home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > FICLET_DON'T, LOVE ME.

FICLET_DON'T, LOVE ME.

Share:
Author : rainyrain
Published : 24 May 2014, Updated : 24 May 2014
Cast : Lee dong hae, Rin (ocs)
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |620 Views |1 Loves
FICLET_DON'T, LOVE ME.
CHAPTER 1 : Ficlet_Don't, Love Me..

Lets read! ^^

Title                       : Dont, Love Me.

Author                  : Zahra aka Song Ji Hye

Lenght                  : Ficlet

Main Cast            : Lee Dong Hae

                               Rin (OCs-you)

Genre                   : Family, Love intrick.

Rating                   : T

Disclaimer           : cerita milik sang author seorang. Murni. Tokoh milik sang pencipta. J

 

***

“Oppa.. belikan aku ice cream..”

Lagi-lagi dia merajuk manja di lenganku. Beberapa kali ia menggembungkan pipinya yang terpoles make-up tipis. Rambutnya yang bewarna coklat mahony itu berkilau terkena sinar lampu taman di malam hari. Kini rambut panjangnya itu di biarkan terurai, di poni sebelah kirinya hanya dihiasi jepit bewarna merah jambu, sebagai pemanis. Sesekali tercium aroma yang harum dari balik tas hitam yang di bawanya. Ia penyuka coklat, lebih tepatnya Dark coklat. Sejak aku mengenalnya ia memang tak pernah lupa membawa sekotak dark chocolate kemanapun ia pergi.

“hm. Baiklah aku belikan kau ice cream, Rin.” Aku mengalah, ia pun seketika tersenyum tanda puas. Ice cream rasa coklat itu pun dibiarkannya sebentar. Aku menunggu ia melahapnya. Aneh sekali memandangnya melahap ice cream kali ini. Ia biarkan ice cream itu meleleh dalam kemasan, setelah itu ia mengambil sebuah sedotan kecil dari balik saku mantelnya. Lalu meminum ice cream itu sampai habis.

Slurupp..

“hmm. I love chocolate..”

Aku tertawa sekaligus heran, ia tiba-tiba melotot ke arahku.

“mwo-a..?”

“ah, ani.. aneh sekali caramu tadi. Maeume deuro?”

“ne. Ini cara baruku. Gomawo oppa.” Katanya dengan riang dan kemudian mengecup pipiku lembut. Aku tersentak, dan menoleh padanya. Ia tertawa melihatku bersemu merah. Ini membuatku salah tingkah. Sungguh aku tak bisa menyukainya lebih dari ini..

“ne mwo hae?!”

“kyaa.. oppa wajahmu memerah..”

“Ini karena cuaca disini sangat dingin. Wajahku jadi memerah..”

Aku dengan cepat memalingkan wajahku. Darahku berdesir cepat. Dia tak boleh tau aku menyukainya. Aku memang tak boleh menyukainya. Namun perasaan ku tak bisa ditutupi, tak bisa menyangkal bahwa perhatian dia selama ini membuatku menyukainya.

“onjena nowa kachi salgi sipho, oppa..”

Dia memelukku dari belakang. Aroma coklat semakin menyeruak dari rambutnya. Ya, ia juga memakai shampho beraroma coklat. Aku mengatur nafasku. Aku tak mau debaran jantungku berdetak cepat. Aku tak mau dia merasakannya.

“saranghae.” Ucapnya lirih. Aku melepaskan pelukannya. Lalu menatapnya. Ternyata dia juga merasakan hal yang sama denganku.

“ige mwoji? Kugol aratji?”

“ne oppa. Aku tahu.”

Ia kini menundukan kepalanya. Aku tahu ini tidak benar, tidak sepantasnya ia mencintaiku. Dan mengatakan hal itu. aku pun tak pantas menyukainya. Tepatnya kami tidak seharusnya memendam perasaan yang sama di dalam sebuah keluarga.

Ya, aku dan yeoja ini di pertemukan dalam sebuah keluarga, appa ku menikah dengan wanita baru yang sudah mempunyai anak perempuan. Itulah alasan aku tak boleh menyukainya, terlebih mencintainya. Walaupun kami bukanlah saudara kandung, namun tetap ini tak boleh terjadi. Kini ia menunduk dan menangis.

Ingin aku mengusap air matanya yang kini mulai menetes di pipinya dan sebagian lagi jatuh ke tanah. Aku masih tak percaya dia menyukai kakaknya yang hidup bersamanya selama 11 tahun. Yang berbeda jarak  4 tahun dengannya.

“uljimaa..” aku menepuk punggungnya.

“eotokhae?! Aku menyukaimu.. dasar yeoja pabho! Pabho!” dia menepuk-nepuk kepalanya. Aku menghentikannya dengan mencoba memeluknya.

“aku diam bukan berarti aku tidak menyukaimu. Bahkan selama ini aku lebih sering memikirkanmu. Selalu menyertakan namamu di setiap doa-doaku. Uljimaa..”

Aku memeluknya lebih erat, kalimat terakhirku itu membuatnya berhenti menangis. Ia pun membalas pelukanku. Di bawah lampu taman ini kami seperti sepasang kekasih. Tapi entahlah, mungkinkah aku bisa menjadikannya kekasihku? Atau tetap dalam posisi seperti ini,yang hanya sebatas sebuah keluarga.

 

end.

 

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2021 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK