home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > A-Pink's Love Story

A-Pink's Love Story

Share:
Published : 07 May 2014, Updated : 20 May 2014
Cast : A-Pink Members, other
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |1490 Views |3 Loves
A-Pink's Love Story
CHAPTER 2 : Bomi's Story

Ya, Jung Ilhoon, kau harus menemani aku membeli es krim!” Bomi menarik-narik lengan baju seorang lelaki yang dipanggilnya Ilhoon tadi. Wajahnya yang lucu jadi semakin lucu saja. Lelaki bernama Ilhoon itu hanya menggeleng. Matanya masih asyik menelusuri halaman demi halaman dari komik yang dibacanya. “Bagaimana jika aku traktir es krim?” tawar Bomi sambil – masih – menarik-narik lengan baju Ilhoon.

“Aku sedang tidak berminat makan es krim,” jawab Ilhoon malas tanpa melirik sedikitpun ke Bomi.

Bomi berdecak. “Ya, sudah, temani aku saja,” gadis itu mengerucutkan bibirnya. Kakinya menendang kecil kaki Ilhoon.

“Apa kau begitu ingin?” akhirnya Ilhoon menutup komiknya kemudian menoleh pada Bomi. Bomi mengangguk sambil memasang puppy eyes andalannya. “Baiklah, tapi beri aku uang,” Ilhoon berdiri dari duduknya.

“Ah, kau ini memang sangat menyukai uang!” Bomi tertawa kemudian mengikuti Ilhoon berdiri.

“Kau mau membeli es krim di mana?”

-----

Mereka berdua, Jung Ilhoon dan Yoon Bomi, sudah bersahabat sejak mereka kecil. Berawal dari Jung Ilhoon yang pindah ke sekitar kawasan rumah Bomi. Bomi yang melihat bahwa Ilhoon hanya sering bermain-main sendiri di depan rumahnya pun mulai mendekati Ilhoon, dari situlah mereka mulai bersahabat. Sampai sekarang, ujian kelulusan sekolah tinggi mereka, mereka pun masih bersahabat.

-----

“Bulan Februari. Sebentar lagi musim semi akan tiba,” Bomi melongok ke luar jendela. Menatap salju-salju yang turun perlahan dari langit. “Untung saja hujan saljunya tidak deras,” gadis itu kembali memperhatikan Ilhoon yang sedang memakan ramyeon di hadapannya. Kini mereka sedang berada di kedai ramyeon dekat rumah Bomi. “Lihat taman di sana,” Bomi menunjuk ke luar jendela, sebuah taman kecil yang manis. “Sekitar tujuh tahun yang lalu taman itu tertimbun salju yang tebal sekali. Bahkan kita menggalinya sampai ke dasar dan mengukur kedalamannya!” cerita Bomi, kemudian ia tertawa mengingat itu.

Ilhoon menelan ramyeon yang tersisa di mulutnya, kemudian mendongakkan kepalanya menatap Bomi. “Kau masih ingat itu?” tanyanya heran. Tidak biasanya Bomi mengingat kejadian-kejadian seperti itu.

Bomi mengangguk dengan bersemangat. “Tentu saja!” ia menyandarkan kepalanya pada tangan kanannya kemudian menatap Ilhoon dengan tatapan meremehkan. “Bahkan kau tidak ingat, kan?” Ilhoon tertawa kecil. Ya, sebenarnya ia tidak ingat. “Benar, kan?” Ilhoon hanya mengangguk-angguk saja. “Ternyata aku lebih pintar darimu!” Bomi tertawa keras.

“Itu tidak akan pernah terjadi. Bermimpilah dulu Yoon Bomi,” kata Ilhoon sambil menjitak kepala Bomi yang membuat Bomi terdiam sambil mengerucutkan bibirnya.

-----

Bomi berlari menuju ke pintu rumah begitu mendengar bel berbunyi. Pasti itu Ilhoon, begitu yang ada di pikirannya. Bomi dan Ilhoon sudah berencana akan pergi ke taman kota hari ini. Pasti taman kota menjadi indah sekali begitu musim semi ini tiba.

“Jung Ilhoon!” Bomi menyambut Ilhoon begitu ia membuka pintu. Ilhoon terlihat hendak menjawab, tapi mulutnya tertutup lagi begitu melihat Bomi. Ada apa?

Bomi yang melihat Ilhoon diam saja melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ilhoon. “Ya, Jung Ilhoon! Kau ini kenapa? Apakah kau terpesona melihat kecantikanku?” tanya Bomi sambil berpose aneh di depan Ilhoon.

Ne …,” Ilhoon menjawab pelan. Membuat Bomi membulatkan matanya kemudian menatap Ilhoon dengan aneh. “Eh? Apa kau bilang tadi? Terpesona dengan kecantikanmu? Sejak kapan kau cantik?” lelaki itu tersadar, kemudian mencibir pada Bomi.

“Lalu kenapa, hah?” tanya Bomi sinis. “Ayo, cepat. Biasanya jam-jam seperti ini banyak sekali anak-anak!” kata Bomi sambil menarik tangan Ilhoon keluar dari pekarangan rumahnya.

-----

Taman kota penuh dengan anak kecil yang asyik bermain. Untuk Bomi yang begitu menyukai anak kecil pemandangan seperti itu pemandangan yang bagus baginya. Beberapa kali Bomi tertawa kecil melihat anak-anak kecil yang berlari ke sana kemari.

Ilhoon sedari tadi menatap Bomi seperti ada yang salah pada diri Bomi. Sedangkan, yang sedang ditatapnya malah asyik melihat-lihat ke anak kecil tadi. Rambut Bomi berkibar-kibar tertiup angin yang entah bagaimana membuat Bomi semakin cantik di pikiran Ilhoon.

Beberapa detik kemudian, Bomi menoleh ke arah Ilhoon – yang membuat wajah Ilhoon segera memerah. “Kau tidak apa-apa?” tanya Bomi terheran-heran.

Ilhoon tertawa renyah, kemudian mengusap lehernya yang tidak gatal. “Ya. Memangnya ada apa?” tanyanya kikuk.

“Wajahmu memerah,” desis Bomi sambil menatap Ilhoon secara intens. “Benar kau tidak apa-apa?” tanya Bomi lagi. Ilhoon mengangguk. “Aneh. Padahal cuaca tidak terlalu panas, tetapi kenapa wajahmu memerah, ya?” gumam Bomi sembari mengalihkan pandangannya kepada anak-anak kembali.

-----

“Akhir-akhir ini kau semakin aneh,” ujar Bomi.

Ilhoon menundukkan kepalanya. Sejujurnya, ia membenci mengakui ini. Tetapi, ia memang sudah terlanjur jatuh cinta pada Bomi. Sahabatnya sendiri.

“Tolong jawab aku, Jung Ilhoon. Kau ini kenapa?” Bomi menatap Ilhoon.

“Aku tidak apa-apa,” Ilhoon menggeleng.

Gadis di depannya berdecak. “Jika kau tidak apa-apa, kau tidak akan menjauhiku seperti ini, Jung Ilhoon,”

“Kau tidak percaya padaku?”

“Tidak lagi semenjak kau menjauhiku,”

Ilhoon menelan ludahnya, bingung menjawab perkataan Bomi.

-----

14 Februari. Kata orang ini adalah hari kasih sayang. Padahal bagi Ilhoon, semua hari sama saja. Hanya tanggalnya saja yang berbeda. Tetapi, tahun ini berbeda. Ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hari ini Ilhoon akan menyatakan perasaannya pada gadis yang disukainya. Siapa? Jelas saja Bomi.

Sebenarnya, Ilhoon sedikit merasa pesimis. Ia takut jika Bomi tidak menerimanya. Tetapi, setelah berkali-kali berpikir, akhirnya kini ia telah berada di depan rumah Bomi.

Ilhoon telah menekan bel rumah Bomi dan mendapat jawaban dari penghuni rumah, jadi ia tinggal menunggu orang membukakan pintu saja.

“Jung Ilhoon!!” Bomi membuka pintunya dan segera menyambut orang di depan pintunya begitu tau orang tersebut adalah sahabatnya. “Ada apa? Kita tidak berjanji untuk bertemu, kan?”

“Ah, ti-dak,” Ilhoon tampak gugup.

“Lalu?”

“Ehm, Yoon Bomi, apakah kau mau menjadi pacarku?” to the point. Ilhoon menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Beberapa detik ia menunggu jawaban dari Bomi, tetapi bukan jawaban yang ia dapat, tetapi suara tawa Bomi yang masuk ke gendang telinganya. Ia mendongak menatap Bomi yang tengah tertawa. “Ada apa?”

Bomi berusaha menetralkan dirinya. Saat tawanya telah berhenti, ia menjawab. “Tidak. Hanya kau itu lucu sekali, berusaha mengerjaiku di hari kasih sayang, eo?” tanya Bomi sambil menahan tawa.

“Aku serius, Yoon Bomi,” desis Ilhoon – membuat Bomi terdiam selama beberapa saat.

“Serius?” tanya Bomi. Ilhoon menganggukkan kepalanya. “Bohong,” ucapnya.

“Tidak. Kau benar-benar tidak percaya aku?” tanya Ilhoon kesal. “Ya, sudah. Aku pergi dulu,” Ilhoon berbalik untuk pergi dan melangkahkan kakinya menjauhi rumah Bomi.

“Jung Ilhoon?!” panggil Bomi dengan suara keras. “Jika kau serius, maka jawabannya, YA AKU MAU MENJADI PACARMU!”

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK