home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > I Love You, That's All

I Love You, That's All

Share:
Author : yukeudwiyoga
Published : 07 Jan 2017, Updated : 10 Jan 2017
Cast : GOT7 Im Jaebum, BTOB Yook Sungjae, BTS Kim Taehyung, Apink Kim Namjoo, Kim Yookyung (OC), Lee Hyera
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |455 Views |1 Loves
I Love You, That's all
CHAPTER 1 : For You

Kim yookyung berlari melewati koridor sekolah, 5 menit lagi bel masuk, ia berlari sekuat tenaga agar sampai diruangan kelas sebelum guru yang akan masuk di jam pelajaran pertama. Benar saja, saat diruangan kelas semua bangku sudah di duduki pemiliknya semua kecuali bangku milik yookyung dan, bruk! Seseorang tak sengaja menubruk punggung yookyung yang diam di pintu masuk kelas.

“ya! Kau telat juga? Tidak biasanya.. haha” Yook Sungjae, ia melingkarkan lengannya di leher Yookyung agar mengikutinya duduk di bangku.

“Ooooo, kim yookyung, kau bisa telat datang juga.. biasanya kamu selalu datang paling awal dari siapapun di kelas atau bahkan di sekolah, hahaha” Kim Namjoo menggoda sahabatnya itu sambil menepuk lengan Sungjae agar melepaskan lengannya.

“ya!” Sungjae berteriak pada Namjoo karena tepukannya itu yang cukup keras.

“mwo? Duduk sana di bangkumu!” Namjoo membalas Sungjae yang juga melotot kepadanya.

“aiiishhh kalian berdua ini, benar-benar tidak pernah akur sedetik pun” Yookyung pun menarik lengan Sungjae agar ia duduk di kursinya yang berada tepat di samping Yookyung. “dan kamu juga Lee Hyera!! Teganya kau pergi sekolah meninggalkanku! Padahal aku sudah mengirimkan pesan padamu dan kamu bahkan tidak membacanya..” Yookyung memasang ekspresi cemberut pada Hyera yang sejak ia datang tadi hanya tertunduk memalingkan pandangannya dari Yookyung seakan menghindar.

“ahhh… hahhaaha miaann, jinjja mianhaee, tadi Kyungsoo oppa mengajakku pergi ke sekolah bersama jadi aku tidak bisa menolaknya kan.. yaa begitulaahh, haha jinjja mianhaeee eoohh?” Hyera menggenggam tangan Yookyung dengan kedua tangannya mencoba membujuk sahabatnya itu agar mau memaafkannya.

“molla iiissshh”

“jadi kamu benar-benar marah padakuuu? Euummm?” Hyera mulai memasang wajahnya yang memelas itu sambil memegang kedua pipi Yookyung dan menatapnya dalam-dalam, Sungjae yang tak tahan melihat pemandangan mengerikan disampingnya itu mulai menatap aneh.

“yaa! Geumanhaeee!!! Mwohaneungeoyaaa! Isshh”

Kim Yookyung yang tak tahan melihat aegyo Lee Hyera itu akhirnya menyerah dan tertawa bersama setelah mendengar kata-kata Sungjae tadi.

“ngomong-ngomong apa yang Taehyung lakukan? Dia bahkan tidak menoleh padaku saat aku datang” ujar Yookyung pada Hyera yang duduk tepat dibelakang Taehyung.

“jangan bicarakan aku di belakang Kim yookyuung aku bisa mendengarmu” kata Taehyung sambil terus fokus mencatat di buku tulisnya.

“pfftt dia pasti belum mengerjakan tugas lagi ya?” ujar Yookyung sambil berbisik pada Namjoo dan Hyera. Mereka pun mengangguk mengiyakan.

***

*bell ringing

Bel istirahat. Anak-anak kelas yang lain sudah meninggalkan ruangan kelas menuju kantin.  “kalian mau makan apa?” Hyera memegang pundak Yookyung dan Namjoo dengan kedua tangannya.

“hari ini menu di kantin apa ya?” Namjoo bertanya pada dua sahabat yang berjalan bersamanya itu.

“yaaa!! Tunggu akuuu” Sungjae berteriak dari arah belakang membuat Yookyung dan Namjoo juga Hyera menoleh. Sungjae berlari kearah mereka sambil saling merangkul pundaknya dengan Taehyung.

“ouuchhh, Apa yang mereka lakukan itu?” Hyera mengangkat sebelah alisnya heran

“mereka sudah baikan?” Namjoo yang juga heran pun ikut bertanya

“mungkin? Kajjaaaa” Yookyung pun berjalan duluan ke kantin tanpa menghiraukan Sungjae dan Taehyung yang sudah berdiri didekatnya.

Kantin tampak sangat ramai. Hampir semua murid di sekolah berkumpul disana sekarang, mungkin. Mata Yookyung mulai berkeliling ke sekitarnya, mencari sosok yang sangat ingin dilihatnya disaat waktu istirahat seperti ini. Tapi ia tak kunjung menemukannya.

“oppa mu sedang bermain basket di lapangan belakang sekolah” ujar Taehyung santai sambil melahap makanan di depannya.

Yookyung pun menoleh pada Taehyung dan berkata,”siapa juga yang mencarinya.”

“ppffftt, ya! Siapapun yang melihat tingkahmu itu pasti jelas sekali kalau kamu mencarinya!” ujar Sungjae.

“aku kan cuma memastikan dia ada disini atau tidak, aku tidak mencarinya” ujar Yookyung sambil melahap makanannya, tapi sebelum makanan itu masuk ke mulutnya ia menyadari bahwa teman-temannya itu sedang kompak menatap ke arahnya seolah akan mengeluarkan cahaya laser atau semacamnya.

“ahh waee?? Kalian lihat apa, bola mata kalian bisa copot keluar jika terus-terusan melihatku seperti itu.” Semuanya mendesah heran dan seakan putus asa mendengar jawaban Yookyung.

“yang kau inginkan jika mendapat hadiah?” Yookyung mengepalkan tangan kanannya seolah sedang mewawancarai Sungjae yang sudah menghabiskan makannya duluan.

Sungjae melihat Yookyung heran dan tidak langsung menjawab, Yookyung pun harus kembali mengulang pertanyaannya tadi, “Yook Sungjae! Yang kau inginkan jika mendapat hadiaahhh?”

“na?” ujar Sungjae

“eooh, Neo?”

“joy stick?” Yookyung menatapnya datar. “wae? Aku sangat membutuhkannya karena seseorang telah meminjam dan mengembalikannya padaku dalam keadaan rusak” Sungjae melirik ke arah Taehyung si pelaku yang telah meminjam joy stick Sungjae itu.

“Neoneun?” Yookyung langsung beralih mewawancarai Taehyung.

“hhhmmm, entahlah..” ujar Taehyung yang langsung menghabiskan minumannya.

“ahh yaaa! Coba kamu pikirkan lagi… apa yang paling diinginkan anak laki-laki sebagai hadiah?”

“eo? Oppamu ulang tahun?” tanya Namjoo

“ohh, beberapa hari lagi ulang tahunnya, aku kebingungan harus memberinya hadiah apa..” Yookyung masih menatap Taehyung menunggu jawaban darinya.

“Joy stick?” Yookyung kembali memasang ekspresi datanya, “waee? Aku sudah meminjam dan merusakkan milik seseorang dan ingin menggantinyaa..” Taehyung tersenyum dan memeluk Sungjae yang juga terlihat senang mendengar jawaban temannya itu.

“aigoo, isi kepala mereka memang tidak ada yang beres” Hyera pun ikut memasang ekspresi datarnya melihat kelakuan dua sahabatnya itu.

“tas, baju, dompet atau jam tangan mungkin?” ujar Namjoo

“iyaa, boleh juga. Tahun kemarin aku memberi Kyungsoo oppa baju sebagai hadiah” ujar Hyera menambahkan.

“tapi, Yookyung-ah. Kamu harusnya lebih tau dari siapapun kan apa yang paling diinginkan oppa mu itu coba kamu pikirkan baik-baik. Bukan tentang seberapa bagus atau mahal nya barang yang kamu berikan. Tapi makna dibaliknya dan kesungguhan kamu memberinya..” kata Taehyung membuat keempat temannya itu seakan mematung sesaat mendengar perkataannya itu.

“neo nuguni? Kamu Kim Taehyung kan?” Sungjae menarik kerah baju Taehyung pelan

“Taehyung-ah kamu sudah minum obatmu? Apa kamu lupa meminumnya tadi pagi?” ujar Namjoo yang pura-pura khawatir.

“minum lagi airnya, mungkin kamu lelah…” Hyera pun ikut memberi Taehyung botol air mineralnya yang masih penuh.

“jawab akuu! Kamu Kim Taehyung kan?” Sungjae kembali berteriak menunggu jawabannya. Taehyung pun tersenyum jahil dengan wajah usilnya itu.

“aku ke toilet dulu ya, kalian duluan saja ke kelas jika sudah selesai..” ujar Yookyung yang langsung beranjak dari duduknya.

“ohh, apa kau mau ku antar?” Ujar Taehyung

“Yaa! Micheonya?!” teriak Namjoo dan Hyera hampir bersamaan.

                Yookyung baru keluar dari toilet dan berjalan menuju kelasnya, saat ia berjalan melewati balkon belakang sekolah Yookyung melihat Sungjae yang bersandar di balik pilar tembok.

“apa yang kau lakukan disitu?” Yookyung mengintip dari balik tembok tempat Sungjae berdiri.

“sudah selesai ke toiletnya?”

“eoh.. kau menungguku?” tanya Yookyung heran

“Aniii… ya! Siapa juga yang menunggumu!”

“kajja, masuk ke kelas” Yookyung langsung berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari Sungjae. Sungjae pun berjalan mengikuti Yookyung dan berdiri disampingnya beriringan.

Ia mengintip Yookyung dengan ujung matanya, yeoja itu melihat ke arah lapangan basket. Im Jaebum, namja yang pasti sedang dilihatnya itu sedang bermain basket disana.

“sudah memutuskan mau membelikannya kado apa?”

“anii.. mollaa.. aku masih memikirkannya” Yookyung kembali mengalihkan pandangan ke jalan didepannya.

“Taehyung ada benarnya juga… menurutku kau pasti lebih tahu dari siapapun apa yang benar-benar diinginkannya, tapi kalau kau tanya apa yang aku inginkan…” sungjae berfikir sejenak, “aku lebih suka kau memberikan apa yang benar-benar aku butuhkan, kurasa Jaebum hyung juga begitu..”

“ya!!” Yookyung menghentikan langkahnya yang tertinggal di belakang Sungjae “neooo!! Aku suka kata-katamu tadi itu. Oppa sudah pasti akan memakainya jika ia membutuhkannya kan?” Sungjae mengangguk pelan

“ya! Gooomapta sungjae-ah! Aku akan melakukan yang kau katakan!” Yookyung langsung berlari kegirangan ke kelas, sungjae hanya menatap punggung yeoja itu dan berlari mengejarnya setelah beberapa saat.

***

Yookyung, Namjoo dan Hyera sedang merapikan buku di loker mereka masing-masing yang kebetulan berdampingan. Yookyung yang telah selesai duluan menutup dan mengunci lokernya, saat ia menoleh tak jauh dari tempat ia berdiri Jaebum berjalan pergi.

“namjoo-ah, hyera-ah.. aku pergi duluan ya.. annyeoong” Yookyung langsung berlari sebelum Jaebum berjalan lebih jauh lagi

“yaaa! Kim Yookyung!!” Namjoo yang masih mencerna perkataan Yookyung tadi baru berteriak

“mau kemana dia?” tanya  Taehyung yang datang menghampiri Namjoo dan Hyera bersama Sungjae.

“kemana lagii, pasti menemui oppanya..” Hyera menjawabnya malas.

“isshhh, dia kan sudah janji mau menemaniku ke toko buku.” Ujar Namjoo, ia langsung menatap Hyera dengan wajah memelasnya mencoba beralih pada Hyera agar mau mengantarnya

“andwaeeee, aku ada janji dengan kyungsoo oppa” jawab Hyera tanpa melihat wajah memelas Namjoo

“yaa! Kalian ini! Tega sekali pada sahabatmu sendiri,” ujar Namjoo kesal

“mau pergi denganku?” Taehyung tiba-tiba menawarkan diri sambil tersenyum

“Sirheoooo!” Namjooo langsung menolak tawaran Taehyung itu.

***

“oppaaaa!” Yookyung berlari berusaha mencegah Jaebum pergi.

Jaebum pun menoleh setelah mendengar teriakan suara yang sangat dikenalnya itu. “ohh, Yookyung-ah. Kenapa kau berlari seperti itu? Ada yang mengejarmu?”

Yookyung yang sudah sampai di hadapan Jaebum masih mengatur nafasnya setelah berlari tadi “ani.. aku sudah memanggilmu berkali-kali tadi tapi tidak menoleh juga, jadinya aku berlari seperti ini.. huh”

“ahh geuraee? Miann, aku tidak mendengarmu tadi.. haha” Jaebum menggaruk-garuk kepalanya pelan, “sudah mau pulang?”

“hhmm,” Yookyung meminum air mineral dari botol minum yang dibawanya.

“kajja!” Jaebum langsung menarik lengan Yookyung yang baru saja memasukkan botol minuman ke dalam tasnya.

Yookyung dan Jaebum berjalan menuju ke halte bus yang tak jauh dari sekolah mereka. Yookyung memperhatikan penampilan Jaebum dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya. Tak lama, Jaebum akhirnya menyadari bahwa yeoja yang berjalan disampingnya itu sedang memperhatikannya sedari tadi.

“mwohae? Kenapa kau melihatku seperti itu?” pandangan mata Jaebum masih ke jalan yang ada didepannya, Yookyung yang berniat sembunyi-sembunyi memperhatikan oppa-nya itu akhirnya ketahuan juga

“a..aniyoo.. tidak adaa.. hihi” Yookyung kembali melihat ke jalanan didepannya sambil sesekali melirik kembali ke namja disampingnya itu. “oppa..”

“hhhmm waee?”

“kenapa tas ransel mu selalu terlihat penuh seperti itu? Apa yang kau bawa didalamnya?”

“wahhh, aku kecewa padamu..”

Yookyung memasang wajahnya yang kelihatan tidak tahu sama sekali apa yang dimaksudkan oleh Jaebum.

“bukankah aku sudah pernah memberitahukannya padamu waktu itu? Di atap sekolah?”

“ahhhh, iya juga hahaha aku lupa yang satu itu..” Yookyung mengingatnya dan menepuk lengan Jaebum pelan.

“wahhh sifat pelupamu muncul lagi.”

“hehehe miaan” keheningan menghampiri mereka sejenak.

“yookyung-ah! Kenapa kamu jadi diam seperti itu?” Jaebum memecah keheningan itu.

“oppa lihat itu disana” Yookyung menunjuk ke seberang jalan tempat mereka berdiri, disana ada kerumunan orang yang sedang menonton beberapa orang yang melakukan dance street dengan menggunakan masker dan jaket hoodie yang menutupi wajahnya.

“oohh gerakan mereka bagus juga..”

“iya, kan? Apa kau juga bisa melakukannya?”

“tentu saja,” jawab Jaebum dengan penuh keyakinan.

“aku ingin melihatnya” ujar Yookyung sambil mengepalkan kedua tangannya

“Chigeum? Disini?”

“eooohh ayolaahh…”

“kajjaa, kita pulang..” Jaebum langsung menolaknya mentah-mentah dan menarik lengan Yookyung untuk ikut berjalan mengikutinya. Yookyung pun menyerah dan mengikuti Jaebum dengan wajah cemberutnya.

***

6th January

Aku berharap matahari bersamaku hari ini, meskipun salju masih menutupi jalanan karena turun dengan derasnya semalaman. Semoga hari ini akan jadi hari yang indah, pikirku dalam hati. Aku terus berdoa sepanjang malam agar salju tidak turun hari ini.

“oppa!” aku memanggil namja yang sangat ku kenali punggungnya itu, ia pun berbalik

“yookyung-ah!” ia terlihat terkejut melihatku, aku memang tidak memberitahukannya akan datang. “kauuu! sejak kapan kamu disini?” ia meletakan kedua tangannya di pipiku mencoba untuk menghangatkanku.

“aniyaa, tidak terlalu lama. Baru saja” aku tersenyum kecil untuk mengurangi rasa khawatirnya ia pun membalas senyumanku.

“pasti dingin... kenapa tidak masuk dan tunggu di dalam?” Jaebum oppa merapikan syal di leherku yang belum kulilitkan dengan benar.

“aku tidak mau mengganggumu latihan, kalau aku disana oppa tidak akan bisa konsentrasi, kan?” aku kembali tersenyum menggodanya.

“jinjja! Itu lebih baik daripada harus menunggu diluar dan kedinginan seperti ini kan. Ada apa kesini?”

Aku memasang wajah kesal mendengar perkataannya itu. “oppa! Oppa bertanya karena benar-benar tidak tahu?”

“apanya?” ia memasang senyum kecil di salah satu ujung bibirnya

“ini hari apa? Oppa masih pura-pura tidak tahu?”

“rabu?” ia masih saja menggodaku dengan jawabannya itu, aku menatap jaebum oppa dengan muka cemberut.

“molla!” aku berjalan meninggalkannya, tapi belum jauh aku berjalan ia menahan lenganku.

“araseoo.. tidak mungkin aku lupa ini hari apa. Tadi pagi aku sarapan sup rumput laut buatan eomma”.

Aku pun berbalik memandangnya,”sup rumput laut? Wahhh pasti enak..”

“kalau begitu ke rumahku saja, eomma membuat sup rumput laut banyak sekali”

“jinjja? Rumah oppa?”

“eo? Wae?”

Aku menggigit bibirku ragu, “lain kali saja” aku kembali melanjutkan langkahku.

“ahhh waee?” jaebum oppa mengikutiku dan sekarang berjalan mundur sambil menghadap ke arahku.

“lain kali sajaaa… hhmmm?” aku menarik lengannya agar berjalan dengan benar disampingku. “kajja…”

“eodiga?” ia memegang pundakku dan berjalan seirama dengan langkahku.

***

Namsan seoul tower.

“yeogiya???” Jaebum oppa menghentikan langkahnya tepat didepan gerbang masuk, aku berbalik sambil menganggukan kepala. Jaebum oppa tetap berdiri disana tak bergeming sedikitpun.

“ahhh waeee, kajjaaa…” aku menarik tangannya

“aaaa shireooo, banyak sekali orang disini” ujarnya sambil mengarahkan pandanganku ke beberapa kerumunan orang disekitar.

“lalu oppa ingin kita pergi ke tempat sepi tanpa banyak orang-orang, begitu?”

“tentu saja,” aku memandang sinis namja di hadapanku ini.

“lalu apa yang akan oppa lakukan disana?”

“…” Jaebum oppa hanya tersenyum dan menggaruk-garuk pundaknya yang tidak gatal.

“jangan banyak bicara lagi dan ikut saja denganku!” aku langsung meraih leher jaebum oppa dan melingkarkan lenganku disana menariknya agar ikut  berjalan masuk melewati gerbang itu bersamaku.

Langit senja mulai berganti gelap menuju malam. Jaebum oppa yang tadinya tidak ingin datang ke tempat ini tampaknya mulai menikmati suasana disekitar sini. Kami melewati jalan yang dipenuhi gembok warna-warni menutupi pagar pembatasnya. Aku menggenggam erat tangannya, ia pun memandangku lagi dengan senyum manisnya aku melihat kedua matanya seakan berkata, terima kasih.

Sesuatu mengalihkan pandanganku. Sepertinya sepasang kekasih, mereka baru saja memasang gembok mereka disalah satu sudut pagar. Mereka saling menunjuk diri untuk membuang kunci dari gembok yang mereka pasang, saking tidak bisa memutuskan mereka sampai harus bermain kertas gunting batu. Tanpa sadar aku tersenyum geli melihatnya.

“yookyung-ah,”

“hmmm?” jaebum oppa memandangku heran

“kamuu… ingin memasang gembok seperti mereka?”

“ne?...” rupanya jaebum oppa memperhatikanku yang memandangi pasangan itu sejak tadi “aniyaa.. tidak, aku hanya lucu saja melihatnya..”

“jinjja? Tadinya aku akan membelikan satu untuk kupasang bersamamu, bukankah orang bilang jika memasang gembok bersama disini cinta kita akan abadi?”

“ppfft” aku tertawa geli mendengar perkataannya itu.

“wae? Kenapa tertawa?”

“oppa percaya hal-hal seperti itu?”

“tidak juga.” Dia langsung menghindari tatapan mataku. Tak berapa lama, “benar kamu tidak ingin memasangnya bersamaku?” aku tidak menjawabnya dan hanya tertawa gemas melihat tingkahnya itu.

Kami duduk dibangku taman sekarang, ice cream di tangan kami sudah hampir kami habiskan.

“oppa, orang-orang mungkin akan menganggap kita aneh. Di cuaca dingin seperti ini kita malah makan ice cream.. haha”

“sepertinya begitu.. hahaha”.

“oppa..” aku memandang langit yang dihiasi beberapa bintang yang sinarnya tidak begitu terang.

“hmm” jaebum oppa juga melakukan hal yang sama.

“setelah lulus SMA nanti, apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku penasaran.

“aku? Tentu saja mengejar mimpiku untuk menjadi idol.” Aku melihat matanya yang berbinar dipenuhi semangat dan percaya diri. Aku tidak terkejut mendengarnya. Mungkin ia memang terlahir untuk itu. Setelah latihan bernyanyi dan dance yang ditekuninya bertahun-tahun, aku memang sungguh ingin melihatnya bersinar di atas panggung.

“aku ingin segera melihatnya, saat-saat oppa bernyanyi diatas panggung debut yang sebenarnya.”

“kalau begitu kamu harus terus bersamaku.” Ia mengacak rambutku dan kemudian merapikannya lagi.

“aku juga berharap punya mimpi besar sepertimu. Berjuang setiap hari untuk benar-benar mewujudkannya terjadi.”

“kamu harus memulainya dari sesuatu yang kamu sukai, dengan begitu sesulit apapun kamu akan tetap menikmatinya karena kamu menyukainya”

“tapi satu-satunya yang aku sukai hanya oppa.” Aku memiringkan kepalaku menatap langsung matanya, mencoba mencairkan suasana yang canggung dan terlalu serius ini.

“bukankah tadi kita sedang bicara seirus? Hahaha, aku tidak pernah bisa berhenti tertawa saat bersamamu.”

“kalau begitu oppa harus terus bersamaku… hahaha” angin malam mulai terasa dinginnya, jika saja salju turun sekarang mungkin akan lebih dingin lagi. Aku memeluk kedua lenganku sendiri, menggosoknya untuk mengurangi rasa dingin ini.

“tapi oppa, apa kau tahu? Dulu sahabatku pernah memberikan kado ulang tahun untukku. Sebuah poster besar bertuliskan selamat ulang tahun, dibawahnya ada beberapa kolom yang dibiarkan kosong… ada kolom harapan, cita-cita, 10 tahun lagi apa yang aku lakukan, apa yang aku inginkan..” jaebum oppa mulai menatapku serius, entah kenapa tapi senyuman di wajahnya itu begitu membuatku nyaman. “sudah hampir 5 tahun sejak aku menerimanya, tapi hingga sekarang aku masih belum tahu apa yang harus aku tulis dikolom-kolom kosong itu. Aku takut harus menghapusnya kembali jika apa yang kutulis nanti tidak terwujud.”

“kamu hanya harus menghapus dan menggantinya dengan harapanmu yang baru kan? Jangan terlalu keras memikirkan sesuatu, aku tahu itu lebih dari siapapun. Kamu bisa sakit.” Ia memberikan senyumannya lagi padaku yang mulai murung mencoba berfikir kembali.

“sudah malam, ayo pulang”

Malam sudah mulai menemani dinginnya salju yang turun. Aku merasa bersalah karena telah menciptakan suasana yang canggung tadi. Aku jadi tidak tahu harus mencairkannya dengan cara apa. Kami yang duduk berdampingan di barisan bus paling belakang hanya melamun memandang ke arah jalan disamping yang kita lewati. Jaebum oppa yang mulai bosan mengeluarkan sesuatu dari tas nya. MP4 dan earphone yang selalu digunakannya, ia menggunakan sebelah earphone ditelinganya dan satunya lagi ia pakaikan pada telinga kiriku. Aku yang tadi melamun tertegun melihatnya, lagu ini.. (se7en-when I cant sing).

Ia mengantarkanku pulang sampai ke depan rumahku. Padahal ia harus berjalan cukup lama ke rumahnya jika mengantarku seperti ini.

“padahal oppa tidak harus mengantarku ke rumah seperti ini, jika oppa turun di halte berikutnya kan tidak perlu berjalan la..”

“araseooo, masuklah.”ia memotong pembicaraanku yang memang sedang mengkhawatirkannya. “aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian kan”.

“masuklah dulu, aku akan membuatkan teh hangat untukmu.” Aku menarik tangannya agar ikut masuk ke rumah bersamaku.

“aniyaa, eomma dan yang lainnya pasti menungguku dirumah”

“ahh geurae?” araseoo, tunggu disini sebentar.”

Aku berlari masuk kedalam rumah dan mengambil sebuah kotak dari dalam kamarku.

“ini, hadiah untukmu.” Aku memberikan kotak dengan pita kecil diatasnya itu kepada oppa.

“mwoya? Kamu tidak perlu memberikan hadiah seperti ini padaku… apa ini?” ia mencoba membuka kotak yang sudah terbungkus dengan rapi itu sekarang.

“hajimaaa! Jangan buka hadiahnya disini, oppa harus membukanya dirumah ya, harus?!” aku memasukkan kotak itu ke dalam kantong agar oppa mudah untuk membawanya, “saengil chukae oppa,”aku mengucapkan kata itu dengan pupil mataku yang terus berkeliling kemana-mana. Aku berfikir untuk mengatakannya atau tidak bahwa aku.. “saranghae oppa.” Aku mengatakannya. Bahkan aku tak bisa menatap matanya langsung saat kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

***

“aku pulang..” Jaebum membuka sepatu dan menyimpannya di rak disamping pintu masuk. Ruangan didalam rumah sangat gelap, mereka pasti sengaja mematikannya, pikirnya. Jaebum berjalan menuju tombol lampu dengan tangan yang meraba tembok di samping tempat ia berdiri. Saat ia menyalakan lampu, Eomma keluar dari kamar sambil memegang kue lengkap dengan lilin-lilin kecil diatasnya Appa dan Jaehee nuna juga berdiri disana.

“saengil chukahandaaaa uri adeuulll” eomma jaebum menghampiri putra kesayangannya itu sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Jaebum tersenyum melihat kejutan yang diberikan padanya itu. Jaehee nuna meminta Jaebum untuk membuat permohonan dulu sebelum meniup lilinnya. Jaebum pun menutup matanya dan membuat keinginannya.

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK