SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Bluetory

Bluetory

Share:
Author : kheay_b
Published : 14 Oct 2013, Updated : 14 Oct 2013
Cast : lee jungshin, OC
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |822 Views |1 Loves
Bluetory
CHAPTER 1 : Oneshoot

If they say the moon is blue.

We must believe that it is true.

 

***

 

CN Blue mungkin bukanlah satu-satunya band di negara korea selatan yang aku sukai. Namun sepertinya aku sangat tertarik ketika salah satu personel dari group band itu tersenyum tulus saat aku mengembalikan dompet berwarna cokelat gelap miliknya yang tak sengaja tertinggal saat ia tergesa membeli sebuah cake di cafe kami.

 

“Aku tertolong.” Ujarnya lega. Dan melihat senyum lega namun tipis miliknya mau tak mau aku pun ikut tersenyum.

 

“Aku sangat berterima kasih karena yang menemukannya adalah orang sepertimu, Min Ah-sshi.” Ia kembali tersenyum dan menatapku berterimakasih.

 

Aku mengangguk. Terlalu tidak percaya dengan kenyataan bahwa pria yang sebelumnya ku layani itu adalah salah satu personel group band yang tengah naik daun.

 

“Sebagai ucapan terima kasih, aku mau mentraktirmu makan malam. Are u free tonight, agasshi?”

 

Aku kembali mengangguk setelah beberapa saat terhenyak tak percaya. Makan malam? Dengan artis? Oh well. Kau pasti tidak cukup gila untuk menolaknya mentah-mentah.

 

“Great.” Ia menepuk bahuku senang. Setelah berpamitan denganku, ia beranjak pergi kembali ke set syutingnya. Meninggalkanku di lahan terbuka dengan rona biru sang dewi malam. Haruskah aku percaya ini keajaiban dari blue moon?

 

Tolong jangan bangunkan aku jika ternyata ini hanyalah sebuah mimpi!

 

***

 

Sebut ini sebuah drama. Karena setelah acara makan malam yang katanya ‘ucapan terimakasih’ hubungan kami menjadi lebih dekat. Mungkin kau bisa menyebut kami teman sekarang. kami layaknya teman jauh yang baru bertemu sekian lama. Apapun obrolan yang tercetus pasti semua akan berakhir menyenangkan.

 

“Hahaha, kau sangat lucu.” Ia terjungkal geli. Kedua lengannya melilit perutnya sendiri saking gelinya.

 

“I’m not clown.” Rajukku bercanda. Ia kembali tertawa melihat belah bibirku yang mengerucut.

 

“Arraseo.” Ia menyerah dengan sebelah tangan yang menutup mulutnya menahan tawa. Tiap ia melakukan ini aku tidak pernah sanggup untuk tidak mengulum senyum dan melempar sesuatu ke arahya. Kali ini serbet restoranlah yang menjadi alatku.

 

“Ugh! Agasshi, kau terlalu kasar. Berhenti melempar sesuatu ke arahku saat kau sedang merajuk.” Rajukknya dengan lengan yang kini terlipat di dada seolah marah.

 

“Oh, well. Siapa yang sedang merajuk, eoh?” ia terkekeh menanggapi balasanku. Tangan berhias jemari panjangnya terulur untuk mencapit hidungku gemas.

 

“Kau memerah, agasshi.”

 

Dan berikutnya aku bisa merasakan kedua pipiku memanas dengan godaan yang semakin santer terdengar dari mulut pria di seberangku.

 

***

 

Waktu terus berlalu. Hingar bingar musik yang menggema seakan menyadarkanku apa yang tengah terjadi saat ini. Perayaan. Begitulah. Di tengah lautan biru cahaya lampu bar dan manusia yang sedang menggoyang-goyangkan pinggulnya aku berdiri mematung di sudut ruangan tak jauh dari dance floor.

 

“Hey, temanmu terlalu kaku, Jungshin. Apa enaknya mendekam di pojok sini sepanjang waktu?”

 

Aku melirik Jungshin merasa bersalah. Aku tau dia pasti malu memiliki teman sepertiku. Terlebih dunia dimana ia berpijak sangat jauh berbeda dengan duniaku. Hahh~ kenapa rasanya aku seperti dihentak habis ke perut bumi? Seperti sebuah tamparan bahwa aku harusnya terlalu tau diri untuk menjauhinya.

 

Jungshin hanya meninju bercanda bahu temannya kemudian terkekeh tak mau ambil pusing.

 

“Dia itu hanya polos, bodoh. Tidak sepertimu.”

 

Aku tersenyum getir mendengar pembelaan Jungshin. Jungshin kau terlalu baik hati. Bahkan kau rela berdiri di sampingku dan meninggalkan teman-temanmu hanya untuk menemaniku.

 

“Tak usah dengarkan mereka, okay. Toh hyungdeul dan manager mengijinkanku untuk menemanimu disini. Mian, teman-temanku memang kadang keterlaluan.”

 

Aku mengangguk kecil. Kepalaku tertunduk ketika tangan besar Jungshin menepuk kepalaku beberapa kali seolah menenangkan.

 

Kau benar-benar terlalu baik.

 

***

 

Aku menyukainya.

 

Sebuah kesimpulan akhirnya ku tarik ketika aku merasakan lelehan air mata ketika menonton drama yang ia perankan. Ini begitu sulit sebenarnya untuk dirasakan secara gamblang. Apalagi bila sosok yang kau sukai adalah seorang public figur yang berperan sebagai teman, kakak, adik, dan pengganti orang tuamu.

 

Aku meraih handphone-ku yang sedari tadi berdering. Tanpa repot melihat nama yang tertera di layar aku mengangkatnya.

 

“Ah!” aku mendesah pelan ketika suara di sebrang sana mulai berentet dan penuh dengan omelan yang melantun cepat. Sepertinya aku sekarang mengerti alasan pria yang sedang menghubungiku mendapatkan posisi rapper dalam group band-nya.

 

“Mian. Aku akan segera kesana.” Singkat. Begitulah selalu bila pria yang baru saja ku tutup hubungan jarak jauhnya mengomel melalui telepon.

 

Junshin mulai jengah duduk di bangku taman yang berjarak beberapa meter di depanku. Ketara sekali posisi duduknya beberapa kali berubah sejak aku melihat bayangnya dari jauh. Hufth, pasti ia sudah terlalu lama menungguku.

 

“Telat 30 menit 45 detik, agasshi.”

 

Aku meneguk ludahku merasa bersalah. Biar bagaimanapun Jungshin telah merelakan waktu senggangnya hanya untuk sekedar bertemu denganku setelah tour panjangnya keliling dunia tanpa pulang  ke korea selatan.

 

“My bad.”

 

Ia menghela nafasnya. Aku tau ia sudah memaafkanku. Tapi tetap saja sesuatu mengganjal di hatiku.

 

“Aku hanya berharap kau tak lupa hari apa ini.”

 

Aku terhenyak. Bibir bawahku tanpa sadar ku gigit kecil ketika sadar hari apa sekarang.

 

“I’ll treat you.” Ia menaikkan alisnya terkejut. Di detik berikutnya ia beranjak berdiri lalu menarik tanganku ke sebuah mall tak jauh dari taman dimana kami berada.

 

“For all my pleasure, agasshi.” Jawabnya sumringah. Dan aku bisa memastikan akan seberapa keringnya isi dompetku setelah ini nanti.

 

***

 

Jungshin tampak lahap memakan makan malamnya. Meski wajahnya terlihat sangat datar, aku tau ia sangat senang hari ini. Terlebih tumpukan tas karton yang tertumpuk di sampingnya sudah cukup menjadi alasannya untuk lebih dari sekedar senang.

 

“Kau sangat murah hati, agasshi.”

 

Aku mendengus mendengar komentarnya. Andai saja beberapa menit yang lalu aku tidak merajuk karena kehabisan limit kredit card-ku, mungkin pria ini takkan menghentikan aksi ‘mari menguras isi dompetku’ dan membuatku harus mengemis mencari tambahan.

 

“Just for ur birthday present.” Jawabku nyaris terdengar setengah hati. Walau sebenarnya aku tidak memungsingkan seberapa menyedihkan nasibku nanti di sisa bulan ini.

 

Ia tersenyum. Badannya mencondong ke arahku dengan tangan yang terulur mengacak surai berwarna kecokelatan di kepalaku.

 

“U’re my best.” Lirihnya dengan senyum ‘limited edition’ yang selalu berhasil membuat wajahku memanas dan degup jantungku menggila.

 

“Are welcome.”

 

***

 

Kau pernah tau sesuatu yang menyakitkan?

 

Bila belum, aku akan menunjukkan.

 

Air mata ini seakan telah menumpuk dan ingin merembes dari celahnya saat ini juga ketika belah bibir tipis itu berucap pelan.

 

“Aku menyukai seorang gadis.”

 

Kalimat singkat dengan rona malu yang sukses membuatku jatuh hingga jauh ke dasar bumi. Aku rasa tenggelam jauh lebih baik. Karena sakit tak kasat mata ini lebih tak sanggup diobati dengan setetes obat pereda rasa sakit.

 

“Chukkae.” Jawabku berusaha sekeras mungkin untuk terdengar ceria seperti biasa.

 

Ia tersenyum kecil. Entah mengapa aku merasa sedih ketika tau senyum yang jarang ia tunjukkan akan diberikan pada gadis yang sedang ia sukai sekarang.

 

“Aku sedikit berpikir ia tidak menyukaiku.”

 

Aku terhenyak. Tidak disukai? Jungshin? Mungkin gadis itu terlalu bebal untuk menerima pesonanya. Atau gadis itu terlalu buta hingga pesona dari pria tanpa cacat di hadapanku tak sedikitpun mengusknya?

 

Aku menggigit bibir bawahku. Terselip rasa senang sebenarnya ketika mendengar nada murung yang tersirat dari lantun ucapannya. Maksudku mungkin ada kesempatan untukku kemudian.

 

“Well, who’s know?”

 

Ia terkekeh mendengar jawabanku yang terdengar seperti tak acuh. Tangannya bergerak asal menggaruk belakang kepalanya sendiri. Aku baru sadar sekarang ia telah memangkas rambutnya menjadi pendek.

 

“Lupakan. Cinta memang bukanlah sesuatu yang cocok untukku.”

 

Lagi-lagi aku menggigit bibir bawahku. Diantara percikan rasa senangku sebelumnya, aku bisa merasakan perih yang amat sangat dari nada suaranya yang getir dan terluka.

 

“Hanya belum.”

 

Aku menyesal telah mengatakan dua kata itu setelahnya dan membuat jarak yang terbilang dekat itu perlahan merenggang.

 

***

 

Seseorang dari masa lalu datang dan memberi ikatan samar berwarna perak.

Di bawah bulan biru yang berpendar cemerlang.

Tetes bening merembes dari celah mataku.

Sebuah kalimat berwarna sepia menggaung lalu runtuh dan tertelan kalimat baru yang dihadirkan sosok yang berbeda.

Aku mungkin menyukaimu dan beranjak mencintaimu.

Tapi dari banyaknya hal rumit yang terjadi aku lebih ingin kepastianmu.

Pada akhirnya kita bertemu lagi di bulan biru dalam kaku menyesakkan.

 

***

 

THE END

 

 

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK