home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Bad Boy Meets Good Girl

Bad Boy Meets Good Girl

Share:
Author : natadecocoo
Published : 23 Dec 2013, Updated : 03 May 2016
Cast : Myungsoo,Jiyeon,Lee Minah (OC),Kai,Jung Soojung
Tags :
Status : Ongoing
9 Subscribes |3774780 Views |27 Loves
Bad Boy Meets Good Girl
CHAPTER 1 : The Beginning

Jika memang hanya ini yang bisa membantu Minah untuk mencari tahu semuanya, aku akan melakukannya. Melakukan semua ini untuknya.

         


Setelah memasukkan kunci ke lubang pintu rumahnya dan memutar kenop, Jiyeon melangkah lunglai memasuki rumahnya. Rumahnya saat itu jelas kosong, mengingat keluarga satu-satunya, ayahnya, akan pulang larut malam. Ia lemparkan pelan tubuh 94 ponsnya ke sofa butut yang terposisi di ruang tengah rumahnya.

            Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur. Namun usaha memejamkan matanya malah berhasil kepada sesuatu yang tidak ia inginkan. Ia teringat akan tangis sahabatnya, Minah. Tentang betapa wajah Minah tidak seperti biasanya beberapa hari ini.

            “Ya, Park Jiyeon! Ada apa dengan wajahmu? Kamu tak biasanya melipat wajahmu seperti itu.” Sebuah suara menyapa Jiyeon. Suara yang tidak asing lagi bagi telinganya.

            Membuka matanya pelan, Jiyeon dapat melihat Kai duduk nangkring di pegangan sofa rumahnya. Sambil memegang sebuah DVD.

            “Kai-ya..Aku sedang..” Jiyeon berusaha menjawab, tetapi terputus oleh ucapan Kai.

            “Masih masalah teman karibmu itu?” tebak Kai. Jiyeon mengangguk lesu.

            “Ya, dia yang sedang bersedih mengapa kamu ikut sedih? Sudahlah, hidup itu untuk dinikmati bukan?” Kai mengedikkan bahunya.

            Jiyeon bangun dari posisi tertidurnya kemudian duduk di pinggiran sofa.

            “Ini tidak semudah itu. Apakah kamu pernah mendengar ‘jika salah satu jari kita sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya? Ya seperti itulah keadaannya sekarang. Aku menjadi ikut merasakan kesedihan yang melanda Minah.” Jawab Jiyeon panjang, dengan nada lemahnya. Baginya, tidak semudah itu tidak ikut merasakan kesedihan orang lain. Apalagi teman yang telah menemani beberapa bulan hidupnya di SMA Woollim, sekolahnya saat ini.

            “Baiklah, aku mengerti.” Kai kembali mengedikkan bahunya sambil memutar bola matanya ke atas. “Sekarang, bagaimana kalau kita menonton ini?” Lanjutnya sembari menunjukkan Jiyeon DVD yang sedari tadi ia pegang.

            “Mission Impossible?” Jiyeon menaikkan salah satu alisnya setelah membaca tulisan yang tertulis di cover DVD yang Kai pegang. Kai tersenyum, mengkonfirmasi pertanyaan Jiyeon.

            “Apakah kamu sedang terobsesi dengan film genre action? Pekan lalu, kita telah menonton seri James Bond, dan sekarang Mission Impossible?”

            “Wae? Kamu tidak suka?”

            “A-aniyo, aku tidak keberatan.” Jiyeon memberi Kai senyum, yang langsung Kai artikan sebagai lampu hijau baginya. Hal itu membuatnya langsung melangkah ke arah DVD, menyalakannya dan memasukkan DVD ke dalamnya.

            “Bioskop Kaiyeon, segera dimulai~~” ujar Kai dengan nada yang ia buat sendiri. Jiyeon tertawa kecil melihat tingkah kawannya tersebut.

            Kai yang memperhatikan tawa sahabat karibnya itu kemudian tersenyum. ia senang melihat tawa dan senyum dari bibir Jiyeon. Baginya, kebahagiaan Jiyeon sangat menular. Rumus sederhana, Jiyeon bahagia, ia pun ikut bahagia.

            Beberapa menit sudah mereka habiskan untuk menonton film yang dibintangi oleh Tum Cruise tersebut tapi Jiyeon seakan pergi ke dunianya sendiri. Ketika Kai berkata sesuatu, ia hanya bisa meresponnya dengan “eh?”, “Apa?”, “Maaf aku tidak memperhatikan.” Dan kalimat lain sebagainya yang menandakan Jiyeon sedang tidak fokus untuk melihat film tersebut.

            Tak lama, Kai pun merasa jengah. Sebenarnya tujuannya sejak awal adalah untuk menghibur Jiyeon, tetapi jika Jiyeon tetap seperti ini, ia merasa usahanya gagal.

            “Baiklah, kurasa kamu tidak suka film bertema detektif seperti ini.” ujarnya lesu.

            “Ya, itu film mata-mata bukan detektif.”

            “Bukankah sama saja?”

            Jiyeon terhenti. Setelah mendengar kata detektif, ada sesuatu yang merangsang saraf pusatnya. Kata ‘detektif’ itu. Entah ia merasa bahwa kata ‘detektif’ itu mengingatkannya akan sesuatu, mengingatkannya tentang masalah Minah.

            Ia teringat akan kata Minah bahwa sahabatnya tersebut ingin sekali mencari tahu tetapi terhalang oleh jadwal shootingnya.

            Apakah aku mungkin bisa membantunya dengan menjadi detektif dadakan? Detektif yang mengamati Kim Myungsoo?batinnya.

            Setelah Kai pulang, ia terus memikirkan hal tersebut. Ia merasa, otaknya sudah buntu dan hanya hal itu yang bisa terpikirkan olehnya.

            Jika memang hanya ini yang bisa membantu Minah untuk mencari tahu semuanya, aku akan melakukannya. Melakukan semua ini untuknya.

            Setelah membulatkan tekad, ia akhirnya berakhir dengan keputusan dan tekad yang bulat. Meskipun ia belum sepenuhnya yakin apakah ia dapat membantu sahabatnya dengan cara yang ia pikirkan tersebut, tetapi ia berpikir bahwa tidak dosa bukan untuk mencobanya?

            “Ya.Aku harus menjadi stalker kali ini.Stalker demi teman baikku, Minah. Agent: Jiyeon Target: Myungsoo”

 

            Sore itu, Jiyeon sengaja untuk tidak mengikuti kelas memasak yang ia ikuti setelah ekor matanya menangkap sosok Kim Myungsoo.

            “Yosh! Agent Jiyeon: active!” Jiyeon meninju kepalan tangannya ke udara, berlagak seperti tokoh mata-mata dalam sebuah film action. Sebenarnya sampai sekarang ini dia belum tahu dan belum mencari tahu apakah perbedaan dari detektif dan mata-mata. Dia akhirnya berakhir di keputusan untuk menyetujui ucapan Kai, bahwa detektif dan mata-mata adalah hal yang sama.

            Jiyeon melangkah perlahan membuntuti Kim Myungsoo dengan buku Campbell Biology di hadapannya; yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya dan mengintip perlahan apa yang ada di depannya. Perlahan tapi pasti. Semakin lama, semakin jauh ia telah membuntutinya. Beruntung baginya Myungsoo berjalan kaki dari sekolah ke rumahnya, sehingga ia dengan mudah dapat membuntutinya.

            “Kim Myungsoo. Model sekaligus aktor dari Heart Agency, satu agensi dengan Minah. Prestasi: menengah ke bawah. Ke sekolah jalan kaki karena jarak dari apartemen ke Woollim Academy jaraknya cukup dekat.” Jiyeon mengeja kalimat yang ada di kertas profilnya sambil mengangguk mengerti dan ia kembali menghadap lurus ke depan, takut kehilangan Myungsoo.

            Langkah Jiyeon tiba-tiba terhenti setelah Myungsoo tiba-tiba terhenti berjalan karena mengangkat sebuah panggilan dari smartphonenya. Jalanan cukup sepi sore itu sehingga Jiyeon dengan mudahnya dapat mencuri dengar apa yang sedang Myungsoo katakan dengan lawan bicaranya lewat telepon.

            “Yoboseyo.”

            Jiyeon semakin mendekat sambil merekam apa yang sedang ia dengarkan menggunakan smart phone putihnya.

            “Nae, Soojung-ah. Aku akan berada di ‘Paradise’ nanti pukul 21.00 malam. Sampai jumpa,honey.”

            Honey?

            Mata Jiyeon melebar mendengar sebuah kata yang terucap oleh bibir Myungsoo. Bukan karena kata itu tabu atau bagaimana.Namun itu sebuah kata yang Jiyeon tahu hanya dikatakan kepada kekasihnya dan ia akan tidak begitu kaget jika seseorang yang Myungsoo panggil di seberang sana adalah Minah tetapi ini Soojung?

            Soojung? Honey?

 

           

            Sepulang dari usaha mata-matanya, Jiyeon melangkah pulang. Ia merasa ia sudah mendapatkan informasi yang cukup penting sore tadi.Saat ini, Jiyeon sedang berada di kamarnya, sedang sibuk membuka GPS yang ada di Smartphone-nya.

            “Paradise? Tempat apa itu?” gumam Jiyeon bertanya-tanya sambil memasang wajah bingung.

            “Itu sebuah club,pabo!”

            “Huwaaa..” Jiyeon berteriak kaget karena tiba-tiba terdengar suara dari sebuah kepala yang muncul di jendela kamarnya.

            “Hahaha dasar bocah kikuk! Aku di sini daritadi,Jiyeon-a. Apakah kamu tida menyadarinya?” Kai tak dapat menahan tawanya,yang membuat Jiyeon memberinya pandangan sinis.

            “Sungguh kai. Itu tidak lucu.”  Jiyeon menyilangkan lengannya.

            “Baiklah. Langsung ke topik, kenapa orang sepertimu ingin ke Paradise?” Kai memiringkan kepalanya; menunjukkan wajah bertanya-tanya yang membuat Jiyeon bercerita bahwa itu semua untuk sahabatnya Minah.untuk mengetahui apakah Myungsoo mempunyai kekasih lain selain Minah.

            “Aah..aku mengerti.Kalau begitu aku tidak akan membantumu.”

            “What? Ya! Kau harus membantuku!”Jiyeon menudingkan telunjuknya ke arah Kai.

            “Kamu itu benar-benar tak mengerti? Semakin jauh jarak di antara mereka, semakin besar peluangku mendekati Minah.”

            “Jadi..kamu serius menyukai Minah?” tanya Jiyeon, menyatukan kedua alisnya.

            Kai dan Jiyeon terdiam. Jiyeon mengerti benar bahwa Kai sudah menyukai Minah sejak pertama kali melihatnya.

            “Setidaknya bantu aku masuk ke dalam sana.” Jiyeon merajuk Kai. Wajah memelas yang Jiyeon buat akhirnya membuat dirinya melunak.

            “Ugh..baiklah.kali ini saja,mengerti?”

            Jiyeon mengangguk riang sambil menunjukkan sederetan rapi gigi putihnya.

            Akhirnya Kai memasuki kamar Jiyeon lewat pintu depan dan me-makeover Jiyeon sedemikian rupa.

            “Gunakanlah gaun warna hitam agar tak begitu terlihat.” Kata Kai sambil menunjuk gaun hitam Jiyeon yang ada di dalam klosetnya.

            Sebetulnya bukan itu alasan Kai yang sebenarnya. Ia memilih gaun hitam tersebut karena hanya gaun itu yang agak modern; tidak old-fashioned seperti pakaian Jiyeon yang lainnya. Maklum saja, pakaian Jiyeon kebanyakan rok panjang di bawah lutut dan atasan lengan panjang semua. Beberapa adalah jaket, seragam dan celana training.

            “Aku akan menunggumu di luar saja. Aku tak suka suasana klub.” Kata Kai lagi yang membuat Jiyeon mengangguk angguk. Padahal, kenyataannya, Kai adalah lady-killer dan klub sudah menjadi tempat yang sering ia kunjungi. Hanya saja, ia tidak mau jika Jiyeon mengetahuinya. Entah karena alasan apa.

            Setelah memakai dress hitam yang Kai sarankan, Jiyeon keluar dari kamar mandinya dan melihat bayangannya di depan cermin.

            “Bagaimana? Tampaknya aku tak cocok menggunakan pakaian seperti ini..” Ia melihat ke baju milik kakak perempuannya yang ia berikan padanya.

            Kai terdiam. Ia baru kali ini melihat penampilan Jiyeon yang seperti ini. Biasanya Jiyeon yang dia tahu selalu memakai celana dan rok panjang yang baginya terlihat sangat konservatif. Tak sadar, Kai merasakan kedua belah pipinya panas dan memerah serta aliran darahnya terasa cepat mengalir melalui urat-urat nadinya.

            “Kamu terlihat cantik Jiyeon ah menggunakan gaun itu.”

            “Geojitmal! Aku tahu kamu berbohong” Jiyeon mengulurkan lidahnya ke arah Kai. Kai hanya bisa berlalu karena ia tidak ingin wajah merah kepiting rebusnya terlihat oleh Jiyeon.

           

            Jiyeon melenggang memasuki Paradise dan langsung mencari sosok Myungsoo. Namun sepertinya kehadirannya mengundang banyak perhatian. Setiap namja yang melihatnya terpesona dengan lekuk tubuhnya namun tidak dapat berbuat apa-apa karena Kai berdiri di belakangnya. Bagi mereka, Kai dan Jiyeon terlihat seperti sepasang kekasih dan itulah yang membuat setiap namja menghembuskan nafas mereka kecewa. Begitu juga para yeoja yang sedang berada di sana, mereka juga menghembuskan nafas mereka kecewa ketika melihat betapa Kai menggandeng Jiyeon ketika mereka melenggang masuk memasuki Paradise. Iya, Pada akhirnya Kai tidak dapat meninggalkan Jiyeon sendirian. Ia tahu, terlalu bahaya bagi Jiyeon untuk masuk sendiri. Ia merasa, sebagai sahabat, ia harus menjaganya, menjaga Jiyeon.

            Kai juga tampak menawan malam itu; membuat setiap pasang mata para wanita di klub tersebut memperhatikannya. Tapi tatapan tersebut tidak membuat Kai besar kepala ataupun tebar pesona;ia malah merasa tidak nyaman.

            Sedangkan Jiyeon sendiri, ia tidak menghiraukannya. Ia tidak menghiraukan setiap pandangan yang setiap orang berikan kepadanya. Setelah menemukan sosok Myungsoo, Ia tetap terfokus pada dirinya yang duduk manis dengan seorang gadis di dekat counter bar. Dengan sigap, ia mengeluarkan kamera kecilnya dan memotret Myungsoo dengan seosok wanita yang belum ia ketahui namanya itu.

            “Hmm...mencurigakan” gumam Jiyeon; sembari berjalan menuju ke counter bar ,namun masih menjaga jarak dengan Myungsoo; begitu juga Kai yang mengikutinya.

            “Siapa gadis itu?” tanya Kai sambil meneguk segelas minuman.

            “Molla. Ya! Kau minum apa?!” sontak Jiyeon yang membuat Kai agak tersedak.

            “Apple juice. Tidak usah khawatir. Tak mungkin aku bisa mengantarmu dengan motor sportku jika aku dalam keadaan mabuk.” Ujar Kai membuat Jiyeon tenang.

            “Syukurlah..” Jiyeon menghela nafas.Lalu kembali mengamati Myungsoo.

            Hening. Jiyeon meneguk air ludah yang menyangkut di tenggorokannya. Dengan gerak tangan yang pelan, ia kembali mengambil kamera dan langsung memotretnya. Memotret pemandangan sebuah pasangan yang sedang saling mengadu kedua bibir mereka.

            “Uhuk..” Kai tersedak. Kali ini ia tersedak cukup parah yang membuatnya izin untuk ke toilet.

            “Aku ke toilet dulu, sebentar”

            Jiyeon mengangguk, mengiyakan.

            Menit berikutnya, Jiyeon masih menunggu. Menunggu hingga adegan yang mereka lakukan berakhir dan akhirnya dalam hitungan 1 menit mereka saling melepas diri. Myungsoo tampak membelai rambut hitam panjang sang wanita dan mereka tampak berdialog.

            Penasaran dengan apa yang mereka katakan, Jiyeon mendekat. Kali ini ia berpura-pura memesan minuman kepada sang bartender.

            “Soojung-ah~ Kau tampak cantik hari ini dengan dress hitammu.” Ucap Myungsoo membuat pipi wanita di pangkuannya itu memerah.

            “Ya kim myungsoo! Kamu sudah mengucapkannya beberapa kali.Membuatku bosan saja.Carilah kalimat yang lain.” Wanita di depannya menjawab yang membuat mereka tertawa kecil.

            Jiyeon sebenarnya tidak enak untuk mengamati mereka karena mereka terlihat begitu dekat. Jika mau menghitung, mungkin jarak antar muka mereka hanya sekitar 7 cm saja.

            “Baiklah. Aku akan pulang dulu. Ada jadwal shooting drama baru malam ini.” Soojung kemudian mengecup dahi Myungsoo singkat dan saling bertukar senyum.

            “Baiklah. Hati-hati di jalan Soojung-ah~” Myungsoo melambaikan tangannya.

            Beberapa detik kemudian Myungsoo terdiam sambil menghabiskan tequilla yang sudah ia pesan.

            Jiyeon pun ikut bergerak ketika tiba-tiba Myungsoo beranjak dari kursinya dan pergi menuju ke suatu tempat. Ke lorong menuju toilet lebih tepatnya. Ketika sampai di tempat yang cukup sepi, ia menghentikan langkahnya. Jiyeon pun ikut menghentikan gerak kakinya.

            “Cukup sampai di situ,Park Jiyeon-ssi.” Ucap Myungsoo secara sangat tiba-tiba yang membuat Jiyeon berhenti dan terlonjak.

            “Hentikan permainan detektifmu.” Myungsoo membalikkan badannya dan melangkah mendekati Jiyeon yang masih membatu di tempat.

            “Kau pikir aku tidak tahu? Tch. Bayanganmu terlihat jelas di cermin cembung di jalan,pabo.” Myungsoo melangkah semakin dekat; hingga dari yang berjarak meter menjadi inch. Jiyeon, jelas saja masih membatu di tempat. Ia terlalu kaget hingga ia tidak bisa menggerakkan semua bagian tubuhnya meskipun Myungsoo melangkah dan melangkah semakin dekat ke arahnya. Ke arah patung hidup Park Jiyeon.

            Ia mengamati wajah Jiyeon dengan seksama sambil memberinya sebuah seringai.

            “Kamu..Lumayan juga dari dekat.”

            Nafas bau alkohol menyerbu hidung Jiyeon.

            Dan dengan gerak tiba-tiba, Myungsoo menanamkan sebuah ciuman ke bibir lembut milik Jiyeon. Mata Jiyeon tak elak membulat sempurna. Kali ini lebih lama daripada ciuman yang Myungsoo lakukan sebelumnya. Membuat Jiyeon terkaget serta kehabisan napas karena, pertama: itu ciuman pertama baginya dan kedua: Myungsoo melakukannya dengan sangat dalam. Tangan Jiyeon berusaha mendorong Myungsoo dengan sekuat tenaganya. Tetapi sepertinya ia lupa satu hal, sekuat apapun dia, Jiyeon hanyalah seorang yeoja dan seseorang di depannya adalah seorang namja.

            “Flash!” sebuah suara blitz kamera terdengar.

            Myungsoo melepaskan Jiyeon dan ciuman tiba-tibanya itu. Jiyeon tersengal-sengal dan segera mungkin menghirup oksigen untuk paru-parunya yang terasa sesak.

            “Minah akan terkejut dengan ini.” Myungsoo menunjukkan seringainya ke arah Jiyeon.  

            Dengan itu, ia melangkah pergi meninggalkan Jiyeon yang masih terlalu shock dengan apa yang telah terjadi.

            Jiyeon mencerna apa yang telah terjadi, refleks ia berteriak.

            “Tunggu!”

            Myungsoo masih tetap melangkah.

            “Kumohon jangan lakukan itu.” Teriak Jiyeon, kembali, kali ini lebih kencang.

            Myungsoo terhenti; namun kembali melangkah.

            “Kumohon...” Jiyeon lalu terisak. Air mata tanpa sadar mengalir lembut di pipinya. Sebenarnya dari tempat Myungsoo sekarang ini, ia dapat mendengarkan apa yang diucapkannya, tetapi ia meutuskan untuk mengacuhkan Jiyeon dan melangkah pergi.

            “Kumohon padamu Kim Myungsoo.Jangan lakukan itu. Dia sahabat pertamaku.”

            Tangis Jiyeon semakin menjadi. Myungsoo lalu menengokkan lehernya dan melihat sesosok yeoja yang ia ketahui bernama Park Jiyeon itu menangis. Merasa sedikit empati, ia membalikkan badannya dan kembali mendekat ke Jiyeon.

            “Apa yang dapat kamu lakukan untukku jika aku tidak memberikan foto ini kepadanya?” Myungsoo mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon dengan wajah menantangnya.

            “A--Aku akan melakukan apapun yang kau mau.” Jiyeon berhenti menangis namun suaranya masih terdengar bergetar, berpura-pura berani untuk melihat langsung ke mata Myungsoo.

            “Tch.Menarik.” Myungsoo berdecak.

            “Baiklah. Jadilah pesuruhku selama 1 bulan,Park jiyeon-ssi.”

            Tanpa Jiyeon sadari, tangan Myungsoo meraih tas kecil warna pink miliknya dan mengambil smartphone nya. Dengan gerak jari yang cepat, ia memanggil nomor smartphonenya dengan menggunakan smartphone milik Jiyeon yang dengan kata lain Myungsoo telah menyimpan nomor Jiyeon di smartphone miliknya.

            “Diam tanda setuju,Park Jiyeon-ssi. Dan besok adalah hari pertamamu.”


 

COPYRIGHT 2021 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK