SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Late Night Talks [Snippets]

Late Night Talks [Snippets]

Share:
Author : LateCLouds
Published : 23 Feb 2017, Updated : 05 Mar 2017
Cast : Min Yoongi (Suga), Oh hana (Original Character)
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |565 Views |0 Loves
Late Night Talks [Snippets]
CHAPTER 1 : Tenggelam

Deep ocean blue
Wide and endless
Go find an island to settle
 

2 A.M

Hembusan lembut angin malam menemani seorang pria yang duduk termenung di atas bukit.

Hoodie merah yang dipakainya seolah menghidupkan suasana bukit yang redup dan sepi, di bawah siraman cahaya rembulan dan di atas laut yang terlampau luas.

"Hey!"

"Hana ?!"

Cantik.

"Kau mengaggetkan ku!"

"Maaf, aku kira kamu gak akan sekaget ini. Hehe maaf ya."

"Lain kali bilang - bilang dulu kalau mau kesini."

"Buat apa aku bilang - bilang kalau mau kesini ? Memangnya kamu yang punya bukit ini ?"

"Iya. Bukit ini punya ku. Atau tepatnya segera. Akan aku daftarkan bukit ini atas nama ku, jadi tidak semua orang berhak kesini."

"Jahat sekali Mr. Yoon. Lalu aku harus pergi ke mana untuk menyegarkan pikiran, hah ?"

Pukul 2 pagi. Waktu dimana orang - orang terlelap, atau mencari ide untuk membuat karya terhebat atau mungkin menonton pertandingan olahraga di televisi. Tapi tidak untuk ku. Tidak untuk kami.

"Boleh aku duduk disini ?"

"Silahkan, duduklah"

Angin malam kembali berhembus, hampir menusuk kulit jika tidak memakai pakaian yang sedikit tebal. Heningnya malam membuat suasana sedikit seram, tetapi kalau kau ingin ikut terlarut dengan malam kau tidak akan merasa seram, malah kau akan mendengar penghuni - penghuni malam bersenda gurau.

"Apa yang sedang kau pikirkan Yoon ?"

"Hmm.... menurutmu ?"

"Tidak tahu. Makanya aku bertanya."

"Lucu sekali kau, Hana"

"Jangan mengacak rambutku Yoongi!"

"Hahaha maaf - maaf habisnya kamu lucu. Wajah penasaranmu itu terlihat lucu."

Tersenyum.

Kapan kau akan sadar wajahmu itu secantik cahaya rembulan dan selucu tupai kecil yang selalu melintas diatas pohon rumah ku, Han.

"Aku menghilang, Yoon"

"Kamu sedang disini, Hana. Disampingku, kenapa tiba - tiba 'menghilang' ?"

"Pernahkah kamu merasa menghilang ? Menghilang. Bukan kehilangan."

"Menghilang ? Hmm menghilang seperti tidak mengenali diri sendiri ?"

"Mungkin. Oh Yoongi, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku sendiri!"

Keheningan malam menyergap kembali, seperti malam pun ikut berpikir apa yang harus dilakukannya untuk menghibur penikmat suasananya.

"Mungkin kamu merasa menghilang karena tidak ada tujuan ?"

"Bukan. Aku punya tujuan. Kau tahu semua yang aku lakukan itu adalah tujuan ku. Tujuan ku jelas, Yoon. Tapi masih seperti ada yang menghilang."

"Kamu adalah seorang Pengelana, Han. Aku juga seorang pengelana. Semua orang adalah pengelana. Kita terus mencari apa yang tidak ada sekitar kita. Itu dia yang membuat rasa menghilang muncul. Karena kamu, aku, kita dan lainnya adalah pengelana yang tidak pernah puas. Terus mencari dan mencari, walaupun sebenarnya diri kita sendiri pun tidak tahu apa yang dicari."

"Pengelana... A wanderer..."

"Yes, a wenderer. But not all those who wander are lost. Remember that. Rasa menghilang itu kita ciptakan sendiri secara tidak langsung. Karena menurutku, rasa menghilang itu hanya rasa dan pikiran yang diri sendiri tidak kita akui. Rasa dan pikiran yang hanya kamu tahu, tapi kamu tidak mau mengakuinya, Han."

Suara ombak laut tiba - tiba terdengar keras, seolah - olah memecahkan pikiran yang bergejolak di antara penikmat malam.

"Boleh aku menggantinya menjadi pelaut ? Bukan pengelana. Aku lebih suka kata pelaut dibandingkan pengelana."

"Boleh, umpamakan itu sesuka mu."

"Aku adalah pelaut, kamu adalah pelaut, kita adalah pelaut. Mengarungi laut luas tanpa batas. Bintang - bintang di langit adalah kompas, pulau - pulau yang terlewati adalah tempat bersinggah dan burung - burung laut yang beterbangan di langit adalah teman."

"Dan kita semua sedang berlayar menuju sebuah tempat yang tidak kita tahu. Sebuah tempat yang mungkin ada atau mungkin tidak ada."

Bunyi gesekan rerumputan yang tertiup angin terdengar samar,  bagaikan musik yang dimainkan oleh sang malam. Suara riuh penghuni malam lainnya pun lambat laun ikut bersenandung.

"Aku mampu membaca bintang, Yoon, mereka menuntunku. Aku mampu berinteraksi dengan burung, mereka menemani perjalananku. Tetapi, saat aku tiba - tiba menghilang di tengah laut, saat ombak bergejolak, langit menghitam dan tidak mampu menampakan bintang, burung - burung laut pergi karena ketakutan. Aku harus apa ?"

"Berusahalah untuk bertahan hidup dengan caramu. Tanpa bantuan apapun, kamu harus bertahan. Berenanglah di lautan sekuatmu, dan carilah pulau untuk bersinggah."

"Aku sedang berenang di lautan sekarang, Yoon. Dari kejauhan aku melihat pulau, tapi aku ragu untuk menyinggahinya."

"Jangan ragu menyinggahi pulau itu, Han. Selamatkan dirimu dan hiduplah disana. Aku percaya, pulau itu akan membantumu hidup."

Dinginnya angin malam sangat memilukan tubuh. Memilukan bahkan menyakitkan. Bertahanlah, penikmat malam.

"Pulau itu... adalah kamu, Yoon."

 

 

 

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK