home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > White Chrysanths

White Chrysanths

Share:
Author : GaluhWilutami
Published : 26 Jul 2014, Updated : 26 Jul 2014
Cast : Luhan Xi, Chorong Park
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |465 Views |0 Loves
White Chrysanths
CHAPTER 1 : White Chrysanths

.

.

White Chrysants

(Uozumi Han present)

.

.

Dia mengatupkan bibir ranumnya, membentuk sebuah senyuman cerah yang cantik. Dia memandang dengan damai barisan Krisan putih di depannya.  Dia tidak peduli bagaimana rintikan gerimis menyentuh kulitnya yang seputih salju, membasahi rambut coklatnya yang digerai sempurna.  Tidak peduli pada asap yang mengepul ketika ia membuka mulut. Gadis itu, selalu menyukainya. Saat air syurga membasahi kelopak putih Krisan-krisan itu. Mengalun bagai peri-peri kecil yang menari di pancaran pelangi. Menciptakan goresan menawan di atas tangkainya yang hijau. Bening dan harum.

Ketika dia puas, kakinya pun melangkah menjauhi mereka. Perlahan menjauh walau hatinya meronta. Dia sadar saat sebuah payung biru terbuka di atas kepalanya. Melindungi ke mana pun langkahnya membawa. Namun, tidak mengatakan sepatah kata pun pada pemuda di sampingnya yang menggenggam payung. Membuat si pemuda mengeratkan genggamannya pada gagang payungnya.

“Sebaiknya kau pulang! Kau bisa sakit kalau tidak langsung mengeringkan rambutmu.” Pemuda itu berujar. Pandangannya lurus tak berekspresi ketika gadis itu menoleh.

“Hanya karena gerimis tidak akan membunuhku.”

Setelahnya, si gadis berjalan lebih dulu. Tetapi pemuda itu menahan sikunya, menariknya agar tetap berdiri di bawah lingkaran payungnya. Gadis itu mendesah, mengeratkan rahangnya saat menatap pemuda yang bahkan tidak melirik ke arahnya.

“Luhan-ssi-”

“Aku akan pergi jika kau mau menuruti permintaanku.”

Dia tahu akan berakhir seperti ini. Gadis itu lalu bersidekap dada dan membuat raut wajah kesal yang menggemaskan.

“Kau mau aku menurutimu untuk apa?” Suaranya mulai bergetar, entah karena suhu yang semakin dingin atau menahan sesak di dadanya.

“Pulanglah, Chorong-ah!”

Pemuda itu menoleh ketika si gadis justru menertawakannya. Membuat Luhan menatap tajam tepat di matanya. Mata bening yang sebenarnya berpendar tanpa siapa pun tahu. Gadis yang dipanggilnya Chorong itu kemudian berhenti tertawa dan mulai menatap serius ke arahnya.

Shireo!”

Suara menggemaskan itu membuatnya berhenti bernapas untuk beberapa saat. Mencoba menetralisir degup jantungnya yang mendadak kacau. Dia tidak bisa mencegah, ketika gadis itu mulai berlarian di tengah guyuran hujan yang semakin deras. Gaun putihnya layu mengikuti tetesan air yang membasahinya. Mengayun indah saat gadis itu berputar beberapa kali.

“Pulanglah, Park Chorong.”

.

.

.

Chorong mengayunkan kaki telanjangnya dengan lucu. Bersenandung ria sambil menghitung berapa banyak kupu-kupu putih yang baru saja terbang melewatinya. Luhan hanya memandangnya takjub. Gadis itu memiliki garis wajah yang sempurna. Kulit seputih salju dan rambut panjang kecoklatan yang begitu halus. Luhan juga bisa melihat betapa lentiknya bulu mata Chorong ketika gadis itu berkedip.

Luhan mengaitkan anak rambut Chorong ke belakang telinga. Tersenyum lembut kala gadis itu beralih menatapnya. Dia mengerjab beberapa kali, membuat Luhan merasa tidak tahan untuk tidak menjawil pipi putihnya.

“Luhan-ssi, kenapa kau masih di sini?” tanyanya dengan suara yang menggemaskan. Luhan terkekeh pelan sebelum menjawab.

“Menemanimu bermain sampai puas.”

Chorong hanya mengangguk pelan tanpa mengerti sepenuhnya maksud dari kata-kata Luhan.  Gadis itu kembali pada dunianya sendiri. Beranjak dari kursi dan berlari kecil menuju semak-semak di depannya. Bersimpuh di hadapan sebatang Lily berwarna putih dengan matanya yang membulat lucu.

“Apa yang kau lakukan?” Luhan menghampiri dan berjongkok di sebelahnya.

“Dia sendirian.”

Luhan mengikuti arah pandang gadis itu, menangkap kenampakan sebatang bunga yang berdiri tegak seorang diri.

“Dia baik-baik saja.” Ujar Luhan menanggapi. Chorong melirik ke arahnya, menatapnya meminta penjelasan.

“Dia sendirian dan dia baik-baik saja. Lily adalah bunga yang tegar. Jika kau bahkan menginjaknya, dia akan kembali berdiri tegak.”

“Apa kau membual?” gadis itu masih menatapnya sambil menggaruk pipinya yang sedikit gatal. Bola matanya yang bening kembali mengerjab, masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.

“Aku tertangkap!” Luhan mencubit hidung mungil Chorong. Mencoba menjahili gadis manis itu.

YA! Jangan mempermainkanku!”

Dia belum sempat menepis tangan Luhan di hidungnya dan pemuda itu sudah berlari menjauh. Membuatnya mau tidak mau ikut bangkit dan mengejar pemuda itu.

“Luhan, berhenti!”

Luhan tidak benar-benar berlari saat ini. Dia hanya membawa Chorong berputar-putar dengan langkah kecil. Tertawa senang ketika gadis itu dengan mudah menangkapnya dan memeluk punggungnya.

“Aku menyerah! Aku menyerah!” Luhan mengangkat tangan, seakan bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Mendengar tawa renyah dari balik punggungnya, dia menarik gadis itu ke depan dadanya untuk memeluknya dengan sempurna.

“Kau menyebalkan!”

“Oh, ya? Kalau begitu aku harus mendapatkan hukuman.”

“Kau benar!”

“Aww,” Luhan menjerit ketika jemari mungil itu mencubit pinggangnya, menepis tangan kecil itu dengan lembut.

Chorong kembali tertawa. Suara yang membuat hati Luhan begitu damai untuk beberapa saat. Dia bisa merasakan tangan Chorong yang mengerat di pinggangnya. Kelopak matanya juga terpejam seiring wajah cantiknya yang tenggelam di depan dadanya.

“Aku serius dengan Lilynya. Seseorang pernah mengatakannya padaku.”

Chorong mengangguk dalam dekapannya. Dia percaya. Bahkan jika Luhan tidak menjelaskannya dua kali,  dia akan tetap percaya. Mencoba menghirup aroma tubuh Luhan sedalam yang ia bisa. Aroma yang selalu membuatnya nyaman di sisi Luhan. Dia begitu menyukainya. Harum Luhan..seperti Krisan.

“Chorong-ah,”

“Hm?”

Hening beberapa saat yang menyakitkan telinga. Kemudian Luhan melanjutkannya.

“Kau harus pulang!”

Luhan merasa kemejanya dicengkram dengan kuat, dan kepala itu kembali menggeleng, “Tidak, Luhan.”

Pernyataan yang selalu membuat dadanya sesak. Seribu kali pun ia meminta, gadis itu tetap akan menjawabnya dengan satu kata yang membuat lidahnya kelu.

“Tidak akan.”

.

.

.

Dia berjongkok di depan padang Krisan yang menakjubkan dan meletakan kedua tangannya di lutut. Matanya yang bening terpejam sempurna, dengan tarikan di bibirnya yang membentuk sebuah lengkungan yang indah. Tersenyum tipis, menikmati kicauan merdu burung-burung kecil yang hinggap di dahan pohon ek di dekatnya.

Saat kelopak matanya terbuka, satu bunga Krisan menarik perhatiannya. Sisi kelopaknya berlumuran tanah dan tangkainya lebih rendah dibanding yang lain. Istimewa. Dia memang tidak seindah yang lainnya, tetapi kemungkinan hidupnya adalah yang paling panjang. Karena orang-orang hanya memetik bunga Krisan yang sempurna. Gadis itu merasa pandangannya mengabur karena air mata. Jadi dia menengadah beberapa saat sebelum akhirnya berdiri. Dia meremas dada kirinya. Iri. Kenyataan yang menohok hatinya bahwa ia tidak lebih beruntung dari Krisan itu. Hingga akhirnya ia tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya, air mata yang sejak tadi ditahannya pun luntur di pipinya yang mulai memucat.

Bergerak menjauhi padang Krisan itu. Kaki telanjangnya berjalan tertatih, menyusuri rerumputan hijau yang kini membawanya ke depan sebuah bangunan tua gereja. Dia tidak tahu sudah selama apa ia berjalan, tetapi air mata di pipinya dirasa sudah mulai mengering. Dia membasahi bibirnya yang kering. Berkedip dua kali untuk mengagumi betapa indahnya bangunan tua di depannya. Tetapi tidak lama, pandangannya mulai teralih ketika seekor kelinci melompat di dekatnya. Dengan matanya yang berbinar, mencoba mengejar tuan kelinci bertubuh gempal yang terlihat kesulitan berlari.

“Chorong-ah!”

Dia berbalik dan mendapati Luhan sedang berjalan ke arahnya. Pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam saku mantel dan mulai mempercepat langkahnya. Chorong hanya berkedip memandangnya.

“Luhan? Apa kau sedang tidak enak badan?” suaranya yang menggemaskan mengalun.

“Tidak. Ini ‘kan sudah masuk musim dingin. Hanya kau satu-satunya yang masih memakai pakaian pendek dan bertelanjang kaki.”

Luhan terkekeh di akhir kalimatnya. Tangannya terulur untuk mengelus surai kecoklatan Chorong. Tetapi Chorong hanya memandangnya aneh. Gusar pada perasaannya sendiri.

“Luhan-ah, kenapa aku..tidak merasakannya?”

“Ya?”

“Aku..tidak merasakan dingin.” Dengan polos menggerakkan jemari kakinya yang bebas. Dia kembali menatap Luhan.

“Aku bisa merasakan wajahmu yang hangat.” Jemari lentiknya mengelus pipi Luhan yang bersemu.

“Aku bisa,” Chorong berjingkat, menempelkan bibir mungilnya dengan milik Luhan, “Merasakan bibir Luhan yang hangat.”

“Tetapi tidak bisa merasakan dingin.”

Luhan masih mencoba mengatur degup jantungnya yang bekerja di luar kendali. Dia bahkan masih bisa merasakan bibir Chorong yang sempat menyentuh bibirnya. Lembut bagaikan sutera. Atau mungkin manis jika ia dapat melumatnya.

Fantasinya berakhir ketika ia sadar gadis itu mulai berjalan menjauhinya. Dia buru-buru mengejar dan menarik tangannya.

“Chorong-ah!”

“Luhan, aku..aku ini sebenarnya apa?”

.

.

.

June 18, 06.23 KST.

Luhan membuka lembar koran di depannya. Sesekali menyesap kopi hitam yang disediakan Chorong untuknya. Dia sedang menunggu gadis itu selesai mandi. Mereka akan pergi ke pameran foto yang diadakan di luar kota. Itu sebabnya Luhan datang pagi-pagi sekali ke apartementnya.

Saat pintu kamar mandi terbuka, semerbak harum sampoo dan body cleanser Chorong menguar bahkan sampai tempat Luhan kini bersantai dengan kopinya. Mengalahkan aroma tajam kopi miliknya. Luhan menyukainya. Harum yang seakan mengikatnya kuat-kuat, harum yang telah membuatnya candu dua tahun belakangan.

“Luhan, apa tema baju mereka?”

Chorong berjalan mendekat sambil mengusak rambutnya yang basah dengan handuk.

“Mereka menyarankan putih. Ini acara yang lumayan resmi.”

“Baiklah! Tunggu sebentar, aku akan ganti baju.”

Luhan mengangguk patuh, melipat koran yang menurutnya membosankan itu, dan beralih pada ponselnya yang sedari tadi bergetar. Seseorang berusaha mengirimkan pesan singkat padanya. Luhan mulai membuka satu per satu pesan yang masuk ke ponselnya. Dia tersenyum kecil saat mendengar suara Chorong yang bernyanyi dari dalam kamar.

Setelah membubuhkan body lotion di tubuhnya, Chorong mematut dirinya di depan cermin. Membenahi poninya yang sedikit miring, lalu menghias rambutnya dengan pita kecil.

“Ini akan memakan waktu dua jam. Aku akan membeli sarapan untukmu di jalan.”

Chorong hanya mengangguk menanggapi, tangan kecilnya masih sibuk memasang sabuk pengaman di kursinya. Luhan segera membantunya kala melihat gadis itu sedikit mengalami kesulitan.

“Ini memang sudah agak macet.”

Setelah terpasang sempurna, Luhan mengangkat tangannya untuk mengusak rambut Chorong. Kemudian kembali fokus di depan stir kemudi.

.

.

.

-One years ago-

“Luhan, lihat!”

Luhan mengusap tengkuknya yang dingin, lalu mengikuti langkah kaki gadis di depannya yang baru saja turun dari ayunan menuju semak-semak hijau di dekat kotak pasir.

“Lihat, Luhan!” tangan mungilnya menarik lengan pemuda dengan outfit sekolah seperti dirinya untuk segera bersimpuh di dekatnya.

“Apa?”

“Lily.”

Luhan mengernyitkan alisnya, memandang bergantian pada sebatang bunga dan gadis manis di sampingnya.

“Lily. Kata orang, dia adalah bunga yang tegar. Jika kau bahkan menginjaknya, dia akan kembali berdiri tegak. Apa kau percaya?”

Kini Chorong menatapnya, mata beningnya berkedip lucu ketika jari telunjuknya menggaruk pipi putihnya yang memerah. Dia mudah alergi. Apalagi di musim dingin seperti ini.

“Aku percaya jika kau yang mengatakannya.” Luhan mengacak rambut gadis itu dengan gemas, lalu bangkit sambil menepuk-nepuk kecil bagian lututnya yang terkena noda tanah.

Mengulurkan tangannya pada Chorong dan disambut hangat oleh gadis itu.

“Kalau begitu, aku juga...”

Mereka saling menggamit tangan satu sama lain, berjalan beriringan untuk meninggalkan taman bermain mengingat langit sudah mulai gelap saat ini.

“...Aku juga akan percaya...jika Luhan yang mengatakannya.”

.

.

.

June 18, 08.45 KST.

“Bercanda!!!” Sehun memekik. Buru-buru mematikan cigarette-nya. Raut wajahnya terlihat panik dan kesal. Jemarinya meremas ponsel di telinganya yang masih terhubung.

“Jangan bercanda, Luhan Hyung!”

[Sehuna, tolong...]

Seketika air matanya tumpah. Buru-buru menyambar jaketnya dan berlari dengan kaki yang bergetar. Mencoba menulikan apa yang baru saja Hyung-nya katakan. Tetapi sadar pada kenyataan Hyung-nya tidak mungkin berbohong. Dia tidak akan membuat lelucon rendahan semacam itu padanya.

[Sehuna, kakiku...Cepat kemari! Chorong...Sehuna, selamatkan dia.]

[Sehuna, aku mencium bau darah yang menyengat.]

[Sehuna..di sini sesak.]

Sehun masih bisa mendengar bagaimana Luhan merintih kesakitan saat menelponnya tadi. Suara serak Luhan menggaung bagai kutukan di telinganya. Kakinya sudah lemas, yang dia pikirkan hanya Luhan saat ini. Menekan stir kemudinya kuat-kuat, berharap Hyung-nya masih baik-baik saja.

Dan ketika dia sampai tepat di mana Luhan memberitahukan keadaannya, mata Sehun membulat.  Langkahnya bergetar mendekati mobil ringsek yang masih mengeluarkan asap hitam dari dalam kap depan. Luhan tidak berbohong ketika mengatakan mencium bau darah yang menyengat. Membuat perutnya sedikit mual. Di sana sudah banyak mobil polisi dan ambulans.

Hatinya mencelos ketika melihat Hyung tercintanya kini tergeletak dengan darah di kepalanya. Kemeja putihnya terdapat noda merah yang pekat, mengalir dari kerah sampai batas saku. Dua orang petugas menggotong tubuhnya ke atas ambulans. Sehun menghampiri, menggenggam tangan Luhan yang penuh luka lebam. Luhan menggumam lirih, namun justru membuat hatinya lega. Setidaknya Luhan masih sadar.

Hyung, gwaenchana?” matanya bergetar. Mengusap pipi putih Luhan yang terdapat bercak darah.

“Eungh.hh..Sehuna, Chorong...dia..”

Bicaranya kacau. Sehun bisa melihat matanya yang sayu berkedip. Tetapi tidak banyak luka di tubuhnya. Luhan tidak banyak mengeluarkan darah. Bisa dipastikan bukan darah Luhan yang menyengat di sekitar mobil. Tak lama kakak laki-lakinya mulai kehilangan kesadaran. Luhan pingsang. Membuat Sehun kembali kacau dengan pikirannya sendiri.

“Korban yang ini terjepit dashbor. Harus menggunakan besi untuk mengangkatnya.”

Seorang petugas yang lewat berujar. Membuat tubuh Sehun membeku seketika.

“C-Chorong nuna..”

.

.

.

“Kenapa aku harus pulang?”

Luhan menatap punggung Chorong yang bergetar.

“Aku takut...aku takut tidak bisa melihat Krisan lagi.”

Mata Luhan menghangat, tidak sadar jika sudah menumpahkan air mata di pipinya. Mengangkat tangannya untuk menyentuh pundak gadis di depannya.

“Chorong-ah..Kau akan menemukan banyak Krisan di sana. Yang merah muda dan yang kuning juga tidak buruk.” Luhan menarik senyum palsu di wajahnya. Membuat pipinya sakit, terlebih hatinya.

Chorong tidak menoleh, hanya menggigit bibir bawahnya yang semakin memutih. Meremas jemarinya yang dingin.

“Aku takut...tidak bisa bertemu Luhan lagi.”

Luhan menarik tangannya. Mengepal kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia juga takut. Takut pada kenyataan tidak akan bertemu dengan gadis itu. Tapi kemudian ia mendongak, memutar pundak gadis itu agar menatapnya.

“Aku berjanji..kita akan bertemu lagi, Park Chorong.”

Ujarnya kemudian. Mengecup singkat pipi Chorong. Luhan mengulurkan jemarinya, menggamit milik Chorong. Meyakinkan gadis itu atas kata-katanya.

“Aku berjanji.”

Chorong memeluknya erat. Menenggelamkan kepalanya di dada Luhan. Terisak sesaat sebelum menganggukan kepalanya.

“Aku percaya..bahkan jika Luhan tidak membuat janji padaku.”

Chorong meraih bibir mungil Luhan, menciumnya sebentar, dengan air mata yang setia mengalir sampai batas dagunya.

“Aku mencintai Luhan.”

.

.

.

Sehun mengeratkan genggamannya di besi pembatas ranjang gadis itu. Baru saja suara nyaring mesin hina di sampingnya memenuhi rongga telinganya. Memunculkan garis kematian di layarnya yang gelap. Sehun menguliti bibirnya yang kering. Menatap gadis yang seumuran Hyung-nya itu terbaring tanpa roh.

Dia hanya tidak tahu...bagaimana dia akan menjelaskannya kepada Luhan.

Namun ketika kembali ke kamar rawat Luhan, pemuda itu tengah tersenyum di ranjang. Menatapnya dengan mata doe yang lucu.

“Luhan-”

“Aku tahu..”

Sehun menghampirinya. Mengelus pipi pucat kakaknya, menyampirkan anak rambut yang menusuk mata indahnya.

“Aku tidak apa-apa.”

Sehun bisa merasakan suara lembut Luhan yang bergetar. Dia tahu Hyung-nya sedang tidak baik-baik saja. Kehilangan kekasih yang sangat dicintainya, tidak mungkin baik-baik saja. Memutuskan untuk mendekap Luhan dengan erat. Memberikan setidaknya semangat kepada Hyung ‘tercinta’nya.

“Aku tidak apa-apa, Sehuna.”

Setelahnya, suara isakan Luhan yang menyakitkan menggema di ruangan itu. Luhan menarik kemeja Sehun erat-erat, seolah berbicara bagaimana keadaannya yang sebenarnya saat ini.

“Setidaknya dia percaya padaku. Dia selalu percaya padaku.”

.

.

.

Yang dimaksudnya pulang saat itu..bukanlah rumah di mana kau bisa menemukan kotak persegi dengan penuh jendela dan anjing penjaga di pekarangan depan.

Bukan.

Yang dimaksudnya pulang saat itu adalah... Nirvana. Kembali ke tempat ia seharusnya berada sejak dulu.

Karena rohnya yang murni saat itu tengah tersesat di antara garis kehidupan dan kematian. Kebingungan dan tanpa arah.

.

.

.

Setidaknya..dia percaya walau dia sendiri tidak tahu apakah takdir masih berpihak kepadanya.

Apakah takdir mau mengabulkan permintaannya yang tulus. Atau malah ingin mempermainkannya lebih lama lagi.

Dia hanya tidak ingin berujar dusta kepada sang malaikat kecilnya.

Dan berharap agar takdir mempercayainya seperti malaikat itu mempercayainya.

“Aku berjanji.”

Untuk mempertemukan mereka kembali.

Tidak peduli jika itu seribu tahun lagi. Walau pun mereka terlahir kembali sebagai rumput liar dan ilalang.

Asalkan dipertemukan, itu sudah lebih dari cukup..

.

.

.

White Chrysanths

.

-Selesai-

..

...

....

Krik.

Tuuuiiiing~~

Ini apa yah?? FF percobaan yang gagal maksimal -__-

SSSIIINGGG~

Well, terimakasih sudah membaca ^^ Jangan lupa berikan love untukku, okeh?

Saranghae

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2021 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK