home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Another Romeo And Juliete Story - 1st

Another Romeo And Juliete Story - 1st

Share:
Author : Seunghye03
Published : 02 Apr 2014, Updated : 02 Apr 2014
Cast : Luhan Kai Exo Kim Jin Hee (Other Cast)
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |751 Views |0 Loves
Another Romeo and Juliete Story - 1st
CHAPTER 1 : You

Luhan berjalan santai melintasi pekatnya malam di sekitar sungai Han. Pria itu sesekali menghembuskan nafas beratnya saat tanpa diperintah otaknya justru terpaksa untuk berfikir tentang gadis yang baru meninggalkannya beberapa menit yang lalu.

“Kita putus!”

“Kau terlalu berlebihan, Luhan-ah!.”

“Aku membencimu!”

Kata-kata itu masih begitu tergambar jelas dalam ingatannya yang cukup tajam. Ia hanya mampu mengasihani dirinya sendiri yang bahkan tak bisa mengatakan apapun saat Eunhe, gadis yang telah mengisi hidupnya dalam 3 tahun terakhir memutuskan untuk berpisah dengannya.

Luhan menghentikan langkahnya dan menatap lurus kedepan. 3 buah mobil sedan hitam terpartkir rapi disana dan beberapa orang terlihat berdiri diluar mobil sambil menahan dinginnya udara awal musim dingin. Wajah tampann itu memucat saat kedua manik mata pria itu menangkap sosok yang sangat ia kenal.

“Sial!” umpatnya.

Benar saja beberapa orang berpakaian hitam yang entah sejak kapan berada seratus meter dari tempatnya berdiri itu justru menoleh dan bergegas menghampirinya. Seketika Luhan melemparkan kaleng bir yang sejak tadi ia genggam dan segera berlari tanpa menoleh sama sekali.

“Luhan-ssi!. Berhenti!”

Teriak salah seorang pria tersebut, tapi Luhan terlihat sama sekali tak memiliki niat untuk menghentikan langkahnya atau sekedar mengurangi kecepatan berlarinya. Luhan menemukan jalan buntu saat ia dengan ceroboh berbelok masuk ke dalam sebuah gang kecil tak jauh dari tempatnya semula. Ia menghentikan langkahnya untuk sejenak mengatur nafas. Tepat di sebuah tikungan di bawah sorot lampu jalan di daerah pemukiman tersebut.

Pria itu mengeluarkan ponselnya dan mulai sibuk dengan deretan angka yang ada di dalam benda putih itu.

“Baekhyun-ah, kau dimana?. Tidak... aku rasa mereka akan segera menangkapku. Mwo?. Apa kau sudah gila...tidak, tetaplah disana bersama yang lainnya aku akan—”

Luhan menghentikan ucapannya saat ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. ‘Tamat’ itulah satu kata yang sekarang ada dalam pikirannya. Hanya ada satu sara agar dirinya lolos, yaitu dengan melawan pria-pria tersebut dan segera kembali pulang.

Langkah itu semakin mendekat dan berirama, membuat peluh Luhan menetes karena rasa cemas yang teramat. Tepat saat bayangan seseorang tergambar pada dinding bangunan yang berada di depannya, dengan sigap ia menarik seseorang yang baru menginjakkan satu langkah kaki kanannya pada tikungan jalan. Kontan sebuah jeritan keluar dari bibir gadis yang kini berada dalam dekapan tangan Luhan.

“Argghh!!!!. Siapa kau!. Lepaskan aku!”

“Wanita?” batin Luhan kalap.

“Kau!. Siapa kau!. Mau apa kau disini!” nada suara gadis itu meninggi dan bergetar karena rasa takut yang mulai hinggap dalam dirinya.

“Aku—”

“Sepertinya dia ke arah sana!”

Luhan mengurungkan pembicarannya dan justru membalik tubuh gadis asing itu hingga terhimpit tembok dan membekap bibir mungilnya yang kini terlihat mulai memucat. Gadis itu hanya menatap ke arah Luhan tak mengerti. Ia hanya mampu menarik dan menghembuskan nafas secukupnya mengingat lubang penghirup oksigen miliknya kini tertutup rapat oleh tangan besar Luhan.

Para pria yang sejak tadi mencari keberadaan Luhan gagal menemukan sosok yang berada hanya sebatas dinding dengan mereka.

“Tidak, aku rasa kita kehilangan lagi. Ayo kita cari di tempat lain!” seru salah seorang dari mereka yang membuat Luhan mampu bernafas lega.

Luhan membebaskan nafasnya yang sempat tercekat dan kini ia sadar bahwa tangan kanannya masih membekap rapat bibir gadis di hadapannya. Pria itu terdiam sejenak dan justru menatap gadis tersebut. Sorotan mata gadis itu terpapar lurus dan tajam kepadanya. Bulu mata panjang gadis itu sesekali bergoyang akibat hembusan nafas Luhan yang memang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.

Nafas keduanya semakin tak beraturan, entah apa yang dirasakan Luhan tapi ia merasakan detak jantungnya meningkat beberapa kali lipat dari sebelumnya. Bahkan saat ia berlari menghindari pengawal yang dikirim oleh sang appa ia tak merasakan debaran sekencang ini. Tapi ia tak tahu apakah gadis itu juga merasakan hal yang sama mengingat hampir tak ada jarak lagi diantara mereka.

“Emppp...emmpp!!!!!” erang gadis itu membuat Luhan tersadar dari angan-angannya dan melepaskan tangannya.

“Hahh..hahh...hahhh...” gadis itu berusaha mengatur nafas. “Apa yang kau lakukan!” katanya.

“Maaf, aku kira kau—” Luhan terdiam, “Tidak, maksudku aku tidak tahu bahwa kau akan melintas jalan ini. Aku hanya mengira kau penjahat” lanjut Luhan merasa bersalah.

“Kau bahkan mengira aku penjahat. Kaulah penjahat!” teriak gadis itu marah.

Mereka terdiam sejenak, gadis itu masih menatap Luhan dengan mata besarnya. Tak berbeda jauh, Luhan juga masih melakukan hal yang sama. Baginya saat ini wajah gadis itu benar-benar mampu menyihirnya hingga ia bisa sedikit melupakan apa yang telah terjadi. Bagaikan oase di gurun pasir. Pikirnya.

“Aku—”

“Noona!!” sebuah suara kembali memotong kata-kata Luhan. Ia melirik sekilas ke balik tembok dan menemukan seorang pria berjalan dengan tongkat di tangannya. Pria itu terus menerus memanggil ‘Noona’, seperti sedang mencari seseorang.

“Ok, Kai-ah!. Kai!!” gadis itu tiba-tiba bereaksi. Ia mengenal suara lantang tersebut.

Luhan menyadari bahwa pria itu sepertinya mendengar suara gadis di hadapannya karena kini pria tersebut berlari kecil menghampiri dirinya.

“Apa yang kau lakukan padanya!” kata pertama yang Luhan dengar.

“Noona, kau baik-baik saja!. Noona!. Kau tidak terluka?. Apa si brengsek ini melukaimu!?” tanya Kai kini beralih pada gadis yang masih berdiri dengan polosnya di hadapan Luhan.

“Aniya...aku baik-baik saja. Kau, bagaimana kau bisa menemukanku?. Apakah eomma—”

“Ne, eomma meneleponku” ujar pria itu dan melepaskan jaket yang ia kenakan untuk dipasangkan pada sang noona.

“Dan Kau!. Apa yang kau lakukan pada kakakku!. Kau—”

“Hentikan, Kai. Ini...ini hanya salahpaham. Dimana—” potong gadis itu cepat sebelum sang adik mengeluarkan kata-kata kasarnya.

“Ini..” Kai menyerahkan tongkat yang sejak tadi dibawanya pada sang noona. Sebuah tongkat berukirkan nama Kim Jin Hee di bagian atasnya.

“Kata bibi penjaga toko itu dua orang anak kecil yang membeli permen tadi tanpa sengaja membawa tongkat noona dan mengira itu mainan yang tidak terpakai. Saat aku pulang ia menitipkan ini padaku, dan sesampainya dirumah noona sudah tidak ada jadi aku berpikir pasti kau kembali untuk mencari tongkat ini” jelas Kai panjang lebar.

“Tidak apa.. untung aku memiliki seorang namdongsaeng (adik lelaki) yang begitu baik sepertimu. Gomawo nae dongsaeng...

Kedua kakak beradik itu tersenyum, Kai membantu sang kakak membuka kembali tongkat miliknya. Sementara itu, Luhan terdiam dan menatap gadis yang mulai ia tahu bernama Kim Jin Hee tersebut dengan alis berkerut seolah ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada kedua anak manusia dihadapannya.

"Tunggu..." sela Luhan membuat Kai dan Jin Hee terdiam,“Apakah kau?” Luhan mengangkat tangan kanannya perlahan, membuat Kai yang menyaksikannya hanya mampu bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dilakukan pria asing tersebut pada kakaknya.

“Apa yang kau lakuk—” Kai mengurungkan niatnya saat Luhan perlahan mulai menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan wajah Jin Hee. Benar saja, tak ada reaksi dari gadis itu. Kini luhan menyadari sesuatu.

“Jongin-ah...apa yang terjadi?” tanya Jin Hee penasaran. Sementara itu Luhan beralih menatap Kai yang berdiri disampingnya.

“A—aniya, noona...” jawab Kai kosong.

“Dia... buta?” gumam Luhan tak percaya yang lebih terdengar seperti sebuah bisikan. Ia masih menatap mata berbinar Jin Hee tak percaya, kini ia sadar bahwa kedua mata indah yang sejak tadi menatapnya itu bahkan sama sekali tak bisa menggambarkan seperti apa sosok dirinya.

To Be Continue

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK