home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Anonymous

Anonymous

Share:
Author : chosm96
Published : 24 Jan 2014, Updated : 26 Jan 2014
Cast : EXO, Lee Yoonji, Kim Sunghee, Lee Junho (2PM), Jack, Jill (Choi Minji), Aron
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |6043 Views |0 Loves
Anonymous
CHAPTER 1 : PROLOG

Gempa bumi kembali melanda Jepang dan gempa kali ini ditetapkan sebagai gempa terdahsyat sepanjang sejarah. Hampir seluruh negara rata oleh reruntuhan. Sulit untuk melakukan evakuasi karena akses ke negara tersebut juga rata oleh reruntuhan.

Gadis itu mendesah lalu mematikan televisi dihadapannya. Berita belakangan ini selalu menyangkut bencana alam. Dari bencana alam alami maupun karena ulah manusia. Seakan dunia ini sebentar lagi akan hancur. Ia takut, ia belum mau mati.

“Kenapa wajahmu pucat begitu?” tanya sebuah suara yang diyakini dari seorang pria. Gadis itu berbalik dan mendapati pria yang beberapa tahun lebih tua darinya.

“Aku takut, Oppa. Kita seperti mendekati kehancuran.”

“Apa maksudmu?” kening pria itu mengerut. “Apa karena berita-berita bencana alam itu?” tanyanya lagi.

“Ah, kalian disini rupanya. Appa mau me–aigoo. Ada apa denganmu, nak? Kenapa mukamu pucat?” seorang pria paruh baya langsung duduk disamping gadis itu dan merangkulnya.

“Dia ketakutan, Appa.” Awalnya pria paruh baya itu tidak mengerti, namun beberapa menit kemudian ia paham.

“Tenang saja, kita semua tidak akan hancur. Kita layak untuk hidup lebih lama. Untuk itu, Appa mau menyampaikan pesan mendiang Harabeoji kalian mengenai hal ini.”

Mwo?” pria tadi langsung mengambil posisi duduk disebelah pria paruh baya itu.

“Dunia ini berada di ujung tanduk karena ulah manusia, kalian pasti sudah tau kan? Tapi, apa kalian tau bahwa disuatu tempat ada sebuah pohon yang dinamakan Pohon Kehidupan?”

“Pohon Kehidupan?” tanya gadis itu heran. Pria paruh baya itu mengangguk lalu melanjutkan ceritanya.

“Pohon Kehidupan itu kini telah terbelah menjadi dua, karena ulah manusia yang selalu merusak lingkungan. Efek dari terbelahnya pohon itu adalah dengan bencana alam. Sebenarnya ada cara untuk menyembuhkan pohon itu, tapi itu sangat sulit.”

“Apakah itu, Appa? Sesulit apapun, asalkan kita bisa menyelamatkan kehidupan, tidak akan apa-apa kan?”

“Caranya, kita harus mempersatukan duabelas anak terpilih, dan membujuk mereka agar mau menyembuhkan pohon tersebut. Harabeoji dulu, ketika memutuskan untuk hidup sendiri di Busan, ia melihat duabelas bintang jatuh secara bersamaan ketika ia tengah menikmati udara malam. Karena penasaran, Harabeoji mengikuti arah jatuhnya bintang tersebut.”

“Apa Harabeoji menemukan bintang itu?” tanya gadis itu semakin tertarik dengan cerita sang ayah.

“Ne, tapi ia hanya menemukan enam diantaranya. Dan apa kalian tau? Ternyata itu bukan bintang, melainkan enam bocah namja berwajah polos dan agak sedikit menyeramkan. Appa sempat bertemu dengan mereka dulu.”

“Sekarang, dimana keenam bocah itu?”

“Ketika Harabeoji wafat, mereka pergi seminggu sebelumnya atas perintah Harabeoji. Mereka disuruh berpencar mencari jati diri mereka, hidup normal, dan melupakan sejenak takdir mereka sebagai penyelamat dunia.”

“Sisanya?”

“Belum ditemukan sampai saat ini. Namun, keenam namja asuhan Harabeoji itu tau keberadaan mereka. Hanya saja, mereka tidak berniat mencarinya dan berkumpul kembali.”

“Jadi, kita harus mengumpulkan duabelas namja itu kembali? Bagaimana caranya?” tanya gadis itu sambil mengerutkan kening.

“Mereka memiliki tato lambang yang unik dileher mereka. Tato itu hanya akan terlihat oleh orang-orang terpilih dan akan terlihat jika mereka menatap dingin kearah kita. Tato itu akan mengkilap lalu hilang lagi. Jadi, mata kita harus jeli.”

“Siapa keturunan orang-orang terpilih itu, Appa?”

“Kita. Kitalah keturunan Harabeoji, yang merawat keenam diantaranya. Harabeoji sangat berarti bagi mereka, berarti kita, sebagai keturunannya juga berarti bagi mereka. Mereka hanyalah sekelompok namja yang masih mencari jati diri dan berusaha melupakan takdir mereka sebagai penyelamat, kita harus menyadarkan mereka kalau itu memang takdir mereka dan tidak boleh dilupakan.”

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK