SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > ABOUT LOVE

ABOUT LOVE

Share:
Author : AmaliaChimo
Published : 01 Dec 2016, Updated : 01 Dec 2016
Cast : Park Jiyeon and you can find a male character when you read this story ...
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |270 Views |0 Loves
ABOUT LOVE
CHAPTER 1 : Ah-Choo

with…

Kim Jongin and Oh Sehun

Rommance, School life

Inspired by The Song of Lovelyz-Ah Choo

“When I see you, I feel like sneezing
When I see you, there’s so much I want to tell you
My lips are so ticklish that it’s hard to keep it in
Ah-Choo”

You can see all of lyric that had translated at popgasa

.

.

.

“…selamat datang dan mari kita berjuang bersama demi kemajuan SMA Sevit.”

Nde.”teriak Jiyeon tanpa kontrol. Beberapa orang yang berbaris di dekatnya, melirik dengan tampang terkejut bercampur jijik, sementara senyum terus mengembang di wajahnya. Ah-choo.

“Semangat.”Tangan sang pusat perhatian terangkat tinggi-tinggi dan secara kompak diikuti oleh seluruh siswa yang berbaris menghadapnya.

“Semangat.”Suara para siswa mengikuti.

“Jongin Oppa benar-benar tampan dan berkharisma.”

“Aku menyukainya.”

“Aku menyukainya.”

“Aku juga.”

“Tampan sekali.”

Dari sekian komentar kagum yang keluar dari bibir-bibir merah para siswa perempuan. Pernyataan Jiyeon yang berhasil mencuri perhatian.

“Aku pasti bisa menjadi kekasihnya.”

Gadis berambut sebahu itu, mengatakannya dengan penuh percaya diri, keyakinan yang kukuh serta tekat yang kuat. Jieun yang berbaris di samping Jiyeon menepuk keningnya sendiri, sementara beberapa orang melirik sahabatnya itu dengan sinis dan meremehkan.

“Aku yakin Jongin Oppa juga akan jatuh cinta padaku.”

Ah-choo. Jiyeon bersin lagi. Tepuk tangan kompak mengiringi pudarnya senyuman Jongin dan turunnya ia dari atas podium. Ah-choo. Hidung Jiyeon benar-benar gatal. Sehun tersenyum melihat tingkah Jiyeon yang menggaruk hidungnya sendiri dan tidak berhenti-berhentinya bersin itu. Sehingga hanya Jiyeon dan Sehun yang tidak ikut meramaikan tepuk tangan. Bahkan Sehun sejak awal memang tidak peduli dengan sang siswa teladan yang tampan itu. Semangat dan senyuma penuh keyakinan Jiyeon telah berhasil mencuri perhatiannya. Ah-choo. Upacara penyambutan siswa baru pun berakhir.

><><><><

“Jiyeon-aa sadarlah!”

“Apa maksudmu, Jieun-aa?”

Jiyeon menghentikan gerakakan tangannya dari atas kertas merah muda yang dihiasi dengan banyak gambar hati. Matanya beralih menatap Jieun.

“Ibaratnya, Jongin-ssi itu pangeran sementara kita rakyat jelatanya. Seorang pangeran hanya bisa menikah dengan putri yang cantik jelita. Aku bukan melarangmu untuk menyukai pangeran, tapi percaya diri itu ada batasnya. Aku hanya tidak mau kau terluka nantinya.”

“Cinta dapat menembus ruang dan waktu, bahkan Do-Minjoon yang seorang aline saja bisa mendapatkan cinta Chun-Songyi di bumi. Apa salahnya pangeran dengan rakyat jelata. Kau lupa cerita anatara Pangeran Charles dan Lady Diana?”

“Lalu apa kisah mereka berakhir bahagia?”

Ani, tapi aku yakin cintaku akan berhasil.”ucap Jiyeon penuh keyakinan,”Mungkin kebanyakan cinta pertama tidak akan berhasil, tapi aku masih punya kemungkinan kecilnya.”lalu kembali melanjutkan kegiatan menulisnya yang sempat tertunda.

“Kau tahu Im-Yoonah?”

“Hm, dia penyanyi kembanggaan Korea sekaligus Sunbae kita yang sudah lulus.”

“Dia juga mantan kekasih Jongin-ssi, kau tidak dengar kabar kalau mereka sebenarnya masih saling mencintai?”

“Aku tidak peduli, akan aku perjuangkan cintaku.”

Jiyeon menegakkan duduknya penuh semangat. Berkobar seperti api abadi. Suara berisiknya itu, membangunkan Sehun yang tertidur dengan posisi tertelungkup di atas meja. Ia menatap ekspresi penuh percaya diri Jiyeon dari samping. Ah-choo.

Seseorang yang melintasi pintu kelas X.1, menimbulkan hasrat bersin Jiyeon. Gadis itu berlari kecil meninggalkan tempat duduknya. Pergi keluar kelas demi menyusul sang pangeran yang baru saja lewat.

Jongin tersenyum ramah, membalas sapaan setiap siswa perempuan yang menyapanya penuh harap.

Annyeong, Sunbaenim.”

Teriakan Jiyeon tidak hanya membuat Jongin berhenti dan menoleh, tetapi juga seluruh siswa yang berada di lorong kelas sepuluh. Jongin terdiam sejenak melihat senyuman ceria Jiyeon, sebelum akhirnya tersenyum juga.

Deg. Ah-choo. Kembang api meletus dari jantung sampai ke hidung Jiyeon lagi. Sehun tertawa menyaksikan itu dari tempatnya berdiri di belakang Jiyeon.

><><><><

Matematika membuat pagi seakan terasa mencekam. Memikirkan tetang hasil dari pecahan yang dipersatukan seperti berada di dalam labirin tanpa ujung. Membaca komik lebih baik, untuk membuka pagi yang cerah buat Jiyeon, sementara Jieun di sebelahnya berusaha mencerna dengan kepala pening. Jieun memang anak yang rajin, meski terbilang tidak pintar tetapi ia lebih baik dari Jiyeon.

Bu Kim masih setia menerangkan dengan sungguh-sungguh. Wanita itu tampak berdedikasih tinggi kepada siswa-siswa barunya. Sayangnya wanita itu gampang tertipu oleh siswa sejenis Jiyeon dan Sehun yang memiliki aktivitas sendiri di balik buku paket matematika. Sampai dari sekian banyak nama yang tertera di daftar hadir, Bu Kim memilih nama ‘Oh Sehun’.

“Oh-Sehun.”kata Bu Kim untuk yang kedua kalinya. Terus berkali-kali. Masih tidak ada reaksi, bahkan jawaban.

Pemuda yang terlelap di atas meja itu tidak juga bergeming, meski Chunji—teman sebangkunya— sudah menendang kakinya berkali-kali. Bu Kim akhinya menyadari sesuatu yang tidak disadarinya sejak awal. Wajahnya berangsur tegang, rahangnya pun sudah mengeras. Ia berjalan angun mendekati Sehun. BRUK. Satu pukulan yang tepat menyambar meja Sehun membuat seketika pemuda itu terduduk dengan mengejap-ngejapkan matanya dan menjatuhkan juga komik Jiyeon. Barisan Sehun dan Jiyeon memang bersebelahan, sehingga efek suara pukulan itu pun mampu mengejutkan gadis yang tersesat di alam komiknya itu.

Bukan hanya memergoki Sehun yang tertidur, Bu Kim juga menemukan komik Jiyeon yang terjatuh mengenai high heels-nya. Istilahnya, ‘sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui’. Komik disita. Jiyeon dan Sehun pun dihukum berjalan jongkok sepanjang lorong dengan panduan siswa teladan kesayangan para guru—Kim Jongin. Entah ini bisa disebut kesialan atau keberuntungan. Anehnya Jiyeon bahagia mendapatkan hukuman itu. Ah-Choo. Kembang api meletup-letup dihatinya dan bersin pun menyambar.

Jongin datang menghadap Bu Kim bertepatan dengan tercetusnya hukuman itu. Bu Jung yang merupakan guru matematika kelas duabelas sedang sakit. Kedekatan kedua guru matematika itu, membuat Jongin berinisiatif menitipkan tugasnya pada Bu Kim. Maklum Jongin sudah menyelesaikan tugas sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Sebab itulah, membuatnya terlibat dalam hukuman dari Bu Kim.

Ponsel pintar pada tangan kanan Jongin menampilkan angka yang berubah sesuai periodik, pemuda itu berdiri di ujung lorong. Sehun dan Jiyeon berjalan jongkok dari ujung lorong yang lainnya, menuju Jongin. Begitu seterusnya sampai batas waktu yang telah ditentukan oleh Bu Kim. Semangat berkobar ke seluruh jiwa raga Jiyeon meski beberapa kali bersin mengusik semangat gadis itu, sementara Sehun terus menertawainya dari samping. Ah-choo.

“Fokuslah! Jangan lengah hanya karena orang itu!”Kata Sehun berniat mengingatkan, yang lebih terdengar seperti ejekan di telinga Jiyeon.

“Apa kau bilang? Orang itu?”Dan akhirnya Jiyeon bener-benar terjatuh dengan posisi tersungkur ke depan.

“Lalu dia siapa? Alien?”Jiyeon melirik ke depan, yang disambut dengan juluran lidah Sehun.

“Diam kau!”Serang Jiyeon dengan memberi tanda ‘mati kau’ dengan tangannya.

“Kejar aku kalau kau bisa!”Teriak Sehun. Meremehkan. Jiyeon pun mengejar Sehun penuh perjuangan. Jongin hanya memperhatikan dengan sesekali tersenyum tipis. Entah apa penyebab dari senyum itu.

><><><><

Langit hitam yang ramai. Jiyeon tersenyum memandang ribuan cahaya bintang yang seolah-olah tengah menyemangatinya. Musim semi merupakan musim cinta. Layaknya bunga-bunga yang berhasil tumbuh, begitupula Jiyeon mengharapkan cintanya mekar di hati pujaannya. Semoga besok memang waktu yang tepat seperti harapannya. Jiyeon sudah tak sanggup lagi menahan semua perasaan yang ditulisnya setiap malam atau setiap waktu senggang. Semua tertuang di atas kertas merah muda ini. Jiyeon mengangkat selembar kertas di tangan kanannya ke hadapan wajahnya. Senyum Jongin seolah membayang di dalam kertas. Ah-choo.

Surat pertama untuk cinta pertama

“Semangat Park Jiyeon.”Teriak Jiyeon ke angkasa dari atas balkon kamarnya, yang berikutnya memunculkan protes dari sang ibu.

“PARK JIYEON TIDURLAH!!!”

><><><><

Amplop merah muda dikeluarkan oleh tangan mungil Jiyeon dari tas yang warnanya juga tidak kalah merah mudanya dengan amplop itu. Jiyeon memandangi amplop yang telah dipersiapkannya sejak tadi malam dengan penuh harap, sedangkan Jieun memperhatikannya dengan penuh kekhawatiran. Secara reflek kepala Jieun menggeleng prihatin ketika dilihatnya senyuman terukir dari wajah polos sahabatnya yang penuh semangat itu.

“Apa kau sudah gila?”

“Aku sangat waras, bahkan terlampau waras.”Senyum itu kini dihadapkan pada Jieun. Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Jieun sedang menikmati bekalnya sejak saat itu.

“Tapi surat itu, kau serius akan memberikannya pada Jongin-ssi?”

“Tentu saja, aku sudah tidak sanggup lagi menahan perasaanku Jieun-aa.”Jiyeon tertawa kecil sambil mendekap surat itu di dadanya dengan tidak lupa memejamkan mata untuk sesaat membayangkan pujaan hatinya. Tingkah itu membuat Sehun tertawa tanpa suara dari tempat duduknya.

Omo? Kau ini keras kepala sekali. Terserahlah, aku tidak akan peduli lagi.”Jieun mulai menyerah, meski sesungguhnya ia tidak benar-benar menyerah. Karena bagaimanapun Jieun sangat memperdulikan Jiyeon. Sementara yang diperdulikan tetap menjalankan aksinya, Jieun kembali menyantap bekalnya. Diam-diam Sehun membuntuti Jiyeon.

><><><><

Jongin tampak baru keluar dari kelasnya. Membawa banyak tumpukan buku bersama seorang teman, yang diketahui bernama Chanyeol. Dari balik sekat tembok Jiyeon bersembunyi memperhatikan langkah mereka yang semangkin mendekat. Ah-choo. Lagi-lagi ia bersin. Kegugupan itu membuatnya tak bisa bersembunyi dan berdiri dengan aman. Jiyeon menutup hidung dan mulutnya sesegera mungkin.

Tiba saatnya langkah Jongin dan Chanyeol melewati sekat tembok itu. Jiyeon berusaha tenang dan menyembunyikan dirinya. Tapi ia bersin lagi. Ah-choo. Untunglah bekapan kedua tangannya mampu membantu mengurangi efek suara yang timbul. Sehingga suara bersin itu hanya seperti decitan yang tak perlu dihiraukan. Gadis itu pun keluar dari persembunyiannya dan mulai mengikuti langkah kedua pemuda yang baru melewatinya tadi. Masih dengan bersin sesekali.

Ruang Perpustakaan. Jongin dan Chanyeol mengembalikan tumpukan buku yang mereka bawa pada petugas perpustakaan, setelahnya mereka keluar. Dengan sigap Jiyeon yang menunggu di luar mengikuti mereka lagi. Ah-choo.

“Apa kau ada kegiatan setelah ini?”Chanyeol merangkul bahu Jongin.

Jongin menggeleng,”Hmm, ani.”

“Akhirnya kau bisa berkumpul juga dengan kami, sudah lama sekali bukan.”Senyum menghiasi wajah Jongin mendengar punuturan dari Chanyeol itu.”Sejak kau menjadi anak kesayangannya guru-guru, kau tidak pernah lagi punya waktu untuk kami.”

“Apa kalian merindukanku?”

“Tentu saja.”

“Aku sunggu tersentuh.”Jongin mengacak rambut Chanyeol yang beberapa senti lebih tinggi darinya.

Yaa.”Selanjutnya mereka tertawa bersama dan berjalan menuju kantin.

Di belakang Jiyeon berdecah sekaligus mengupat, sebab kalau Jongin tidak sendiri ia tidak bisa memberikan surat cintanya ini. Ah-choo. Sehun tertawa geli mendengar segala upatan dan bersin Jiyeon, sambil sesekali berusaha mengintip ekspresi gadis itu. Jiyeon tampak begitu bodoh dan tidak tahu malu. Begitu banyak siswa yang hirup-pikuk di sekitar mereka, sama sekali tidak dipedulikannya. Sehun menggeleng, meski dalam hati ia menikmati itu semua.

“Jadi begini rasanya menjadi pusat perhatian para gadis.”Sapaan para siswa perempuan mengiringi langkah Jongin dan Chanyeol.

“Jangan berlebihan, kau juga sudah terbiasa menghadapinya setiap bertanding basket.”

“Tetap saja kau selalu menjadi nomor satu di lapangan sekalipun.”

Yaa, bicara apa kau ini?”Jongin menepuk kepala Chanyeol.

“Jongin! Chanyeol! Di sini!”Baekhyun, itu nama pemuda yang berteriak dari seberang sana. Suasana kantin sudah tampak sangat ramai dari posisi Jiyeon saat ini. Gadis itu mendengus, sedangkan yang diteriaki menyambut dengan ceria. Kedua pemuda itu mempercepat langkah mereka menuju meja yang telah dijaga Baekhyun bersama ketiga pemuda lainnya.

Meja tempat Jongin duduk bersama teman-temannya kini, terletak di tengah ruang kantin. Dari situasi dan kondisi yang terlihat, Jongin sepertinya akan lama bersama teman-temannya. Terpaksa Jiyeon membuat alibi dengan membeli jus lalu mengambil tepat di sekitar  mereka, begitupun Sehun.

Yaa, Oh Sehun katanya kau malas ke kantin, tapi kenapa kau malah duduk di sini sekarang.”Hakyeon yang baru selesai mengantri makanan bersama Chunji, menghampiri Sehun. Tampak wajah resah Sehun menyambut kedatangan mereka. Bagaimana tidak kedua manusia itu menyapa Sehun di hadapan meja Jiyeon yang baru saja mereka lewati. Bersyukur Jiyeon tak mencurigai apapun, lebih tepatnya gadis itu tak peduli hal lain, selain Jongin.

“Mana makananmu? Kenapa hanya memesan jus saja?”Tanya Chunji yang langsung mengambil tempat di hadapan Sehun. Benar-benar mencari ribut, batin Sehun sambil menahan diri untuk tidak kesal karena Chunji sukses menghalangi pandangannya pada Jiyeon

“Apa mau kupesankan?”Hakyeon menawarkan kebaikan, setelah menaruh nampan berisi makanannya dan Chunji di meja.

“Terserah kalian saja.”Ucap Sehun malas, yang diartikan persetujuan oleh Hakyeon.

Tampang Sehun sudah seperti anjing galak sekarang, tapi Chunji yang memang tidak peka dengan segala keadaan tetap saja mengajaknya bicara, padahal tidak digubris sekalipun. Tak lama Jongin terlihat meninggalkan teman-temannya, Jiyeon pun beranjak mengikuti pemuda itu. Sudah pasti Sehun berdiri dan beranjak dari tempatnya juga, tepat ketika Hakyeon sudah membawa makanan untuknya.

Yaa, kau mau pergi kemana?”Teriak Hakyeon yang merasa sangat dirugikan berkat kepergian Sehun. Sayangnya pusat kerugian itu, hanya memberikan lambaian tangan tanpa berbalik atau pun menoleh.

“Apa sebenarnya yang sedang dia lakukan.”Chunji bertanya entah pada siapa. Hakyeon  mengedikan bahunya, lalu duduk di sebelah Chunji.

“Lalu makanan ini untuk siapa?”

“Untuk kita saja.”Chunji menyenggol lengan Hakyeon sambil menyengir girang.”Makan besar.”Cengiran Hakyeon pun datang berikutnya. Akan tetapi, cengiran Hakyeon lebih ke membatin, karena kalau sudah begini siapa yang akan mengganti uang jajannya–yang lenyap berkat semua makanan ini.

><><><><

Ah-choo. Jiyeon melihat Jongin masuk ke dalam ruang guru. Kali ini apa lagi yang Jongin kerjakan, pikir Jiyeon. Dari balik tembok Jiyeon menunggu Jongin keluar. Sudah dua puluh menit berlalu, tetapi Jongin tidak juga keluar. Setelah melihat waktu dari jam tangannya, Jiyeon keluar dari persembunyian. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi tetapi Jiyeon belum juga berhasil menemukan waktu yang tepat untuk memberikan surat cintanya. Sekilas Jiyeon melirik pintu ruang guru yang belum juga terbuka, namun berpaling lagi. Jiyeon tampak sudah mulai pasrah. BRUK. Seseorang menubruk Jiyeon dari belakang. Jiyeon berbalik, ia menemukan Jongin di sana.

Belum sempat Jiyeon mengekspresikan rasa terkejutnya, hidungnya malah sudah lebih dulu bereaksi. Ah-choo. Tepat pada waktu itu, sesuatu jatuh dari balik blazernya Jiyeon. Bersin Jiyeon bertubi-tubi menyerang Jongin. Tampang Jongin mulai kusut, sekusut pakaian yang belum diseterika. Sehun akhirnya muncul dari persembunyiannya.

“Maafkan temanku Sunbaenim, dia bukan bermaksud tidak sopat, apalagi sengaja mengotori seragammu—”Bersin Jiyeon berhenti, tepat ketika tangan Sehun merangkul bahu mungilnya.”—hidungnya memang sensitif.”Ketika itu mata Jiyeon terbuka, ia tidak lagi menghiraukan Jongin, ia malah fokus pada Sehun. Padahal Jongin tampak kerepotan membersihkan seragamnya dengan saputangan miliknya, seolah bersin Jiyeon sangat mengotorinya.”Hm, sebagai permohonan maaf, kita bisa bertukar jas sunbaenim.”

Sehun melepaskan jas sekolah miliknya dan menyodorkannya pada Jongin.”Gwaenchana, lagi pula ini hanya kecelakaan. Aku sudah memaafkannya sejak tadi, tapi lain kali berhati-hatilah, jaga temanmu baik-baik.”

“Tentu saja, dengan senang hati aku akan selalu menjaganya, kalau begitu kami permisi sunbaenim.”Sehun kembali merangkul bahu Jiyeon, lalu menariknya pergi dengan sebelah tangan membawa jas yang disangkutkannya ke bahu.”Kajja!”Jiyeon hanya mengikutinya, tanpa berkata apapun. Tidak ada bersin lagi.

Jongin yang kembali sibuk membersihkan seragamnya berdecah,”Aish.”setelah dirasanya cukup, ia kembali memasukan sapu tangan miliknya itu kedalam saku celananya. Tepat ketika itu, matanya menangkap sesuatu yang menarik di lantai. Karena penasaran Jongin mengambil amplop merah muda yang tergeletak disamping sepatunya itu.

“Untuk Jongin Oppa..?” Jongin membaca tulisan yang tertera di ampop itu dengan nada bertanya sambil mengerutkan keningnya. Berpikir dan mulai menduga-duga.

><><><><

Suara membosankan Pak Jung memenuhi ruang kelas. Guru Bahasa Korea yang hampir mencapai umur pensiun ini, tengah membaca karya sastra pada zaman kerajaan. Para siswa mendengarkan sambil membaca pula dengan nada suara yang sama. Pak Jung yang terlampau fokus terhadap bacaannya, tidak menyadari banyak dari siswanya malah memiliki kegiatan sendiri. Sampai terdengar suara ketukan dari luar, Pak Jung tetap menjalankan kegiatannya. Sehingga seseorang masuk tanpa sambutan darinya.

Kedatangan Jongin, menuai banyak perhatian, terutama bagi para siswa perempuan. Berkat itu, Pak Jung berbalik dan akhirnya menyadari kehadiran Jongin yang tengah tersenyum. Berbeda dengan para siswa perempuan lain yang terkagum-kagum dengan senyuman Jongin, Jieun malah berpaling—melihat Jiyeon. Memang ada yang salah dengan sahabatnya itu, bahkan kehadiran Jongin tak membuatnya terbangun. Jiyeon tetap setia dengan posisi tidurnya di atas meja. Apa dia tidak menyadari kehadiran Jongin, karena kelelahan berolahraga tadi pagi. Jiyeon memang paling menyukai mata pelajaran olahraga, sehingga ia sengaja menghabiskan tenaganya untuk mata pelajaran itu. Akan tetapi, Jongin seperti batrai buat Jiyeon, apapun kondisinya, sahabatnya itu akan selalu on jika ada pemuda itu.

Setelah hari pemberian surat cinta, Jiyeon memang banyak berubah. Bila biasanya dia akan sangat antusias dan bersemangat terhadap sosok Jongin. Akhir-akhir ini, Jiyeon tampak biasa saja, meski ia akan tetap bersin-bersin jika melihat pemuda itu. Sebenarnya apa yang terjadi pada sahabatnya hari itu? Sudah dua minggu berlalu. Jiyeon tidak pernah membahas apalagi menceritakan apapun tentang Jongin lagi. Kalau sudah begitu, Jieun sendiri tidak berani bertanya. Meski ia sangat khawatir.

Apa Jongin menolak Jiyeon mentah-mentah? Surat cintanya dirobek? Lalu dibuang ke tong sampah? Tapi, kalau diliat lagi Jongin tidak mungkin setega itu. Pikir Jieun yang kini kembali melihat senyuman Jongin. Pemuda itu sepertinya tidak juga lelah menebar pesonananya terus-menerus. Jieun melihat ketulusan dibalik pesona itu. Kini Jongin sudah selesai berbicara dengan Pak Jung. Sebelum meninggalkan kelas dan benar-benar menghilang dari balik pintu, Jongin sempat menoleh ke arah Jieun yang  masih memperhatikannya. Pandangan yang seolah bertemu itu, membuat Jieun terkejut dan langsung menundukan kepalanya karena malu.

Sementara itu, dari balik tangan yang melingkar, Jiyeon sebenarnya tidak tertidur. Sepasang matanya tengah sibuk mengintip Sehun, sehingga ia tidak menyadari apapun yang terjadi di sekitarnya, termasuk kehadiran Jongin. Gadis itu, berkali-kali menggeleng sambil mengerutkan wajahnya, akibat melihat cara tidur Sehun yang menjijikkan. Mungkin wajahnya memang bagai malaikat, tapi mulut yang terbuka dengan liru yang tidak juga berhenti mengalir, telah menghancurkan segalanya. Belum lagi, komik dewasa yang ikut terbaring di atas kepalanya. Jiyeon sudah dapat menebak hal buruk apa yang membuat pemuda itu tidak juga terbangun dari tdiurnya.

><><><><

Musim panas telah datang, hanya tinggal menghitung hari sampai liburan musim panas dimulai. Air mancur di tengah taman sekolah mengalir indah dengan pantulan sinar matahari pagi yang hangat. Terdapat empat tingkatan tangga yang memanjang, mengelilingi air mancur. Selain sebagai tempat berlalu-lalang, tangga itu biasa difungsikan pula untuk tempat duduk bagi sebagian siswa. Dengan memangku drawing book, Jiyeon duduk di salah satu tingkatan tangga itu. Sinar matahari yang hangat tak sama sekali menggangu aktivitas tangannya di atas drawing book. Jiyeon tampak sangat fokus, sementara banyak siswa bersenda-gurau di sekitarnya.

Waktu yang tak berjalan statis membuatnya lelah. Angin hangat yang berhembus berusaha menerbangkan jiwanya ke alam mimpi. Seseorang dari jauh menertawai ekspresinya yang tengah menolak rasa kantuk itu. Jiyeon tak pernah menyangka segala tingkahnya mulai mencuri perhatian sepasang mata Jongin di seberang sana.

Berawal dari surat yang membuat Jongin tertawa setiap malam. Membuat Jongin mengingat kembali segalanya. Segala hal yang berkaitan dengan Jiyeon. Suara nyaringnya yang mengejutkan. Bersin-bersinnya yang menggangu. Semangatnya yang membara. Mendadak setiap detail ekspresi gadis itu mengusik perhatian Jongin. Kaki Jongin pun melangkah mantap dengan tangan kanannya yang memegang surat cinta dari Jiyeon.

Surat pertama untuk cinta pertama

            Annyeong Oppa,

Pertama kali aku melihat Oppa, saat itulah panah Cupid berhasil menusuk jantungku. Hatiku mulai tidak tenang sejak saat itu, karena setiap melihatmu, banyak hal yang ingin aku katakan, aku lakukan, aku harapkan, tapi hanya satu yang aku inginkan. Aku jadi menemukan orang lain yang selalu kupikirkan dan kurindukan, selain orang tuaku. Aku jadi menemukan alasan untuk rajin datang ke sekolah, selain dari amukan ibuku. Aku jadi menemukan kebahagiaan lain pula di sekolah, selain olahraga dan sahabatku Jieun. Aku jadi punya mimpi baru selain dari menjadi orang sukses dan membahagiakan keluargaku,

yaitu…Oppa.

Namun seseorang telah mendahuluinya, tepat ketika Jiyeon sudah tidak sanggup lagi menolak ajakan angin. Pemuda yang mendapat hukuman bersama Jiyeon. Pemuda yang membela Jiyeon di hadapannya. Seseorang yang dari awal mengikuti Jiyeon. Berdiri di belakang Jiyeon. Melindungi Jiyeon dari sinar matahari yang akan menggangu aktivitas menggambarnya. Sehun mengambil tempat di sisi kanan Jiyeon. Membiarkan kepala Jiyeon jatuh di atas bahunya yang kokoh.

Aku banyak belajar untuk hal itu, belajar bangun lebih pagi dari biasanya, belajar menyiapkan keperluan sendiri, belajar memasak, dan belajar…ini yang paling sulit Oppa… belajar untuk menjadi lebih pintar dari orang lain, karena jujur aku siswa paling bodoh di kelas, tapi tenang saja aku tidak sebodoh Nobita, meski kami sama-sama senang membaca komik.

Jongin tertegun melihat pemandangan itu, tidak ada lagi yang bergerak dari dirinya, sementara bel masuk berbunyi, siswa-siswa lain mulai berlari meninggalkan taman, masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Tiga anak manusia itu, tetap betah pada posisi mereka yang statis. Sehun mengelus kepala Jiyeon sambil melirik gambar pada drawing book. Ada karakter seorang lelaki idaman di sana.

Aku harap, aku bisa memberikan segala alat yang kau butuhkan seperti Doraemon kepada Nobita. Aku harap, aku dapat memberikan senyuman dan pelukan setiap waktu seperti Teletubbies. Aku harap, aku ninja dari Konoha yang mampu  melindungimu dari segala macam bahaya yang mengancam. Sayangnya aku hanya gadis biasa, tidak hebat, apalagi membanggakan, tetapi ayah dan ibu bilang aku anak mereka yang paling cantik, Jieun bilang aku sahabatnya yang paling baik, dan yang terpenting aku sangat bersemangat ketika melihatmu. Sepertinya serbuk sari mengembang di hatiku. Oppa membuatku bersin lagi, dan lagi. Tapi, aku bahagia. Karena…

Kau tak tahu hatiku, kan? Park Jiyeon. Sehun membaca dalam hati tulisan singkat yang berada di sana.

…aku menyukaimu Oppa…sangat suka.

Kau tak tahu hatiku, kan?

Tertanda Park Jiyeon, kelas X.I.

“Kau juga tak tahu hatiku.”Ucap Sehun lirih. Sama persis dengan apa yang Jongin katakan di dalam hatinya.

><>The End<><

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK