home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Your Key

Your Key

Share:
Author : jaebum_94
Published : 13 Feb 2017, Updated : 14 Feb 2017
Cast : GOT7
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |290 Views |0 Loves
Your Key
CHAPTER 1 : Chapter 1 - End

"Apa kau pernah mendengar hantu di jalan sempit belakang minimarket sekolah kita?" tanya bambam kepada seorang gadis yang mendengarkan musik melalui benda persegi berwarna putih yang dipasangkan kabel berujung cabang.

Yang ditanya enggan menjawab sang punya pertanyaan pun menyambar kabel putih dari daun telinganya membuat sang empunya mengaduh kesakitan.

"Apa!" tanyanya sekaligus membentak terlukis garis wajah kecewa dengan lengkungan sudut bibir mengarah ke bawah jelas terpapar di depan wajahnya.

"Iya aku tidak tahu. Maaf." tangannya meraih bahu lawannya mengusapnya perlahan bak peliharaan kesayangannya.

"Kau itu kerja disana. Pulang selalu malam. Berhati-hatilah aku tidak selalu ada disampingmu." wajahnya berubah mengkhawatirkan seseorang yang bekerja di minimarket tersebut.

"Kalau hanya hantu aku tidak takut." jawabnya menggampangkan pertanyaan sambil menggidikan bahunya.

"Terserah aku hanya mengkhawatirkanmu. Ingatlah tidak selalu keberuntungan mendatangi seseorang terus menerus." Bambam mendirikan tubuhnya melangkahkan kakinya keluar kelas.

 

***

"Total semuanya 800 won." tanganya menerima uang yang diberikan sang pelanggan.

"Terimakasih." senyum bahagia terpampang jelas diwajah kecilnya yang selalu banhkan tidak pernah mendapat balasan terimakasih. "Seo joon aku pulang dulu." mengambil tas selempangnya diambilnya benda persegi itu yang memaparkan 12 panggilan tak terjawab dari ular ular?

"Kenapa lama sekali. Di luar dingin." itulah kalimat pertama yang ia dengar saat keluar dari minimarket. Bahkan pintu pun belum kembali tertutup dengan sempurna. "Siapa yang menyuruhmu menungguku.

" jawabnya menyindir. Ia tidak pernah sekalipun menyuruhnya menunggu kedinginan di depan minimarket kota seoul pukul 9 malam.

"Hya eun soo! Kau harusnya berterima kasih padaku di saat semua gadis mendekatiku aku tapi aku menolaknya bahkan aku masih mau menjadi temanmu." "Kalau begitu. Pergilah dengan gadismu itu." jawabnya berteriak tak ingin memgalah sambil jarinya menunjuk arah jauh didepannya.

"Oke aku akan pergi. Tapi nanti setelah kau memiliki penggantiku." senyum usil mengukir diwajahnya. Mempermainkan temanya yang kaku adalah kebahagiaan teraendiri baginya. Mendekatkan tubuhnya pada temannya yang marah karena ulahnya sendiri.

Menyenggolkan bahunya berharap mendapatkan bahu temannya itu kenyataannya lengan kecil kurus yang ia dapatkan. Ekspektasi memang tak seindah realita.

Jari telunjuknya ia arahkan pada pipi sang punya lengan tersebut ia tekankan membentuk pola melingkar membuat sang punya menjauh.

Reflek tangan kecil itu memukul sang pembuat usil membuatnya mengaduh karena jam hitam bulat besar yang bertengger di tangan kecil itu tepat mengenai hidungnga.

"Apa kau tidak apa-apa?." tanyanya khawatir jari lentiknya menyentuk sang empunya hidung.

"Ahh sakit." jawabnya berlebihan seakan ia akan mati saat itu juga. Memang dasar ular.

Tangannya menggapai sesuatu yang membuat jantungnya bekerja keras. Menemukan jari lentik bertengger manis di hidung mancungnya mengambilnya membuat sang empunya bergidik kaget menatap arahnya sedangkan yang ditatapnya hanya melanjutkan pekerjaannya mengeratkan kaitannya menggunakan tangan satunya ia mengusapnya dengan sangat hati hati.

"Eun soo. Apa aku boleh bertanya?" hening bahkan nada bertanyanya membuat eun soo ketakutan bahkan ini lebih horor dari hantu yang ia ceritakan.

"Ah. Boleh sekali teman." sambil mencoba melepaskan kaitan tangannya yang semakin mengerat saja.

"Apa hatimu sudah terbuka? Apa kau sudah menemukan kuncinya? Apa aku boleh menjadi kuncimu itu? Aku lelah setiap hari berlalu lalang di depan pintumu tapi membukanya saja aku tidak bisa bahkan untuk menyentuh gagangnya saja aku tidak sanggup." air mata keluar dari pelupuk mata bambam. Ia sudah tidak sanggup menahan semua rasa ini. Ia sudah lelah seperti ini. Kenapa kebahagiaan sangat sulit ia dapatkan. Ia hanya ingin merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bahagia.

"Bambam ada apa denganmu. Kenapa kau sepert." mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut sahabatnya sangat membuat hatinya lemah. Tangannya bergetar tak memiliki tenaga lagi untuk berusaha melepaskan kaitan mereka yang semakin erat saja. Tangan kirinya berusaha menggapai bahu lebar itu.

"Apa aku harus mendobraknya agar terbuka pintunya, eun soo?" terisak. Tangisan yang sebelumnya hening hanya deruan napas kini terdengar isakan siapa yang mendengarnya membuatnya iba.

"Pergilah ke gadis2 mu bam. Saat waktu yang kau inginkan itu datang, aku dengan bahagia akan mendatangimu." eun soo menggapai bahu lebar itu. Bahu yang lumayan lebar itu terlihat sangat nyaman untuk dipeluk. Menggapainya merengkuh hingga menyandarkan kepala bambam pada bahu mungilnya memeluknya. Hangat bahunya bahkan ikut bergerak naik turun karena isakannya.

"Bagaimana bisa aku pergi ke gadis lain kalau hatiku terus mengarah padamu eun soo!" terdengar samar samar tersaingi sesenggukan yang tersisa dari isakannya.

"Kau pasti bisa! Aku yakin. Bambam sahabatku yang sangat pemberani dan kuat membalas semua perlakuan kasar temanku, menjadi sahabat yang sangat perhatian kepadaku 3 tahun belakangan ini. Sahabat yang selalu menungguku kedinginan hanya untuk mengantar ku pulang selamat ke rumah. Kau pasti bisa."

 

***

Hari ini tepat seminggu setelah hari horror itu terjadi. Sudah seminggu lamanya juga bambam menjauhi eun soo. Sekarang mereka seperti dua insan yang tidak mengenal dan tidak ingin. Rasanya sangat sakit hati eun soo saat mereka tidak sengaja berpapasan dia--bambam bahkan mengabaikannya menghindari pandangan mata eun soo. Jangan lupakan, sekarang bambam dikelilingi banyak gadis yang lebih cantik dan lebih segala dari eun soo.

Sedangkan eun soo terpuruk karena kesendiriannya. Ia adalah manusia biasa yang iri melihat sahabatnya itu dengan mudah mendapatkan penggantinya. Suatu saat ia juga ingin membuktikan kalau eun soo akan dapat menemukan penggantinya. Lihat saja. Nanti.

Eun soo menyesal mengatakan menyuruh bambam pergi ke gadisnya waktu itu. Ia tahu tidak bisa menjalani ini tapi kenapa ia menyuruhnya waktu itu. Mungkin hantu yang bambam ceritakan itu memang ada masuk dalam tubuh eun soo dan membujuknya untuk memgatakan semua hal yang berlainan dari eun soo. Mungkin.

 

***

Eun soo melangkah keluar tempat kerjanya tepat pukul 10 malam. Menatap luar yang dipenuhi derasnya hujan. Ia hanya berdiri di depan minimarket menunggu hujan reda. Ia bukanya lupa membawa payung tapi ia tidak pernah membawa payung karena biasanya bambam selalu menjemputnya membawakannya hanya sebuah payung.

Akhirnya ia memberanikan dirinya melawan terjangnya hujan malam melangkahkan kakinya menuruni tangga yang hanya setinggi 5 senti itu. Berjalan berlari menjinjitkan kakinya tangan memgadah ke atas menutupi bagian atas tubuh mungilnya itu.

Hujan semakin deras saja menuntut eun soo berhenti di depan toko. Rumahnya hanya berjarak 50 meter dari sini tapi bajunya sudah basah oleh hujan. Seseorang terlihat seumuran dengan eun soo keluar dengan tangannya yang memegang payung hitam polos.

"Apa kau mau kuantar sekalian aku akan menjemput nenek ku." suaranya yang sangat..ah. Eun soo menatap wajah sebelum ia membuka payungya membuat wajah samar itu semakin tidak terlihat.

"Park. Eun. Soo." wajahnya tampak jelas setelah ia mengangkat payungya memdekati eun soo.

"Aku?" jawabnya bingung kenapa pria ini mengetahui namanya. Sambil terus tak percaya menunjukkan jarinya ke arah dadanya.

"Ayo." tanpa menjawab pertanyaan pria yang memgenakan sweater hitam itu menarik tangan Eun soo mengeratkannya menariknya membuat yang ditarik mengikut dibelakangnya.

***

"Jangan pulang malam lagi." pria itu berkata sambil memgelus lembut rambut basah Eun soo perlahan membuat wajah sang empunya memerah. Eun soo masih melanjutkan kegiatan berdiamnya jantungnya semakin berpacu kencang saat maniknya menatap manik kecil tanpa lipatan itu hampir menghilang karena senyumannya yang terukir diwajahnya.

"Apa kau tidak ingat aku." tanyanya membuat senyum yang terlukis di wajah hangatnya terhapus digantikan entah.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya." jawabnya malu malu seperti seorang gadis yang menyatakan perasaanya kepada seorang pria.

"Kita bahkan pernah berciuman. Kau lupa?" kenapa semua perkataannya membuat eun soo jantungan saja.

"Oppa Jaebum. Benar kau.." tidak ingin melanjutkan kalimatnya lagi memeluknya erat bahkan bahunya lebih lebar dari Bambam.

"Oppa kapan kau pulang." eun soo menangis terisak bahagia. Oppa yang menutup membawa pergi kuncinya kini telah kembali didepannya memeluknya erat. Sangat. "Aku baru pulang kemarin." Jaebum membisikkan jawabannya mendekat telinga eun soo membuat yang dibisikan semakin memeluknya erat.

"Oppa aku sangat rindu oppa." Eun soo sesenggukan mengangkat kepalanya menatap sang oppa didepannya sambil mengusap air matanya.

"Iya. Aku juga." tak ingin diam saja jaebum ikut mengusap sisa air mata eun soo menggunakan ibu jarinya. Jebum menangkup wajah mungil di hadapannya mengusapnya pelan pelan menyalurkan kehangatan kepadanya yang kedinginan. Ia sangat tidak suka melihat punyanya kesakitan. Ia adalah seorang pria berhak melindungi sesuatu yang menjadi miliknya. Mereka saling menatap dengan senyum yang merekah di wajahnya.

Selang beberapa detik kemudian jaebum terus berulang menunjuk mulutnya dengan matanya ia arahkan pada wajah tepatnya mulut Eun soo. Apa ini Eun soo bahkan belum siap kenapa oppa sangat tidak tahan sih?. Eun soo lalu menutup kedua matanya dengan satu tangan jaebum yang masih setia menangkup pipi eun soo memajukan mulutnya yang sekarang bahkan membentuk huruf "o".

Terlihat alis Jaebum mulai menyatu. Ia hanya diam bingung tak mengerti apa maksud Eun soo sebenarnya dan ia mulai menahan tawanya saat mengerti maksud Eun soo dengan mulutnya tersebut?

"Ada coklat dimulutmu." Jaebum dengan sangat perhatian mengusap coklat tersebut menggunakan ibu jarinya dan jangan lupakan dia sedang berusaha--masih menahan tawanya yang semakin tak tertahankan.

"Ah oppa terimakasih." jawab Eunsoo menampik tangan jaebum yang masih ingin membersihkan coklat. Eun soo segera memasuki rumahnya menahan malu. Setelah didalam kamar eun soo segera membanting tubuhnya di atas kasur merasa bodoh dan malu mengingat 5 menit lalu yang ia lakukan.

"Arghhhhhhh!" teriaknya menjambak rambut panjangnya ingin menangis kembali rasanya mengingat jaebum menahan tawanya. Dia pikir pasti aku ingin melakukannya padahal hatinya memang sangat ingin.

 

***

Sepulang sekolah Eun soo dengan senyum bahagia diwajahnya segera menuju keluar pagar untuk menemui Jaebum. Jaebum mengajaknya keluar berdua mungkin Eun soo pikir ini seperti kencan. Dipikirkan saja membuat wajahnya memerah malu. Stop it Eun soo!

Senyumnya hilang entah saat melihat Bambam nya? Pergi berdua dengan gadis begandengan tangan. Bambam menatapnya tapi sangat berbeda saat menatap gadis itu ia terlihat bahagia berbeda saat menatap eun soo tawanya seakan hilang ditelan bumi.

"Ayo berangkat." Eun soo terlunjak kaget mengetahui jaebum sudah di depan matanya.

 

***

Disini mereka sekarang berada di dalam restoran bersiap mengisi perut yang kelaparan. Eun soo tidak pikir kenapa dari semua restoran ia memasuki reatoran yang sama dengan Bambam membuat moodnya hancur saja. Bambam yang dilihatnya terlihat sedang bercanda tawa dengan gadisnya kadang saling bergantian mencubit pipi lalu yang dicubit akan berteriak kesakitan.

"Ayo di makan eun soo." tawaran Jaebum eun sok indahkan ia menyantap semua makannya lahap tak bersisa meminum orange jus nya dengan tergesa dan tak bersisa bahkan setetes pun.

"Oh iya oppa kapan kau kembali kerja?"

"Mungkin lusa, aku hanya mengambil cuti karena nenek sakit." entah kenapa jawaban yang Eun soo terima membuat hatinya berteriak senang bergembira. Eun soo segera menarik Jaebum keluar dari restoran yang membuatnya susah nafas itu. Munkin karena dipenuhi dengan ular ular itu? Dasar memang ular! Jaebum mengeratkan kaitannya Eun soo yang masih memikirkan ular nya?

*drtt drtt* Getaran di tasnya membuyarkan lamunanya menarik tangannya dari kaitan jaebum hanya untuk memgambil benda persegi itu. itu pesan yang Eun soo terima dari Bambam mungkin juga pesan terakhir yang ia kirimkan. Kenapa dadanya terasa sakit hingga tak mampu mengulangi hanya untuk membacanya saja. Kenapa isi pesannya sangat menyesakkan dada Eun soo.

Mata Eun soo mulai berkaca kaca pelupuk maatnya sudah tak mampu membendung air matanya. Eun soo terisak dipelukan jaebum di atas bangku taman yang mereka duduki. Kedua tangannya lemah tak bertenaga nergantung di kedua sisi tubuhnya. Jaebum berusaha menghentikan isakan Eun soo menepuk berulang bahu Eun soo berharap dapat sesikit menenangkannya. Ini salah kenapa ia menangis hanya karena isi pesan yang ia terima dari bambam kenapa ia tidak menangisi jaebum yang akan pergi jauh darinya? Apakah hati dapat berbalik semudah membalikkan koin. Eun soo sadar sekarang hatinya sudah atau mungkin sejak dulu sudah terbuka untuk Bambam. Ia sadar hidupnya membutuhkan seorang bambam. Mungkin seseorang yang terlalu mwmbuatmu bahagia setiap hari dapat mengalahkan cinta pertamamu yang menyakitkan.

"Oppa maaf." jawabnya sambil sesekali terbatuk mengusap air matanya yang enggan berhenti.

"Untuk apa Eun soo kau tidak perlu." jawab jaebum wajah yang sangat hangat bahkan senyum pun enggan pergi. Tangannya mengelus elua sesuatu diatas eun soo membuatnya sedikit tenang.

"Oppa aku pikir. Aku tidak menyukaimu lagi. Maaf." pernyataannya membuatnya kembali terisak kenapa saat kuncinya datang pintu sudah terbuka? Atau memang kuncinya sudah tidak cocok dengan pintunya sehingga enggan terbuka?

"Aku tahu eun soo hatimu yang kosong itu akan berpenghuni. Aku tidak akan memaksa." "Kalau kau bahagia. Aku ikut senang." sanyumnya tak pernah hilang dari wajahnya membuat Eun soo semakin merasa bersalah.

"Oppa maaf." isakannya semakin keras saja mungkin juga membuat seorang jaebum malu karena semua mata yang ada di taman mengarah padanya.

"Iya eun soo. Sebenarnya aku juga sedang dekat dengan seorang gadis." wajahnya berubah merah malu menahan tawanya. Jaebum bicara seolah merasa tak bersalah. Isakan Eun soo langsung berakhir.

Wajah Eun soo berubah masam tapi hatinya merasa senang. Ia sudah tak merasa bersalah lagi karena ucapan jaebum tersebut. Kini mereka sudah berada di depan pagar rumah Eun soo. Jaebum ingin mengantarkannya untuk terakhir kalinya.

"Oppa terimakasih. Kudoakan semoga kalian berkencan." ucap Eun soo sebelum memasuki pagar bercat hutam tersebut sambil memukul dada Jaebum. Jaebum meninggalkan rumah bergaya modern menhndukkan kepala kebawah menatap jalan tak berujung.

***

Eun soo sudah berjanji akan datang ke bambam dengan bahagia. Sekarang ia sedang menuju kelas dengan senyum menghiasinya. Berharap semua yang dikhayalkan sebelum tidur tadi malam menjadi sebuah kenyataan.

Saat tiba di kelas Eun soo memandangi semua mata didepannya tetapi tidak menemukan bahkan bibir seksi Bambam pun tak terlihat. Di mana bambam? Tidak mungkin ia bolos kan.

"Apa kau memcariku?" tanya Bambam tepat ditelinga Eun soo segera mengelus dadanya kaget. Suara yang sudah 2 minggu ini tidak ia dengar. Di dalam hatinya mungkin sudah ada perayaan kemenangan?

"Ikut aku!" Bambam menarik tangan Eun soo berlari melewati kelas-kelas dan banyak murid, menaiki tangga dengan senyum bahagia tak lepas dari dua insan tersebut.

 

***

Mereka sudah berada di atap sekolah. Berdiri berhadapan membuat Eun soo hanya setinggi dada Bambam kedua tangan panjangnya menangkap pundak Eun soo memegangnya erat erat. Matanya saling berpandangan menunggu seseorang menginterupsi pembicaraan.

"Kenapa kau lama sekali eun soo. Aku menuggumu sampai lumutan!" bentak Bambam tak sabaran napasnya terengah-engah bahkan masih terdengan.

"Kau sudah tahu?" tanyanya kebingungan. Apa bambam 2 minggu terakhir ini belajar menjadi peramal kenapa dia tahu aku datang untuk itu?

"Kau mendatangiku dengan bahagia. Benar kan? Sekarang waktunya?" tanyanya bahagia sambil mencubit pipi kanan Eun soo. Eun soo hanya diam tersenyum menatap manik hitam didetanyanya kebingungan. Apa bambam 2 minggu terakhir ini belajar menjadi peramal kenapa dia tahu aku datang untuk itu?

"Kau mendatangiku dengan bahagia. Benar kan? Sekarang waktunya?" tanyanya bahagia sambil mencubit pipi kanan Eun soo.

Eun soo hanya diam tersenyum menatap manik hitam didepannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK