SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > How Could You Do This To Me?

How Could You Do This To Me?

Share:
Author : JaeJae
Published : 23 Jul 2014, Updated : 23 Jul 2014
Cast : Park Jung Su, Lee Sung Min, Lee Dong Hae, Lee Ji Hyeon, Lee Hyuk Jae, Kim Hee Chul
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |1202 Views |1 Loves
How could You do this to Me?
CHAPTER 1 : Oneshoot

Title: How could You do this to Me?

Also known as: How could You?

Genre: Friendship, Romance, Sad, Hurt

Rating: General

Length: Oneshoot

 

Cerita ini adalah sebuah FIKTIF belaka, apabila ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, semata-mata karena ketidaksengajaan.

All casts are belong to God, but this story is JH_Nimm’s.

Don’t re-share without my permission.

Don’t forget to leave your appreciation.

Happy Reading… Thank you… :3

 

BGM:

Choi Jin Hyuk – Don’t Look Back

 

== GLOSARIUM ==

 

Maldo andwae [1] = Tidak mungkin

Bogoshipeo [2] = Aku ingin melihatmu/ Aku ingin bertemu denganmu/ Aku merindukanmu

Ne [3] = Iya

Wae [4] = Kenapa/ Mengapa

Oraenmanieyo [5] = Sudah lama tidak jumpa/ Sudah lama tidak bertemu

Geuraeseo [6]= Benarkah

Gwaenchanhna [7] = Tidak apa-apa

Oppa [8]  = Kakak (dari perempuan untuk laki-laki)

Geurae [9] = Benar

Heeojija [10] = Kita berpisah

Hyung [11] = Kakak (dari laki-laki untuk laki-laki)

Mworago [12] = Ada apa

Joesonghamnida [13] = Maaf (formal)

Mianhae [14] = Maaf (informal)

 

== PROLOG ==

Meskipun banyak waktu terlalui tanpamu

Namun hati ini masih dengan setia selalu menyebutkan namamu

Meskipun jarak memisahkan kita

Namun aku yakin waktu akan mempertemukan dan menyatukan kita kembali

(May 13, 2014)

 

 

Author’s POV

 

                Hari ini adalah sebuah hari dimana beberapa prajurit yang telah menjalani wajib militer akan keluar dari markas besar kemiliteran Korea Selatan dan akan kembali menempuh hidupnya sebagai rakyat biasa, bukan lagi sebagai seorang prajurit. Termasuk bagi seorang prajurit bernama Park Jung Su yang hari ini juga adalah hari baginya untuk kembali ke masyarakat dan menjalani kehidupan normalnya lagi. Dengan semangat dan rasa bahagia karena ia dapat berkumpul lagi dengan orang-orang tersayangnya, sudah sejak pagi ia membereskan barang-barangnya. Setelah ia menyampaikan pamitnya pada rekan-rekan dan prajurit lain pun, ia segera keluar dari markas militer Korea Selatan itu.

 

                Dengan langkah yang ringan dan sesungging senyuman yang terlukis di wajah tampannya, ia pun keluar dari gerbang utama markas besar itu. Beberapa meter setelah ia keluar dari gerbang tersebut, matanya menangkap sesosok gadis yang tengah berdiri di dekat sebuah pohon. Seorang gadis yang sangat Jung Su kenal. Rasa bahagia di dalam batin Jung Su semakin bertambah ketika ia melihat gadis itu. Gadis yang memang ia harapkan untuk menjemputnya ketika ia menyelesaikan wajib militer. (http://jh-nimm.blogspot.com)

 

                “Apa dia tidak melihatku?” tanya Jung Su.

 

                Jung Su pun bermaksud untuk menghampiri sang gadis. Namun sayangnya langkahnya harus terhenti ketika seorang pria lain menghampiri gadis itu. Akhirnya, dari jauh Jung Su mencoba untuk memperhatikan setiap gerak-gerik sang gadis dengan pria itu. Namun semakin ia perhatikan, interaksi mereka berdua membuat Jung Su menyimpulkan bahwa diantara keduanya terjalin hubungan yang tak biasa dan lebih dari hanya sekedar teman.

 

                “Ji Hyeon tidak mungkin mengkhianatiku,” gumam Jung Su.

 

                Jung Su mencoba menepis pikiran-pikiran buruk akan gadis bernama Ji Hyeon yang memang adalah seorang yang dia cintai dan berstatus sebagai kekasihnya itu. Akan tetapi, apa yang ia lihat dengan apa yang kata hatinya katakan rupanya tak sejalan.

 

                “Maldo andwae[1]…” ucap Jung Su.

 

                Ketika Jung Su tengah memperhatikannya dari kejauhan, rupanya Ji Hyeon menangkap kehadiran Jung Su. Pandangan mereka beradu, namun Ji Hyeon tak menunjukkan reaksi apapun bahkan ketika Jung Su menyunggingkan sebuah senyuman untuknya.

****

 

 

                Mulai hari ini, Jung Su kembali menjalani kehidupan normalnya. Kehidupan sehari-hari yang begitu ia rindukan. Suasana rumah dan kantor yang pastinya sangat berbeda dengan suasana di markas militer ketika ia mengabdikan diri untuk menjadi seorang prajurit selama 2 tahun.

 

                Ketika Jung Su sedang menatap ruangan kerjanya yang begitu ia rindukan itu, pandangannya terhenti pada sebuah bingkai foto di atas sebuah meja kecil. Ia pun berjalan mendekati meja kecil itu dan mengambil bingkai foto yang di dalamnya terpajang fotonya bersama dengan gadis yang begitu ia cintai, Ji Hyeon.

 

                “Bogoshipeo[2]…” ucap Jung Su.

 

                Jung Su pun menaruh kembali bingkai foto tersebut di atas meja kecil itu. Kemudian ia segera mengambil handphonenya  dan segera mencari kontak Ji Hyeon. Tanpa pikir panjang, Jung Su pun segera mencoba menghubungi Ji Hyeon. Sesungging senyuman terlukis di wajah tampannya ketika nomor Ji Hyeon yang coba untuk ia hubungi itu masih tersambung.

 

                “Ji Hyeon-a…”

 

                Jung Su begitu antusias dan sumringah ketika ia mendengar teleponnya di jawab.

 

                “Ne[3]…

 

                DEG!

 

                Sebuah jawaban yang begitu dingin terdengar. Meskipun Jung Su mengetahui benar bahwa Ji Hyeon memang selalu bersikap dingin, namun kali ini begitu tak biasa ditelinganya.

 

                “Bisakah kita bertemu?” tanya Jung Su.

 

                “Eoh…” jawab Ji Hyeon dingin.

 

                “Aku akan menunggumu di café tempat kita biasa bertemu,” ucap Jung Su.

 

                “Eoh…” jawab Ji Hyeon.

 

                Setelah mengakhiri teleponnya, Jung Su pun segera menuju ke sebuah café tempatnya dan Ji Hyeon biasa kunjungi. Sebuah café yang tentunya menyimpan begitu banyak kenangan di antara mereka berdua.

 

                Tak membutuhkan waktu lama bagi Jung Su untuk sampai di café tersebut, karena café tersebut memang tidak  jauh dari kantornya. Sesampainya di sana, Jung Su pun segera mencari tempat duduk yang memang biasa ia dan Ji Hyeon gunakan untuk menghabiskan waktu bersama di sana.

 

                Wae[4]? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku merasa bahwa kau berubah? Bahkan suaramu terdengar begitu dingin ketika menjawab teleponku. Aku ingin mempercayai bahwa kau tidak mungkin mengkhianatiku, apalagi setelah melihatmu kemarin bersama dengan orang lain. Tapi kenapa seperti ini?, batin Jung Su.

 

                Ketika Jung Su sibuk dengan pikirannya, rupanya Ji Hyeon sampai dan segera duduk di kursi yang tepat berada dihadapan Jung Su. Sebuah senyuman coba Jung Su sunggingkan untuk menyapa gadisnya itu dengan hangat, namun sang gadis justru tak menampakkan reaksi apapun selain dari hanya menatapnya dengan dingin. (http://jh-nimm.blogspot.com)

 

                “Oraenmanieyo[5]…” Jung Su mencoba membuka obrolan.

 

                “Eoh…” jawab Ji Hyeon dingin.

 

                “Kau terlihat semakin cantik,” Jung Su mencoba menggoda gadisnya itu.

 

                “Kau terlihat lebih kurus sekarang,” ucap Ji Hyeon.

 

“Ah, geuraeseo[6]?” tanya Jung Su.

 

“Maaf aku tak bisa menjemputmu kemarin,” ucap Ji Hyeon.

 

Gwaenchanha[7],” jawab Jung Su.

 

“Tapi aku yakin kemarin kau melihatku di sana,” ucap Ji Hyeon.

 

                Jung Su terdiam. Lidahnya seolah kelu untuk mengatakan bahwa ia memang melihat Ji Hyeon di sana, bersama dengan pria lain.

 

                “Siapa pria itu?” tanya Jung Su.

 

                “Sung Min Oppa[8],” jawab Ji Hyeon.

 

                Sung Min? Apa itu Lee Sung Min, teman baikku? Tidak mungkin, batin Jung Su.

 

                Jung Su mengarahkan tatapannya pada jemari tangan Ji Hyeon. Ia cukup terkejut ketika ia melihat sebuah cincin melingkar di jari manis Ji Hyeon.

 

                “Maksudmu Lee Sung Min?”

 

                “Eoh…

 

                “Sung Min, dia…”

 

                “Dia tunanganku,”

 

                Belum sempat Jung Su menyampaikan pertanyaannya, tapi Ji Hyeon memotongnya dengan sebuah pernyataan yang memang Jung Su ingin dengar.

 

                “Tunangan?” tanya Jung Su.

 

               “Geurae[9], aku sudah bertunangan dengannya 4 bulan yang lalu dan setelah dia menyelesaikan wajib militernya, kami akan menikah,” jelas Ji Hyeon.

 

                DEG!

 

                Sebuah penjelasan yang bahkan tak pernah Jung Su bayangkan akan dilontarkan oleh Ji Hyeon. Sebuah pernikahan. Tanpa keraguan bahkan seolah tak memikirkan perasaan Jung Su, dengan lancar Ji Hyeon mengatakannya dihadapan Jung Su.

 

                “Menikah? Lalu bagaimana dengan aku? Bukankah bagaimanapun juga aku ini masih kekasihmu?” tanya Jung Su.

 

                “Heeojija[10]…” jawab Ji Hyeon.

 

                “Ji Hyeon-a, bercandamu ini tidak lucu,” ucap Jung Su.

 

                Jung Su mencoba menetralisir perasaannya sendiri, meskipun memang ia tidak menemukan bahwa Ji Hyeon sedang bercanda atau sedang mencoba mengujinya.

 

                “Aku tidak sedang bercanda,” jawab Ji Hyeon.

 

                “Bukankah kau berjanji padaku bahwa kau akan menungguku hingga aku menyelesaikan wajib militer?” tanya Jung Su. (http://jh-nimm.blogspot.com)

 

                “Sayangnya, aku menyesalkan bahwa aku pernah mengucapkan janji itu,” jawab Ji Hyeon.

 

                “Wae?” tanya Jung Su.

 

                “Karena ku pikir, kita tidak akan pernah bisa bersama,” jawab Ji Hyeon.

 

                “Kenapa dengan mudahnya kau mengatakan hal itu setelah selama bertahun-tahun kita menjalani hubungan?” tanya Jung Su.

 

                “Jung Su-sshi, aku ini hanyalah manusia biasa, dan manusia dapat berubah,” jawab Ji Hyeon.

 

                “Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku padamu hingga membuatmu seperti ini?” tanya Jung Su.

 

                “Baik. Aku akan menjelaskannya. Setelah kau memulai wajib militermu, selama satu tahun itu aku mencoba untuk tetap menunggumu dan aku bahkan selalu membayangkan seandainya nanti aku menikah dan hidup bahagia denganmu. Tapi setahun berikutnya, aku bukan merasa bahagia karena kau akan menyelesaikan wajib militermu, justru aku mulai merasakan bahwa tidak sebaiknya aku melanjutkan hubungan ini denganmu. Terlebih lagi, Ayahku telah menjodohkanku dengan Sung Min Oppa,” jelas Ji Hyeon.

 

                “Ji Hyeon-a, bagaimana bisa Ayahmu menjodohkanmu dengan Sung Min? Bukankah Ayahmu juga tahu tentang hubungan kita?” tanya Jung Su.

 

                “Apa kau tidak pernah bisa melihatnya?” tanya Ji Hyeon balik. “Ayahku tidak pernah merestui hubungan kita,”

 

                “Tidak mungkin!” ucap Jung Su.

 

                “Bagaimana bisa kau menyatakan bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin?” tanya Ji Hyeon.

 

                “Ayahmu selalu memperlakukanku dengan baik. Bahkan beliau juga tampak menyukaiku,” jawab Jung Su.

 

                “Apa itu cukup menjadi bukti bahwa Ayahku merestui kita?” tanya Ji Hyeon.

 

                Jung Su terdiam. Ia mencoba kembali mengingat bagaimana interaksinya dengan Lee Jung Kwon, Ayah Ji Hyeon yang memang dimatanya selalu memperlakukannya dengan baik. Meskipun hatinya justru mengatakan bahwa perlakuan itu memang bukan berarti bahwa Ayah Ji Hyeon telah sepenuhnya menerimanya.

 

                “Sayangnya tidak, Park Jung Su. Meskipun beliau selalu memperlakukanmu dengan baik, tapi apa kau pernah tahu bahwa aku yang sangat tertekan? Sejak awal kita menjalin hubungan, Ayahku selalu memintaku untuk meninggalkanmu, tetapi aku mencoba bersabar dengan hal itu dan kuberikan berbagai macam penjelasan pada Ayahku dan kukatakan segala hal baik tentangmu dihadapan beliau agar beliau dapat menerimamu. Tetapi pada kenyataannya, beliau tidak pernah mau menerimamu,” jelas Ji Hyeon.

 

                “Ayah memang tidak menerimamu, tapi aku yang selalu memohon untuk memperlakukanmu dengan baik. Aku memohon pada beliau untuk tidak menunjukkan rasa tidak sukanya terhadapmu. Karena aku tidak ingin melihatmu merasakan penolakan yang dilakukan oleh Ayahku,” lanjutnya.

 

              “Tapi aku masih bisa berusaha untuk membuat hati Ayahmu luluh dan benar-benar bersedia untuk menerimaku,” ucap Jung Su.

 

                “Butuh berapa lama untuk hal itu?” tanya Ji Hyeon.

 

                “Aku memang bisa mengusahakannya, tetapi aku tidak bisa menjamin berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk membuat Ayahmu menyukaiku,” jawab Jung Su.

 

                “Aku tidak bisa menunggu selamanya,” ucap Ji Hyeon.

 

                “Wae?” tanya Jung Su.

 

                “Karena aku lelah denganmu,” jawab Ji Hyeon dengan ringannya.

 

                “Lelah denganku?” tanya Jung Su.

 

                Ji Hyeon menatap Jung Su dengan tajam.

 

                “Sudahlah, percuma terus mendebatkan hal ini denganmu,” ucap Ji Hyeon. (http://jh-nimm.blogspot.com)

 

                “Ji Hyeon-a…”

 

                “Aku ingin mengakhiri hubungan kita dan semuanya sudah selesai,” ucap Ji Hyeon.

 

                Tanpa menunggu jawaban Jung Su, Ji Hyeon pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jung Su.

 

                “Ji Hyeon-a…” panggil Jung Su seraya mengejar Ji Hyeon.

 

                Namun rupanya Ji Hyeon sama sekali tak ingin menghiraukan Jung Su. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Jung Su yang masih berdiri di depan café itu dan menatap kepergiannya.

 

                “Ji Hyeon-a…”

****

 

 

                Selama berhari-hari, Jung Su kembali mencoba menghubungi Ji Hyeon. Memang nomor Ji Hyeon yang ia coba hubungi itu masih tersambung. Namun tak pernah ada jawaban dari Ji Hyeon. Bahkan berkali-kali juga Ji Hyeon justru me-reject  teleponnya. Begitu juga ketika ia coba untuk mengirimkan pesan, namun tak pernah ada balasan. Ji Hyeon benar-benar menghindarinya dan ingin menjauh darinya.

 

                “Lee Dong Hae…”

 

                Jung Su pun mencoba untuk menghubungi seorang pria bernama Lee Dong Hae yang tak lain adalah kakak kandung Ji Hyeon itu.

 

                “Dong Hae-ya…”

 

                “Waeyo, Hyung[11]?

 

                “Aku ingin bertemu denganmu. Kau dimana? Aku akan kesana,”

 

                “Aku sedang di tempat Hyuk Jae,”

 

                “Tunggu aku di sana, aku akan segera menemuimu,”

 

                Setelah mengakhiri panggilannya dengan Dong Hae, Jung Su pun segera menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di meja kerjanya. Ia segera menuju ke mobilnya untuk pergi ke sebuah tempat yang ia harapkan menyimpan jawaban dari semua pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya tersebut. Sementara itu, di tempat Hyuk Jae, tampak Dong Hae dan Hyuk Jae yang sedang menikmati istirahat makan siang itu saling menatap dengan heran.

 

                “Untuk apa Jung Su Hyung ingin menemuimu?” tanya Hyuk Jae.

 

                Dong Hae hanya menjawab pertanyaan Hyuk Jae itu dengan mengangkat bahunya.

 

                “Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Ji Hyeon?” tanya Hyuk Jae.

 

                “Mungkin saja. Karena ku dengar nada suaranya sedikit berbeda. Terdengar seperti dia sedang mengkhawatirkan sesuatu,” jawab Dong Hae.

 

                “Apa mungkin…”

 

                TING TONG!!!

 

                Belum sempat Hyuk Jae melanjutkan kalimatnya, namun bel rumahnya tersebut sudah mendahuluinya.

 

                “Sepertinya itu Jung Su Hyung,” ucap Dong Hae seraya beranjak dan membukakan pintu.

 

                Begitu Dong Hae membukakan pintu, memang benar bahwa yang datang adalah Jung Su yang tampak begitu stress. Terlihat dari wajahnya yang seolah tak ramah dan lingkaran hitam yang mengelilingi matanya.

 

                “Hyung, masuklah…” ajak Dong Hae.

 

                Jung Su pun masuk ke rumah Hyuk Jae.

 

                “Dong Hae-ya, tolong jawab aku dengan jujur,” ucap Jung Su. (http://jh-nimm.blogspot.com)

 

                “Mworago[12], Hyung?” tanya Dong Hae.

 

                “Ini tentang Ji Hyeon,” jawab Jung Su. “Apa benar Ayahmu telah menjodohkannya dengan Sung Min?”

 

                DEG!

 

                Dong Hae dan Hyuk Jae terkejut ketika mendengar pertanyaan Jung Su. Sebuah pertanyaan yang memang pada akhirnya akan Jung Su ajukan pada mereka berdua ketika waktu yang tepat telah tiba. Namun sayangnya, waktu tersebut datang terlalu cepat.

 

                “Ne, Hyung…” jawab Dong Hae.

 

                “Tapi Ayahmu tahu akan hubunganku dengan Ji Hyeon,” ucap Jung Su. “Bagaimana bisa dia menjodohkan Sung Min dengan Ji Hyeon seperti ini?”

 

                “Hyung, maaf jika harus kejelaskan tentang hal ini. Malam hari setelah bertemu denganmu, Ji Hyeon menceritakan semuanya padaku. Dia juga mengatakan bahwa dia sudah menjelaskan tentang Ayah yang sebenarnya tak pernah menerimamu. Ayah menjodohkan Ji Hyeon dengan Sung Min, bukan hanya karena Ayah yang menyukai Sung Min. Tapi selama kau menjalani wajib militer, Sung Min selalu datang untuk menemani dan menghibur Ji Hyeon. Karena itulah, Ayah menjodohkan Ji Hyeon dengan Sung Min,” jelas Dong Hae.

 

                “Selain itu, sebenarnya ada sebuah hal lagi yang mungkin tak pernah kau ketahui dan kau sadari, Hyung. Tapi sebelum menjelaskannya, aku ingin kau memaafkanku karena aku tidak pernah menceritakan hal ini padamu meskipun aku benar-benar mengetahuinya,” ucap Dong Hae.

 

                “Mworago?” tanya Jung Su.

 

                “Dimata siapapun yang melihatnya, pasti akan menyangka bahwa hubungan Ji Hyeon dan Sung Min seperti hanyalah sebatas adik dan kakak. Namun jauh dari semua itu, baik Ji Hyeon maupun Sung Min sebenarnya telah menyimpan perasaan mereka masing-masing sejak lama. Bahkan sebelum Ji Hyeon menjalin hubungan denganmu,” jelas Dong Hae.

 

                “Jika Ji Hyeon memang menyukai Sung Min, lalu kenapa dia menerimaku?” tanya Jung Su.

 

                “Karena Ji Hyeon sempat menyangka bahwa perasaannya terhadapmu adalah seperti perasaannya terhadap Sung Min. Sehingga Ji Hyeon pikir, tak akan ada salahnya jika dia menerimamu. Karena di mata Ji Hyeon, kau adalah sosok yang begitu baik dan sangat perhatian terhadapnya,” jawab Dong Hae.

 

                “Lalu kenapa dia ingin mengakhiri hubunganku dengannya?” tanya Jung Su.

 

                “Seperti yang telah Ji Hyeon jelaskan padamu saat itu, bahwa Ayah kami tidak pernah sepenuhnya menerimamu dan Ji Hyeon yang memang lelah dengan hubungan kalian,” jawab Dong Hae.

 

                “Sebagai seorang kakak, bagaimana bisa kau mengatakan hal ini juga?” tanya Jung Su.

 

                “Hyung…

 

                “Aku, kau, Sung Min, Hyuk Jae dan Hee Chul bukan baru saling mengenal kemarin sore. Tapi kita sudah bertahun-tahun menjadi teman,” ucap Jung Su. “Kenapa kalian lakukan ini padaku? Kenapa kalian seolah-olah bekerja sama dan mengkhianatiku seperti ini?”

 

                “Hyung, kami tak bermaksud mengkhianatimu,” jawab Dong Hae. “Tapi apa yang bisa kami lakukan?”

 

                Jung Su terdiam. Kekesalan mulai berkecamuk dalam benaknya. Semakin ia mendengar penjelasan Dong Hae, semakin ia merasakan bahwa dirinya tengah di khianati oleh teman-teman terdekatnya.

 

                “Kami tidak bisa memaksakan perasaan Ji Hyeon,” ucap Dong Hae.

 

                “Lee Hyuk Jae, kau adalah yang paling dekat denganku. Katakan bahwa yang Ji Hyeon dan Dong Hae jelaskan adalah kebohongan,” pinta Jung Su.

 

                “Joesonghamnida[13], Hyung,” jawab Hyuk Jae.

 

                Sebuah jawaban yang sangat singkat namun sudah mewakili seluruh penjelasan yang ingin Jung Su dengar. Meskipun satu sisi mengatakan bahwa ia telah di khianati oleh sahabat-sahabat terdekatnya, namun satu sisi hati yang lainnya justru mencoba menenangkannya dengan membisikkan bahwa semua ini memang nyata dan bagaimanapun Jung Su harus menerimanya. (http://jh-nimm.blogspot.com)

 

                “Hyung…

 

                Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi, Jung Su pun beranjak dan keluar dari rumah Hyuk Jae.

 

                “Hyung…” teriak Hyuk Jae.

 

               Namun Jung Su sama sekali tak berniat untuk mendengarkan suara yang berteriak memanggil namanya tersebut. Karena yang ia tahu saat ini adalah bahwa ia ingin sekali menuju se sebuah tempat dimana ia bisa bebas berteriak untuk mengeluarkan seluruh beban di hatinya.

****

 

 

                “AAARRRGGHHHH!!!” teriak Jung Su.

 

                Tepian Sungai Han yang sepi itu menjadi saksi teriakan seorang Park Jung Su. Seiring dengan setiap teriakannya, saat itu juga air mata yang mati-matian ia tahan itu akhirnya menuruni pipinya dengan tanpa izin. Memang Jung Su mengetahui dengan benar bahwa menangis seperti ini bukanlah sikap yang baik dari seorang pria. Apalagi hanya karena urusan seorang wanita. Sungguh bukanlah hal yang baik untuk pria seusia 32 tahun itu menangis. Namun apalagi yang Jung Su bisa lakukan? Ketika hatinya begitu terluka dan tak ada seorangpun diantara manusia-manusia disekitarnya yang rela memikul beban ini bersamanya, membuat Jung Su hanya bisa menangis. Menjadikan air mata dan angin sebagai teman setianya untuk mengeluhkan seluruh beban dan kepenatan batin yan g tengah ia rasakan saat ini.

 

                “Jung Su-ya…”

 

                Seorang pria datang dan menyentuh bahu Jung Su yang saat itu tengah terduduk di sebuah bangku berwarna cokelat yang berada di tepian Sungai Han itu. Dia adalah Kim Hee Chul.

 

                “Hyuk Jae memberitahuku tentang semuanya dan aku memutuskan untuk mencarimu,” ucap Hee Chul.

 

                Tak ada jawaban. Jung Su masih sibuk dengan air mata dan luka yang tengah ia rasakan.

 

                “Jung Su-ya, kali ini tolong dengarkan aku,” pinta Hee Chul.

 

                Jung Su masih tak berniat untuk memberikan jawaban pada Hee Chul. Namun bukan berarti bahwa ia tak ingin mendengarkan apa yang akan Hee Chul katakan.

 

                “Pertama-tama, aku ingin meminta maaf padamu karena aku tak bisa menjalankan tugas yang kau berikan padaku dengan baik. Aku tak bisa menjaga Ji Hyeon dengan baik untukmu ketika kau menjalankan wajib militer. Kau boleh mengasumsikan bahwa aku juga turut berkontribusi atas perjodohan Sung Min dan Ji Hyeon karena aku lalai dalam menjalankan tugas darimu,” ucap Hee Chul.

 

                “Dan sekarang aku ingin menjelaskan yang sebenarnya yang terjadi. Memang jika saja aku berada diposisimu saat ini, aku juga akan menganggap bahwa Ji Hyeon, dan bahkan Sung Min yang sudah kau anggap seperti adikmu sendiri itu mengkhianatimu dengan merebut Ji Hyeon darimu. Juga dengan Hyuk Jae dan Dong Hae, sebagai kakak Ji Hyeon yang juga mengetahui bahwa kau begitu mencintai Ji Hyeon, seharusnya membantumu untuk mempertahankan Ji Hyeon. Dan aku, yang secara pribadi bahkan kau tugaskan untuk menjaga Ji Hyeon justru tak bisa menjalankannya. Tapi semua itu terjadi bukan karena kami yang menginginkannya. Dan kami juga bukan tidak ingin mencegah semua itu untuk terjadi,” jelas Hee Chul.

 

                “Pertama, benar apa yang Ji Hyeon katakan bahwa ia berulangkali mencoba untuk mempertahankan hubungan kalian dan member pengertian pada Ayahnya agar dapat menerimamu. Kedua, Sung Min juga sama sepertimu, sudah menganggapmu sebagai kakaknya sendiri. Ia bahkan tahu benar bahwa kau sangat mencintai Ji Hyeon, tapi juga ia menyimpan sebuah perasaan yang begitu besar terhadap Ji Hyeon sama sepertimu. Bahkan ketika kau menyatakan perasaanmu dan dengan bangganya kau mengatakan bahwa kau mulai menjalani sebuah hubungan yang serius dihadapan kami semua, Sung Min terluka. Memang ia tidak menunjukkannya dihadapan kita semua, bahkan dia juga turut bahagia untukmu dan Ji Hyeon, tapi di balik itu semua Sung Min justru harus mulai perlahan melepaskan cinta pertamanya untukmu,” lanjutnya.

 

                Cinta pertama yang selalu Sung Min ceritakan padaku itu adalah Ji Hyeon?, batin Jung Su.

 

                “Ketika kau menjalani wajib militer, memang Sung Min selalu datang untuk menemani dan menghibur Ji Hyeon, itu hanya karena ia tak mau melihat Ji Hyeon bersedih. Selama tahun pertama sejak kepergianmu, Ji Hyeon masih berusaha untuk mempertahankan hubungan kalian. Namun menjelang tahun kedua, Ji Hyeon goyah dan kembali pada cinta pertamanya, yaitu Sung Min. Ji Hyeon juga bukan tak ingin mempertahankanmu, tetapi ia sudah tidak sanggup untuk mempertahankan semuanya. Ia ingin membuat Ayahnya bahagia dengan menerima perjodohannya dengan Sung Min. Meskipun memang sebagai bayaran atas semua yang ia lakukan adalah kau yang terluka. Tapi perlu kau tahu bahwa bukan hanya kau yang terluka, tapi juga Ji Hyeon,” jelas Hee Chul lagi.

 

                “Wae? Jika dia juga terluka, kenapa dia lakukan semua ini padaku?” tanya Jung Su yang akhirnya buka suara setelah Hee Chul dengan panjang lebar mencoba meluruskan permasalahannya itu. (http://jh-nimm.blogspot.com)

 

                “Ji Hyeon juga tidak bisa memungkiri bahwa ia menyukaimu. Bahkan ia selalu mengatakan bahwa ia bahagia karena kau datang dalam hidupnya. Kau seperti malaikat yang datang untuk memberikan kebahagiaan padanya. Akan tetapi, sayangnya dia harus melukaimu, dan karena terpaksa melukaimu seperti inilah Ji Hyeon juga terluka. Mungkin Dong Hae dan Hyuk Jae tidak menceritakannya padamu. Tetapi malam ketika aku mengajaknya bertemu, Ji Hyeon menangis. Dan kau tahu, ketika Ji Hyeon mengatakan untuk mengakhiri hubungan kalian, Ji Hyeon mati-matian menahan dirinya untuk tidak menangis dihadapanmu,” jawab Hee Chul.

 

                Jung Su mencoba mencerna setiap penjelasan yang Hee Chul berikan. Ia mencoba mempertimbangkan semuanya. Ia mencoba untuk membesarkan hatinya, meskipun memang tak dapat dipungkiri bahwa luka itu jelas begitu terasa menyakitkan.

 

                “Lalu apa yang harus ku lakukan?” tanya Jung Su.

 

                Hee Chul pun mengeluarkan handphone-nya dan menunjukkan sebuah pesan yang Ji Hyeon kirimkan.

 

                “Hee Chul Oppa, kau akan bertemu dengan Jung Su Oppa? Jika ya, tolong katakan padanya untuk selalu bahagia. Juga sampaikan maafku karena aku telah membuatnya terluka seperti ini. Kau tahu benar dengan perasaanku terhadapnya, jadi tolong sampaikan permintaanku ini bahwa aku ingin melihatnya untuk selalu bahagia. Aku hanya ingin bahagia. Juga sampaikan padanya untuk melepaskanku, karena aku menyadari bahwa aku tak layak untuk membahagiakan pria baik seperti dirinya,”

 

                “Ji Hyeon…”

 

                “Pesan ini belum seberapa. Hanya singkat dan tidak cukup menjelaskan semuanya agar dapat kau terima. Tapi aku sudah menyaksikan sendiri bagaimana terlukanya Ji Hyeon ketika memutuskan untuk melepaskanmu,” ucap Hee Chul.

****

 

 

                Beberapa hari setelah mendengar penjelasan Hee Chul, Jung Su mencoba untuk menghubungi Ji Hyeon lagi. Namun Ji Hyeon masih tak bersedia mengangkat teleponnya. Padahal kali ini Jung Su bukan berniat untuk memintanya kembali, tetapi hanya untuk menyampaikan perpisahan yang memang Ji Hyeon inginkan. Akhirnya Jung Su pun memutuskan untuk mengirimkannya dalam sebuah pesan.

 

                “Ji Hyeon-a, kau masih tak bersedia mengangkat teleponku, hmm?

Tidak masalah. Karena meskipun aku tak dapat mendengar suaramu untuk terakhir kalinya, setidaknya aku masih bisa berkomunikasi denganmu melalui sebuah tulisan.

Lewat pesan ini, aku bukan ingin memintamu kembali.

Tetapi aku hanya ingin menyampaikan padamu bahwa aku telah menerima perpisahan kita.

Aku sadar, ketika aku terlarut dalam kesedihan karena kau meminta perpisahan denganku, seharusnya aku tidak seperti itu. Seharusnya aku bisa bersikap lebih dewasa dan bukannya terus memaksa untuk menghubungimu.

Aku sadar, aku egois jika aku ingin terus mempertahankanmu dan mengorbankanmu seperti ini. Aku juga tidak mau kau terus memohon pada Ayahmu untuk menerimaku. Karena bukanlah hal yang baik untuk seorang puteri terus memohon pada Ayahnya, apalagi demi seorang pria. Seorang puteri sudah seharusnya menuruti keinginan sang Ayah dan membahagiakan Ayahnya.

Ada satu hal yang ingin aku mintakan padamu, seperti yang kau mintakan juga padaku. Yaitu, aku ingin agar kau selalu bahagia. Aku yakin, Sung Min akan dapat membahagiakanmu. Dia adalah pria yang baik untukmu. Aku yakin dia bisa menjagamu.

Tapi ada satu hal lagi yang ingin ku mintakan padamu, yaitu lupakanlah aku. Lupakan bahwa aku pernah hadir dalam hidupmu. Lupakan bahwa kita pernah bersama dan lupakan semua kenangan kita. Karena dengan kau melupakan semua itu, maka aku akan bisa hidup dengan bahagia seperti permintaanmu. Kau mau berjanji untuk hal itu kan?

Jangan khawatir jika kita akan secara tidak sengaja bertemu, cukup anggap saja bahwa kita tidak pernah saling mengenal dan aku tidak akan mempermasalahkan hal itu.

Aku bukan ingin membuat permusuhan denganmu atas semua yang terjadi ini, tetapi aku hanya membutuhkan waktu untuk dapat beradaptasi dengan semua ini. Aku butuh waktu untuk menganggap bahwa aku sudah tak memiliki ikatan apapun denganmu.

Karena jika nanti waktu yang tepat tiba, aku akan kembali bersikap biasa terhadapmu dan yang lainnya juga. Jadi jangan mengkhawatirkan hal itu, ya?

Terakhir, semoga kau dan Sung Min selalu bahagia,”

 

                Cukup panjang pesan yang Jung Su kirimkan. Meskipun memang semua itu belum mewakili seluruh perasaan yang ingin nyatakan, tetapi ia selalu berharap bahwa Ji Hyeon akan mengerti dengan hal itu. (http://jh-nimm.blogspot.com)

 

                “Ji Hyeon-a…”

 

                Dong Hae dan Hyuk Jae hanya bisa menatap Ji Hyeon yang saat itu tengah menangis setelah membaca pesan yang Jung Su kirimkan itu. Tak dapat dipungkiri memang bahwa hatinya terluka ketika membaca setiap kalimat yang Jung Su sampaikan melalui pesannya. Jika ia bisa, ia ingin menghentikan waktu dan mengembalikannya ke masa lalu. Sebuah masa dimana ia dan Jung Su bersama untuk menciptakan sebuah kenangan yang indah. Tak akan menjadi masalah baginya jika seperti masa itu ia harus memohon pada Ayahnya untuk menerima Jung Su. Namun ketika Jung Su mengatakan bahwa tak baik baginya untuk terus memohon pada sang Ayah, membuatnya mencoba untuk terus perlahan melepaskan Jung Su dari hatinya.

 

                “Mianhae[14], Jung Su Oppa, Mianhae…

 

 

 

THE END

 

 

Aduh, yang mau keluar dari wajib militer kok di sambut FF yang begini ya?

Maaf tapi jujur ini inspirasi muncul pas baca artikel soal idola yang bakalan keluar dari milter tahun ini sambil dengerin lagunya Choi Jin Hyuk yang Don’t Look Back itu makanya jadi begini L

 

 

So sorry for all typos and mistakes.

Just don’t forget to always leave your appreciation.

Thank you so much… :*

 

Facebook link: https://www.facebook.com/notes/milky-daidouji/oneshoot-super-junior-how-could-you-do-this-to-me/10204164643426711

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

fransiscasteffi
Minggu, 27/07/2014 17:37
0
hai, chingu! ^^
mind to exchange likee? n_n
jd chingu like ff aku duluan,
ntar aku like back ff chingu dehh... <3
POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK