SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > True Love Never Die

True Love Never Die

Share:
Published : 06 May 2014, Updated : 20 May 2014
Cast : Jeon Jung Kook, Im Yong Ri (OC)
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |2448 Views |2 Loves
True Love Never Die
CHAPTER 1 : True Love Never Die

Aku menyandarkan punggungku pada dinding kamar berwarna peach. Entahlah, rasanya nyaman sekali. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh kamar. Sudah lama aku tidak kembali ke sini. Sampai akhirnya pandangan mataku tertuju pada kalender yang berada tepat di sampingku. 5 Desember. Mengingatkanku pada gadis itu ....

 

Joesonghabnida, agasshi. Apakah kau orang asli Korea?” entahlah bagaimana ini bisa terjadi, tetapi tiba-tiba saja aku melangkahkan kaki menuju ke arah seorang perempuan yang duduk di pojok ruangan – yang sepertinya sejak tadi sudah menarik perhatianku, kemudian bertanya pertanyaan seperti itu kepadanya.

Perempuan itu mengernyitkan dahinya – mungkin merasa aneh kenapa ia bisa disapa begitu. Tapi, kemudian dia menjawab. Ne. Tapi, aku baru saja kembali dari L.A,”

L.A? Apakah aku terlalu bodoh untuk bisa mengingat apa itu L.A?

“Los Angeles,” kata perempuan itu singkat saat melihat ekspresiku.

“Oh, ne. Ngomong-ngomong, namaku Jungkook. Jeon Jungkook. Maaf menganggu,” aku membungkuk sekilas kepadanya dan berbalik badan.

“Yoonri,” aku mendengar suaranya saat membalikkan badan. Aku menoleh kembali. “Im Yong Ri,”

“Ah, ne. Mannaseo bangawoyo, Yoonri-ssi,” jawabku. Aku hendak berbicara lagi, tetapi Namjoon hyung buru-buru memanggilku untuk segera menuju ke tempatnya. “Aku pergi dulu. Annyeong,”

“Ya, siapa gadis itu?” tanya Seokjin hyung. Aku menggeleng dengan kikuk.

“Jungkook-ah, cepat minta nomor ponselnya!” seru Taehyung hyung – saat melihat gadis bernama Yoonri tadi berdiri dan berjalan menuju kasir – sambil menyenggol lenganku.

“Benar! Sebelum dia pergi!” lanjut Jimin hyung.

Aku memasang wajah heran, kemudian bertanya. “Memangnya kenapa aku harus meminta nomor ponselnya?” tanyaku.

“Ya, siapa tau jika bukan kau yang mendapatkannya mungkin aku bisa mendapatkannya,” kata Taehyung hyung sambil tertawa.

“Sudahlah, coba saja dulu!” ujar Hoseok hyung sambil mendorongku ke arah gadis itu.

Aku pun menarik nafas panjang. Kemudian berjalan perlahan menuju gadis itu yang saat ini telah berjalan ke arah pintu keluar.

Permisi, Yoonri-ssi.panggilku sambil memegang lengannya. Astaga, sebenarnya ini memalukan sekali. Bagaimana bisa seseorang yang baru pertama bertemu langsung meminta nomor ponselnya?

Ia pun menoleh. Ia tampak sedikit heran melihatku. “Waeyo? Apa ada yang tertinggal?”

Wajah herannya jadi bertambah heran saat aku menyerahkan ponsel milikku. Sedetik kemudian aku mendengar teman-temanku di belakang sana menyoraki kami berdua. Yoonri masih diam, tetapi tak beberapa lama kemudian ia meraih ponselku dan mengetikkan nomor ponselnya di ponselku.

“Ini. Joesonghabnida, aku terburu-buru. Aku pergi dulu. Annyeong ..., Jungkook-ssi,” ujarnya sambil mengembalikkan ponselku, kemudian ia membungkukkan badannya dan berbalik untuk pergi.

Aku tersenyum. “Gamsahabnida!” seruku sebelum ia benar-benar lepas dari pandanganku.

-----

Aku ingat aku pernah bertemu lagi dengannya – untuk yang kedua kalinya. Masih di tempat yang sama. Kafe di mana aku dan Yoonri pertama kali bertemu, pukul tiga sore hari.

 

Aku memasukki kafe milik Yoongi hyung dan duduk di meja dekat pintu masuk. Sejak tadi aku terus berharap semoga Yoonri datang kembali ke sini.

Sepertinya doaku terkabul, seorang gadis dengan kemeja berwarna hijau memasukki kafe. Rambutnya yang bergelombang cokelat tertiup-tiup angin begitu ia baru saja memasukki kafe. Aku menatapnya terus. Benar dia. Im Yong Ri.

“Gadis itu datang lagi,” tiba-tiba aku mendengar suara Yoongi hyung. Aku menoleh ke samping dan menemukan Yoongi hyung sudah duduk manis di kursi di sampingku. “Jodoh memang tidak kemana, ya,” Yoongi hyung tertawa kemudian berdiri lagi, hendak pergi.

Aku menatap Yoongi hyung aneh, tetapi tidak berlama. Aku beralih lagi pada Yoonri. Ia duduk tak jauh dari tempatku duduk sekarang. Ditemani dengan segelas Caramel Latte yang sepertinya selalu ia pesan dari beberapa waktu lalu kami pertama bertemu.

 

Bagaimana aku bisa mengingat semua itu? Bahkan, aku bisa mengingat pakaian yang dikenakannya dengan jelas. Rasanya seperti tak ada yang terlupakan tentang Yoonri walaupun hal sekecil apapun.

 

Yoonri masih diam di tempatnya, memainkan ponselnya. Sesekali ia tampak mendesah bosan. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang.

Beberapa menit kemudian aku berdiri dan berjalan mendekati Yoonri. Rasanya tidak tahan hanya menatapnya dari jauh seperti tadi. Aku tidak tahan untuk tidak mendekatinya. Kenapa aku ini?

Annyeong, Yoonri-ssi,” sapaku saat aku telah sampai tepat di depannya.

Yoonri mendongak, tampak terkejut. “Oh, annyeong haseyo,” ia berdiri kemudian membungkukkan badannya. “Tak kusangka kita bisa bertemu lagi di sini,” ujarnya sambil tersenyum.

Manis, batinku.

“Eo, bolehkah aku duduk di sini?” tanyaku sambil menunjuk kursi di hadapannya.

“Silakan,” jawabnya.

“Apakah kau sedang menunggu seseorang?” tanyaku saat kami berdua telah sama-sama duduk.

Yoonri mengangguk. “Temanku. Tetapi, ia lama sekali,”

“Apakah ia namja?” gurauku.

“Tidak. Aku belum mengenal banyak namja di sini. Mungkin hanya dua kakakku, tetanggaku dan ... kau,” jawabnya. Entahlah, tetapi aku merasa lega saat ia mengatakan ia sedang tidak menunggu seorang namja.

Kami melanjutkan pembicaraan hingga akhirnya seseorang yang ditunggu Yoonri itu datang. Ia pamit untuk pergi padaku. Sebenarnya, aku ingin sekali menarik tangannya agar ia tidak pergi dari hadapanku. Tapi siapa aku?

-----

Setelah pertemuan keduaku dengannya aku sempat mengajaknya untuk pergi bersama. Berdua. Di taman kota, pukul dua belas siang.

Kami berbicara banyak tentang pribadi masing-masing. Yang kuketahui darinya, ternyata umurnya dua tahun di bawahku.  Jadi aku memintanya untuk memanggilku dengan sebutan ‘oppa’. Lagipula tidak enak, kan, jika terus menerus memanggil dengan panggilan yang terlalu formal?

Kami berjalan-jalan bersama, membeli es krim bersama, bermain bersama, dan ia mengajakku membeli balon. Aku merasa, hari itu adalah hari terbahagia dalam hidupku.

Yang aku sadari belakangan ini, kenapa hatiku terus berdebar saat aku berada di dekatnya?

Apakah ini yang dinamakan cinta?

-----

Hari ini adalah hari pertama turun salju. Di tanggal yang sama seperti hari itu. Aku menghembuskan napas pelan saat melihat salju turun dari langit menuju ke tanah yang kini telah tertimbun oleh salju. Aku teringat lagi olehnya. Teringat akan beberapa tahun yang lalu. Yang mungkin tidak akan pernah akan kulupakan selama hidupku.

 

Aku menatap gadis di depanku. Ia sedang membaca buku, tanpa memerhatikanku sama sekali. Padahal, kali ini hatiku sedang berdebar keras sekali. Ya, itu memang sering terjadi saat aku bersama gadis ini. Tetapi ini jauh lebih keras dari biasanya.

Hari ini, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku kepadanya.

“Yoonri-ya?” panggilku pelan.

“Hm?” tanyanya. Ia masih asyik dengan buku yang dibacanya sekarang rupanya.

“Apa kau mau menjadi pacarku?”

Yoonri tampak tertegun, tetapi kemudian menoleh kepadaku. “Apa yang kau bilang tadi?”

“Aku menyayangimu. Apa kau mau menjadi pacarku?” aku mengulangi kata-kata tadi. Sumpah demi apa pun, kali ini hatiku berdebar lebih keras lagi. Sebenarnya aku belum siap dengan jawaban yang akan kuterima nantinya, tapi ... sudahlah.

Ia masih terdiam. Satu detik, dua detik, tiga detik. Aku masih menunggunya. “Apa kau serius?” tanyanya.

“Tentu saja. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku,”

Yoonri menunduk, tetapi bisa kulihat dengan jelas bahwa pipinya memerah. “Ne, aku mau,” akhirnya aku mendapatkan jawaban yang kutunggu-tunggu.

Hari ini. Tepat di hari pertama salju turun, tepat pada tanggal 5 Desember, aku dan gadis yang kucintai – Im Yong Ri – resmi menjadi sepasang kekasih.

-----

1 Januari. Tahun baru, kenangan baru.

Aku dan Yoonri telah berpacaran selama satu tahun, selama ini kami baik-baik saja. Tetapi tidak dengan dua hari belakangan ini. Kami bertengkar karena sesuatu yang sama sekali tidak pantas diperdebatkan.

Aku berencana meminta maaf padanya hari ini. Aku memakai jaketku dan berjalan keluar pintu apartemen.

Sojin nunna. Perempuan itu berdiri di ujung koridor apartemen. Aku membiarkannya, paling-paling ia ingin berkunjung ke apartemen Seokjin hyung yang memang hanya berjarak beberapa pintu dari apartemenku. Tapi, sepertinya kali ini tidak seperti itu.

Sojin nunna menghampiriku dengan ekspresi sedih yang aku yakin bukan acting saja. Apa yang terjadi?

“Jungkook-ah,” Sojin nunna memanggilku. Suaranya terdengar serak. “Apa kau tau berita tentang Yoonri?”

Aku mengernyitkan keningku. Berita? Berita apa?

Aku menggeleng dengan heran. “Apa yang terjadi?” kataku kemudian.

Tadi pagi Yoonri tertabrak mobil di jalanan Dongdaemun,” jawab Sojin nunna. Sekarang ia terisak.

Kepalaku seperti terhantam batu keras. Semoga ia baik-baik saja.

“Ia ... masih baik-baik saja, kan?” tanyaku sambil berharap-harap semoga yang kudapatkan adalah kabar baik.

Sojin nunna menggeleng lemah. Oh, tidak. Ini bukan sesuatu yang kuinginkan. “Sepertinya, Tuhan terlalu sayang kepadanya sehingga Dia memanggil Yoonri begitu cepat,” ujar Sojin nunna sambil mengusap air matanya.

Kali ini kepalaku bukan hanya terasa terhantam batu keras, tetapi juga batu yang beratnya mencapai berjuta-juta ton. Yoonri? Ia ...? Kuharap ini hanya mimpi. Ya Tuhan, bangunkan aku sekarang juga!

“Sekarang jenazahnya ada di rumah duka. Aku sangat berharap kau mau datang ke sana. Terima kasih, aku permisi,” Sojin nunna berbalik untuk pergi. Tapi aku menghentikannya.

“Mari kita pergi bersama, nunna,”

-----

Setelah meletakkan sebuah bunga serundi di depan foto Yoonri dan berdoa, aku pamit kepada orangtua Yoonri. Aku pergi ke sungai Han. Perasaanku hancur sekali. Bagaimana bisa ini terjadi pada gadis itu? Mungkin benar kata Sojin nunna. Tuhan terlalu menyayangi Yoonri sehingga Dia memanggil Yoonri begitu cepat.

Aku merogoh sesuatu di kantung celanaku. Surat dari Yoonri. Kata Hana, ia menemukan surat itu di kamar Yoonri beberapa jam setelah kecelakaan itu.

-----

Annyeong haseyo, Jungkookie oppa

Aku sudah melihat salju pertama di Korea bersamamu. Snowflakes turun saat kita bergandengan keluar dari perpustakaan, kan?

Musim semi pertama, bunga di pinggir sungai Han mulai bermekaran di sana. Indah sekali. Tak lama kemudian, kau datang. Kau tau? Aku merasa sepertinya tempat itu bertambah indah saja. Haha :)

Saat musim panas tiba, kau mengajakku pergi ke kedai es krim di bukit Namsan. Aku masih ingat benar kejadian itu. Saat itu panas sekali ><

Kita kembali ke sungai Han saat bunga-bunga di sana sudah mulai berguguran.

Semuanya kita lewati dengan baik-baik saja. Tapi tidak dengan musim dingin tahun ini.

Setiap hari setelah beberapa hari yang lalu aku selalu memikirkanmu. Apakah kau juga memikirkanku?

Kau sama sekali tidak pernah menghubungiku seminggu ini. Dan aku terlalu takut untuk menghubungimu. Apakah kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita?

Yoonri-haeyo.

 

Satu yang selalu aku ingin katakan setiap membaca surat itu. Aku menyesal.

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK