home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Mianhae Appa... I Am Not Perfect

Mianhae Appa... I Am Not Perfect

Share:
Author : Eva1993
Published : 19 Nov 2013, Updated : 26 Nov 2013
Cast : 2197
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |2644 Views |1 Loves
Mianhae Appa... I am Not Perfect
CHAPTER 1 : Oneshoot

Mianhae Appa... I am Not Perfect

Author : @eva_khair

Main Cast : Baekhyun EXO & Tiffany SNSD

 Support Cast : Hyuk Je (OC)

Genre: Angst & Romance...(Maybe)

 Type: Oneshoot

Ratting: 15+ (di mohon kpd yg mrsa dibwh umur jgn baca,,,!!! Hahaiiii.... klo klian eror author gk tanggung resikonya ya??? Wkkkk =D )

Ps : Gaje, Aneh… n banyak TYPO!!!

Aloha Readers... author datang nih bwa FF Oneshoot, kli ini cast-nya Baekhyun n Tiffany. Alnya author lgi seneng ma tuh couple. Hehe... oya utk castnya Cuma minjem. Tau dong ya??? Ntar jga dibalikin lgi. Hahaiiii =D. Inget! FF Ini asli krya Author,  jd jngn diCOPAS apalgi  diBAJAK! hahaaiiii... =D

NB : FF ini terinspirasi dri kisah nyata yang author bca tentang wanita yang kehilangan 2 tangannya sejak lahir.

Mianhae Appa... I am Not Perfect

“ Baekhyun Oppa...  anak kita kemana  Oppa? Dia kemana?  Kajja kita cari oppa... kajja! “ kata Tiffany sembari menarik tangan suaminya Baekhyun. Dia sangat khawatir sekali.

“Aisssh... palingan dia juga lagi main.” Jawab Baekhyun cuek. Laki-laki imut itu seolah tidak memperdulikan keadaan istrinya yang sedang gelisah.

“Tapi Oppa... dari tadi aku sudah cari-cari tapi tidak ketemu-ketemu. Kajja Oppa! kita cari lagi.” Ucap Tiffany masih tetap dengan wajah khawatirnya sembari menarik –narik tangan suaminya.

“Aisshh... ya sudah!  Anak seperti itu saja di cari-cari!“ Ketus Baekhyun.

Baekhyun POV

Aisssh... menyebalkan sekali, kemana sih anak itu? Kalau nanti ketemu akan kupukul habis-habisan. Seenaknya saja membuat khawatir  Tiffany. Kalau bukan karena Tiffany, sudah kubuang dia dari dulu. Malu sekali aku punya anak seperti itu. Aisssh... Jinja!

Tiffany POV

Aku tahu Oppa... aku tahu anak kita tidak seperti yang kau harapkan. Anak yang tampan dan sempurna sepertimu. Tapi tentu Oppa tahu, bukan aku yang menginginkan seperti ini. Karena ini sudah menjadi  takdir-Nya. Haruskah kita menolak Oppa? Padahal dulu kita sangat mendambakan kehadirannya. Meskipun pada akhirnya yang kita dambakan itu jauh dari kata sempurna.

Author POV

Di tengah keramain pengunjung Lotte World, sebuah taman hiburan yang sangat terkenal dan menjadi tempat sempurna bagi pengunjung, terutama sanak keluarga yang mencari tempat untuk refresing atau melepas kepenatan. Terlihat seorang anak laki-laki usia enam tahun yang sangat menikmati salah satu wahana permainan. Sebelah tangan kanannya mencoba menggapai salah satu wahana permainan itu. Sementara tangan satunya lagi tidak nampak sama sekali. Jelas saja tangan kirinya buntung sejak lahir.

Anak itu terus saja bermain dengan gembira. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang memandangnya aneh, kasihan, bahkan ada pula yang memandang jijik. Maklum saja, ini adalah pertama kalinya dia di ajak keluar bermain oleh ke dua orang tuanya ke Lotte World. Taman bermain yang sangat terkenal itu.

Dua jam kemudian.

“Aisssh... ternyata di sini kau hah? Dasar anak nakal!” Bentak  Baekhyun  kemudian menjewer telinga anaknya. Laki-laki tampan sekaligus imut itu sangat kesal sekali karena sudah lelah berjam-jam mencari Hyuk Je.

“Appo Appa... appo...” Keluh anak itu meringis kesakitan.

“Sudah Oppa... kasihan kan Hyuk Je.”  Kata Tiffany kemudian melepas  tangan suaminya dari telinga Hyuk Je.

“Aissh... kenapa sih anak seperti ini kau bela? Benar-benar menyebalkan! Ya sudah, kajja kita pulang!” Gerutu Baekhyun ketus bercampur kesal yang tidak bisa di tahannya.

– Flashback –

Tiffany POV

“Oppa... aku hamil Opaa... aku hamil!” Ucapku gembira kemudian memeluk suamiku yang baru pulang dari kantornya. Kegembiraan ini tidak bisa kutahan lagi. Karena sudah lama kami menginginkan seorang  anak.

“Benarkah chagi?” Tanya suamiku dengan mata yang berbinar. Dia terlihat sangat senang menerima kabar gembira ini.

“Benar Oppa... aku hamil!” ucapku penuh semangat.

“Ommo... ini kabar gembira chagi, aku sangat senang. Gomawo...” Ucapnya kemudian kembali memelukku. Dia sama bahagianya denganku.

“Chagi.” Katanya lagi setelah melepas pelukannya.

“Kamu harus di beri hadiah special. Besok kita bersenang-senang nde?” Lanjutnya sembari tersenyum menggoda.

“Bersenang-senang? Hmmm... oke. Tapi kemana Oppa?” Tanyaku yang sedikit penasaran.

“Rahasia dong, hehe...” jawabnya sembari tersenyum jail dan kembali memelukku erat.

Pagi harinya Oppa langsung menutup mataku dengan syal hitam lembut yang biasa dipakainya. Aku yang di perlakukan seperti itu tentu saja sangat senang sekaligus penasaran kejutan apa yang akan di berikan Oppa padaku.

“Nah chagi, tidak boleh membuka mata nde? Kalau buka mata kejutannya tidak jadi.” Bisik Oppa ditelingaku.

“Nde Opaa, jangan lama-lama. Kajja kita pergi! Aku penasaran sekali.” Kataku yang memang penasaran.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat lama. Entah berapa jam , akhirnya kami sampai juga ditempat tujuan. Dan aku masih menutup mata. Tidak berani membuka Syal hitam ini. Karena aku takut nantinya Oppa kecewa padaku.

“Nah chagi, sekarang buka mata.” Bisiknya kemudian membuka syal hitam penutup mataku.

Perlahan aku membuka mata. Kurasakan silaunya terik matahari yang menembus retina mataku. Dan tepat di depan mataku kini pemandangan alam yang begitu sempurna. Hamparan pantai dengan pasir putihnya . Tunggu, dimana ini? Jeju! Pantai Hyeopjae!

“Ommoo... Oppa... ini...” kataku tidak bisa melanjutkan kata-kata . saking senangnya akan di bawa ketempat yang selama ini aku inginkan. Oppa tersenyum, telihat senang  sekali melihat ekspresiku yang terkejut dengan apa yang Ia perlihatkan.

“Chagi, coba lihat sana! Pasir pantainya bersih ya!” kata Oppa sembari menunjuk ke arah pantai. Mendengar itu sontak mataku beralih ke arah yang di tunjukkan Oppa. Dan ommo... lagi lagi aku di buatnya terkejut. Sungguh indah kata-kata yang terlukis di tengah pasir itu. “Saranghae Tiffany-ah, Jeongmal saranghae.” .  Aku yang melihat itu membekap mulutku sendiri. Tidak mampu berkata-kata lagi. Setetes cairan bening pun kini tanpa sengaja terjatuh.

“Oppa, nado saranghae Oppa, nado saranghae, nado Oppa ... nado. “ kataku sembari memeluknya erat. Tidak ingin melepasnya lagi. Laki-laki yang membuatku bahagia, dan selalu mengisi hari-hariku dengan penuh canda dan tawanya.  Sungguh aku bersyukur mendpatakan suami seperti dia. Semakin kueratkan pelukanku, dan menangis terharu di dada bidangnya. Aku tidak peduli meskipun Oppa akan mengataiku cengeng lagi. Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah aku tidak ingin kehilangannya.

“Sudah chagi, kenapa malah menangis sih? Oppa mengajakmu kesini kan buat senang-senang, kenapa malah menangis? Ih dasar Tiffany cengeng.” Katanya menggodaku.

“Aku tidak peduli Oppa...Saranghae, saranghae opaa...” kataku lirih , tapi kuyakin dia mendengarnya.

“Nado chagiya, nado.” Jawabnya kemudian mencium keningku, pipiku, kemudian bibirku. Hangat dan dalam.

 

– Flashback End –

Tapi itu dulu, ketika kami belum di anugrahi seorang anak yang kini tidak sesuai harapannya. Setelah melahirkan Hyuk Je,  aku dan Oppa sangat syok ketika mengetahui anak yang kulahirkan ternyata jauh dari sempurna. Bayi mungilku itu kehilangan tangan kirinya. Sungguh ironis dengan apa yang selama ini aku bayangkan. Tapi meski demikian , aku tetaplah seorang ibu yang akan menyayangi buah hatiku apapun yang terjadi.  Sedangkan Oppa , aku tahu ini sangat berat baginya. Bahkan kurasa dia belum menerima kehadiran Hyuk Je sepenuhnya. Apalagi sering kudengar kabar bahwa dia sering sekali di olok-olok rekan kerjanya karena punya anak seperti Hyuk Je.

 Author POV

“Appa... gambarku bagus tidak?” tanya Hyuk Je mencoba menarik perhatian Appanya untuk kesekian kalinya.

“ Aisssh... sana-sana! Aku sedang kerja, kau ini! Pergi sana!” Kata Baekhyun kasar. Namun sepertinya Hyuk Je tidak menghiraukan kata-kata  Appanya yang kasar itu. Ia terus mendekati Baekhyun.

“Appa, coba lihat ini Appa... gambarku bagus tidak? Aku ingin menjadi arsitek seperti Appa.” Kata Hyuk Je lagi dengan polos sembari tersenyum.

“Aisssh... Jinja! Sudah kubilang aku lagi kerja. Kau ini! Pergi sana! Dasar anak nakal!!!”  Geram Baekhyun kemudian mendorong Hyuk Je dengan keras.

“Au, Appo...” Ringis Hyuk Je kesakitan karena tangan kanannya tidak sengaja membentur meja lain yang berada di ruang kerja Baekhyun.

“Aisssh... berisik sekali kau! Kalau tidak ingin di dorong lagi, pergi sana!” Geram Baekhyun.

Akhirnya Hyuk Je pun keluar.  Anak laki-laki itu  diam-diam menangis sesenggukan di sudut belakang halaman rumahnya.

“Appa... kenapa  Appa jahat sekali? Hyuk Je salah apa Appa? Hiks... hiks...  kalau Hyuk Je salah, Hyuk Je minta maaf Appa...hiks... mianhae Appa... hiks, mianhae...” Tangis anak laki-laki itu tiada henti-hentinya.  Sengaja Ia menangis di sudut belakang halaman rumah, karena ia tidak ingin seorang pun mendengarnya. Terutama Eommanya yang sangat menyayanginya.

Tiffany POV

Aku tidak tahu dari mana bunyi tangisan ini. Tapi aku tahu jelas ini suara buah hatiku Hyuk Je. Kucari asal suara tangis itu kesekeliling rumah. Sampai akhirnya aku pun menemukannya menangis di sudut halaman belakang rumah kami.

“Aigooo... Anak Eomma kenapa?” Tanyaku kemudian memeluknya.

“Hyuk Je tidak apa-apa Eomma.” Jawabnya di sela-sela tangis.

“Kalau Hyuk Je tidak apa-apa kenapa Hyuk Je menangis? Ayo cerita sama Eomma.” Kataku membujuknya.

“Hyuk Je tidak apa-apa Eomma. Oya, gambar Hyuk Je bagus tidak Eomma?” katanya  sembari tersenyum di sela-sela tangisnya. Kurasa ia menyembunyikan sesuatu.  

“Aigoo... anak Eomma pintar sekali menggambar. Coba Eomma lihat lagi. Waaah ada gambar Eomma, Appa dan Hyuk Je. Anak Eomma benar-benar hebat.” Pujiku terharu setelah melihat gambar yang diperlihatkan Hyuk Je padaku.

“Iya dong? Hyuk Je... hehe... Hyuk Je ingin jadi arsitek seperti Appa.” jawabnya  senang sembari  menunjuk dirinya sendiri. Dan saat itulah tanpa sengaja kulihat lengan kanannya berdarah.

“Aigooo.... kamu kenapa Hyuk Je! Kenapa bisa berdarah seperti ini?!” Tanyaku kaget setelah melihat banyak darah di lengan kanannya.

“Ayo ikut Eomma, Eomma obati.” lanjutku kemudian.

“Hyuk Je tidak apa-apa Eomma...” Elaknya sembari menunduk. Membuatku jadi curiga karena tidak biasanya dia seperti ini.

“Kamu kenapa Hyuk Je? Jawab Eomma, jangan  bohong  Hyuk Je. Eomma tidak ingin punya anak yang pembohong.” Kataku kini dengan nada sedikit keras.

“Hyuk Je tidak apa-apa Eomma...” Jawabnya masih tetap menunduk. Membuatku semakin berpikir macam-macam.

“Jawab Eomma Hyuk Je, lihat Eomma! Kamu tau Eomma tidak suka punya anak pembohong kan? Jawab!  Kenapa tanganmu bisa berdarah begini?” Kataku dengan nada yang semakin keras. Tidak tahan lagi melihat luka ditangan kanannya.

“Eemm... itu... Appa... Hyuk Je... tidak sengaja.” Jawabnya terbata-bata.  Tak terasa raut wajahku menjadi panas mendengarnya. Kini sudah jelas kenapa dia menangis dan kenapa lengannya berdarah.

“Ayo ikut Eomma!” kataku geram. Kupercepat langkahku menuju ruang kerja suamiku sembari menyeret Hyuk Je.

“Oppa... apa segitu bencinyakah kau mempunyai anak seperti Hyuk Je??!!! Segitu malunya kah kau punya anak seperti dia?!” Ucapku tidak bisa menahan kemarahan lagi setelah sampai di ruang kerja suamiku.

“Ada apa Chagiya...” ucapnya kini menatapku dan sesekali melirik Hyuk Je.

“Lihat ini Oppa! Lengan kanannya berdarah! Dan itu semua gara-gara Oppa. Ingat Oppa! Bagaimana pun dia tetap anakmu! Apapun yang terjadi!”

 “Tapi kau tau chagi, aku tidak ingin anak seperti dia. Aku malu chagi. Apalagi tadi dia menggangguku. Salah sendiri.” Katanya dengan wajah datar.

“Aku tahu oppa, tapi apakah rasa malu itu memudarkan rasa kemanusiaanmu? Apa kau tega melihatnya  terluka seperti ini? Apalagi itu karenamu Oppa! Tak bisakah kau turunkan egomu dan menerima dia apa adanya?!” Kataku tajam tidak tahan lagi dengan sikap egois suamiku itu.

“Aku tau chagi, tapiiii... sudahlah, nanti saja kita bicarakan lagi. Aku sedang kerja.” Elaknya.

“Tidak bisa Oppa, aku sudah muak dengan tingkah egois dan kekanakanmu itu. Aku sudah tidak tahan lagi Oppa. Lebih baik kita bercerai saja.” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku.

 “Mwo?!!! Chagi! kau tidak boleh bilang begitu, bagaimana pun aku tidak akan menceraikanmu!” Jawabnya kaget.

“Terserah Oppa! Yang jelas aku minta cerai! “ kataku ngotot.

“Tidak,! aku tidak akan menceraikanmu! Titik!” kata Oppa tidak kalah ngototnya.  Sementara itu Hyuk Je...

“Auuuu... appoo... appo... kepalaku sakit Eomma ... Appa... “ kata Hyuk Je terlihat kesakitan. Genggaman tangannya terlepas dariku. Dia tidak henti-hentinya menjambak rambutnya sendiri dan memukul-mukul kepalanya. Bodohnya aku karena lupa kalau Hyuk Je juga berada didekat kami.

“Ommo... kamu kenapa sayang? “ kataku khawatir kemudian memeluknya erat.

“Eomma... appo..appo... appo Eomma...” katanya kesakitan.

“kamu kenapa Hyuk Je. Jangan bercanda ya?” kata Baekhyun Oppa mendekati kami.

“Cukup Oppa! aku tidak ingin mendengar Oppa lagi. Hyuk Je kesakitan dan Oppa menganggapnya bercanda?!! Oppa keterlaluan!” kataku  geram kemudian menepis tangan suamiku yang hendak memegang Hyuk Je.

“Sudahlah chagi, maafkan aku. Kurasa dia kesakitan. Lebih baik kita bawa saja dia kerumah sakit. Sini biar aku yang menggendongnya.” Kata Oppa, dan kami pun membawa Hyuk Je kerumah sakit.

Di rumah sakit aku tidak henti-hentinya berjalan mondar mandir. Sangat khawatir sekali dengan keadaan Hyuk Je. Sementara Oppa hanya diam saja , dan sesekali melirik arloji di tangan kirinya. Entah apa yang ada di fikiranya. Apakah dia sedih atau senang melihat anak yang tidak di inginkannya itu kini kesakitan. Kuharap  Oppa bukan orang sejahat itu, yang merasa senang diatas penderitaan anaknya sendiri.

“B agaimana keadaanya dokter?” Tanyaku setelah dokter itu keluar dari ruangan periksa.

“Iya dokter, bagaimana keadaannya?” Kata Oppa terdengar khawatir.

“Untuk sekarang dia tidak apa-apa. Luka di tangan kanannya pun sudah di periksa dan tidak mengalami infeksi. Untung kalian cepat membawanya kemari. Hanya saja... Otaknya mengalami keadaan traumatik. Yaitu keadaan otak yang masih lemah. Jadi dia tidak bisa mendengar suara-suara teriakan yang keras. Kalau dia mendengarnya otomatis otaknya  akan sakit dan mengalami pembekakan. Saya sarankan apabila kalian bertengkar atau  berbicara dengan keras dengan orang lain jangan di depannya. Karena nanti otaknya akan semakin sakit.  sekarang kalian boleh masuk kedalam.”

“ khamsamida dokter.” Kataku .

Setelah mendengar kata-kata dokter tadi aku merasa sangat bersalah karena bertengkar di depan anakku sendiri. Sungguh aku bukan orang tua yang baik.

“Tunggu chagi, Mianhae. Jeongmal mianhae... aku tahu aku salah.” Kata Oppa kemudian memelukku. Terlihat sekali raut penyesalan di wajah tampannya.

“sudahlah Oppa... aku juga minta maaf karena bicara kasar seperti tadi. Lebih baik sekarang kita masuk , dan Oppa harus minta maaf kepada Hyuk Je. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang lagi.”

“Nde chagi, Oppa akan minta maaf dan bersumpah menjaganya.” Kata Oppa sembari melepas pelukannya. Dan akhrinya kamipun masuk dan kompak memeluk sang buah hati.

End.

Gimana FF-nya Readers? Baguskah? Jelekkah? Gajekah? Or apapun itu, ditunggu komennya yook! Ingat! Read,Like, N Commant! Hahaiii... Author maksa!

 

POPULAR FANFICTION

BERITA PILIHAN

COPYRIGHT 2024 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK