SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Wishing On A Star

Wishing On A Star

Share:
Author : xhan1997
Published : 17 Apr 2017, Updated : 18 Apr 2017
Cast : BTS member, Min Yoongi, Han Tae Chan, Sun Hee
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |542 Views |1 Loves
Wishing on a Star
CHAPTER 1 : Wishing On A Star - Part 1

Prolog

 

The story that we paint
I’ll be wishing on a star so that it comes true
I’ll continue to hope
Like tracing the stars
I’ll wish again and again, I can’t wait
Because I want to catch it
Wishing on a star

 

ΜΆ BTS “Wishing on a Star”

 

Bab 1

 

Teng. Teng. Teng.

Bel telah berbunyi nyaring memenuhi seluruh penjuru sekolah, menandakan berakhirnya waktu istirahat dan jam pelajaran kedelapan akan segera dimulai. Murid-murid tampak berhamburan, sebagian mulai berlarian menuju ke kelasnya masing-masing sebelum guru pengajar datang, sebagian berjalan santai dan bahkan beberapa masih tinggal di kantin.

“Min Yoongi, kau mau kemana? Sebentar lagi Guru Kim akan masuk, sebaiknya kau kembali ke tempat dudukmu.”

Sun Hee melipat kedua tangannya di depan dada. Memperhatikan laki-laki berambut gelap yang baru saja mengambil tasnya dan berjalan seakan dia akan keluar dari kelas.

Laki-laki itu−Min Yoongi, menyampirkan tas ransel ke pundak kanannya dan berjalan santai keluar kelas, mengacuhkan panggilan ketua kelasnya yang mulai sebal melihat tingkah lakunya.

“Ya! Aku bicara padamu! Ya! Min Yoongi!”

Yoongi melambaikan tangan kirinya yang sebelumnya ia masukkan ke dalam saku celananya. “Bukan urusanmu.” Suaranya tajam, seakan peringatan untuk tidak mencampuri urusannya.

Sun Hee menggerutu walaupun ini bukan sekali dua kali Yoongi bolos dari kelas. “Apa sih yang sebenarnya dia lakukan saat bolos? Memangnya dia sesibuk itu?” ucapnya, masih memperhatikan Yoongi yang melewati lorong sekolah dengan seragam yang berantakan−bajunya keluar dari celana, tidak menggunakan dasi dan sabuk, rambutnya tampak acak-acakan. “Aku tidak tahu apakah dia bagian dari band rock ataupun preman dengan penampilan seperti itu,” tambahnya pelan, lebih seperti untuk dirinya sendiri.

“Mungkin keduanya.”

Sun Hee mengalihkan pandangannya dan menoleh ke belakang. Sedikit terkesiap saat mendapati Kim Taehyung sedang berdiri di belakangnya. “Oh ya, ya mungkin saja dia memang keduanya,” jawabnya gelagapan, refleks menyentuh dadanya untuk menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat tanpa seizinnya.

Kim Taehyung tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyentuh puncak kepala Sun Hee dan mengusapnya pelan. “Kau tidak perlu terlalu memperhatikannya walaupun mungkin kau merasa kalau itu merupakan tanggungjawabmu sebagai ketua kelas. Tapi percayalah, Yoongi tidak akan mendengarmu, bahkan siapapun. Jangan membuat dirimu merasa terlalu terbebani, mengerti?”

Sun Hee tidak dapat menghentikan ujung bibirnya yang tertarik keatas, membalas senyuman Taehyung. Ia mengangguk pelan. “Ya, aku tidak akan terlalu memikirkannya. Te-terima kasih ehe.” Ia mengusap tengkuknya salah tingkah dan berjalan kembali ke tempat duduknya.

 

××××

 

Min Yoongi berjalan menyusuri lorong sekolah kearah kantin, berniat menggunakan tembok yang tingginya cukup rendah untuk dipanjat yang terletak di belakang kantin. Pelajaran kedelapan hari Rabu adalah matematika, salah satu pelajaran yang dibencinya walaupun sebenarnya dia membenci semua pelajaran. Dia benci sekolah. Dia benci hidupnya. Dia benci akan segalanya.

Yoongi melemparkan tas ransel hitamnya melalui tembok, kemudian memanjat dengan cekatan seakan-akan dia telah terbiasa dengan hal itu. Sebenarnya, dia tidak memiliki tujuan. Menurutnya kemana saja lebih baik dibandingkan harus tinggal di sekolah dan membuat otaknya pecah mengerjakan rumus-rumus yang ia yakin tidak akan berguna saat ia dewasa. Pekerjaan yang sia-sia, begitu pendapatnya. Sambil berjalan menjauhi sekolah ia memutuskan untuk pergi ke game center−tempat yang memang selalu ia singgahi tiap ia bolos sekolah. Mengingat ia juga membenci rumah.

“Hey! Yoongi sebelah sini! Aku kira hari ini kau tidak akan datang.”

Hoseok melambaikan tangannya kegirangan saat melihat Yoongi masuk ke dalam game center, menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya seakan memberikan isyarat.

Yoongi duduk di tempat kosong, tepat di sebelah Hoseok dan menyenderkan tubuhnya dengan nyaman. “Kau datang lebih awal hari ini,” katanya tanpa mengalihkan pandangannya untuk menatap Hoseok.

Hoseok kembali fokus dengen permainannya, awalnya ia hanya mengangguk singkat dan saat menyadari bahwa Yoongi tidak memperhatikannya, ia bergumam pelan.”Hm.”

“Kebetulan aku mendapatkan jam kosong di pelajaran kelima sehingga aku memanfaatkannya untuk membolos. Sangat cerdik bukan?” Hoseok melanjutkan saat Yoongi tidak kunjung merespon. Dia menoleh sekilas sambil tersenyum lebar, seakan membanggakan apa yang baru saja dilakukannya.

“Yah, aku cukup iri mendengarnya.” Yoongi melepaskan tas ransel dari pundaknya dan menyalakan komputer yang ada dihadapannya.

“Kau tidak lapar? Mau aku pesankan jjajangmyeon? Kebetulan aku juga sudah lapar lagi.”

Yoongi mengangguk singkat sebelum ia menjawab, “Ya.”

Dan ia pun larut dalam permainannya, tidak menghiraukan handphonenya yang terus berdering menandakan adanya panggilan masuk. Ia bahkan tidak peduli saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

 

××××

 

“Oh! Itu Cygnus!”

Gadis itu berseru cukup keras sambil menunjuk langit yang tampak gelap, namun juga tampak terang dengan banyaknya bintang yang bersinar malam itu.

“Aku jarang sekali melihat angsa itu belakangan ini.” Ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman manis, masih terus memperhatikan langit yang kini sedang menggambarkan salah satu rasi bintang favoritnya dengan sangat jelas. Cygnus merupakan konstelasi indah yang melambangkan burung angsa yang tengah terbang. Rasi ini sering digunakan untuk melambangkan dua legenda mitos Yunani. Yang pertama yaitu mengenai Zeus dan Ratu Leda, sedangkan yang kedua mengenai Phaeton dan Cygnus. Gadis itu menyukai legenda pertama, mengenai bagaimana Zeus yang mencintai Ratu Leda walaupun Ratu Leda telah memiliki suami−Raja Tyndaerus.

“Ah andaikan aku tahu kalau malam ini cuacanya bagus untuk melihat rasi bintang,” gerutunya. “Seharusnya aku membawa teleskopku kemana pun aku pergi.”

Ia terus berjalan menyusuri Sungai Han yang tidak terlalu ramai malam itu. Masih tidak dapat mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang yang bertebaran di langit. Dengan antusias ia menyebutkan rasi-rasi bintang yang berhasil ia temukan.

“Oh! Ayah pasti tidak akan percaya kalau aku bilang aku baru saja melihat Ophiucus!”

“Itu Aquila!”

“Oh Tuhan itu Orion!”

“Tunggu, apa itu Draco?”

Gadis itu menyipitkan sebelah matanya, berharap dapat melihat lebih jelas dan memastikan bahwa yang baru saja dilihatnya memang benar rasi bintang Draco. Salah satu konstelasi favoritnya−selain Cygnus, yang memiliki arti naga. Konstelasi Draco merepresentasikan Ladon−naga dalam salah satu kisah 12 tugas yang dimiliki oleh Hercules. Tanpa sadar gadis itu telah berjalan terlalu jauh, ia hampir saja terjatuh ke sungai jika bukan karena seseorang yang kini tengah menarik ujung hoodie yang dikenakannya dan membuatnya terjerembap ke belakang.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kau ingin bunuh diri?” seru seseorang dibelakang. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang laki-laki tengah menatapnya dengan raut wajah yang tidak dapat ia artikan.

“A- aku.” Gadis itu seakan kehilangan kata-kata. Ia terlalu bingung untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi saat ini. Ia bahkan belum sadar bagaimana ia bisa sampai ke bibir sungai dan hampir saja jatuh ke dalamnya.

Ia mendengar laki-laki itu mendengus pelan sebelum mengulurkan tangan kearahnya, bermaksud membantunya untuk berdiri. Gadis itu meraihnya dengan ragu-ragu dan refleks menundukkan kepalanya saat matanya tidak sengaja bertemu dengan mata laki-laki itu.

“Terima kasih,” ucap gadis itu pelan, hampir seperti bisikan.

“Kau baik-baik saja? Han… Tae… Chan?”

Laki-laki itu berusaha membaca name tag yang terpasang di baju seragam yang dikenakan gadis itu dibalik hoodienya.

“A- ah ya. Aku baik-baik saja.” Gadis itu−Han Tae Chan, menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. “Aku sebenarnya tidak berniat untuk bunuh diri.”

Laki-laki itu terdiam, seakan menunggu Tae Chan untuk melanjutkan penjelasannya.

“Mungkin ini terdengar gila. Mungkin kau juga tidak akan percaya. Mungkin… Mungkin aku memang gila karena aku hampir saja mati hanya untuk melihat rasi bintang lebih jelas.” Tae Chan semakin menundukkan kepalanya. Merasa sangat malu akan kebodohan yang baru saja ia lakukan. Ia berharap tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki dihadapannya seumur hidupnya, atau ia akan selalu teringat akan kejadian bodoh ini.

Tae Chan bisa mendengar laki-laki itu tertawa. Kemudian ia dapat merasakan tangan hangat yang membantunya berdiri tadi, kini tengah mengusap kepalanya dengan lembut. Setelah mengumpulkan cukup keberanian, ia mendongakkan kepalanya. Menatap laki-laki yang kini berdiri dihadapannya. Walaupun dengan penerangan remang-remang, ia masih dapat melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Matanya yang tajam, rambut hitamnya yang terkena hembusan angin, bibirnya yang sedang membentuk sebuah senyuman.

“Aku tahu kau memang gila,” ucap laki-laki itu saat ia menarik tangannya dari kepala Tae Chan. Kemudian ia meletakkan tangannya di depan dada. Bersidekap sambil memperhatikan Tae Chan yang masih menatapnya dengan takut, atau mungkin terlalu malu. “Kalau dilihat-lihat kau mengenakan seragam yang sama denganku. Kau dari SMA Hangang juga?”

Seakan tersadar, Tae Chan mengangguk pelan dan memperhatikan seragam yang dikenakan laki-laki itu. ‘Ah benar, seragamnya sama sepertiku.’

“Kau murid baru?” tanya laki-laki itu lagi.

“Ya, aku murid kelas 10.”

Laki-laki itu mengangguk singkat. “Aku kelas 11. Namaku Min Yoongi.”

“Aku Han Tae Chan.”

“Aku tahu.”

“Ah iya maaf aku lupa.” Tae Chan mengusap tengkuknya salah tingkah sebelum menegakkan kembali tubuhnya dan menatap laki-laki bernama Min Yoongi yang ternyata adalah kakak kelas di sekolahnya. “Terima kasih,” ucapnya. “Terima kasih telah menolongku, Yoongi Sunbae.”

“Panggil aku Yoongi saja. Aku tidak mau merasa tua,” ujarnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Mulai merasa dingin berdiri di tepi sungai saat malam hari seperti ini. “Kau tidak pulang?”

“Ah iya aku mau pulang. Sebenarnya tadi aku dalam perjalanan pulang setelah bimbel,” jawab Tae Chan yang mulai merasa nyaman berbicara dengan Yoongi. “Kau sendiri?”

“Oh,” Yoongi sedikit menundukkan kepalanya sebelum menjawab, “Aku juga.” Tidak mungkin ia menceritakan kalau ia sering bolos sekolah dan pulang malam setelah seharian bermain di game center, bukan?

“Oh baiklah. Sekali lagi terima kasih. Sampai jumpa di sekolah, mungkin?”

Tae Chan tersenyum dan melambaikan tangannya sembari berjalan manjauh.

Yoongi membalas lambaian tangannya sampai ia tidak dapat melihat gadis itu lagi. Kemudian ia kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan segera bergegas pulang sebelum ia membeku karena terlalu lama kedinginan.

 

××××

 

Suasana sangat sepi saat Yoongi tiba di rumahnya. Ia melirik sekilas ke ruang kerja ayahnya dan mendapati hal yang sama hampir tiap harinya−ayah tertidur di meja kerja dengan sebotol bir tergeletak di samping kepalanya, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah diatas tempat tidur.

Yoongi tinggal berdua dengan ayahnya sejak hampir lima tahun yang lalu, saat kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai dan entah bagaimana hak asuhnya jatuh ke tangan ayahnya. Ia masih ingat dengan jelas masa-masa itu. Pertengkaran yang setiap hari ia dengar tiap ia membuka pintu sepulang sekolah, isakan ibunya yang ia terdengar memilukan dari arah dapur saat malam hari, bagaimana ibunya berusaha memaksakan seulas senyum saat mengantarnya pergi ke sekolah, hal-hal tersebut masih tersimpan jelas dalam memorinya. Seberapa keras ia berusaha untuk tidak memikirkannya, tetap saja bayang-bayang itu akan datang. Seakan menghantuinya dan tidak akan pernah melepaskannya seumur hidupnya.

Rumah tersebut masih rumah yang sama yang ia tinggali semenjak ia masih kecil. Namun semua terasa berbeda sejak tidak ada lagi canda tawa, tidak ada lagi obrolan-obrolan kecil, tidak ada lagi kebiasaan menonton televisi bersama, bahkan tidak ada lagi kebersamaan makan bersama di ruang makan. Pagi itu, saat ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah, Yoongi tidak pernah bertemu dengan ibunya lagi. Dan dimulailah kebiasaan baru ayahnya yang sering mabuk-mabukan, hampir setiap hari. Kadang terlintas dalam pikirannya, jika bercerai dengan ibu membuat ayah sekacau ini, lalu mengapa ia melepaskannya? Mengapa ia melespaskan ibu dan tidak berusaha mempertahankannya? Mengapa? Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikir orang dewasa. Bahkan hingga saat ini ia masih kesulitan menemukan alasan mengapa ibu tega meninggalkannya. Tidakkah ibu menyayanginya? Apakah ia sama sekali tidak berharga bagi ibunya? Semua kenangan keluarga yang harmonis selama dua belas tahun hidupnya, apakah itu tidak berarti apa-apa untuk kedua orangtuanya?

Kini yang ia rasakan tiap harinya adalah kebencian. Kepada ibunya yang meninggalkannya begitu saja. Kepada ayahnya yang menjadi pecandu berat alkohol dan tidak pernah memperhatikannya. Kepada hidup yang membuatnya harus mengalami semua ini. Ia hanya seorang bocah laki-laki berumur dua belas tahun saat itu, dan ia tidak memeliki sesuatu yang dapat disebut rumah dimana di dalamnya dia mendapatkan kehangantan dari sebuah keluarga. Hal itu tidak berlaku baginya. Entah dosa macam apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya hingga ia harus menjalani semua ini.

Yoongi memiringkan posisi tubuhnya, berbaring menatap kearah jendela yang memperlihatkan kerlap-kerlip bintang di angkasa. Seketika seulas senyum terbentuk dari sudut bibirnya tanpa ia sadari.

“Rasi bintang ya?” gumamnya lirih. “Dasar gadis aneh.”

Ia memejamkan matanya perlahan. Dalam beberapa menit ia telah terlelap, masih dengan seragam sekolah yang sepanjang hari ia kenakan.

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK