SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > I'm (not) A Princess

I'm (not) A Princess

Share:
Author : IkaaWulandari
Published : 28 Mar 2014, Updated : 18 May 2018
Cast : Lyra (OC), Jung Taek Woon VIXX, Chansung 2PM, Seok Jin Ah , Min Yoongi BTS, Kim Jong In
Tags :
Status : Ongoing
21 Subscribes |234719 Views |55 Loves
I'm (not) a Princess
CHAPTER 1 : Annyeong Korean Culture

Disebuah ruangan privasi yang terdapat sebuah ranjang Kingsize dengan sprei bergambar barbie. Yup! Ruangan itu adalah sebuah kamar. Kamar yang sangat luas bahkan bisa dijadikan sebuah rumah kecil. Kamar dengan cat berwarna biru langit dengan wallpaper senada dengan sprei yang ada. Seperti anak kecil bukan? Tapi apa boleh buat, itulah syarat Sang empunya kamar agar ia mau tinggal di Korea Selatan.

Tokk tokk tokkk…..

Ketukan pintu terdengar dari luar.

“Nona Lyra, Nona Lyra….”Panggil seseorang.

Lyra, sang empunya kamar hanya melenguh dan berganti posisi, kemudian tidur lagi.

“Nona Lyra, Ayo bangun. Duta Besar Im sudah menunggu Nona untuk sarapan”Terdengar suara lagi.

“Nanti saja Ahjumma. Aku masih mengantuk, katakan pada Ayah makan duluan saja”Jawab Lyra dengan mata masih terpejam.

Setelah iu ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

“Tidak bisa Nona, hari ini Nona ada jadwal mempelajari Budaya Darye (minum teh)”Balas seseorang yang dipanggil Ahjumma.

Lyra membuka selimutnya dengan gerakan cepat, lalu mengerjapkan matanya.

“Yaampun, kalau aku terlambat, Ayah bisa mengomeliku”Gerutu Lyra dengan Bahasa Indonesia.

“Ahjumma masuklah, bantu aku bersiap”Ucap Lyra.

Pintu kamar pun terbuka. Masuklah seorang wanita paruh baya dengan seragam ala Nanny. Lyra yang melihat itu tertawa kecil. Sungguh sedikit lucu seorang wanita paruh baya memakai seragam pelayan seperti itu.

“Waeyo? Apakah Lucu Nona? Kau kan yang memintaku memakai seragam seperti pelayan lain”Ucap Ahjumma.

“Ne, Kim Ahjumma. Kalau begitu, kau tak perlu memakainya lagi. Sangat terlihat aneh hahaha”Balas Lyra yang kini duduk di tepi ranjang.

“Kau ini meledek wanita tua. Tidak sopan Nona. Jika Duta Besar Im tahu kau bisa dimarahi”Ucap Kim Ahjumma.

“Ayah lagi, Ayah lagi. Kenapa semua pegawai memanggil Ayah hanya dengan ‘Im’ namanya kan Imdhan. Im disana bukanlah marga”Balas Lyra.

“Lebih mudah mengatakannya Nona. Hey, kau lupa jika harus mandi?”Tanya Kim Ahjumma.

“Omona, aku lupa”Teriak Lyra.

Lalu ia langsung lari terbirit ke kamar mandi yang ada di Kamarnya. Sementara Kim Ahjumma menyiapkan pakaian untuknya.

Kim Ahjumma adalah pelayan pribadi Lyra sejak seminggu lalu ia tiba di Korea. Dia sangat baik, maka dari itu Lyra sangat bersahabat dengannya. Kim Ahjumma selalu membelanya jika Ayahnya memarahinya karena sikapnya.

                Duta Besar? Yap! Ayah Lyra adalah seorang Duta Besar Indonesia di Korea. Sejak 7 tahun lalu ia menjabat sebagai Duta Besar. Sejak Lyra belum lahir ia sudah menjadi staff kedutaan Indonesia di berbagai Negara. Pekerjaan Sang Ayah itulah yang membuatnya berkeliling dunia dan menguasai beberapa Bahasa Asing. Karena sejak lahir ia tidak menetap di Indonesia, Negara asalnya. Tapi dia tetap memanggil Ayahnya dengan sebutan Ayah, layaknya di Indonesia. Bukan Daddy, atau Appa.

15 menit kemudian, waktu yang sangat singkat bagi seorang perempuan untuk mandi. Lyra keluar dengan handuk kimononya.

“Mandimu cepat sekali”Ucap Kim Ahjumma.

“Aku takut Ayah mengomel”Jawab Lyra.

Lalu ia menghampiri ruangan lemari baju yang mengoleksi berbagai baju, dress, sepatu, heels, dan aksesoris. Tergantung sebuah Dress berwarna biru laut yang cantik di luar lemari.

“Ige mwoya Ahjumma? Aku memakai dress?”Tanya Lyra.

“Nde, Nona”Jawab Kim Ahjumma.

“Aku kan tidak sedang pergi untuk makan malam Ahjumma. Walaupun dress santai seperti ini. Merepotkan. Bukankah kau bilang nanti aku disana akan memakai Hanbok?”Tanya Lyra.

“Tapi ini terlihat sopan Nona”Jawab Kim Ahjumma.

“Aku tidak nyaman”Balas Lyra.

Lalu ia membuka lemarinya.

“Kim Ahjumma aku ingin berganti baju dulu. Nanti aku menyusulmu ke ruang makan”Ucap Lyra.

Kim Ahjumma pun membungkuk untuk undur diri.

Lyra mulai memilih-milih bajunya. Tunggu! Yang ia buka adalah lemari baju santainya, yang terdiri dari celana jeans, kaos, kemeja biasa.

Jari tangannya sibuk menelusuri baju mana yang akan ia pilih. Sampai akhirnya ia mengambil kaos putih polos, kemeja kotak-kotak dan celana jeans. Setelah itu ia berpakaian dan berdandan sangat tipis. Sehingga kulit kuning langsat bersinar membingkai wajah cantiknya.

Ia pun keluar kamar dan bergegas menuju ruang makan. Dalam langkahnya, ia bertemu beberapa Staff Ayahnya dan beberapa pengawal yang terdiri dari orang Indonesia dan Korea.

“Kamu lama sekali. Ayah sudah menunggu setengah jam Lyra. Rubahlah sifatmu itu”Ucap Ayah Lyra dengan Bahasa Indonesia.

“Selamat Pagi Ayah. Seharusnya aku berkata seperti itu dulu, baru Ayah bisa memarahiku”Balas Lyra.

“Lama-lama Ayah menyekolahkanmu di sekolah kepribadian agar bisa membuatmu lebih…”

“Anggun? Ayah aku ya aku. Sudahlah, sebaiknya kita sarapan dulu. Nanti aku terlambat. Bukankah Ayah memintaku untuk belajar Budaya Darye?”Tanya Lyra.

Ayahnya menghela napas. Kemudian mulai mengambil makanan, diikuti Lyra.

“Ayah menyuruhmu belajar agar bisa melakukannya disaat ada jamuan dengan petinggi Korea”Ucap Ayah.

“Iya Ayah”Jawab Lyra.

Huh! Menyebalkan, gumam Lyra dalam hati.

Pasangan Ayah dan anak itu pun sarapan bersama. Ditemani dua orang pengawal Sang Ayah yang berjaga tak jauh dari mereka. Lyra makan sambil sesekali memandang kea rah pengawal-pengawal itu.

Apa nanti aku pergi juga akan ada pengawal? Setibanya aku di Korea, kan aku pergi dengan Ayah. Itu tentu ada pengawal yang ikut. Kalau aku sendiri, apa ada? Gumam Lyra dalam hati.

Setelah selesai makan,

“Ayah bolehkah aku meninggalkan meja makan lebih dulu? Aku harus bersiap”Ucap Lyra.

“Boleh”Jawab Ayah.

Lyra pun bangkit dari duduknya, lalu hendak meninggalkan meja makan.

“Tunggu!”Tahan Ayah.

“Ada apa Ayah?”Tanya Lyra.

Sang Ayah hanya memperhatikan Lyra dari kaki hingga kepala.

“Apa yang kamu pakai Lyra?”Tanya Ayah.

“Aku kan hanya belajar, bukan datang ke jamuan atau ke pesta Ayah. Disana aku juga berganti Hanbok. Akan sulit jika aku memakai dress atau pakaian formal”Jawab Lyra.

Lagi-lagi Ayah hanya menghela napas.

“Yasudah, tapi jangan coba-coba kabur. Akan ada beberapa pengawal yang menjagamu”Balas Ayah.

Kukira tidak, ternyata sama saja. Gumam Lyra dalam hati.

“Baiklah, aku permisi Ayah”Ucap Lyra lalu meninggalkan meja makan.

Sepuluh menit kemudian ia pergi menuju tempat pelatihan Budaya Korea dengan menggunakan salah satu mobil dinas Sang Ayah. Awalnya ia menolak, karena di mobil itu terdapat bendera Merah Putih kecil berkibar jika tertiup angin yang menandakan bahwa Sang penumpang bukanlah orang sembarangan. Tapi apa boleh buat, Sang Ayah tetap memintanya memakai mobil itu.

Di mobil, Lyra hanya bermain Ipadnya. Tidak ada yang bisa diajak bicara, karena di dalam mobil itu hanya ada dia, supir, dan seorang pengawal. Lalu ada lagi satu mobil yang mengikutinya di belakang. Yang berisi 3 pengawal. Jadi, total pengawal yang mengekorinya saat ini ada 4.

“Kenapa berlebihan sekali sih? Aku bukan anak Presiden atau Puteri Raja. Kenapa harus diikuti banyak pengawal?”Gumam Lyra dalam Bahasa Indonesia.

Tentunya membuat Lee Ahjussi, supir pribadinya mengernyitkan dahi.

“Jweisonghamnida, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?”Tanya seorang pengawal yang duduk di samping Lee Ahjussi.

“Ada. Aku minta tolong padamu agar tidak bertanya atau bicara jika tidak ku ajak bicara. Satu lagi, bisakah kau tidak mengawalku? Sungguh menyebalkan kau tahu?”Tanya Lyra.

“Mianhamnida Agasshi. Saya hanya menjalankan perintah”Jawab pengawal itu.

Lyra mendengus, sementara Lee Ahjussi tersenyum kecil mendengar perkataan Nonanya.

30 menit kemudian Lyra sampai di sebuah bangungan Tradisional. Namsan Hanok Village itulah tempat pelatihannya. Lyra sudah membayangkan bagaimana susahnya belajar Budaya Darye.

“Kau tidak perlu mengikutiku ke dalam”Ucap Lyra pada para pengawalnya.

“Tapi Agasshi…”

“Kau mau aku tidak konsentrasi dan tidak cepat menguasai apa yang diajarkan?”Tanya Lyra.

“Aniyo Agasshi”Jawab Pengawal itu sambil menundukkan kepala.

“Yasudah, tunggu saja disini”Balas Lyra.

Lalu ia melenggang ke dalam.

“Annyeonghaseyo”Ucap Lyra saat bertemu seorang wanita paruh baya yang sepertinya seorang pembimbing.

“Apa kau Puteri Duta Besar dari Indonesia?”Tanya Wanita itu.

“Nde, Nyonya. Jeoneun Lyra Sakuraina Imnida”Jawab Lyra.

“Jeoneun Lee Im Young Imnida”Balas Nyonya Lee.

“Kajja! Pembimbingmu sudah menunggu”Lanjut Nyonya Lee.

“Nde”Jawab Lyra.

Kukira dialah yang akan mengajariku. Bagaimana kalau guruku nanti galak? Gumam Lyra dalam hati.

Nyonya lee mengantarkan Lyra ke sebuah ruangan yang seperti kamar Tradisional Korea. Cat ruangannya berupa bunga-bunga yang indah.

“Sillyehamnida, Nyonya Kim, muridmu sudah datang”Ucap Nyonya Lee.

Pintu ruangan terbuka.

“Annyeonghaseyo”Sapa Lyra sambil membungkuk.

“Kau yang bernama Lyra, Agasshi?”Tanya Nyonya Kim.

“Nde. Mianhamnida saya terlambat. Saya menemani Ayah saya sarapan dulu Nyonya”Jawab Lyra.

“A..yah?”Tanya Nyonya Kim.

“Nde, Ayah. Ehm, Appa maksud saya”Jawab Lyra.

Nyonya Kim mengangguk.

“Baik kalau begitu saya tinggal ne? Selamat belajar Lyra”Ucap Nyonya Lee.

“Nde. Kamsahamnida Nyonya”Jawab Lyra.

Lyra pun masuk setelah Nyonya Kim mempersilahkannya masuk. Setelah Lyra mengganti pakaiannya dengan Hanbok, pakaian Tradisional Korea, ia memulai kegiatannya.

“Kau terlihat cantik memakai hanbok”Puji Nyonya Kim.

“Kamsahamnida Nyonya Kim”Jawab Lyra sambil menundukkan kepala tanda memberi hormat.

“Sekarang kita mulai pelajarannya”Ucap Nyonya Kim.

Lyra yang sudah duduk di alas seperti bantal, dengan kedua kaki yang ia duduki. Didepannya sudah tersedia meja kecil dengan bermacam peralatan untuk Upacara minum teh tersebut.

“Pertama, kau harus mengukur suhu air panas yang digunakan untuk menyeduh teh”Ucap Nyonya Kim sambil mempraktikkan dengan peralatannya.

Lyra mengikutinya dengan menggunakan peralatannya yang terbuat dari keramik itu.

“Jika dirasa sudah cukup, maka air akan dituangkan ke dua buah mangkuk yang sudah tersedia”Ucap Nyonya Kim.

Lyra mengikutinya.

“Sambil menunggu air tersebut dingin, daun teh hijau dituangkan ke dalam poci, secukupnya”Ucap Nyonya Kim.

Lyra sedikit kesulitan mempraktikkan tahap yang ini.

“Secukupnya saja Nona Lyra. Gunakan instingmu”Ucap Nyonya Kim.

Lyra mengulanginya dan,

“Bagus”Ucap Nyonya Kim.

“Kemudian, air dari mangkuk tersebut dituangkan kembali ke dalam poci dan biarkan selama tujuh menit”Ucap Nyonya Kim lagi.

Lyra mengikutinya dengan seksama.

“Untuk menikmatinya, tuangkan dari poci ke dalam cawan-cawan di hadapan orang yang akan meminumnya. Cawan tersebut harus dipegang dengan kedua tangan, dan posisi tangan harus menutupi mulut agar tidak terlihat oleh orang lain”Ucap Nyonya Kim.

Tahap ini, Lyra benar-benar kesulitan mempraktikkannya. Dia bahkan sudah dua jam berada di sana untuk belajar dan mengulangi semua yang telah diajarkan. Memang dibutuhkan ketelitian, kesabaran dan ketulusan dalam pembuatan the untuk Upacara minum teh.

“Nyonya, sudah dua jam aku belajar. Bagaimana kemampuanku menurutmu?”Tanya Lyra.

“Untuk pemula sebenarnya sedikit lebih baik. Kau kesulitan di tahap terakhir”Jawab Nyonya Kim.

“Kalau begitu, bisakah kita mengakhiri pelajaran kali ini?”Tanya Lyra dengan senyuman memohonnya.

“Waeyo? Tapi Duta Besar Im memintaku mengajarimu sampai ahli”Jawab Nyonya Kim.

“Tapi tadi Nyonya katakan kalau aku sudah baik untuk pemula. Lagipula, duduk seperti ini membuat kakiku sakit. Aku tidak terbiasa duduk seperti ini Nyonya”Jawab Lyra dengan ekspresi menahan sakit di kakinya.

Nyonya Kim nampak berpikir sambil menatap cara duduk Lyra yang sekarang sudah gelisah karena kakinya sakit.

“Baiklah. Tapi mungkin akan ada kelas selanjutnya”Ucap Nyonya Kim.

“Kamsahamnida Nyonya Kim. Aku juga akan berlatih dirumah”Jawab Lyra.

Lyra pun bangkit dengan susah payah. Ia membiasakan kakinya terlebih dahulu karena berjam-jam terpaksa ditekuk dan ia duduki. Baru setelah itu ia berganti baju kembali dan pamit pada Nyonya Kim.

Lyra keluar ruangan dengan senyuman puasnya.

Akhirnya aku keluar dari tempat membosankan ini. Lebih baik aku tidur kan? Gumam Lyra dalam hati.

Seorang pegawai lewat.

“Chogiyo, apa ada pintu selain pintu utama?”Tanya Lyra.

“Nde, ada Agasshi. Di belakang sebelah sana”Ucap pegawai itu sambil menunjukkan arah ke sebelah kanan.

“Kamsahamnida”Ucap Lyra sambil membungkuk.

“Cheonmaneyo”Jawabnya.

Lyra pun berjalan menuju pintu keluar yang lain.

“Siapa juga yang akan senang diikuti pengawal. Aku punya privasi. Aku ingin berjalan-jalan terlebih dulu haha”Ucap Lyra dalam bahasa Indonesia.

Lyra pun sampai di pintu keluar. Tapi ia memeriksa keadaan di luar pintu terlebih dahulu, aman atau tidak. Ia melihat pintu keluar Bangunan yang jika ia ingin melewatinya harus mobilnya terlebih dahulu. Jika ia pergi dengan jalan kaki, sama saja ia kembali pada pengawal itu.

Lalu ada seorang lelaki yang memakai syal sampai menutupi sebagian wajahnya.

“Chogiyo”Ucap Lyra sambil menahan tangan lelaki itu.

Lelaki itu menghentikan langkahnya.

“Chogiyo, apakah kau membawa kendaraan? Jika iya, aku ingin menumpang padamu sampai depan sana”Ucap Lyra.

Lelaki itu melepas tangan Lyra.

Siapa dia? Apa fans? Gumam lelaki itu.

“Untuk apa kau menumpang? Aku tahu kau hanya berpura-pura agar….”

“Mianhamnida Tuan. Kau bisa liat beberapa lelaki berjas hitam di dekat mobil sana? Aku ingin menghindari mereka agar aku bisa berjalan-jalan. Kumohon”Ucap Lyra sambil menunjukkan beberapa pengawalnya.

“Kau buronan?”Tanya lelaki itu matanya memandang Lyra yang membelakanginya.

“Bukan. Mereka pengawalku”Jawab Lyra.

“Mwo?”Ucapnya tak percaya.

“Kau harus memberiku tumpangan ne? sampai halte terdekat atau setidaknya di depan gerbang sana agar aku bisa pergi dari mereka”Ucap Lyra sambil membalikkan badan.

“Jebal”Pintanya sambil menatap mata lelaki itu.

“Baiklah”Ucapnya.

“Yeay! Kamsahamnida Tuan”Ucap Lyra.

Lyra pun mengekori lelaki itu. Api ia tampak heran dengan cara berjalan lelaki itu yang seakan bersikap waspada. Dia berkali-kali menoleh kesana kemari, seperti memeriksa keadaan sampai mereka masuk ke mobil van.

“Akhirnya hidupku bebas”Ucap Lyra dalam bahasa Indonesia.

Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya tanpa Lyra ketahui.

“Kau… apa tak mengenaliku?”Tanyanya.

“Mwo? Memang Tuan siapa? Kalau pun aku mengenalmu, itu tidak akan terjadi karena syalmu yang menutup wajahmu itu. Seperti penyamaran saja”Jawab Lyra.

Penyamaran? Tunggu! Lyra baru menyadari kalau penampilan lelaki itu terlihat seperti sedang menyamar.

“Apa kau sedang menyamar Tuan? Apa jangan-jangan kau seorang Idol?”Tanya Lyra antusias.

“Mwo? Aniyo, aku memakai ini agar alergiku terhadap debu tidak kambuh”Jawab lelaki itu.

“Jinjja? Tapi ini sudah tak ada debu. Kenapa tak kau lepas?”Tanya Lyra.

“Jika kau banyak bicara, aku turunkan kau”Jawab lelaki itu.

“Arasseo arasseo”Balas Lyra.

Lebih baik memilih diam bukan?

“Kenapa ada pengawal? Memang kau siapa? Kau juga terlihat bukan seperti orang Korea”Ucap lelaki itu setelah meminta supirnya menjalankan mobil.

“Kau tidak perlu tahu, yang jelas aku bukan seorang Puteri”Jawab Lyra.

Lelaki itu berdecak mendengar jawaban Lyra.

“Aku memang bukan orang Korea. I’m Indonesian. Jeoneun Lyra Imnida. Kau siapa?”Tanya Lyra.

Lyra sudah memberikan tangannya untuk berjabatan. Tapi lelaki itu menghiraukannya. Padahal ini cara terakhirnya agar ia tahu lelaki itu suapa sebenarnya.

“Yasudah kalau tidak mau memberi tahu”Ucap Lyra.

Dibalik syal abu-abunya, lelaki itu tersenyum.

Untung hanya aku yang diminta mempelajari Darye. Kalau yang lain ikut, pasti sudah heboh. Gumam lelaki itu.

Van itu berhenti di sebuah halte.

“Kamsahamnida Tuan tanpa nama. Kau benar-benar baik karena sudah memberikan tumpangan sampai halte. Aku berdoa untuk kesuksesan dan keselamatanmu. Annyeong”Ucap Lyra lalu keluar dari mobil.

Lelaki itu membuka syalnya.

“Apa reaksinya jika tahu aku member dari BTS? Apa dia akan terkejut atau histeris?”Tanyanya.

Wajahnya sangat unik. Tambahnya dalam hati.

 

baca juga http://www.wattpad.com/story/13908570-war-of-love

 

give a comment,love and like

 

     Maaf ya readers-readersnya Miss J, buat ceritaku yg I'm (not) a Princess nggak bisa kebuka ya? itu karena pihak DreamersRadio ngehold FF itu. Tau kan judul itu mau diangkat jadi novel sama beberapa judul FF lain? nah karena itu jadi di hold deh. Tapi di novel nanti judulnya berbeda dengan cerita yg lebih fresh. Tungguin ya launchingnya masih coming soon hehehe.....

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

Yanti
Senin, 13/08/2018 23:49
0
Wowww,,App ini super kerennnnn
Yanti
Senin, 13/08/2018 23:49
0
Wowww,,App ini super kerennnnn
null
Kamis, 24/05/2018 15:39
0
Post dong kak epilog nya.. Plisss
Nuryl huda
Minggu, 20/05/2018 17:34
0
Bagus kak... Seneng deh, kalok udah jadi novel kabar kabari yah kak? Dan kasih tau jugak beli nya di mana... 😊
Nuryl huda
Minggu, 20/05/2018 17:34
0
Bagus kak... Seneng deh, kalok udah jadi novel kabar kabari yah kak? Dan kasih tau jugak beli nya di mana... 😊
2 3 4
...
27 Next
POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK