home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Tears Of Mafia

Tears Of Mafia

Share:
Author : kifijo
Published : 22 Oct 2013, Updated : 18 Nov 2013
Cast : Kim Sunggyu (Infinite), Seo Heeyeon (OC), Bang Yongguk (BAP), Nam Jihyun (4Minute), Kim Myungsoo (In
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |17026 Views |1 Loves
Tears Of Mafia
CHAPTER 2 : The Sweet Meeting

 

Heeyeon.

 

            Hari ini adalah waktunya untuk berbelanja. Beberapa persediaan di rumah sudah mendekati batas habis. Perkenalkan namaku Heeyeon, Seo Heeyeon. Seorang gadis biasa dengan sedikit kemampuan lebih dalam bermain piano.

            “Tega sekali mereka membiarkan aku berbelanja sendirian.” Aku mendesah. Untuk informasi kalian, aku tinggal bersama dua orang sahabatku. Bagian mereka nanti saja karena itu tidaklah penting.

            Aku berjalan menyusuri pertokoan dan berjalan di bawah rindangnya bayang – bayang pepohonan.  Aku sengaja memilih jalan ini karena jalan ini tidak begitu ramai oleh lalu lalang pejalan kaki. Membuat suasana hatiku menjadi tenang.

            Ku lirik jam tangan, dan jarumnya menunjukan pukul dua siang. Pantas saja udara sangat panas. Aku menyeka dahi ku yang basah dengan tangan kanan ku, sementara itu tangan kiri ku menggenggam map file berisi partitur – partitur lagu. Ya, aku adalah seorang pianis, belum menjadi pianis yang hebat. Seperti yang aku bilang sebelumnya, gadis biasa dengan sedikit kemampuan lebih dalam bermain piano.

            Aku susuri pertokoan itu, melewati toko kerajian tangan, barang elektronik bekas, dan toko perkakas dan alat berkebun. Ketika aku hampir melewati gang kecil di samping toko kaset bekas, tiba – tiba.

            “BUGH!” rasanya sakit sekali, seseorang menabrak ku. Dan aku terjatuh dengan pantat ku mendarat lebih dulu. Tapi entah kenapa aku merasa bahwa sikut kanan ku sakit, lebih tepatnya perih.

            Aku mencoba bangun dengan bertumpu dengan tangan kiri ku, bisa ku lihat map file yang aku bawa terlempar sejauh kurang lebih satu meter dari ku dan beberapa partitur terbang keluar dari map file itu. Usaha pertama ku untuk berdiri tidaklah mulus, karena aku kembali terjatuh dan mengeluarkan sound effect berbunyi ‘ouch’ yang menyedihkan. Usaha ku yang kedua berhasil membuatku berdiri walau pun aku harus sedikit terhuyung.

            Bisa kulihat orang yang menabrak ku adalah seorang laki – laki. Ia mengenakan tuxedo berwarna hitam dan mengenakan kemeja putih ala body guard yang ada di dalam drama – drama tv, berambut cokelat gelap dengan poni menutup dahinya, tanpa mata, maksudku matanya gak ada lebih tepatnya matanya terlalu sipit sampai nyaris tak terlihat punya mata. Dan dia terus memegangi kepalanya.

            “Ya! Gak punya  mata ya?!” aku berteriak sekeras yang ku bisa. “Gak liat apa orang lagi jalan?!”

            “Maaf. Aku gak bermaksud untuk nabrak.” Orang itu mulai berdiri sambil terus memegangi kepalanya. Ada apa sih sama kepalanya itu?

            “Maaf? Gak liat nih?! Berantakan semua kan?!” lalu aku mulai memungut map file ku yang terlempar dan kertas – kertas partitur yang berterbangan keluar dari tempatnya.

            “Maaf, aku gak sengaja. Serius.” Ku lirik orang aneh ini, di cuaca sepanas ini mengenakan tuxedo? Itu berlebihan, tapi tiba – tiba wajahnya memucat dan menegang.

            “Cuma bisa bilang mmmphhh….” Aku tak bisa menyelesaikan kalimat ku karena orang aneh ini menutup mulut ku dengan tangannya.

            “Ku mohon, tolong aku. Aku dalam bahaya .” Orang aneh dengan kelakuan aneh. Dia fikir dia James Bond? Hah? Gak lucu. Lalu dengan sekuat tenaga aku menendang tulang kering kakinya sehingga dia mengeluarkan suara ‘aw’ keras dan memegangi kakinya yang ku tendang.

            “Apa – apaan sih?! Gak puas cuma nabrak orang? Aw! Mmmppphh.” dengan secepat kilat orang aneh ini memutar badan ku sehingga aku memunggunginya dan kembali menutup mulut ku.

            “Dengarkan aku, kau harus percaya padaku. Sekarang kita harus pergi dari sini.”

            Lalu dia melepaskan ku lalu menarik tanganku untuk mengikutinya berlari. Kami berlari melewati toko – toko yang tadi aku lewati dengan sangat cepatnya. Beberapa kali aku hampir terjatuh tapi laki – laki aneh ini tidak peduli dan tetap menarik ku dan memaksa ku berlari.

            “YA! BERHENTI!” aku memekik dengan suara ku yang paling besar yang dapat ku keluarkan. Lalu orang aneh ini berhenti, akhirnya, dan menoleh ke arah ku yang sekarang sudah kehabisan nafas.

            “Kamu gak apa-apa?” dia bertanya dengan nada khawatir dan raut wajahnya berubah menjadi lembut.

            “YA!” aku menunjuk orang aneh ini dengan sekuat tenaga sambil masih mengatur nafas ku karena proses lari paksa tadi. “Khau yhang mhenhyuruhkhu lharhi shekharhang nahnya ‘khamuh ghak apha apah’? Ghilha yha?”

            “Tapi tadi kalau kita gak lari, kita….” Ku angkat telapak tangan ku ke depan wajahnya, tanda bahwa orang aneh ini harus diam dan sepertinya dia paham.

            Lalu aku melihat wajahnya, ada yang aneh di sana. Sesuatu mengalir dari pelipis kirinya, membasahi kerah kemejanya dan mencetak bercak merah.

            “Ya Tuhan! Kamu berdarah!” aku sudah bisa mengatur nafasku sehingga nada bicaraku sudah membaik. Aku menarik tangan ku sehingga genggaman tangannya terlepas dari pergelangan tanganku.

            Aku mendekatkan wajah ku ke wajahnya, lebih tepatnya ke arah pelipis kirinya yang mengeluarkan darah. Lalu aku mengeluarkan sapu tangan dari tas selempang ku. Menempelkannya tanpa perasaan ke arah pelipis  kirinya.

            “AW! Sakit tau.” Dia mengeluh dan meringis ketika sapu tangan ku mendarat di pelipis kirinya.

            “Pegang sapu tangannya.” Aku memereintah orang aneh ini dan dia menurutinya. “Ya! Ayo kita cari obat.”

            “Ya? Aku punya nama.” Dia mengikuti ku berjalan di belakang ku dengan langkah perlahan dan masih memegang dan menekan sapu tangan ku ke pelipis kirinya. “Sunggyu, namaku.”

            “Bukan urusanku untuk tau namamu.” Aku berjalan dengan secepat yang ku bisa. Lalu aku melirik ke arah mini market terdekat di seberang jalan dan mulai menyebrang. Aku tidak perduli orang aneh ini atau siapa tadi namanya? Gyu siapa? Sunggyu? Iya dia, mengikuti ku atau tidak, tapi sepertinya iya dia mengikuti ku.

            Aku masuk ke dalam mini market itu dan membeli beberapa plester juga alkhohol untuk membersihkan luka. Sementara Sunggyu menunggu di luar mini market sambil duduk di salah satu kursi yang ada. Ia terlihat sedang membersihkan darah yang mengalir dari pelipis kirinya. Ku pandang wajahnya, dan dia terlihat sedikit meringis.

            Aku keluar dari dalam mini  market lalu duduk di sampingnya. Mengeluarkan satu botol alkhohol obat dan plester. Aku mulai membersihkan lukanya.

            “Aw! Pelan – pelan sedikit bisa tidak sih?” nada suaranya terdengar menjengkelkan. Lalu ku tekan sapu tangan ku yang sudah  diberi alkhohol ke arah lukanya dengan sekuat tenaga hingga ia meringis. “Aw! Kau ini perempuan atau bukan sih?”

            “Kamu yang kayak perempuan, lembek.”

            “Nama ku Sunggyu.”

            “Terus?”

            “Nama mu siapa?”

            “Penting?”

            “Untuk bilang terima kasih dan maaf.”

            “Buat?”

            “Terima kasih buat obatnya. Maaf untuk kejadian tadi.”

            Aku tatap wajahnya sebentar.  Terlihat dari wajahnya kalau dia lebih tua dari aku. Dasar cowok norak. Tuxedo di siang hari, menabrak orang seenaknya lalu membawa gadis ini lari – lari gak jelas, sekarang malah dia yang luka sampai berdarah. Kan aku korbannya. Lalu ku selesaikan pengobatan singkat ala Heeyeon dengan menempelkan plester untuk luka di pelipis kirinya. Masih dalam diam.

            “Kau punya nama kan?” dia mulai menanyaiku lagi.

            “Punya.”

            “Wah! Kau ini seoranga pemusik ya?”

            Ku lihat dia mengambil map file ku yang berisi kertas – kertas partitur. Di perhatikannya dengan teliti not – not balok yang berjajar di atas kertas itu. Lalu dia membaca tulisan tangan ku di bagian kiri atas kertas partitur.

            “Heeyeon? Nama mu?” dia bertanya dengan muka lucu. Lalu ku rebut map file tersebut dari tangannya.

            “Bukan urusan mu.” Jawab ku ketus. Lalu ku lirik jam tangan ku, sudah menunjukan pukul tiga lewat, bahkan hampir jam setengah empat sore. Gawat! Aku lupa berbelanja.

            “Heeyeon kan? Aku Sunggyu.” Lalu dia mengulurkan tangannya, menanti tangan ku untuk menjabat tangannya sambil tersenyum lebar.

            Dikejauhan, seseorang berjalan mendekat ke arah aku dan Sunggyu. Dia berjalan perlahan menuju kami berdua dari arah belakang Sunggyu. Dari caranya berpakaian aku yakin kalo orang itu dan Sunggyu sama – sama terobsesi dengan James Bond. Karena pakaian orang itu sama dengan Sunggyu. Bedanya rambutnya berwarna pirang dan dimodel spike dengan bantuan gel rambut.

            “Sunggyu hyung?” orang itu memanggil Sunggyu seolah – olah meyakinkan dirinya bahwa yang ia panggil benar – benar Sunggyu. Sunggyu pun menoleh ke belakang dan melihat ke arah sumber suara.

            “Yongguk-a?” Bagus! Sekarang aku malah terjebak di antara kumpulan orang aneh maniak agen rahasia 007. Dan lebih hebatnya lagi aku lupa belanja. Super!

            “Maaf menggangu temu kangen kalian. Tapi aku harus pergi.” Lalu aku berdiri dan berbalik badan. Tapi Sunggyu memegang pergelangan tanganku, berusaha menahan kepergianku.

            “Makasih ya.” Lalu matanya mulai membesar, aku gak yakin sih itu matanya terlihat besar, tetap saja tidak terlihat membesar, mungkin hanya 0,0000 sekian mm matanya membesar. Yang jelas dia kaget ketika melihat sikut ku. “Sikutmu luka.”

            “Dari mana aja hyung?” lalu orang yang bernama Yongguk itu sudah tiba di sebelah Sunggyu. Lalu ku lihat dia menatap ku sesaat dan melihat ke arah Sunggyu.

            Aku menarik tangan ku untuk melepaskan pegangan tangan Sunggyu. Memberikannya satu tatapan tajam perpisahan dan berjalan menjauh. Meninggalkan dua orang maniak James Bond dibelakangku dalam diam.

            Yang terpenting sekarang aku harus pergi berbelanja untuk makan malam atau Eunhye dan Gongju, mereka berdua teman serumah ku jadi kita menyewa rumah untuk tinggal bertiga, marah karena tidak ada makanan di atas meja. Aku bisa gila kalau begini caranya.

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK