SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > HIGH FLY

HIGH FLY

Share:
Author : kryptonian24
Published : 11 Jun 2014, Updated : 11 Jun 2014
Cast : Lee Jong Hyun, Kang Min Hyuk
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |15823 Views |2 Loves
HIGH FLY
CHAPTER 1 : The Number 1 Fangirl

“Mau kemana lagi kita, Hyung?” tanya Hae Won sambil memutar-mutar stik drum di tangannya.

Moella, Hae Won-ah.” Seong Won mengusap keringat di keningnya.

Cuaca hari ini panas sekali. Matahari bersinar sangat terik seolah mengejek mereka.  Kakak beradik ini sudah mengamen sejak pagi, tapi sayangnya uang yang mereka dapat belum seberapa. Bukan, bukan mengamen. Si anak pertama, Kim Seong Won akan mencekikmu kalau kau berani memanggil mereka dengan sebutan itu.

“Aaah aku lapaaaaar!” Hae Won memegangi perutnya yang berbunyi. “Minta uang?”

Mwo?!” Seong Won mendelik. “Kau bilang apa tadi? Coba ulangi lagi!”

“Minta uang! Aku lapar. Kau tidak tuli kan, Hyung?” satu jitakan mendarat di kepala Hae Won.

“Sana, makan! Pakai semua uang ini. Tapi jangan merengek padaku kalau nanti malam kita berdua harus tidur di jalanan!” ancam Seong Won galak. Hae Won yang hendak marah karena baru saja ditoyor hanya bisa cemberut.

“T-tapi aku… arasseo.” Hae Won menunduk sedih. Sampai kapan lagi dia harus menahan lapar. Warung ramyun di seberang jalan sana tampak begitu menggoda. Entah kenapa aromanya lebih wangi daripada biasanya, membuat perut Hae Won semakin bergejolak. Bahkan meskipun itu bukan ramyun, makan apa pun saat ini pasti enak. Tenggorokan Hae Won tercekat air mata. Melihat raut wajah adiknya berubah, Seong Won pun melunak.

Ya, Hae Won-ah.” Seong Won mengusap bahunya. “Aku tahu kau lapar, aku juga lapar, tapi…”

Arasseo, Hyung. Uang sewa lebih penting sekarang.” Hae Won mencoba menahan diri dari godaan ramyun dan makanan lezat lain yang melintas di otaknya saat ini. Seong Won merangkulnya sambil tersenyum.

“Ayo kita menyanyi ke satu tempat lagi. Aku tahu tempat yang bagus. Kita pasti bisa dapat banyak uang di sana. Setelah itu kita makan, berapa pun uang yang kita dapat. Aku juga sudah kelaparan. Cacing-cacing di perutku ini seperti memberontak, ‘Ahjussi! Ahjussi! Beri kami makan!’

Sedikit terhibur mendengar lelucon Seong Won, Hae Won mengangguk sambil tersenyum.

Hidup Seong Won dan Hae Won pernah jauh lebih baik daripada ini. Kecelakaan yang menimpa kedua orang tua mereka membuat kakak beradik ini yatim piatu dan harus berjuang untuk hidup sendiri. Keduanya sangat menyukai musik sejak kecil. Dan musik lah yang membuat mereka bisa bertahan. Setiap hari mereka melakukan pertunjukan jalanan di berbagai tempat di Seoul. Sesekali mereka berkesempatan tampil di café-café kecil, walaupun tak jarang ujung-ujungnya mereka dilempari botol atau diusir keluar.

Uang hasil pertunjukan jalanan selalu bisa mencukupi kebutuhan mereka, kecuali jika ada masalah lain yang mendesak seperti tunggakan uang sewa. Pagi tadi Seong Won dibentak habis-habisan oleh pemilik kamar sewa mereka karena menunggak tagihan selama lima bulan. Karena itulah suasana hatinya buruk sampai-sampai Hae Won jadi korban. Seong Won pun harus terus menghiburnya selama perjalanan menuju ke jalanan paling ramai di Seoul.

            “Hae Won-ah, stop!” Tangan Seong Won tiba-tiba terentang di depan Hae Won, menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Membuat uang hasil pertunjukan sebelumnya yang sedang dihitung Hae Won terjatuh dan menimbulkan bunyi gemerincing.

            “Aaah uang kita!”

            “Ssssh!” Seong Won tampak tak peduli.

            “APA SIH?!” jeritan Hae Won membuatnya menerima satu toyoran lagi di kepalanya. “Aaaah, ah pa!

            “Siapa suruh kau teriak?!” Seong Won mengusap bagian kepala adiknya yang sakit. Sedikit merasa bersalah. “Sakit, ya?”

            “Ani, Hyung. Enak kok. Boleh minta lagi?” ujar Hae Won sarkastik. Seong Won terpaksa nyengir.

YAA! KAU! BERHENTI!” Seketika Seong Won berbalik dan membuat Hae Won hampir tersandung karena terkejut. Beberapa meter di belakang mereka, setumpuk kardus di sekitar tempat sampah tiba-tiba terjatuh. “Yaa! Aku tahu kau ada di sana!”

            “Kau ngomong sama siapa sih, Hyung?” Alih-alih menjawab, Seong Won berjalan ke arah tumpukan kardus jatuh itu.

“Tunggu di sini. Simpan baik-baik uang kita.”

“Uang?!” dengan panik Hae Won mengambil kembali uang mereka yang terjatuh dan memasukkannnya ke kantong celana.

Seong Won berhenti di sudut jalan. Tangannya terlipat di dada. Tumpukan kardus itu hanya beberapa meter di depannya. Seong Won mengamatinya hati-hati. Dalam hati ia berharap, semoga siapa pun—atau apa pun yang ada di balik tumpukan kardus ini tidak lebih kuat dan lebih kelaparan daripada dirinya.

            “Keluarlah!” Seong Won berlagak seperti polisi gagah yang siap menyergap maling.

Dari kejauhan Hae Won kebingungan melihat tingkah Seong Won. Sedang apa dia bicara pada kardus? “Perut lapar ternyata bisa membuat orang jadi gila ya?” ia bergumam.

            “KUBILANG KELUAR!” Seong Won berteriak lebih lantang, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Memangnya apa yang dia harapkan dari setumpuk kardus?

“Yaaah yasudah kalau kau tidak mau keluar,” Seong Won berbicara dengan nada bosan. Seolah mulai tak peduli. Namun dalam satu gerakan cepat, Seong Won menerjang tumpukan kardus itu seperti kucing menerkam tikus.

“Aaaaak!”

            “Kena kau! Mau lari kemana sekarang ha?!”

            “Yaaa~ Lepaskan aku!”

            “Tidak sebelum kau jelaskan padaku kenapa kau mengikuti kami!”

            “A-aku tidak—”

Dari kejauhan Hae Won melihat kakaknya menarik seseorang keluar dari balik tumpukan kardus sambil melepas paksa topi yang menutupi wajah orang misterius itu. Rambut hitamnya jatuh terurai melewati bahunya. Wajahnya yang menunduk tampak imut dibingkai poni panjang di sisi wajahnya. Seong Won pun terkejut ketika menyadari penguntitnya adalah seorang gadis SMA.

Gadis itu lebih terkejut lagi. Ia berdiri terpaku sambil menelan ludah, kehabisan kata-kata. Bukan karena takut, tapi karena wajah Seong Won yang berada hanya beberapa centi dari wajahnya. Tangannya dengan kuat mencengkram bahunya. Ekspresinya menunjukkan kemarahan. Ia bisa melihat dada Seong Won naik turun. Napasnya memburu. Udara hangat perlahan menerpa wajah melongo gadis itu. Kedua mata Seong Won menatap tajam ke arahnya. Tapi bahkan dengan tatapan seperti itu ia masih bisa berpikir bahwa Seong Won memiliki mata yang indah.

            “Hyuuuuung!” Teriakan Hae Won yang berlari menghampiri mereka menyadarkan lamunan gadis itu. Tangan Seong Won masih berada di bahunya. Dalam hati ia berharap Seong Won tidak akan melepaskannya.

“Waaah yeppeuda!” ujar Hae Won terpana ketika melihat gadis itu.

Hyung, apa yang kau lakukan padanya? Cepat lepaskan dan minta maaf!” Hae Won menarik tangan Seong Won. Gadis itu kecewa. Tapi sedetik kemudian Seong Won mencengkramnya lagi.

            “Hae Won-ah, kau tahu dia sudah mengikuti kita dari—”

            “Mengikuti kami?! Apakah kau seorang fan?” tanya Hae Won dengan wajah polos.

            “Mwo?” ujar Seong Won dan gadis itu bersamaan. Keduanya menoleh pada Hae Won dan memberinya tatapan aneh.

            “Hyung, lepaskan dia! Bukan begitu cara memperlakukan penggemar.” Hae Won tersenyum lebar. “Apa kau mau tanda tangan kami? Kemarilah!”

            “Apa kau gila?! Dia penguntit, Hae Won-ah. Hei, jangan diam saja kau! Ayo mengaku!” Seong Won menarik tangan gadis itu. “Kalau kau tidak mau, aku akan—”

            “Majayo!” ujar gadis itu akhirnya. “Aku memang penggemar kalian. Penggemar berat! Ini bahkan bukan pertama kalinya aku mengikuti kalian. Aku sudah sering melakukannya.” Ujar gadis itu gemetar sambil berusaha terus tersenyum.

            “Mwo?!”

            “Jinjja?!

            Kedua mata Hae Won berbinar. Seolah gadis ini baru saja berjanji akan membuatkan Hae Won kolam renang isi ramyun untuknya.

Hyung, daebak! Kita punya seorang fans sejati! Berarti sebentar lagi kita akan jadi idola sungguhan!” Hae Won menggamit kedua tangan Seong Won sambil berjingkrak kegirangan. Seong Won otomatis melepaskannya. Tapi Hae Won tak peduli.

“Halo, aku drummer Kim Hae Won! Dan ini gitaris sekaligus vokalis yang juga adalah kakakku, Kim Seong Won. Yaa! Apa jangan-jangan kau sudah tahu siapa kami? Siapa namamu?”

“Hye Su. Shin Hye Su.” Jawabnya antusias. “Dan ngomong-ngomong aku belum tahu nama kalian.”

“Senang berkenalan denganmu, Hye Su-ya!” Hae Won merangkul Hye Su erat, seolah-olah yang penggemar adalah dirinya dan bukan Hye Su. “Karena kau adalah fans pertama kami, bagaimana kalau sekarang kita berteman? Dan kalau kami menggelar konser nanti, kau akan kami beri tiket gratis sekaligus backstage access-nya!”

            “YAAA! KIM HAE WON!!! Apa-apaan kau berteman dengan penguntit seperti dia?! Konser apa lagi” kesabaran Seong Won mulai habis. Perutnya yang keroncongan memperparah keadaan.

            “Aku bukan penguntit.” Hye Su membela diri.

            “Benarkah?!” Seong Won mendelik sinis padanya.

“Sudah kubilang aku penggemar kalian. Aku sangat menyukai penampilan dan musik kalian. Dan bahkan aku….”

“Apa?!” tatapan tajam Seong Won lagi-lagi membuat Hye Su sulit bicara. Matanya benar-benar indah jika dilihat dari dekat.

“… paling menyukaimu.”

Waktu itu pulang sekolah ketika Hye Su pertama kali melihat Seong Won dan Hae Won yang baru keluar dari toko roti sambil membawa gitar. Melihat mereka berdua, Hye Su langsung menyukainya. Apalagi Seong Won. Meskipun tampangnya galak, tapi entah bagaimana dia juga tampak manis. Dia sangat cocok memakai kaus tanpa lengan itu. Menurut Hye Su dia sangat imut.

Karena penasaran Hye Su mengikuti mereka, sampai akhirnya ia tahu bahwa kedua cowok ini adalah musisi jalanan. Melihat mereka berdua bermain musik Hye Su semakin menyukai mereka. Sejak itu hampir setiap hari Hye Su selalu melihat mereka di sana. Musik mereka selalu bisa menghibur Hye Su. Tak cukup melihat mereka dari jauh, Hye Su ingin mengenal mereka lebih dekat. Iseng-iseng ia mengikuti mereka sepulang tampil. Sudah seminggu  ia melakukannya dan tidak pernah ketahuan. Tapi hari ini Hye Su sedang sial. Atau justru amat sangat beruntung.

            Hye Su tidak berani memandang Seong Won yang memberinya tatapan setajam pisau setelah mendengar pengakuannya. Seong Won mungkin memang imut, tapi setelah melihatnya lebih dekat lagi ternyata dia juga segalak anjing tetangga.

            “Waah, Hyung selamat ya, kau jadi biased.  Aku iri padamu.” Goda Hae Won sambil menyikut lengannya. Tatapan maut Seong Won kini beralih pada Hae Won. Manisnya Seong Won bahkan saat marah sekalipun  membuat Hye Su tak bisa menahan senyumnya.

            “He he he, bercanda, Hyung.” Ujar Hae Won salting saat menyadari ia sudah membuat Seong Won kesal.

Melihat ekspresi Hae Won yang menyebalkan itu, dan gadis di sebelahnya, Seong Won benar-benar jengkel. Tangannya otomatis mengambil dua buah kardus kosong dan memasukkannya ke kepala Hae Won dan Hye Su sebelum meninggalkan mereka.

            “Hyuuuuuuuung!” jerit Hae Won sambil menyingkirkan kardus dari kepalanya dan Hye Su. “Kau tidak apa-apa Hye Su-ya? Eh? Kenapa kau cekikikan begitu?”

            “Tidak papa. Dia lucu sekali ya?”

            “Eh?” Awalnya Hae Won terkejut, tapi tak lama ia mulai cekikikan juga. Keduanya kini memandang Seong Won yang berjalan menjauh. “Kau benar. Dia memang lucu.”

            “HAHAHAHA~”

            Sambil berusaha tidak mempedulikan mereka, Seong Won mempercepat langkahnya.

            “Michigesseo!

***

 

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK