SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > I Chose You Under The Blue Moon

I Chose You Under The Blue Moon

Share:
Author : omovey
Published : 14 Oct 2013, Updated : 14 Oct 2013
Cast : Lee Jonghyun, Nindy, Rania (all fictive)
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |5736 Views |10 Loves
I Chose You Under the Blue Moon
CHAPTER 1 : I Chose You.

Tiba-tiba saja aku meningat kejadian malam itu. Malam yang dingin dan sepi, kegelapan menyelimuti jalan pada saat itu. Yang jelas terlihat di mataku hanya dia.

Ya, dia. Pemuda aneh dengan tatapan yang sama dinginnya dengan hawa udara pada malam itu.

“Ahhhh kenapa aku harus ingat dia lagi? Cuma orang asing lewat kok sampe kepikiran gini” aku mengacak-acak rambutku kemudian menarik selimut, berusaha untuk tidur tenang.

Tapi aku tak yakin aku bisa tenang.

Hari ini aneh sekali. Semangatku seakan menguap semalaman. Ya, semalam suntuk aku tidak bisa tidur dengan lelap. Dia seperti menghantui. Dia menghipnotis. Dan aku bahkan tidak tahu dia siapa.

Aku berjalan menuju sekolahku dengan sangat lesu sampai sesuatu mengembalikan nyawaku yang seakan masih belum menyatu dengan diriku pagi ini.

“DOR!” dan melayanglah tepukan keras, menghujam bahu kananku.

Aku hanya terkejut sedikit dan menengok ke belakang. Sahabatku, Rania-lah yang menepuk bahuku dengan keras tadi. Aku tidak tahu apa aku harus berterima kasih atau ngambek padanya karena tepukan itu kencang sekali, tapi setidaknya itu mengembalikan kesadaranku.

“Kenapa bengong aja sih dari tadi? Ga takut kesurupan? Hari gini banyak dedemit loh. Hati-hati.”

“Lucu banget Ran.” aku menjawab dengan nada menyindir. Ah, aku sedang tidak ingin diganggu…

“Ayo cepetan jalannya, upacara nih!” serunya sambil menggenggam tanganku dengan lembut dan mengayun-ngayunkannya.

“He? Lagi lemes nih… pelan-pelan aja lah…”

“Kalo ngga buru-buru nanti telat loh!”

Kemudian dia menarik tanganku dengan kasar dan berlari sambil bernyanyi-nyanyi dengan tidak karuan. Aku tak bisa apa-apa kecuali menyambutnya sambil menahan malu akan pandangan aneh dari orang-orang yang melihat kami. Lebih tepatnya... dia. Ugh

Andai aku bisa ceria setiap saat seperti dia.

Aku berpisah dengan Rania saat kami memasuki kelas masing-masing. Dan sesampainya di ruang kelas aku melihat sesosok anak laki-laki di bangku belakang tempat dudukku yang terasa asing… tapi sepertinya ada sesuatu yang menarikku untuk menghampirinya. Sesuatu yang aneh… yang menjerat rasa penasaranku… Apa dia anak baru? Atau anak kelas lain yang sedang main di kelasku?

Saat aku berjalan mendekati bangku tempat dudukku --- seakan-akan menghampiri anak itu, aku mencuri pandang ke arahnya.

Dan sepersekian detik kemudian dia mendongakkan kepalanya tepat ke arahku. Dan dia menyunggingkan senyum sinis yang terlihat merendahkan, padaku.

…Aku terperanjat.

D-dia. Orang ini. adalah laki-laki yang aku lihat satu minggu yang lalu di jalan, saat pulang dari swalayan dekat rumah jam 10 malam… orang yang membuat tidurku tidak nyenyak selama beberapa hari terakhir...

Kenapa dia bisa ada di sini?

Dengan kikuk, aku pura-pura tak melihatnya dan berbalik, dan menaruh tasku ke atas meja. Lalu dengan cepat aku duduk… aku ketakutan. Ya. Takut... Aku tahu dia hanya remaja biasa seusiaku, tapi dia seperti ingin menarik jiwaku… dari pertama kali aku melihatnya, aku merasa ada yang aneh dengan anak ini…

Dia seakan menghantuiku.

“Hai Nindy.”

Kemudian aku terbelalak. Suara itu datang dari belakangku. DIA. MEMANGGILKU? BARUSAN?!?

Aku refleks berbalik dengan gemetaran. Kemudian aku bertanya dengan nada ngeri. “b…bagaimana kamu tahu namaku?”

Dia hanya tersenyum lembut. Meski senyumnya lembut, aku tetap ngeri padanya. Senyum penuh tanda tanya yang dingin… membuatku ingin menangis ketakutan... Siapa anak ini? Kenapa dia tahu namaku? Kenapa aku bisa bertemu lagi dengannya? Ada apa dengan anak ini dan aku?

Aku sudah tidak bisa menyembunyikan tatapan ngeriku padanya. Melihatku ketakutan, dia hanya tertawa.

“Aku Jonghyun… murid pindahan dari Korea. Ayahku diplomat dan aku pindah ke dekat rumahmu sejak dua minggu lalu. Orangtua kita saling kenal dan ibuku memberitahuku ada satu anak seumurku yang bernama Nindy… karena aku pernah melihatmu di sekitar rumahku, maka aku tahu kamulah yang ibuku maksud.” jelasnya sambil tertawa kecil.

“O…oh gitu… salam kenal… Jong… Jongguk?” balasku dengan kaku. Kemudian dia tertawa lagi.

“Jonghyun.”

Lalu dia tersenyum lagi. Senyum angkuh itu lagi. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman kikuk yang cepat. “Salam kenal… Jong…Hyun…”

“Dia hanya tetanggamu… tetangga yang kebetulan tepat menebak namamu….” batinku, menenangkan diri. Mencoba menghapus rasa sangsi dan takutku padanya.

“Nin! Jadi kan kita nonton band sekolah kita tampil di kafe Amalia nanti malam?” tanya Rania di kantin saat istirahat keesokan harinya.

“Jadi… aku bosan di rumah terus… dan kayaknya band sekolah kita seru juga buat diikutin. Kayaknya mereka makin bagus ya.” aku menjawabnya sambil menyendok nasi gorengku.

“Kamu udah tau belum kalo band sekolah kita punya gitaris baru?”

“Hnggg?” aku memandangnya sambil mengunyah nasi gorengku. “Siapa?”

“Duh lupa namanya…” Rania menaruh sendoknya ke piring sambil berusaha mengingat. “Pokoknya dia ganteng banget. Putih, tinggi, oke deh pokoknya! Pindahan. Kayaknya sih dari Korea kalo ngga salah.”

Aku nyaris tersedak.

“J…Jonghyun?”

“AAA! Itu kamu tau dari mana? Kenal ya? Aduhhh kenalin ke aku dong!” Rania heboh sendiri sambil menunjuk-nunjuk wajahku saat aku menyebutkan namanya. Aku hanya bisa bengong, lalu melirik ke sekitar kami, memastikan kalau tidak ada orang itu sekarang.

“Engg… enggak sih.. denger-denger aja kok… hehehe.” aku tertawa miris, menyembunyikan keteganganku. Padahal dia tetanggaku. Padahal dia teman sekelasku. Padahal dia duduk di belakangku… tapi aku tak bisa memberitahukannya…

Aku terlalu takut… Dia benar-benar menghantuiku sejak minggu lalu…

Aku dan Rania memasuki ruangan kafe yang sudah ramai oleh anak-anak sekolahku. Tentu saja band sekolahku punya daya tarik kuat untuk para remaja cewek sekolah, meski tidak sedikit juga anak laki-laki yang datang ke sana. Rania sendiri semangat sekali menunggu Minhyuk, pacarnya si blasteran Sunda-Korea yang menjadi drummer band sekolah kami untuk naik ke panggung. Aku sendiri masih pusing. Masa sih si Jonghyun setan itu jadi gitaris band sekolah yang super keren ini? Memang dia bisa apa?

Pandangan kosongku buyar saat riuh tepuk tangan dan jeritan anak-anak memenuhi ruangan. Mereka akhirnya muncul, band sekolah kami CNBLUE. Kehebohan makin menjadi saat mereka menyambut kami dengan ucapan “Selamat malam teman-temaaan!”. Cewek-cewek kemudian histeris, terlebih saat Jonghyun memperkenalkan diri “Hai aku Jonghyun gitaris kedua CNBLUE mulai malam ini. Salam kenal.”

Ya. Jonghyun. Dia benar-benar jadi gitaris band sekolah kami. Astaga.

Kemudian pandangan Jonghyun yang sedang melihat ke sekitar penonton berhenti ke arahku. Jonghyun melihatku. Dan dia terlihat… kaget? Apa dia tidak menyangka aku akan datang?

Kemudian dia tersenyum dingin ke arahku, dan beberapa saat kemudian langsung mengalihkan pandangannya ke arah gitarnya. Dan aku melongo lagi. Merasa ingin kabur. Kenapa dia selalu memperlihatkan senyum menjijikan itu padaku? Apa maunya?

Tapi aku merasa dipengaruhi… terisap… dan tidak bisa beranjak dari tempat ini… perasaan aneh ini lagi… Ya. Aku merasa tertarik padanya; Jonghyun Lee. Sepertinya aku kena hipnotis. Tapi entahlah. Aku takut, tapi aku merasa tertarik…

Akhirnya aku berani menatapnya… memerhatikannya. Lagu pertama sedang dibawakan dan aku terkesima, ternyata dia bisa bermain sebagus itu… Jari-jarinya indah, seperti menari. Wajah seriusnya yang karismatik saat bermain gitar sangat membuatku penasaran padanya, untuk melekatkan pandanganku lagi dan lagi ke arahnya. Dan aku baru sadari aku benar-benar hanyut dalam pesonanya… Dia sangat tampan. Aku terus terpaku melihatnya sampai-sampai aku tidak sadar kalau empat lagu sudah dibawakan. Ya, EMPAT LAGU.

Lalu sesuatu menyadarkanku. “Ada apa denganmu? Bisa-bisanya kamu suka sama si Jonghyun setan itu?” pikirku sambil menepuk-nepuk kedua pipiku dengan panik. Gawat ini!

Tak terasa sudah saatnya band sekolahku turun panggung. Cewek-cewek langsung menyerbu mereka untuk foto  bareng, kecuali aku dan Rania. Saat keriuhan rebutan foto berlangsung dan anggota band sibuk berpose di depan kamera bersama anak-anak, Jonghyun seakan menatapku sekilas dari balik kamera…

Atau itu hanya perasaanku?

Tak lama kemudian anak-anak mulai bubar dan kami beranjak untuk pulang. Tapi aku bilang ke Rania aku ingin pulang sendiri malam ini dan dia khawatir padaku. Tapi aku meyakinkannya aku tak akan apa-apa. Saat dia bertanya alasan aku ingin pulang sendiri, aku membalikkan pertanyaannya dan meyakinkan aku akan baik-baik saja.

Karena aku sendiri tidak tahu mengapa aku ingin pulang sendirian.

Kemudian beberapa saat setelah Rania meninggalkanku, Jonghyun lewat di depanku sambil menenteng gitarnya. Intuisiku seakan mengambil alih diriku dan aku terus mengawasinya. Dan kau tahu apa yang aku lakukan? Setelah mengawasinya dari balik pintu kafe dan memastikan dia sudah berjalan agak jauh, aku mengendap-endap, mengikutinya. Dan aku sempat berpikir “kenapa tidak terus terang ingin pulang bareng dia? Rumah kalian searah.” tapi aku menyangkalnya. Aku tidak ingin pulang bareng dia. Aku hanya ingin menguntitnya dari belakang.

Hari sudah sangat gelap, hampir tengah malam saat itu. Aku masih mengendap-endap mengikuti anak itu kira-kira dari jarak 50 meter di belakangnya. Cukup jauh untuk dia sadari. Dia pun hanya berjalan santai dari tadi, seakan tidak sadar kalau ada orang lain di jalan ini selain dia.

Tapi tiba-tiba dia berhenti. Dan aku bingung.

Dan kau tahu? Dia berbalik. Dan menatapku. TAJAM.

Aku mematung. Tubuhku langsung berkeringat dingin. Lalu batinku berteriak panik. “Aku bodoh! Tidak seharusnya aku mengikuti orang semenakutkan ini! Padahal aku tahu sendiri kalau ada yang aneh dengan orang ini!”

Dia berjalan dengan angkuhnya ke arahku. Aku merasa ingin mati saja saat itu.

Dan aku baru tahu apa yang aneh dengannya. Dia… dia bukan manusia. Pandangannya saat berjalan ke arahku sangat janggal. Matanya berubah jadi biru gelap tanpa binar. Sedingin senyum angkuhnya.

Lalu dia berhenti tepat di depanku, dan menyenderkan gitarnya ke dinding.

“Aku tahu kamu begitu menyukaiku sampai-sampai mengikutiku dari belakang, eh?”

Aku menelan ludah. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan mata mengernyit. Aku balas menatap matanya dengan gentar. Matanya sangat aneh dan menakutkan… biru gelap tanpa binar, melukiskan kematian.

Kemudian dia memegang kedua bahuku dan mendekatkan mulutnya ke telingaku, berbisik “Nindy.. kamu cantik. Kamu buat aku penasaran sejak malam itu… saat kamu berjalan sendirian. Apa tidak takut gadis secantik kamu jalan sendirian di larut malam? Itu yang buatku ingin kenal kamu…”

Aku makin ketakutan pada saat itu. Bisikannya sangat pelan, tapi menusuk jiwaku… aku tidak bisa bergerak. Perasaan yang selalu datang saat aku ada di dekatnya. Aku terjerat, tak bisa apa-apa.

Lalu ia kembali menatapku. Entah aku harus ngeri atau larut dalam tatapannya… dia sangat tampan… tapi dia menakutkan… aku tidak mengerti perasaanku sendiri…

“Nindy… aku menyukaimu sejak malam itu. Aku selalu mengincarmu, kau tahu? Aku sangat senang saat tahu kita sekelas. Dan saat menyadari bahwa kamu sudah larut dalam pesonaku, aku benar-benar merasa beruntung. Aku berhasil membuatmu jatuh padaku.” Dia terus menatapku lekat, tangannya masih ada di bahuku. Aku gemetaran.

“A…apa maksudmu?”

Dia tertawa. Ya, tawa menjijikan. Tapi aku suka itu.

“Kamu datang untuk melihatku malam ini kan?”

Aku semakin gugup. “A…aku hanya diajak…”

Dia meletakkan jari telunjuknya ke depan mulutku. “Jangan mengelak lagi.”

Kemudian dia mendongak ke langit sambil tersenyum dan tanpa sadar aku mengikutinya. Terlihat bulan penuh yang bercahaya biru, bersinar dengan sangat indah. Aku baru sekali melihat bulan biru. Apa ini fenomena alam yang biasa terjadi?

“Hari ini tanggal 20 Agustus, fenomena bulan biru terjadi. Ya, blue moon. Saat ada dua bulan purnama dalam satu bulan." dia kembali menatapku sambil tersenyum. Aku hanya bisa mematung.

"Dan di malam ini, aku memilihmu.”

Belum sempat aku menjawab, aku hampir jatuh pingsan karena ketakutan saat melihat dua taring muncul di sela-sela bibir tipisnya. Lalu raut wajahnya berubah seketika menjadi gelap dan tidak bernyawa.

“Kau gadis cantik.”

Lalu ia mendekatkan wajahnya ke bahuku.

Tamat.

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

fransiscasteffi
Senin, 21/07/2014 10:03
0
hai, chingu! ^^
mw tukeran love nggak?
jd chingu like ff ku dulu,
lalu aku like back ff chingu jugaa... ^^
POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK