home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Dae.. (대..)

Dae.. (대..)

Share:
Author : borin1004
Published : 15 Jul 2014, Updated : 21 Jul 2014
Cast : Sistar Dasom, Park Taejun, Lee Chihoon, Soomin
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |19491 Views |4 Loves
Dae.. (대..)
CHAPTER 1 : Dae.. (대..) - My First Run

            “Karena putih itu SHINZU’I.”

            “Okay, wrap this up! Kerja bagus, Dae!” seru sutradara yang segera dibalas bungkukan dalam dari Dae.

            “Ne, sugohasyeottseumnida,[1]” seru Dae mengikuti beberapa bungkukan lain pada para crew yang bertugas di lokasi syuting Commercial Film atau yang dikenal dengan sebutan CF dari produk terbaru SHINZU’I.

            Dae menghela napas dengan berat, kepalanya terasa sangat pusing karena cengkraman topeng yang selalu menutupi setengah dari wajahnya sepanjang hari, setiap hari. Rasanya daerah di sekeliling matanya penuh dengan keringat yang tertahan oleh topeng masquerade dan membuatnya merasa tidak nyaman. Baru saja ia akan menarik topengnya, seorang pria dengan kasarnya menarik tangan Dae dan menghentikannya.

            “Apa yang kau lakukan!?” bentaknya dengan suara tertahan. Dae hanya menatap pria di sampingnya dengan tatapan kesal. “Kau lupa masih ada banyak orang di sini? Bagaimana kalau ada yang melihatmu dan memotretmu diam-diam, huh?” tambahnya lagi membuat Dae makin kesal. Dae menghempaskan tangan pria itu dan pergi meninggalkannya.

            “Kau mau kemana?” Dae tidak menjawab.

            “Dae ssi, kau mau kemana? Kau tidak makan bersama yang lainnya?” tanya seorang wanita dari bagian wardrobe yang berpapasan dengannya.

            “Tidak, aku ingin istirahat di mobil saja,” jawab Dae  berusaha terlihat baik-baik saja.

            “Tidakkah kau berpikir kalau dia itu sedikit arogan?” tanya seseorang yang berbisik pada temannya. Sebenarnya Dae tidak berniat menguping, hanya saja pendapat mereka terpaksa harus didengarnya saat ia akan keluar menuju mobil van miliknya yang terparkir di luar.

            “Mungkin karena dia terlalu cepat terkenal. Lagi pula wajar kalau dia begitu, dia punya tubuh yang diidamkan banyak wanita.” Dae tidak ingin mendengar lebih jauh lagi. Ia segera mempercepat langkahnya dan menghilang ke dalam mobil van yang isinya tertutup oleh tirai-tirai dari kain tebal yang selalu menutupi hampir seluruh bagian jendela di mobil itu

            “Kenapa tidak sekalian saja membeli mobil box,” gerutu Dae, merasa kesal dengan tirai-tirai yang membuat mobilnya semakin panas dan sumpek.

            Dae menarik topengnya dan melemparnya dengan kesal. Sekali lagi dia menghela napasnya dengan berat dan memijat pelan kepalanya yang penat. Dae menyingkirkan salah satu tirai agar dia bisa melihat keluar. Jika managernya ada di sini, ia pasti akan langsung mengomel ini itu, apalagi Dae sedang melepas topengnya seperti saat ini. Dae sedang merasa penat, bosan dan kesal pada dirinya sendiri. Sudah dua tahun sejak ia menginjakkan kakinya di dunia entertainment, dia tidak pernah melepaskan topengnya di depan kamera.

            Dae memulai debutnya sebagai model sebuah produk body lotion pemutih kulit. Karena konsep yang diajukan oleh pihak perusahaan body lotion itu menginginkan Dae memakai topeng dengan alasan mereka ingin CF difokuskan pada kulit dan bukan wajah modelnya. CF itu sukses menarik banyak perhatian konsumen dan perusahaan produk itu meraup banyak keuntungan. Sejak saat itulah Dae dikenal sebagai model bertopeng. Pihak perusahaan juga tidak memperbolehkannya melepas topeng di depan kamera dengan alasan mempertahankan imej misterius. Mereka memperbolehkan Dae pergi ke tempat umum tanpa topeng, dengan syarat tidak ada kamera yang mengikutinya. Dan yang ini membuat Dae kesal.

            Bukannya Dae ingin wajahnya dikenali oleh banyak orang, hanya saja dia merasa topeng itu sudah membuatnya menjadi orang lain. Topeng masquerade itu tidak hanya menyembunyikan sebagian dari wajahnya tapi menutupi perasaannya yang sebenarnya. Orang lain hanya melihat senyuman dan kulit Dae yang indah, bukan raut muka seutuhnya. Dae memang diijinkan pergi keluar, tapi dengan schedule yang padat dan  paparazzi yang selalu mengikuti dan ingin melihat wajah Dae yang seutuhnya, dia tidak pernah punya kesempatan untuk keluar.

            Tanpa sadar Dae meneteskan air matanya. Saat sedang sibuk mencari tisu, dia menemukan sebuah artikel tentang dirinya. Setelah ratusan versi iklan body lotion, body scrub, body cleanser, dan berbagai perawatan kulit dan tubuh lainnya – apalagi  setelah Dae dikontrak secara eksklusif oleh perusahaan ternama, SHINZU’I – sosoknya sering muncul dalam pemberitaan. Pemberitaannya tidak pernah jauh dari hujan pujian tentang kulitnya yang dianggap begitu indah. ‘Cantik, kulit putih sempurna, tubuh ramping mempesona, Dae menjadi impian para gadis yang melihatnya.’ Begitulah bunyi kutipan dari berita yang dibacanya.

            “Impian katanya,” gumam Dae tertawa miris, “bermimpilah selagi bisa, karena aku ingin segera bangun dari mimpi ini.” Dae menyobek artikel itu menjadi sobekan-sobekan kecil.

***

 

            “Dae, Dae,”

            Dae mengernyitkan keningnya dan mengerjap-ngerjap matanya. Ternyata tadi dia tertidur sampai tidak sadar mobilnya kini sudah terparkir di basement apartemennya. Sambil menunggu managernya membereskan barang-barang, Dae meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena jarang berolahraga. Diam-diam dia menyingkirkan sobekan artikel di dekat kakinya, meski sepertinya sang manager sudah melihatnya.

            “Ayo, Dae, kita masuk,” kata sang manager.

            “Ne.” Dae beranjak dari bangku penumpang tapi segera ditahan lagi oleh sang manager. “Apa lagi?” tanya Dae kesal. Sang manager tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyodorkan topeng ke hadapannya. “Ayolah, ini basement.”

            “Tapi cctv merekam segalanya, Dae,” bantah manager ketus. Dae merebut topeng itu dan memakai sekenanya. “Dae..”

            “Iya, iya aku tahu.” Dae membuka lagi topengnya dan merapikan rambutnya lalu memakai lagi topengnya dengan baik dan benar. “Dae yang sempurna ini tidak boleh terlihat kacau,” sindir Dae. Ia keluar dan berjalan lebih dulu meninggalkan managernya yang kerepotan membawa banyak barang.

            Sesampainya di apartemen Dae langsung menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Meski ia terkadang kesal dengan pekerjaannya, tapi dia bersyukur produk yang diiklankannya selalu memberikan sedikit ketenangan untuknya. Aroma body cleanser yang memenuhi kamar mandinya membuatnya rileks, seakan pikirannya menjadi tenang dalam sekejap. Setelah ia menemukan kesegaran dari body cleanser, Dae akan selalu melengkapinya dengan sapuan body lotion di sekujur tubuhnya sambil menikmati pemandangan malam yang bisa dilihat dari apartemennya, satu-satunya hiburan yang bisa dinikmati Dae dalam kesendirian. Tapi kenikmatan itu tidak pernah bertahan lama karena sang manager yang juga kakak kandungnya akan mulai menceramahi Dae dengan rentetan schedule dan mulai cerewet tentang hal-hal tidak penting. Terkadang Dae bingung kenapa kakak laki-lakinya ini jauh lebih cerewet dari wanita.

            “Oppa[2], tidak bisakah kau berhenti. Setidaknya untuk malam ini saja. Aku ingin istirahat,” protes Dae akhirnya.

            “Tidak bisa, Dae. Kalau kau tidak diberitahu, kau pasti akan lupa.” Dae hanya bisa menatap kakaknya yang sibuk mondar-mandir, memasukkan dan mengeluarkan barang dari dalam koper. Sesekali dia menyodorkan beberapa topeng padanya dan bertanya topeng mana yang ingin dipakainya di jadwal selanjutnya. Dae memilih topengnya dengan sembarang, karena baginya semua topeng itu hanya akan menutupi sebagian isi hatinya. Tapi kakaknya akan mulai protes dengan mempertimbangkan kostum, setting di lokasi syuting dan lain lainnya hingga pada akhirnya dia akan memasukkan topeng beraneka ragam ke dalam koper.

            Dae beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar. Ia mengeluarkan tas yang sudah lama dia simpan di dalam lemari, dengan segala persiapan yang sudah ia simpan di dalamnya. Dae berjalan menuju kamar mandi dan mengambil satu set peralatan mandi termasuk body cleanser dan body lotion yang sangat disukainya, lalu memasukkannya ke dalam tas tadi. Ia menyelempangkan tas itu di bahunya dan segera berjalan menuju pintu.

            “Dae, kau mau kemana?” tanya kakaknya yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Dae. “Besok kita akan terbang ke Jeju untuk pengambilan gambar yang lain. Sebaiknya kau istirahat.”

            “Istirahat?” tanya Dae yang berhenti menalikan sepatunya untuk menatap kakaknya. “Bagaimana aku bisa istirahat jika kau terus mondar-mandir dan mengoceh?”

            “Tapi, Dae, kau mau kemana malam-malam begini? Bagaimana kalau ada paparazzi atau..”

            “Oppa,” sela Dae kesal. “Tidak bisakah kau memberi aku waktu sebentaaar saja. Biarkan aku menghirup udara segar, ok?” Dae berdiri dan bersiap membuka pintu sebelum akhirnya dia berbalik menghadap kakaknya. “Dan namaku Dasom. Bukan Dae.”

***

 

Dasom memang sudah merencanakan akan kabur, tapi ia tidak menduga kalau dia akan benar-benar pergi malam ini. Dia bahkan belum tahu mau pergi kemana. Dasom hanya terus berjalan menjauh dari kawasan apartemennya.

            Jalanan malam yang mulai sepi membuatnya sedikit lega. Meski orang-orang tidak akan mengenali sosok sempurna Dae dalam balutan celana jeans dan hoodie super besar yang menutupi tubuhnya saat ini, setidaknya dia tidak perlu repot-repot menghindari orang lain yang mungkin akan mulai berspekulasi dari kulit putih di wajahnya. Saking senangnya merasakan kebebasan, Dasom sampai tidak sadar kalau dia menyeberang di waktu yang tidak tepat. Sebuah Volkswagen Kombi Westfalia berwarna biru muda menabrak Dasom. Meski mobil itu sempat mengerem tapi tubuh Dasom tetap terkena bumper depan mobil hingga tubuhnya jatuh.

 


[1] Terima kasih untuk kerja kerasnya

[2] Panggilan kakak untuk wanita pada pria

 

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK