home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Everlasting Friendship

Everlasting Friendship

Share:
Author : anisyabella
Published : 21 Jan 2014, Updated : 21 Jan 2014
Cast : Kim Jong Woon (Yesung), Kang Yoong Hoon, Jang Ji Hyun, Lee Hyun Ra
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |452 Views |1 Loves
Everlasting Friendship
CHAPTER 1 : Tidak Berchapter (oneshoot)

Judul               : Everlasting Friendship

Genre              : Sad and Friendship

Author             : Anisya Bella

Cast                 : Jang Ji Hyun, Yesung (Yoong Hoon’s Boyfriend), Kang Yoong Hoon, Lee

              Hyun Ra, etc.

 

“Kita boleh saja hancur tapi bukan berarti kita hancur selamanya bukan? Ada saatnya dimana kita bisa kembali lagi seperti dulu dan mencoba bekajar dari kesalahan.”

 

Kediaman Yoong Hoon, Seoul, Korea. 22.00 KST. Yoong Hoon POV.

Malam ini aku sangat lelah. Aku baru saja pulang setelah menemui Yesung Oppa di apartement nya. Dan aku hari ini kembali harus merasakan sedih. Seharusnya aku merasa senang karena seharian bertemu dengan kekasihku sendiri. tapi ini justru sebaliknya. Aku kembali bertengkar dengan Yesung.

Flashback~

“Siapa yang telah menelfonmu tadi, oppa? kenapa kau harus menjauh dariku saat kau sedang mendapat telfon? Apa yang menelfonmu itu perempuan lain?”

“Kenapa pikiranmu itu selalu saja negatif? Kalau memangnya aku mendapat telfon dari seorang perempuan memangnya kenapa? Kau ingin marah-marah kepadaku?”

“Aku tidak akan marah kepadamu. Tapi setidaknya kalau memang teman perempuanmu yang telah menelfonmu, setidaknya kau tidak perlu menjauhiku kan hanya karena kau ingin ngobrol dengan teman perempuanmu itu. aku ini kekasihmu oppa!”

“Kalau kau memang kekasihku setidaknya kau harus mengerti dengan keadaanku sekarang. kalau kau tidak suka lebih baik kita tidak perlu meneruskan hubungan ini lagi kan? Simple!”

“Kenapa kau berbicara seperti itu oppa? apa kau sudah tidak mencintaiku? Kalau kau masih mencintaiku, hargai aku oppa sebagai kekasihmu! Janganlah kau terlalu terbuka dengan perempuan lain. kau ini sudah mempunyai kekasih!”

“Sekarang maumu apa? Mau mengakhiri hubungan kita ini? semua itu terserah kepadamu! Jujur aku capek dengan sifatmu yang selalu seperti itu!”

Flashback END~

Aku kembali mengingat hal tadi. sampai akhirnya aku lebih memilih untuk pulang dari apartement nya itu. aku membiarkan Yesung untuk sendiri. mungkin lama kelamaan Yesung tidak suka dengan keberadaanku setelah kami beradu mulut tadi. hampir setiap hari dan kebetulan belakangan ini, kami selalu bertengkar.

Aku mengambil ponselku di samping tempat tidur. Yesung tidak sama sekali menghubungiku. Ia benar-benar marah kepadaku. Aku bingung harus berbuat apa lagi. Sampai akhirnya aku mencoba menghubungi Ji Hyun saja. kalau aku menghubungi Yesung sekarang, mungkin dia tidak akan merespon telfonku. Aku kebetulan juga ingin menumpahkan rasa sedihku ke Ji Hyun. hanya dial ah tempat dimana aku bisa bercerita apapun itu.

“Yeoboseyo Ji Hyun, apa aku menganggumu? Maaf kalau aku menganggumu malam-malam begini. Aku hanya ingin bercerita saja kepadamu. Itu juga kalau kau mau mendengarnya.” Ji Hyun pun sudah mengangkat telfonku. Mungkin aku akan sedikit menganggu jam tidurnya kali ini.

“Cerita saja, Yoong Hoon. aku juga kebetulan belum tidur. Aku masih membaca-baca buku saja. memangnya ada apa? Apa soal Yesung lagi?”

“Pastinya, Ji Hyun. tidak jauh dari persoalan Yesung. Aku baru saja menemuinya tapi lagi-lagi kami bertengkar. Hanya karena aku mengira kalau yang menelfon Yesung itu adalah teman wanitanya. Jelas Yesung pun memarahiku. Memang entah kenapa Ji Hyun, aku merasa tidak nyaman kalau Yesung menerima telfon dari seorang wanita padahal dia sedang bersamaku. Apa aku salah Ji Hyun?” tanyaku kepadaku Ji Hyun. air mataku mulai sedikit demi sedikit menetes membasahi pipiku dan perlahan aku menghapus air mataku.

“Hmm… kau tidak salah, Yoong Hoon. tapi aku harap kau jangan mengulanginya lagi. Kau tau kan watak Yesung seperti apa. Jadi lebih baik untuk ke depannya, kau tahan pikiran-pikiran negatifmu itu. kau seharusnya menerima resiko mempunyai seorang kekasih yang punya banyak teman wanita. Kau yang menjalani, kau juga yang harus terima resikonya.”

“Aku tau Ji Hyun kalau aku harus menerima semua resiko itu. tapi setidaknya dia bisa menghargaiku yang sedang berada di dekatnya. Dia bisa kan untuk menunda perbincangan dengan teman wanitanya itu selama masih sedang bersamaku? Aku hanya butuh pengertiannya saja, Ji Hyun.” aku menghela nafas panjang-panjang, malam ini aku tidak mau mengeluarkan air mataku terlalu banyak.

“Aku sangat mengerti dengan perasaanmu itu. Emm… Ya sudah, lebih baik kau istirahat saja. aku hanya bisa mengingatkanmu saja untuk tidak terlalu memperlarut kesedihanmu itu. dan untuk selanjutnya aku harap tidak ada lagi pertengkaran antara kau dan Yesung. Aku ingin kalian berdua itu baik-baik saja dan jangan selalu bertengkar. Kau harus tetap sabar menghadapi Yesung, Yoong Hoon. kau segera istirahat ya. Besok kan kita bisa bertemu di kampus.”

“Hmm… Ya, ceritanya dilanjutkan besok saja. terima kasih Ji Hyun kau sudah mendengarkan keluh kesahku malam ini. maaf kalau aku menganggumu malam-malam begini. Kau tidak merasa terganggu kan karena aku yang menelfonmu?”

“Tidak sama sekali, Yoong Hoon. aku merasa tidak terganggu sama sekali. Ya sudah lebih baik kau segera istirahat. Sampai ketemu besok di kampus ya. Bye!”

“Hmm… okee~ see you tomorrow, Honey!” aku pun memutuskan hubungan telfonnya. Dan menuruti apa kata Ji Hyun untuk segera beristirahat.

             *****

Inha University, 08.00 KST, Ji Hyun POV.

Pagi ini, perkuliahan akan dimulai jam 9 pagi. Sambil menunggu perkuliahan dimulai, aku menunggu Yoong Hoon dan Hyun Ra yang sampai sekarang belum datang juga ke kampus. Aku menunggu mereka di taman yang tidak jauh letaknya dekat kampus. Sambil aku putar beberapa lagu di Ipod ku dengan headset, aku pun menunggu kedatangan sahabat kesayanganku itu.

“Annyeong Ji Hyun! apa kau sudah menunggu kami berdua terlalu lama?” aku pun seketika kaget dengan kedatangan Hyun Ra dan Yoong Hoon secara bersamaan. Hyun Ra lah yang menepuk pundakku dari belakang sehingga membuatku sedikit merasa kaget.

“Aish~ kenapa kau harus mengagetkanku? Untung saja jantungku ini aku tinggal di rumah jadi tidak mungkin lah aku pingsan karena terkena serangan jantung secara mendadak, bukan begitu?” ujarku meledeki mereka. Mereka hanya memasangkan muka datar di hadapanku. Ternyata guyonan ku tidak berhasil membuat mereka sedikit tertawa. Huh~

Dan mereka pun langsung duduk di sebelahku sehingga aku berada di posisi tengah diantara mereka. Mereka itu sepertinya memang tidak mau jauh denganku, mereka pun juga terlihat seperti ngefans kepadaku. Ciyeee~ jadi malu ^^

“Hey Yoong Hoon, pagi ini kau terlihat berseri-seri sekali raut wajahmu itu. kau baru saja dimanja-manjakan oleh Yesung ya? Hahaha…” aku pun kembali meledeki dan kini giliran Yoong Hoon yang aku ledeki.

“Ya! Kau ini berkata apa? Jangan kau meledekiku seperti itu. oh iya ngomong tentang Yesung. Semalam aku baru saja punya rencana untuk menemuinya di café Mouse Rabbit sore ini setelah kita selesai kuliah. Aku ingin minta maaf kepadanya sambil berjumpa dengan Eomma nya juga. dan kalian berdua harus ikut menemaniku. Tidak mau tau!” ucap Yoong Hoon sampai-sampai matanya pun juga ikut melototi aku dan Hyun Ra.

“Maaf Yoong Hoon bukannya aku tidak mau menemanimu tapi selesai kuliah nanti aku harus mengerjakan tugas bersama dengan temanku. Kau pergi dengan Ji Hyun saja ya. Ji Hyun kan pasti punya banyak waktu, bukan begitu Ji Hyun?” Hyun Ra pun langsung menyambarku. Mentang-mentang hari ini aku tidak ada kegiatan selain kuliah, bisa saja dia menyambarku dengan kata-kata seperti itu.

“Oke, berarti Ji Hyun mau tidak mau harus menemaniku. Aku mohon Ji Hyun, aku kan juga bisa minta bantuanmu merangkai kata-kata supaya Yesung bisa memaafkanku. Lagipula kau juga belum kenal dengan Yesung oppa kan?”

“Hmm… baiklah. Aku ikut denganmu nanti. Tapi aku tidak mau berlama-lama disana. masih banyak tugas yang harus aku kerjakan di rumah. Arraseo?” aku pun menerima permintaan Yoong Hoon untuk ikut dengannya ke café kekasihnya itu.

Yoong Hoon tersenyum antusias kepadaku lalu dengan sigap ia memelukku erat sekali. Mungkin ia mengungkapkan kesenangannya itu kepadaku karena aku menyempatkan waktu untuk menemaninya menemui kekasihnya.

         *****

Mouse Rabbit Cafe, 16.00 KST, Ji Hyun POV

Aku dan Yoong Hoon telah selesai beraktifitas di kampus. Dan sesuai janjiku tadi, sore ini aku akan menemani Yoong Hoon menemui kekasihnya di café nya itu. sebenarnya aku tidak ingin menganggu mereka tapi Yoong Hoon memaksaku untuk bisa ikut dengannya. Aku tidak bisa menentangnya, ku lakukan itu semua demi kebaikan sahabatku sendiri.

Sesampainya di Mouse Rabbit Coffee. Ya café milik kekasih Yoong Hoon ini lokasinya tidak jauh dari kampus kami berdua. Kami berdua pun turun dari mobil dan mendapati Yesung yang tengah sibuk dengan para pengunjung yang datang. Saat kami berdua masuk ke dalam café tersebut, Yesung pun mengarahkan matanya ke kami berdua. Mungkin Yesung agak sedikit kaget dengan kedatangan kami berdua. Kami pun duduk dan tak lama Yesung pun menghampiri kami berdua.

“Ada apa lagi kau datang kesini? Kau tidak lihat aku sedang sibuk dengan semua pengunjung yang datang?” Sergah Yesung yang tiba-tiba berkata kepada Yoong Hoon dengan nada sinis.

“Maafkan aku oppa. aku bukan bermaksud untuk menganggumu. Aku membawa cake ini untukmu. Anggap saja sebagai tanda permintaan maafku oppa. aku mohon kau mau menerimanya dan memaafkan aku juga. aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Yoong Hoon merasa dirinya sangat bersalah. Ia menundukkan kepalanya sambil memberikan cake untuk Yesung.

”Hmm… Baiklah. Aku memaafkanmu dan aku akan menerima pemberianmu ini. terima kasih sebelumnya. Aku kembali ke meja kasir dulu, kalian berdua tunggu saja disini.” Yesung mulai menyadari keberadaanku. Mungkin karena ia sempat melirik ke arahku tadi.

Yesung pun meninggalkan kami berdua. Yoong Hoon pun duduk dengan lemasnya. Memang Yesung sudah memaafkannya tetapi mungkin Yoong Hoon masih merasa tidak enak hati apalagi sempat melihat raut wajah Yesung yang masih begitu sinis kepadanya. aku pun merangkulnya. Mencoba menenangkannya sampai akhirnya ia menaruh kepalanya di pundakku. Aku pun mengusap rambutnya. Berusaha membuat dirinya tenang kembali.

Tak sengaja aku melirik kearah meja kasir. Ya tampak terlihat Yesung yang tengah berdiri disana. saat aku melihat kearahnya, tiba-tiba Yesung pun menoleh kearahku. Aku pun kaget lalu kembali membuang muka. Sempat aku melirik sejenak, ternyata Yesung masih saja menatapku. Tatapannya begitu dalam.padahal ia tengah sibuk tapi masih sempat-sempatnya menatapku seperti itu. dan saat Yesung pun menatapku dalam, ia pun mengeluarkan senyum manisnya lalu mengedipkan mata kearahku. Lelaki ini memang aneh! Ia tidak melihat kalau kekasihnya sedang gundah gulana? Dasar lelaki mata keranjang!

Cukup lama kami menunggunya. Dan akhirnya Yesung menghampiri kami kembali. Lalu Yesung pun duduk di sebelah Yoong Hoon. Yesung melihat raut wajah Yoong Hoon yang begitu gelisah. Yesung pun merangkul Yoong Hoon erat.

Waeyo Chagi? Aku kan sudah memaafkanmu. Kenapa raut wajahmu masih tampak sedih seperti itu? apa kau menungguku terlalu lama?” Yesung pun mengelus pipi Yoong Hoon membuat Yoong Hoon tampak tertunduk malu.

“Aku masih merasa bersalah kepadamu. Hmm… sekali lagi maafkan aku oppa. aku janji tidak akan mengulanginya. Aku tau aku salah dan aku harap semoga kau tidak marah lagi kepadaku oppa. aku sangat menyayangimu.” Begitulah ungkapan hati Yoong Hoon yang diungkapkan sendiri oleh Yesung. Yoong Hoon pun memeluk kekasihnya itu dengan sangat erat.

“Hey sudahlah… jangan diungkit kembali. Aku sudah memaafkanmu, Chagi. Jangan sedih lagi ya. Asal kau tidak mengulanginya lagi, aku juga tidak akan marah kepadamu. Lihat! Sudah berapa lama kau tidak menghiraukan temanmu itu. temanmu hanya bisa melihatimu saja yang sedang merenung. Kau tidak melihatnya?”

“Ah! Mianhae Ji Hyun. aku tidak bermaksud untuk tidak menghiraukanmu. Hmm… oppa, aku belum sempat memperkenalkan temanku ini kepadamu. Kenalkan, ini Ji Hyun. sahabatku yang selalu aku ceritakan kepadamu.” Yoong Hoon memperkenalkan aku kepada Yesung. Yang ku lihat, Yesung sedari tadi sudah menatapku lama.

Aku dan Yesung pun saling berjabat tangan. Jabat tangan Yesung sangat lama mengenggam tanganku. Ia pun tersenyum antusias kepadaku, begitu juga denganku.

“Yesung Imnida. Senang berkenalan denganmu.”

“Ji Hyun Imnida.” Aku pun langsung melepaskan jabat tangannya itu sebelum terjadi sesuatu di luar dugaan.

Beberapa waktu yang lama kami habiskan untuk mengobrol di café Yesung ini sambil ditemani dengan masing-masing segelas ice coffee dan beberapa piring roti bakar keju hangat. kami bertiga layaknya seorang yang sudah lama tak kunjung bertemu. Tapi terkadang aku juga melihat kemesraan yang terjalin antara Yesung dan Yoong Hoon. aku senang kalau melihat mereka sudah akur kembali.

Dan akhirnya, aku dan Yoong Hoon pun memutuskan untuk pulang. Terlihat dari luar, kalau hari sudah semakin gelap. Kami berdua pun berpamitan kepada Yesung.

“Oppa, kami berdua pulang dulu. Kalau ada waktu senggang lagi kami akan datang lagi kesini. Dan aku juga belum sempat memperkenalkanmu kepada temanku yang lain. hari ini aku cukup senang bisa menghabiskan waktu kepadamu. Dan juga dengan sahabatku, Ji Hyun.” kata Yoong Hoon sambil ia melirik kepadaku lalu merangkulku. Ia sepertinya tidak merasa terganggu dengan keberadaanku yang mungkin terlihat sebagai orang ketiga dalam kemesraan mereka tadi.

“Baiklah, kalian berdua hati-hati di jalan ya. Apa sebaiknya kalau aku mengantar kalian berdua sampai rumah. Ini juga sudah larut malam.”

“Tidak perlu, Oppa. aku masih bisa untuk menyetir sendiri kok. Lagipula aku juga tidak mau merepotkanmu. Kau pasti sangat lelah karena seharian ini harus melayani pengunjung café. Aku ingin kau istirahat saja dirumah. Kita bisa kok pulang sendiri.” bantah Yoong Hoon.

Lalu aku dan Yoong Hoon pun keluar dari café tersebut dan ditemani juga dengan Yesung. Saat kami sudah didalam mobil, Yoong Hoon pun melambaikan tangannya kearah Yesung dan aku lebih memilih untuk diam dan hanya sedikit tersenyum kearah Yesung lalu menutup kaca mobil.

Di perjalanan, Yoong Hoon tampak senang. Terlihat dari raut wajahnya yang berseri-seri. Memang sewajarnya seperti itu, itu semua karena setelah seharian ini bertemu dengan kekasihnya yang sangat ia sayang itu.

“Hari ini aku senang sekali, Ji Hyun. aku bisa kembali mesra dengan Yesung. Terima kasih banyak Ji Hyun kau telah menemaniku seharian ini. aku merasa tenang hari ini. Yesung sudah memaafkanku dan itu semua berkatmu juga Ji Hyun.”

“Itu semua karena aku, Yoong Hoon? Hmm… itu semua kan karena niat baikmu, bukan semata-mata berkatku juga. memangnya kau merasa tidak nyaman dengan keberadaanku tadi? aku kan telah menganggu kemesraan kalian berdua.”

“Kau jangan merasa seperti itu, Ji Hyun. aku justru sama sekali tidak merasakan hal seperti itu. aku malah senang dengan keberadaanmu. Kau ini sahabatku, Ji Hyun. kau orang yang paling aku kenal lama jadi tidak mungkin aku merasa begitu. Aku malah berterima kasih karena kau sudah menemaniku seharian ini.”

“Sama-sama Yoong Hoon. aku ini sahabatmu jadi wajar saja kalau aku akan siap membantumu kapanpun yang kamu mau. Aku senang melihat kemesraan kalian berdua. Kau harus pertahankan hubungan kalian berdua!”

Yoong Hoon hanya mengangguk dengan semangatnya, tanda ia pasti akan mempertahankan hubungannya dengan Yesung. Dan ia pun tersenyum antusias kepadaku.

Mobil Yoong Hoon berhenti didepan rumahku. Aku pun keluar dari mobil lalu mengucapkan terima kasih kepada Yoong Hoon lalu masuk ke dalam rumah.

Hari ini aku bisa mengambil pelajaran yang bisa aku lihat sendiri tadi, konflik itu pasti ada dalam suatu hubungan entah pacaran ataupun bersahabat. Tapi bagaimana caranya kita bisa melupakan konflik itu lalu mencoba memperbaiki semuanya dari awal. Dengan begitu konflik yang awalnya dimulai dengan kesedihan tapi bisa berakhir dengan moment manis. Itu suatu hal yang indah dalam hidup kita.

        *****

Inha University, 07.30 KST, Yoong Hoon POV.

Sejujurnya aku masih lelah. Rasa-rasanya aku masih ingin bersantai ria di tempat tidur dan memimpikan Yesung. Tapi karena aku ada jadwal kuliah pagi, aku harus datang ke kampus sepagi ini. inilah resiko mahasiswi, jadwalnya pun tidak menentu. Beda saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Aku pun memasuki ruang kelas yang masih cukup sepi. Hanya segelintir orang yang baru datang. Aku pun duduk sambil menunggu Ji Hyun dan Hyun Ra.

“Sudah jam berapa ini? mereka belum datang juga. apa mereka masih bersantai di rumah? Kapan sih mereka itu bisa datang tepat waktu.”aku pun menggerutu didalam hatiku. Memang kebiasaan Ji Hyun dan Hyun Ra setiap ke kampus, selalu datang terlambat dan jarang sekali untuk datang tepat waktu.

Annyeong~ maaf aku datang terlambat. Tapi kok masih sepi kelas ini? apa dosen kita tidak masuk hari ini?” Hyun Ra memasuki kelas sendirian. Lalu kemana Ji Hyun? apa ia tidak masuk pagi ini.

“Kemana Ji Hyun? kenapa ia tidak datang bersamamu? Bukannya kalian selalu datang bersamaan kalau ke kampus.”

“Aku pergi bersama Ji Hyun tadi. tapi ia tadi sedang mengurusi mobilnya itu. yang ku lihat, mobilnya sedang bermasalah. Entahlah aku juga tidak mengerti. Mangkanya aku datang duluan ke kelas.” Hyun Ra pun menjelaskan semuanya.

 *****

Lalu di sisi lain, Ji Hyun masih mengurusi mobilnya itu. ia masih mengecek mesin-mesin mobilnya apa ada yang rusak atau tidak. Padahal baru beberapa hari yang lalu, mobilnya dibawa ke bengkel tapi kenapa masih bermasalah saja. Ji Hyun hampir kesal dibuatnya.

“Aaarrggghh~ kalau caranya begini, lebih baik aku tidak akan membawa mobil rusak ini ke kampus. Merepotkanku saja!” Ji Hyun merasa hari ini adalah hari kesialannya. Ia sedikit menyesal telah membawa mobilnya ke kampus. Ia tidak tau lagi harus berbuat apa. Sampai akhirnya ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. Dan ia adalah Yesung, kekasih dari Yoong Hoon.

“Ada apa dengan mobilmu? Mungkin aku bisa membantunya?”

“Yesung Oppa? kenapa kau ada disini? Emm… mobilku sedikit bermasalah. Dan aku juga harus masuk kelas sekarang. aku bingung mau aku apakan mobil ini supaya bisa normal kembali. Mana bengkel didekat sini tidak ada pula.”

“Kau tidak perlu membawanya ke bengkel. Lebih baik kau masuk ke kelas saja sekarang. biar mobilmu, aku yang urus. Oh iya sebelumnya apa aku boleh meminta nomor ponselmu, biar kalau semuanya sudah selesai aku bisa menghubungimu.”

“Kau serius mau membantuku? Hmm… baiklah ini nomor ponselku, kalau sudah selesai kau bisa menghubungiku. Kalau bisa semuanya sudah selesai sebelum aku selesai kuliah. Sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Maaf oppa kalau aku merepotkanmu. Ngomong-ngomong kenapa kau bisa ada disini? Kau kuliah disini juga? atau mau bertemu dengan Yoong Hoon?” aku pun memberikan secarik kertas yang melampirkan nomor ponselku kepada Yesung. Aneh! Kenapa ia bisa ada disini.

“Aku kesini bukan untuk menemui Yoong Hoon tapi kebetulan aku mengantar adikku, Jong Jin ke kampus dan kebetulan ia kuliah disini juga. dan ternyata aku menemuimu berada disini. Aku baru ingat kalau kau kuliah disini juga bersama Yoong Hoon. lebih baik kau segera masuk ke kelas. kau tidak perlu khawatir lagi dengan mobilmu.” Ujar Yesung.

“Terima kasih banyak oppa kau mau membantuku. Aku langsung masuk ke kelas dulu ya. Kalau ada apa-apa segera hubungiku!” aku pun tersenyum kepada Yesung lalu membungkukkan badanku sebelum aku pergi meninggalkannya

“Kenapa kau masuk kelas terlambat, Ji Hyun? darimana saja kau ini?” baru saja aku masuk kelas dan duduk, Yoong Hoon pun langsung mendekatiku dan menginterogasi bermacam-macam pertanyaan kepadaku sampai aku bingung mau menjawab pertanyaan yang mana.

“Mobilku sedang bermasalah. Tapi untung saja ada…….??? Ada temanku dari fakultas lain yang ingin membantuku, Yoong Hoon. kebetulan ia belum ada kelas pagi ini jadi ia membawa mobilku ke bengkel.” Hampir saja aku mengatakan kalau orang yang membantuku itu adalah Yesung oppa. kalau Yoong Hoon sampai tau, mungkin ia akan sedikit merasa curiga.

“Hmm gitu… syukurlah kalau ada teman yang mau membantumu.” Yoong Hoon hanya mengangguk setelah mendengar jawabanku tadi.

Maafkan aku Yoong Hoon, aku tidak bermaksud untuk tidak jujur padamu. Aku tidak mau kalau kau sampai punya rasa curiga denganku atau dengan Yesung. Mungkin ini untuk terakhir kalinya aku tidak jujur kepadamu dan untuk selanjutnya, aku mungkin tidak akan membohongimu lagi.

       *****

Yesung’s Apartement, 14.00 KST, Yesung POV.

-3 Minggu Kemudian-

Aku teringat dengan pertemuanku dan Ji Hyun beberapa minggu yang lalu. Pertemuan yang tidak disengaja itu membuat aku makin merasa terpesona dengan sikap Ji Hyun kepadaku. Jujur saja, aku sudah mulai mengagumi Ji Hyun semenjak ia datang ke Mouse Rabbit bersama Yoong Hoon. dan aku kembali bertemu dengannya saat di Inha University. Sikapnya yang dingin membuat aku semakin penasaran untuk mendekatinya.

Flashback~

“Sebelumnya terima kasih oppa kau telah membantuku. aku sangat merasa merepotkanmu. Emm… sebagai tanda terima kasihku, aku akan mentraktirmu makan siang. Nanti aku akan mengajak Yoong Hoon dan Hyun Ra juga. bagaimana apa kau mau?”

“Hmm…Bagaimana kalau aku mengajakmu makan malam. tapi yang aku ingin, kau hanya datang sendiri tanpa ditemani dengan Yoong Hoon. kalau kau mau, mungkin sekitar 3 minggu lagi aku akan menghubungimu kembali. Minggu-minggu ini, aku sedang sibuk dengan café ku dan aku paling banyak meng-handle Mouse Rabbit. Itu juga kalau kau bersedia.”

“Emm…Akan aku usahakan oppa, kabari aku kembali 3 minggu lagi. Mungkin aku akan meluangkan waktuku. Tapi apa aku tidak boleh mengajak Yoong Hoon juga? dia kan kekasihmu oppa.”

“Kau tidak perlu takut, aku sudah bilang dengan Yoong Hoon dan untungnya dia mengizinkannya. Aku akan mengabarimu 3 minggu lagi, aku harap kau mau memenuhi permintaanku.”

“Baik oppa, akan aku usahakan!”

Flashback END~

Aku teringat dengan obrolanku bersama Ji Hyun beberapa minggu yang lalu lewat telefon. Dan ini sudah masuk minggu yang ke-3 dan janjiku akan segera menghubungi Ji Hyun hari ini. entah ia masih mengingatnya atau tidak tapi aku tetap ingin menghubunginya dan menagih janjiku kepadanya. ku ambil ponselku lalu menghubungi Ji Hyun.

“Yeoboseyo, Yesung oppa.  ada apa?” Ji Hyun pun mengangkat panggilan telfonku.

“Aku hanya ingin menagih janjiku beberapa minggu yang lalu. Apa kau ingat kalau minggu ini aku akan mengajakmu makan malam berdua?” aku mencoba untuk mengingatkan Ji Hyun dengan janjinya beberapa waktu yang lalu.

“Hmm ne~ aku masih mengingatnya oppa. dan aku akan melakukan itu tapi semata-mata aku melakukan ini semua, karena aku merasa telah direpotkan olehmu. Dan aku harap permintaanmu ini menjadi permintaanmu yang terakhir kalinya.”

“Terima kasih karena kau mau makan malam denganku. Anggap saja malam ini kau akan mentraktirku bukan? Kita bertemu nanti jam 7 malam di depan café ku yaa. Tenang saja, kita tidak akan makan malam di café ku, tapi aku akan mengajakmu ke tempat lain. bagaimana?”

“Baiklah. Jam 7 malam aku sudah berada didepan café mu itu. Annyeong!” Ji Hyun pun dengan sigap memutuskan panggilan telfonnya. Terdengar dari nada suaranya, cukup sinis.

            *****

Mouse Rabbit Café, 19.00 KST, Ji Hyun POV.

Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. aku bergegas pergi ke café milik Yesung sekarang. Yoong Hoon dan Hyun Ra sama sekali tidak mengetahui kalau hari ini aku punya janji dengan seseorang. Aku pun juga tidak bercerita sebelumnya kepada mereka. Apalagi Yoong Hoon, aku tidak tau bagaimana perasaannya kalau mendengar aku diajak makan malam dengan kekasihnya sendiri. mungkin Yoong Hoon aku menangis berhari-hari.

Dengan langkah yang tergesa-gesa, aku berjalan menuju café Mouse Rabbit. Aku takut kalau Yesung sudah menungguku terlalu lama. Kebetulan jarak dari rumahku ke café Mouse Rabbit tidak terlalu jauh jadi aku paksakan diri untuk berjalan kaki saja. dan tak lama aku pun telah sampai didepan café Mouse Rabbit dan terlihat seorang lelaki yang berdiri didepan café. Siapa lagi kalau bukan Yesung.

“Annyeong Oppa. Maaf kalau aku terlambat. Apa kau menunggu lama disini?” dengan nafas yang masih tersengal-sengal, aku pun meminta maaf kepada Yesung. Aku tau kalau Yesung pasti sudah menunggu ku lama disini.

Gwaenchanhayo Ji Hyun. aku juga baru saja keluar dari café. Beberapa saat tadi, aku mengobrol dengan Eomma ku yang berada didalam café. Baiklah lebih baik kita jalan sekarang saja.  Emm… mau aku gandeng?” ujar Yesung sambil mengulurkan tangannya kepadaku. Lelaki macam apa ini? jelas-jelas dia sudah mempunyai kekasih tapi masih saja tebar pesona dengan wanita lain.

“Tidak perlu oppa, aku ini bukan kekasihmu! Jangan mentang-mentang karena aku ingin makan malam denganmu jadi kau bisa menganggapku seperti kekasihmu saja. aku masih bisa jalan sendiri!” aku pun berjalan meninggalkan Yesung. Seenaknya saja menganggapku seperti orang yang spesial di matanya. Dia pikir, aku bisa terjerat dengan perangkapnya. Jangan harap aku bisa menyukainya lebih lanjut.

Yesung mengajakku ke suatu tempat. jujur, ia sangat berlebihan. Bayangkan saja, mataku ditutup dengan syal miliknya hanya karena ia ingin memberikan kejutan kepadaku. Tuhan, kenapa aku mau saja menerima permintaan Yesung ini. kalau aku tidak minta bantuannya waktu itu, mungkin aku tidak akan merasakan seperti ini. apalagi bersama kekasih sahabatku sendiri.

“Hey! Aku ingin dibawa kemana? Kenapa mataku harus ditutup seperti ini? kau mau membawaku ke jurang?” aku pun mulai berbicara sinis kepada Yesung. Jujur, aku merasa kesal.

“Tenang. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang menyeramkan. Kita kan ingin makan malam. yang pasti setelah kau buka matamu nanti, jangan salahkan aku kalau kau akan terpukau dengan kejutanku. Sudahlah jangan banyak bicara! Arraseo?” Yesung membantuku untuk berjalan langkah demi langkah. Dan tak lama, aku diberhentikan sejenak oleh Yesung. Atau mungkin sudah sampai ke tempat yang dituju oleh Yesung.

Perlahan, Yesung membuka ikatan syal nya yang menutup kedua mataku. Sampai Yesung menyuruhku untuk membuka mataku sedikt demi sedikit. Dan saat aku membuka mata, aku melihat pemandangan yang cukup indah dilihat tepat dihadapanku. Hiasan dekorasi tempat yang cukup indah ditambah dengan beberapa pemain biola yang sudah siap memainkan alat musik mereka itu.

“Ini terlalu berlebihan! Kita kan hanya makan malam saja. kenapa kita tidak pergi ke restoran atau café mungkin. Kenapa kita makan malam di taman seperti ini? aku paling sangat tidak suka dengan hal-hal yang berlebihan!”

“Sudahlah jangan banyak bicara! Kau tau, aku ini melakukan ini semua semata-mata kupersembahkan untukmu. Walaupun aku baru mengenalmu, tapi entah kenapa sejak pertama ku melihatmu, aku mulai terpukau akan pesonamu.” Perkataan macam apa itu? Yesung tiba-tiba berubah menjadi sosok seorang yang dramatis. Ia mengenggam tanganku. Taman ini cukup ramai dikunjungi oleh banyak orang, dan sepertinya pandangan orang-orang itu telah tertuju kepada kami berdua.

“Oppa kau bicara apa tadi? tidak seharusnya kau berkata seperti itu! kau tidak sadar kalau kau sudah mempunyai kekasih? Segera sadar oppa, aku tau ini bukan dirimu sebenarnya.” Aku pun mencoba menyadarkannya. Dan tanpa aku sadar, aku telah melayangkan tanganku ke wajah Yesung.

“Tampar sekali lagi, Ji Hyun! kau tau, dengan tamparanmu ini bukan berarti aku akan membencimu begitu saja. dan inilah aku yang sebenarnya. Aku yang mulai mencintaimu dengan setulus hatiku, kau tau itu?” begitu ucapan Yesung sambil memegangi pipinya yang sedari tadi telah aku tampar.

“Cukup oppa! jangan berkata seperti itu lagi. Ingat! Kita ini baru saja kenal tapi bisa-bisanya kau jatuh cinta kepadaku. Selama ini kau anggap Yoong Hoon di matamu, Ha? Aku tau semua kelakuan busukmu itu dari Yoong Hoon jadi tidak mungkin aku bisa menerimamu begitu saja. camkan itu!”

Setelah menatapku cukup lama, Yesung pun seketika memelukku. Pelukannya begitu erat. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang telah memandangi kami sedari tadi. suasana taman pun semakin ramai dikunjungi. aku tidak tau bagaimana caranya supaya mereka semua bisa pergi dari tempat ini. aku hanya bisa terdiam karena dipeluk oleh Yesung.

Saat tatapan pengunjung terarah kepada kami berdua, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari jauh. Jujur di saat itu, aku belum juga melepas pelukan Yesung kepadaku. Saat aku mendengar suara teriakan yang berhasil ku dengar itu, dan aku mencari arah suara itu aku pun kaget. Yang aku lihat seseorang dari kejauhan itu ialah Yoong Hoon dan Hyun Ra. Aku pun langsung melepaskan pelukan Yesung secara paksa.

“JI HYUUNN !!! KENAPA KAU TEGA MELAKUKAN INI SEMUA KEPADAKU. APA MAKSUD DARI SEMUA INI ???” Yoong Hoon pun berteriak dari jauh. Dan secara tidak langsung, Yesung pun menengok kearah Yoong Hoon yang sedang berteriak itu.

“Yoong Hoon, aku bisa jelaskan ini semua. Ini semua salah paham. Aku tidak seburuk apa yang kau pikirkan.” Aku pun langsung berlari menghampiri Yoong Hoon dan Hyun Ra.

“Kau pikir ini semua salah paham? Semuanya sudah jelas kan? Aku tidak menyangka ya selama ini kepadamu, ternyata diam-diam kalian berhubungan di belakangku. Sekarang kau bukan sahabatku lagi melainkan sebagai seorang PENGKHIANAT, kau tau itu?” Yoong Hoon pun pergi meninggalkanku tetapi Hyun Ra masih saja berdiri di hadapanku.

“Hyun Ra bantu aku. Ini semua hanya salah paham. aku sama sekali tidak menjalin hubungan lebih dengan Yesung. Aku pun juga tidak menyukai Yesung sama sekali. Ini semua hanya scenario Yesung saja, Hyun Ra. Kau harus percaya itu.” aku pun memohon kepada Hyun Ra agar ia tidak mempunyai pikiran yang sama seperti Yoong Hoon.

“Aku juga bingung, Ji Hyun. sudah ya, jangan terlalu dipikirkan. Yoong Hoon itu hanya emosi saja. bukan berarti Yoong Hoon tidak menganggapmu sahabat lagi. Aku harus pergi menemui Yoong Hoon dulu. Aku harus menenangkannya.” Hyun Ra pun lama kelamaan pergi meninggalkanku juga. tak lama Yesung pun menghampiriku dari belakang.

“Maafkan aku, Ji Hyun. benar apa katamu, aku itu berlebihan melakukan hal seperti ini. tapi aku memang tidak bisa memungkirinya, aku memang jatuh cinta kepadamu. Apa aku salah?”

“Sudahlah oppa. jangan terlalu memperkeruh masalah. Aku sudah tidak mau menemuimu lagi. Aku sangat amat menyesal telah menerima permintaanmu ini. resikonya cukup besar untuk dihadapi.” Aku pun pergi meninggalkan Yesung sendiri. tak peduli Yesung berkata apa lagi.

~~~~~~

Hyun Ra menemui Yoong Hoon yang masih terdiam sambil menitikkan air mata didalam mobil. Hyun Ra hanya bisa membawa Yoong Hoon kedalam pelukannya. Ia berusaha untuk menenangkannya.

“Yoong Hoon, aku mengerti dengan perasaanmu saat ini. tapi pasti ini semua tidak seperti apa yang kau pikirkan. Kau sudah mengenali Ji Hyun sudah lama dan kami sudah bersahabat lama. Jadi tidak mungkin kalau Ji Hyun mengkhianatimu, Yoong Hoon.”

“Tapi aku masih tidak menyangka dengan semua ini. kenapa mereka berpelukan didepan orang banyak. dan sepertinya mereka mau makan malam. coba? Apa lagi yang masih dibilang salah paham. semuanya sudah jelas.”

Hyun Ra hanya diam tidak merespon perkataan Yoong Hoon. Hyun Ra hanya ingin menjadi penengah bukan untuk membela siapa-siapa.

Sementara itu, Ji Hyun pergi ke rumah Yoong Hoon. ia menunggu kedatangan Yoong Hoon yang mungkin sebentar lagi akan pulang. Ia menunggu didepan gerbang rumah Yoong Hoon. dan tak lama, mobil Yoong Hoon pun datang. Yoong Hoon pun keluar dari mobil dan melihat Ji Hyun yang berdiri didepan rumahnya.

“Untuk apa lagi kau kesini? Mau menjelaskan apa? Mau bilang kalau kau dan Yesung punya hubungan spesial? Kau tidak perlu berkata hal itu lagi karena aku sudah tau semuanya.”

“Aku tidak sama sekali punya hubungan dengan Yesung. Aku hanya diajak makan malam dengannya. Itu karena waktu itu, Yesung telah banyak membantu saat mobilku sedang bermasalah. Aku hanya ingin balas budi saja kepadanya, tidak ada maksud lain.”

“Aku tidak akan pernah mau percaya lagi kepadamu. Lebih baik kau menjauh dari kehidupanku karena sampai kapanpun aku tidak akan mau mendengar perkataanmu lagi. Kau hanya membuang waktumu saja disini.” Yoong Hoon benar-benar pergi meninggalkan Ji Hyun dan tidak mau memperdulikannya lagi.

“Yoong Hoon ku mohon kau jangan berpikiran seperti itu. maafkan aku Yoong Hoon. aku sangat merasa bersalah padamu. Aku tidak mau sampai persahabatan kita hancur hanya karena masalah ini saja Yoong Hoon.” Air mata Ji Hyun sudah sangat deras dan sudah tidak bisa ditahan lagi.

“Persahabatan ini tidak akan hancur kalau kau tidak melakukan semua ini, Ji Hyun. ingat ya! Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini. tidak semua sahabat itu bisa baik kepada kita selamanya. Lebih baik kau cari sahabat lain saja yang bisa kau sakiti SESUKA HATIMU !”

Ji Hyun sudah tidak tau harus berbuat apa lagi. Ia hanya bisa terdiam melihati Yoong Hoon yang mulai pergi menjauhi Ji Hyun. air mata Ji Hyun masih saja membasahi pipinya. Dan tak lama…….

“Yoong Hoon, ini semua bukan kesalahan Ji Hyun. semua ini memang salah paham. setidaknya kau bisa kan mendengarkan penjelasan Ji Hyun terlebih dahulu. Aku paling tidak suka dengan perempuan yang hanya memikirkan dirinya sendiri saja! apalagi wanita itu adalah kekasihku sendiri!” Yesung pun datang dan mencoba menahan Yoong Hoon untuk pergi. dan Yoong Hoon perlahan menghentikan langkahnya sejenak lalu menengok kearah mereka.

“Untuk apa kau datang lagi oppa? sudah puas kan selama ini membuatku tersiksa? Dan sekarang kau lebih menyiksaku kembali! Apa kau tidak merasakan bagaimana rasa sakitnya DIKHIANATI OLEH KALIAN BERDUA !”

“Aku kesini hanya ingin menjelaskan semuanya. aku ingin jujur padamu, Yoong Hoon. kejadian tadi sebenarnya adalah kesalahanku. Aku yang mengajak Ji Hyun untuk makan malam di taman tadi. aku yang membuat semua ini menjadi kacau, Yoong Hoon. termasuk aku telah menyakitimu. Maafkan aku.” Yesung hanya menundukkan kepalanya mengakui kesalahannya.

“Dengar ya oppa, aku tetap marah kepada kalian berdua. Karena salahnya Ji Hyun, ia mau saja menerima permintaanmu yang bodoh itu. sudah ya, aku sudah muak dengan semua ini. lebih baik kalian pergi, PERGI DARI KEHIDUPANKU SELAMANYA !” Yoong Hoon benar-benar pergi.

“Kau lihat sendiri kan? Semua perkataanmu itu tidak sama sekali membuat masalah ini selesai. Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai persahabatanku benar-benar hancur dan Yoong Hoon sudah tidak mau memaafkan aku lagi. Ingat itu!” Ji Hyun pun pergi meninggalkan Yesung.

Malam itu menjadi malam yang paling buruk diantara Ji Hyun dan Yoong Hoon.

            *****

Kediaman Yoong Hoon, 00.00 KST, Yoong Hoon POV.

Aku masih berada didalam kamarku dan masih terisak mengingat kejadian tadi. aku tidak menyangka kalau selama ini diam-diam Ji Hyun, sahabatku sendiri telah mempunyai hubungan dengan Yesung tanpa sepengetahuanku. Entah aku masih percaya dengan Ji Hyun atau tidak? Atau memang benar kalau semua ini hanya salah paham.

 Aku pun mengambil album foto yang berada di laci. Album foto yang berisi foto-fotoku dengan sahabat-sahabatku, termasuk dengan Ji Hyun. bahkan foto Ji Hyun-lah yang lebih banyak berada didalam album foto ini. entah kenapa aku merasa sakit melihat wajah Ji Hyun di foto ini. air mataku pun makin membasahi pipiku. Dan kini makin mengalir deras. Aku mengambil foto tersebut lalu merobeknya kasar. Dan foto wajah Ji Hyun pada saat berfoto denganku dan Hyun Ra pun kusobek juga. dan aku melihat bingkai foto yang terpampang di meja belajarku, itu fotoku bersama Ji Hyun tetapi foto pemberian ulang tahunku dari Ji Hyun. ia sengaja mengedit foto itu lalu ditempatkan dalam sebuah bingkai kaca. Aku mengambilnya dan tanpa pikir panjang aku melemparnya ke tembok sampai figura foto itu pecah berkeping-keping. Kenapa semuanya berakhir sesedih ini? aku lebih baik melihat Yesung berselingkuh dengan perempuan lain ketimbang aku harus melihat Yesung berselingkuh dengan sahabatku sendiri.

“Aku tidak menyangka kau setega ini kepadaku, Ji Hyun. kenapa kau ambil Yesung dariku? Kenapa kau tidak bilang kepadaku dari awal kalau kau benar-benar menyukai Yesung. Aku sakit Ji Hyun, aku sakit!!!” aku menjambak rambutku sendiri. ini bukanlah mimpi, tapi ini kenyataan yang sebenarnya yang sedang ku hadapi saat ini.

Aku mencoba membaringkan tubuhku ke tempat tidur. Rasa-rasanya saat aku bangun dari tidurku nanti, aku ingin melupakan semuanya. melupakan Yesung terutama Ji Hyun. aku masih sayang dengan Yesung, tetapi apakah aku masih harus mengharapkan dia lebih jauh lagi? Sudahlah lebih baik aku tidur. Aku tidak mau terlalu larut dalam masalah ini.

               *****

Keesokan harinya, seperti biasa. Ji Hyun memulai aktivitasnya pergi kuliah karena kebetulan hari ini, ia punya jadwal kuliah di siang hari. Ia juga berencana ingin kembali menemui Yoong Hoon. sebelum pergi ke kampus, terlebih dahulu Ji Hyun pergi ke toko kue. Ia bermaksud untuk membeli pancake kesukaan Yoong Hoon. semoga saja hari ini Yoong Hoon sudah mereda emosinya.

Ia nampak sedikit terburu-buru karena ia juga mengejar jam kuliahnya. Setelah ia ke toko kue, ia langsung bergegas ke kampus. Saat dalam perjalanan ke kampus, ponsel Ji Hyun pun berdering.

Yeoboseyo~ dengan siapa aku bicara?” Ji Hyun tidak tau siapa yang menghubunginya. Karena nomor yang tertera tidak mencantumkan nama.

“Aku…. Yesung, Ji Hyun. maaf kalau aku masih menganggumu. Aku tau kalian sedang bertengkar dan itu semua karena ulahku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kalian berdua.”

“Tidak perlu Oppa. tidak perlu kau usik lagi kehidupanku. aku sudah tidak tega melihat Yoong Hoon yang merasa dikhianati olehku. Kau tidak perlu mencampuri urusanku, biar aku sendiri yang menyelesaikannya. Lebih baik kau minta maaf dengan Yoong Hoon atas apa yang telah kau perbuat.” Tanpa pikir panjang, Ji Hyun memutuskan panggilan telfonnya. Jujur, ia masih tidak mau diganggu lagi oleh Yesung.

Yesung hanya terperangah mendengar panggilan telfonnya terputus. Tapi Yesung tidak menyerah begitu saja. bagaimana caranya, Ji Hyun dan Yoong Hoon harus segera akur kembali. Yesung pun pergi ke kampus Yoong Hoon bermaksud untuk menemuinya.

Sampailah Ji Hyun di kampusnya, dan untung saja ia tidak terlambat karena saat ia masuk ke kelas dengan tergesa-gesa terlihat hanya segelintir orang yang baru datang dan Songsaenim pun belum terlihat batang hidungnya. Ji Hyun melihat Hyun Ra yang sudah duduk manis di tempat duduknya tapi ia hanya sendirian disana. Ji Hyun pun menghampirinya.

“Hyun Ra, kenapa Yoong Hoon belum datang juga? apa hari ini ia terlambat. Beberapa menit lagi Songsaenim pasti akan masuk ke kelas. apa ia tidak takut dimarahi oleh Songsaenim?”

“Hari ini ia tidak masuk. Tadi pagi ia menghubungiku dan bilang kalau beberapa hari ini mungkin ia tidak akan masuk kuliah.” Ujar Hyun Ra dengan nada bicara yang datar. Ia terlihat seperti orang yang merasa kecewa terhadap Ji Hyun.

Ji Hyun hanya diam mendengar perkataan Hyun Ra. Nampaknya Ji Hyun mengerti kenapa Yoong Hoon melakukan hal seperti itu. Yoong Hoon masih merasa dikecewakan oleh sahabatnya sendiri. Ji Hyun tidak akan menyerah untuk mencari jalan keluar bagaimana caranya supaya Yoong Hoon bisa kembali dengan Ji Hyun.

SELESAI PERKULIAHAN~

Ji Hyun berlari keluar kelas, ia tampak tergesa-gesa sampai meninggalkan Hyun Ra yang masih belum keluar dari kelasnya. Hyun Ra melihat Ji Hyun yang pergi begitu saja tanpa menyapanya sama sekali. Sampai akhirnya Hyun Ra mengejar Ji Hyun, dan mendapati Ji Hyun yang sudah naik ke mobil. Hyun Ra pun memberhentikan taksi dan berusaha mengikuti kemana Ji Hyun pergi. sebenarnya ada apa dengan Ji Hyun? jangan sampai ada hal yang buruk yang akan menimpa sahabatnya itu.

Ji Hyun memberhentikan mobilnya didepan rumah Yoong Hoon. ia baru saja ingat kalau tadi sebelum berangkat kuliah, terlebih dahulu ia membeli kue untuk Yoong Hoon. semoga saja usahanya kali ini benar-benar akan berhasil. Ji Hyun akan melakukan apapun jika memang pada akhirnya akan membuat Yoong Hoon bahagia nantinya.

Sebelumnya, Ji Hyun sudah mengirim pesan singkat untuk Yesung agar Yesung mau datang ke rumah Yoong Hoon untuk menyelesaikan semua masalah ini secara baik-baik. Dan syukurlah Yesung pun mau untuk datang kerumah Yoong Hoon.

TOOKK…TOOKK…TOOKK~

Nugu~??” suara Yoong Hoon dari dalam rumah,dan tak lama Yoong Hoon pun membukakan pintunya. Betapa terkejutnya ia, melihat Ji Hyun yang berdiri di hadapannya dengan membawa makanan kesukaannya, Pancake.

Annyeong Hasseyo~ Yoong Hoon~ah… kenapa kau tidak datang ke kampus hari ini? Oh iya, aku bawakan pancake ini untukmu. Semoga kau mau menerimanya.” Nada bicara Ji Hyun tampak halus saat itu sambil memberikan pancake kepada Yoong Hoon.

“Masih sempat-sempatnya seorang pengkhianat menginjak rumahku ini? kau itu sudah tidak punya malu? Masih saja menginjak rumahku dengan semua pengkhianatan yang kau beri kepadaku! Aku juga tidak butuh dengan pemberianmu itu, ARRASEO???” Seketika Yoong Hoon melempar pancake itu ke lantai. Wajah Yoong Hoon terlihat amat murka, ia tidak segan-segan membuat air mata Ji Hyun sedikit demi sedikit menetes dan membasahi pipinya.

“Maafkan aku Yoong Hoon, Maafkan aku!! Aku tidak punya maksud untuk membuatmu menjadi kecewa padaku seperti ini. ini semua bukan kemauanku Yoong Hoon. aku kesini hanya ingin minta maaf padamu, tidak seharusnya aku menyakiti seorang sahabat yang sangat aku sayangi. Kau tau, aku sangat membutuhkanmu! Kau sahabat terbaikku Yoong Hoon, aku tidak mau kita bertengkar hanya masalah seperti ini saja.” air mata Ji Hyun makin saja deras mengalir. Ia sudah tidak bisa menahan semua air matanya itu.

“Kau pikir ini masalah sepele? BEGITU KATAMU ??? Jujur, aku sangat membenci orang yang TEGA MENGKHIANATIKU !!! APALAGI ORANG ITU ADALAH SAHABATKU SENDIRI !!!” Yoong Hoon hampir ingin melayangkan tangannya ke pipi Ji Hyun tapi ternyata…

“HENTIKAN YOONG HOON!! aku paling tidak suka dengan wanita yang main kekerasan. Apa kau tidak diajarkan oleh orang tuamu apa itu sopan santun, Hmm???” Yesung pun datang disaat Yoong Hoon yang baru saja ingin menampar pipi Ji Hyun. Yoong Hoon yang melihat kedatangan Yesung langsung menurunkan tangannya kembali.

“Bisa kan menyelesaikan semua masalah ini dengan kepala dingin? Tidak seharusnya kau menampar Ji Hyun hanya karena ingin melampiaskan emosimu itu. biar aku yang menyelesaikan semua masalah ini.”

“Tidak perlu Oppa, ini hanya masalahku dengan perempuan ini. kau tidak perlu ikut campur!” Yoong Hoon mengelak kalau Yesung mencampuri urusannya dengan Ji Hyun.

“Kau pikir aku tidak terlibat dengan masalah ini? kalian bertengkar seperti ini, karena PERBUATANKU. Jadi jangan bisa-bisanya kau bilang seperti itu. ini semua hanya salah paham. dan yang perlu harus kau tau, kami tidak punya hubungan apa-apa. Ji Hyun pun juga tidak sama sekali mempunyai perasaan lebih kepadaku. Aku yang telah mempunyai perasaan yang lebih terhadap Ji Hyun. jujur makan malam waktu itu, itu semua karena aku yang telah mengajak Ji Hyun. dan kenapa Ji Hyun setuju dengan ajakanku, itu karena aku sempat membantu Ji Hyun saat mobilnya bermasalah. Ji Hyun semata-mata melakukan itu hanya karena ingin berbalas budi karena aku sempat menolongnya. Jadi tolong, jauhkan semua pikiran-pikiran jelekmu itu.”

“Tapi kenapa kau tiba-tiba mempunyai perasaan yang lebih terhadap Ji Hyun? seharusnya kau bisa sadar akan posisimu sekarang oppa, kau itu sudah mempunyai kekasih. Dan kekasihmu itu adalah AKU ! aku tidak akan melarangmu kenal dengan semua wanita, tapi jangan punya perasaan apapun apalagi terhadap sahabatku sendiri, oppa. sama saja kau membunuhku secara perlahan.” Yoong Hoon juga mulai mengeluarkan sedikit demi sedikit air matanya.

“Kau tau, saat aku melihat Ji Hyun, aku seperti melihat sosok seorang wanita idamanku. Ia berbeda dengan wanita lain. dan saat aku mengenalnya lebih dekat, aku jadi semakin percaya kalau Ji Hyun benar-benar beda dengan wanita lain. ia apa adanya, ia mengerti dengan keadaan siapapun yang ada di dekatnya, ia wanita dewasa. Dan… aku sangat amat menyukai wanita seperti itu. maafkan aku Yoong Hoon kalau perkataanku justru akan menyakitkanmu. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu, tapi memang ini yang sedang aku rasakan.” Penjelasan Yesung mungkin membuat hati Yoong Hoon tercabik-cabik. Bagaimana tidak? Kekasihnya sendiri memuji wanita lain dihadapannya.

“Kau tidak merasakan apa yang aku rasa setelah kau berkata seperti itu? selama ini aku dianggap bukan orang yang terbaik untukmu? Lalu apa perjuanganku sia-sia karena aku setiap menitnya mencoba membuatmu bahagia? APA ITU SEMUA SIA-SIA, OPPA ???” nada bicara Yoong Hoon makin tinggi, emosinya telah memuncak. Mungkin semua darahnya telah naik ke ujung kepala.

“Maafkan aku Yoong Hoon, Aku hanya bisa meminta maaf kepadamu. Aku tau perasaanmu sakit. Tapi kalau aku tidak berkata itu semua, pikiranmu semakin jelek terhadap Ji Hyun. aku tidak mau persahabatan kalian hancur hanya karena ulahku. Yoong Hoon, berhentilah membenci Ji Hyun. selama ini kau menganggap Ji Hyun itu orang yang paling berarti dalam hidupmu, bukan?? Kau kan yang selalu cerita kepadaku kalau Ji Hyun itu sangat istimewa di hatimu. Bahkan kau menganggap Ji Hyun orang paling nomor satu di hatimu dan juga di hidupmu sampai-sampai kau selalu meminta maaf kepadaku hanya karena kau merasa aku itu di nomor duakan olehmu. Begitu Yoong Hoon?”

“Itu DULU OPPA ! sebelum pada akhirnya Ji Hyun menyakitiku, mengkhianatiku! Aku tau pasti perasaan Ji Hyun juga merasakan apa yang sedang kau rasakan. Pasti Ji Hyun juga menyukaimu kan? Tidak mungkin seorang Ji Hyun tidak menyukaimu, apa ia buta? Tidak kan? Kalau kalian sama-sama saling suka, berbahagialah kalian berdua! BERBAHAGIA DI ATAS PENDERITAANKU !!!”

“Aku lebih memilih kau, Yoong Hoon. aku sadar kalau aku sudah mempunyai kekasih. Orang yang selalu menyayangiku, selalu sabar menghadapi semua kekuranganku. Aku tau aku memang menyukai Ji Hyun. tapi aku lebih memilih untuk melanjutkan hubungan kita ini. aku sadar kalau aku hanya mengagumi Ji Hyun, tidak berharap lebih untuk memilikinya. Asal kamu tau, aku juga menyayangimu Yoong Hoon dan itu sepenuh hatiku.” Yoong Hoon yang sebelumnya ingin menutup pintu rumahnya dan meninggalkan Yesung dan Ji Hyun, kini berhenti sejenak karena perkataan Yesung tadi. Yesung juga menyayangi dirinya sepenuh hati.

“Tidak perlu kau merangkai kata-kata indah seperti itu. sekarang, aku tidak akan pernah mau mendengar semua perkataanmu. Perkataanmu itu justru membuat hati aku semakin sakit, oppa. kau dengar itu!!” Yoong Hoon benar-benar meninggalkan mereka berdua setelah tadi sempat tertahan sejenak.

“Sudahlah lebih baik kau pulang saja, Ji Hyun. kau lihat sendiri kan perlakuan sahabatmu itu. lebih baik kau tenangkan dirimu, tidak seharusnya orang sepertimu mendapat perlakuan seperti itu. aku tau, Yoong Hoon hanya emosi untuk saat ini.”

“Aku memang pantas mendapat perlakuan seperti itu oppa. aku terima kalau Yoong Hoon memperlakukanku seperti ini. Aku sangat menyayangi Yoong Hoon melebihi apapun. Aku tetap akan mempertahankan persabahatanku dengannya.” Ji Hyun pun ikut pergi meninggalkan Yesung.

“Ingatlah! Aku akan terus berusaha supaya kalian bisa kembali lagi. Asal kau tau, aku tidak akan pernah menyerah. Setelah cobaan ini selesai, pasti akan ada kebahagiaan yang datang untuk kalian semua.” Perkataan Yesung membuat Ji Hyun berhenti sejenak tetapi tak lama, Ji Hyun akhirnya benar-benar pergi dengan membawa semua penyesalan yang dimilikinya.

 

MALAM HARINYA…

Yoong Hoon pun terkapar di tempat tidurnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia diantar pulang oleh Hyun Ra setelah Hyun Ra mendapati Yoong Hoon yang sedang mabuk-mabukkan di sebuah café. Yoong Hoon telah menghabiskan beberapa botol alkohol. Dengan sigap, Hyun Ra membawa pulang Yoong Hoon kerumahnya. Ia benar-benar mabuk berat.

“Yoong Hoon kenapa kau bisa seperti ini?? baru pertama kali aku melihatmu mabuk-mabukkan begini. Yoong Hoon jangan terus-menerus kau mengikuti rasa sakitmu itu. aku tau kau sakit tapi jangan terlalu menyakitimu diri sendiri.”

Yesung yang telah diberi kabar oleh Hyun Ra untuk segera datang kerumah Yoong Hoon akhirnya sampai. Yesung hanya menatap kosong Hyun Ra, pura-pura tidak tau tetapi didalam hatinya ia tau apa yang terjadi terhadap perasaan Yoong Hoon sekarang.

“Ia mabuk berat? Kenapa kau tidak menjaganya, Hyun Ra? Kenapa kau tidak tau kalau sahabatmu ini mabuk-mabukkan. Kau ini sahabatnya atau bukan, Hah????” Yesung mulai emosi dengan Hyun Ra, seakan-akan Hyun Ra yang bersalah dalam hal ini.

“Memangnya kau pikir aku ini pengawalnya? Justru seharusnya aku yang bertanya kepadamu, kau ini kekasihnya Yoong Hoon kan? Seharusnya kekasihnya yang lebih menjaga ketimbang sahabatnya. Apa kau sudah tidak mempedulikan Yoong Hoon lagi? Kau membiarkan Yoong Hoon tersiksa akibat ulah bodohmu itu. seharusnya yang marah-marah itu bukan kau tapi aku!”

Yesung hanya menundukkan kepalanya. Ia terlalu terbawa hawa emosinya. Yesung pun duduk disamping tempat dimana Yoong Hoon tertidur. Ia mengelus rambut Yoong Hoon dan membelai pipinya. Menatap Yoong Hoon dalam sampai akhirnya Yesung menitikkan air matanya. Yesung mencium kening Yoong Hoon sambil menghapus air matanya yang telah membasahi pipinya.

“Maafkan aku Chagi, mungkin aku adalah lelaki bodoh yang pernah kau temui. Aku tidak pantas untuk kau cintai, aku tidak pantas mempunyai kekasih sepertimu. Aku hanya menyakitimu saja Chagi bukan membahagiakanmu. Aku menyesal akan itu semua.” Ia sedikit mencium bibir Yoong Hoon, ciumannya sangat lembut dan hanya sementara waktu.

“Kau pulang saja, Hyun Ra. Biar aku yang menjaga Yoong Hoon disini. Tinggalkan aku berdua saja dengan Yoong Hoon untuk malam ini saja.”

Hyun Ra hanya diam dan tak lama ia pun pergi meninggalkan Yesung yang menemani Yoong Hoon tertidur.  Yesung masih saja menatapi wajah Yoong Hoon, Yesung selalu teringat saat Yoong Hoon masih ceria. Sejak pertama kali bertemu dengannya, lalu sampai akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Yesung juga teringat betapa merona nya wajah Yoong Hoon saat Yesung menyatakan cinta kepadanya.

Tak lama, Yesung pun tertidur pulas.

                                    *****

Kediaman Ji Hyun, Seoul. 08.00 KST, Ji Hyun POV.

Pagi ini, aku membereskan semua baju-bajuku. Hari ini juga akan meninggalkan kota ini. aku baru saja diberitahu oleh Ayah, kalau aku berhasil mendapatkan beasiswa S1+Biaya hidup dan juga pekerjaan tetap dari University of Oxford, Amerika. Aku juga tidak tau sebelumnya karena Ayahku sengaja diam-diam mendaftarkanku untuk mengikuti beasiswa tersebut. walaupun sebenarnya aku harus meninggalkan Inha University, tetapi ini suatu peluang untukku. aku ingin rasanya meninggalkan semuanya, aku tidak mau membiarkan Yoong Hoon masih melihat keberadaanku disini, ia pasti sakit jika melihatku. Aku sudah mengecewakannya. Maka dari itu, aku ingin mencari kehidupan yang baru, kehidupan dimana aku bisa melihat semua orang yang aku sayang baik-baik saja tanpa kehadiranku.

Ponselku pun tiba-tiba berbunyi. Ternyata Hyun Ra yang menghubungiku.

Yeoboseyo Hyun Ra~ssi, wae ??

“Kau dimana? Sebentar lagi Songsaenim masuk kelas. tumben sekali jam segini kau belum datang juga, apa kau hari ini akan telat masuk kelas?”

“Hari ini aku akan pergi ke Amerika. Aku mendapatkan beasiswa kuliah disana. sebentar lagi aku akan pergi ke bandara. Ayahku sedang mengurus semua berkas-berkasku di kampus. Mungkin sebentar lagi aku akan langsung pergi ke bandara. Aku juga harus mengejar waktu jam terbang. 2 jam lagi pesawatnya akan landing.”

Mwoo~ kau mau pergi ke Amerika? Kenapa kau tidak cerota kepadaku sebelumnya, lalu kau akan meninggalkanku dan juga Yoong Hoon?” sepertinya Hyun Ra kaget dengan kepergianku yang mendadak ini.

“Aku juga tidak tau sebelumnya. Ayahku yang diam-diam mendaftarkanku beasiswa itu. aku juga masih belum mau bercerita denganmu karena waktu itu aku sempat bertengkar dengan Yoong Hoon. jadi aku belum sempat bercerita denganmu. Hmm~ sudah dulu ya Hyun Ra, aku ingin menghubungi Ayahku dulu. Annyeong~” aku langsung memutuskan hubungan telfonnya.

Semoga dengan kepergianku ini, keadaan akan normal kembali seperti semula.

                      *****

Hyun Ra yang mendengar kabar langsung dari mulut Ji Hyun, mendadak terkejut. Ia tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi. Persahabatan yang selalu berjalan bersama-sama kini sekarang akan ditinggalkan oleh satu orang yang paling berarti. Ji Hyun lah orang yang paling istimewa dalam persahabatan ini. setiap mereka bertiga mempunyai masalah, Ji Hyun lah yang selalu menjadi penengah. Apalagi jika terkadang Hyun Ra dan Yoong Hoon sedang bertengkar. Ji Hyun berusaha mati-matian membujuk mereka berdua supaya tidak terlalu memperpanjang masalahnya.

Hyun Ra pun langsung bergegas pergi menuju rumah Yoong Hoon. ia tidak peduli apa Yoong Hoon masih mau mendengar nama Ji Hyun atau tidak.

Sementara itu di rumah Yoong Hoon, Yesung dan Yoong Hoon masih saja tertidur pulas. Terdengar suara Yoong Hoon yang berteriak. Berteriak memanggil-manggil nama Ji Hyun. pasti Yoong Hoon sedang mimpi buruk. Yesung yang mendengarnya langsung berusaha membangunkan Yoong Hoon dari tidurnya.

“JI HYUUUNNN JANGAN PERGI TINGGALKAN AKU…. AKU MAU KITA BERSAHABAT SEPERTI DULU LAGI JI HYUUUN, JANGAN TINGGALKAN AKUUU…..” Teriak Yoong Hoon.

Chagi-ya, buka matamu sayang. Kau harus bangun dari tidurmu.” Yesung berusaha membangunkan Yoong Hoon sampai akhirnya Yoong Hoon berhasil membukakan matanya dan melihat Yesung berada disampingnya.

“Oppa, kemana Ji Hyun? aku ingin bertemu dengannya oppa. aku menyesal telah memperlakukan Ji Hyun secara kasar. Pertemukan aku dengan Ji Hyun, oppa. Ku mohon.” Yoong Hoon pun menangis setelah ia bangun dari tidurnya.

“Lebih baik kita pergi ke rumah Ji Hyun sekarang ya, aku janji akan mempertemukan kau dengan Ji Hyun.”

Saat Yesung dan Yoong Hoon hampir ingin bergegas pergi, Hyun Ra pun telah sampai duluan ke rumah Yoong Hoon. bermaksud memberitaukan tentang kepergian Ji Hyun ke Amerika hari ini.

“Yoong Hoon~ah… mau tidak mau kau harus menemui Ji Hyun sekarang juga. aku tau kau pasti masih berada dalam perasaan kecewa tapi untuk kali ini saja kau lawan rasa kekecewaanmu itu terhadap Ji Hyun karena Ji Hyun hari ini juga akan pergi meninggalkan kita. Ia akan pergi ke Amerika.”

“Ji Hyun? ke Amerika? Aku tidak mau dia meninggalkan kita begitu saja. Oppa~ cepat antarkan kami ke bandara, aku tidak mau sampai mimpiku tadi menjadi kenyataan oppa. Kajja !!” dengan sigap, Yesung pun langsung mengantarkan Hyun Ra dan Yoong Hoon pergi ke bandara.

Di sisi lain, Ji Hyun merasa sudah siap segala-galanya untuk pergi ke Amerika. Ia juga sudah sampai di Incheon Airport. Ia juga sedang menunggu Ayahnya, karena selama beberapa hari ayahnya akan menemani Ji Hyun di Amerika. Ia juga sengaja tidak menghubungi sahabat-sahabatnya terutama Yoong Hoon. biarkan Yoong Hoon tenang untuk sementara waktu. Ji Hyun juga tidak  mau menganggu Yoong Hoon kembali. Semua niat baik Ji Hyun ditolak mentah-mentah oleh Yoong Hoon.

Sebenarnya, Ji Hyun tidak mau meninggalkan kota ini. kota ini menyimpan banyak kenangan. Kenangan bersama sahabat-sahabatnya. Hanya itu yang ia ingat. Keceriaan Ji Hyun selalu berada di sahabatnya yang paling ia sayang itu. karena Ji Hyun merasa paling ceria jika berada diantara mereka berdua. Merekalah sumber kebahagiaan Ji Hyun.

Ji Hyun terus melirik jam yang ada di tangannya itu. Ayahnya belum datang juga. mungkin Ayahnya sedang dalam perjalanan menuju kesini. Ji Hyun masih sabar menunggu Ayahnya. Saat Ji Hyun menengok kearah seberang tempat ia duduk, ia melihat Hyun Ra, Yoong Hoon, dan juga Yesung. Dan saat itu juga, Hyun Ra melihat kearah Ji Hyun.

“Ji Hyun! kau kah itu?” Hyun Ra diikuti dengan Yesung dan Yoong Hoon dengan tergesa-gesa menghampiri tempat dimana Ji Hyun duduk sedari tadi.

“Kalian? Untuk apa kalian kesini? Apa kau memberitahu mereka berdua, Hyun Ra kalau aku hari ini akan pergi ke Amerika?”

“Ji Hyun!!! maafkan aku. Maaf kalau aku telah memperlakukanmu secara kasar beberapa hari kemarin. Aku mohon kepadamu Ji Hyun, jangan tinggalkan kami semua. Kami sayang sama kamu. Terutama aku. Aku akan merasa lebih tersakiti kalau aku sampai kehilangan sahabat-sahabatku. Benar apa kata Yesung oppa kemarin, selama ini aku telah menganggapmu sebagai orang yang paling istimewa dalam hidupku. kau dengar sendiri kan perkataan Yesung oppa, dan itu semua sudah tidak perlu diragukan lagi. Aku memang telah menganggapmu sebagai orang yang paling nomor satu dalam hidupku. kalau kau pergi begitu saja, bukannya sama saja kau menghancurkan persahabatan kami bertiga?” Yoong Hoon pun menangis, sebelumnya ia memeluk Ji Hyun dengan erat. Yoong Hoon tidak mau kalau sampai Ji Hyun pergi meninggalkan dirinya.

“Persahabatan kita akan tetap terus berjalan, Yoong Hoon. kau juga tidak perlu meminta maaf padaku, aku yang salah dalam masalah ini. aku juga tidak sama sekali menyimpan kekesalan padamu. Aku sangat sayang padamu. Aku tetap harus pergi. ini semua permintaan ayahku. Aku harus menimba ilmu di negeri orang. Ini semua semata-mata aku jalani, karena aku ingin memenuhi keinginan ayahku. Impian ayahku hanya ingin melihat aku sukses sebelum beliau meninggal suatu saat.”

Yoong Hoon masih tetap tidak mau menerima kenyataannya. Ji Hyun benar-benar akan pergi meninggalkan dirinya dan juga Hyun Ra. Yoong Hoon pun melihat Yesung yang ada disampingnya, ia mengambil tangan Yesung dan tangan Yoong Hoon untuk dipersatukan. Yoong Hoon rela kalau Yesung berbahagia dengan sahabatnya asalkan Ji Hyun menunda kepergiannya itu. apa jadinya Yoong Hoon sampai Ji Hyun benar-benar tidak berada di sisinya lagi.

“Aku rela Ji Hyun kalau Yesung menjalin hubungan yang lebih denganmu. aku mengikhlaskan Yesung untukmu asalkan kau tidak meninggalkanku. Aku mohon Ji Hyun, jangan tinggalkan aku, aku masih sangat membutuhkanmu. Aku mau kita melanjutkan kebahagiaan kita kembali. Aku mau kita bertiga bisa seperti dulu-dulu lagi. Aku akan senang melihat orang yang aku sayang sama-sama berbahagia.” Ucap Yoong Hoon sambil tersenyum.

“Untuk apa kau melakukan semua ini, Yoong Hoon? tidak ada gunanya sama sekali. Jujur aku juga sedikit mempunyai perasaan pada Yesung. Tapi apa aku harus terus menuruti hawa nafsuku? Aku sadar dengan kenyataannya. Kau juga dengar sendiri kan kemarin Yesung oppa berkata apa? Ia lebih memilihmu daripada aku. Aku lebih senang kalau aku tidak menghancurkan hubungan orang lain. teruskan saja percintaanmu dengan Yesung. Aku yakin aku bisa menemukan orang yang jauh lebih baik lagi. Kau doakan saja supaya aku bisa mendapatkan jodoh orang Amerika. Aku juga bosan jika aku harus berhadapan dengan sesama orang Korea. Kau jangan merelakan Yesung oppa begitu, kau juga sayang kan kepadanya? rasa sayangmu pasti sangat besar daripada aku. Bukan begitu?”

“Jadi kau benar-benar ingin pergi meninggalkan kami semua?”

“Ji Hyun sepertinya tidak jadi pergi ke Amerika. Alangkah baiknya kalau Ji Hyun tetap berada di Korea.” Suara itu cukup jauh terdengar, ternyata ayahnya dari jauh sedari tadi memperhatikan mereka berempat. Mungkin juga ayah Ji Hyun mendengar percakapan antara Yoong Hoon dan Ji Hyun.

“Ayah??? Apa maksud ayah berkata seperti itu? ini semua kan karena keinginan ayah bukan? Aku akan menuruti apa mau ayah, tapi kenapa ayah justru berkata seperti itu? Tolong jelaskan ayah, ada apa dibalik ini semua?” Ji Hyun kebingungan mendengar perkataan ayahnya tadi.

“Ji Hyun, sebenarnya ayah ingin kau bisa menimba ilmu di negeri orang. Ayah ingin melihatmu sukses, nak. Tapi ayah tidak mau terus menerus memikirkan kepentingan ayah sendiri. ayah tidak mau dibilang egois nak. Ayah juga sebe

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK