SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > All Has Passed

All Has Passed

Share:
Author : minholicify
Published : 25 May 2018, Updated : 27 May 2018
Cast : Kim Seungyeon (OC), TVXQ Yunho, TVXQ Changmin, Han Jieun, Yeonwoo, Changsun, Jiyeon, Jiwon
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |949 Views |1 Loves
All Has Passed
CHAPTER 1 : All Has Passed

           Kim Seungyeon turun dari mobil hitamnya dan menapaki halaman rumah teman semasa kuliahnya, Han Jieun. Sudah 7 tahun sejak terakhir kali dia melihat pintu berwarna coklat dengan ukiran khas yang ada di hadapannya saat ini. Di dalam terdengar obrolan dan gelak tawa beberapa orang. Seungyeon masih hafal betul suara siapa saja yang didengarnya. Ia membuka pintu dengan perlahan, tanpa permisi, seperti yang biasa dilakukannya dulu. 

          “Seungyeon! Akhirnya kau datang juga! Ah, sudah lama sekali kita tidak bertemu! Aku merindukanmu! Bagaimana kabarmu? Sekarang kau bekerja di perusahaan Shinhwa, kan? Bagaimana pekerjaanmu lancar-lancar saja kan? Oh iya, apa kau puasa hari ini? Kami mau membuat sup buah untuk berbuka nanti, apa kau mau bantu?” Jieun memberondong Seungyeon dengan berbagai pertanyaan demi melihat sosok teman yang sudah sekian lama tak dijumpainya itu. Kehebohan Jieun ternyata cukup untuk menarik perhatian semua orang yang sudah berkumpul di rumah tersebut. Semua kepala menoleh ke arah Seungyeon dan menyambut kedatangannya. Seungyeon hanya bisa tertawa sambil menyapa teman-teman lamanya. Setelah melepas rindu, ia mengikuti Jieun ke dapur untuk membantunya membuat sup buah.

          Hari ini tepat 3 hari sebelum Idul Fitri. Teman seangkatan Seungyeon di perkuliahan sepakat untuk melakukan buka bersama demi menjalin tali silaturahim. Acara buka bersama kali ini tidak jauh berbeda dengan yang mereka miliki beberapa tahun yang lalu. Seungyeon dan teman-temannya menyantap takjil setelah adzan maghrib terdengar, kemudian rehat untuk sholat maghrib berjamaah. Beruntung, Jieun adalah anak dari CEO perusahaan ternama di Korea sehingga rumahnya benar-benar luas dan muat digunakan untuk beragam aktivitas. Selesai sholat, mereka akhirnya makan bersama, tentu saja disertai dengan obrolan kesana-kemari. Tujuh tahun tidak berkumpul seperti ini ada banyak sekali hal seru yang bisa dibahas dan diceritakan. Saat adzan isya’ berkumandang, Seungyeon dan teman-temannya yang muslim sholat isya’ berjamaah, bahkan dilanjutkan dengan sholat tarawih. Sementara, teman-teman non muslim menunggu sambil mengobrol. Mereka memelankan suara sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu teman-temannya yang sedang beribadah.

          Seusai sholat, Yeonwoo, sang ketua angkatan meminta semua yang datang untuk duduk membentuk lingkaran. Tampaknya dia sudah menyiapkan sesuatu untuk malam ini. Seungyeon beranjak duduk melingkar sambil berbincang dengan temannya. Saat semua orang sudah rapi duduk melingkar, ia akhirnya mengalihkan pandangan dari temannya ke arah depan. Matanya beradu pandang dengan seseorang yang sudah sedari tadi memperhatikan sosoknya. Seseorang yang duduk tepat di seberangnya, dipisahkan oleh diameter lingkaran yang tersusun dari puluhan orang, Jung Yunho. Yunho memandang Seungyeon sambil tersenyum. Seungyeon balas tersenyum. Ia teringat akan satu hal. Senyum itu. Senyum yang masih sama persis seperti 7 tahun yang lalu.

***

          Pagi itu Seungyeon duduk di bangku favoritnya. Teman-temannya yang lain sibuk berdiskusi tentang acara buka bersama yang akan mereka laksanakan dua hari lagi, namun Seungyeon sama sekali tidak tertarik. “Seungyeon-i, kau ikut kan? Hanya di rumahku. Kita iuran 50.000 untuk menu berbuka sekaligus membeli nasi bungkus untuk dibagikan pada orang yang kurang mampu,” Jieun tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan membujuknya sedemikian rupa. “Entahlah," Seungyeon menghela napas, "Aku tidak tertarik. Aku tidak suka buka bersama,” ia masih menunjukkan keengganannya. “Tapi kenapa? Kenapa? Apa yang membuatmu tidak suka? Apa kami membuatmu merasa tidak nyaman?” Jieun akhirnya menyuarakan rasa penasarannya setelah bujukannya yang ke-8 ini tetap juga ditolaknya. Ia paham temannya ini memang sulit diajak pergi ke acara yang ramai manusia tapi sebegitu tidak nyamankah ia bahkan dengan teman-teman seangkatan yang sudah lama dikenalnya?

          “Tidak. Bukan seperti itu.” “Lalu kenapa? Kenapa, Seungyeon-a?” Seungyeon menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jieun. “Tidak ada hubungannya dengan siapa aku berbuka bersama, aku hanya tidak suka dengan acara buka bersama seperti itu. Bulan Ramadhan ini seharusnya kita semakin mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, melakukan amalan-amalan sunah Ramadhan untuk menghimpun pahala, termasuk sholat tarawih. Berkumpul bersama teman-teman tentu akan sangat menyenangkan, tapi kebersamaan yang menyenangkan itu seringkali melalaikan hingga membuat sholat tarawih berjamaah terlewatkan. Aku tidak mau seperti itu Jieun, aku tidak mau menjadi orang yang lalai. Oleh karena itu, lebih baik bagiku untuk tidak ikut buka bersama.”

          “Jadi kau berpikir semua orang yang melakukan buka bersama adalah orang yang lalai?", Jieun bertanya setengah terkejut, "Apa kau benar-benar berpikir seperti itu? Bagaimana bisa kau menyimpulkan begitu saja ketika kau bahkan belum pernah mencoba melihatnya lebih dekat? Buka bersama tidak serta merta membuat orang menjadi lalai, Seungyeon-a. Semuanya tergantung pada bagaimana kita mengontrol diri kita untuk bisa tetap beribadah. Lagipula, bukankah berbagi dengan orang yang kekurangan dan menjalin silaturahim adalah dua amal sholeh juga? Kau harus mau melihat lebih dekat jika ingin bisa mengambil kesimpulan dengan benar,” Jieun berkata panjang lebar kemudian beranjak meninggalkan Seungyeon, kecewa dengan cara berpikir temannya itu.

          Dua hari kemudian, Seungyeon berdiri di depan pintu coklat dengan ukiran khas, pintu rumah Jieun. Apa yang dikatakan Jieun agaknya sampai ke hatinya sehingga ia tergerak untuk “mencoba melihat lebih dekat”. Jieun sangat senang dengan kedatangan Seungyeon, “Percayalah, tidak akan seburuk yang kau bayangkan!” ucapnya.

          Setelah nasi bungkus yang akan dibagikan masuk semua ke dalam beberapa mobil, Seungyeon dan teman-temannya dibagi dalam kelompok-kelompok untuk menyebar ke beberapa daerah dan membagikan nasi bungkus. Seungyeon berada satu kelompok dengan Jung Yunho dan 2 orang temannya yang lain, Changsun dan Jiyeon. Yunho bertugas menyopir mobil sementara ketiga orang lainnya mengawasi jalanan, mencari orang yang membutuhkan, dan naik-turun mobil untuk memberikan nasi bungkus, begitulah rencananya dan itulah yang mereka lakukan untuk 3 nasi bungkus pertama. Tiba-tiba Yunho memarkirkan mobilnya dan berkata, “Lihat, di depan sana masih banyak orang yang membutuhkan, tapi jalanannya sulit dilalui mobil. Bagaimana kalau kita jalan saja?” “Aku sih tidak apa-apa, tapi tadi kulihat di belakang juga masih banyak yang belum mendapat nasi bungkus, jadi sepertinya kita harus membagi tim agar pekerjaan cepat selesai. Sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang,” Changsun memberikan usul. “Ide bagus!” Seungyeon akhirnya bersama Yunho dan Changsun bersama Jiyeon. Bagasi mobil dibuka dan mereka mengeluarkan beberapa kantung besar berisi makanan untuk dibagikan. Changsun dan Jiyeon mengambil separuh dan beranjak pergi. Tangan Seungyeon hendak meraih beberapa kantung yang tersisa ketika Yunho lebih dahulu menyambar semua kantung yang ada dan berkata, “Biar aku saja yang bawa. Aku kan tidak puasa. Ayo jalan!”

          Saat Seungyeon dan Yunho selesai membagikan nasi, tepat saat itu pula adzan maghrib berkumandang. Yunho celingukan mencari sesuatu hingga akhirnya, “Kau tunggu dulu sebentar di sini ya!” Yunho berlari begitu saja meninggalkan Seungyeon yang kebingungan di pinggir jalan. Lima menit kemudian Yunho datang sambil terengah-engah dan menyodorkan sebotol teh pada Seungyeon. “Maaf lama. Kita tidak membawa minum atau apapun untukmu berbuka dan warung terdekat ternyata cukup jauh juga dari sini,” ucapnya. Seungyeon memandang Yunho takjub. Ia mengambil botol dari tangan Yunho dan mengucapkan terima kasih. Yunho tersenyum manis sembari berkata, “Sama-sama.” Seungyeon tahu pasti kalau jantung Yunho berdetak lebih cepat setelah berlarian mencari warung, tapi ia tidak pernah menyangka jantungnya juga akan berdetak lebih cepat dengan perlakuan Yunho.

          Acara makan bersama sudah hampir selesai ketika jam menunjukkan pukul 18.45. Sebentar kemudian adzan isya’ berkumandang saat Seungyeon dan teman-temannya membereskan peralatan makan mereka yang telah digunakan. “Eh, bukankah kalian harus sholat tarawih? Kalian sholat saja, biar kami yang membereskan piring-piringnya,” Jiwon, teman Seungyeon yang non muslim mengusulkan. Awalnya Seungyeon dan teman-temannya merasa tidak enak, tapi Jiwon dan teman-teman lain terus memaksa dan mengatakan bahwa mereka tidak apa-apa sehingga mereka memutuskan untuk mendirikan sholat di awal waktu. Seungyeon benar-benar takjub dengan semua ini. Ia merasa tercerahkan. Kekhawatirannya selama ini ternyata tidak benar, setidaknya tidak di lingkup pertemanannya. Teman-temannya masih punya tekad yang kuat untuk menyegerakan ibadah meskipun sedang berbuka bersama, ia masih tetap bisa tarawih, tapi yang membuatnya paling terkesan adalah betapa besarnya toleransi antar umat bergama yang bisa ia rasakan di sini. Benar kata Jieun, Seungyeon memang harus melihat lebih dekat untuk bisa benar dalam mengambil kesimpulan. Ia merasa bersalah karena telah menghakimi sepihak sehingga ia berkali-kali mengucap istighfar.

          “Sudah selesai sholatnya?” suara Yunho yang sedari tadi hanya menunggu teman-teman muslimnya sholat tarawih membuyarkan lamunan Seungyeon. “Eh, ah, iya, sudah!” Seungyeon gelagapan. Entah mengapa sejak sore tadi ia merasa melihat sosok lain dari Yunho yang terkenal ceria. Dia lebih dari itu. Toleransinya, kebaikannya, sikap gentleman-nya. Semuanya menyusupkan perasaan yang asing bagi Seungyeon. Perasaan yang tergambarkan oleh langit merah muda di sore hari.

***

          “Nah, Jiyeon sudah menjawab dengan jujur. Sekarang aku akan mengundi nomor lain!” Suara Yeonwoo terdengar memenuhi pendapa rumah Jieun. Rupanya ia menyiapkan permainan truth or dare. Ia membagikan nomer ke setiap orang dan mengundi nomor tersebut untuk menentukan siapa yang harus bermain. “Nomor 34! Siapa nomor 34?” teriaknya. Jung Yunho mengangkat kertas kecil bertuliskan nomor 34 sambil tersenyum canggung. Tidak menyangka harus bermain dalam permainan yang diselenggarakan Si Ketua ini. “Wah, Jung Yunho! Baiklah kalau begitu, Jieun yang tadi bermain sekarang boleh menantang Yunho!” “Truth or dare?!” tanya Jieun. “Aku pilih truth saja. Aku tidak mau kalian suruh melakukan hal aneh-aneh,” jawab Yunho. “Wah, kau meremehkanku ya? Akan kubuat permainan ini sulit untukmu. Hm...” Jieun berpikir beberapa lama untuk mencari pertanyaan. “Baik, cobalah berkata jujur, siapa teman satu angkatan yang pernah kau sukai waktu kita kuliah dulu? Aku yakin pasti ada!”

          Yunho membelalakkan matanya, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan macam itu. “Wah, bahkan pertanyaan untukmu tadi tidak sesulit ini!” kata Yunho ke Jieun. “Kalau itu salahkan saja Yeonwoo yang memilih pertanyaan lemah. Aku di level yang berbeda darinya!” Jieun berkata sambil terkekeh. Yunho terlihat ragu-ragu menjawab dan akhirnya berkata, “Apa jadinya kalau aku memilih dare tadi?” “Akan kutantang kau untuk menyatakan perasaan ke orang yang pernah kau sukai saat kuliah dulu!” Benar-benar Jieun, tidak ada matinya. Yunho hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum canggung.

          Yunho menghela napas panjang kemudian akhirnya membuka suara, “...Seungyeon.” “Siapa?!” teman-temannya bertanya karena suara Yunho terlalu kecil dan mereka tidak mendengar. Sementara yang sudah mendengar sontak berkata, “Wuaaaah” “Seungyeon!” ulangnya. “Dulu aku pernah menyukai Seungyeon. Aku menyukainya karena dia benar-benar baik dan pintar. Sosok yang nyaris sempurna. Tapi kalian sendiri tahu kami tidak mungkin. Lagipula itu dulu. Semuanya sudah lewat,” Yunho berkata sambil matanya tertuju pada Seungyeon, seolah dia benar-benar menyampaikan perasaan terdalamnya beberapa tahun yang lalu secara langsung pada Seungyeon.

          “Eh?” Seungyeon tidak menyangka akan mendengar jawaban itu dari mulut Yunho. Beberapa tahun yang lalu, ia tahu ia memiliki perasaan serupa pada Yunho. Tapi, seperti kata Yunho : “mereka tidak mungkin”. Jadi Seungyeon hanya memendam perasaannya sendiri dalam-dalam. Ia membiarkan perasaan itu pergi begitu saja seiring berjalannya waktu. “Waaaah Seungyeon! Rupanya kau orangnya! Bagaimana komentarmu akan hal ini?” Teriakan Yeonwoo memecah keterkejutan Seungyeon akan pengakuan yang baru saja didapatnya. “Apa-apaan kau Yeonwoo! Aku tidak ada komentar!” ujarnya.

          Sekitar pukul 22.30, acara buka bersama sekaligus reuni angkatan Seungyeon akhirnya ditutup. Semua orang saling berpamitan, termasuk Yunho dan Seungyeon. “Yunho-ya, aku pulang dulu,” pamit Seungyeon. “Ah, oke! Oh iya, tentang yang tadi, kuharap kau tidak marah atau berpikiran yang tidak-tidak. Itu hanya perasaanku dulu. Sekarang semuanya sudah berlalu.” “Tenang saja, aku mengerti. Itu hanya masa lalu. Wajar kalau ada teman yang membuat kita merasa menyukainya sedikit lebih banyak dari teman yang lain. Kau santai saja,” jelas Seungyeon.

***

          “Aku tidak menyangka dia benar-benar mengatakannya,” ucap sesosok tinggi ramping yang berjalan di samping Seungyeon menuju mobil. “Kenapa tidak?” “Beberapa orang teman dekatnya, termasuk aku, tahu akan perasaannya padamu dulu. Kami tahu bagaimana dia selalu menahan perasaannya dan menyembunyikannya darimu ataupun orang lain. Tak kusangka sekarang dia berani mengatakannya di hadapan semua orang, termasuk aku.”

          Seungyeon menghentikan langkahnya. “Kau cemburu?” tanyanya langsung. Shim Changmin, sosok yang berjalan bersama Seungyeon seketika menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke arah Seungyeon dan menatapnya beberapa lama. Seolah ia hendak membaca pikiran Seungyeon. “Mungkin iya. Mungkin juga tidak,” jawabnya kemudian sambil tersenyum. “Lalu yang mana?!” Seungyeon setengah berteriak saking kesalnya merasa dipermainkan oleh Changmin. Changmin hanya tertawa. Lama. Sampai Seungyeon yang awalnya kesal jadi ikut tertawa kecil mendengar suara tawa ditambah mismatched eyes-nya yang membuatnya semakin menggemaskan bagi Seungyeon.

          Changmin akhirnya mendorong pundak Seungyeon dan menggiringnya ke tempat duduk penumpang di dalam mobil. Ia sendiri duduk di tempat duduk sopir dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. “Hei, kau masih belum menjawab pertanyaanku,” tagih Seungyeon. “Pertanyaan yang mana lagi, aku kan sudah menjawab pertanyaanmu tadi,” jawab Changmin sambil tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. “Kau hanya tertawa saat kutanya yang mana, apa menurutmu itu sebuah jawaban?” Seungyeon mulai merajuk. “Mungkin iya, mungkin tidak. Itu jawabannya. Tidak penting yang mana. Kurasa dia benar-benar ingin menuntaskan perasaannya padamu dengan mengutarakan perasaannya itu bahkan di hadapanku. Tapi justru karena itu aku yakin perasaan Yunho hanyalah cerita masa lalu. Lagipula yang terpenting sekarang kau adalah istriku. Jadi, ayo kita pulang!” Seungyeon memandang sosok di sampingnya dengan lembut. “Eung!” jawabnya sambil menganggukkan kepala.

 

Twitter : @Pramesti194

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

COPYRIGHT 20187 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK