SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Moonlight

Moonlight

Share:
Published : 05 Sep 2014, Updated : 17 Dec 2014
Cast : Oh Sehun, Jiyeon Kim, Cha Sooyoung, Do Kyung So, Kim Jongin
Tags :
Status : Complete
1 Subscribes |34930 Views |5 Loves
Moonlight
CHAPTER 1 : Welcome Back, Jiyeon-a

           Langkah demi langkah kaki itu bergerak sangat cepat, seorang wanita menggunakan kacamata hitam, wedges dengan tinggi lima sentimeter, bergaya simpel dan tas sandang berwarna merah itu terus melangkah dengan cepat. Riuh dan ramainya isi bandara Incheon membuat langkah kakinya semakin cepat dan tak karuan. Setelah melewati 8 jam perjalanan diatas pesawat, tubuhnya masih terasa terhuyung terbawa angin dan kini kakinya mulai merasakan sakit. Ia tak ini, orang yang ia sayangi menunggunya lebih lama. “Jebal! Palli wa~” gumam wanita itu.

            Beberapa orang memandang dirinya saat ia harus mengejar waktu yang ada, entah apa yang dilihat dari dirinya, ia sendiri memikirkan sambil mempercepat langkah kakinya. Tubuhnya yang ideal, tetapi pada saat ini ia harus mempercayai bahwa berat badannya sudah naik. “Tidak ada yang menarik dariku, entahlah~”

            “Bibi!!!!!” dengan lantangnya ia memanggil Bibi Hida yang menunggunya. Terlihat sang manajernya, Rayo seongsanim yang selalu membantunya setiap ia berada di Korea. Enam tahun sudah, Jihan meninggalkan Korea, selama itu juga ia sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah dan kuliah di Indonesia. Tak ada kata lain, selain dari kata rindu akan kehidupan di Korea.

            “Wah, anak bibi sudah besar. Jiyeon-a~ bogosipda~” ia memeluk Jihan dengan sangat teramat rindunya, terlebih beliau masih setia membantu dirinya dan juga keluarganya untuk menjaga rumah yang pernah ia huni semenjak umur 5 tahun. Kini, Jihan sudah berumur 20 tahun, 15 tahun yang lalu menjadi kenangan yang tak pernah ia lupakan, terlebih saat ia memutuskan kembali ke Indonesia untuk tinggal bersama orangtuanya.

            Hida sangat senang kehadiran Jihan kali ini, banyak perubahan yang terjadi dari diri wanita dihadapannya. Jihan sudah mau merawat badannya, tidak seperti saat ia menduduki bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, Hida pertama kalinya datang ke Korea atas permintaan kedua orangtuanya untuk menemaninya dan menjaga dirinya. Meskipun bukan dari kelurganya, Bibi Hida sudah menjadi pengganti Bunda yang selalu berada disampingnya.

            “Yeppota~ kamu semakin cantik Jiyeon. Ah, bibi lebih senang memanggilmu Jiyeon ketimbang Jihan.” Ia mengusap hidungnya dengan sapu tangan yang ia pegang, air matanya masih menetes karena ia merasa bertemu dengan anaknya sendiri.

            “Bibi, bisa aja. Kalo bukan bibi yang mengingatkanku, mungkin aku tak seperti ini.” Canda Jihan.

            “Ah~ Rayo seongsanim, urinmaneyo~!” ia memberi hormat seraya memeluk manajernya itu. Sebelum Rayo menjadi manajernya, ia juga membantu Jihan dan kakak laki-lakinya dalam mempelajari bahasa, sejak kecil, Rayo selalu berada disamping mereka dan menjaga mereka. Saat Jihan berusia 12 tahun, saat itu juga Bibi Hida datang kekorea dan menggantikan tugas Rayo kepada Hida. Tak lama, mereka menikah setalah melalui masa-masa pengenalan. Iya, masih teringat kejadian itu, akhirnya Rayo dan Hida membantu keluarganya. Saat ini, Rayo sudah memiliki pekerjaan tetap diperusahaan milih ayahnya itu. Menjadi seorang manajer dan manajer untuk Jihan di Korea, ia memikirkan keinginan Jihan untuk dirinya menjadi manajer baginya, tanpa basa basi ia membantu cewek tomboi ini untuk menjalankan rutinitasnya selama di Korea.

            “Aman, dua hari ini, kamu tidak memiliki schedule. Dan, mari kita berliburan!!”

            Liburan Jihan tak seperti liburan yang dibayangkan, ia memilih tidur dan berbaring santai diatas tempat tidurnya. Rasa bahagia dan rindunya menjadi satu saat itu juga, ia merindukan seisi kamar ini, dan tak ada satupun yang berubah. Dari arah pintu masuk, tempat tidur berukuran besar bersebelahan dengan kaca bening besar yang menjadi keinginannya untuk melihat semua pemandangan dari atas apartemen yang ia huni. Apartemen yang ia huni didapat saat ia masuk ke sekolah mennegah pertama. Mengapa tidak, pemandangan dari kamarnya membuat ia banyak berfikir dan menenangkan hatinya. Kamar mandi berada tepat dikanan ujung dari pintu masuk, kaca bening besar tepat saat kita memasuki kamar itu, kita akan menemukan tirai besar untuk menutupi kaca itu. Segera, ia membuka tirai itu dan membuka lengser pintu dan keluar menuju teras kamarnya.

            “Wahhhhh indahnyaaaaa~” sembari mereganggkan otot yang kaku, ia mengingat seseorang yang saat ini ingin ia cari. Sekilas, ia ingin memikirkan hal itu, tetapi kali ini ia harus menikmati waktu istirahanya selama dua hari sebelum ia kembali dengan segudang rutinitas

***

 

            Cahaya lampu sorot, detik demi detik lampu itu redup dengan arahan seseorang yang mengambil gambarnya, lelaki itu menjadi objek pengambilan gambar. Lelaki itu terus mengeluarkan pose yang berbeda disetiap detiknya. Pemuda itu, membuat para staff wanita yang bekerja saat itu semakin semangat dan senang karena ketampanan yang tiada duanya. Melihat segerombolan staff semakin tak fokus kerja, manajer produksi sudah mulai mengeluarkan sinyal kemarahannya dan mengarahkan staffnya untuk kembali bekerja.

            “Ne, done! Kerja yang sangat bagus! Break time!” manajer itu berjalan menghampiri pemuda tampan bertubuh tinggi.

            “Sehun-a. Kerja yang bagus! Mari kita istirahat sebelum kamu kembali.” Pemuda itu langsung menunduk hormat dan mengikuti manajer itu dengan santai.

            “Setelah ini kau akan kemana?” ialah Donghae, sepupu Sehun itu kembali bertanya padanya.

            “Setelah ini aku masih ada kegiatan fan meeting.” Terdiam sejenak. “Aa~ Donghae-ssi? Kamsahamnida sudah mengajakku bekerja sama. Kali ini, tidak ada yang mengecewakanmu kan?” ia sempat merasa tak enak semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu saat dirinya mengambil gambar ditempat yang sama. Kejadian itu? “Ah memalukan!”

            “Kau sudah punya daya saing dengan model lainnya, Sehun. Apa yang saat ini kau khawatirkan? Aku melihatmu sudah semakin banyak perkembangan, tetapi tetap saja, kelakuanmu yang belum berubah.” Celetuk Donghae.

            “Hmm, sepertinya itu takdir, membuat diriku tidak pernah diam. Dan ini aku, terserah dengan tanggapan yang ada diluar sana. Hah! Donghae-ssi. Apakah aku perlu mengambil waktu libur? Aku sudah bosan.” Ia sangat mengeluh dengan jadwal kerja dan kerja sama selain dari Donghae. Benar, ia sudah mengenalnya, kedekatan dengan sepupunya itu membuatnya semakin nyaman. Ia adalah anak tunggal, begitu juga Donghae, mereka saling meberi dukungan dikala mereka harus berjuang untuk mendapatkan keinginan. Lee Donghae-lah yang mendukung Sehun untuk menjadi seorang akktor dan model di berbagai kesempatan.

            “Chankanman~!” riuh bisikan suara Jihan kali ini membuat Bibi Hida cemas. Tengah malam, ada seseorang yang datang rumahnya. Bagaimana tidak, biasanya tak pernah sekalipun dirinya menemui seseorang ataupun tamu yang datang tengah malam seperti ini.

            “Bi, jangan cemas, santai, releks.” Jihan mempercepat langkah kakinya dan menekan tombol yang pengaman rumah. “Duguseyo? Oh? Ah~ mian. Chankanman~”

            “Siapa nak? Siapa?” Bibinya masih terihat cemas, wajah Jihan tersenyum dan berjalan membuka pintu rumahnya.

            “Sunbae! Urinmaneyo! Ah, jinjja, aigooo!” Jihan menyerengit kesal karena Lee Donghae baru datang selarut ini.

            “Aha, mian, baru menyelesaikan kerjaan hari ini. Hah!” Donghae duduk diatas sofa, seketika ia meregangkan otot yang kaku setelah menyelesaikan job besar.

            “Job besar? Maksudnya?” ia coba memikirkan ada job besar itu, untuk kali ini, otaknya tak mampu berkerja dengan baik.

            “Ada beberapa pemotretan majalah, jadi mereka lagi membuat edisi khusus dengan mendatangkan model dan aktris terbaik untuk bisa memeriahkan anniversary perusahaan mereka. Makanya banyak sekali model yang dipotret. Aku tetap saja tak mau lepas tangan, karena mereka memakai studioku.” Donghae mengganti posisi duduknya dan meraih secangkir teh hangat buatan Bibi Hida yang sudah dihidangkan saat mereka asyik berbicara.

            “Jiyeon-ya~ apa kau masih ingat orang ini?” ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan menunjukkan foto lelaki yang memiliki wajah tampan dan juga memiliki postur badan yang tinggi. Jihan mengambil ponsel dari Sunbae dan melihat secara detail.

            “Sehun-a? Ah, dia sangat hebat kalau sedang dipotret.” Akhirnya, impian Sehun menjadi kenyataan, ketampanan, kebaikan, ketulusan dan cara ia dekat dengan siapapun membuat hatinya semakin rindu untuk kembali bertemu dengannya.

            “Aish, wae? Silpheo? OMO? Ya~ benar dugaan, Donghae merasakan kerinduan diantara mereka berdua. Kali ini, tak salah jika ia menunjukkan keberhasilan Sehun saat ini.

            “Kau senang? Sehun bisa sukses seperti ini?” ia kembali menanyakan hal ini.

            “Too much, sunbae. Aku senang, haengbokkaeyo.”

***

            Paginya kota Seoul. Hari pertama dan menjadi hari yang paling ia tunggu. Jihan sudah memiliki janji dengan dua sahabatnya. DO dan Sooyoung dengan senang hati menanggapi keinginan Jihan untuk melakukan perjalanan menuju Namsan. Awalnya hanya sebatas basa-basi melalui telepon dan hanya sebuah cerita biasa. Dan kali ini, tercapai karena mereka berdua sedang tidak ada kegiatan. Jiahn menunggu kedatangan kedua sahabatnya itu. Ia mengambil ponselnya yang berada diatas meja didekatnya dan mencari kontak teman-teman yang lainnya. Harapannya, ada yang bisa ikut, menyusul maupun bersama dengan mereka. “Kim Kai?”

            “Yeobseo? Kai~ya!” sentak suara Jihan berubah lebih besar. Saat bersamaan, Kai sama sekali tak mengetahui nomor ponsel itu. “Nomor aneh?” mencoba memperhatikan nomor ponsel yang sedang meneleponnya. “62813…~”

            “Ya, Jiyeon-ssi, aish. Kau kenapa pagi-pagi ini membuat telingaku sakit. Ah, chankamman? Ya, kau dimana sekarang?” Jihan tak dapan menahan tawanya mendengar ocehan lelaki itu. Ia masih ingat, saat ia dan Kai beradu mulut hanya karena masalah sepele.

            “Sakit? Berarti kau baru bangun tidur. Terlihat sekali kau panik mendengar suaraku. Haha!” benar, Kai baru saja bangun dari tidurnya. Ia tak menyangka, Jiyeon menghubunginya.

            “Kali ini aku tak akan membuat keributan lagi. Waeyo? Aku dengar kau ada pekerjaan di Seoul. Benarkah?” ia mengacak rambut karena masih merasakan kantuk luar biasa.

            “Ne~ saat ini aku ada di Seoul. Ah, keliatan sekali kau terus begadang hanya karena latihan itu. Aish jinjja! Masih saja kau seperti dulu.” Tangan kirinya mengambil tas dan mencari buku tahunan SMP yang ia simpan baik dalam tasnya.

          “Ah, kau masih pengertian kepadaku. Haha. Berapa lama kau disini? Aku harap kau bisa lama tinggal disini.”

            “Aku harap begitu.” “Ah, Kai-ya~ hari ini kau ada kegiatan bersama saudaramu?”

            “Aniyo, wae geureyo?”

            “Aku, DO dan Sooyoung pergi ke Namsan hari ini. Dan kami akan bertemu disana. Kau bisa datang? Susul kami disana, sebentar lagi aku akan berangkat.”

            “Ne~ akhirnya kita bisa bertemu lagi. Oh oke oke.” Sempat terdiam, Kai mengingat satu hal yang benar-benar ia tunggu saat Jihan meneleponnya. Tentang Sehun.

            “Apakah kau tau Sehun saat ini?” mendengar hal itu, Jihan sempat diam dan membeku.

            “Oh, aku sudah tau. Apakah kau bisa mengajaknya? Seandainya ia ada waktu ajaklah dia pergi.” Kejujuran hati Jihan yang selalu Kai sukai, ia tak bisa berbohong. Suka tidak suka, ia akan langsung membicarakannya.

            “Geurae, aku akan menghubunginya, semoga saja ia tidak sibuk hari ini.” Usahanya memang tak sia-sia. Ia bisa behubungan lagi dengan teman lamanya saat ia di Seoul. “Gomawoyo, chingudeul~”

            Melewati 30 menit perjalanan, Jihan sampai di Namsan, ia memilih untuk bertemu dengan teman-temannya di sebuah café yang tak jauh dari Namsan Tower. Ia melihat dua orang yang sudah menunggunya didalam café itu. Ia mempercepat langkah kakinya dan mendorong pintu besar dan masuk kedalamnya.

            “Sooyoung, Jiyeon datang.” DO melihat banyaknya perubahan pada diri Jihan. Terlebih, ia lebih feminin. Kedua mata mereka tak dapat berpaling dan melihat langkah Jihan semakin dekat menghampiri mereka.

            “Sooyoung-a! bogosipda! Aaaa!!” peluk hangat Sooyoung kepada Jihan yang sudah lama tak bertemu. “Aku tau, kau semakin banyak perubahan. Pinter dandan, tambah tinggi dan …”

            “Feminin!” DO melanjutkan satu kata yang akan terlontar dari mulut Sooyoung.

            “DO-ya! Yaaa!!” akhirnya mereka berpelukan dan mlihat satu sama lain. “Ah kau semakin imut dan tampak muda dariku. Aku iri denganmu. Ck~ haha.”

            Sekian lama mereka meluapkan kerinduan melalui pesan maupun webcam, kali ini secara langsung mereka bisa bertemu. Lima tahun merupakan waktu yang sangat lama, lama sekali bagi mereka untuk berpisah.

            “Yeppota~ pemandangan dari sini sungguh membuatku sangat nyaman. Hah, seandainya saja sendari dulu aku kesini bertemu dengan kalian.” Jihan merasa bersalah meninggalkan teman kecilnya dari sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama. Mengingat saat itu, Jihan harus dihadapkan dua pilihan, tetap tinggal di Seoul atau kemabali ke Jakarta, dimana kedua orangtuanya berada disana. Semakin ia mengingat kejadian itu, semakin ia merasa bersalah, padahal banyak sekali sekolah terbaik di korea memilihnya untuk menjadi siswa disana. Janjinya, setelah ia menamatkan sekolah di Seoul, ia harus kembali ke Jakarta.

            “Gwenchana, itu kejadian yang sangat lama. Saat ini, kau sudah sukses. Kau bisa cepat menyelesaikan kuliahmu dengan baik. Kau melakukannya dengan baik, Jiyeon.” Lelaki tampan itu membuat dia nyaman, Sooyoung mengangguk ringan dan ia mencoba menghibur hati Jihan.

            “Harusnya kita bersenang-senang bukan, kita bisa kumpul saja aku sangat senang.” Sooyoung kembali menatap Jihan yang masih terdiam.

            Suasana hening, Jihan mengumpulkan energi untuk kembali ceria dan mencoba mengalihkan pembicaraan ini. “Tadi aku menelepon Kai dan aku ajak untuk bertemu disini.”

           “Ah, kenapa aku baru terpikir ya? Ah, matta! Apakah dia kesini?” Jiha terkejut dengan lantangnya suara DO.

            “Ya, DO! Sejak kapan kau memiliki suara seperti itu. Haha!” celetuk Jihan.

            “Benar, ia akan kesini?”

            “Ne, dia lagi di perjalanan…”

            “Sehun?” serentak DO dan Sooyoung mengucap nama pemuda itu. “Apakah ia ikut?”

            “Entahlah, tadi sih Kai bilang, kalau dia tidak sibuk hari ini ia akan ikut.”

            “Arraseo, aku tau, Sehun juga punya banyak kegiatan. Jihan? Gwenchana?” Sooyoung dan DO mengkhawatirkan situasi Jihan saat ini.

            “Ne, kalian jangan khawatir, aku mengerti.”

            Seorang pelayan datang menghampiri mereka membawa pesanan mereka. Ia menyajikan sarapan pagi. Tak lama, Kai sudah sampai dan berjalan menghampiri mereka.

            “Annyeong!”

           “Ya, Kai! Urinmaneyo~” DO menyambut kedatangan Kai dan memberi kursi kosong tepat di sebelah kiri DO.

            “Kai? Benar ini Kai? Kau sama dengan Jihan, banyak berubah. Wah~”

            “Sooyoung-ssi. Kau ini? Kayak baru ketemu hari ini. Dua hari lalu kta berjumpa.” Kai menatap sinis Sooyoung dan tak lama mereka tertawa.

            “Jiyeon-ssi. Kau benar-benar…” ia mengeddipkan mata kearah Jihan. Tatapan sini Jihan masih menjadi ciri khasnya.

            “Aish jinjja. Wae geurae. Ne, naya, naega, naegu~” serentak semua ikut tertawa. Mereka masih mengingat saat ia salah mengucap kata “naega” dengan sebutan “naegu”.

            “Jiyeon-a. Kau mengingatkan hal itu lagi, mungkin perut kami akan kram.” Kai kembali membuat Jihan tertawa.

            “Haha, oke oke. Aku sudah pesan makanan untukmu. Aku tau kau kesini juga belum makan. Dan aku berterima kasih kau sudah datang.” Ucapan tulus itu keluar dari mulutnya. Ia senang, ia merasa bahagia dan terbukti, mereka masih mengingatnya.

***

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

Secret J
Rabu, 17/09/2014 18:48
1
aaaaaa. ditunggu kelanjutan fanfictionnya~ fighting!
POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK