SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > [ Donghae ] ONESHOT |The Feeling Behind A Demeanor (The Word Without Mentionable Sequel)

[ Donghae ] ONESHOT |The Feeling Behind A Demeanor (The Word Without Mentionable Sequel)

Share:
Author : SJFF_INA
Published : 20 Feb 2014, Updated : 27 Oct 2016
Cast : Lee Donghae Park Sang-Mi Choi Hye-Jin Lee Donghyun (Donghae appa) Oh Hye-Sun (Donghae eomma)Dong
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |9359 Views |1 Loves
[ Donghae ] ONESHOT |The Feeling Behind a Demeanor (The Word Without Mentionable Sequel)
CHAPTER 1 : The Feeling Behind A Demeanor

 

The Feeling Behind a Demeanor (The Word Without Mentionable Sequel)

 

Author : Tri rista melinia a.k.a Park Sangmi

Tittle : The Feeling Behind a Demeanor (The Word Without Mentionable Sequel)

Category : Oneshoot, Sad, Married life

Cast :

Lee Donghae

Park Sang-Mi

Choi Hye-Jin

Lee Donghyun (Donghae appa)

Oh Hye-Sun (Donghae eomma)Donghae & Sang-Mi’s room

 

 

Sebelumnya... klik di sini !

 

 

Author pov

 

 

ini sebenarnya squeel dari The Word Without Mentionable,tapi ff oneshoot itu bukan author yang buat.. 

jadi disini author hanya melanjutkan ceritanya aja. 

*****

Donghae & Sang-Mi’s Dining room

 

Sang-Mi pov

Donghae oppa keluar dari kamar. Berjalan sambil melingkarkan jam di tangannya. Dengan dasi yang hanya melingkar asal di leher. Tangannya dengan cepat menarik pinggangku mendekat ke arahnya. Aku yang tadinya sedang membereskan piring di meja makan seketika berhenti. Melakukan pekerjaan lain yang sudah menjadi bagian dari pagiku.

 

“Sang-Mi dasiku” sebelah tangannya masih melingkar di pinggangku. Dan tangan yang satunya dia gunakan untuk menyisir kasar rambutnya yang setengah basah. Aku menaikkan kedua tanganku. Mengikatkan simpul untuk dasi Donghae oppa. Memasangkannya dengan rapi kemudian membetulkan kerah kemejanya. “Sudah Oppa”

“Nanti malam oppa pulang jam berapa? Mau aku buatkan apa untuk makan malam?” tanyaku sambil memberikan mangkuk yang sudah terisi nasi untuknya.

“Aku akan sedikit terlambat pulang, banyak pekerjaan di kantor. Aku rindu masakan eomma” Donghae oppa mengambil satu persatu lauk yang ada di depannya.

“Kalau oppa mau nanti aku bisa pergi ke rumah eomma. Meminta tolong eomma mengajarkanku membuat masakan yang ingin oppa makan. Nanti aku bawa pulang untuk makan malam.” Aku menuangkan air ke dalam gelas kosong. Kemudian menyimpannya di dekat Donghae oppa.

“Tidak usah. Buatkan aku ikan seperti biasa saja” Donghae oppa menjawabku sambil menyunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Dengan sedikit terburu-buru sepertinya dia sudah sedikit terlambat.

“Baiklah kalau begitu. Akan aku buatkan untuk makan malam nanti” aku duduk di kursi sebelahnya. Memakan sarapanku.

 

*****

Author pov

 

Sang-Mi menekan angka-angka yang sudah dia hafal di luar kepala. Menunggu panggilannya tersambung dengan nomor yang dia tuju. Perasaan cemas menghinggapi hatinya. Pasalnya orang yang hendak dia telefon biasanya sedang tidak di rumah saat jam-jam seperti ini.

“Yeoboseyo” terdengar suara seorang wanita menjawab di balik telefonnya.

“Yeoboseyo, Eomma ini aku Sang-Mi” Sang-Mi tersenyum senang. Dia merasa beruntung mertuanya sedang di rumah ternyata.

 

“Oh Sang-Mi~ya..Ada apa menantuku?” jawabnya kembali.

“Eomma mian. Boleh aku mememinta tolong?” tanya Sang-Mi hati-hati.

“Ya tentu saja. Wae geure?” ujar Hye-Sun dengan sedikit heran. Sang-Mi tiba-tiba menelefonnya dan hendak meminta tolong. Apa terjadi sesuatu pada menantunya itu pikirnya.

“Tadi pagi Donghae oppa mengatakan kalau merindukan masakan eomma. Sepertinya Donghae oppa ingin makan malam masakan eomma. Eomma biasa membuat apa untuk makan malam?”

“Eoh jinja? Kalau begitu kau datang saja ke rumah. Kita masak bersama untuk makan malam nanti! othe?”

“Tadinya aku juga berpikir seperti itu eomma. Tapi Donghae oppa menolak ketika aku menawarkan kalau aku akan ke rumah eomma dan meminta tolong eomma untuk mengajarkanku membuat masakan yang Donghae oppa mau”

“Aiiish dasar anak itu! lalu bagaimana kita bisa membuatnya?” gerutu Hye-Sun

“Jika boleh eomma bisa mengatakannya lewat telefon. Aku akan mencatatnya dan nanti aku akan mencoba membuatnya di sini. Tidak apa-apa?”

“Aaaah geure, geure..gwenchana..Kau sudah siap dengan pena dan kertasnya Sang-Mi~ya?

“Ne sudah eomma”

“Eomma biasa memasakkan……” mertuanya dengan antusias mengatakan setiap detail dari masakan yang biasa dia buat. Dia merasa senang Sang-Mi melakukan ini untuk Donghae. Merasa sudah benar Donghae beristrikan Sang-Mi yang selalu memperhatikan anaknya. Sang-Mi mencatatnya dengan teliti takut-takut ada yang terlewat. Menanyakannya bila ada yang dia tidak mengerti. Hingga membuat mereka larut merasa seperti sedang mengobrol sambil bertatap muka.

 

*****

 

Hyundai Departement Store, Supermarket Area 17:00 kst

 

Sang-Mi sudah siap dengan kertas yang berisikan resep dari makanan yang akan dia buat untuk suaminya. Dia berharap bisa berhasil membuat masakan yang sama seperti mertuanya. Walaupun tak akan persis sama tapi dia tetap berharap Donghae akan menyukainya. Dia ingin membuat suaminya senang. Ketika lelah sepulang kerja, Donghae dapat menikmati masakan yang sudah sangat dia rindukan itu.

Sang-Mi mendorong troli yang sudah penuh dengan belanjaannya. Dia menyusuri setiap lorong dan sekarang berhenti di lorong tempat sayuran dan ikan yang akan dia beli. Tangannya menjulur mencari ikan yang dia cari.  Tanpa dia sadari tangannya beradu dengan tangan orang lain yang juga sedang mencari ikan sepertinya.

 

“Eoh mian” seru Sang-Mi. Dia menoleh ke arah samping.

“Kau?” jawab wanita yang berada di samping Sang-Mi.

“…” Sang-Mi terdiam. Dia bingung harus bagaimana. Dia tau siapa wanita yang berada di hadapannya sekarang. Dia sempat melihatnya beberapa kali dan terakhir dia sempat bertemu dengannya di kantor Donghae. Wanita yang di peluk dan di cium suaminya. Ya wanita itu Choi Hye-Jin.

 

“Kau sedang berbelanja Sang-Mi-ssi?” tanya Hye-Jin dengan muka angkuhnya. Dagunya sedikit dia naikkan ketika melihat Sang-Mi.

“Ne Hye-Jin-ssi…aku sedang mencari ikan untuk makan malam nanti” jawab Sang-Mi sedikit gugup. Dia tidak suka cara Hye-Jin menatapnya. Dia merasa ada yang salah di dalam dirinya ketika Hye-Jin menatapnya dengan cara seperti itu.

“Ini pasta yang kau maksud Hye-Jin~a” terdengar suara seorang pria memanggil Hye-Jin dan mendekat ke arah Hye-Jin dengan sekaleng pasta kacang di tangannya. Matanya menatap ke kaleng pasta tersebut. Membaca tulisan yang menempel bermaksud memastikan barang yang dia bawa memang benar.

 

“Oppa sudah? Mana aku lihat” Donghae mengangkat kepalanya. Membuatnya membeku melihat wanita yang berada di sebelah Hye-Jin. Begitu juga Sang-Mi lututnya sudah terasa lemas ketika tadi dia mendengar suara seorang pria yang bertanya pada Hye-Jin. Dia tahu suara siapa itu. Dia mengenali suara itu, dan itu suara suaminya. Suara Donghae.

 

“Sang-Mi..kau?” Donghae membuka mulutnya. Tapi masih dengan ekspresi kaget yang melekat di wajahnya.

“Kami berencana memasak makan malam bersama hari ini di apartemenku Sang-Mi-ssi. Kami akan memasak ikan dengan saus pasta kacang kesukaan Donghae oppa. Benar kan oppa?” celoteh Hye-Jin dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Sang-Mi yang mendengar hal itu merasa jantungnya di tusuk oleh arak-arakan manusia yang membawa tombak tajam.

 

“…” Donghae tak mampu menjawab. Dia melihat Sang-Mi yang sejak tadi memandangnya dan Hye-Jin bergantian. Dengan mimik wajah yang masih terlihat kebingungan. Mata yang mungkin sebentar lagi akan berkaca-kaca. Tapi tetap terdapat senyuman di bibirnya.

 

“Oppa” Panggil Hye-Jin tangannya bergelayut manja di lengan Donghae. Sang-Mi melihat apa yang Hye-Jin lakukan pada Donghae membuat jantungnya yang tadi terasa seperti di tusuk oleh arak-arakan manusia yang membawa tombak tajam semakin di hunus dalam.

 

“N..ne” jawabnya singkat. Sebenarnya dia tidak berkonsentrasi dengan apa yang Hye-Jin katakan. Dia hanya ingin cepat membuat wanita itu berhenti berbicara. Tapi bodohnya jawaban Donghae membuat semuanya semakin kacau. Dan dia tidak menyadarinya.

 

“Kajja oppa kita pilih ikannya”

“Sang-Mi-ssi bukankah tadi kau juga akan memasak ikan untuk makan malam?” tanya Hye-Jin.

 

“Hmmm” gumamnya. Mereka mengalihkan pandangannya ke case ikan di dekat mereka.

 

“Bagaimana kalau ikan yang ini oppa? Kau suka yang mana? Waaah yang ini besar sekali oppa? Atau yang ini?” Hye-Jin terus mengeluarkan suara menunjuk ikan ini dan itu. Tapi lain dengan orang yang diajaknya bicara. Sejak tadi

 

Donghae menolehkan kepalanya ke samping ke arah Sang-Mi yang hanya memandang kosong ke case ikan yang ada di hadapannya. Tangan kananya mencubit-cubit kecil tangan kirinya atau kadang bergantian tangan kirinya yang mencubit-cubit kecil tangan kanannya. Kebiasaanya ketika dia merasakan sedang kebingungan, ketakutan, gugup, cemas atau hal semacamnya. Menambah satu poin hal yang Donghae ketahui tentang Sang-Mi. Dan entah sejak kapan Donghae mengetahuinya.

 

Hye-Jin yang menyadari arah pandang Donghae merasa kesal. Secara spontan memukul lengan Donghae dan setengah berteriak memanggilnya. Membuat Sang-Mi dan Donghae menoleh ke arahnya.

“OPPA! Kajja kita beli yang ini saja!”

“Kenapa dari tadi aku hanya bicara sendiri. Kau menyebalkan hanya melamun saja” bisiknya di telinga Donghae.

“…” mulut Donghae terasa kelu untuk menjawab perkataan Hye-jin.

“Sang-Mi-ssi kami akan membeli ikan yang ini saja, kau sudah selesai? Mau membayarnya bersama kami ke kasir?”

“Kalian duluan saja aku masih harus membeli yang lain” jawab Sang-Mi.

“Baiklah kami pergi duluan, kajja oppa!” tangannya mengapit menarik lengan Donghae. Sang-Mi yang melihat hal itu hanya bisa menundukkan wajahnya. Dia tidak sanggup melihatnya apalagi melihat ke arah Donghae. Baru selangkah Hye-Jin dan Donghae melangkah. Hye-Jin kembali membalikkan tubuhnya begitu juga Donghae yang memang sejak tadi seolah-olah tubuh tidak berdayanya dimanfaatkan oleh Hye-jin.

 

“Aaah iya Sang-Mi-ssi sepertinya Donghae oppa belum mengatakannnya kepadamu. Donghae oppa malam ini tidak akan makan malam di rumah jadi kau bisa makan sendiri saja. Juga sepertinya kau tidak usah menunggunya pulang mungkin malam ini Donghae oppa akan menginap di apartemenku” Ucapnya sambil terus tersenyum dan menampakkan pipinya yang merah ketika kalimat terakhirnya ia ucapkan.

 

“…” tidak ada jawaban dari Sang-Mi. Tangannya memegang erat pegangan troli belanjaannya. Matanya sudah tertutup tirai air mata memandang Donghae. Seperti menuntut pembenaran tapi Donghae hanya memandang balik Sang-Mi dengan sebuah kediaman. Tadi dia sempat memandang Hye-Jin ketika Hye-Jin memanggilnya tapi dia kembali tidak bisa mengangkat wajahnya setelah mendengar kalimat-kalimat selanjutnya yang Hye-Jin katakan.

 

“Sang-Mi-ssi.. kau mendengarku” panggil Hye-Jin kembali

“Oh ne, aku mendengarmu” Sang-Mi mengangkat wajahnya. Tidak mungkin dia terus menundukkan wajahnya dan mengeluarkan air matanya disini. Akan tampak lebih menyedihkan baginya bila hal itu sampai terjadi.

“Oppa ada yang ingin kau katakan padanya sebelum kita pergi? jika tidak kita bisa langsung pergi”

“Kau…” Donghae hendak bertanya pada Sang-Mi. Tapi mengalihkan tatapannya. Menatap hal lain tidak fokus. Donghae merasa benar-benar kalut dengan situasinya.

 

“Belanjaanmu banyak, Kau pulang bersama siapa?” Sebenarnya bukan hal itu yang ada dipikiran Donghae tadi. Tapi malah kalimat itu yang keluar dari mulutnya.

“Oh iya belanjaanmu banyak sekali Sang-Mi-ssi. Apa kau ingin pulang bersama kami? Biar kami antarkan dulu? Kalau kau mau kami bisa menemanimu mencari belanjaan lain yang belum kau beli lalu kita pulang bersama”

“Ti..tidak usah Hye-Jin-ssi. Terimakasih aku pulang bersama supir Kim”

“Supir Kim menungguku di bawah oppa” jawabnya pada Donghae.

 

“Baiklahh kalau begitu, kami duluan annyong” tangan Hye-Jin melambai. Sebenarnya dia sudah tidak sabar sejak tadi ingin pergi menarik Donghae menjauh dari Sang-Mi. Tapi selintas terpikir di kepalanya untuk sedikit memberi permainan pada keadaan yang tidak terduga seperti sekarang ini.

“Chakamman” panggil Sang-Mi pada mereka berdua.

“Wae? Kau berubah pikiran? Ingin pulang bersama kami?”

“Igo, Donghae oppa tidak bisa memakan ikan yang ada kulitnya. Ini ikan yang biasa Donghae oppa makan. Sepertinya ikan yang tadi kalian akan beli masih ada kulitnya Hye-Jin-ssi” Sang-Mi mengatakan setiap kalimatnya dengan jelas selintas senyuman Sang-Mi berikan untuk mereka. Tapi lain halnya dengan Hye-Jin dia mengambilnya dengan sedikit menariknya dari tangan Sang-Mi.

Sang-Mi memandang kepergian mereka berdua. Dia berharap Donghae sedikit saja menolehkan wajahnya. Melihat ke arahnya. Memastikan bahwa dia tidak tiba-tiba terjatuh dan pingsan dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Ini sudah kedua kalinya mereka terjebak dalam situasi seperti ini yang pertama ketika di kantor Donghae dan yang kedua adalah sekarang entah mana yang lebih ‘parah’. Maksud dari kata parah itu adalah parah yang membuat hatinya hancur. Sang-Mi kembali berpegangan pada pegangan troli belanjaannya. Meremasnya, mencoba menumpahkan apa yang sedang di rasakan hatinya. Hingga membuat tangannya memerah. Tapi rasa itu tak juga berkurang walaupun

 

Sang-Mi meremasnya semakin kencang. Sekarang bahkan dia sudah terjongkok tidak mamapu berdiri lagi. Matanya menatap lantai tak berkedip sekalipun. Dia sadar sedang berada di mana. Di tempat banyak orang berlalu-lalang. Pasti banyak orang yang sedang melihatnya, tapi apa dayanya. Perasaan sakit dan perih ini sudah jauh di atas kuasa hati dan tubuhnya. Tak ada tenaga ataupun kekuatan lagi untuk menanggungnya.

 

*****

Hye-Jin’s Apartement, Parking Place

 

Author pov

 

“Hye-Jin…mian sepertinya aku benar-benar harus pulang. Biar aku antarkan kau sampai pintu depan kamarmu” Donghae menoleh kepada wanita  yang duduk di kursi penumpang mobilnya. Setelah sekian lama dia berpikir akhirnya hanya itu yang dapat dia katakan. Sama seperti kalimat yang pertama kali dia katakan ketika mereka sampai ke pelataran parkir apartemen Hye-Jin.

 

“Aku tidak bisa menerima semua ini oppa” jawab wanita itu sambil berdecak kesal tapi masih terlihat santai.

“…”

“Setelah berjam-jam kita duduk di dalam mobil dan aku menyuruhmu untuk merenungkannya. Bukan ini jawaban yang ingin aku dengar oppa”

“Tapi istriku sedang menunggu di rumah”

 

“Istrimu? hah? Ani dia pasti sedang tidur sekarang, dan juga pasti sudah makan malam. Bukankah dia sudah tau dan mendengar jelas bahwa kau akan makan malam bersamaku dan tidak akan pulang. JIKA DIA MASIH SAJA MENUNGGUMU BERARTI DIA SUDAH GILA!” Hye-Jin mengatakannya dengan penuh penekanan dan emosi. Terlihat dari mukanya yang menegang.

 

“Hye-Jin aku mohon jangan buat ini sulit” kilah Donghae.

“Apa? Membuatnya sulit? Kau yang membuatnya sulit oppa. Seharusnya kita sedang menikmati malam bersama tapi sekarang kita hanya duduk diam seperti orang bodoh di dalam mobil ini. Selama berjam-jam pula” Mereka masih berdebat di dalam mobil. Walaupun ruang dalam mobil kecil tapi tidak menghalangi emosi besar dalam diri Hye-Jin.

 

“Hye-Jin kita, hubungan ini… maksudku”

“Jangan dilanjutkan!” bentaknya.

“Hye-Jin kumohon aku tidak mau menyakitimu terlebih kembali menyakiti…”perkataan Donghae terhenti ketika melihat kilatan mata Hye-Jin.

 

“Kembali menyakiti siapa oppa? Kenapa tidak dilanjutkan? Hah?”

Hye-jin mengambil belanjaannya yang tadi mereka beli dari jok belakang. Menghela napas panjang. Kemudian berkata. “Aku akan menganggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi oppa. Aku akan menghubungimu. Besok kita pergi makan siang bersama” membuka pintu lalu keluar dari mobil Donghae. Donghae masih memandang Hye-Jin sampai wanita itu masuk ke dalam lift. Dia sempat melihat Hye-Jin melempar kasar membuang belanjaan yang mereka beli tadi pada tong sampah yang tepat berada di depan pintu masuk apartemen.

 

Donghae & Sang-Mi Home’s

 

Author pov

 

Donghae memarirkan mobilnya di garasi. Bergerak keluar dan turun dari mobil. Dia masuk ke rumahnya melalui pintung samping sebelah garasinya itu. Badannya sudah sangat lelah pikirannya pun sama benar-benar lelah, lebih mungkin. Ingin rasanya berendam air hangat untuk melepas hal yang di rasanya itu. Donghae terus berjalan sambil memijat tengkuknya, melewati beberapa ruangan yang ada di rumahnya. Ketika donghae melewati ruang makan yang terhubung ke dapur dia melihat lampunya masih menyala begitu juga dengan lampu dapurnya. Apa Sang-Mi lupa mematikannya? Atau jangan-jangan ada pencuri masuk ke dalam rumahnya? Tidak mungkin di depan ada satpam yang  berjaga, juga di rumahnya dilengkapi cctv. Jadi kemungkinan kecil pencuri bisa masuk ke dalam rumahnya.

 

Donghae mendekat untuk memastikanny. Tapi apa yang donghae dapati ternyata tidak seperti kemungkinan-kemungkinan yang tadi ada di pikirannya itu.   Dia mendapati istrinya sedang duduk di kursi yang biasa Sang-Mi duduki ketika di meja makan dengan tatapan kosong memandang ke depan. Donghae juga dapat melihat di sana di atas meja makannya itu terdapat beberapa piring lauk juga lengkap dengan sayurnya dan yang terakhir yang dapat dia lihat adalah dua buah mangkuk kosong. Mangkuk  yang satu terdapat tepat di depan Sang-Mi sedangkan  yang satunya di depan kursi kosong, kursi yang biasanya  Donghae duduki.

 

Hatinya mencelos melihat keadaan Sang-Mi yang sedang duduk diam tak bertenaga dengan wajah letih yang tak dapat di tutupinya, juga mata yang sudah di ujung rasa kantuk. Menunggu dirinya padahal jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.  “Sang-Mi~ya, kau sedang apa?” ya pertanyaan bodoh memang. Tapi di dalam otak donghae tak ada pertanyaan lain untuk diajukan melihat Sang-Mi seperti itu.

Sang-Mi menoleh ke samping ke sumber suara yang memanggilnya. Dia melihat Donghae membuat keduanya bertatapan. Perasaannya bercampur bergejolak di dalam dadanya. Perasaan senang mendapati suaminya pulang setelah berjam-jam menunggu, tapi perasaan menusuk yang selalu ada ketika menatap wajah Donghae. Dan juga ada perasaan lain, perasaan di sengat ekor kalajengking beracun mengetahui suaminya sudah pulang dari rumah wanita lain dan sudah melakukan apa?.

 

“Eoh o…..op…ppa pulang? Oppa sudah makan? Ah ani pasti sudah. Biar aku siapkan air hangat untuk oppa mandi” Sang-Mi tersenyum menyambut Donghae. Berdiri dari kursinya.

Sama hal nya dengan Sang-Mi.  Perasaan berkecamuk juga menghinggapi hati Donghae. Melihat Sang-Mi yang tersenyum padanya membuat hatinya dihinggapi perasaan aneh. Juga mendengar Sang-Mi yang masih bertanya seperti itu membuat dadanya seperti di tarik paksa, sulit di gambarkan. Sang-Mi yang masih memperhatikan dirinya padahal Donghae yakin bahwa istrinyalah yang belum makan.

 

“Kau tidak sadar ini sudah jam berapa, kenapa aku mendapatimu berada di sini?” sebenarnya Donghae lebih berharap ketika pulang ke rumah dan bertemu Sang-Mi istrinya itu akan berteriak marah padanya atau bahkan mengamuk dengan penuh emosi tapi dia mendapati hal yang sebaliknya. Istri di belahan dunia mana yang mendapati suaminya pergi bersama wanita lain dan meninggalkannya sendiri masih bisa tersenyum menyambutnya pulang dan masih memperlihatkan ketulusannya seperti tidak terjadi apa-apa. Apa Sang-Mi sedang mempermainkannya? Apa Sang-Mi sedang mengujinya? Merasakan dan berpikir seperti itu membuat kepala dan otaknya berputar pusing seperti di bentur-benturkan ke ujung meja.

 

“Bukankah tadi aku bilang tidak akan makan malam di rumah lalu kenapa kau masih membuat makanan ini dan menungguku?” Donghae mengatupkan giginya, Mendesis kesal.

“A…aniyo tadi pagi oppa meminta ku membuatnya dan mengatakan akan pulang terlambat. Ja…jadi aku memasak makan malam dan menunggu oppa pulang” Benar Sang-Mi mencoba mengujinya. Dia tidak menyinggung kejadian di supermarket tadi. Istrinya itu berpura-pura tidak tahu atau apa?

 

''Baiklah ayo kita makan!” perkataan Donghae di iringi tatapan tajamnya pada Sang-Mi. Donghae menarik kursinya kasar kemudian duduk. Sang-Mi yang melihat itu hanya bisa diam. Dia tidak tau kenapa suaminya seperti itu. Sang-Mi mengambil mangkuk mereka  mengisinya dengan nasi. Kemudian duduk di samping Donghae.

 

Donghae mengambil setiap lauk dan sayur, menaruhnya di mangkuk. Kemudian mulai memasukan ke dalam mulutnya. Ketika makanan itu sampai di lidahnya dia terenyuh, masakan ini ya masakan ini masakan eommanya. Tadi pagi dia mengatakan pada Sang-Mi kalau dia merindukkan masakan ini. Tapi apa Sang-Mi pergi ke rumah eommanya bukankah dia sudah melarangnya. Astaga di saat Donghae tidak memperdulikannya dia berbuat sebaliknya. Perasaan aneh yang sejak tadi bersarang dihatinya semakin terusik.

 

“Apa kau bodoh? Kau tidak mendengarkan kata-kata suamimu eoh?”

“Ne? wa…wae oppa? Oppa tidak suka dengan makanannya biar aku buatkan yang lain.” Wajah Sang-Mi memucat. Donghae mengatainya bodoh. Hatinya serasa di guyur timah panas dan dadanya pun serasa di tindih batu besar.

Donghae sedikit mendorog kasar mangkuk nasinya menyenderkan punggungnya ke kursi. Menggelengkan kepalanya lalu mengusap wajah kusutnya. Kemudian kembali memandang Sang-Mi yang sudah tidak bisa menutupi ketakutannya. Wajah Sang-Mi seperti tersangka yang sudah melakukan kesalahan besar dan pantas untuk di hukum.

 

“Mi…mian oppa.” Di tambah permintaan maaf dari Sang-Mi dengan suara yang sedikit serak. Mendengarnya betul-betul membuat Donghae semakin terselubung perasaan aneh itu. Tidak tahu perasaan apa ini namanya. Kesal, bingung, marah yang bercampur perasaan menyesal, sedih juga. Entahlah yang jelas Donghae belum menemukan alasan mengapa dia seperti itu.

Aku kan sudah mengatakan padamu, tidak usah pergi ke rumah eomma, BUATKAN AKU MAKANAN SEPERTI BIASA SAJA!!!” erkataannya di iringi bentakan dengan mata yang sudah memerah. Dengan bodohnya dia melampiaskan kebingungannya pada Sang-Mi. Mencari-cari kesalah yang tidak di buat Sang-Mi. Kemudian menyapukan tangannya ke meja mengenai mangkuk dan piring-piring di atasnya membuatnya tumpah bahkan sebagian jatuh ke lantai. Sang-Mi semakin ketakutan tubuhnya bergetar hebat. Dia merasa bersalah karena tidak mendengarkan perkataan Donghae sehingga membuat Donghae marah seperti ini.

“A…aku ti..” ujar Sang-Mi terbata-bata. Belum selesai Sang-Mi berucap Donghae sudah memotongnya

“Aku apa? HAH? KAU benar-benar!” Donghae beranjak pergi dia sudah tidak tahan berada di sini melihat Sang-Mi membuatnya semakin kacau. Perasaan apa ini? benar-benar menyiksanya. Ya ternyata Donghae baru menyadari bahwa sekarang dia sedang tersiksa oleh perasaanya.

 

“Aku tidak pergi ke rumah eomma aku membuatnya sendiri oppa'' air mata menetes di wajahnya. Tentu saja Donghae tidak dapat mendengarnya Donghae sudah pergi meninggalkannya.

Sang-Mi membereskan meja yang berantakan terkena amuk Donghae. Membuang makanan yang sudah tidak dapat di makan lagi ke tempat sampah. Kemudian pergi mencuci mangkuk dan piring kotor. Bayangan akan apa yang sudah Donghae lakukan padanya terus melesak masuk di pikirannya. Ingin rasanya dia seperti wanita-wanita lain yang akan pergi ke rumah ibu mereka ketika bertengkar dengan suaminya, mengadu menangis dan memeluk ibunya. Hatinya bergetar sedih mengingat hal itu. Bahkan dia tidak mempunyai kenangan indah satupun bersama ibunya untuk dia ingat ketika dirinya sedang seperti ini. Sang-Mi tersenyum getir menertawakan dirinya sendiri.

 

*****

 

Selesai mencuci piring dia hendak pergi ke kamarnya. Perasaannya masih gundah dia merasa tidak enak telah membuat Donghae marah dan kesal. Berpikir bahwa dirinya benar-benar bersalah seharusnya dia  tidak menelefon mertuanya, seharusnya tadi dia pergi tidur saja sepulang dari supermarket bukannya tetap memasak dan menunggu Donghae pulang. Merasa bodoh tidak menuruti apa yang suaminya katakan. sebisa mungkin tidak bertemu Donghae. Semoga Donghae sudah terlelap tidur. Dia membuka pintu kamarya pelan, dengan jantung yang berdegup dan merasa was-was.

 

Tapi salah, Dongahe terduduk di ujung kasur membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya yang bertumpu pada lutut. Melihat hal itu Sang-Mi tertegun di depan pintu tidak mungkin Sang-Mi kembali keluar. Jadi dia putuskan untuk tetap masuk. Sang-Mi berjalan masuk sebisa mungkin tidak mengusik Donghae. Mendekat menuju bagian kanan tempat biasanya dia berbaring.

 

“Lee Sang-Mi” baru sampai setengah jalan Donghae memanggilnya jantungnya berdegup kencang. Dia merasakan Donghae mendekat ke tempatnya berdiri Dengan cepat Sang-Mi membalikkan tubuhnya. Belum sempat Donghae mengatakan apa-apa Sang-Mi sudah mengeluarkan suara.

 

“A…aku minta maaf oppa. Aku akan menuruti semua perkataan oppa, aku tidak akan membantahnya” Kata-kata yang keluar seperti tercekat di tenggorokannya. Tangannya gemetaran.

 

“Aku mohon jangan marah padaku lagi, jangan berteriak padaku lagi  oppa, ja..jang” perkataannya terhenti karena air mata yang sudah mengalir keluar deras dari kedua matanya. Turun membasahi pipi yang sudah memerah.. Di iringi isakan yang sudah dia tahan sejak tadi.

 

“Sang-Mi~ya” Donghae yang melihat hal itu refleks mengulurkan tangannya. Sang-Mi yang terlihat ringkih membuatnya ingin memberikan kekuatan pada Sang-Mi. Sebelum Donghae bisa mendekat Sang-Mi kembali mengeluarkan kata-katanya.

 

“Gwen…chana, nan gwenchana” Sang-Mi tersenyum ketika mengucapkannya. Senyum yang sangat terlihat dipaksakan. Donghae Merasa jengah dia belum mengatakan apa-apa tapi Sang-Mi sudah seperti ini dan selalu memotong kata-katanya.

 

“Aku belum mengatakan apa-apa Lee Sang-Mi. Dengarkan aku! aku tahu kata favoritemu adalah gwencahana dan mian, tapi tidak bisakah saat ini kau tidak mengatakan itu?” nada suara Donghae terdengar sedikit meninggi dengan mata sendu yang menatap Sang-Mi.

 

“Mi…mia…an” ya tetap kata itu yang keluar dari mulut Sang-Mi.

“…” Donghae hanya menghela napas panjang.

“Mian oppa mian mian mi…an…mi…” napasnya tersenggal-senggal di ikuti segukan kesesakan dari dadanya. Sang-Mi melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan Donghae. Namun perkataan Donghae menghentikannya.

“Kau mau kemana?”

 

“…” tidak ada jawaban sama sekali. Sulit untuk Sang-Mi menjawab Donghae untuk sekarang ini. Terlihat dari keadaannya, jika dia menjawab pastilah kalimat atau kata yang keluar dari mulutnya akan terdengar tidak jelas atau bahkan akan terdengar mengerikan karna diiringi dengan sesak di dadanya yang membuatnya sulit bicara.

Tangan kiri Sang-Mi dia gunakan untuk menutup mulutnya membungkam suara rintihan kesakitan dari tangisannya. Sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk menghalau air mata yang keluar tanpa henti.

Donghae perlahan mendekati Sang-Mi yang masih diam berdiri di tempatnya. Donghae meraih kedua tangan Sang-Mi. Menggenggamnya erat. “Kau mau pergi ke kamar mandi? Menangis disana? Menyalakan keran air untuk meredam suara tangisanmu?” lagi eoh, kau akan melakukannya lagi? “ Ucap Donghae tanpa jeda. Menatap tajam wajah Sang-Mi yang semakin tertunduk.

 

Donghae menarik Sang-Mi mendekati tempat tidur menuntun Sang-Mi untuk duduk berhadapan dengannya. Mata Donghae tak pernah lepas sedikit pun dari wajah Sang-Mi yang semakin tak terlihat.

Tangan kanan Donghae melepaskan genggamannya di tangan Sang-Mi. Pergi menyentuh dagu Sang-Mi. Berusaha menegakkan wajah Sang-Mi mensejajarkan dengan wajahnya. Sekarang matanya dapat menatap wajah Sang-Mi yang basah oleh air mata. Didekatkan wajahnya terus mendekat mengangkat sedikit wajahnya lalu dengan perlahan mengecup mata kiri Sang-Mi kemudian beralih mengecup mata sebelah kanan. Sang-Mi terkaget dengan yang Donghae lakukan. Sang-Mi tidak mengerti apa maksud Donghae melakukan itu. Mereka berdua saling berpandangan selama beberapa saat. Air mata Sang-Mi keluar kembali sekarang tangannya tidak bisa menghapus air matanya karena masih di genggam oleh Donghae.

 

Donghae kembali mendekatkan wajahnya. Sekarang dia tidak hanya mengecup mata Sang-Mi melainkan mencium dalam kelopak matanya. Kemudian beralih ke bagian ujung mata Sang-Mi. Bagian yang menurutnya sering terlihat mengeluarkan air mata. Menciumnya penuh kasih, dan kembali menatap Sang-Mi.

“Sang-Mi~ya disini ada aku suamimu, jangan pergi ke tempat lain untuk menumpahkan kesedihanmu. Kau tau ketika setiap kali kau menangis di dalam kamar mandi aku merasa kau pergi meninggalkanku sendiri seperti ketika aku meninggalkanmu pergi bersama Hye-..bersama…” Sebuah nama yang tidak sanggup Donghae katakan.

 

“Hatiku ikut terasa perih ketika samar-samar isakanmu terdengar, dadaku terasa sulit bernapas ketika suara air yang keluar dari keran itu tak bisa meredam suara napasmu yang tersenggal-senggal karena…” sekarang napas Donghae yang terdengar tersenggal-senggal.

 

“Semua kemungkinan berputar di otakku, Mungkin hatimu sudah terlalu sakit untuk merasakkannya, mungkin juga sudah semakin terasa perih ani atau mungkin…mungkin kau..atau apa aku harus pergi mendobrak pintu kamar mandi itu dan menghancurkan keran air itu..tapi”

 

“Tapi jika aku melakukannya apa kau akan berhenti menangis atau kau malah semakin menahan kesedihanmu sendiri dan tidak bisa mengeluarkannya sama sekali dan semakin membuatmu..”

“Aku sudah tidak bisa melanjutkan setiap kalimatku dengan benar. ASTAGA TUHAN!” Kedua tangan Donghae mengusap wajahnya yang terlihat frustasi.

 

“Jadi aku mohon jangan siksa aku dengan sikapmu yang selalu berusaha tersenyum di depanku tetapi hatimu terasa sedang dikuliti. Atau jangan pernah berkata kau tidak apa-apa ketika matamu terasa sedang ditetesi air raksa. Dan hentikan lidahmu mengatakan kata maaf ketika seharusnya lidahku yang mengatakannya”

Sang-Mi terdiam. Terlalu kaget dengan yang Donghae katakan.Kata-kata Donghae berputar di kepalanya, dan terdengar berulang-ulang di telinganya. Air matanya tiba-tiba berhenti karena hal yang baru saja terjadi. Secara tidak langsung Donghae mengatakan apa yang dia rasakan, Donghae mengatakan bahwa dia merasakan apa yang Sang-Mi rasakan. Tapi mengapa hal itu bisa terjadi? Mana mungkin bisa terjadi?

 

“Tuhan tidak mengirimkan Kim Hyung-Jung atau pun Kim Woo-Bin untuk menjadi malaikat penolongmu ketika aku menyakitimu seperti yang terjadi di drama-drama pada umunya. Tapi lebih parahnya Tuhan mengirimkan perasaanmu untuk aku rasakan juga. Tuhan menghukum dan menyiksaku seperti itu.”

Akhirnya Donghae menyadari perasaan aneh itu. Perasaan yang sejak tadi mengganggu dan mengusiknya. Yang sejak tadi susah di gambarkan namun dia rasakan. Yang membuat kepala dan otaknya berputar kebingungan.

 

Ternyata itu adalah perasaan yang Sang-Mi rasakan, perasaan tersakiti Sang-Mi selama ini yang bercampur perasaan bersalah Donghae sendiri sehingga terasa sangat menyiksa.

 

“Perasaan menyakitkan ketika kita di khianati oleh orang yang kita cintai dengan tulus. Perasaan takut di tinggalkan oleh orang yang kita kasihi dengan segenap jiwa. Aku merasakan itu Sang-Mi~ya aku merasakannya” sekarang air mata yang keluar dari pelupuk mata Donghae.

 

“Tuhan begitu mengasihimu sehingga kau tidak perlu mengotori dirimu sendiri dengan membalas semua perbuatan hinaku. Membuatku mersakan hal yang sama yang kau rasakan. Tuhan lebih kuasa untuk melakukannya”

Tangan Sang-Mi terulur mendekati wajah Donghae. Dengan perlahan menghapus air mata yang menetes di wajah Donghae. Mengusap hidung Donghae yang memerah. Mendekatkan wajahnya kemudian mencium tulang pipi Donghae. Sang-Mi kembali menarik wajahnya. Mereka saling berpandangan. Sang-Mi tersenyum, bukan senyum terpaksa yang biasa dia perlihatkan, bukan senyum kesedihan yang biasa dia keluarkan untuk menutupi kesakitannya. Melainkan senyum tulus dari hatinya atas apa yang yang Donghae katakan. Atas suara hati Donghae yang telah terungkapkan.

 

Sang-Mi tau perasaan cinta dalam rumah tangganya memang patut di pertanyakan. Bahkan kata cinta pun belum pernah dia dengar mengiringi perjalanan rumah tangganya ini. Tapi dia akan tetap bertahan. Tetap berdiri tegar di atas ikatan suci yang sudah dia buat bersama Donghae.

 

Donghae yang akhirnya melihat senyum itu kembali menarik Sang-Mi ke dalam pelukannya. Memeluk erat Sang-Mi. Kelegaan di hatinya menyeruak menghangatkan saraf-saraf dalam tubuhnya. Membuat mereka hanyut dan terbius dalam kelembutan sebuah pelukan.

 

“Semuanya akan baik-baik saja oppa”

Kata yang baru saja keluar dari mulut Sang-Mi membuat Donghae terenyuh. Dulu dia pernah mengatakan bahwa tidak akan berjanji semuanya akan baik-baik saja pada Sang-Mi. Tapi berbeda dengan Sang-Mi dia malah mengatakan hal sebaliknya. Membuat Donghae bertanya-tanya pasti ada alasan atas semua sikap Sang-Mi selama ini. Atas ketegarannya dalam menghadapi semua penderitaanya. Atas keberaniannya tetap berdiri tegak di tengah-tengah perih yang hatinya rasakan. Ya Donghae terpikir akan hal itu dan menimbulkan rasa penasaran dalam dirinya. Dia akan mengetahuinya dia berjanji pada dirinya akan mengetahui alasan Sang-Mi berbuat seperti itu.

 

*****

 

Donghae duduk di tepi tempat tidur dengan kedua kakinya yang menggantung ke bawah menyentuh lantai.

“Kemarilah” Sang-Mi bergerak pelan. Melangkahkan kakinya mendekati Donghae. Membuat Donghae terkagum dengan yang di lihatnya. Rambut yang terurai, wajah yang merona merah tubuh bagai sang dewi yang memang di suguhkan untuknya.

Donghae menariknya mendekat. Membuat Sang-Mi duduk di pangkuannya. Pusat tubuh mereka sempat bergesekan karena keadaan mereka yang sama-sama tidak mengenakan apapun. Donghae mencumbui leher Sang-Mi membuat Sang-Mi menggelinjang di atas pangkuannya. Kedua tangannya memeluk Sang-Mi. Merambat naik membelai sayang helaian rambut Sang-Mi. kemudian beralih memandang Sang-Mi dalam.

 

“Boleh aku lakukan sekarang?” Sang-Mi memandang mata Donghae. Mengangguk malu. Donghae membuka lipatan vagina Sang-Mi menggunakan tangan kanannya. Tangan kirinya dia gunakan untuk menuntun masuk juniornya.

“Aah” desahnya. Sebenarnya Donghae ingin langsung memasukannya seperti biasa. Tapi sekarang dia ingin melihat wajah Sang-Mi ketika di masukinya. Wajah yang memerah dan tubuh yang bergetar merasakan letusan butir-butir gairah.

 

“Euungh” mata Donghae tak lepas dari wajah Sang-Mi. Melihat istrinya yang cantik di terangi sinar fajar yang terhalang tirai kamar mereka. Matahari yang masih malu untuk menampakan kehangatannya, lain hal dengan yang terjadi di antara mereka. Kepanasan yang seolah menggantikan matahari tersebut telah menyelubungi tubuh mereka. Sang-Mi menggigit bibir bawahnya ketika junior Donghae terus melesak masuk.

“Akh” Donghae membenamkan juniornya dengan posisi sempurna.

“Aku suka karena kau selalu sempit” Donghae menggerakkan tubuh Sang-Mi dengan kedua tangan kekarnya yang melingkar di pinnggul Sang-Mi sambil sekali-kali meremas pantat Sang-Mi. Berlomba dengan sinar mentari keluar dari ufuk barat.

“Euggh…sssh” Sang-Mi melengguh nikmat. Donghae benar-benar menusuk titik rangsangnya. Tubuhnya menggeliat mencoba menghindari apa yang Donghae lakukan karena merasa tak tahan akan serangan itu. Dia merasa melayang setiap Donghae menyentuhnya dalam. Geli yang dirasakan pada bagian tubuhnya semakin menjadi.

“Aku aah…suka ketika kau men..jepitnya” di tambah kata-kata yang Donghae keluarkan. Membuatnya benar-benar merasa di serang bertubi-tubi oleh panas api gairah. “Aakh..ah” Donghae semakin liar menggerakkan tubuh Sang-Mi. Bermain dengan nafsu dan berpacu dengan sesuatu yang di rasanya akan keluar

“Dan..ah.. aku suka ketika kau basah karena aku”

“Aaaaaah” menikmati kenikmatan bersama melalui desahan dan lenguhan panjang. Kenikmatan yang sebenarnya sulit tergambar. Tapi mereka rasakan dengan saling berpelukan dengan jantung yang sama-sama bertalu-talu dan napas yang terengah-engah.

 

Lee Donghyun & Lee Donghae’s Office, 14:00 kst.

 

Author pov

“Ini rancanganku aboji.” Donghae menyerahkan beberapa kertas yang diatasnya sudah terlukiskan sketsa-sketsa sebuah gambar.

“Bunga tulip?” DongHyun memandang dengan seksama kertas-kertas yang ada di tangannya. Menaikkan kacamata yang tadi turun dari tulang hidungnya. “Ini rancanganmu untuk kantor baru kita?” Sedikit mengerutkan dahinya, lalu memandang Donghae yang duduk di kursi di depan mejanya.

“Ne bunga tulip.” Donghae mengangguk yakin.

“Aku sudah memperhitungkan bangunan itu dari mulai beban setiap materialnya. Juga akan menjadi berapa lantai pada  bagian yang menyerupai batangnya dan berapa lantai untuk bagian yang menyerupai mahkotanya.”

“Lalu?” Donghyun melihat gambar yang ada di kertas selanjutnya.

“Di siang hari bangunan ini hanya akan menyerupai kerangka bunga tulip saja yang dilapisi kaca, tapi di malam hari di setiap ruangan yang berada pada batangnya akan dinyalakan lampu berwarna hijau dan juga untuk ruangan yang berada di bagian mahkotanya akan dinyalakan lampu berwarna putih sehingga menyerupai bunga tulip putih”

“Kau sudah memperhitungkan kegunaan dari setiap ruangan yang ada pada bangunan ini?” mata Donghyun tak lepas dari gambar-gambar yang ada di depannya.

“Sudah aboji” jawab Donghae.

“Aku suka dengan idemu ini, coba kau realisasikan ke dalam bentuk tiga dimensi bersama Park-Si-oh lalu perlihatkan lagi padaku” Donghyun membuka kacamatanya dan memberikan kertas-kertas itu kembali pada Donghae.

“Baiklah aku akan menemuinya, aku permisi aboji.” Donghae mengambil kertas-kertas itu lalu beranjak berdiri dari kursi yang dia duduki. Berjalan mendekati pintu.

“Donghae~ya” terdengar suara ayahnya memanggil. Donghae menghentikkan langkahnya. Membalikkan badannya menghadap kembali menatap ayahnya.

“Ne?”

“Kau ingin minta maaf pada siapa? dan kau punya salah sebesar apa hingga membangun bunga tulip sebesar itu?” Donghyun berdiri lalu berjalan keluar dari balik meja.

 

“Kau tau aku sempat tinggal di Belanda untuk mendukung studiku dulu, jadi aku tau beberapa makna atau arti dari bunga tulip. Dan bunga tulip putih itu lambang permintaan maaf” Donghyun mencoba meyakinkan perkataannya.

“Benar?” Tanya Donghyun kembali. Donghae kemudian mengangguk lalu memandang ayahnya.

 

“Ini untuk Sang-Mi aboji” jawabnya mantap.

 

“Sudah kuduga” perkataan Donghyun di iringi senyum di wajahnya. Mendekat ke arah Donghae.

 

“Aku senang mendengarnya. Tapi jika boleh aku memberikan saran. Jangan buat semua ini menjadi tidak berarti. Jangan buat Sang-Mi hanya tau dan hanya bisa memandang bangunan yang kau buat untuknya. Tapi buat dia merasakan arti dari bunga tulip putih itu sendiri. Jadi kau harus memaknainya dengan hatimu adeul~ah.”

 

*****

At Cruch, Yeoju street

 

Donghae membuka dua buah pintu besar yang menjulang tinggi, melangkahkan kakinya masuk melewati pintu itu kemudian menutup kembali. Di lihatnya ruangan besar dengan bangku-bangku panjang berjajar rapi. Tak ada suara sedikit pun di ruangan itu. Hanya keheningan dan bau kedamaian yang dapat dia rasakan. Matanya beralih melihat jauh lurus ke depan. Terdapat sebuah patung besar di dalam jarak pandangnya yang menandakan bahwa sekarang dia sedang berada di rumah Tuhan. Pantas dia merasakan kedamaian. Hatinya terasa sejuk, seolah ada angin sepoi yang bertiup di sekitar Donghae. Jantungnya berdegup tenang dan kulitnya terasa hangat seperti terkena sinar matahari senja. Donghae tak ingat kapan terakhir pergi ke tempat ini. Kapan terakhir dia ‘mengunjungi’ Tuhannya itu.

 

Pandangannya beralih ke samping depan. Dia melihat seseorang yang duduk di bangku barisan kedua dari depan. Seseorang yang sedang berdoa sepertinya. Donghae berjalan mendekat, terus menatapnya. Melangkahkan kakinya pelan agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu. Hingga sampai di depan orang itu tetap tidak menyadari kehadiran Donghae. Dia tetap dalam posisinya semula.

Dia mengenali orang itu. Istrinya Sang-Mi sedang menundukkan kepalanya menyatukkan kedua  tangannya dan menyimpannya di depan dada. Terlihat sebulir air mata yang keluar dari pelupuk mata Sang-Mi. Donghae mendekatkan tangannya bermaksud untuk menghapus air mata itu. Tapi tangannya terhenti dan terjatuh kembali ke samping tubuhnya ketika  dia melihat ada air mata lagi yang keluar dari mata Sang-Mi.

 

Donghae pov

 

Pandanganku tak lepas dari Sang-Mi. Dia sangat khusu sekali sehingga tak menyadari kehadiranku di sini. Apa dia sedang menceritakan kepedihannya kepada Tuhan? Ingin rasanya aku dapat mendengar doanya.

‘Apa yang ada dalam doamu Sang-Mi~ya? Apa kau sedang mengadu pada Tuhan? Sedang berkeluh kesah kepada-Nya?’

‘Apa aku ada dalam doamu? Jika bisa aku ingin mendengar doamu Sang-Mi~ya? Aku ingin tau kau mengatakan apa tentangku kepada Tuhan?’

 

Hingga beberapa lama tak ada pergerakan apapun dari Sang-Mi. Aku memutuskan untuk meninggalkan Sang-Mi. Menunggunya di luar saja di dalam mobil. Aku berjalan kembali menuju pintu keluar. Melewati setiap baris bangku hingga aku sampai di bangku terakhir. Menoleh ke samping kemudian berbalik melihat Sang-Mi yang masih pada posisinya. Aku terdiam di tempatku. Terdengar panggilan suara hatiku untuk duduk di bangku itu dan melakukan hal yang sama seperti yang Sang-Mi lakukan.

 

Entah apa yang membawaku sekarang aku sudah duduk di bangku paling belakang. Menyatukan kedua tanganku, menundukkan kepalaku, memejamkan mata dan bersatu dalam doa bersama Tuhan.

 

‘Tuhan…ini aku hambamu, hambamu yang penuh dengan dosa. Tuhan apa aku harus mengakui semua dosaku dulu sebelum memohon doa padamu? Aku rasa tidak. Kau sudah tau semua dosa yang kuperbuat. Kau melihatnya bukan?’

 

‘Tuhan aku malu, aku malu jika aku memintanya untuk diriku.  Jadi.. jadi aku memintanya untuk orang lain. Kau lihat wanita yang duduk di depan itu? Wanita yang sedang kau dengarkan doanya juga. Dia istriku, Lee Sang-Mi. Dia seorang istri yang menepati janjinya.  Janjinya yang dia ucapkan dihadapanmu bersamaku Dia seorang istri yang menjungjung tinggi sebuah kesetiaan, dia selalu setia berada di sampingku apapun keadaanya. Dia juga seorang istri yang menjungjung tinggi kehormatan suaminya. Dia selalu menghormatiku suaminya walaupun perbuatanku pantas untuk dia hina.

 

‘Tuhan kau lihat air mata itu? Air mata itu selalu keluar dari matanya, dan ya penyebabnya sedikit banyak adalah aku.

Tuhan ini adalah doaku padamu, doaku untuknya. Hentikanlah air mata kesedihan dari matanya Tuhan. Jauhkanlah perasaan tersakiti dari hatinya, juga hapuskanlah rajaman kepedihan dari jantungnya”

‘Kumohon, Dengan nama Tuhan aku berdoa dan memohon padamu’

 

Author pov

 

Donghae membuka ke dua matanya. Menengadahkan kepalanya. Menghela nafas ringan. Sesaat melihat Sang-Mi yang sedang bersiap beranjak dari tempatnya. Ternyata Sang-Mi juga sudah selesai dengan doanya. Berjalan keluar dari tempat duduknya mendekat menuju pintu keluar. Tapi sepertinya Sang-Mi masih juga tidak sadar akan keberadaan Donghae dia terus berjalan hendak selangkah lagi memegang gagang pintu tangannya dihentikan oleh genggaman hangat tangan seseorang. Membuatnya menoleh mencari pemilik genggaman hangat itu.

 

“Oppa?” Donghae tersenyum kepada Sang-Mi.

“Tadi aku menelefon eomma, katanya kau sedang di sini” mencoba memberitahu. Tangannya tak lepas dari tangan Sang-Mi. Kemudian mengusap kecil punggung tangan Sang-Mi.

“Ah ne tadi sebelum pulang aku mampir ke sini sebentar” membalas senyuman Donghae. “Lalu oppa?”

“Aku menjemputmu. Ayo!” Donghae memeluk Sang-Mi dari samping. Setengah mendorong menuju keluar.

“Mau kemana kita oppa?” Sang-Mi yang masih bingung dengan sikap Donghae hanya bisa mengikuti arah tuntunan Donghae.

Tiba di depan mobil Donghae menghadapkan Sang-Mi di depan dirinya. Memandang kedua mata Sang-Mi lalu berkata. “Aku akan mengajakmu pergi memaknai dengan hati arti dari bunga tulip putih”

 

END....

 

makasih buat admin yang mau ngepost ff gaje ini. 

tinggalakan like dan koment ne..

 

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK