home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > A Story Of Mine

A Story Of Mine

Share:
Author : sugaryg
Published : 05 Nov 2013, Updated : 05 Nov 2013
Cast : Min Yoongi & Kim Soojoon
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |1219 Views |1 Loves
A Story of Mine
CHAPTER 1 : A Story Of Mine

Hari itu hari yang sangat cerah. Cuaca sangat cerah sehingga orang-orang yang berada di sekitar lapangan sekolah pun memilih untuk kembali ke kelas masing-masing, menghindari panasnya matahari. Termasuk Kim Soojoon. Murid perempuan ini sudah bertahan di lapangan yang panas selama 10 menit. Soojoon sebenarnya ingin sekali kembali ke kelasnya yang berada di seberang lapangan, tetapi ia tidak tega meninggalkan sahabatnya yang membujuknya mati-mati-an untuk duduk di pinggir lapangan. Bosan, itulah alasan Hakyo –sahabat Soojoon- ketika ia ditanya tujuan dari mereka duduk selama ini di tengah panasnya matahari. Memang benar, jadwal pelajaran untuk hari ini sangatlah membosankan ditambah suasana kelasnya yang kurang mengasyikkan. Ketika Soojoon sedang memikirkan bagaimana cara membuat Hakyo ingin kembali ke kelas, ia melihat seseorang yang sepertinya belum pernah ia lihat. Seorang murid laki-laki sedang tertawa dan menunjukkan matanya yang menjadi seperti bulan sabit. Soojoon terpaku dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari murid laki-laki itu.

---

Penasaran. Itulah yang Soojoon rasakan saat ini. Ia terus memikirkan murid laki-laki yang ia lihat tadi di lapangan. Sepertinya, murid laki-laki itu adalah senior-nya. Mungkin 2 tahun lebih tua darinya. Ya, Soojoon adalah murid kelas 1 di sekolah menengah atas. Ia memang baru beberapa minggu menjadi murid di sekolah ini. Tetapi selama berminggu-minggu ini ia tidak pernah melihat kakak kelasnya itu. Mungkin karena beberapa waktu kemarin ia malas untuk pergi ke lapangan dan gedung seberang. Soojoon terus berpikir seperti itu sampai ia tak sadar bahwa Hakyo sudah berada disampingnya. Lalu Hakyo mengguncang pundaknya, menyadarkannya dari lamunannya.

“Ya! Kim Soojoon! Kau serius sekali. Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Hakyo.

“Aniya.” Jawab Soojoon.

“Aku tahu pasti ada sesuatu. Katakan saja.” Kata Hakyo.

Gadis yang baru Soojoon kenal akhir-akhir ini tahu saja kalau ia sedang banyak pikiran atau stress. Memang sejak dari awal mereka bertemu, Soojoon sangat yakin bahwa Hakyo bisa menjadi teman dekatnya. Soojoon dan Hakyo berasal dari sekolah menengah pertama yang berbeda, bahkan berbeda kota. Tetapi mereka banyak mempunyai kesamaan sehingga mereka bisa sedekat ini. Bahkan Soojoon sekarang sudah menganggapnya sebagai sahabat karib nya.

“Ah, itu.. kau lihat kakak kelas yang tadi berada di lapangan?” Tanya Soojoon.

“Yang mana?” Bukannya menjawab, Hakyo balik bertanya.

“Yang tadi sempat bermain bola sebentar.” Jawab Soojoon.

Hakyo berpikir sejenak, mengingat apa saja yang ia lihat tadi ketika waktu istirahat. Lalu tersenyum dan menjawab pertanyaan pertama Soojoon,

“Oh yang dekat dengan kakak-mu itu ya? Memangnya ada apa?”

“Aku bahkan tak tahu kalau tadi ada kakak-ku. Begini…kakak kelas itu.. manis sekali. Kau lihat tidak tadi ia sedang tertawa? Ah manis sekali. Kenapa aku baru melihatnya tadi ya? Kita kan sudah cukup lama bersekolah disini. Lagipula aku sudah beberapa kali mengunjungi kelas kakak-ku kemarin-kemarin.” Jawab Soojoon.

“Kau menyukainya?” Tanya Hakyo sambil tersenyum jahil.

“Aniya. Hanya memuji sedikit kan tidak apa-apa.” Jawab Soojoon, membalas senyum Hakyo.

---

Walaupun sudah beberapa minggu setelah kejadian hari itu, Soojoon masih saja penasaran. Ia ingin bertanya pada kakak-nya tapi takut disangka yang tidak-tidak oleh kakak-nya itu. Kakaknya, Kim Namjoon atau yang biasa dipanggil Rapmon ( katanya itu adalah singkatan dari rap monster. Soojoon tertawa terbahak-bahak ketika mengetahuinya ) , adalah orang yang cukup popular di sekolahnya. Ia dikenal banyak orang dan juga mengenal banyak orang. Maka itu Soojoon berpikir bahwa kakaknya pasti mengenal laki-laki manis itu. Tetapi kakaknya adalah orang yang jahil. Bukan berarti Soojoon tidak percaya pada kakaknya sendiri, tetapi ia takut kalau kakaknya akan memberi tahu orang yang Soojoon maksud itu.

Hari ini Soojoon harus ke gedung tempat senior-seniornya berada. Ia harus belajar di ruang musik bersama teman-temannya. Sedikit berharap bahwa ia akan bertemu dengan laki-laki yang ia tidak tahu namanya itu. Bahkan sejak di beri tahu bahwa ia dan teman-temannya akan belajar di gedung yang satunya, Soojoon dan Hakyo sudah heboh sendiri. Teman-temannya melihat mereka, atau lebih tepatnya pada Soojoon, dengan tatapan yang aneh. Teman-temannya memang tahu kalau Hakyo senang sekali melihat senior-senior yang keren itu. Tetapi Soojoon? Soojoon di kenal tidak dekat dengan kakaknya (tetapi tentu saja mereka dekat, hanya karena ini di sekolah jadi Soojoon tidak mau menunjukkan kedekatannya) dan ia juga terlihat tidak begitu senang ketika bertemu dengan kakaknya (siapa yang akan senang jika setiap ia bertemu dengan kakaknya ia selalu menjadi bahan ejekan kakaknya). Soojoon memang tak pernah kelihatan menyukai seseorang. Teman-temannya mengira ia hanya menyukai artis-artis di luar sana. Mereka tak pernah mendengar Soojoon memuji-muji kakak kelas atau siapalah itu yang berada di lingkungan mereka.

Soojoon berjalan dengan Hakyo di belakang guru mereka. Ya, Sebelum mereka ke ruangan musik mereka ditugaskan untuk menjemput guru mereka di ruang guru satu lantai di bawah ruang musik. Han Seonsaengnim berjalan dengan agak cepat di depan mereka. Tiba-tiba ia berhenti. Otomatis Soojoon dan Hakyo berhenti lalu melihat apa yang membuat mereka berhenti. Mata Soojoon melebar ketika ia melihat seseorang yang familiar di matanya. Ia melihat laki-laki itu. Laki-laki itu sedang duduk di depan kelasnya sambil mengobrol dengan temannya. Lalu tiba-tiba laki-laki itu menoleh, ketika ia melihat siapa yang sedang berdiri disitu ia menunjukkan cengirannya.

“Cepat masuk! Walaupun tidak ada guru kalian tidak diperbolehkan untuk keluar kelas!” Suruh Han Seonsaengnim pada laki-laki itu dan juga temannya. Soojoon dan Hakyo yang melihat kejadian itu tertawa di belakang Han Seonsaengnim. Laki-laki itu berlari masuk ke kelasnya dengan buru-buru. Setelah membuat muridnya masuk, Han Seonsaengnim melanjutkan langkahnya diikuti dua muridnya tersebut.

---

Bel istirahat berbunyi. Murid-murid pun berlomba untuk cepat-cepat memasuki kantin yang berada di gedung yang berbeda dengan kelas-kelas yang ada. Soojoon bersama ketiga teman dekatnya, Jerin, Hakyo, dan Soomin, berjalan dengan lambat ke arah kantin. Mereka tak peduli kalau sandwich kesukaan mereka habis yang penting mereka masih dapat jatah makan dari sekolah. Ketika mereka berada di depan pintu kantin, mereka bertemu dengan rombongan dari kelas akhir. Terlihat Kakak Soojoon berada di tengah kerumunan tersebut.

“Aih, pasti rame sekali ketika mereka memasuki kantin. Maklumlah, orang populer.” Ucap Soomin ketika melihat kerumunan tersebut. Jerin dan Hakyo mengangguk setuju. Soojoon menoleh pada Soomin dan berkata tak percaya,

“Apa kakakku sepopuler itu?”

“Tentu saja, kalau tidak untuk apa perempuan-perempuan itu melihat ke arah pintu secara terus menerus.” Kata Jerin.

“Kalau begitu, laki-laki itu juga termasuk yang populer.” Ucap Soojoon tak sadar. Jerin dan Soomin yang tidak tahu tentang kakak kelas tersebut menatap Soojoon dengan tatapan bingung. Sementara Hakyo mengangguk dan bergumam ‘bisa jadi.’

“Laki-laki yang mana?” Tanya Soomin, penasaran.

“Nanti aku kasih tahu. Sekarang ayo kita masuk dan mengambio jatah makanan kita.” Kata Soojoon, menunda untuk menjawab pertanyaan Soomin.

Setelah mengambil makanan, keempat perempuan tersebut duduk di tempat yang tersisa. Bagi Soojoon, ini adalah keberuntungan. Karena tempat duduk yang ia duduki sekarang tepat berada di belakang tempat duduk yang kakaknya dan teman-temannya duduki. Disana juga terdapat laki-laki tersebut. Soojoon tersenyum kecil ketika melihatnya. Jerin yang menyadarinya ikut tersenyum lalu menyenggol Soojoon dengan sikunya.

“Ah jadi yang itu, Kim Soojoon?”

“Yang mana apanya?” Tanya Soojoon sambil menyembunyikan senyumnya.

“Laki-laki yang kau bilang tadi..yang itu kan? Yang bermata sipit itu? keren juga.” Jawab Jerin.

“Tentu saja ia keren. Kalau tidak keren mataku tidak akan melihatnya.” Ucap Soojoon sambil tertawa.

“Benar juga.” Kata Hakyo, ikut tertawa.

“Jadi, apa kau akan menanyakan namanya kepada kakakmu?” Tanya Soomin. Soojoon menggelengkan kepalanya.

“Aku takut. Kau tahu kan kalau ia adalah makhluk paling aneh dan jahil. Takutnya ia akan bertindak aneh jika aku menanyakan namanya.” Jawab Soojoon.

“Kau harus mencobanya, Joon. Kalau tidak, mau sampai kapan kau tidak tahu namanya.” Kata Jerin.

‘Benar juga.’ Pikir Soojoon. Soojoon tersenyum mendengar ide yang disampaikan teman-temannya itu. Ia harus menemui kakaknya hari ini untuk mendapatkan informasi tentang laki-laki itu.

---

Tok tok.. Soojoon mengetuk pintu kamar kakaknya. Terdengar suara yang menyuruhnya untuk masuk. Perlahan ia memasuki kamar kakaknya yang menurutnya suram itu. Cat dinding berwarna biru agak tua dan ditambah dengan lampu kamarnya yang sudah mulai redup. Kakaknya sedang bermain komputer ditemani dengan cahaya terang dari lampu belajar yang ia tempatkan di sebelah komputernya. Soojoon menghampiri kakaknya lalu duduk di tempat tidur yang sedang tidak dipakai itu. Kakaknya lalu menoleh ke arah Soojoon.

“Ada apa?” Tanyanya heran. Jarang sekali adiknya ini mencarinya kecuali kalau memang ada suatu masalah yang Soojoon tak mau orangtuanya tau.

“Hanya ingin bertanya.” Jawab Soojoon.

“Bertanya tentang apa?” Tanya Namjoon lagi.

“Tentang salah satu temanmu.” Jawab Soojoon sambil melihat lantai kamar Namjoon. Namjoon mengalihkan pandangannya dari komputer lalu fokus pada adiknya. Ia merasa hal ini sangat penting karena jarang sekali adiknya bertanya tentang salah satu temannya.

“Siapa?” Tanya Namjoon lagi.

“Justru itu aku tidak tahu namanya siapa. Temanku menyuruhku untuk bertanya padamu. Kata temanku dia berkulit putih, bermata sipit, lalu hmm..sedikit lebih pendek dari mu.” Jawab Soojoon dengan sedikit berbohong.

“Suga?”

---

Min Yoongi. Atau orang-orang biasa memanggilnya Suga. Itulah nama orang yang selama ini dibicarakan oleh Soojoon dan teman-temannya. Suga adalah pribadi yang pendiam. Tetapi menyenangkan jika diajak bercanda dan mengobrol. Suga memang terlihat sebagai orang yang susah didekati dan bertampang galak jika dilihat dari penampilannya. Setidaknya itulah yang dikatakan Namjoon pada adiknya tadi malam. Soojoon sudah sangat bersyukur karena kakaknya mau memberikan informasi tentang laki-laki itu walaupun hanya sedikit, bahkan tidak diminta oleh Soojoon. Teman-temannya pun senang bukan main ketika tahu nama dari laki-laki itu.

“Jadi namanya Suga? Kenapa Suga? Apa dia suka hal-hal yang manis? Atau..” Kata Hakyo, tetapi belum sempat menyelesaikan perkataannya Soojoon sudah menyelanya.

“Mana ku tahu. Kau tanyakan saja sendiri pada orangnya.” Sela Soojoon sambil menunjukkan muka datarnya.

“Padahal nama ‘Yoongi’ itu lebih manis dibanding ‘Suga’.” Komentar Soomin.

“Sepertinya dia seorang underground rapper. Sama seperti kakakmu. Makanya dia punya stage name yang sekarang malah ia gunakan sebagai panggilannya di sekolah juga.” Kata Jerin.

“Mana mungkin orang semanis dia seorang underground rapper. Tak cocok.” Kata Hakyo.

“Asal kau tahu, kakakku juga seperti itu. Tetapi aku bersyukur ia menjadi seperti itu karena jika ia menjadi Namjoon yang biasa pasti dia tak akan sekeren itu dan bahkan akan membuatku malu mempunyai kakak sepertinya.” Kata Soojoon. Teman-temannya tertawa. 

“Ah Soojoon. Bagaimana kalau hari ini kita ke lapangan lagi?” Ajak Hakyo.

“Untuk apa? Bertemu dengan Jimin Sunbaenim?” Goda Jerin. Pipi Hakyo memerah tetapi ia menggelengkan kepalanya.

“Tentu saja untuk bertemu dengan Suga Sunbaenim. Siapa tahu kan dia berada di lapangan lagi.” Elak Hakyo.

“Arrayo.”

---

Lapangan itu saat ini ramai dipenuhi oleh murid laki-laki yang senang bermain sepak bola maupun bola basket. Soojoon dan keempat temannya (Jinhee mengikuti mereka karena ia bosan di kelas) sedang mencari tempat duduk. Ketika Soojoon menuruni tangga di sebelah tempat duduk itu sambil melihat ke lapangan, matanya menangkap sepasang bola mata yang juga sedang melihat ke arahnya. Ketika ia melihat siapa pemilik sepasang bola mata itu, ia terkejut bukan main. Min Yoongi. Setelah beberapa detik melakukan eye-contact akhirnya mereka pun mengalihkan pandangan mereka lalu Yoongi pun melanjutkan kembali bermain sepak bola. Soojoon masih terkejut. Dalam hatinya ia senang sekali dapat bertemu pandangan dengan orang yang ia ‘kagumi’ itu.

Soojoon lalu duduk di samping Hakyo. Lalu ia menceritakan apa yang terjadi tadi kepadanya. Hakyo pun heboh.

“Jinjja? Ah kau sangat beruntung hari ini. Untung saja kau ku ajak kemari. Kalau tidak hal ini tidak akan terjadi.” Kata Hakyo sambil tertawa.

“Kau ini bisa saja. Baiklah. Cha Hakyo, aku berterima kasih padamu karena kau telah mengajakku kemari walaupun bertemu Suga Sunbaenim bukanlah alasan utamamu tetapi sekali lagi aku berterima kasih.” Kata Soojoon lalu ikut tertawa.

---

Ujian tengah semester pun akhirnya selesai. Soojoon sangat senang sekali tetapi kesenangannya berakhir ketika ia tahu bahwa teman-teman kakaknya itu akan datang ke rumahnya. Bukannya tidak suka, tetapi Soojoon pasti disuruh bergabung oleh kakaknya. Soojoon lebih suka berdiam diri di kamarnya sambil menyalakan laptopnya atau mendengarkan musik lewat ipod-nya. Soojoon berjalan gontai menuju rumahnya. ‘Goodbye happiness.’ Pikir Soojoon.

Ia tak terkejut ketika ia menemukan banyak pasang sepatu di pintu rumahnya. Kakaknya dan kawanannya itu pastinya sudahlah datang. Soojoon memasuki pintu rumahnya lalu berjalan menuju tangga. Ketika ia menaiki tangga, kakaknya berteriak,

“Kim Soojoon cepat ganti bajumu lalu bergabung di bawah denganku!”

Soojoon membalas dengan mengiyakan teriakan kakaknya. Sudah ia duga. Soojoon segera mengganti baju seragamnya. Lalu ia mengikat rambutnya menjadi ikat ekor kuda dan turun ke bawah. Di sana sudah terdapat banyak makanan dan juga teman-teman Namjoon. Namjoon mempunyai sebuah kelompok (itu yang dikatakan Namjoon tetapi orang-orang di sekolah bilang bahwa kelompok mereka adalah sebuah gang) yang dinamai Bangtan Sonyeondan. Yang Soojoon tahu tentang ‘kelompok’ ini adalah mereka beranggotakan 7 orang yang mempunyai satu kesamaan yaitu mereka senang menunjukkan bakat mereka. Satu-satunya orang yang ia tahu kalau dia adalah anggota gang ini (selain kakaknya tentunya) adalah Jeon jeongguk, adik kelasnya saat Soojoon masih di sekolah menengah pertama.

“Kali ini 5 orang? Bukankah kemarin katamu akan ada 6 orang yang kemari? Dan tumben sekali kalian bisa hampir lengkap seperti ini.” Kata Soojoon pada kakaknya.

“Satu lagi sedang kami hubungi. Tentu saja kali ini kan selesai ujian makanya kami semua bisa berkumpul.” Kata Kakaknya.

“Satu lagi? Ah jadi kalian hari ini dalam formasi yang lengkap?” Tanya Soojoon pada kakaknya lagi.

“Ya. Hey Jimin! Cepat hubungi Suga sekali lagi. Bilang kalau aku dan yang lain sudah menunggu disini.” Jawab Namjoon pada adiknya lalu menyuruh temannya untuk menghubungi satu orang anggota yang belum datang itu. Namanya Suga. Tunggu…Suga?!

Mata Soojoon terbelalak mendengar nama tersebut. Suga..Min Yoongi.. yang selama ini Soojoon kagumi (atau yang ia sukai) akan datang ke rumahnya dan Kakaknya meminta Soojoon untuk bergabung dengan mereka?! Mimpi apa Soojoon tadi malam sehingga ia mendapatkan kebahagiaan seperti ini.

Tak lama dari terakhir kali teman kakaknya menghubungi laki-laki itu, akhirnya ia datang juga. Ia memasuki ruangan dengan kaki yang pincang. Semua orang yang berada disitu menatapnya dengan heran, bagaimana bisa ia kakinya menjadi seperti itu.

“Maaf aku telat. Tadi ada kecelakaan kecil.” Kata Suga, atau Yoongi.

“Kecelakaan kecil apa maksudmu?” Tanya teman kakaknya yang bernama Seokjin.

“Tadi aku melamun lalu menabrak sebuah bangunan. Lalu kaki-ku terpelintir ya jadinya begini.” Jelas Yoongi dengan suaranya yang berat itu.

“Kau ini kebiasaan sekali. Mengendarai motor tetapi sempat-sempatnya melamun. Ya sudah sekarang kau duduk dulu lalu kita nikmati pesta makanan ini.”Kata Namjoon sambil tertawa. Yoongi pun duduk di sebelah Soojoon lalu tersenyum sopan kepadanya. Soojoon membalas senyuman itu. Jantungnya berdetak dengan kencang.

‘Oh God, please help me!’

---

Hari demi hari pun terlewati. Banyak moment-moment antara Soojoon dan Yoongi pun terlewati. Saling menatap, berpapasan di jalan, pokoknya banyaklah. Rasa suka Soojoon pun sepertinya bertambah seiring waktu berjalan. Orang-orang disekitarnya pun sekarang sudah banyak yang tahu tentang Suga atau Yoongi itu. Soojoon merasa sepertinya tak ada halangan untuk menyukai laki-laki itu. tetapi sepertinya ia salah.

Hari ini adalah hari yang besar untuk murid-murid di sekolahnya. Mereka mengadakan pesta seni besar-besaran yang akan dilaksanakan di lapangan sekolahnya yang luas itu. Soojoon dan teman-teman sekelasnya memutuskan untuk duduk secara berkelompok di pinggir lapangan yang berhadapan langsung dengan panggung. Ketika sedang asyik mengobrol, dua orang murid pun berjalan melewati tempat mereka. Seorang perempuan dan satu lagi seorang laki-laki yang sepertinya Soojoon kenal. Ketika laki-laki itu menolehkan kepalanya ke temannya lalu tertawa, Soojoon menyadari siapa laki-laki itu. Min Yoongi.

Hampir semua temannya bersorak kecewa melihat pemandangan tersebut tetapi Soojoon hanya terdiam. Ia tidak mau ketahuan kalau ia sebenarnya menyukai laki-laki itu. Mau tak mau Soojoon harus menahan rasa sakitnya.

---

“Aku dan dia hanyalah teman. Jangan khawatir.”

Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di kepala Soojoon. Itulah yang Suga (atau Yoongi) bisikkan kepadanya ketika mereka berpapasan di koridor. Saat itu Soojoon akan menemui kakaknya untuk meminta tumpangan pulang. Tetapi ia malah berpapasan dengan laki-laki yang menyebalkan itu. Soojoon terus berpikir. Jika Yoongi mengatakan itu berarti….selama ini ia sudah tahu kalau Soojoon menyukainya.

Damn.

Soojoon membenamkan kepalanya ke bantal. Ia tak tahu lagi bagaimana jika ia bertemu dengan seniornya itu. Ia merasa malu. Soojoon menghela napasnya. Kalau dipikir-pikir memang akhir-akhir ini senior itu dekat dengan Soojoon. Misalnya saat tadi mereka menonton pesta seni. Ketika Soojoon sedang mengikat tali sepatunya, laki-laki itu tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Lalu ketika ia pukang dan mengikat tali sepatunya (lagi.) , seniornya itu melewati Soojoon dengan jarak yang sangat dekat. Lalu mereka beberapa kali eye-contact. Soojoon kembali menghela napasnya. Lalu mengacak-acak rambutnya,frustasi.

“Kenapa kau lakukan ini padaku, Min Yoongi!”

---

Reaksi yang teman-temannya tunjukkan ketika Soojoon menceritakan apa yang terjadi kemarin berbeda-beda. Hakyo, Jerin, dan Soomin sangat senang dan berteriak ketika selesai diceritakan tetapi ada juga yang mengingatkan Soojoon untuk berhati-hati. Ya, jika sudah seperti ini maka Soojoon harus berhati-hati untuk tidak membuat dirinya sendiri terluka dan kecewa,kan?

Tiba-tiba ponsel Soojoon berbunyi. Soojoon merogohnya dari saku lalu membaca isi pesan yang ia terima.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal berisikan namanya dengan tanda tanya.

Sepertinya pengirim dari pesan ini tidak yakin kalau ponsel ini milik Soojoon. Lantas Soojoon membalas pesan itu dengan menanyakan siapa pengirim dari pesan itu. Tak lama kemudian, ponsel Soojoon kembali berbunyi. Sekali lagi ia mengecek pesan masuknya dan kaget dengan apa yang ia baca. Orang yang mengiriminya pesan itu adalah Min Yoongi. Soojoon spontan berteriak dan alhasil mendapatkan tatapan aneh sekaligus penasaran dari teman-temannya. Hakyo langsung merebut ponsel Soojoon dan membaca pesan tersebut dan malah ikut berteriak. Begitu pula yang terjadi pada Jerin dan Soomin.

“Darimana dia mendapatkan nomor ponselku…”Gumam Soojoon.

“Tentu saja kakakmu, kau ini kadang-kadang bisa menjadi sedikit bodoh juga.” Kata Hakyo. Soojoon mengangguk. Ia benar-benar merasa seperti orang bodoh sekarang. Tubuhnya lemas, jantungnya berdegup kencang.

“Kim Soojoon! Ada satu pesan masuk lagi.” Kata Soomin. Soojoon mengambil ponselnya dari tangan Soomin lalu membaca pesannya. Dari nomor yang sama seperti sebelumnya.

Temui aku di pinggir lapangan sepulang sekolah

Soojoon berteriak sekali lagi. Ia sangat senang. Tetapi untuk apa ia memanggil Soojoon? Soojoon pun tidak bisa berhenti tersenyum membayangkan apa yang terjadi nanti siang.

---

Bel pulang berbunyi. Jantung Soojoon pun masih bedegup kencang seperti tadi. Ia segera membereskan perlengkapan sekolah miliknya lalu memasukannya ke dalam tas hijaunya. Soojoon pun keluar dari gedung bersama ketiga temannya itu. laki-laki bernama Yoongi itu sudah terlihat di pinggir lapangan. Ia sedang memainkan gitar (Soojoon bahkan tak tahu kalau ia bisa bermain gitar) dan terlihat tampan, seperti biasa. Soojoon menghela napas, berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Ia pun menghampiri seniornya itu dan bertanya,

“Ada apa menyuruhku kesini, Sunbaenim?”

“Duduklah.” Suruh Yoongi. Soojoon mengikuti apa yang Yoongi suruh dan duduk di sebelahnya. Yoongi pun mulai memainkan gitarnya. Ia memainkan sebuah lagu yang belum pernah Soojoon dengar sebelumnya. Begitu lagu itu selesai, Yoongi memamerkan gummy-smile nya dan bertanya,

“Bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” Tanya Soojoon kembali sambil berusaha menyembunyikan semburat merah yang ada di pipinya.

“Lagunya tentu saja.” Jawab Yoongi.

“Ah, lagunya…sangat bagus!” ucap Soojoon sambil tersenyum.

“Kau tahu kan aku ini seorang rapper dan pembuat lagu. Suaraku memang tidak sebagus jeongguk. Tapi, lagu ini aku buat untukmu.” Kata Yoongi sambil melihat ke atas dan mengusap lehernya, gugup.

“Sebelumnya aku minta maaf atas kelakuanku. Seniormu ini senang sekali memperhatikanmu dari jauh. Kau cantik. Kau ramah dan senang berkelakuan aneh seperti kakakmu. Kau pintar dalam membuat orang ikut tersenyum ketika kau tersenyum. Dibalik mukamu yang sering menampilkan wajah galak terhadap temanmu itu, aku tau kalau kau ini sebenarnya sangat penyayang dan perhatian.” Lanjutnya.

“Ya! Kim Soojoon! Mau jadi pacarku tidak?” Tanya Yoongi. Ketika Soojoon akan menjawab, Sebuah botol plastik bekas melayang dan berhasil mengenai kepala Yoongi. Yoongi meringis kesakitan dan menoleh ke pemilik botol plastik tersebut. Kim Namjoon sedang duduk tak jauh dari tempat mereka dan menatap Yoongi dengan tatapan tajam.

“Bisakan kau bertanya padanya lebih romantis atau lebih sopan?” Tanya Namjoon. Soojoon tertawa melihat tingkah kakaknya itu. Ternyata selama ini kakaknya juga tau.

“Ok. Aku ulangi. Kim Soojoon, Would you date me?”

Soojoon tersenyum. Rasa sukanya selama ini ternyata tidak sia-sia. Pikirannya tentang cinta bertepuk sebelah tangan pun salah. Soojoon mengangguk dan berkata,

“Yes, I will.”

 

 

-end-

COPYRIGHT 2021 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK