home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > WITH U

WITH U

Share:
Author : rosadelita_ps
Published : 23 May 2018, Updated : 23 May 2018
Cast : - Jung Ayana - Jung Yunho - Shim Changmin
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |1193 Views |1 Loves
WITH U
CHAPTER 1 : With U

Sebuah kamar sederhana bernuansa klasik seharusnya diiringi dengan musik bertempo pelan yang menenangkan. Akan tetapi, hal sebaliknya justru terjadi. Ruangan berukuran 4 m x 4 m itu justru dipenuhi suara teriakan panjang dari seorang lelaki, meski lelaki itu tidak benar-benar ada di dalam ruangan. Bagaimana mungkin? Itu hanya mungkin terjadi kalau kamu adalah fangirl.

Jung Ayana. Gadis berusia 22 tahun yang sedang menyelesaikan studi akhir, seharusnya sedang sibuk menyelesaikan skripsinya. Akan tetapi, gadis berambut hitam sebahu itu justru sedang asyik menatap layar laptop di depannya. Di layar laptop merah itu, seorang lelaki sedang memegang mikrofon dan membuka mulutnya lebar-lebar. Bernyanyi pada nada tinggi.

Suara ketukan pintu di belakang gadis itu tidak digubrisnya sama sekali. Entah memang tak mendengar atau pura-pura tak dengar. Akhirnya, seseorang membuka pintu itu. Seorang lelaki jangkung dengan mata sipit tegas dan rambut hitam kebirutuaan. Sebuah mangkuk berisi sereal bertengger di tangan kanannya sementara tangan yang lain membawa sebuah sendok.

Jung Yunho, kakak dari Ayana berdiri mematung di ambang pintu. Entah sudah keberapa-ratus-kalinya ia mendapati sang adik sibuk fangirling daripada mengerjakan skripsinya. Padahal Yunho tahu, skripsi adiknya itu tinggal bab-bab akhir kemudian sidang. Mengapa susah sekali menyelesaikannya?

Tanpa perlu menengok layar laptop adiknya, Yunho menyindir, “Shim Changmin lagi?”

Untung saja, sindiran pertama itu didengar oleh Ayana. Tentu saja gadis itu berjingkat terkejut dan segera menjeda video di layar. Gadis itu berbalik dan memasang wajah sebal pada sang kakak.

“Iya. Memangnya kenapa? Tidak boleh?”

Mengabaikan wajah kesal sang adik, Yunho memilih memasuki kamar itu dan duduk santai di atas tempat tidur Ayana. Yunho mengunyah sesendok serealnya kemudian berkata, “Akan lebih baik kalau kamu menyelesaikan skripsimu dahulu.”

“Aku sudah selesai kok,” potong Ayana sambil menyilangkan kedua tangannya. Ayana masih bertahan duduk di tempat belajarnya.

Yunho menelan serealnya, “Coba tunjukkan padaku!”

Ayana terpaku. Dia berbohong. Tentu saja. Dia masih menyelesaikan hasil analisis dan setengah dari pembahasan. Tidak mungkin dia menunjukkan pada kakaknya yang sangat perfeksionis itu.

“Kau berbohong, kan?” bahkan Yunho tahu kalau adiknya berbohong.

Belum sempat Ayana protes, Yunho sudah menjepit hidung mancung adiknya dan berkata, “Makanya jangan terlalu banyak fangirling. Selesaikan dulu skripsimu.”

“Lepas!” dengan susah payah, Ayana berhasil melepaskan jepitan tangan kakaknya di hidungnya. Sekarang hidungnya terlihat merah. “Iya. Iya. Aku tahu. Akan kukerjakan sekarang.”

Ayana berbalik pada laptopnya. Menutup layar video itu dan membuka aplikasi Word. Sambil menunggu aplikasi terbuka, Ayana menoleh pada Yunho yang sedang asyik makan sereal.

Oppa,” panggil Ayana dengan nada dibuat semanis mungkin.

“Hm?” gumam Yunho karena masih menunyah sereal. Yunho selalu merasakan sinyal berbahaya ketika adiknya memanggil seperti itu. Pertanda jika adiknya menginginkan sesuatu.

“Boleh aku minta?” Ayana menyodorkan kedua tangan dan memasang wajah memelas.

Yunho menyelesaikan kunyahannya lalu berkata dengan licik, “Kau ‘kan sedang puasa.”

Ayana menarik kedua tangannya untuk menutup mulutnya. Benar. Ayana lupa kalau dia sedang berpuasa.

“Kau sendiri ‘kan yang bilang, kalau di bulan ini, semua orang muslim di dunia sedang melaksanakan puasa.” Yunho menegaskan setengah menggoda.

Ayana segera mengalihkan posisinya, kembali menatap layar laptop.

Yunho mengeluarkan smirk mautnya −yang mungkin jika para gadis melihatnya, beberapa di antara mereka mungkin sudah hilang akal. “Apakah kau yakin mau minta?”

Ayana melotot marah karena digoda sang kakak. “Yah! Sekarang kakak pergi dari kamarku!”

Yunho menggeleng pelan. “Tidak. Aku akan di sini untuk mengawasimu.”

“Untuk apa mengawasiku? Yang ada malah kakak membuatku ngiler,” protes Ayana tanpa berani menatap sang kakak.

Yunho terkikik pelan. Ia lalu berdiri lalu mendekati sang adik. Mengacak rambut Ayana lalu beranjak menuju pintu kamar. “Baiklah. Aku akan keluar. Segera kerjakan skripsimu.”

“Iya, iya,” jawab Ayana setengah malas.

Yunho berbalik menatap adiknya sebelum menutup pintu. “Dan jangan sampai batal puasamu.”

***

Dapur keluarga Jung hari ini terlihat seperti kapal pecah. Bukan karena terkena bom atau bencana lainnya. Tapi karena si bungsu keluarga Jung sedang masak besar. Mungkin dia sedang dalam suasana yang baik. Ditambah lagi alunan suara idolanya bergema di ruangan itu. Membuat Ayana semakin bersemangat.

Tak berselang lama, seseorang memasuki rumah bernuansa klasik itu. Siapa lagi kalau bukan Yunho? Sangat tidak mungkin kalau itu orang lain, mengingat ayah dan ibu mereka sudah tiada.

Lelaki jangkung itu segera beranjak ke dapur begitu mendengar suara sesuatu digoreng. “Sedang memasak?” tanya Yunho begitu sampai di dapur. Lelaki itu berdiri di depan counter.

“Tentu saja. Aku akan memasak banyak untuk berbuka nanti,” jawab Ayana riang. Tentu saja gadis itu tidak lupa untuk mengecek masakannya.

“Apakah nanti teman-temanmu akan ke sini untuk berbuka?”

Ayana mengangguk bersemangat. “Iya. Beberapa teman kuliahku juga akan datang.”

Yunho hanya mengangguk beberapa kali. Yunho senang, akhirnya sang adik bisa menerima keadaan di Indonesia. Setelah kedua orangtua mereka meninggal, kedua anggota keluarga Jung itu memutuskan untuk pindah negara. Indonesia adalah negara tujuan mereka. Berbekal ijazah S2, Yunho memutuskan untuk bekerja di Kedubes Korea Selatan untuk Indonesia. Sedangkan Ayana, memilih melanjutkan S1-nya yang sempat tertunda.

Yunho menghentikan lamunannya ketika mendengar Ayana bertanya, “Bagaimana kegiatan Kakak di gereja tadi?”

Yunho mengangkat bahu lalu beranjak ke meja makan. Lelaki itu memutuskan untuk duduk di sana. “Seperti biasa. Kami beribadah dan berdoa pada Tuhan.”

“Lalu mengapa hari ini Kakak pulang terlambat?” tanya Ayana menyelidik. Tidak biasanya kakaknya itu pulang setelah tengah hari. Biasanya, setelah kegiatan di gereja, kakaknya pasti akan segera pulang.

Yunho nyengir lebar lalu berkata dengan percaya diri tinggi, “Maaf. Tadi Kakak sibuk melayani penggemar.”

Ayana memutar bola matanya malas lalu berbalik menatap kompor. Gadis itu kembali memasak. Ia sudah malas mendengar cerita penggemar kakaknya yang terkadang bertindak di luar nalar. Dulu, sebelum Ayana pindah agama, Ayana selalu risih jika ada beberapa penggemar kakaknya memblokade jalan. Alhasil, Ayana harus menunggu lama untuk pulang. Ayana sedikit maklum karena kakaknya adalah lelaki berhati ‘malaikat’. Ditambah lagi, kakaknya adalah salah satu anggota dari paduan suara di gereja. Jadi cukup wajar kalau kakaknya terkenal.

Yunho mencium bau gosong dan menoleh pada adiknya. Meski sedang memegang spatula, pandangan adiknya itu kosong. Ayana sedang melamun.

“Ayana! Ikanmu gosong!”

***

Yunho sedang asyik dengan ponsel ketika mendengar suara pintu terbuka. Lelaki itu menoleh dan hendak menyapa adiknya tapi terhenti. Melihat wajah adiknya yang ditekuk tak menyenangkan. Jilbab merah muda yang dikenakan adiknya juga sudah berantakan. Adiknya itu juga berjalan lesu.

“Ayana?” panggil Yunho pelan. Dia tidak ingin mengejutkan adiknya yang mungkin sedang drop.

Gadis itu hanya menoleh lesu lalu beranjak mendekati sang kakak. Duduk di sebelah sang kakak lalu diam.

Yunho tak mengerti apa yang terjadi dengan adiknya. Gadis itu tak mengatakan apa-apa dan itu justru membuatnya semakin khawatir. ‘Apakah terjadi sesuatu yang buruk? Apa yang terjadi padanya?’ kira-kira seperti itulah pertanyaan yang menggelayuti isi otak Yunho.

“Aya_”

Panggilan Yunho terpotong ketika tiba-tiba adiknya itu menangis. Dari yang mula-mula pelan kemudian semakin keras. Yunho ingin bertanya tapi ia menahan rasa penasarannya. Sebagai seorang kakak, ia perlu membiarkan adiknya tenang dahulu sebelum bertanya.

Hampir dua menit dan tangisan Ayana belum reda. Yunho memutuskan untuk meraih bahu adiknya dan menyandarkan di bahunya. Ayana sontak menutup wajahnya dan membenamkan diri di dada kakaknya. Bukannya mereda, Ayana menangis lebih keras sampai Yunho bisa mendengar segukannya. Yunho tak bisa berbuat banyak selain mengelus punggung Ayana untuk memenangkan adiknya.

Beruntung dua menit selanjutnya, tangisan Ayana semakin mereda. Yunho siap untuk bertanya tapi Ayana sudah melepaskan diri dari pelukannya terlebih dahulu. Masih dengan mata yang sembab dan sesegukan, Ayana berkata dengan singkat, “Terimakasih.”

Yunho tersenyum lalu menjawab, “Sama-sama.”

Yunho menunggu tigapuluh detik lalu bertanya, “Apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?”

Ayana siap untuk menumpahkan air matanya lagi tapi ia sudah lelah untuk menangis. Gadis itu berkata dengan tenggorokan yang terasa kering, “Dosen pembimbing menyuruhku mengubah pendahuluan. Kata beliau, latar belakangku masih salah. Padahal kemarin-kemarin tidak disinggung sama sekali. Maksudku, mengapa baru sekarang memberitahuku? Mengapa di saat aku sudah sampai bab akhir? Mengapa harus sekarang?” Ayana berusaha sekuat tenaga untuk tidak menumpahkan air mata lagi.

Yunho kembali meraih bahu Ayana lalu menyandarkan di bahunya. “Tidak apa. Kamu pasti bisa melakukannya. Hal itu sudah biasa," kata Yunho sambil mengelus pelan bahu Ayana. "Bukankah kamu pernah bilang kalau ‘Tuhan tidak akan memberikan kesulitan pada hambanya kecuali Tuhan yakin bahwa hambanya bisa melewati kesulitan itu.’ Bukankah begitu?”

Ayana seolah ditampar. Dia melupakan hal itu. Dia pernah mengatakan hal itu. Selain itu, ia juga terkejut bahwa kakaknya memperhatikannya sampai seperti itu, meskipun mereka sekarang berbeda agama.

Ayana memeluk pinggang kakaknya lalu berkata, “Terimakasih.”

Yunho tersenyum dan menjawab, “Sama-sama.”

***

             Satu jam menuju waktu tengah malam, biasanya Ayana sudah tidur. Tetapi sekarang tidak. Beberapa hari terakhir, setelah ia mendapat ‘pukulan telak’ dari dosen pembimbing, Ayana pantang tidur sebelum target hariannya selesai. Ia memang tidak bisa menyelesaikan semua dalam satu malam tapi gadis itu punya cara untuk mengejar deadline. Beruntung Sang Kakak, Yunho, selalu memberinya semangat dan bantuan-bantuan manis untuk adik semata wayangnya.

            Kini, ketika jam hampir berdentang waktu tengah malam, sebuah pesan surel mengejutkan Ayana. Gadis itu hendak mematikan laptopnya kalau saja tidak ada pesan tersebut. Ayana buru-buru mengecek surel tersebut, mengantisipasi jika pesan tersebut penting. Tetapi, alis Ayana bertaut ketika menyadari bahwa ia tidak mengenal alamat pengirim surel tersebut.

Dihantui rasa penasaran, Ayana tetap membuka isi surel itu. Tidak ada subyek surel. Tidak ada pula badan surel. Hanya ada sebuah file berupa video berdurasi sekitar lima menit. Ayana mengunduh video itu dan memutarnya.

“Selamat malam, Ayana. Namaku Shim Changmin.”

Untuk sesaat, Ayana seolah lupa bernafas. Mata bulat gadis itu melotot  hingga ia tak bisa menelan ludahnya sendiri.

“Kudengar kamu mengidolakanku. Untuk itu terimakasih.”

Entah karena apa, Ayana bisa merasakan pipinya bersemu merah.

“Kudengar lagi bahwa akhir-akhir ini kamu sibuk untuk menyelesaikan skripsi. Benarkah?”

Ayana mengangguk senang meski dalam hati ia bertanya, ‘Bagaimana  dia bisa tahu?

Changmin tersenyum di layar laptop Ayana, membuat gadis itu mati rasa. Oh, semua inderanya benar-benar mati rasa karena ia bahkan tak tahu kalau seekor nyamuk sedang menghisap darahnya.

Mata bambi Changmin menatap kamera sambil berkata, “Sebagai seorang fan, aku yakin kamu tahu bahwa aku telah menyelesaikan S3. Benarkan?” Ayana mengangguk lagi meski Changmin tak bisa melihatnya. “Jadi, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.”

Changmin menghela nafas panjang. Terdengar berat dan sangat lelah.

“Tapi yakinlah bahwa kamu pasti bisa menyelesaikan tugasmu. Yakinlah bahwa semua yang dirintangkan padamu, pasti akan bisa kamu atasi. Yakinlah bahwa apa yang sedang kamu lakukan dengan kerja keras, pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik di masa depan.”

Mendengar sang idola menyemangatinya, Ayana merasa malu. Ia tahu bahwa tidak mudah bagi seorang artis untuk mengerjakan banyak hal sekaligus. Apalagi Changmin yang masih mementingkan pendidikan meskipun ia sangat sibuk dengan pekerjaan.

Video itu masih berputar. Changmin menceritakan bagaimana perjuangannya dulu saat mengerjakan skripsi, tesis, maupun desertasi di sela kesibukannya. Sampai terkadang jarang masuk kelas dan membuat Changmin malu dengan dirinya sendiri. Sebuah sisi yang belum pernah diketahui Ayana, dan mungkin penggemar Changmin yang lain juga tidak tahu.

Changmin menengok jam tangannya lalu berkata, “Maaf, aku harus pergi sekarang. Ayana, semangat! Semoga apa yang kamu impikan bisa tercapai.”

“Aamiin,” gumam Ayana setelah layar laptopnya berubah gelap. Video itu sudah berakhir.

Ayana tidak segera menutup aplikasi pemutar video itu. Tidak pula segera mematikan laptopnya. Gadis itu sedang terbius oleh kata-kata idolanya, Shim Changmin. Ayana tahu bahwa sekarang Changmin tidak hanya idolanya tapi juga sumber inspirasinya.

“Tapi, dari mana Changmin tahu kalau aku sedang skripsi?” Ayana meletakkan jemarinya di bibir, pertanda ia sedang berpikir keras. Ia bergumam lagi, “Dia juga menyebutkan namaku. Bagaimana dia bisa tahu?”

Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Ayana sibuk dengan pertanyaannya sendiri. Ada banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya hingga ia pusing. Sampai akhirnya Ayana memutuskan untuk membawanya dalam mimpi.

***

Beberapa minggu kemudian....

Di depan sebuah ruangan bertuliskan “Ruang Sidang”, beberapa mahasiswa berdiri dan duduk dengan berbagai bingkisan. Ada yang membawa boneka, bunga, makanan, dan masih banyak lagi. Keriuhan di luar ruangan itu terhenti ketika seseorang membuka pintu ruangan itu. Tiga orang dewasa keluar dengan wajah tegang seolah tak bisa tertawa. Ketika tiga orang itu hilang dari pandangan para mahasiswa, seorang mahasiswa keluar dari ruangan itu. Lengkap dengan ekspresi ingin menangis.

Beberapa mahasiswa menghampirinya lalu bertanya, “Ayana, bagaimana sidangnya?”

Gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap satu per satu teman yang ada di sana. “Aku lulus,” katanya dengan lemah.

Bukan Ayana tapi teman-temannya yang menjerit senang lalu memeluk gadis itu dengan sangat kencang. Ayana ingin memprotes tapi bahkan ia tak bisa bernafas. Beruntung teman-temannya menyadari akan hal itu dan segera melepaskan pelukan.

Ujaran kata “Selamat” tak henti-henti diterima Ayana. Akhirnya, semua perjuangannya selama satu tahun membuahkan hasil. Meskipun sempat tersendat di tengah dan hampir tak menemukan jalan untuk keluar, akhirnya Ayana bisa menyelesaikannya. Ia juga merasa harus berterimakasih pada kakak dan idolanya.

Oppa!” teriak Ayana ketika menemukan sosok kakaknya berjalan menghampirinya. Ayana tak melihat kakaknya membawa sesuatu tapi kedatangan kakaknya sudah cukup bagi Ayana. Dan mungkin juga bagi beberapa teman Ayana, yang notabene mengidolakan kakak Ayana yang memiliki ketampanan di atas rata-rata.

“Selamat, ya!” ujar Yunho sambil memeluk adiknya. Secara otomatis, teman-teman Ayana memberikan tempat untuk kakak-adik itu. Tak sedikit dari teman-teman Ayana yang mengeluarkan ponsel dan mengabadikan momen manis itu. Entah mengabadikan momennya atau mengabadikan kakak Ayana?

Setelah melepaskan pelukan, Yunho berkata dengan misterius, “Ayana, kita harus cepat pulang.”

“Mengapa?” tanya Ayana sedikit kecewa. Ia belum berfoto dengan teman-temannya dan beristirahat.

“Teman kakak akan bertamu ke rumah,” jawab Yunho meyakinkan.

Ayana mengedarkan pandangan, menatap teman-teman di sekelilingnya. Kemudian Ayana kembali menatap Yunho dengan wajah penuh permohonan, “Berikan aku waktu sepuluh menit untuk berfoto dengan teman-temanku.”

Yunho bersedekap lalu berkata dengan mutlak, “Lima menit atau tidak sama sekali.”

Detik selanjutnya, Ayana mengerahkan teman-temannya untuk keluar dari gedung. Mencari tempat foto yang bagus dan mengabadikan momen sebanyak-banyaknya. Ayana bahkan melupakan Yunho yang kerepotan membawa barang-barang Ayana yang tertinggal di dalam ruang sidang.

***

Ayana sudah terlalu capek. Dia butuh istirahat secepatnya hingga ia melupakan kakaknya yang tertinggal di belakang. Ayana berhambur membuka pintu rumah dan masuk begitu saja. Ayana hendak menjerit karena mendapati seseorang di dalam rumahnya. Seorang lelaki jangkung dengan wajah yang familiar berdiri di depannya.

“Shim Changmin?” gumam Ayana dengan sangat pelan. Gadis itu ingin pergi ke psikiater untuk memastikan apakah dia masih waras. Ayana tidak mungkin berhalusinasi bukan?

Sementara itu, lelaki jangkung di depan Ayana justru menatap jauh di belakang Ayana. Yunho keluar dari mobil membawa tas Ayana, yang sengaja ditinggalkan pemiliknya.

“Yo! Yunho Hyung!” teriak Changmin.

Ayana merasakan serangan selanjutnya. ‘Bagaimana mungkin Changmin mengenal Kakaknya?

Ayana berbalik dan mendapati ekspresi cerah kakaknya, yang terlihat bersahabat pada Changmin. Hal yang bertolak belakang ketika Ayana heboh melihat penampilan idolanya di layar laptop. Ayana bahkan mengucapkan istighfar ketika melihat kakaknya dan idolanya berpelukan sangat akrab.

“Ada apa, Ayana?” Yunho menyadari keterkejutan adiknya dan bertanya sambil menyudahi pelukan.

Ayana menggeleng pelan meski mulutnya tidak bisa menutup. Ketika ia menemukan suaranya, Ayana bertanya, “Bagaimana mungkin kakak....?” dan ia kembali kehilangan kata-kata.

Yunho dan Changmin saling menatap sekian detik. Kemudian tawa kedua lelaki jangkung itu pecah begitu saja. Membuat Ayana merasa tersisihkan dan tersinggung. Bahkan jika Ayana tidak mengenal mereka, mungkin Ayana sudah menendang kedua lelaki itu

“Baiklah. Kita bicarakan saja di dalam,” kata Yunho sambil menggiring adik dan tamunya memasuki rumah keluarga Jung.

Ayana tidak bisa bertindak banyak. Gadis itu hanya mengiyakan perintah kakaknya.

***

“Jadi sebenarnya Kakak itu kakak tingkat Changmin Oppa?”

Yunho mengangguk bangga. Sementara Changmin mengangguk malu sambil menambahkan, “Sebenarnya, Yunho Hyung itu kakak tingkat yang aku hormati di kampus. Kami berada di satu komunitas yang sama. Jadi, aku lumayan banyak belajar darinya.”

Yunho tersenyum bangga dan malu bersamaan. Ayana ingin sekali menggigit telinga kakaknya yang terlihat bangga berlebihan itu. Dengan mata menyelidik, Ayana bertanya pada Yunho, “Lalu mengapa Kakak terlihat seperti tidak suka ketika aku menonton penampilan Changmin? Bahkan Kakak tidak terlihat seperti orang yang mengenal Changmin?”

Yunho menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, “Itu karena aku iri.”

What?” Ayana memekik terkejut.

“Ya, siapa pula Kakak yang senang jika adiknya lebih menyukai orang lain daripada keluarganya sendiri?” Yunho menjawab tanpa menatap Ayana. Antara malu dan kesal di saat bersamaan.

Membuat Changmin yang sedang duduk di sofa menyembunyikan kikikannya. Sementara itu, Ayana terharu sekaligus kesal pada Kakaknya yang selama ini membohonginya denga bertindak seolah-olah tak mengenal idolanya. Ayana mengalihkan pandangannya, menatap beberapa makanan dan minuman hadiah dari Changmin di atas meja. Katanya sebagai tanda selamat atas selesai sidang skripsi.

Bicara tentang skripsi, Ayana teringat sesuatu. “Jadi yang meminta Changmin untuk membuat video dan mengirimkannya ke surelku adalah Kakak?” tanya Ayana dengan nada serius.

Changmin berhenti terkikik sedangkan Yunho menatap Ayana. Tatapan seorang pencuri yang ketahuan atas tindakannya. Tidak banyak yang bisa dilakukan Yunho. Hanya tersenyum, membentuk ‘peace’ dengan kedua jarinya, lalu berkata, “Iya.”

Untuk satu waktu, Ayana terharu dengan tindakan kakaknya. Meski terlihat tidak peduli dan membiarkannya kesusahan, rupanya Yunho masih menaruh perhatian besar pada adik semata wayangnya. Tapi keharuan Ayana tidak berselang lama karena Changmin yang meledakan tawanya.

“Yah! Changmin! Apa yang kau tertawakan?” tanya Yunho dengan ekspresi tersinggung.

Bukannya menjawab, Changmin justru menutup mulutnya, berusaha meredam tawa. Tapi ia tak bisa dan berujung dengan ledakan tawa selanjutnya.

Merasa terganggu dengan tawa mengejek Changmin, Yunho mengambil bantal sofa dan melemparkannya pada Changmin.

Dan bukannya berhenti, Changmin justru membalas Yunho dengan melempar bantal sofa tersebut. Dan begitulah seterusnya kedua lelaki itu justru sibuk untuk bertingkah layaknya balita yang berebut permen. Sebuah sisi yang tidak pernah dilihat Ayana sebelumnya.

Ya Allah, terimakasih telah mengirimkan mereka berdua padaku. Seorang kakak yang perhatian dan sayang padaku. Serta seorang idola yang bisa menjadi inspirasiku. Alhamdulillah.’

***

Sebuah kamar sederhana bernuansa klasik seharusnya diiringi dengan musik bertempo pelan yang menenangkan. Akan tetapi, hal sebaliknya justru terjadi. Ruangan berukuran 4 m x 4 m itu justru dipenuhi suara teriakan panjang dari seorang lelaki, meski lelaki itu tidak benar-benar ada di dalam ruangan. Bagaimana mungkin? Itu hanya mungkin terjadi kalau kamu adalah fangirl.

Jung Ayana. Gadis berusia 22 tahun yang sedang menyelesaikan studi akhir, seharusnya sedang sibuk menyelesaikan skripsinya. Akan tetapi, gadis berambut hitam sebahu itu justru sedang asyik menatap layar laptop di depannya. Di layar laptop merah itu, seorang lelaki sedang memegang mikrofon dan membuka mulutnya lebar-lebar. Bernyanyi pada nada tinggi.

Suara ketukan pintu di belakang gadis itu tidak digubrisnya sama sekali. Entah memang tak mendengar atau pura-pura tak dengar. Akhirnya, seseorang membuka pintu itu. Seorang lelaki jangkung dengan mata sipit tegas dan rambut hitam kebirutuaan. Sebuah mangkuk berisi sereal bertengger di tangan kanannya sementara tangan yang lain membawa sebuah sendok.

Jung Yunho, kakak dari Ayana berdiri mematung di ambang pintu. Entah sudah keberapa-ratus-kalinya ia mendapati sang adik sibuk fangirling daripada mengerjakan skripsinya. Padahal Yunho tahu, skripsi adiknya itu tinggal bab-bab akhir kemudian sidang. Mengapa susah sekali menyelesaikannya?

Tanpa perlu menengok layar laptop adiknya, Yunho menyindir, “Shim Changmin lagi?”

Untung saja, sindiran pertama itu didengar oleh Ayana. Tentu saja gadis itu berjingkat terkejut dan segera menjeda video di layar. Gadis itu berbalik dan memasang wajah sebal pada sang kakak.

“Iya. Memangnya kenapa? Tidak boleh?”

Mengabaikan wajah kesal sang adik, Yunho memilih memasuki kamar itu dan duduk santai di atas tempat tidur Ayana. Yunho mengunyah sesendok serealnya kemudian berkata, “Akan lebih baik kalau kamu menyelesaikan skripsimu dahulu.”

“Aku sudah selesai kok,” potong Ayana sambil menyilangkan kedua tangannya. Ayana masih bertahan duduk di tempat belajarnya.

Yunho menelan serealnya, “Coba tunjukkan padaku!”

Ayana terpaku. Dia berbohong. Tentu saja. Dia masih menyelesaikan hasil analisis dan setengah dari pembahasan. Tidak mungkin dia menunjukkan pada kakaknya yang sangat perfeksionis itu.

“Kau berbohong, kan?” bahkan Yunho tahu kalau adiknya berbohong.

Belum sempat Ayana protes, Yunho sudah menjepit hidung mancung adiknya dan berkata, “Makanya jangan terlalu banyak fangirling. Selesaikan dulu skripsimu.”

“Lepas!” dengan susah payah, Ayana berhasil melepaskan jepitan tangan kakaknya di hidungnya. Sekarang hidungnya terlihat merah. “Iya. Iya. Aku tahu. Akan kukerjakan sekarang.”

Ayana berbalik pada laptopnya. Menutup layar video itu dan membuka aplikasi Word. Sambil menunggu aplikasi terbuka, Ayana menoleh pada Yunho yang sedang asyik makan sereal.

Oppa,” panggil Ayana dengan nada dibuat semanis mungkin.

“Hm?” gumam Yunho karena masih menunyah sereal. Yunho selalu merasakan sinyal berbahaya ketika adiknya memanggil seperti itu. Pertanda jika adiknya menginginkan sesuatu.

“Boleh aku minta?” Ayana menyodorkan kedua tangan dan memasang wajah memelas.

Yunho menyelesaikan kunyahannya lalu berkata dengan licik, “Kau ‘kan sedang puasa.”

Ayana menarik kedua tangannya untuk menutup mulutnya. Benar. Ayana lupa kalau dia sedang berpuasa.

“Kau sendiri ‘kan yang bilang, kalau di bulan ini, semua orang muslim di dunia sedang melaksanakan puasa.” Yunho menegaskan setengah menggoda.

Ayana segera mengalihkan posisinya, kembali menatap layar laptop.

Yunho mengeluarkan smirk mautnya −yang mungkin jika para gadis melihatnya, beberapa di antara mereka mungkin sudah hilang akal. “Apakah kau yakin mau minta?”

Ayana melotot marah karena digoda sang kakak. “Yah! Sekarang kakak pergi dari kamarku!”

Yunho menggeleng pelan. “Tidak. Aku akan di sini untuk mengawasimu.”

“Untuk apa mengawasiku? Yang ada malah kakak membuatku ngiler,” protes Ayana tanpa berani menatap sang kakak.

Yunho terkikik pelan. Ia lalu berdiri lalu mendekati sang adik. Mengacak rambut Ayana lalu beranjak menuju pintu kamar. “Baiklah. Aku akan keluar. Segera kerjakan skripsimu.”

“Iya, iya,” jawab Ayana setengah malas.

Yunho berbalik menatap adiknya sebelum menutup pintu. “Dan jangan sampai batal puasamu.”

***

Dapur keluarga Jung hari ini terlihat seperti kapal pecah. Bukan karena terkena bom atau bencana lainnya. Tapi karena si bungsu keluarga Jung sedang masak besar. Mungkin dia sedang dalam suasana yang baik. Ditambah lagi alunan suara idolanya bergema di ruangan itu. Membuat Ayana semakin bersemangat.

Tak berselang lama, seseorang memasuki rumah bernuansa klasik itu. Siapa lagi kalau bukan Yunho? Sangat tidak mungkin kalau itu orang lain, mengingat ayah dan ibu mereka sudah tiada.

Lelaki jangkung itu segera beranjak ke dapur begitu mendengar suara sesuatu digoreng. “Sedang memasak?” tanya Yunho begitu sampai di dapur. Lelaki itu berdiri di depan counter.

“Tentu saja. Aku akan memasak banyak untuk berbuka nanti,” jawab Ayana riang. Tentu saja gadis itu tidak lupa untuk mengecek masakannya.

“Apakah nanti teman-temanmu akan ke sini untuk berbuka?”

Ayana mengangguk bersemangat. “Iya. Beberapa teman kuliahku juga akan datang.”

Yunho hanya mengangguk beberapa kali. Yunho senang, akhirnya sang adik bisa menerima keadaan di Indonesia. Setelah kedua orangtua mereka meninggal, kedua anggota keluarga Jung itu memutuskan untuk pindah negara. Indonesia adalah negara tujuan mereka. Berbekal ijazah S2, Yunho memutuskan untuk bekerja di Kedubes Korea Selatan untuk Indonesia. Sedangkan Ayana, memilih melanjutkan S1-nya yang sempat tertunda.

Yunho menghentikan lamunannya ketika mendengar Ayana bertanya, “Bagaimana kegiatan Kakak di gereja tadi?”

Yunho mengangkat bahu lalu beranjak ke meja makan. Lelaki itu memutuskan untuk duduk di sana. “Seperti biasa. Kami beribadah dan berdoa pada Tuhan.”

“Lalu mengapa hari ini Kakak pulang terlambat?” tanya Ayana menyelidik. Tidak biasanya kakaknya itu pulang setelah tengah hari. Biasanya, setelah kegiatan di gereja, kakaknya pasti akan segera pulang.

Yunho nyengir lebar lalu berkata dengan percaya diri tinggi, “Maaf. Tadi Kakak sibuk melayani penggemar.”

Ayana memutar bola matanya malas lalu berbalik menatap kompor. Gadis itu kembali memasak. Ia sudah malas mendengar cerita penggemar kakaknya yang terkadang bertindak di luar nalar. Dulu, sebelum Ayana pindah agama, Ayana selalu risih jika ada beberapa penggemar kakaknya memblokade jalan. Alhasil, Ayana harus menunggu lama untuk pulang. Ayana sedikit maklum karena kakaknya adalah lelaki berhati ‘malaikat’. Ditambah lagi, kakaknya adalah salah satu anggota dari paduan suara di gereja. Jadi cukup wajar kalau kakaknya terkenal.

Yunho mencium bau gosong dan menoleh pada adiknya. Meski sedang memegang spatula, pandangan adiknya itu kosong. Ayana sedang melamun.

“Ayana! Ikanmu gosong!”

***

Yunho sedang asyik dengan ponsel ketika mendengar suara pintu terbuka. Lelaki itu menoleh dan hendak menyapa adiknya tapi terhenti. Melihat wajah adiknya yang ditekuk tak menyenangkan. Jilbab merah muda yang dikenakan adiknya juga sudah berantakan. Adiknya itu juga berjalan lesu.

“Ayana?” panggil Yunho pelan. Dia tidak ingin mengejutkan adiknya yang mungkin sedang drop.

Gadis itu hanya menoleh lesu lalu beranjak mendekati sang kakak. Duduk di sebelah sang kakak lalu diam.

Yunho tak mengerti apa yang terjadi dengan adiknya. Gadis itu tak mengatakan apa-apa dan itu justru membuatnya semakin khawatir. ‘Apakah terjadi sesuatu yang buruk? Apa yang terjadi padanya?’ kira-kira seperti itulah pertanyaan yang menggelayuti isi otak Yunho.

“Aya_”

Panggilan Yunho terpotong ketika tiba-tiba adiknya itu menangis. Dari yang mula-mula pelan kemudian semakin keras. Yunho ingin bertanya tapi ia menahan rasa penasarannya. Sebagai seorang kakak, ia perlu membiarkan adiknya tenang dahulu sebelum bertanya.

Hampir dua menit dan tangisan Ayana belum reda. Yunho memutuskan untuk meraih bahu adiknya dan menyandarkan di bahunya. Ayana sontak menutup wajahnya dan membenamkan diri di dada kakaknya. Bukannya mereda, Ayana menangis lebih keras sampai Yunho bisa mendengar segukannya. Yunho tak bisa berbuat banyak selain mengelus punggung Ayana untuk memenangkan adiknya.

Beruntung dua menit selanjutnya, tangisan Ayana semakin mereda. Yunho siap untuk bertanya tapi Ayana sudah melepaskan diri dari pelukannya terlebih dahulu. Masih dengan mata yang sembab dan sesegukan, Ayana berkata dengan singkat, “Terimakasih.”

Yunho tersenyum lalu menjawab, “Sama-sama.”

Yunho menunggu tigapuluh detik lalu bertanya, “Apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?”

Ayana siap untuk menumpahkan air matanya lagi tapi ia sudah lelah untuk menangis. Gadis itu berkata dengan tenggorokan yang terasa kering, “Dosen pembimbing menyuruhku mengubah pendahuluan. Kata beliau, latar belakangku masih salah. Padahal kemarin-kemarin tidak disinggung sama sekali. Maksudku, mengapa baru sekarang memberitahuku? Mengapa di saat aku sudah sampai bab akhir? Mengapa harus sekarang?” Ayana berusaha sekuat tenaga untuk tidak menumpahkan air mata lagi.

Yunho kembali meraih bahu Ayana lalu menyandarkan di bahunya. “Tidak apa. Kamu pasti bisa melakukannya. Hal itu sudah biasa," kata Yunho sambil mengelus pelan bahu Ayana. "Bukankah kamu pernah bilang kalau ‘Tuhan tidak akan memberikan kesulitan pada hambanya kecuali Tuhan yakin bahwa hambanya bisa melewati kesulitan itu.’ Bukankah begitu?”

Ayana seolah ditampar. Dia melupakan hal itu. Dia pernah mengatakan hal itu. Selain itu, ia juga terkejut bahwa kakaknya memperhatikannya sampai seperti itu, meskipun mereka sekarang berbeda agama.

Ayana memeluk pinggang kakaknya lalu berkata, “Terimakasih.”

Yunho tersenyum dan menjawab, “Sama-sama.”

***

             Satu jam menuju waktu tengah malam, biasanya Ayana sudah tidur. Tetapi sekarang tidak. Beberapa hari terakhir, setelah ia mendapat ‘pukulan telak’ dari dosen pembimbing, Ayana pantang tidur sebelum target hariannya selesai. Ia memang tidak bisa menyelesaikan semua dalam satu malam tapi gadis itu punya cara untuk mengejar deadline. Beruntung Sang Kakak, Yunho, selalu memberinya semangat dan bantuan-bantuan manis untuk adik semata wayangnya.

            Kini, ketika jam hampir berdentang waktu tengah malam, sebuah pesan surel mengejutkan Ayana. Gadis itu hendak mematikan laptopnya kalau saja tidak ada pesan tersebut. Ayana buru-buru mengecek surel tersebut, mengantisipasi jika pesan tersebut penting. Tetapi, alis Ayana bertaut ketika menyadari bahwa ia tidak mengenal alamat pengirim surel tersebut.

Dihantui rasa penasaran, Ayana tetap membuka isi surel itu. Tidak ada subyek surel. Tidak ada pula badan surel. Hanya ada sebuah file berupa video berdurasi sekitar lima menit. Ayana mengunduh video itu dan memutarnya.

“Selamat malam, Ayana. Namaku Shim Changmin.”

Untuk sesaat, Ayana seolah lupa bernafas. Mata bulat gadis itu melotot  hingga ia tak bisa menelan ludahnya sendiri.

“Kudengar kamu mengidolakanku. Untuk itu terimakasih.”

Entah karena apa, Ayana bisa merasakan pipinya bersemu merah.

“Kudengar lagi bahwa akhir-akhir ini kamu sibuk untuk menyelesaikan skripsi. Benarkah?”

Ayana mengangguk senang meski dalam hati ia bertanya, ‘Bagaimana  dia bisa tahu?

Changmin tersenyum di layar laptop Ayana, membuat gadis itu mati rasa. Oh, semua inderanya benar-benar mati rasa karena ia bahkan tak tahu kalau seekor nyamuk sedang menghisap darahnya.

Mata bambi Changmin menatap kamera sambil berkata, “Sebagai seorang fan, aku yakin kamu tahu bahwa aku telah menyelesaikan S3. Benarkan?” Ayana mengangguk lagi meski Changmin tak bisa melihatnya. “Jadi, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.”

Changmin menghela nafas panjang. Terdengar berat dan sangat lelah.

“Tapi yakinlah bahwa kamu pasti bisa menyelesaikan tugasmu. Yakinlah bahwa semua yang dirintangkan padamu, pasti akan bisa kamu atasi. Yakinlah bahwa apa yang sedang kamu lakukan dengan kerja keras, pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik di masa depan.”

Mendengar sang idola menyemangatinya, Ayana merasa malu. Ia tahu bahwa tidak mudah bagi seorang artis untuk mengerjakan banyak hal sekaligus. Apalagi Changmin yang masih mementingkan pendidikan meskipun ia sangat sibuk dengan pekerjaan.

Video itu masih berputar. Changmin menceritakan bagaimana perjuangannya dulu saat mengerjakan skripsi, tesis, maupun desertasi di sela kesibukannya. Sampai terkadang jarang masuk kelas dan membuat Changmin malu dengan dirinya sendiri. Sebuah sisi yang belum pernah diketahui Ayana, dan mungkin penggemar Changmin yang lain juga tidak tahu.

Changmin menengok jam tangannya lalu berkata, “Maaf, aku harus pergi sekarang. Ayana, semangat! Semoga apa yang kamu impikan bisa tercapai.”

“Aamiin,” gumam Ayana setelah layar laptopnya berubah gelap. Video itu sudah berakhir.

Ayana tidak segera menutup aplikasi pemutar video itu. Tidak pula segera mematikan laptopnya. Gadis itu sedang terbius oleh kata-kata idolanya, Shim Changmin. Ayana tahu bahwa sekarang Changmin tidak hanya idolanya tapi juga sumber inspirasinya.

“Tapi, dari mana Changmin tahu kalau aku sedang skripsi?” Ayana meletakkan jemarinya di bibir, pertanda ia sedang berpikir keras. Ia bergumam lagi, “Dia juga menyebutkan namaku. Bagaimana dia bisa tahu?”

Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Ayana sibuk dengan pertanyaannya sendiri. Ada banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya hingga ia pusing. Sampai akhirnya Ayana memutuskan untuk membawanya dalam mimpi.

***

Beberapa minggu kemudian....

Di depan sebuah ruangan bertuliskan “Ruang Sidang”, beberapa mahasiswa berdiri dan duduk dengan berbagai bingkisan. Ada yang membawa boneka, bunga, makanan, dan masih banyak lagi. Keriuhan di luar ruangan itu terhenti ketika seseorang membuka pintu ruangan itu. Tiga orang dewasa keluar dengan wajah tegang seolah tak bisa tertawa. Ketika tiga orang itu hilang dari pandangan para mahasiswa, seorang mahasiswa keluar dari ruangan itu. Lengkap dengan ekspresi ingin menangis.

Beberapa mahasiswa menghampirinya lalu bertanya, “Ayana, bagaimana sidangnya?”

Gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap satu per satu teman yang ada di sana. “Aku lulus,” katanya dengan lemah.

Bukan Ayana tapi teman-temannya yang menjerit senang lalu memeluk gadis itu dengan sangat kencang. Ayana ingin memprotes tapi bahkan ia tak bisa bernafas. Beruntung teman-temannya menyadari akan hal itu dan segera melepaskan pelukan.

Ujaran kata “Selamat” tak henti-henti diterima Ayana. Akhirnya, semua perjuangannya selama satu tahun membuahkan hasil. Meskipun sempat tersendat di tengah dan hampir tak menemukan jalan untuk keluar, akhirnya Ayana bisa menyelesaikannya. Ia juga merasa harus berterimakasih pada kakak dan idolanya.

Oppa!” teriak Ayana ketika menemukan sosok kakaknya berjalan menghampirinya. Ayana tak melihat kakaknya membawa sesuatu tapi kedatangan kakaknya sudah cukup bagi Ayana. Dan mungkin juga bagi beberapa teman Ayana, yang notabene mengidolakan kakak Ayana yang memiliki ketampanan di atas rata-rata.

“Selamat, ya!” ujar Yunho sambil memeluk adiknya. Secara otomatis, teman-teman Ayana memberikan tempat untuk kakak-adik itu. Tak sedikit dari teman-teman Ayana yang mengeluarkan ponsel dan mengabadikan momen manis itu. Entah mengabadikan momennya atau mengabadikan kakak Ayana?

Setelah melepaskan pelukan, Yunho berkata dengan misterius, “Ayana, kita harus cepat pulang.”

“Mengapa?” tanya Ayana sedikit kecewa. Ia belum berfoto dengan teman-temannya dan beristirahat.

“Teman kakak akan bertamu ke rumah,” jawab Yunho meyakinkan.

Ayana mengedarkan pandangan, menatap teman-teman di sekelilingnya. Kemudian Ayana kembali menatap Yunho dengan wajah penuh permohonan, “Berikan aku waktu sepuluh menit untuk berfoto dengan teman-temanku.”

Yunho bersedekap lalu berkata dengan mutlak, “Lima menit atau tidak sama sekali.”

Detik selanjutnya, Ayana mengerahkan teman-temannya untuk keluar dari gedung. Mencari tempat foto yang bagus dan mengabadikan momen sebanyak-banyaknya. Ayana bahkan melupakan Yunho yang kerepotan membawa barang-barang Ayana yang tertinggal di dalam ruang sidang.

***

Ayana sudah terlalu capek. Dia butuh istirahat secepatnya hingga ia melupakan kakaknya yang tertinggal di belakang. Ayana berhambur membuka pintu rumah dan masuk begitu saja. Ayana hendak menjerit karena mendapati seseorang di dalam rumahnya. Seorang lelaki jangkung dengan wajah yang familiar berdiri di depannya.

“Shim Changmin?” gumam Ayana dengan sangat pelan. Gadis itu ingin pergi ke psikiater untuk memastikan apakah dia masih waras. Ayana tidak mungkin berhalusinasi bukan?

Sementara itu, lelaki jangkung di depan Ayana justru menatap jauh di belakang Ayana. Yunho keluar dari mobil membawa tas Ayana, yang sengaja ditinggalkan pemiliknya.

“Yo! Yunho Hyung!” teriak Changmin.

Ayana merasakan serangan selanjutnya. ‘Bagaimana mungkin Changmin mengenal Kakaknya?

Ayana berbalik dan mendapati ekspresi cerah kakaknya, yang terlihat bersahabat pada Changmin. Hal yang bertolak belakang ketika Ayana heboh melihat penampilan idolanya di layar laptop. Ayana bahkan mengucapkan istighfar ketika melihat kakaknya dan idolanya berpelukan sangat akrab.

“Ada apa, Ayana?” Yunho menyadari keterkejutan adiknya dan bertanya sambil menyudahi pelukan.

Ayana menggeleng pelan meski mulutnya tidak bisa menutup. Ketika ia menemukan suaranya, Ayana bertanya, “Bagaimana mungkin kakak....?” dan ia kembali kehilangan kata-kata.

Yunho dan Changmin saling menatap sekian detik. Kemudian tawa kedua lelaki jangkung itu pecah begitu saja. Membuat Ayana merasa tersisihkan dan tersinggung. Bahkan jika Ayana tidak mengenal mereka, mungkin Ayana sudah menendang kedua lelaki itu

“Baiklah. Kita bicarakan saja di dalam,” kata Yunho sambil menggiring adik dan tamunya memasuki rumah keluarga Jung.

Ayana tidak bisa bertindak banyak. Gadis itu hanya mengiyakan perintah kakaknya.

***

“Jadi sebenarnya Kakak itu kakak tingkat Changmin Oppa?”

Yunho mengangguk bangga. Sementara Changmin mengangguk malu sambil menambahkan, “Sebenarnya, Yunho Hyung itu kakak tingkat yang aku hormati di kampus. Kami berada di satu komunitas yang sama. Jadi, aku lumayan banyak belajar darinya.”

Yunho tersenyum bangga dan malu bersamaan. Ayana ingin sekali menggigit telinga kakaknya yang terlihat bangga berlebihan itu. Dengan mata menyelidik, Ayana bertanya pada Yunho, “Lalu mengapa Kakak terlihat seperti tidak suka ketika aku menonton penampilan Changmin? Bahkan Kakak tidak terlihat seperti orang yang mengenal Changmin?”

Yunho menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, “Itu karena aku iri.”

What?” Ayana memekik terkejut.

“Ya, siapa pula Kakak yang senang jika adiknya lebih menyukai orang lain daripada keluarganya sendiri?” Yunho menjawab tanpa menatap Ayana. Antara malu dan kesal di saat bersamaan.

Membuat Changmin yang sedang duduk di sofa menyembunyikan kikikannya. Sementara itu, Ayana terharu sekaligus kesal pada Kakaknya yang selama ini membohonginya denga bertindak seolah-olah tak mengenal idolanya. Ayana mengalihkan pandangannya, menatap beberapa makanan dan minuman hadiah dari Changmin di atas meja. Katanya sebagai tanda selamat atas selesai sidang skripsi.

Bicara tentang skripsi, Ayana teringat sesuatu. “Jadi yang meminta Changmin untuk membuat video dan mengirimkannya ke surelku adalah Kakak?” tanya Ayana dengan nada serius.

Changmin berhenti terkikik sedangkan Yunho menatap Ayana. Tatapan seorang pencuri yang ketahuan atas tindakannya. Tidak banyak yang bisa dilakukan Yunho. Hanya tersenyum, membentuk ‘peace’ dengan kedua jarinya, lalu berkata, “Iya.”

Untuk satu waktu, Ayana terharu dengan tindakan kakaknya. Meski terlihat tidak peduli dan membiarkannya kesusahan, rupanya Yunho masih menaruh perhatian besar pada adik semata wayangnya. Tapi keharuan Ayana tidak berselang lama karena Changmin yang meledakan tawanya.

“Yah! Changmin! Apa yang kau tertawakan?” tanya Yunho dengan ekspresi tersinggung.

Bukannya menjawab, Changmin justru menutup mulutnya, berusaha meredam tawa. Tapi ia tak bisa dan berujung dengan ledakan tawa selanjutnya.

Merasa terganggu dengan tawa mengejek Changmin, Yunho mengambil bantal sofa dan melemparkannya pada Changmin.

Dan bukannya berhenti, Changmin justru membalas Yunho dengan melempar bantal sofa tersebut. Dan begitulah seterusnya kedua lelaki itu justru sibuk untuk bertingkah layaknya balita yang berebut permen. Sebuah sisi yang tidak pernah dilihat Ayana sebelumnya.

Ya Allah, terimakasih telah mengirimkan mereka berdua padaku. Seorang kakak yang perhatian dan sayang padaku. Serta seorang idola yang bisa menjadi inspirasiku. Alhamdulillah.’

***

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK