. Aku, di masa depan, akan melihat sendiri hasil dari perbuatanku selama ini. Jujur saja, aku agak takut membayangkan masa depanku. Apakah aku akan memetik buah yang manis hasil dari kebaikanku? Atau justru aku akan memetik buah busuk hasil dari keburukanku?

            Tenang saja, Kim Haewon. Suatu saat, kamu akan melihat hasil pekerjaanmu. Aku yakin, dengan usahaku sekarang, aku bisa mengabulkan harapanku sendiri. Itu yang Seokjin katakan padaku pada Natal tahun 2012 di depan Sungai Han.

            Baiklah, mungkin itu saja. Sebenarnya, masih banyak yang ingin kutanyakan. Tapi, semua itu akan terjawab, kok. Jadi, aku sudahi saja surat ini. Salam untuk Panti Asuhan Nyonya Song di masa depan, ya.

            Aku, Kim Haewon, selalu menyayangi kalian semua.

 

Annyeong,

Kim Haewon.

            Seokjin memaksakan sebuah senyum di wajahnya. Mencoba menahan tangisnya. Ia tahu Haewon tidak suka ditangisi dan ia tidak akan menangisi Haewon.

            Kenapa?

            Karena ia tahu, lewat surat ini, Haewon menyampaikan berita padanya.

            Haewon telah bahagia di sisi Tuhan.

Hari ini hari Natal. Tanggal 25 Desember 2020. Kim Seokjin, satu dari dua malaikat yang turun ke Bumi, memahami perasaan malaikatnya yang satu lagi.

 

The End.

POPULAR FANFICTION

BERITA PILIHAN

COPYRIGHT 2024 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK