SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Enam.. Tujuh.

Enam.. Tujuh.

Share:
Published : 01 Sep 2016, Updated : 01 Sep 2016
Cast : iKON, iKON Hanbin, Yoojin
Tags :
Status : Complete
41 Subscribes |659 Views |41 Loves
Enam.. Tujuh.
CHAPTER 1 : Dear Diary

11:39, 28 Juli 2013

Satu..

Dua..

Tiga..

Empat..

Lima.

Aku berhitung dalam hati.

Lima.

Lagi-lagi hanya lima. Aku tak bisa menemukannya. Lagi-lagi tak bisa menemukannya.

Aku menutup tirai jendela dan kembali ku arahkan pandangan pada buku di tanganku. Aku tahu bahwa aku hanya akan menemukan lima, maksudku, ini bahkan belum tengah malam, tentu saja hanya lima.

Satu halaman.

Dua halaman.

Halaman ke-132.

Ku dengar suara derap langkah dari luar jendela. Waktu menunjukan pukul 03:24 dini hari. Ini dia, pikirku sambil bergegas membuka jendela.

Enam.

Aku melanjutkan hitunganku. Genap enam. Pria itu berjalan dengan langkah lemah ditengah jalanan yang sepi. Meskipun berbalut hoodie dan beanie, pria itu masih tampak kedinginan, dan yang sangat jelas, kelelahan. Ingin hati menyapa dan sekedar menawarkan secangkir coklat panas. Tapi lagi-lagi, aku hanya bisa berbisik pelan,

"Kau telah bekerja keras hari ini, selamat beristirahat, Enam."

Terlalu pelan bahkan untuk didengar oleh telingaku sendiri.

Bayangan pria itu menjauh, semakin lama semakin memudar hingga akhirnya tak lagi terlihat.

03:30 dini hari, ku tutup jendela kamarku dan beralih pada buku harian yang tergeletak disamping tempat tidur.

"Hari ini pun dia pulang dengan sangat larut. Dia terlihat sangat kelelahan. Tapi aku bisa samar-samar melihat senyum di wajahnya, apa yang membuatnya begitu senang hari ini? Aku tidak bisa menebak, namun tak apa, melihatnya tersenyum saja sudah membuatku bahagia. Ya, berbahagialah, Enam, itu membuatku bahagia."

Aku menutup buku harianku dan mematikan lampu. Akhirnya mataku bisa dengan tenang terpejam.

*

Namaku Yoojin. Aku masih duduk di bangku SMA, umurku 15 tahun. Sejak kecil aku selalu menyukai aroma buku. Aku bukannya suka membaca, aku hanya membaca buku karena aku suka baunya yang menenangkan. Tempat favoritku tentu saja perpustakaan dan toko buku, satu-satunya tempat dimana aku bisa keluar dari hiruk-pikuk dunia nyata. Tunggu dulu, tidak, toko buku dan perpustakaan buka satu-satunya. Jendela kamarku juga termasuk tempat terbaik, bagaimana bisa aku melupakan tempat dimana aku menemukan mereka, dia, insprasiku.

Aku memanggilnya Enam. Sudah menginjak 4 bulan semenjak pertama aku melihat dia dan 5 temannya berjalan melewati rumahku.

19 Februari 2013

Hari itu merupakan hari dimana sekolahku mengadakan konsultasi gabungan untuk menentukan minat dan masa depan para siswa nya. Hari yang menyedihkan bagiku yang tidak memiliki mimpi. Malam itu aku sedang menangis sambil memandang keluar jendela kamarku. Membayangkan bagaimana rasanya memiliki talenta untuk menggapai cita-cita. Talenta? Lucu sekali, aku tertawa pada diriku sendiri. Jangankan talenta, cita-cita pun aku tak punya.

Aku terus menangis dan tak menyadari bahwa waktu sudah menunjukan tengah malam.

Aku melihat beberapa pria berjalan melewati rumahku dan duduk di minimarket yang berjarak tak jauh. Satu, dua, tiga, empat, lima. Lima pria. Samar-samar ku perhatikan wajah mereka satu persatu. Apakah mereka dari daerah sini? Rasanya ini pertama kali aku melihat mereka. Mereka terlihat seperti berandalan, dengan anting-anting di telinga mereka dan celana yang melorot hingga memperlihatkan pakaian dalamnya. Sudahlah, itu bukan urusanku. Aku menggelengkan kepala lalu mengambil buku harian, memutuskan untuk menumpahkan segala keluh kesahku.

02:22 dini hari, aku hendak mematikan lampu dan pergi tidur. Entah mengapa aku ingin sekali lagi melihat keluar jendela. Aku membuka jendela kamar dan mendapati seorang pria berjalan pelan melewati rumahku da menghamiri sekelompok pria di minimarket. Kukira mereka sudah pergi, tapi disana mereka, asik tertawa-tawa. Bodoh, pikirku. Mereka bahkan tidak usah repot-repot mengikuti konsultasi minat, tak usah memkirkan cita-cita. Paling-paling dalam 10 tahun mereka hanya akan bekerja di toko kelonton, menyesali masa muda mereka yang mereka habiskan dengan tertawa-tawa di minimarket sambil menyantap mie instan. Aku menutup tirai dan mematikan lampu. Lebih baik aku tidur.

28 Februari 2013

Seminggu berlalu semenjak malam itu, aku melihat pria-pria itu setiap malam pada sekitar waktu yang sama. Lima pria sekitar tengah malam, dan satu pria sekitar dini hari. Ya, pria ke-enam. Tidak butuh waktu lama bagiku menyadari bahwa mereka bukan pemuda biasa. Aku juga berpapasan dengan mereka berenam setiap aku pergi sekolah. Mereka berjalan bersama di pagi hari dari arah yang berlawanan dengan saat mereka lewat di malam hari. Terkadang salah satu dari mereka berjalan moonwalk, dan bahkan melakukan break dance. Aku juga sering mendengar salah satu dari mereka bernyanyi dengan sangat keras. Aku sempat mencuri dengar, salah satu dari mereka berbicara tentang penilaian bulanan, dan berkata pada si pria nomor enam untuk membuatkan mereka lagu yang bagus. Dari situ aku tahu mereka adalah calon idola. Peserta latihan YG Entertainment yang pust latihannya terletak tak jauh dari rumahku.

*

Hari demi hari aku lalui dengan rutinitas yang sama, pergi sekolah di pagi hari dan berpapasan dengan enam pria itu, dan terjaga semalaman menulis di buku harian sembari memastikan bahwa ke-enam pria itu sudah pulang dari latihan mereka. Aku bahkan tak bisa tidur jika belum melihat Enam berjalan melewati rumahku.

06:50, 20 Agustus 2013

Dimana mereka? Mengapa hari ini mereka tidak pergi ke pusat latihan? Apakah mereka beristirahat hari ini? Sudahlah, mungkin mereka sedang tidur di apartemen nya. Aku pun berjalan menuju halte bus dan pergi sekolah.

Sesampainya di sekolah , aku disambut dengan teriakan sahabatku, Lisa.

"YOOJIN! Sini! Ayo nonton press conference Who Is Next!" teriak Lisa sembari berlari kearahku.

"Siapa tuh?" Tanyaku polos. Aku memang jarang menonton televisi ataupun membaca berita.

"Astaga itu loh survival show di MNET, pembuatan boy group baru, trainee nya dari YG loh!" cerita Lisa gemas

"Apa?? YG??" entah mengapa darahku mengair sangat cepat. Apakah ini alasan mengapa hari ini mereka tidak datang ke pusat pelatihan?

"Iya! Ayo sini cepet!" Lisa berlari menuju tempatnya duduk tadi dan mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya.

Akupun berlari mengikuti Lisa yang sudah siap dengan laptopnya.

"Waaah mereka semua terlihat keren! Tau gak, nantinya mereka ini..." entah apa yang Lisa katakan selanjutnya aku tak bisa mendengar, Aku membeku. Berdiri disana melihat ke arah laptop.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Enam..

Enam.

Enam pria tak asing, berdiri disana, bersandingan.

*

12:02, 12 Oktober 2013

Aku masih melihat mereka setiap hari dari jendela kamarku. Keadaannya masih tetap sama, hanya saja terkadang mereka berjalan dengan membawa kamere. Lucu, pikirku. aku telah lama memperhatikan mereka, tapi baru mengetahui namanya melalui televisi. Dan pria nomor enam itu adalah Hanbin, ketua team. Dia bekerja siang dan malam membuat tarian dan juga lagu. Aku teringat pertama kali melihat mereka dan mengira mereka adalah berandalan yang tak punya cita-cita, aku salah besar.

Aku menulis di buku harianku lagi, menceritakan bagaimana mereka membuatku sadar bahwa impian adalah hal yang penting yang harus dimiliki seseorang. Seseorang akan mati tanpa mimpi, atau hidupnya akan sia-sia. Ya, bagaimanapun aku pasti akan menemukan mimpiku sendiri. Hal yang bisa membuatku bahagia, seperti musik membuat Hanbin dan teman-temannya itu bahagia. Seperti.... saat aku menulis.

Aku memejamkan mata dan menyadari sesuatu yang selama ini aku cari. Bahwa hal yang membuatku bahagia adalah menulis. Aku membayangkan suatu saat di sebuah toko buku, melihat namaku tertulis di salahs atu buku yang berjajar, tentu saja dengan aroma itu, aroma yang menenangkan. Ya, saat itu aku tahu, aku ingin menjadi seorang penulis.

*

21:20, 25 Oktober 2013

Aku menangis di depan televisi. Ini sunggu menyakitkan, pelihat pria itu menangis karena mimpinya selama ini tidak dapat terwujud. Aku menangis dan terus menangis. Hingga aku tak yakin, apakah aku menangisi nasib pria-pria itu atau menangisi diriku sendiri. Tak ada lagi inspirasi menulisku berjalan dini hari melewati jendela kamarku. Tak akan ada lagi.

02:54, 25 November 2013

Sudah tepat sebulan, sejak terakhir aku melihat mereka. Tak ada lagi yang bisa ku tulis di buku harian ini, semuanya berakhir hari itu. Mimpi mereka, mimpinya, mimpiku.

07:02, 26 November 2013

Aku sedang berlari menuju halte bus saat aku melihat mereka.

Ya, itu mereka.

Enam pria yang kini sudah bisa ku kenali dengan namanya.

Bobby, Yunhyung, Donghyuk, Junhoe, Jinhwan, dan.. dia, si nomor enam, Hanbin.

Tak teraa air mataku jatuh. Aku tahu. Mereka tidak mungkin menyerah. Aku tahu.

01:39, 4 Juli 2014

Setahun berlalu dan aku masih melihat mereka setiap hari. Setiap mendengan suara tawa dari arah luar rumahku, aku brgegas membuka tirai dan berhitung dalam hati.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Lima. Lagi-lagi lima. Hanbin, tentu saja, akan selalu menjadi nomor enam. Nomor terakhir yang akan pulang. Aku duduk didekat jendela sambil menyelesaikan tulisanku, benar, aku sedang menulis novel pertamaku. Novel ini bercerita tentang enam sahabat yang berama-sama bangkit dari waktu yang sulit dan tidak menyerah untuk mengapai mimpi mereka. Ya, cerita ini berdasarkan kisah nyata.

Waktu menunjukan pukul 03:42 dini hari saat aku mendengar suara seseorang berbicara.

Hanbin? Dengan siapa dia berbicara?

Aku melihat keluar dan mendapati Hanbin berjalan dengan seorang pria yang tidak aku kenali. Aku tersenyum dan kembali menghitung dalam hati,

Enam..

Tujuh.

Tujuh.

Aku mencoret kata "enam" dari tulisanku dan menggantinya dengan "tujuh". Tujuh sahabat yang tak menyerah dalam menggapai mimpi mereka. Tujuh pasang tangan yang saling bergandengan, berjalan bersama menyentuh langit. Aku juga, aku juga akan terus mendukung mereka dengan caraku sendiri.

"...No limit gon' touch the sky"

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

istiqomahram
Kamis, 01/09/2016 22:10
0
kangen ikon fix
zulfanurz
Kamis, 01/09/2016 22:04
1
Chanwooooo!
sharahkarisma
Kamis, 01/09/2016 22:06
0
Chanumonnnn
fatmawatilestari
Kamis, 01/09/2016 22:00
1
hambeeeen
tiwiavi
Kamis, 01/09/2016 21:55
4
Hanbin-ah:')
POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK