SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > ONESHOT | Remember Me

ONESHOT | Remember Me

Share:
Author : yukeudwiyoga
Published : 25 Nov 2016, Updated : 25 Nov 2016
Cast : Jaebum Got7
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |312 Views |0 Loves
ONESHOT | Remember me
CHAPTER 1 : A Way To You

KYK POV

Aku memasukkan seluruh barang di meja ke dalam kotak, meneliti ke sekitarnya agar tidak ada satu pun yang tertinggal. Aku benci jika harus kembali kesini lagi.

“clap, clap, clap..” suara tepukan tangan itu memecah lamunanku. “finally, dokter kim kita yang berbakat ini pergi juga dari sini..” ujarnya sambil berjalan mendekatiku dengan tatapan sinisnya. “aku bisa bernafas lega menikmati ruangan ini sendirian…” aku meneruskan merapikan barangku yang belum selesai tanpa menjawab omong kosongnya itu.

“oo, vas bunga itu jangan dibawa, itu milikku..” dia menunjuk vas bunga merah ditengah meja kerja kami yang dibatasi dinding pendek. Aku hanya memandangnya dingin dengan ujung mataku. ‘Terserah, siapa juga yang butuh bunga palsu itu’ ujarku dalam hati.

Aku langsung berjalan pergi meninggalkannya sampai dia menghalangi jalanku disana.

“bisa minggir?”

“kau! Bukankah seharusnya kau memberi salam atau ucapan terakhir padaku?”

“kau! Bukankah kau yang membuatku pergi dari sini? Begitu inginkah kau kuberi ucapan terakhir?” aku mendorongnya pelan dengan kotak barang di tanganku.

“ah! Iya juga ya, aku lupa tentang itu, hahahaha” tawa menjengkelkan itu. Jika ada jarum dan benang disini sudah ku jahit mulutnya.

***

Dan disinilah aku sekarang, ada apa dengan kehidupanku akhir-akhir ini. Semuanya memburuk semakin aku pikirkan lagi. Teman yang selama ini ku percayai hanyalah musuh di dalam selimut. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Lebih dari kecewa, marah, dan benci. Aku pikir kita bisa saling membantu dalam hal itu. Kalau bukan karena rumah sakit ini milik keluarganya, aku pasti berhasil dalam presentasi kemarin. Jelas sekali bagaimana dia menjatuhkanku didepan professor kemarin. Lee Hye Ra. Aku tidak akan pernah memaafkanmu.

Aku dipindahkan ke rumah sakit cabang baru di kota kecil ini. Lebih mirip desa karena disekitarnya tidak kulihat gedung sama sekali. Hanya sawah dan kebun yang membentang sepanjang jalanku kemari. Aku menghentikan mobil dibawah teduhnya pohon besar di samping bangunan rumah sakit. Sambil membawa barang-barangku dalam kotak aku memasuki koridornya. Hanya ada beberapa orang duduk disana menunggu nomor antrian untuk mendaftar.

Kemudian seseorang menghampiriku, dari pakaiannya kurasa dia petugas keamanan.

“Annyeonghaseyoo.. ada yang bisa saya bantu?”

“ohh, iya. Saya dokter baru dari seoul yang dikirimkan kesini.”

“ah, dokter kim yoo kyung. Benar kan?”

“ne..” aku menjawabnya pelan sambil tersenyum ramah. “ruangan dokter kang disebelah mana ya?”

“mari saya tunjukkan ruangannya…”

***

Satu-satunya hal yang membuatku tersenyum, tidak ada satupun yang berubah disini. Aku pernah tinggal di kota ini dulu sekali. Rumah ini masih sejuk dengan rumput hijau dan bunga di halaman depannya. Rumah pohon yang selalu kunaiki juga masih di tempatnya. Meskipun hanya ada 2 orang penjaga disini, mereka merawatnya dengan baik.

“ahjumma!” aku baru akan mengetuk pintu rumah

“yoo kyung Agassi?”

“ne… sudah lama sekali ya bi…” aku memeluknya erat. Ahjumma sudah seperti ibu bagiku. Dia yang merawatku saat kecil dulu, tapi sejak keluargaku pindah ke seoul aku jarang sekali berkunjung ke rumah ini.

“waaahh lihat siapa yang datang ini,” suara dari belakangku itu membuatku berbalik.

“ahjussiiiii…..”

“ahjumma, bukankah seharusnya kita memanggil Agassi dokter kim sekarang?”

“ah, ne…” kami pun tertawa bersama. “mari masuk dokter kim..”

“ahjussi! Jangan memanggilku seperti itu..” kataku sambil menepuk pundaknya pelan.

                Kamar ini pun masih sama, ahjumma tidak merubah letaknya sedikit pun. Jendelanya terbuka, bisa kurasakan hembusan angin sejuk disana. Aku berjalan mendekati jendela seekor kupu-kupu biru melintasi pandanganku, ia terbang lebih tinggi, tinggi lagi, dan lagi sampai sinar matahari menyilaukan mataku yang memperhatikannya tadi. Aku menutup mata.

                Saat aku membukanya kembali. Dimana ini? Bukankah tadi aku berada di kamar. Kenapa sekarang aku berdiri disini? di tengah rumput ilalang yang tingginya setara denganku. Aku tertegun sesaat, rasanya aku pernah ke tempat ini. Aku pun berjalan melewati rumput disekitarku perlahan. Tidak ada seorang pun disana. Tiba-tiba ada suara anak kecil menangis. Aku mencari sumber suaranya dan kudapati ia terduduk di jalan setapak, ada luka goresan di lengannya.

“gwaenchana?”  kataku mendekatinya dan sambil mengusap halus rambut hitamnya.

“sakiiiitt” ia memegang siku lengannya yang terluka, bisa kulihat tangan dan kakinya sudah dipenuhi plester yang warnanya mulai pudar.

“kenapa lenganmu bisa terluka? Apa kamu terjatuh?” anak itu tidak menjawab, dia hanya diam dan menangis melihatku. “tidak apa-apa.. biar aku obati ya?” tangisannya mulai mereda.

“apa nuna bisa mengobati lukaku?”

“tentu saja” jawabku sambil tersenyum

“apakah nuna seorang dokter?”

“ohh kamu pintar sekali! Bagaimana kamu tahu aku seorang dokter?” aku mengusap kembali rambutnya, ia mulai tersenyum kecil.

“wah aku menebaknya dengan tepat? Aku bisa tahu karna nuna menggunakan kacamata” aku tersenyum mendengar jawaban lugu itu.

“kacamata? Apa menurutmu semua dokter menggunakan kacamata?”

“ya, ayahku juga begitu” jawabnya dengan penuh rasa bangga.

“oh ayahmu seorang dokter? Kalau begitu ayo kita temui dia dan obati lukamu…” dia tidak menjawab lagi, wajah riangnya kembali murung.

“tidak bisa…”

“kenapa?...”wajahnya tertunduk, kurasa dia akan menangis lagi.

“ohhh baiklah.. baiklah.. nuna yang akan mengobatimu…” aku melihat kembali ke sekelilingku, “apa kamu tahu dimana mini market di sekitar sini?”

“mini market? Apa itu?” anak itu terlihat kebingungan mendengarku. Apa disini tidak ada minimarket? Aku pikir aku melihat beberapa saat di sekitar rumahku. Tapi tunggu aku sendiri saja tidak tahu ini ada dimana, pikirku dalam hati.

“hhmmm, sebuah toko yang menjual berbagai macam barang  apa ada tempat seperti itu disini?”

“ahh toko? Aku selalu membeli permen di toko! Ada satu di ujung jalan sana..”

“geurae? Kalau begitu kita bisa pergi kesana? Kajja..” aku membantu anak itu berdiri “apa kamu bisa berjalan?” dia menganggukan kepalanya.

                Kami berjalan menuju toko tua diujung jalan setapak itu. Bangunannya yang rendah, membuatku harus menundukkan kepala sedikit ketika masuk. Ketika aku memasuki toko itu, seorang nenek tua sedang duduk di belakang meja kasir sambil tersenyum ke arahku.

“selamat datang..”

“ahh ne, halmeoni.. apa disini menjual plester dan cairan antiseptik?” aku mengamati seisi toko itu, nenek itu menjual barang-barang dan makanan dengan merk yang baru kulihat. Sepertinya ia hanya menjual barang-barang antik disini, pikirku.

“ahh, yeogiyo. Ini plester dan apa tadi?”

“cairan antiseptik, halmeoni. Cairan merah untuk mengobati luka? Apakah ada?”

“ohh ye ye, ini dia?” aku melihat plester dan cairan antiseptic yang diberikannya, merk dan expired datenya… “20 september 2004?.. halmeoni.. bukankah ini sudah lewat tanggal kadaluwarsanya?”

“apa maksudmu Agassi? Aku baru saja membelinya seminggu yang lalu..”

“bukankah sekarang tahun 2016?”

“jangan bercanda..” nenek itu menertawakanku yang tertegun bingung mendengar ucapannya “sekarang tahun 2002, apa kamu sedang banyak pikiran sampai tanggal hari ini saja tidak tahu?”

Aku masih berdiri bingung disana. Ini tahun 2002? Apa aku kembali ke masa lalu sekarang? Tapi, bagaimana bisa? Anak laki-laki itu menarik lengan kemejaku dan berkata,”nuna.. apa aku boleh membeli coklat itu?”`

“ohh, ambillah..” aku langsung mengiyakan permintaannya itu.aku meraba saku celanaku mencoba mencari dompetku, tidak ada. Gawat. Bagaimana aku harus membayarnya? Nenek itu melihat tingkah anehku yang kebingungan.

“ada apa? Apa kamu kehilangan dompetmu?”

“halmeoni choisunghaeyoo, aku sepertinya meninggalkan dompetku di rumah..”

“kamu membelinya untuk mengobati anak ini?”

“nee… aku bertemu dengannya di dekat kebun ilalang tadi tangannya terluka dan..”

“ambil saja, obati luka anak itu, kamu tidak perlu membayarnya.” Dia memberikan plester dan cairan antiseptik itu ke tanganku. Menggenggamnya agar aku tidak menolak permintaan itu.

“kamsahamnida halmeoni, “

                Dengan berat hati aku menerima pemberian neneknya, dan mengobati luka anak itu.

“siapa namamu? Aku rasa kamu belum memberitahu namamu?”

“jae min. hong jae min. hehehe. Nama nuna siapa?”

“na? namaku kim yoo kyung, nah.. selesai” aku memasang plester di lengannya.

“gomawoyoo nuna…”

Aku mencoba mengingat lagi tempat ini,rasanya sangat tidak asing. Aku pernah berada disini. Tiba-tiba aku melihat Jaemin dan seorang anak perempuan berlari dari balik gang disampingku.

“aku sampai duluaaaan yee yeyeyeye..” kata anak perempuan itu sambil menjulurkan lidah mengejek

“tentu saja, aku kan selalu mengalah padamu. Makanya kamu bisa menang.”

“kamu tidak boleh begitu, jika bertanding kamu harus sepenuh hati melakukannya” aku tertawa sendiri mendengar kata-kata anak itu.

“agassii… jangan berlari seperti itu, ahjumma kesulitan mengejarmu…” seorang wanita yang lebih tua dari mereka mengikuti di belakangnya. Ahjumma!.

“ooo ahjumma! Bagaimana bisa ada disini? Aku kesulitan untuk pulang, aku bahkan tidak tahu ini ada dimana..”

“nuguseyo?” ahjumma melihatku bingung seakan tidak mengenaliku. Semakin kulihat, ia terlihat muda tanpa kerutan dimata ataupun pipinya. Apakah aku benar-benar telah kembali ke masa lalu?

“ini akuu ahjumma yoo kyung, kim yoo kyung?”

“ooh eonni, namamu kim yoo kyung? Namaku juga kim yoo kyung” anak perempuan itu berbicara heran padaku. APA INI? Anak perempuan itu… AKU? Tahun 2002… mengapa aku tidak ingat satu hal pun tentang diriku di tahun ini? belum selesai aku berfikir tentang waktu yang tak beraturan itu, kupu-kupu biru itu datang lagi menarik pandanganku dan meninggalkan mereka disana yang masih terdiam heran.

Kupu-kupu itu terus terbang rendah seakan menuntun untuk mengikutinya. Dia berhenti. Hinggap di sebuah pohon besar di tepi danau. Tempat ini.. sesuatu tiba-tiba melintas di kepalaku, disana ada yoo kyung kecil dan anak laki-laki tadi.. tidak, itu jaemin!

“jaebum-aaaah tunggu aku, kamu larinya cepat sekali katanya suka mengalah”

“siapa yang bilang begitu, enak saja. Aku yang menaaang yeyeyeye”

Kepalaku benar-benar sakit sampai pandanganku kabur, mataku tertutup, gelap dan hitam. Aku tidak dapat melihat apapun bahkan dengan mata terbuka. Dimana lagi aku sekarang?

***

Writer POV

September 2006.

Yookyung dan jaemin sedang duduk di bangku tepi danau. Masing-masing memegang bolpoin ditangan mereka. Ditulisnya kata demi kata di secarik kertas.

“jaebum-ah apa yang kau tulis panjang banget kaya mau bikin cerpen hahaha”

“ya! Kamu gak boleh ngintip! awas ya!” jaemin kembali menulis dibantu tangan kirinya yang menutupi kertas”

“tapi.. sejak kapan kamu menulis dengan tangan kanan mu? Bukankah kamu nulis pake tangan kiri?”

“ohh aku belakangan ini berlatih saat bosan hehe” jaemin menggaruk pundaknya yang tidak gatal.

Yoo kyung menatap sahabatnya itu aneh. Mereka memasukkan kertas tulisan itu ke dalam amplop dan menyimpannya kedalam kotak kaleng. Jaemin mengubur kotak itu dibawah pohon besar dekat danau. Ia mengukir sesuatu di batang pohon itu sebagai tanda. J & Y.

“kapsul waktunya udah kita kubur kan.. nah sekarang kamu harus janji kita ketemu disini 10 tahun lagi dan baca tulisan di surat itu.. janji?” jae min mengulurkan jari kelingkingnya, yookyung pun melakukan hal yang sama sebagai tanda janji mereka.

“janji!”

3 tahun telah berlalu. Jaebum dan yookyung memakan ice cream di toko halmeoni di ujung jalan. Udara siang itu sangat panas, hingga baju seragam mereka basah dipenuhi keringat.

“yookyung-ah..” panggil jaemin sambil memandang langit terik.

“waeee?”

“kamu emang ga punya teman satu pun yah?”

“eobseo”

“wae? Bukankah biasanya anak perempuan suka bermain bersama. Mengobrol atau…”

“mereka terlalu berisik. Aku tidak suka.” Jaebum hanya terdiam mendengar jawaban yookyung.

“yookyung-ah..” yoo kyung hanya melirik padanya tanpa menjawab “bagaimana jika aku tidak ada disini, siapa yang akan jadi temanmu?”

“ngomong apa sih sembarangan..” yookyung menjawab malas sambil menarik lengan jaemin “ayo pulang… cuacanya panas banget yah sampe kamu ngomongnya ga jelas” jaemin menatap yookyung lagi dengan tawa kecilnya.

“setelah masuk sekolah menengah nanti kamu harus cari teman selain aku ya, oh? Harus!”

“naega wae? Punya satu teman sepertimu saja sudah cukup bagiku.” Yookyung menatap jaemin yang hanya terdiam disampingnya, ice cream di tangannya yang belum habis mulai mencair perlahan. “kajjaa.. kamu harus kembali.. aigoo lihat itu ice creamnya mencair ke bajumu! Dokter kang bisa memarahiku jika tahu kamu makan ini bersamaku… sini biar aku bersihkan dulu” yoo kyung mengambil tissue basah di tasnya dan membersihkan noda ice cream itu hingga tidak terlihat sisanya.

“nah, saya permisi pulang dulu wangja nim…” yoo kyung menundukkan kepalanya sedikit

“Mwoya… maaf harusnya aku yang mengantarmu pulang..”

Yookyung tertawa kecil mendengarnya, “gwaenchana, saat kamu sembuh nanti kamu bisa melakukannya. Lagi pula aku sudah terbiasa sekarang.. haha”

“iya, suatu saat nanti..” tiba-tiba keheningan menghampiri keduanya. Dalam hati mereka ada rasa pesimis yang tak bisa disampaikan. Bahwa jaebum mungkin tidak akan pernah pulih.

***

KYK POV

Im jae bum. aku menghapus namanya dari ingatanku. Semuanya menghilang tanpa aku tahu. Wajah dan senyum itu yang dulu selalu bersamaku saat tidak ada satu orang pun di sekolah yang mau berteman denganku. Jaebum yang selalu mengulurkan tangannya padaku, menggenggamnya erat hingga aku merasa aman meski hanya dengan melihatnya saja. Aku bisa mengingatnya sekarang.

Hari dimana Jaebum pergi dariku untuk selamanya tanpa mengatakan selamat tinggal padaku. Aku tahu bahwa ia memang akan meninggalkanku, tapi aku tidak pernah sekalipun membayangkan bagaimana jadinya. Tidak bisakah dia mengucapkannya walau hanya dalam mimpi?

Aku ingat bagaimana berat nya hari ke hari sejak saat itu. Aku menjadi sangat pendiam dan tak pernah bebicara dengan siapapun di sekolah. Yang ku lakukan hanya menghitung hari saat aku dapat membuka kapsul waktu itu. Tiap hari sulit yang kulalui aku selalu datang kesana, menggali tanah itu. Namun, ucapan jaemin kembali melintasi kepalaku. Aku harus menepati janji. Bersabarlah sedikit lagi.

“gwaenchanayo?” seorang anak laki-laki menepuk pundakku dari belakang. Ia mengenakan seragam SMA dengan ransel dan headphone di lehernya. Aku terduduk di tengah jalan sambil memegang kepalaku, pandanganku mulai kembali seperti semula, tapi sinar matahari membuatku sulit melihat wajahnya.

“ohh gwaenchana” aku melihat ke sekeliling, ini.. jalan di samping rumahku.

“jeongmaal gwaenchanayo?” wajah anak itu terlihat khawatir padaku.

“ohh.. “ dia pergi berjalan meninggalkanku dengan langkah berat. Pandangannya tertuju kembali ke jalanan di depannya. Ia mendekati pintu rumahku perlahan.

“chogiyoo…”

Ahjumma segera membuka pintunya sambil berkata, “nuguseyooo?..”

“ahjumma…”

Ahjumma hanya tertegun melihatnya.

“jae? eoteokhae..” anak laki-laki itu tersenyum kecil tanpa menjawabnya.

“apa.. yookyung ada dirumah?”

“ya tuhan.. apa ini benar jaebum?” ahjumma mengusap kedua lengan anak itu. Aku hanya berdiri di tempatku mencoba memahami semua ini. Anak itu, jaebum?

“agassii… dia sudah pindah ke seoul sejak kecelakaan itu.. agassi,” ahjumma mulai terisak sebelum melanjutkan kembali kata-katanya. “dia kehilangan ingatannya..”

Jaebum diam tak berkata apa-apa lagi, matanya yang mulai berair sudah menunjukkan bagaimana perasaannya. “karena itu, ayah dan ibunya membawanya ke seoul untuk berobat.. saat disini dia hampir tidak selamat…”

***

Aku menghela nafas panjang. Saat mataku terbuka, aku terbaring di kamarku. Aku melihat ponsel di meja, tanggal 20 Okt 2016. Aku sudah kembali, apa tadi itu hanya mimpi? Aku bergegas berlari keluar dari rumah, satu-satunya yang ada di pikiranku hanya nama itu, Jaebum. Teman kecil yang terlupakan sejak aku kehilangan ingatanku. Dia masih hidup.

Pohonnya masih ditempatnya, ukiran nama itu juga meski tampak pudar termakan usia. Aku masih bisa melihatnya. Sudah 10 tahun berlalu sejak hari itu. Aku menggali tanah dengan tangan kosong. Aku menemukannya! Aku membuka kotaknya perlahan, membersihkan tanah dan debu yang masuk ke dalamnya, surat itu masih disana.

Yookyung-ah, saat kamu membuka surat ini aku mungkin sudah pergi untuk selamanya. Terima kasih karena tetap ada disisiku. Menjadi orang yang melindungi dan menjagaku. Terimakasih karena kini aku bisa merasakan bahagia.

Yookyung-ah, Maafkan aku untuk segalanya. Maaf jika kepergianku ini mungkin akan terasa begitu berat bagimu .maafkan aku karena telah berbohong padamu. Teman kecil yang kamu kenal itu bukan aku. Aku takut kamu akan meninggalkanku, karena itu aku tidak pernah mengatakannya. Aku benar-benar bersalah padamu.. maafkan aku..

Hong jaemin.

“kamu menepati janjimu, yookyung-ah” aku terkejut mendengar suara itu. Seorang laki-laki sudah duduk disampingku sambil tersenyum. Aku hanya tertegun melihatnya. Detak jantungku rasanya berhenti. Senyum itu, Jaebum. “maafkan aku telah membohongimu saat itu, jaemin.. dia saudara kembarku. Aku bertukar kehidupan dengannya. Saat aku tahu dia sakit parah. Aku ingin melihat jaemin bahagia di saat-saat terakhirnya. Aku tidak bisa melihatnya menderita dalam keluarga yang sama sekali tidak menyayanginya..” aku masih menatapnya dengan air mata yang jatuh tanpa ku sadari.

“karena itu..”aku memeluknya erat dengan kedua tanganku, membuatnya berhenti berkata-kata. Ada rasa lega menghampiri di dalam hatiku.

“maafkan aku.. saat itu aku mencarimu dan ahjumma bilang kau..”

“aku tauu..”

“kamu datang ke rumahku dan bilang kalau kamu tidak perlu bertemu denganku lagi karena kamu pikir itu hanya akan memperburuk kondisiku yang benar-benar terpukul karena kehilanganmu kan?”

“bagaimana kau bisa tau?” aku hanya terdiam dan memeluknya lebih erat. Kata-kata apapun tidak dapat menggambarkan betapa aku merindukannya saat ini.

Akhirnya aku mengerti. Aku tidak tahu apakah itu mimpi atau aku memang benar-benar kembali ke masa lalu. Tapi yang pasti aku percayai adalah, jaemin ingin aku mengingatnya kembali. Untuk memberitahuku segalanya. Bahwa kehidupanku juga punya sisi bahagia, dan kesempatan untuk bahagia sepertinya.

“yookyung-ah.. apa isi suratmu saat itu?” jaebum membuka suratnya.

“yaa hajima!!!!” aku bergegas mengambil surat itu dari tangannya, tapi dia malah berdiri dan mengangkatnya tinggi-tinggi membuatku sulit merebutnya. Aku ingat apa isi surat itu, jangan sampai dia membacanya.

“ya! Sejak kapan kamu setinggi ini? Kembalikan!” jaebum tidak mendengarkanku dia membuka surat itu sambil terus menahanku.

“kamu saja yang pertumbuhannya berhenti hahaha..” dia membuka suratnya. Gawat! Aku memalingkan wajahku darinya dan berlari pergi dengan mukaku yang mulai memerah.

“nado.. neol johahae!” langkahku terhenti mendengarnya, aku masih belum berani berbalik dan melihatnya. Aku ingin mendengar kata-kata itu sekali lagi.

“nan neo johahae…”

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK