home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > His Vorfreude

His Vorfreude

Share:
Author : delvianafang
Published : 06 Feb 2017, Updated : 20 Jul 2019
Cast : Park Jin Young, Readers
Tags :
Status : Complete
75 Subscribes |17696 Views |75 Loves
His Vorfreude
CHAPTER 1 : Kesalahan
 
Tidak, aku tidak menyalahkanmu.
Tidak, aku tidak menyesalinya.
Tidak, aku dapat bertahan.
 
"Apa kau menangis?"
"Tidak, aku marah."
"Padaku?"
"Bukan, pada diriku sendiri."
"Karena?"
"Sempat berpikir aku pantas bersamamu. Padahal kan, aku hanya beban untukmu, bukan?"
 
Lalu kau menampilkan senyuman itu lagi. Senyum yang membuatku pertama kali jatuh. Kalimat itu diucapkan seolah kau bergurau, seolah kau tidak tersakiti, seolah tidak pernah ada apa-apa diantara kita. 
 
---------------------------------------------------------------------------------------------
 
Pertama kalinya aku melihatmu adalah saat kau diterima sebagai trainnee perusahaan. Tampak sederhana, bahkan dibanding yang lainnya harus kuakui kau tampak biasa saja. 
 
Cantik memang, tapi tidak sampai ke level 'wah' hingga membuat orang lain berhenti hanya untuk menengok. Tapi entah mengapa, aku tidak bisa bosan melihat wajahmu. Sampai sekarang, aku masih belum mengetahui mengapa.
 
Aku hanya bicara padamu saat perkenalan diri. Dan setelah itu kita tidak pernah bicara lagi, ingat? 
 
Sampai suatu hari, aku melihatmu berlatih menari lewat tengah malam. Mengulangi koreo yang sama di depan cermin berulang-ulang. Begitu terfokus hingga kau tidak menyadari keberadaanku.
 
Diam-diam, melihat kerja kerasmu tanpa sadar membuatku tersenyum.
 
"Oh? Jin Young-sshi, belum tidur?"
"Apa-apaan kau formal begitu."
"Sedang apa sampai malam begini?"
"Mau latihan. Tapi tadi aku melihat lampunya menyala, jadi aku datang untuk melihat."
Raut mukamu berubah sedikit cemas, seolah menggunakan jam latihanmu sendiri adalah sesuatu yang salah.
 
"Ah, aku juga baru selesai." Kau berjalan melewatiku, tergesa-gesa berusaha meninggalkan ruangan.
"Tunggu sebentar--" Satu panggilan itu cukup untuk membuatmu kembali menengok padaku. Setelah dilihat dari dekat, aku dapat mengerti mengapa PD-nim mengatakan bahwa kau cantik.
 
"Aku juga mau latihan. Bisa kau bantu aku?"
Dengan kikuk, kau mengangguk. Aku menyerahkan sebuah recorder padamu. "Aku butuh rekaman koreo untuk visualisasi gerakan. Tapi tidak mungkin merekam sendiri."
 
Setelah menyelesaikan koreo satu lagu, aku dapat melihat matamu berbinar di balik cam-recorder. Lagi, lagi, aku tersenyum sendiri. Tapi..
 
"Sangat keren. Tadi itu sangat menakjubkan!"
"Terima kasih. Boleh kulihat hasilnya?"
.
.
.
.
"Kau...."
Aku tertawa terbahak-bahak, sedangkan kau hanya menatapku bingung.
"Kau tidak sadar? kau lupa menekan tombol recordnya?"
Wajahmu memerah malu. Bukannya marah, aku malah menganggap ini lucu.
Akhirnya kamipun tertawa bersama di dalam ruangan itu.
Sungguh nyaman. 
 
---------------------------------------------------------------------------------------------
 
Ingat saat kita berencana untuk berjalan bersama?Kau memakai sebuah piyama dan jaket tebal serta kacamata hitam. Sedangkan aku hanya menutupi wajah dengan masker dan mengenakan topi. Aku menertawaimu habis-habisan. "Fashion sense macam apa itu?" 
 
Kau menggembungkan pipimu, berusaha mengukir sebuah ekspresi kesal yang sayangnya menjadi sebuah kegagalan total, seraya membantah: "Untuk jaga-jaga supaya tidak ada yang mengenali."
 
"Kau terlalu berlebihan. Fansmu tidak sebanyak itu."
 
Dan benar saja, setibanya di Cheonggyecheon kau bisa duduk bebas dan tertawa tanpa harus takut ada yang mengenali. Sedangkan aku sudah merasakan beberapa puluh tatapan tercengang yang membuatku tidak nyaman. Ditambah lagi, yang tadinya kutakutkan benar-benar terjadi.
 
"Oh? Bukankah itu Park Jin Young?"
"Dimana?"
"Serius?!"
"Daebak! Yang mana?!!"
"Dia ganteng sekalii!"
 
Suara-suara itu bertanya dari kejauhan, namun sukses membuat kita berdua menengok kaget. Melihat ekspresi panikku, bukannya menolong untuk kabur, aku malah menangkap kau berusaha keras menahan tawa.
 
Disaat mereka mendekat, aku menyembunyikan wajahku dengan memelukmu. Dapat kulihat semburat merah mewarnai pipimu. 
 
"Eonni, dia siapa?"
"Eonni, apa itu Park Jin Young?"
"Eonni kenal JYP junior??"
 
"Bukan." Kau menjawab dengan tenang tapi seringai itu masih terpampang. Aish! 'Aku akan menraktirmu nanti asalkan kau membantuku kali ini.' bisikku dan kau menangguk.
 
"Lalu eonni, dia siapa?"
"Kalau bukan Park Jin Young dia siapa?"
 
"Uh... uhm.. Namanya..."
"Lee.." Namun sebelum aku selesai berbisik, kau telah menyambung dengan nama yang entah kau dapat darimana. "---Jokbal!" 
*Jokbal = perut babi
 
Terima kasih! Insting daruratmu itu sukses membuatku tercengang. Tapi untungnya rasa penasaran fans itu lenyap seketika setelah mendengar nama aneh itu dan akhirnya mereka bubar. 
 
"Sejak kapan aku mirip pada perut babi?"
"Hehe, maafkan aku, oppa~ Habisnya--."
"Apa?"
"Di dekat sana ada restoran jokbal yang enak. Mau kesana?"
 
Bagaimana aku bisa tega mengatakan tidak pada wajah seperti itu?
 
---------------------------------------------------------------------------------------------
 
Kau ingat? Saat awal timku dan timmu debut, sempat terjadi perselisihan diantara kami. Saat mulai terjadi adu fisik tanpa takut malah kau yang mencoba melerai kami. 
 
Hasilnya, aku malah melukai kakimu dan maenijeo akhirnya menyuruhmu membatalkan semua janji kerja selama seminggu. Media memberitakan ini terjadi karena kecerobohanmu disaat latihan.
 
Banyak pihak yang mengatakan mereka kecewa padamu, memarahimu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi disaat aku minta maaf, kau malah tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. 
 
---------------------------------------------------------------------------------------------
 
Park Jin Young menghela nafas pelan. Sudah berapa lama sejak kejadian itu? Tiga bulan? Lima? Delapan? Entahlah. Kepalanya terasa pening saat berusaha mengingat hal itu.
 
'Hari itu, aku mengatakan padanya bahwa aku tidak lagi mencintainya.'
 
Ia ingat persis bagian itu. Sangat jelas sampai terulang terus seperti recording rusak. Aneh. Baru sekarang, ia mulai berpikir bahwa keputusannya saat itu memang belum dipertimbangkan dan gegabah.
 
Tidak, jangan sekarang, ia yakin pada dirinya bahwa itu hanyalah perasaan sesaat. Keinginan untuk memiliki itu didorong hanya karena kekaguman belaka.
 
Lantai ruang latihan terasa dingin. Denting piano di depannya terasa asing. Matanya malah teralihkan perhatiannya ke sebuah kotak kecil diatas piano. Kemana perginya kemampuan bermainnya? Mengapa semua not balok di hadapannya berubah menjadi suara gadis itu?
 
Ah, mungkin ia mabuk. Bisa-bisa fokusnya benar-benar buyar sampai ia salah mengira salah satu anggota timnya yang masuk ke ruang latihan sebagai gadis itu.
 
-------------------------------------------------------------------------------
 
"Oppa, oppa."
"Hm?"
"Katakan, apa kau menyukaiku?"
Kau tertawa seolah mempermainkanku. Namun aku melihat dari kilatan di matamu bahwa kau serius.
"Jawaban apa yang ingin kau dengar?"
 
Salju hari itu sangatlah dingin. Seoul berubah menjadi sebuah lemari es raksasa lengkap dengan segala macam penduduknya yang berlalu-lalang. "Aku ingin mengikuti jawaban oppa. Kalau suka ya aku akan membalas dengan perasaan yang sama. Kalau tidak ya aku berharap oppa tetap bahagia. A-Aouch!"
 
Aku menyentil pelan keningnya. Tersenyum hingga akhirnya meledak tertawa. "Jawaban apa itu.. Sejak kapan kau berubah jadi bijak?" Kau mengelus keningmu. Pipimu merona tipis seraya hembusan kabut mewarnai. "Aku serius, oppa!"
 
Aku mendekatkan wajahku padamu, menahan keinginan untuk tertawa. "Kau membuatku sampai segini tergila-gilanya padamu dan masih mengharapkan jawaban langsung untuk memperjelas status?" 
 
Kau menatapku bingung bercampur kaget. Ekspresimu saat itu sangat lucu sampai aku menyesal tidak sempat mengabadikannya, kau tahu?
 
Aku ingat akhirnya kita tertawa saat aku kembali menggengam tanganmu. "Jadi sekarang, aku pacarmu ya?" Di tengah, keramaian orang aku merasa sendiri. Tapi sekarang, dibalut dinginnya Seoul, aku merasa hangat.
 
"Aku harap semi segera tiba.", ujarmu penuh harap. Mata berbinar polos seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Tersenyum manis seolah tidak memiliki beban.
 
"Ya, aku juga."
 
Dan aku ingat hari itu aku berjanji pada diriku sendiri 'aku akan melindungi senyuman itu.'
 
------------------------------------------------------------------------------------------
 
Saat itu kontrak kerjaku terlalu padat untuk bisa diisi bahkan dengan istirahat pribadi. Jangankan waktu untuk bertemu langsung. Email dan LINE menumpuk bahkan tidak terbaca.
 
Tapi.. kenapa?"
"Maaf. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi."
"Apa salahku?"
"Tidak ada."
"Oppa, kalau saja kau bisa bilang, aku akan--."
"Tidak bisa."
"Tapi----."
"Aku bosan, itu saja."
 
Aku melihat matamu berkaca-kaca. Pasti berat untukmu, bukan? Tapi kau malah tertawa dan memalingkan mukamu supaya aku tidak melihat air mata yang mulai membasahi pipimu.
 
"Apa kau menangis?"
"Tidak, aku marah."
"Padaku?"
"Bukan, pada diriku sendiri."
"Karena?"
"Sempat berpikir aku pantas bersamamu. Padahal kan, aku hanya beban untukmu, bukan?"
 
Namun sejak hari itu, kau tidak marah padaku. Masih memarahiku saat telat makan. Masih datang merawatku disaat aku sakit. Masih berdiri di baris paling depan saat aku bernyanyi. Masih menemaniku sebagai sahabat.
 
Tapi kudengar setelah itu kau sibuk dengan pekerjaanmu hingga tak terdengar kabar lagi. Aku mendapat pesan dari teman-temanmu bahwa kondisi tubuhmu melemah. Apa kau minum obat teratur saat itu? 
 
Kau tidak pernah memanggilku oppa lagi, dan mengganti dengan Jin Young-sshi. Terdengar aneh, formal dan.. menyakitkan mengingat kita bukan lagi siapa-siapa.
 
Dan yang paling kusayangkan, senyum itu lenyap dari muka bumi. Kau menggantinya dengan ratusan senyum ramah yang sopan, namun matamu mengisyaratkan bahwa cahaya harapan itu sudah pudar. Maafkan aku.
 
Katakan, mengapa kau masih tinggal di sisiku?
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------
 
Jin Young menatap nanar ke langit-langit ruang latihan. Memori tentang gadis itu terus berkecamuk dalam pikirannya, menghantuinya dan membuatnya gila. Air matanya mulai menetes hingga membasahi kedua pipinya. 
 
Tangannya lari dari tuts piano. Dan pertama kalinya dari sejak mereka berpisah, Jin Young mengijinkan dirinya menangis.
 
Akhirnya ia menyadarinya.
Maksud yang selama ini tersirat itu sebenarnya tersurat.
 
"Aku ingin mengikuti jawaban oppa. Kalau suka ya aku akan membalas dengan perasaan yang sama. Kalau tidak ya aku berharap oppa tetap bahagia."
 
Gadis itu berharap dia bahagia. Sesederhana itulah harapannya. Sekalipun ia harus mengorbankan kebahagiaannya, egonya, keinginan lainnya.. ia ingin Jin Young-oppa yang dia percaya bahagia. Sesederhana itu.
 
Pandangannya dialihkan dari tingkap-tingkap ke atas pianonya. Kotak kecil itu masih tertutup rapi. Benda yang tidak dapat disingkirkannya meski membawa sejuta kenangan menyakitkan itu kembali ke permukaan.
 
Disaat ia mencoba meraihnya, pintu ruang latihan terbuka. Anggota timnya masuk dengan beberapa wajah tambahan. Ah ya, hari ini dijadwalkan akan ada latihan gabungan.. dan ia melihatnya, gadis itu ada di antara rombongan itu. Tersenyum sopan dan membungkuk saat masuk. Darah naik ke kepala, jantung berdegup kencang.
 
Jin Young bangkit dari kursi piano, menggapai kotak itu. Menyeka air mata yang masih tersisa, menggenggam kuat pergelangan gadis itu sebelum menariknya keluar dari ruang latihan, diikuti oleh tatapan bingung siapapun yang melihat kejadian itu.
 
--------------------------------------------------------------------------------------------
 
Disaat hanya tinggal kita berdua, setelah melepas genggamanku, aku menatapnya lekat-lekat. Ia tampak lebih kurus dari sebelumnya. Wajahnya tampak lebih tirus dan kantung matanya menghitam. Tapi masih cantik. Masih gadisku yang dulu, wanita yang gagal aku lindungi.
 
Cantik sekali. Bahkan disaat seperti ini, dengan raut mukanya yang sudah kelelahan, aku masih berpikir bahwa dia adalah yang tercantik dari semua wanita yang pernah kulihat. Mengapa aku pernah tega melukainya?
 
Kau bertanya padaku apa ada yang aku butuhkan, namun terkejut saat melihat bekas air mata pada wajahku. Kau bertanya apakah aku baik-baik saja, juga apa yang terjadi.
 
Aku tersenyum lemah. Sial, air mataku mulai jatuh lagi. Sedangkan kau masih sibuk menanyakan apa yang terjadi.  Perlahan ketenangan itu mulai merasuk kembali padamu.
 
Kau begitu perhatian. Begitu sopan. Bukannya harusnya kau membenciku sekarang? Mengapa kau masih peduli? Mengapa kau masih disini? Tidak---, mengapa aku masih pantas mengalami semua ini?
 
Aku bahkan tidak pernah berhasil mewujudkan kebahagiaanmu dan kau masih mengkhawatirkanku. Aku adalah orang yang jahat, sangat jahat untuk baru menyadari rasa sesal itu sekarang.
 
Namun diluar kesadaranku, aku berlutut, membuka kotak mungil itu, lalu bertanya maukah kau menikah denganku.
 
Kau melipat tanganmu. Bertanya, "Kenapa?"
 
Aku hanya bisa meminta maaf baru menyadari betapa berharganya perasaan itu sekarang. Dan bahwa aku sudah berubah. Mengakui bahwa aku sebelumnya bersikap seperti brengsek. Egois. Idiot. Pipimu mulai merona saat aku mulai mengatakan pujian dan permintaan maaf.
 
Lalu kau membungkuk padaku, memiringkan kepala lalu tersenyum manis. Senyum yang tak pernah lagi kau tunjukkan semenjak kita berpisah. Senyum yang teramat sangat kurindukan.
 
Dan kau menamparku. Keras. Kau berteriak padaku. Membentakku. Menyatakan rasa kesal yang selama ini kau tahan. Menyampaikan rasa kecewa yang aku berikan dengan balasan pukulan. Sakit.
 
Aku tidak bisa mendengar apapun lagi. Lalu, kau melihat tanganmu, dan menangis.
 
Kau menangis begitu kencang, mengucapkan maaf berulang-ulang. 
 
Tidak perlu, aku memang pantas mendapatkannya. 
 
Tapi kau menyeka air mataku, memelukku erat. Rasanya semua begitu sempurna.
 
Dan kau mengatakan yang satu kata yang selalu ingin kudengar.
 
"Ya."
POPULAR FANFICTION

BERITA PILIHAN

COPYRIGHT 2024 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK