home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Bittersweet Rewind

Bittersweet Rewind

Share:
Author : gurumi7
Published : 11 Feb 2017, Updated : 12 Feb 2017
Cast : Mark Tuan as Mark, Jackson Wang as Jackson, Choi Young Jae as Young Jae, Park Na Ra, Kang Soo Young,
Tags :
Status : Complete
2 Subscribes |564 Views |5 Loves
Bittersweet Rewind
CHAPTER 1 : Bittersweet Rewind

“Obat rindu hanya satu, yaitu bertemu.” Itu kalimat yang sering aku dengar. Maka, disinilah aku sekarang, kembali ke negara tempat aku dibesarkan, tempat dimana ayahku berasal dan tempat dimana orang-orang yang berarti untukku tinggal.

Enam tahun yang lalu, ketika umurku 12 tahun, aku harus meninggalkan Korea dan kembali ke negara tempat ibuku berasal, Indonesia. Ibuku harus kembali ke Indonesia karena suatu hal yang buruk terjadi di kantor miliknya. Sementara aku ikut ibuku kembali ke negara asalnya, ayahku tetap tinggal di Korea bersama kakakku untuk mengurus bisnisnya. Meski begitu, ayah dan kakakku sering mengunjungi kami saat mereka memiliki waktu.

Beda halnya dengan keluargaku yang masih sangat harmonis setelah aku pindah, hubunganku dan teman-temanku tidak berjalan dengan baik. Kami kehilangan kontak satu sama lain. Maklum saja, pada saat itu SNS belum berkembang sebaik sekarang. Berbicara mengenai teman-temanku, aku memiliki beberapa teman yang sangat dekat di sekitar rumahku, Young Jae, Jackson, Soo Young eonnie, dan Mark oppa. Aku sudah nggak sabar bertemu mereka lagi.

Saat ini aku sedang duduk di dalam sebuah coffee shop di area bandara. Dua jam yang lalu pesawatku mendarat di Incheon International Airport. Aku bisa saja langsung naik taxi menuju rumah, tetapi karena kakakku memaksa akan menjemputku—dan itu adalah sebuah keuntungan, karena sejujurnya ongkos taxi akan sangat mahal jika aku nekat naik taxi sampai rumah—maka aku memutuskan untuk menunggunya disini

Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela coffee shop ini, mencari batang hidung kakakku yang belum juga muncul. Namun ternayata, dia sudah muncul disana, berjalan menuju ke arahku.

“Oppa, what took you so long?” Kataku kesal, saat ia menarik bangku di depanku.

“Mian, ada urusan mendadak di kampus.”

“Halah, palingan oppa sengaja, kan? Buktinya sebelum aku berangkat kemarin, oppa menyuruhku untuk menunggu di coffee shop ini.”

“Ani. Oppa benar-benar punya urusan mendadak.” Aku tidak mengacuhkannya. “Oke, kalau kamu masih marah, oppa akan membelikanmu makanan apa aja. Setuju?” Saat ini aku benar-benar ingin tertawa mendengar logat bicara kakakku yang mencoba berbicara dalam Bahasa Indonesia. “Park Na Ra!” Panggilnya.

“Setuju.”

***

Aku sudah selesai membereskan barang-barang bawaanku saat aku mendengar suara seseorang memanggil ayahku. Karena penasaran siapa orang itu—dan sangat berharap kalau itu adalah salah satu temanku—aku segera keluar dari kamarku dan menapaki anak-anak tangga dengan sedikit tergesa menuju lantai satu.

Aku melihat seseorang sedang berbicara dengan kakakku, sepertinya kakakku bilang kalau ayahku sedang di Busan bersama ibuku--yang baru saja sampai di Korea tiga hari yang lalu. Aku dan ibuku memang tidak berangkat bersama dari Indonesia, karena aku masih mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan untuk kuliah disini, maka aku meminta ibuku untuk berangkat lebih dahulu.

“Oppa?” Aku memanggil kakakku, dan saat kakakku menoleh ke arahku, aku bisa melihat seseorang yang aku yakini adalah salah satu temanku.

“Jun Ho hyeong, geu saram Na Ra noona maja-yo?" Kakakku mengangguk dan ia berusaha keras untuk tidak tertawa melihat ekspresi Young Jae. “Na Ra noona eonje waseo?” Namanya Choi Young Jae, dia adalah yang termuda di antara teman-temanku di komplek ini. Meskipun paling muda, terkadang ia bisa bersikap sangat dewasa.

“Young Jae-ya!” Aku memeluknya sekilas. “Tadi pagi aku sampai disini. Aigoo, kau sudah besar, ya.” Aku mengamati penampilan anak laki-laki di depanku ini. Dia sekarang sudah jauh lebih tinggi daripada aku.

Dia tertawa. “Geurom! Noona, ayo kita ke tempat yang lainnya, mereka pasti terkejut melihat noona disini.” Aku menatap kakakku meminta persetujuannya.

“Ya sudah, sana!” Jawabnya.

Young Jae menceritakan apa saja yang sudah terjadi disini setelah enam tahun berlalu. Tidak banyak yang berubah, katanya. Namun ia bilang bahwa aku mungkin akan terkejut dengan perubahan sikap salah satu dari teman kami nantinya. Young Jae tidak bilang siapa orang itu, dia hanya memberitahuku terlebih dahulu agar aku tidak kecewa.

“Noona, coba lihat itu siapa!” Young Jae menunjuk seseorang yang berjalan tidak jauh dari kami, sepertinya dia baru pulang kuliah, dilihat dari betapa besar tas yang ia gendong di punggungnya.

“Jackson!” Teriakku.

Ia tidak berhenti, sepertinya dia tidak mendengar panggilanku. “Hyeong!” Young Jae berteriak lebih kencang.

Akhirnya ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahku dan Young Jae. Untuk sepersekian detik, ia mematung di tempatnya. Sepertinya aku pandai mengejutkan orang.

“Na Ra?!” Ia langsung mencubit pipiku begitu aku sudah ada di depannya. “Woa, Na Ra is back!” Tingkah hyperactive Jackson bukannya berkurang, tetapi malah semakin parah. Itulah alasan mengapa dia dijuluki sebagai mood booster oleh teman-teman.

***

Aku pikir, aku bisa merasakan sedikit waktu luang sebelum masuk kuliah, tapi ternyata aku salah. Aku hanya punya waktu seminggu sebelum masuk kuliah. Ngomog-ngomong, aku akan masuk ke Myongji University, satu kampus dengan Mark oppa dan Jackson. Tapi tentunya kami berbeda jurusan. Masuk kuliah hanya tinggal seminggu, tapi aku belum bertemu Mark oppa. Tadinya aku pikir dia sedang ke Amerika, ke tempat keluarganya. Siapa tau dia kangen keluarganya, kan, karena disini dia hanya tinggal dengan keluarga pamannya? Tapi Young Jae bilang kalau Mark oppa ada disini. Sedangkan saat aku bertanya ke Jackson, dia malah menjawab dengan ketus. Lain halnya dengan Soo Young eonnie, dia bilang Mark oppa memang lagi nggak bisa diganggu. Masa aku pulang kesini dia sama sekali nggak peduli, sih?

Maaf, ya, aku jadi sensitif begini. Jujur aja, aku suka sama Mark oppa dari kami masih kecil. Dulu pun kami sangat dekat. Dia mungkin bukan tipe orang yang dapat menghidupkan suasana seperti Jackson atau tipe orang yang easy going seperti Young Jae. Mark adalah Mark. Dia irit kalau soal bicara, tapi dia super perhatian ke teman-temannya. Ia mungkin sulit membuat lelucon untuk membuat teman-temannya tertawa, tapi ia tidak segan untuk ikut tertawa bersama teman-temannya. Itu Mark oppa yang aku kenal. Apa mungkin dia sudah benar-benar berubah? Berubah menjadi orang macam apa sampai-sampai dia nggak mau menyisakan sedikit waktunya untukku, teman masa kecilnya yang sudah berpisah selama enam tahun?

Awas aja, nanti kalau aku sudah masuk kuliah, akan aku telusuri seluruh penjuru gedung untuk menemukannya. Memangnya dia pikir, dia bisa melarikan diri selamanya? Lagi pula, apa salahnya dunia, sampai-sampai dia menjauhkan diri dari dunia? Tapi, tunggu, apa Mark oppa menjauhi dunia atau ia hanya menjauhiku? Ya, aku cuma seorang Park Na Ra, bukan dunia, apalagi dunianya seorang Mark Yi-Eun Tuan.

Dug! Karena terlalu memikirkan laki-laki itu, aku sampai tidak sadar kalau ada bola yang terbang ke arahku.

Aku masih sibuk mengusap kepalaku yang terkena lemparan bola tadi saat ada suara langkah kaki mendekat. “Joesonghae-yo. Gwaenchana-yo?"

Aku masih belum mengangkat kepalaku, aku malu karena bukannya menangkap bolanya, tapi malah membiarkan bola itu dengan santainya ‘mencium’ kepalaku. “Joe gwaenchanayo." Kataku, lalu aku perlahan berjalan meninggalkan siapapun orang yang tadi telah melempar bolanya.

“Tunggu dulu! Dompetmu jatuh.” Aku mendengus dalam hati. Konsentrasiku benar-benar buruk hari ini.

Kali ini, mau tidak mau, aku harus mengangkat kepalaku. Biarlah aku nggak punya rasa malu, dibanding aku nggak punya sopan santun, kan? “Kamsa—“ Aku terkejut melihat orang yang kini ada di depanku, orang yang melempar bola sekaligus orang yang mengembalikan dompetku ini adalah orang yang sudah merusak konsentrasiku sejak tadi, bahkan sejak kemarin. “Oppa? Mark Oppa?” Dia mengerutkan keningnya, seolah mencoba untuk mengenaliku. Ah, yang benar saja! Teman-teman yang lainnya masih mengenaliku, kok.

“Park Na Ra.” Aku menyebutkan namaku karena ia tak kunjung mengenaliku. Ada rasa kecewa yang tidak bisa aku gambarkan.

“Ah, Na Ra.” Dia mengangguk-angguk seperti telah menemukan secuil memori tentang diriku di otaknya.

“Kenapa aku baru ketemu oppa? Aku bisa ketemu teman-teman yang lain bahkan di hari pertama aku kembali kesini. Tapi, kenapa oppa sama sekali nggak ada?”

“Ya, Mark bballi wa!" Mark oppa menoleh ke arah temannya dan memberikan tanda dengan ibu jarinya.

“Mianhae.” Hanya itu yang ia ucapkan sebelum ia kembali ke teman-temannya.

***

“Oppa?” Aku menatap atap kamar kakakku sambil memikirkan apa yang tadi sore terjadi.

“Wae?” Sahutnya.

“Apa semua orang harus bertransformasi?”

“Transformasi? Transformer, gitu?” Aku langsung duduk tegang menatap ke arah kakakku yang berbaring di kasurnya dengan nyaman.

“OPPA! Maksud aku berubah, gitu, ber-ubah. Kenapa seseorang yang dulu dekat banget sama kita, bisa berubah jadi orang yang seolah-olah dia nggak peduli kita masih hidup atau enggak?”

Jun Ho oppa memandangku serius kali ini. “Siapa?” Tanyanya.

“Ha?”

“Mark?” Bagaimana kakakku tau kalau aku membicarakan soal Mark oppa? “Benar, kan?” Aku mengguk lesu. “Kamu masih suka sama dia?”

Untungnya aku tidak lagi makan atau minum sesuatu, pasti aku bakal tersedak mendengar pertanyaan itu. “Ha?”

“Ha ho ha ho. Jangan sok lemot deh!” Pasti dia suka nge-stalk akun SNS-ku, dari mana dia tau istilah anak Jakarta seperti itu? “Oppa tau kamu suka Mark dari dulu. Dia juga suka sama kamu. Dulu. Sekarang, dia bahkan nggak pernah menanyakanmu. Oppa nggak tau kenapa dia berubah. Setiap orang punya alasan untuk berubah, sebagaimana orang juga punya alasan untuk tetap menjadi orang yang sama. Coba kamu ajak dia ngomong!”

“Boro-boro ngajak ngomong, tadi aja ketemu dia cuma bilang ‘mianhae’. Udah. Langsung balik ke temen-temennya”.

“Kenapa kamu nggak lupain dia aja. Masih ada, kok, yang lain. Yang deket juga ada.” Kakakku tersenyum mengejek.

“Siapa? Kucing peliharaan ajumma sebelah rumah?” Tanyaku kesal.

“Makanya, kalau punya mata dua, dipakai dua-duanya! Jangan cuma ngeliat pakai sebelah mata! Jackson suka sama kamu dari dulu. Kamu emang nggak tau?”

“Jangnanhajima, oppa!" Aku sampai nggak habis pikir, untuk membuatku move on, masa harus berbohong seperti itu?

“Dwaesseo. Oppa mau kamu perluas pandangan. Jangan fokus sama satu hal yang mungkin akan bikin kamu kecewa!”

Dan malam itu apa yang Jun Ho oppa bilang terus berputar di kepalaku.
***

Akhirnya hari yang melelahkan akan segera dimulai. Ini hari pertamaku masuk kuliah. Dan sekarang aku bersama Jackson sudah dalam perjalanan menuju kampus. Awalnya aku ingin berangkat sendiri supaya aku bisa menghafal jalan ke kampus, karena nggak mungkin, kan, aku terus nebeng dengan Jackson. Major yang kami ambil berbeda, bukan tidak mungkin kalau jadwal kami pun akan berbeda. Tapi karena Jackson–dan Jun Ho oppa—memaksaku berangkat dengannya, maka aku setuju.

“Na Ra-ya?” Jackson memelankan volume radio yang sedang kami dengarkan di dalam mobil.ke

“Mwo?” Aku memandang ke luar jendela mobil saat Jackson sekilas memandang ke arahku.

“Apa kamu sudah bertemu Mark hyeong?” Aku mengangguk, tidak peduli apakah Jackson akan melihat anggukanku atau tidak.

“Ya! Noe wae geurae?" Ia menarik tangan kiriku untuk menglihkan pandanganku ke arahnya. Aku menatapnya dengan pandangan datar. “Kau masih suka dengan Mark hyeong, kan?” Suaranya melembut, tapi aku merasa ada sesuatu yang lain dari nada suara itu.

Aku tersenyum, mungkin untuk yang pertama kali di hari ini. “Na gwaenchana, Jackson-a. Aku cuma berhemat suara aja, hari ini aku harus berkenalan dengan orang-orang baru. Jadi, aku menghemat suarauku untuk mengobrol dengan mereka.”

“Michyeosseo!" Dia geleng-geleng kepala dan tertawa mendengar jawabanku yang aneh itu.
***

“Ya! Ya! Kalian tau Mark sunbae? Dia benar-benar keren! Aku tadi melihatnya di taman belakang.”

“Jjinja? Ah, aku juga ingin sekali bertemu dengannya.”

Baru 10 menit yang lalu aku keluar kelas, sudah disambut oleh percakapan-percakapan yang sedikit membuatku kesal. Aku mempercepat langkah kakiku agar menjauh dari orang-orang ini. Ternyata Mark oppa terkenal, bahkan di kalangan junior yang baru masuk sepertiku. Mungkin itu salah satu alasan dia berubah. Udah banyak fansnya, ngapain, kan masih main sama aku?

Aku memutuskan untuk langsung pulang, berhubung Jackson belum juga muncul—sepertinya dia masih ada jam kuliah. Karena aku belum hafal wilayah kampus ini, maka aku hanya berjalan mengikuti instingku. Keluar dari gedung fakultasku, aku berbelok ke kanan dan melihat sebuah tempat yang hampir menyerupai taman, tapi ini versi lebih sederhana. Ada beberapa bangku di bawah pohon-pohon rindang.

Mataku menangkap sosok seseorang—tidak, dua orang yang aku kenal duduk bersama di salah satu bangku. Entah mereka sedang menertawakan apa, tapi mereka terlihat sangat bahagia. Tiba-tiba arah pandangku gelap, seseorang menutupinya dengan telapak tangannya. “Pulang, yuk!”

“Jackson-a, bukankah itu--?” Aku tidak dapat menyelesaikan kalimatku, karena ini semua adalah sesuatu yang mengejutkan.

Ia mengangguk. “Mark hyeong dan Soo Young noona. Maaf karena aku dan Young Jae tidak memberitahumu.”

“Tunggu! Bahkan Soo Young eonnie juga tidak memberitahuku, padahal kami sempat bertemu. Mereka..sejak..kapan?” Bahkan kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar aneh sekarang.

“Jangan disini, kita pulang aja, yuk!” Jackson membawaku keluar dari tempat itu. Kami menuju basement, tempat mobil Jackson berada.

Tidak ada yang membuka suara saat kami di mobil. Aku masih kehilangan kata-kata atas apa yang kulihat tadi. Sedangkan Jackson, aku rasa dia sedang mencari kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan denganku.

“Na Ra.” Aku menoleh ke arahnya tanpa mengeluarkan suaraku. “Kita mampir ke cafe dulu, ya? Aku rasa disini bukan tempat yang tepat.” Aku hanya mengangguk dan kami kembali terdiam.

Kami memilih bangku di sudut ruangan cafe yang bernama Comma Cafe ini. tidak banyak pengunjung disini, mungkin karena sekarang masih jam sibuk. Di depanku sudah tersedia green tea latte dan hot dark chocolate di depan Jackson.

“Mianhae.” Kata pertama keluar dari mulutnya.

“Gwaenchana. Bukan salahmu, kok.”

“Tadi kamu nanya, mereka udah sejak kapan pacaran?” Aku mengangguk. “Dua tahun lalu. sejak Mark hyeong pacaran dengan Soo Young noona, kedua berubah. Hyeong menjadi lebih jauh dariku dan Young Jae, bahkan dia tidak pernah bertanya-tanya lagi tentang kamu. Biasanya, hyeong selalu bertanya kepadaku atau Young Jae kapan kau akan kembali kesini. Kadang, hyeong juga bertanya ke Jun Ho hyeong. Tapi sejak hyeong dengan Soo Young noona, dia seperti lupa tentangmu. Sedangkan Soo Young noona, meskipun terkadang masih suka mengobrol denganku, dia menjadi lebih tertutup.” Aku terus menyimak tanpa memotong semua perkataan Jackson. “Satu-satunya cara agar kamu tau kenapa mereka, khususnya Mark hyeong berubah adalah bertanya kepadanya langsung.”

“Aku benar-benar tidak tau harus bertanya apa jika langsung bertemu dengannya. Aku menopang kepalaku dengan kedua tangan yang aku rumpukan di atas meja.”

“Aku akan membantu.” Entah hanya perasaanku atau bukan, tetapi wajah Jackson menunjukkan kesedihan yang mungkin hanya bisa dibaca oleh orang yang sudah lama mengenalnya.

“Gomawo.”

“Geundae, Nara-ya—"

“Mwo?”

“Na halmari isseo." Aku mengangguk, mengizinkannya melanjutkan kata-katanya. “Nan, noe joahe. Sudah sejak lama, tapi aku tau kau dan Mark hyeong saling suka dari sebelum kau pindah ke Indonesia. Karena itu, aku tidak memberitahunya kepadamu. Aku pikir, mungkin perasaanmu pada Mark hyeong akan berubah setelah kau kembali kesini, tapi ternyata tidak. Dan sekarang, aku tau, aku sudah tidak punya kesempatan untuk membuat kau menyukaiku, makanya aku bisa bilang semuanya.” Aku masih menatapnya bahkan setelah ia menyelsaikan semua kata-katanya.

“Jackson-a, mianhae. Na—“

“Dwaesseo. Uljima, Na Ra-ya." Dia memegang tanganku saat mataku mulai berkaca-kaca. Ternyata benar kata Jun Ho oppa. Aku hanya fokus pada Mark oppa saat Jackson juga menyukaiku. Aku bahkan tidak bisa menjaga perasaannya, aku selalu bercerita tantang Mark oppa kepadanya. Tapi perasaan tidak dapat dipaksakan. Jackson adalah sahabatku, dan selamanya seperti itu. Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang selalu ada dan membuatku tertawa. Sebut aku egois, tapi ia terlalu berarti untuk tidak menjadi sahabatku.

***

Aku berencana untuk menemui Soo Young eonnie sebelum aku bertemu dengan Mark oppa. Bagaimanpun juga, Mark oppa sudah menjadi pacar Soo Young eonnie, aku tidak akan seenaknya berhubungan dengan dia.

“Eon—“ Panggilanku terputus saat melihat seorang laki-laki ada di depan rumah Soo Young eonni. Aku baru saja akan berbalik saat suara Soo Young eonnie memanggilku.

“Kamu sedang apa disini? Ayo, masuk!” Dengan gerakan perlahan aku masuk ke rumahnya. Mataku terus melirik lelaki yang ada di samping Soo Young eonnie. Mungkin lelaki itu sahabat dekatnya, makanya mereka tadi berpegangan tangan. Iya, kan?

“Ah, Na Ra-ya, kenalin ini pacarku."

Lelaki itu mengulurkan tangannya kepadaku. “Annyeonghaseyo, Lee Yoon Hoo imnida.”

“Ne, annyeonghaseyo, Park Na Ra imnida.”

Aku sedikit menarik tangan Soo Young eonnie saat lelaki itu berjalan di depanku. “Geundae eonnie, bukannya Mark oppa adalah pacarmu?”

“Ho?” Lalu sedetik kemudian ia tertawa kencang sekali. “Kamu beneran kena jebakannya mereka, ya?” Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, bingung apa yang dimaksud olehnya.

“Chogiyo?”

“Soo Young noona?” Suara Young Jae dan Jackson terdengar dari luar. Aku mengikuti Soo Young eonnie yang berjalan untuk membukakan pintu untuk teman-teman kami.

“Na Ra noona ddo yeogiseo?” Aku menatap Young Jae, Jackson dan Soo Young eonnie bergantian.

“Kalian bertanggung jawab untuk memberitahu apa yang terjadi antara aku dan Mark ke Na Ra!” Soo Young eonnie merangkulku tiba-tiba. Sebenarnya ada apa, sih?

“Kita tunggu Mark hyeong datang saja, ya?” Jawab Young Jae.

“Noona, na baegopheuda. Bap isseo-yo?" Jackson lalu berjalan ke arah dapur setelah Soo Young eonnie menunjuk ke dapurnya. Aku lihat dia memberikan salam ke pacar Soo Young eonnie.

“Na waseo.” Seruan Mark oppa membuat kami—khususnya aku—menengok ke arah pintu dengan gerakan cepat.

“Oh hyeong waseo? Ayo kita perjelas semuanya di ruang tamu.” Young Jae berseru semangat dan meninggalkan kami di belakangnya.

“Annyeong!” Mark oppa mengusap pelan kepalaku, dan aku hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

Kami berenam—termasuk pacar Soo Young eonnie sudah duduk di sofa ruang tamu. “Jadi, siapa yang mau jelasin?” Soo Young eonnie membuka suara.

Young Jae bangkit dari duduknya. “Yeorobun annyeonghaseyo. Aku disini mau menjelaskan tentang hubungan Mark hyeong dan Soo Young noona ke Na Ra noona. Noona, mianhae. Mereka nggak ada apa-apa, semua itu cuma ideku dan Jackson hyeong, bahkan Jun Ho hyeong juga membantu. Aku diberitahu Jun Ho hyeong kalau noona akan kembali kesini. Dari situ, aku punya ide untuk memberi noona tes. Aku bilang Mark hyeong berubah.”

“Dan waktu di kampus, kamu nggak sengaja melihat mereka berdua.” Lanjut Jackson. “Aku pun menambahkan ide Young Jae untuk mengerjaimu. Seperti yang kamu lihat, pacar noona adalah Yoon Hoo hyeong, dan Mark hyeong masih nunggu kamu selama ini.”

Aku menoleh ke Mark oppa, dia tersenyum geli. Aku arahkan pandanganku kembali ke Jackson. “Jadi kata-katamu yang bilang suka aku, bohong juga?”

“Ani, soal itu benar.”

“Ya!” Mark oppa menegakkan punggungnya.

“Mian, hyeong. Aku harus memanfaatkan kesempatan sekecil mungkin.” Lalu ia terbahak sendiri.

“Na Ra-ya,” Mark oppa menghampiriku. “Mianhae aku nggak ada saat kau pulang kesini dan soal bola itu, aku bukannya ingin menghindarimu. Aku memang harus ke teman-temanku. Aku janji, mulai sekarang, kamu akan terus melihatku. Aku nggak akan kemana-mana. I love you, Na Ra-ya!”

Dan ini semua terasa kembali seperti dulu ketika Mark oppa memelukku.

“Me too.”
POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2021 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK