SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Like In Movie

Like In Movie

Share:
Author : aininsofi
Published : 06 Feb 2015, Updated : 06 Feb 2015
Cast : Oh Sehun, Byun Baekhyun , Xiumin, OC-Alya, OC-Bella, OC-Sofi, Other EXO member
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |596 Views |1 Loves
Like In Movie
CHAPTER 1 : Who He Is?

.

.

ALYA POV

                Aku tidak tahu apa yang seharusnya kurasakan. Senang? Sedih? Atau keduanya. Itu semua karena aku tinggal di rumah baruku. Tempat baru, suasana baru, tetangga baru. Dan tentunya, kehidupan baru.

                Dulu, kukira tidak akan seburuk ini. Aku memang senang bisa tinggal di luar negeri, tapi aku tidak suka ini. Suhu Korea yang begitu dingin berbeda dengan Indonesia yang begitu hangat. Aku heran, di Indonesia, aku sangat tidak suka panas. Tapi lihatlah sekarang. Aku malah ingin panas, matahari, dan udara Jakarta yang ku rindukan.

                Sudah satu minggu aku berada di Korea. Dan besok lusa, adalah hari pertama aku menerima pendidikan di Negara Gingseng ini.

                Aku tidak peduli seperti apa teman – teman baruku nanti. Yang ku khawatirkan hanya satu: Apa mereka mau menerimaku?

                Aku khawatir kalau jawabannya tidak. Bagaimana ini? Parahnya, aku harus bersekolah disini sampai aku lulus SMA. Itu berarti, aku harus menghabiskan dua tahun di Korea.

                Hatiku ngeri membayangkan bagaimana jadinya kalau aku tidak diterima. Bisa – bisa aku bunuh diri seperti di film – film. Arghh!!! Tidak! Tidak boleh! Itu dosa.

                Untungnya aku mengerti dosa.

                Satu minggu berada di Korea dan di suguhi makanan – makanan yang tidak terditeksi lidahku membuat aku jadi malas makan. Apalagi satu minggu penuh ini aktivitasku hanya satu: Belajar bahasa Korea.

                Aku harus berterima kasih pada bos ayahku yang membuatku harus mengalami ini semua! Huh! Tugas ke luar negeri! Menyebalkan! Tidak bisakah aku mendapatkan hal yang lebih mengerikan dari ini???!??

 

***

 

Aku turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Sudah kuduga, aku akan menjadi tontonan. Tapi, dalam khayalanku, tidak seperti ini. Untunglah, khayalanku itu terlalu berlebihan. Sepertinya mereka cuek. Yes!

Didampingi ayahku, aku berjalan menuju ruang guru. Bagaimana ini? Aku takut kalau gurunya galak dan mengerikan. Seperti di film – film. Argh!!

                Semoga aku beruntung!

                “Masuklah,” Ucap ayahku saat kami sampai di depan ruang guru yang lebih besar dari ruang guru di sekolahku dulu.

                Aku mengangguk.  “Ne,”

                Ayahku tersenyum.  “Kau memang harus membiasakan dirimu,”

                Aku membalas senyuman ayahku lalu mulai memasuki ruangan yang lebih hangat dari pada di luar tadi.

                Seorang perempuan paruh baya mendatangi kami. “Kau anak baru dari Indonesia itu?” Tanyanya.

                “Ne, perkenalkan, Alya Azhary imnida. Mohon bimbingannya,” Kataku sambil membungkuk memberi salam. Aku di beritahu guru Bahasa Korea ku untuk melakukan itu kalau bertemu orang yang lebih tua, apalagi kalau dia seorang guru. Jadi, intinya sama saja dengan mencium tangan.

                Guru itu tersenyum. “Kau sangat manis,” Pujinya membuat pipiku merona merah.

                Aku tersenyum ge-er. “Kamsahamida,”

                “Perkenalkan, namaku Yoon Eun Hye. Kau bisa memanggilku Guru Yoon.”

                “Ne, Guru Yoon,”

                Ayahku sepertinya tidak mau dilupakan. “Mohon bantu anak saya. Dia masih belum bisa beradaptasi sepenuhnya,”

                “Tentu saja. Itu sudah menjadi tugasku. Nah, sekarang anda bisa meninggalkan Alya dan meninggalkannya dipengawasan kami. Saya akan menunjukkan kelas barunya.”

 

ALYA POV END

 

 

AUTHOR POV

 

                Murid di kelas Guru Yoon ramai memperbincangkan kedatangan murid baru dari luar negeri. Isu itu sudah menyebar. Awalnya, mereka kira hanya sebuah gosip. Tapi, setelah Baekhyun mengaku menguping pembicaraan guru, mereka percaya.

                Mereka semua tidak begitu terkejut kalau anak baru itu berasal dari luar negeri. Namanya juga SMA Chomyeong. Di sini adalah gudangnya anak – anak dari luar negeri. Jadi, yang mereka perbincagkan adalah, dari mana murid baru itu berasal.

                “Sudah banyak yang berasal dari Cina,” Kata Baekhyun malas.

                Luhan, Tao, Xiumin, Kris, Chen, Lay yang mendengar itu melihat Baekhyun dengan sinis. “Apa maksudmu?”

                Baekhyun meringis. “Hehe, hanya bercanda…”

                “Menurutmu, dari mana dia Sehun?” Tanya Suho pada Sehun yang dari tadi hanya diam mendengarkan celotehan kesebelas temannya (Seperti kesebelasan sepak bola saja).

                “Molla,” Kata Sehun sambil mengangkat kedua tangannya.

                “Mungkin dari Jepang?” Tebak Kai.

                “Amerika!” Teriak Chanyeol semangat.

                “Rusia?” Tanya DO.

                “Seperinya Jepang,” Ucap Xiumin sok serius.

                “Yah, mungkin,”

                “Nah, sekarang, pertanyaan selanjutnya. Dia namja atau yeoja?” Tanya Luhan serius.

                “Yeoja!” Teriak semuanya.

                “Nah, aku juga berharap dia yeoja!” Tambah Luhan dengan semangat empat lima.

                “Yah, itung – itung pemandangan baru, di kelas kita kan hampir ¾ muridnya namja. Aku tidak mau jadi abnormal karena itu,” Kata- kata Xiumin membuat semua orang yang ada disitu refleks menjauhinya.

                “Tenang saja, aku kan hanya beropini.”

                “Kau tidak bohong kan?” Tanya Kai takut – takut.

                “Ya! Kau pikir aku tidak normal!” Teriak Xiumin marah.

                “Tadi kau bilang begitu…” Kata Kai pelan.

                Xiumin memelototi kesebelas temannya. “Terserah kalian.”

***

                Alya memasuki ruang kelas bersama dengan Guru Yoon yang ada di depannya. “Jangan khawatir.” Bisik Guru Yoon yang menyadari kegelisahan Alya.

                Guru Yoon mengambil tempat bersiap – siap memberkenalkan Alya di hadapan anak didiknya. “Anak – anak, perkenalkan, ini Alya dari Indonesia. Alya, ayo perkenalkan dirimu.”

                “Indonesia??” Bisik kedua belas namja tadi dengan sangat terkejut.

                Alya maju kedepan dengan kegugupan yang ia sembunyikan. “Ehm.. Annyeong.. Alya Azhary imnida. Saya dari Indonesia. Mohon bimbingannya..”

                “Ne…” Jawab para murid serempak.

                Alya sedikit lega dengan jawaban teman – teman barunya itu. Yah, sedikit. Tapi setidaknya, teman – temannya tidak menjawab ‘ANI!!’ Seperti yang ia bayangkan.

 

AUTHOR POV END

 

 

ALYA POV

                Untung saja mereka tidak menjawab ‘ANI!!’ Seperti yang ada di film – fillm. Kalau sampai itu terjadi, habislah riwayatku.

                Bukan hanya riwayatku yang habis, harga diriku yang mahal di Indonesia pun sepertinya tidak akan berharga di Korea.

                Aduh, bagaimana ini? Aku takut kalau ada yang mem-bully ku seperti yang ada di film – film. Argh!! Jangan sampai itu terjadi! Yah, jangan sampai!

               

***

 

Sepertinya bayangan mengerikan yang sempat aku pikirkan di rumah tidak akan terjadi. Terbukti dengan diterimanya aku oleh mereka.

                Ah.. Mereka baik… , sekali. Belum apa – apa, saat aku baru saja menempelkan pantatku di kursi, mereka sudah menyapaku.

                Walau kata yang terbilang basa – basi, tapi aku sudah bersyukur. Intinya, kedatanganku disambut positif oleh mereka. Yippiee!!

                Ah!! Itu membuatku lebih baik.

***

                Aku mengemasi barang – barangku. Bel pulang sudah berdering. Bel di sini lebih simple dari pada di Indonesia yang memakai lagu wajib.

                Yah, memang sih. Mau apapun keadaan Indonesia, aku tetap merindukannya. Aku rindu teman – temanku. Awas saja kalau mereka melupakanku.

                “Selamat siang anak – anak, semoga hari pertama ini menyenangkan.” Kata Pak Kim.

                Yah, berhubung ini hari pertama, kami masih longgar dari tugas – tugas berat yang biasanya menjadi sarapan sehari – hari. Ternyata di sini tidak begitu berbeda suasananya. Yah, mau bagaimana lagi. Namanya juga sekolah, pasti dimana – mana sama suasananya. Yang berbeda hanyalah orang – orang di dalamnya.

                Aku bingung kalau yang lain mengobrol dengan cepat. Yang bisa ku tangkap hanya beberapa kata.  Menyebalkan sekali. Jadi, kuputuskan untuk diam kalau ada orang yang mengobrol dan ada aku di dalamnya. Tapi, satu masalahku : Bagaimana kalau mereka mengatakan hal – hal aneh tentangku dan aku tidak tahu itu?

                Seperti yang di film – film itu.

                Aku jadi lemas memikirkannya. Argh!! Sadarlah Alya! Sadar!! Aku tidak boleh negative thinking seperti itu. Aku tidak boleh seperti itu!

                Sepertinya, karena terlalu asyik memikirkan hal itu, aku sampai tidak sadar kalau tinggal aku seorang diri di kelas. Dasar bodoh!

                Aku keluar dari kelas. Tapi, perasaan tidak enak menggerogoti diriku.

 

ALYA POV END

 

 

AUTHOR POV

                Luhan mendorong Xiumin. "Kau yang harus mengatakannya! Itu salahmu! Kau bilang dari Jepang!"

                "Ya! Mana aku tahu? Aku kan cuma bilang, sepertinya Jepang, begitu.. Kalian saja yang terlalu semangat!" Kata Xiumin membela diri.

                "Hei! Hei! Dia datang!" Ucap Kai memperingatkan.

                Alya keluar dari kelas dengan hati - hati. Lalu, ekspresinya berubah takut saat menyadari banyak namja di luar kelas yang memperhatikannya. 'Eh, mereka siapa? Apakah mereka pemain bola? Kenapa ada di depan kelas seperti ini? Tunggu tunggu.. Kenapa mereka memperhatikanku? Apa maksudnya?'

                Xiumin dipaksa teman - temannya maju. Lalu mengeluarkan handphone keluaran terbaru dan membaca handphone tersebut. "Xiumin... Namaku... Perkenalkan.." Ucap Xiumin disambung senyum takut - takutnya.

                Alya melongo mendengarnya. Lalu tertawa. "Apa maksudmu?"

                Semua namja itu tampak terkejut. "Kau bisa bahasa Korea?" Tanya mereka serempak.

                "Ne, tentu saja."

                "Apa kata - kataku salah?" Tanya Xiumin malu.

                Alya mengangguk. "Ne, sangat salah. Seharusnya.. Perkenalkan namaku Xiumin. Kau terbalik mengatakannya." Jelas Alya.

                Teman - teman Xiumin pun tertawa. Xiumin merutuki handphonenya. "Dasar handphone bodoh!"

                Alya kembali tertawa. Tiba - tiba tatapannya terpaku pada seorang namja di belakang.

                "Ehm.. Kalau begitu, perkenalkan, namaku Luhan,"

                "Namaku Tao,"

                "Chen,"

                "Xiumin,"

                "Kai,"

                "Namaku Kyung Soo. Tapi, mereka memanggilku DO,"

                "Lay,"

                "Suho,"

                "Kris,"

                "Baekhyun,"

                "Chanyeol,"

                Dan namja yang terakhir membuat Alya tambah gugup. Tapi begitu mendengarnya.. "Thehun.."

                Alya mengernyitkan kening bingung. "Hah? Thehun? Aku tidak tahu ada nama yang seperti itu..."

                "Ehm.. Dia memang cadel. Jadi, maklumi saja ya.." Ucap Lay yang membuat Alya tertawa. Tapi, ia segera menyamarkan tawanya menjadi batuk.

                "Iya, namanya bukan Thehun, tapi Sehun." Tambah Baekhyun.

                Alya mencoba mengembalikan kenormalannya dan mencoba berhenti tertawa. "N-ne.."

               

***

                "Menyebalkan thekali yeoja itu! Thalah kalau aku cadel?" Kata Sehun sebal.

                "Salah sendiri... Cadel diperlihatkan," Ucap Tao sambil tertawa.

                "Benar itu! Makannya... Suruh Eomma-mu mengubah nama mu menjadi apalah... Yang penting tidak ada huruf 'S'-nya." Saran Suho.

                "Hei! Kalian pikir mengubah nama itu gampang? Ini nama pemberian Appa-ku. Tidak mungkin aku mengubahnya begitu thaja!"

                "Sudahlah.. Untuk apa memperdebatkan hal seperti itu??" Tanya Chanyeol.

                "Hei! Ini mathalah harga diriku!" Protes Sehun tidak terima.

                "Betul sekali kata Chanyeol.. Lebih baik kau jangan memikirkan hal tadi. Bisa saja dia tidak bermaksud menghinamu.." Ucap Chen bijak.

                "Kalian ini tidak thetia kawan!" Ucap Sehun marah.

                "Ya... Bukan seperti itu.. Lebih baik kita pergi jalan - jalan saja. Sekalian merayakan kedatangan murid baru dari Indonesia itu." Saran Kris.

                "Kedatangannya dirayakan? Kalian gila atau apa?" Tanya Sehun semakin panas.

                "Ah, sudahlah. Lebih baik membangun hubungan yang baik pada murid baru....."

AUTHOR POV END

 

 

ALYA POV

                Aku begitu heran. Wajahnya saja yang tampan. Kenapa dia cadel ya? Haha... Itu membuatku tertawa terpingkal - pingkal setibanya aku di rumah. Ini pemandangan yang langka. Tidak sering aku menjumpai orang yang begitu unik. Unik. Yah, unik. Hahahahaa...

                Ah, sudahlah, jangan menghina dia terus. Bagaimana kalau kecadelan nya di tularkan kepadaku? Jangan - jangan dia mengutukku lagi seperti yang ada di film - film???! Argh!!! Andwe!!!

                Ah, sudahlah.... Aku harus cepat - cepat berkemas. Ada tempat yang harus aku datangi karena Appa-ku (Wah, aku sepertinya mulai terbiasa) sedang ada urusan lain. Jadi, aku harus menggantikannya. Karena Eomma juga sedang ada keperluan untuk mengurusi kepindahan kami yang terbilang mendadak.

                "Kim Ahjussi... Kita berangkat sekarang ya?" Teriakku saat keluar dari kamar.

                Kim Ahjussi langsung berlari mendatangiku. "Oh, ne."

                Aku keluar dari rumah sambil memeluk diri sendiri. Sumpah... Di sini dingin sekali... Brrr... Ini bukan pertama kalinya aku merasakan hawa dingin yang tulangku pun bisa merasakannya. Sejak awal menginjakkan kakiku di Korea, aku sudah merasakannya. Dan itu membuatku takut. Bagaimana kalau aku mati kedinginan seperti yang ada di film - film itu? Argh!! Tidak mungkin...

                Aku masuk ke dalam mobil. Hm.. Hangat.. Itu karena Kim Ahjussi menyalakan penghangat ruangan. Tentulah, kalau tidak, bisa - bisa kami berdua membeku menjadi es balok seperti yang ada di film - film.

                Aku menengok ke kanan jalan. "Wah.. Bagus sekali pemandangannya... Tidak seperti di Jakarta, pemandangan yang ada hanya lalu lintas yang macet."

                "Mwo?" Tanya Kim Ahjussi yang sepertinya bingung karena perkataanku (Aku memakai bahasa Indonesia).

                "Ah, ani. Aku hanya mengagumi pemandangan Seoul. Di Jakarta, pemandangan yang ada hanyalah lalu lintas yang macet. Itu membosankan.."

                "O... Tentu saja, di Korea, kedisiplinannya sangat terjaga. Bukan bermaksud menghina, tetapi, sampah berserakan di kota Jakarta sangat mengganggu mata."

                Aku terkejut. "Bagaimana Ahjussi tahu?"

                Kim Ahjussi tertawa malu - malu. "Dulu, saya pernah pergi ke Jakarta."

                "Oh... Begitu ya?" Jawabku mengerti.

ALYA POV END

 

 

AUTHOR POV

                Sehun menemui Shin Ahjumma. "Kenapa banyak thekali hiathan di thini?" Tanya Sehun bingung.

                "Ah... Ini... Donatur baru akan datang mengunjungi Panti Asuhan. Kami ingin menyambutnya dengan baik." Jawab Shin Ahjumma.

                "Oh... Begitu.." Jawab Sehun mengerti. 'Ternyata masih ada orang baik.' Batin Sehun senang.

                Yah, Sehun selama ini menjadi relawan di Panti Asuhan KyungHee. Dia begitu peduli pada anak - anak yang ada di Panti Asuhan ini. Dia seperti itu karena ingat, dirinya juga tidak punya Appa. Tapi menurutnya, dia lebih beruntung. Dia masih memiliki Eomma.

                Tak lama kemudian, Shin Ahjumma meneriaki Sehun. "Sehun! Kemarilah! Donaturnya sudah datang, ayo kita sambut!"

                "Oh, ne." Dengan segera, Sehun berlari menuju Shin Ahjumma yang ada di depan Panti Asuhan. Dia melihat sebuah mobil yang ia yakini adalah mobil sang donatur itu.

                Tetapi, Sehun sama sekali tidak menyangka siapa yang turun dari mobil itu. Dia adalah Alya.

                "Kenapa kamu di thini?" Tanya Sehun ketus pada Alya.

                Shin Ahjumma terlihat terkejut dengan perkataan Sehun. Begitu juga Alya dan Kim Ahjussi.

                "Sehun... Apa yang kau lakukan? Dia ini donaturnya.." Ucap Shin Ahjumma sedikit tidak enak pada Alya.

                "Mwo? Yeoja ini?" Tanya Sehun sambil menunjuk Alya dengan jari telunjuk nya.

AUTHOR POV END

 

 

ALYA POV

                Apa - apaan ini? Apakah namja itu gila? Belum apa - apa aku sudah di sambut dengan tidak sopan olehnya. Dasar namja tidak tahu tata krama!

                "Hei! Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di sini?" Teriakku sebal.

               "Ka-kalian sudah saling mengenal?" Tanya seorang Ahjumma padaku. Kalu aku tidak salah, namanya Shin Ahjumma.

                "Anio," "Ne," Aku dan Sehun menjawab secara bersamaan. Aku mengatakan Ne, dia mengatakan Anio.  Yang benar tentu aku. Dasar namja tukang bohong! Pakai acara tidak mau mengakui ku lagi.

                Atau jangan - jangan.... Dia tidak menyukai ku? Tadi kan aku sudah menertawakannya. Aku kan tidak bermaksud seperti itu. Dasar namja!

ALYA POV END

 

 

AUTHOR POV

                Alya turun dari mobil dengan malas. Tadi dia terpaksa bertingkah manis di depan Shin Ahjumma.

                'Awas kau Thehun! Eh, Sehun! Lihat saja.. Nanti kau akan merasakan pembalasanku! Akan lebih mengerikan dari yang di film-film!!' Rutuk Alya dalam hati.

                Alya masih memikirkan kejadian tadi sore di Panti Asuhan. Dia terpaksa merawat anak - anak yang tinggal di sana karena Sehun. Sehun menyindirnya sampai dia malu. Akhirnya, mau tidak mau, dia harus merawat anak - anak yang kebanyakan nakal itu.

                Tapi, ada satu hal yang membuat Alya tidak terlalu membenci Sehun: Ternyata Sehun punya hati yang baik.

                Alya benar - benar tidak menyangka, masih ada namja seperti Sehun. Namja yang sama sekali tidak pernah ia temui selain di film - film.

                'Ternyata... Dibalik kekurangannya, dia baik juga...'  Batin Alya sedikit kagum pada sosok Sehun yang baru ia kenal tadi siang di sekolah.

***

                Perasaan Sehun sedikit senang karena tadi sudah bisa mengerjai Alya. Membuat Alya kerepotan memang terlihat menyenangkan.

                'Dasar yeoja! Begitu saja tidak bisa! Mereka kan hanya anak kecil. Ah...' Batin Sehun melanjutkan tawanya. Tiba - tiba Sehun berhenti tertawa. 'Eh, tapi dia juga sedikit baik sih... Dia mau menjadi donatur. Jarang - jarang ada yeoja yang peduli hal seperti ini. Biasanya sih, yeoja menyukai shhopping dan sebagainya.. Ah.. Urusan apa aku padanya? Palingan juga dia disuruh Appa atau Eomma nya..'

                Sehun memasuki rumahnya. "Sehun, kau sudah pulang?" Tanya seorang Ahjumma dengan suara lemah.

                Sehun menengok ke sumber suara dan cepat - cepat berlari menuju Eomma nya. "Ne Eomma,"

                "Kau sudah makan?" Tanya Eomma nya Sehun, Nyonya Oh.

                "Thudah Eomma.. Oh ya Eomma... Ini, aku membelikan Eomma obat." Kata Sehun sambil menyerahkan sekantung obat yang dari tadi ia bawa - bawa.

                Nyonya Oh mengulurkan tangan rapuhnya hendak meraih obat yang Sehun tunjukkan. Tapi, tiba - tiba......

***

                Alya memasuki ruang kelasnya dengan hati - hati. Tak sengaja dia mendengar percakapan teman - temannya.

                "Jadi? Sehun tidak masuk karena itu??" Teriak Chanyeol terkejut.

                "Ne," Jawab Baekhyun pelan.

                "Kasihan sekali dia.." Tambah DO.

                "Bagaimana kau tahu?" Tanya Lay.

                "Tadi malam dia menelponku, dia bilang Eomma nya ada di rumah sakit. Dia harus menemani Eommanya.." Jelas Chen.

                "Kenapa cuma kau yang di telpon?" Tanya Suho kesal.

                "Kau kan tahu Sehun, dia tidak ingin kita khawatir. Benarkan Chen?" Jawab Kai sekaligus bertanya.

                Chen hanya mengangguk pelan.

                "Bagaimana kalau nanti siang kita jenguk Nyonya Oh di rumah sakit?" Tanya Luhan.

                "Aku setuju," Jawab Xiumin pertama.

                "Aku juga setuju," Tambah Kris dan Tao bersamaan.

                Alya sedikit terkejut mendengar pembicaraan para namja itu. 'Hah? Sakit? Sakit apa?' Batin Alya bertanya - tanya.

AUTHOR POV END

 

 

ALYA POV

                Ah!! Ini begitu memalukan!! Haruskah aku menguntit mereka seperti mata - mata yang ada di film - film itu? Argh!! Kalau ada teman sekolahku yang melihat, bisa - bisa aku mendapat julukan Alya si Tukang Kuntit. Argh!! Itu kan tidak keren!! Mau ditaruh dimana mukaku kalau aku benar - benar mendapat julukan itu?

                Ah, biarkan saja lah. Aku melakukan ini bukan untuk hal yang bodoh. Aku melakukan ini karena aku peduli pada Eomma nya Sehun yang bahkan aku sendiri belum pernah menemuinya. Seharusnya Sehun berterima kasih untuk ini. Jarang ada teman sebaikku. Dia menganggapku teman atau tidak itu tidak penting!

                Aku memperhatikan kesebelas namja itu dengan hati - hati. Mereka berjalan masuk ke rumah sakit. Rumah sakit di Korea sangat keren! Kalau di Jakarta, rumah sakitnya pasti terkesan seram seperti yang ada di film - film.

                Aku masih mengikuti mereka dari belakang dengan sangat hati - hati. Semoga mereka tidak mngetahui keberadaanku yang tidak diinginkan ini.

ALYA POV END

 

 

AUTHOR POV

                Kai dan teman - teman nya memasuki ruangan tempat Nyonya Oh dirawat. Di sana terlihat Sehun yang duduk setia di samping Eomma nya.

                "Sehun..." Sapa Luhan dan kawan - kawannya secara bersamaan.

                Sehun menengok ke sumber suara. Betapa terkejutnya dia saat melihat teman - temannya ada di hadapannya. "Kalian..? Wae? Kenapa ada di thini?" Tanya Sehun dengan tampang pongah.

                "Wae? Tentu saja menjenguk Eomma mu," Jawab Luhan.

                "Mwo?" Tanya Sehun masih bingung.

                "Sudahlah... Bagaiman kabar Eomma mu?" Tanya Chanyeol mengganti topik pembicaraan.

                "Gwaenchana... Eomma hanya kelelahan, kata Dokter Lee, Eomma hanya perlu berithtirahat." Kata Sehun sedikit pelan.

                "Oh.. Begitu.. Ini, ada buah - buahan dari kami.." Ucap Suho sambil memberikan sebungkus buah - buahan.

                "Maksudnya dari dia..." Bisik Baekhyun pelan pada Chen, semua orang yang ada di ruangan itu tertawa, kecuali Suho.

                Suho melirik Baekhyun. Baekhyun tersenyum lebar. "Hanya berusaha jujur.." Kata Baekhyun sambil memperlihatkan sederetan giginya yang putih.

                "Ah, tidak perlu repot theperti ini. Kalian datang thaja aku thudah thenang."

                "Jangan seperti itu... Eomma mu Eomma kami juga.." Ucap Lay.

                "Benar itu." Tambah Xiumin setuju, disusul anggukan Tao, DO, Chen, Kris, Baekhyun, Lay, Chanyeol, Suho, Kai, dan Luhan.

                "Gomawo.." Kata Sehun terharu.

***

                'Aduh, mereka benar - benar kompak. Kapan lagi ada persahabatan yang menyenangkan seperti persahabatan mereka? Kukira itu semua hanya ada di film - film. Ternyata, disekitarku pun ada. Kalau aku sih, aku tidak punya sahabat. Aku hanya punya saudara sepupu yang selama ini selalu menempati posisi sahabat bagiku. Argh!! Aku jadi merindukan Bella dan Sofi... Argh!! Yah, merekalah sepupuku. Aku adalah Eonni mereka. Menyebalkan bukan? Aku menjadi yang lebih tua dari mereka... Sungguh ironi..'  Batin Alya saat melihat keduabelas namja itu tertawa bersama.

                'Oh, mereka mau pergi kemana? Eh, itu bagus. Aku jadi bisa menemui Eomma nya Sehun. Kalau tidak salah, Nyonya Oh. Iya! Nyonya Oh!'  Alya segera memasuki ruangan tempat Nyonya Oh dirawat saat keduabelas namja tadi pergi keluar.

                Alya mendekati Nyonya Oh. "Nyonya Oh.. Segera sembuh ya? Jangan biarkan Sehun sedih. Aku membawakan Anda buah. Dimakan ya?" Ucap Alya pada Nyonya Oh yang masih tidur, lalu meletakkan buah - buahan yang telah ia beli tadi ke merja yang ada di sebelah kasur Nyonya Oh.

                'Oh, aku sinting atau apa? Berbicara pada orang yang sedang tidur. Bodoh sekali aku.. Dasar bodoh!'

                "Nyonya Oh, aku pergi dulu ya? Semoga cepat sembuh.." Kata Alya lalu pergi meninggalkan Nyonya Oh yang masih terbaring lemah di tempatnya.

***

AUTHOR POV END

 

 

ALYA POV

                Aku menghempaskan tubuhku di kasur.

                Kenapa aku begitu peduli pada Eomma nya Sehun ya? Boro - boro kenal, bertemu saja belum pernah. Tapi... Kenapa aku mau maunya menjenguk Nyonya Oh? Apakah kami pernah bertemu sebelumnya? Seperti di film - film begitu? Argh! Tidak mungkin. Itukah hanya seperti yang ada di film - film.

                Aku merasa... Aneh.

                Ya sudahlah... Aku mau tidur saja.. Untuk apa memikirkan hal itu? Tidak penting!

ALYA POV END

 

 

 

-To Be Continued

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK