home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > RAZIA

RAZIA

Share:
Author : Cecill
Published : 15 May 2017, Updated : 15 May 2017
Cast : Lee Soo Man. Lee Dong Wook
Tags :
Status : Complete
10 Subscribes |1269 Views |29 Loves
RAZIA
CHAPTER 1 : Maafkan Aku Mpo Jenab

Ini sudah memasuki hari ke-19 di bulan Ramadhan dan aku masih saja berbuka puasa sendiri di rumah. Ibu? Tidak, beliau sudah tidak dapat berpuasa, karena beliau sudah  tenang di alam sana. Adik? Tidak, dia ikut bersama Ibu dan mungkin mereka menemani ku tetapi aku tidak dapat melihatnya. Lalu Ayah? Iya, seharusnya dia satu-satunya orang yang tidak membuat buka puasa ku menjadi sendiri. Tetapi menjadi tidak, karena Ayah harus menjalankan pekerjaannya yang semakin hari semakin membuatku jengkel.

Belum lama dia memang berbuka puasa bersamaku, tetapi tidak lama setelah aku menghabiskan takjilku dia mendapat telpon dari temannya. Dia diminta menggantikan posisi temannya karena sakit.

Ayah tidak biasanya bekerja sampai malam, tetapi di bulan Ramadhan dia dan timnya menjadi biasa bekerja mulai sore hari.

---

Jika aku berbuka puasa sendiri, tentu halnya aku tarawih juga sendiri. Tetapi sepulangnya aku dari tarawih malam ini sudah ada sepatu ayah di depan rumah.

"Ayah?"

Panggilanku  tidak mendapatkan jawaban. Aku mencoba memanggilnya beberapa kali karna kunci yang ku tinggalkan di pot depan rumah sudah tidak ada dan sekarang keadaan rumah terkunci.

"Ayah, Wook-i pulang"
"Ayah, bukain pintu"

Karena aku merasa bosan menunggu Ayah yang tidak membukakan pintu juga, akhirnya aku memutuskan diri untuk pergi ke warung yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah.

---

Sesampainya di warung aku melihat beberapa teman ku sedang bermain kembang api. Sejujurnya aku sampai saat ini belum pernah bermain petasan atau pun kembang api. Itu karena Ayah melarangku. Ayah bilang itu hanya membakar uang yang sudah Ayah cari dengan susah payah. Tetapi Ayah tidak pernah melarangku untuk hanya sekedar melihat orang yang sedang bermain petasan ataupun kembang api, walau jangan terlalu dekat katanya.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyapa teman ku dan melihat mereka bermain.

"Oy Udin, maen apa tuh?"

"Eh Wooki, sini Ki kita main kembang api" sahut Udin yang sedang asik memutar batang kembang apinya.

"Ki sini ki liat aku aja, aku lebih jago dari Udin nih" timpal Joko yang juga memutarkan kembang apinya sambil sedikit berjoget kacau menggoyangkan pinggulnya.

Melihat mereka bermain dengan asyik membuat aku ingin sekali mencoba bermain kembang api juga.

"Din..Jok itu bahaya ga sih?"

"Engga koo, ini kan cuma kembang api. Mainnya gancil jadi ga bahaya, tinggal gini doang nih" jawab Joko yang sedang menyalakan kembang api barunya lagi

"Iya Ki, kamu beli aja tuh di Mpo Jenab. Cuma serebu tau" tambah Udin yang menunjuk ke arah Mpo Jenab si pennjaga warung.

Aku yang mulai terhasut ajakan Udin dan Joko semakin ingin bermain kembang api seperti yang mereka. Akhirnya aku melepas sarung ku yang masih aku kenakan setelah tarawih dan menyelempangkannya dipundak. Aku merogoh kantung celana boxer ku dalam-dalam dan aku menemukan satu lembar uang lima ribuan. Aku langsung bergegas masuk ke dalam warung Mpo Jenab.

"Mpo Jenab!!"

"Eh Dong Wook, tumben malem-malem. Mau beli apa?" jawab Mpo Jenab penuh dengan senyuman.

Mpo Jenab adalah salah satu ibu-ibu yang suka kepada Ayah ku dan berharap bisa menjadi pengganti Ibu-ku kelak.

"Ini Mpo, aku mau beli kembang api kaya Udin sama Joko"

"Eeeehh.. Jangan.. Kamu jangan main petasan Dong Wook, bahaya" raut wajah Mpo Jenab berubah seketika menjadi panik.

"Kenapa Mpo? Itu Udin sama Joko boleh beli petasan"

"Kamu nanti diomelin Ayah kamu, nanti Mpo juga kena omelan. Nih mending kamu beli gorengan nih masih anget" Mpo Jenab menyodorkan nampan gorengan yang terlihat menggiurkan dan sempat membuatku goyah akan aromanya.

"Gamau ah, aku mau beli kembang api aja.. Nanti kalo ketauan Ayah aku bilangnya ga beli disini deh.. Boleh ya Mpo"

Mpo Jenab tampak ragu dengan perkataan ku. Dan dia tetap kokoh pada pendiriannya untuk tidak menjual kembang apinya kepadaku.

"Maap ya Wook, bukannya Mpo pelit" dia mengulangi perminta maafannya berulang kali.

"Iya Mpo, makasih ya"

"Iyaa maap yaa.. salam sama Ayah jangan lupa, bilang tolong bales sms Mpo"

Aku yang sudah malas mendengar suara Mpo Jenab sedikit menjauh dari warung dan mendekati Udin serta Joko.

"Kamu ga jadi beli Wook?" tanya Udin.

Aku hanya dapat menggelengkan kepala.

"Pasti Mpo Jenab gamau ngasih karna mau cari perhatian sama Ayah kamu, yakan?" lanjut Udin.

"Yaudah Wook, nih aku bagi satu kalo kamu masih mau nyobain" Joko mendekati ku dan memberi ku satu batang kembang api.

"Gausah deh Jok aku lihat kalian aja"

Joko yang mungkin merasa kasihan padaku menyalakan kembang api yang baru saja diberikan kepada ku.

"Nih pegang Wook" Joko memaksa memberikan kembang apinya padaku.

"Nah ayo main, caranya diputer-puter gini.." Udin mendekati ku dan memeragakannya.

Aku memegang ujung batang kembang apinya dengan sangat erat dan mulai memutarkannya seperti yang dicontohkan kedua temanku.

Aku benar-benar senang melihat percikan kembang api yang keluar menyala. Ini pertama kalinya aku memegang kembang api dan memainkannya.

Entah sudah berapa batang kembang api yang aku nyalakan. Udin dan Joko membeli kembang api terus menerus dengan uang ku. Karena Mpo Jenab tidak mau memberikannya padaku, maka aku membelinya melalui Udin dan Joko saja.

 

Setelah tersisa satu bungkus kembang api, Udin dan Joko bergegas pulang. Mereka harus mengerjakan PR untuk besok hari. Mereka tidak satu sekolah dengan ku, jadi aku tidak memiliki tugas rumah yang sama dengan mereka. Mereka berjanji akan mengajak aku main kembang api lagi esok hari setelah pulang tarawih.

Tidak lama setelah Udin dan Joko pulang, aku melanjutkan bermain kembang api sendiri. Karena aku pikir hanya sebentar dan aku masih terlalu senang karena bermain kembang api untuk pertama kalinya.

Saat aku sedang asyik memutar kembang api terakhir ku tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing batuk di belakang ku. Lantas saja aku menjatuhkan kembang api ku.

"Lee Dong Wook!!"

Aku segera menginjak-injak kembang api ku yang masih menyala di tanah dan segera berbalik badan. Dan benar saja.

"I..i..iya Ay.."

Belum selesai aku berbicara, telinga ku sudah panjang ditariknya. Ayah ku marah besar.

"Ngapain kamu main petasan?!!" Ayah bertanya sambil terus menarik telinga ku

"A..ampun Ayah"

"Dong Wook!!" Ayah selalu marah apabila beliau bertanya dan aku tidak menjawabnya.

"I..iya Ayah ampun.. itu bukan petasan Yah..itu kembang api"

Ayah yang semakin kesal mendengar jawabanku semakin menarik kuping ku dan sungguh itu sangat amat sakit. Aku pikir setelah ini aku akan mendapat donor telinga dari orang lain.

"Kamu beli dimana?!!"

Aku sungguh tau apa yang akan lakukan jika aku menjawab pertanyaannya kali ini, maka aku memutuskan hanya menggelengkan kepala yang membuat telinga ku bergerak semakin elastis ditangannya.

"LEE DONG WOOK!!"

Kini aku menyerah dengan tarikan tangan Ayah yang mengarah keatas seakan akan aku dapat terangkat hanya dengan menarik telinga ku.

"Beli di Mpo Jenab.. Yah"

Jawaban aku kini mampu membuat Ayah melepaskan tanganya dari teilngaku dan benar dugaan ku. Ayah langsung berjalan menuju warung Mpo Jenab dan segera masuk ke dalam warungnya.

Aku yang khawatir akan terjadi KDRT diantara mereka walaupun mereka bukan suami-istri, memutuskan berlari sekuat tenaga mengejar Ayah sambil mengusap telinga ku yang mungkin sudah bertambah panjang satu meter.

"JENAB!!" teriak Ayah.

"Eh.. Bang Lee Soo Man.. Ada apa bang?" Mpo Jenab menyambut dengan hangat sambil menyisir rambutnya dengan jarinya dan melepas senyuman manis.

"Keluarin semua petasan sama kembang api yang kamu jual di sini" suara Ayah memelan setelah melihat pesona Mpo Jenab yang setara dengan kecantikan Taeyon dari Girl Band SNSD asal Korea.

"A..ape?" Mpo Jenab tampak kaget.

Aku yang sempat jatuh menggelinding di tanah saat mengejar Ayah, kini berada di belakang Ayah dengan napas yang setengah tersendat.

"Yah..jangan marahin..Mpo..Jenab"

Mpo Jenab yang sudah sadar atas keberadaan ku kini beralih berbicara kepada ku.

"Eh Dong Wook, kamu ngadu ke Ayah kamu ya Mpo jualan kembang api? Aduh..." Mpo Jenab tampak gelisah.

Aku tidak mau menjawab apapun saat itu karena masih kesal dengan Mpo Jenab.

Ayah yang sudah melihat keberadaan tumpukan kemban api di warung Mpo Jenab segera mengambil seluruhnya.

"Aduh Bang Soo Man, aku ga akan jualan beginian lagi deh besok..tapi jangan diambil gitu dong.. Cukup hati aku aja yang kam ambil" Mpo Jenab masih sempat-sempatnya merayu Ayah ku.

"Sebelum puasa kan saya sudah bilang, jangan menjual petasan ataupun kembang api. Dan berhubung ini masih jam dinas saya, maka semua ini saya sita" Ayah menjadi tegas dan serius melihat Mpo Jenab.

"Aduh Abaaang Soo Man.."

Belum selesai Mpo Jenab mencoba merayu Ayah, Ayah sudah melotot tegas kepada Mpo Jenab yang membuat Mpo Jenab menjadi diam seketika dan menunduk.

"Dong Wook!"

Aku yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka tiba-tiba tersentak mendengar panggilang Ayah.

"I..iya Ayah"

"Kamu juga Ayah razia!" Ayah memandang serius kepada ku. Sungguh aku benci pandangan Ayah yang seperti tu.

"Aku? Aku sudah tidak punya kembang api Yah"

Aku yang ingin memastikan diri kepada Ayah, merogoh kantong ku walau sebenarnya tidak akan mungkin kembang api sepanjang itu masuk ke dalam katong celana ku.

"Ayah akan sita uang jajan kamu selama seminggu!"

"Ha? Ah Ayah.. Masa aku kena juga.. aku cuma beli itu lima ribu Yah"

Aku yakin ini tidak dapat merubah keputusan Ayah.

"Ayah ga mau kamu ngebakar uang yang Ayah udah cari buat kamu dengan susah payah ya. Ayah rela ga buka puasa sama kamu cuma agar Ayah ngejalanin tugas Ayah dengan benar dan mendapat gaji buat hidup dan sekolah kamu"

Aku benar-benar merasa bersalah dan hanya dapat menunduk.

"Kamu emang Ayah yang baik ya Bang" sahut Mpo Jenab di tengah kesunyian yang memancing Ayah memandang ke arahnya.

"Kamu juga!" Ayah kini menaikan suaranya.

"Haduh Bang Soo Man, Jenab salah apa lagi?" Mpo Jenab memasang wajah innocentnya.

"Suka sama saya tapi jual kaya ginian. Mau nambahin pekerjaan saya?"

Perkataan Ayah membuat Mpo Jenab tidak berkutik.

"Dong Wook, ayo pulang.." Ayah merangkul ku dan kami berjalan perlahan keluar dari warung.

Kemudian terdengar samar suara Mpo Jenab dari dalam warung.

"Duh..gini deh naksir sama Abang Satpol PP ganteng..sering-sering razia aku ya Bang Soo Man.. I love you"

 

Aku dan Ayah yang mendengar ucapan itu kemudian saling pandang dan memutuskan berjalan cepat menuju rumah.

 

END

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK