SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > White Love

White Love

Share:
Author : mrchuu
Published : 31 Jul 2014, Updated : 31 Jul 2014
Cast : Eunji, Lee Kwang Soo, Wooyoung, Naeun, Chorong, Yoseob
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |484 Views |0 Loves
White Love
Synopsis

Pria berambut coklat itu mendesah pelan sambil menatap foto seorang gadis berambut pink yang sedang tersenyum di bawah pohon EunJi. Terlihat beberapa kelopak bunga EunJi yang berguguran diterpa angin seperti melayang disekitarnya bersama rambut panjangnya.

Ia teringat suara tawa gadis di dalam foto itu, bahkan ekspresinya ketika tertawa pun dapat terlihat jelas dikepalanya. Pria itu mengusap permukaan kaca pigura itu dan tersenyum penuh kerinduan.

“Bagaimana kabar EunJi-?” tanyanya. Entah pada siapa, karena di ruangannya tidak ada seorang pun.

Dan pintu ruangannya tiba-tiba menjeblak terbuka dengan seorang Suster barambut pendek hitam menghampiri mejanya setengah berlari.

“Dokter , ada korban kecelakaan lagi!” seru gadis itu dalam satu tarikan nafas.

Dokter yang bernama lengkap Kwang Soo  itu pun bangkit dari duduknya, dan dengan cepat memakai jas putihnya. “Tunjukkan padaku Chorong!” ucapnya cepat.

Keduanya dengan cepat pergi ke tempat korban kecelakaan itu. Kwang Soo menerobos masuk ke ruangan itu bersama suster Chorong dan menghampiri sebuah tubuh yang penuh dengan darah. Kwang Soo tertegun sejenak menatap korban kecelakaan itu.

Rasanya jantungnya hampir saja berhenti berdetak. Tapi, karena korban kecelakaan itu adalah orang yang sangat dikenalnya, ia dengan cepat memberikan pertolongan medis pada korban kecelakaan itu, yang adalah seorang gadis.

Seorang gadis yang putih bersinar bagaikan cahaya mentari karena memakai shinzui body cleanser dan body scrub,

Seorang gadis yang amat sangat dicintainya.

EunJi Jung.

---

“Kami sudah memindahkannya ke ruang perawatan biasa, dia sudah melewati masa kritisnya.” ucap Chorong.

“Baiklah, terima kasih Chorong.” jawab Kwang Soo menghembuskan nafas lega. “Oya, apa kau sudah menghubungi keluarganya?” tanya Kwang Soo.

“Sudah, katanya mereka sedang dalam perjalanan. Mungkin dia akan datang besok dari Amerika.” jawab Chorong sambil membolak-balik catatannya.

“Baiklah, kau boleh pergi.” balas Kwang Soo. Chorong membungkuk. Gadis itu pun keluar dari ruangan Kwang Soo.

“EunJi….” ucapnya tertahan.

---

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.25 malam. Kwang Soo masih saja di ruangan tempatnya bekerja. Ia yang merasa lelah bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar ruangannya. Langkah kakinya membawa tubuhnya ke suatu ruang rawat.

Dan kini, ia berdiri di sebuah ruangan yang dari tadi sangat aku ingin ku kunjungi. Kamar rawat EunJi Jung. Wanita yang sangat ia cintai. Kwang Soo pun masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di samping tempat tidur gadis itu.

Kwang Soo menatap wajah pucatnya dan matanya yang terpejam. Ia menggenggam tangan EunJi dan mengecupnya pelan. Kilasan-kilasan kejadian setahun lalu terbayang kembali di kepalanya.

“EunJi, maafkan aku!” lirihnya.

Saying that this moment is the last to you whom i loved so much
Even if you try to turn it back, even if you hold onto me crying, i was the one who said no and bid our farewell

~Flashback~

“Bagaimana jika kita ke pantai?” tanya Kwang Soo pada EunJi yang sangat bersemangat.

“Ide bagus Kwang Soo. Ayo kita pergi.”

Ketika mereka dalam perjalanan. Kwang Soo menengokkan kepalanya sedikit untuk mengajak EunJi berbicara dalam kecepatan motor yang tetap. “EunJi, pegangan!”

“Apa?” EunJi mencoba mencerna kata-kata Kwang Soo yang sangat bising.

“Pegangan! Aku akan ngebut!”

“Kyaaaaaaaaaaaa….” EunJi memeluk Kwang Soo yang menaikkan kecepatan motornya. Tapi, ketika di tikungan Kwang Soo lengah. Ia menabrak pembatas jalan dan kecelakaan yang tidak diinginkan pun terjadi.


Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much they can’t go a day without you.. please

~End of flashback~

Sejak saat itu Kwang Soo merasa bersalah sekali pada EunJi dan menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang terjadi pada EunJi. Karena ia merasa kepercayaan dirinya untuk menjaga EunJi hilang, Kwang Soo pun akhirnya meninggalkan EunJi yang sudah sembuh total.

Setelah setahun tidak bertemu lagi, kini mereka dipertemukan takdir. Kwang Soo dapat merasakan cairan hangat keluar dari kedua matanya. Ia sadari bahwa dari dulu ia masih mencintai EunJi. Dan perasaan itu tidak berubah sampai sekarang.

---

 “Dokter, Nona Jung sudah sadar.” ucap Chorong.

“Oh, bagaimana?” Kwang Soo menarik clipboard Chorong dan membaca catatan Chorong sekilas. “Apa keluarganya sudah datang?”

“Ya.” ucap suster itu sambil mengangguk. Hati Kwang Soo mencelos. Mereka baru saja berbelok ditikungan dan beberapa langkah berikutnya mereka akan sampai di depan kamar rawat EunJi. Kwang Soo membuka pintunya dan mendapati EunJi terbaring masih dengan kulit wajah yang pucat dan di sampingnya seorang pria berambut raven duduk sambil mengenggam tangannya.


It feels like I’ve been dreaming for a long time
I’ve wandered and wandered around for a while
As if we made a promise

Kwang Soo menatap EunJi yang balas menatapnya dengan pandangan lemah. Tapi, terpancar kilat di mata hijaunya itu. Pandangan Kwang Soo teralih pada pria yang duduk di sampingnya itu. Pria itu berdiri dan menghampiri Kwang Soo, lalu menjabat tangannya.

“Terima kasih Dokter, anda telah menyelamatkan EunJi.” ucapnya dengan penuh rasa terima kasih.

“Ah, tidak apa-apa. Itu sudah tugasku.” balas Kwang Soo sambil tersenyum. Di balik senyumannya itu Kwang Soo bertanya-tanya dalam hati, siapakah pria yang kini tengah menjabat tangannya.

“Aku Yoseob. Sekali lagi terima kasih Dokter!”

“Kwang Soo . Senang berkenalan dengan Anda.”balas Kwang Soo. “Sekarang waktunya pemeriksaan untuk Nona Jung.” ucap Kwang Soo dengan nada datar. Ia melangkah mendekati EunJi dan memeriksa keadaan EunJi. Dapat dirasakannya jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat saat menyentuh kulit EunJi.

EunJi dengan sekuat tenaga menahan air mata yang hendak keluar dan perasaan rindu yang amat dalam pada sosok yang masih sangat dicintainya saat ini. EunJi dapat merasakan tangan hangat Kwang Soo menyentuh kulit putihnya. Dan itu membuat dirinya semakin tak dapat menahan air matanya.

“Dia hanya perlu di rawat beberapa hari di sini untuk berjaga-jaga jika ada keluhan lain.” ucap Kwang Soo setelah memeriksa keadaan EunJi.

“Syukurlah, EunJi kau dengar itu? Berarti pernikahan kita tidak akan tertunda.” ucap Yoseob sambil mengusap pipi EunJi. EunJi membalasnya dengan tersenyum lemah.

“Wah, kalian akan menikah? Selamat ya!” ucap Chorong riang.

“Iya, sekitar sebulan lagi. Sebagai ucapan terima kasihku, karena telah menyelamatkan EunJi. Aku harap Anda datang ke pernikahan kami.” ucap Yoseob.

‘Jangan!’ jerit EunJi dalam hati. Ia tahu, bahwa Kwang Soo masih mencintainya ketika ia menatap sorot matanya. Dan mengundang Kwang Soo ke pernikahannya akan membuat diri mereka sendiri menderita.

Tapi, Kwang Soo tersenyum. “Tentu saja.” jawabnya singkat.
 

I hope that we won’t meet like today again

---

Kwang Soo keluar dari rumah sakit itu dan berjalan dengan diikuti Naeun disampingnya. Naeun diam. Ia sudah mengenal Kwang Soo sejak kecil. Jadi, ia tahu bahwa Kwang Soo saat ini sedang dalam keadaan batin yang tersiksa. Baru saja semenit mereka berjalan Kwang Soo tiba-tiba nyaris ambruk ke tanah. Naeun dengan sigap menangkap lengan Kwang Soo.

“Kwang Soo, kau baik-baik saja?” tanya Naeun cemas.

“Aku tidak apa-apa Naeun. Aku hanya…” kata-katanya terputus. Naeun tahu, dia masih memikirkan pertemuannya dengan EunJi.

“Kau terlihat sangat terguncang.” ucap Naeun jujur. Ia sungguh tidak tega melihat sahabatnya sejak kecil menahan sakit itu. Ia kemudian memapah Kwang Soo untuk duduk di kursi taman terdekat.

Kwang Soo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia mencoba menghilangkan frustasi yang dialaminya hari ini. Naeun mengelus pundaknya prihatin. Ia kemudian merangkul Kwang Soo dan mencoba menghiburnya.

“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi.” hiburnya. “Bukankah ini pilihanmu? Membiarkannya mencari pria lain yang katamu ‘lebih-baik-dari-dirimu’?”

Kwang Soo mendesah pelan dan menatap Naeun. Gadis berambut panjang dan berwajah pucat itu balas menatapnya. “Aku tahu Naeun, tapi aku masih sulit melupakannya. Sudah setahun aku tak melihatnya, dan ketika kami bertemu lagi dia sudah akan menjadi milik orang lain.” ucap Kwang Soo pedih.

“Aku tahu. Tapi, apa kau ingin merusak kebahagiaan yang akan diraihnya?” tanya Naeun. “Aku harap kau mengerti keadaannya sekarang, dan berdoalah untuk kebahagiannya selalu. bukankah kau sangat mencintainya. Jika kau mencintainya, tentu kau akan melihatnya bahagia bukan?”

“Masalahnya bukan itu Naeun.” potong Kwang Soo. “Aku merasa … dia masih mencintaiku.”

“Ah baiklah, kita lihat dari sudut pandang Yoseob. Mendengar ceritamu tentang pria itu, aku rasa pria itu sangat mencintainya. Kau bilang matanya bersinar-sinar saat ia mengucapkan rasa terima kasihnya padamu karena kau telah menyelamatkan hidup EunJi?”

Kwang Soo yang tidak sanggup menjawab hanya mengangguk mendengar pertanyaan Naeun.

“Nah, jadi apa lagi? Bukankah itu sudah cukup? Kau sudah melihatnya bahagia. Jadi, untuk apa kau pikirkan lagi?”

Kwang Soo terdiam. Ia akui bahwa pernyataan Naeun ada benarnya. Jika ia muncul dihadapan EunJi, tentu gadis itu sudah tak sendiri. Karena kini Yoseob sudah ada disampingnya. Dan ia sangat ulit membayangkan jika dirinya muncul kembali dikehidupan EunJi.

“Naeun, kau benar. Terima kasih.” Kwang Soo memeluk sahabatnya itu. Ia merasakan hangat dan nyaman memeluk sahabat yang sudah lima belas tahun menemaninya dan menjadi sahabatnya.

“Nah, begitu! Itu baru Sahabatku.” ucapnya senang.

“Oya, aku ada satu permintaan.”

“Ya?”

“Temani aku ke pernikahan EunJi dan Yoseob.”

---

Standing here in front of each other like that day from four seasons ago
Those beautiful stories that we wrote down together
Those eternal promises that we prayed for at the time
They’re all coming back to me now and I don’t think my heart can take it
I’ve even restrained myself at the thought of you
How has your one year been

 

Kwang Soo menatap seorang pria dan wanita mengikat janji di depannya dan orang-orang yang hadir saat ini. Ia dapat merasakan matanya ingin menolak melihat mereka. Dan dapat dirasakannya perasaannya berkecamuk. Sedih dan terluka.

Dan sebuah tangan hangat meraih jemarinya dan menggenggamnya. Ia menoleh ke samping. Naeun, gadis itu duduk disampingnya. Tersenyum lemah dan mengangguk untuk menguatkannya. Kwang Soo membalasnya dengan tersenyum tegar.

Ia dapat melihat EunJi dan Yoseob mengikat janji di hadapannya. Upacara telah usai, dan dia telah menepati janjinya pada Yoseob untuk datang ke pernikahan mereka. Setelah selesai ia menemui kedua pengantin baru itu bersama Naeun.

“Kwang Soo, kau yakin kau tidak apa-apa?” tanya Naeun cemas. Kwang Soo menatap mata Naeun dan tersenyum meyakinkan.

“Aku baik-baik saja Naeun.” jawabnya sambil tersenyum. “Kau hanya perlu tetap disampingku dan kuatkan aku. Oke?”

“Kwang Soo…”

“Ssst! Genggam tanganku dan aku mohon, jangan kau lepaskan!” ujar Kwang Soo.

“Um… baiklah!” Naeun dan Kwang Soo berjalan menghampiri kedua pengantin baru itu dengan senyum mereka.

“Dokter, terima kasih Anda sudah datang ke hari pernikahan kami.” ucap Yoseob menjabat tangan Kwang Soo.

“Ya, selamat atas pernikahan kalian.” balas Kwang Soo. Naeun dapat merasakan tangan Kwang Soo meremas tangan mungilnya itu. Ia tahu Kwang Soo mencoba menahan perasaannya. “Ah, EunJi kau pasti sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat mencintaimu.” ucap Kwang Soo ramah.

“Terima kasih Dokter , dan terima kasih karena Anda telah menyelamatkan nyawaku.”

“Tak apa, itu sudah menjadi tugasku. Benarkan Naeun?”

Naeun tersenyum sambil mengangguk kecil. Yoseob menatap Naeun yang sedari tadi diam.

“Ah, Dokter kapan kau akan menikah juga?” tanya Yoseob. Kwang Soo mengerjap, ia menatap Yoseob yang bertanya dengan riang. Kwang Soo menatap Naeun, Naeun sepertinya mengerti apa yang dipikirkan Yoseob.

Kwang Soo menatap Yoseob dan balas tersenyum riang. “Masih direncanakan.” ucapnya rahasia. Yoseob tertawa, bahkan EunJi pun ikut tertawa. Mendengar tawa EunJi, Kwang Soo bernafas lega. Ia sudah melihat EunJi bahagia.

“Nah, aku harus pergi ada yang perlu aku lakukan.” ucap Kwang Soo sambil menatap jam.

“Oh, tentu saja. Sekali lagi terima kasih Dokter .”

“Ya sama-sama. Sampai jumpa Yoseob, EunJi.” ucap Kwang Soo masih tetap menggenggam tangan Naeun. Kedua pengantin baru itu tersenyum menatap kepergian mereka. Dalam hati, EunJi sendiri merasa lega karena Kwang Soo tidak sendirian.

---

“Naeun, terima kasih kau sudah mau menemaniku.” ucap Kwang Soo tersenyum tulus.

“Sama-sama. Tapi, aku minta imbalannya!”

“Hah?” Kwang Soo menatapnya heran.

“Belikan aku es krim! Kau sudah membuang waktuku untuk melanjutkan novelku tahu!” ucapnya pura-pura kesal. Kwang Soo tertawa dan merangkul pundak Naeun.

“Baiklaaaah! Aku pasti akan mentraktirmu.” ucapnya dengan nada pura-pura malas.

“Kau, benar-benar tidak berubah ya!” gerutu Naeun kesal. Kwang Soo terhenyak. Ia menatap Naeun yang berjalan mendahuluinya. Ia tatap lekat-lekat punggung gadis itu. Ia sadari bahwa semakin dewasa Naeun semakin berubah.

Ia tersenyum geli. Ia tidak menyangka waktu-waktu yang ia lewatkan bersama Naeun hingga kini begitu cepat berlalu. Ia pun berjalan untuk menyusul Naeun. Ia menarik lengan gadis itu dan memeluknya.

“Naeun, terima kasih!” bisiknya.

“Bodoh! Kau sudah mengucapkannya berapa kali hari ini?”

“Terima kasih karena kau selalu berada di sampingku.” ucapnya. Naeun tersenyum.

“Apa pun yang terjadi, kau tetaplah sahabatku.” ucapnya. Kwang Soo makin mempererat pelukannya.

“Naeun, maukah kau menjadi sahabat di dalam hidupku.”

“Tentu saja. Bukankah dari dulu pun aku adalah sahabatmu.”

Kwang Soo menjitak pelan Naeun, karena Naeun tidak mengerti arti dari ucapannya. Ia berjalan cepat-cepat meninggalkan Naeun yang terbengong sendirian. Naeun berlari dan melompat ke punggung Kwang Soo dan membuat pria itu ambruk bersama dirinya.

“Dasar bodoh! Meninggalkan aku begitu saja. Kau mau lari dari tanggung jawab hah?” marah Naeun.

“Aduuuh… kau ini.”

“Makanya, jangan langsung kabur sebelum mentraktirku!” ancam Naeun.

“Baiklah. Ayo!” ia meraih Naeun dan membantunya berdiri. Dan berjalan bersama menuju kedai es krim favorit Naeun. Ketika Kwang Soo melihat gadis itu menyantap es krimnya, ia tahu bahwa ia harus menunggu dan berusaha membuat Naeun yakin. Dan ia tidak mau terlalu terburu-buru untuk sahabat hidupnya itu.

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

COPYRIGHT 2017 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK