home_icon
SIGN IN
SIGN UP
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Jika Kamu Tau

Jika Kamu Tau

Share:
Author : Maisaveron
Published : 14 Feb 2016, Updated : 20 Jul 2019
Cast : Nam Woohyun, Kim Hanbin, Hoshi, Hyungwon, Seolhyun, Bora, Eunha
Tags :
Status : Complete
0 Subscribes |6709 Views |0 Loves
Jika Kamu Tau
CHAPTER 3 : Gadis Strawberry (Ep 3)

Entah untuk keberapa kalinya Seolhyun masih melihat pantulan dirinya dari kaca yang ada di kamarnya. Ia menarik ke atas rok sekolahnya dan kembali menebalkan lipstick pink di bibirnya. Setelah merasa riasannya sempurna, ia keluar dari kamarnya. Ibu nya sudah menyiapkan ia sarapan pagi, Seolhyun duduk di kursinya. Ia meminum susu coklat yang di siapkan oleh Ibu nya lalu mengambil roti di atas piring dan pergi ke sekolah setelah berpamitan.

Sekolah lama di Paris, lalu pindah kembali ke Seoul bukanlah hal yang mudah untuk Seolhyun. Ia sangat nyaman dengan Paris, namun Ayahnya menyuruh ia dan Ibunya untuk kembali ke Seoul setelah beberapa bertahun-tahun mereka tinggal di Paris. Ayah Seolhyun belum pulang dari Paris, ia masih menyelasaikan beberapa restrorant nya yang tidak bisa ia tinggal. Menurut Seolhyun, hidup di Seoul tidaklah semudah ia pikirkan. Ia tidak memiliki banyak teman seperti di Paris. Ia hanya mengenal Yesi teman sebangkunya dan empat cowok ganteng yang tinggal dekat rumahnya, namun mereka sama sekali tidak dekat. Di tambah dengan hampir setiap harinya ia pulang malam karena pelajaran ekstra yang harus ia ikuti. Seoul menjadi hal yang tidak mudah untuk Seolhyun.

Selangkah demi selangkah ia melangkah memasuki halaman sekolahnya, ia berjalan tidak terlalu cepat ataupun lambat. Tempo jalannya stabil, sesekali ia melihat ke kiri dan kenan . Ada beberapa murid yang menunjuknya, itu membuatnya sedikit aneh. Ia mencoba tidak memperdulikan. Seolhyun memasuki kelasnya. Suasanya sudah mulai riuh, ia berjalan menuju mejanya. Namun suatu hal membuat ia terkejut, coret-coretan di mejanya dan juga beberapa surat kabar yang memberitakan tentang Ayah dan Ibunya.

Seolhyun menarik bangku untuk duduk, untuk beberapa saat ia menatap mejanya. Semakin menatap mejanya, ia semakin merasa ingin marah dengan siapapun yang berbuat ini.

‘Wah, kamu akan semakin terkenal’ tungkas Woohyun yang berdiri di belakang bangku Seolhyun dan duduk di bangkunya ketika Seolhyun menengok ke belakang.

‘Sekolah ini semakin aneh’ komentar Hanbin yang duduk di samping Woohyun.

‘Seolhyun-ssi’ panggil Hyungwon, yang di panggil menengok ke sumber suara.

‘Tidak usah di ambil hati, ini sekolah memang aneh’ tungkas Hoshi yang sedang membaca buku. Seolhyun hanya bisa mengigit bibir bawahnya, apakah meraka tidak mengerti perasaan Seolhyun?

Bel tanda kelas di mulai berbunyi, murid-murid mulai berhamburan untuk kembali ke tempat duduknya. Seolhyun melihat Yesi tidak duduk di sampingnya, ia melihat gadis itu duduk di tempat lain dan hanya menunduk ketika Seolhyun menengok ke arahnya.

 

Suasana kantin juga menjadi aneh. Orang-orang menghidari Seolhyun, bahkan tidak ada satu orangpun yang mau duduk semeja dengan Seolhyun. Suara kotak makan dengan meja yang beradu membuat Seolhyun terkejut, ia melihat Woohyun dan Hyungwon duduk di hadapannya, sedangkan Hoshi duduk di sampingnya.

‘Hai, gadis cantik’ tungkas Hoshi sambil melambaikan tangan, yang di puji hanya melihat Hoshi dengan wajah datar lalu melanjutkan makannya.

Mereka berempat makan tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka hanya sibuk dengan kotak makan mereka.

‘Rupanya ini anak dari selingkuhan Chef terkenal’ tungkas seorang gadis yang mendatangi meja Seolhyun. Ketiga laki-laki yang duduk disana hanya melanjutkan makanya mereka tanpa perduli dengan apa yang di lakukan gadis itu.

Seolhyun melihat nama gadis itu yang tertera di seragamnya, namanya adalah Kim Go Moon. Seolhyun berdiri untuk menatap gadis tersebut. Terkejut dengan prilaku Seolhyun, Go Moon makin bertingkah.

‘Ternyata kamu memang tidak tahu malu’ tungkas Go Moon yang membuat Seolhyun menarik alisnya.

‘Ya! Aku tidak mengenalmu, dan aku tidak perduli dengan apapun yang kalian katakan kepadaku. Ibu ku tidak merebut Ayahku dari istrinya yang terdahulu. Jadi silahkan untuk mengatakan apapun sesuka kalian, karena aku tidak akan perduli. Jika kalian memang pintar, kalian akan mengecek kembali berita tersebut’ tungkas Seolhyun dengan suaranya yang sedikit besar, membuat kantin menjadi hening. Semua murid yang ada di kantin sibuk memperhatikan Seolhyun dan Go Moon.

Seolhyun melipat kedua tanganya di dada. ‘Ahhh.. aku tahu. Walau kalian lihat berita tersebut atau melihat video tersebut. Aku rasa kalian tidak akan mengerti dengan pemberitaanya, karena semuanya mengunakan bahasa Prancis. Jika kalian pintar, kalian akan mengecek pemberitaan itu terlebih dahulu tapi jika kalian bodoh…’ Go Moon melayangkan tanganya ke hadapan Seolhyun ketika Seolhyun masih berbicara, tapi tangan Woohyun segera menepis tangan Go Moon.

‘Hai Kim Go Moon. Apa perlu aku laporkan kalau kamu membully anak baru? Apa perlu aku menulis di media kalau kamu sudah mencemarkan nama baik orang lain?’ tungkas Woohyun yang mengengam erat pergelangan tanga Go Moo. Hoshi mengeluarkan ponselnya.

‘Aku rindu Ayahku. Apa aku harus telepon ke Ayahku agar membatalkan penanaman modal di perusahaan Ayahmu?’ Tungkas Hoshi yang mencari nomer Ayahnya.

‘Ah, kalian!’ Tungkas Go Moon yang menghempaskan tanganya agar gengaman tangan Woohyun lepas. Go Moon pergi meninggalkan Seolhyun dan ketiga laki-laki yang makan di meja tersebut. Namun, setelah Go Moon pergi, Seolhyun juga pergi dengan mata yang berkaca-kaca.

 

 

 

Salah satu manusia yang ia benci di dunia ini adalah mantan istri Ayahnya yang menyebarkan berita yang tidak-tidak kepada dunia. Ia benci ketika satu persatu mulai menilai jelek Ayah dan Ibunya. Ia benci satu persatu orang di sekitarnya menjauh karena pemberitaan itu. Seolhyun berjalan menuju atap sekolah, namun saat sampai di atas atap kakinya menjadi lemah. Ia tak kuat lagi berdiri. Dia terjatuh dan menangis, memeluk kedua kakinya. Ternyata ini tak semudah yang ia bayangkan. Tanganya bergetar, isak tangisnya tertutup oleh rambut panjang hitamnya.

‘Aku kira kalau aku kirim fotomu ini ke perusahaan tempat Ayah Woohyun bekerja, mungkin kamu akan jadi model’ Tungkas Hanbin yang berjalan menuju Seolhyun dan mengulurkan tanganya untuk membantu Seolhyun bangun.

Seolhyun perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap Hanbin yang mengulurkan tanganya. Tubuh tingginya terkena sinar matahari, membuat Seolhyun sulit menatapnya dengan jelas. Seolhyun menerima tangan Hanbin sebagai pegangan untuk ia bangun. Hanbin mengerutkan keningnya ketika menatap Seolhyun dari ujung kepala hingga bawah.

‘Turunkan rok mu! Memangnya ada yang mau melihat pahamu yang jelek itu’ komentar Hanbin setelah melihat rok Seolhyun yang pendek. Dengan buru-buru Seolhyun menuruni roknya. Namun, saat kepalanya mendongak untuk menatap Hanbin, lengan Hanbin telah tertempel di pipi Seolhyun. Dengan jas abu-abu yang Hanbin kenakan, ia mengapus bekas air mata Seolhyun.

‘Aih, kalau sudah tau mau menangis, mengapa pakai make up tebal-tebal?’ gerutu Hanbin, Seolhyun hanya tersenyum mendengarnya. Saat Seolhyun tersenyum lebar, kamera yang Hanbin pegang siap membidik Seolhyun.

‘Kamu memfotoku tanpa izin’ tungkas Seolhyun. Hanbin menujukan lengan jasnya yang terkena bekas make up Seolhyun.

‘Untuk ini, kamu harus bayar dengan sebuah foto. Aku akan gunakan foto ini untuk buku tahunan kita nanti’ tungkas Hanbin. Setelah melihat hasil fotonya, ia meninggalkan Seolhyun di atap.

‘Hanbin-a’ Panggil Seolhyun.

‘Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan kisahmu, simpan saja itu’ tungkas Hanbin ketika ingin menuruni anak tangga.

‘Aku tidak ingin bilang itu’ ucap Seolhyun, Hanbin membalikan tubuhnya melihat Seolhyun.

‘Terimakasih, hanya itu yang ingin aku bilang’ tungkas Seolhyun, bukannya membalas perkataan Seolhyun, Hanbin malah meninggalkan Seolhyun di atap.

 

 

Woohyun berjalan menyusuri lorong di perusahaan tempat Ayahnya bekerja. Perusahaan yang selalu ia sukai, karena di sini ia bisa terus mendengarkan lagu buatan Ayahnya di nyanyikan oleh penyanyi hebat, atau ia bisa mendengarkan ayahnya melatih trainee baru yang akan debut. Di sepanjang lorong itu terpajang banyak poster artis yang ada di perusahan tersebut, hal itu membuat Woohyun semakin bangga dengan Ayahnya.

‘Oh, Woohyunie’ sapa Seorang staff.

‘Oh, Annyeonghaseo Ahjussi. Apakah Appa ada?’ tanya Woohyun setelah membungkukkan tubuhnya.

‘Appa mu sedang rapat, mungkin sebentar lagi selesai’ tungkas staff itu.

‘Aku akan menunggunya di Café’ tungkas Woohyun yang berniat untuk memutar balik tubuhnya.

‘Kamu bisa menunggu di ruangan Appa mu, disana ada sofa untuk instirahat’ tungkas staff tersenbut.

‘Apa tidak apa-apa aku ke ruanganya?’ tanya Woohyun.

‘Tidak apa-apa, aku akan member tahu Appa mu kalau kamu menunggunya’

‘Terimakasih Ahjussi’ tungkas Woohyun.

‘Oh yah, selamat untuk kemenangan Tim mu beberapa waktu lalu. Kamu mencetak empat gol. Aku bangga dengan mu’ puji staff tersebut.

‘Terimakasih Ahjussi. Aku akan melakukan pertandingan terakirku dua buan lagi. Ahjussi harus nonton dan dukung aku yah’ tungkas Woohyun dengan senyum yang lebar, sepeti anak kecil yang baru saja di kasih permen.

‘Tentunya, aku akan menonton dan mendukungmu’ tungkas Staff tersebut sambil mengantarkan Woohyun ke ruang Ayahnya.

‘Silahkan menunggu disini’ tungkas staff tersebut saat membukakan pintu ruangan Ayah Woohyun.

‘Terimakasih’ tungkas Woohyun sambil membungkukkan tubuhnya.

Woohyun meletakan tas berisi pakaian ayahnya di dekan Sofa. Ia melempar tubuhnya di atas Sofa dan mengeluarkan ponselnya hanya untuk sekedar mengeceknya. Woohyun membuka ruang obrolnya dengan Honey.

Hyungwon : Aku lelah belajar, bagaimana jika kita makan ramen atau nonton?

Hanbin    :  Kelas tiga memang tidak enak.

Hoshi        : Kalian tau, kedua Noona ku sedang bertengkar karena persidangan tadi siang.

Hyungwon: Siapa yang menang? Pasti Soona Noona!

Woohyun: aku sedang di kantor Appa, bagaimana jika malam ini kita menginap di rumah Hanbin? aku malas tidur di rumah.

Hanbin: Aku setuju, cepat kalian ke rumahku.

Hyungwon: ok

Hoshi        : Ok

Woohyun: Ok, aku usahakan pulang cepat.

Woohyun meletakan ponselnya di pinggir sofa, ia berjalan ketempat rekaman lagu. Mencari lagu favorite – nya ciptaan Ayahnya. Setelah mendapatkan liriknya, ia menyetel aka  dan mulai bernyanyi.

‘Ah, sepertinya aku ini memang manusia yang di berikan apapun oleh Tuhan’’ ia memuji dirinya sendiri setelah mendengarkan hasil rekaman suaranya.

‘Kamu disini?’ Woohyun terkejut mendengar suara yan aka sing untuknya.

‘Noona’ tungkasnya yang menatap seorang gadis yang ada di depan pintu. Gadis itu berambut pajang warna unggu, ia memakai swetter yang kebesaran oleh tubuhnya, dipadu dengan celana pendek dan sepatu cats. Woohyun membungkukkan tubuhnya.

‘Sudah lama tidak bertemu dengan Noona’ tungkas Woohyun yang keluar dari ruang rekaman dan menghampiri gadis itu.

‘Aku dengar kamu menang di pertandingan kemarin’ Gadis itu membuka pembicaraan dan Woohyun hanya menganguknya.

‘Dua bulan lagi adalah pertandingan terakhirku, aku harap Noona bisa datang untuk menonton dan mendukungku’ tungkas Woohyun yang lagi-lagi mempromosikan pertandingannya.

‘Aku akan usaha untuk datang, berlatihlah dengan giat’

‘Ya, terimakasih Noona. Semoga comeback mu juga sukses’tungkas Woohyun yang melihat jam di tangan yang melingkar di pergelangan tanganya.

‘Sepertinya aku harus pulang’ Woohyun berniat untuk pamit.

‘Apa perlu aku pesankan taxi?’ tawar di gadis tersebut.

‘Tidak perlu’ Tolak Woohyun.

‘Baiklah. Oh yah, aku titip salam untuk Hyungwon’ tungkas gadis tersembut.

‘Kenapa si bajingan itu sangat terkenal?’ gerutu Woohyun dengan suara pelan.

‘Kamu mengatakan apa?’ tanya gadis itu.

‘Tidak ada, aku pulang dulu yah Noona’ pamit Woohyun.

Suasana senyap yang biasa ada di kamar Hanbin kini berganti dengan suara riuh dan celotehan Woohyun yang tidak berhenti sama sekali. Mereka berempat tidur di ranjang kamar Hanbin.

Hanbin sangat bersyukur sekali dengan tempat tidur yang sangat besar yang ada di kamarnya. Beberapa tahun yang lalu, ketika ibunya membelikan tempat tidur besar itu karena sedang discount, Hanbin berfikir kalau tempat tidur  itu hanya akan membuatnya menjadi seseorang pemalas. Seperti biasa, formasi yang tidak pernah berubah sejak dulu. Hanbin tidur di pinggir tempat tidur sebelah kiri, lalu disebelahnya Hyungwon, Woohyun dan Hoshi.

‘Aku tidak mengerti bagaimana Hyungwon sangat terkenal sekarang’ gerutu Woohyun.

‘Bukannya memang dari dulu Hyungwon si laki-laki tampan ini sudah terkenal?’ tungkas Hoshi yang sedang bergelut dengan ponselnya.

‘Syukuri saja jika memiliki teman seterkenal Hyungwon’ tungkas Hanbin yang tidur memunggungi Hyungwon.

‘Aku tadi bertemu dengan Bora Noona’ seketika suasana menjadi hening. Hanya ada suara pendingin ruangan yang berbunyi.

‘Kenapa suasananya jadi tidak enak?’ tanya Woohyun.

‘Karena kamu membicarakan wanita yang telah debut di perusahaan tempat Ayahmu bekerja’ tungkas Hanbin, Woohyun hanya menelan air liurnya.

‘Ia menitip salam kepadamu’ tungkas Woohyun.

‘Aku sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya’ Tungkas Hyungwon yang meletakan tanganya di bawah kepalanya.

‘Woonie, ponselmu dimana? ‘ tanya Hoshi yang membuat Woohyun terbangun.

‘Aku letakan di sofa ruang kerja Ayahku, dan aku lupa mengambilnya’ tungkas Woohyun yang mendadak.

‘Kamu memang ceroboh!’ tungkas Hyungwon yang menutup matanya dan berniat untuk tidur.

‘Bora Noona buat kamu lupa dengan ponselmu’ tungkas Hanbin yang juga memejamnkan matanya.

‘Ini aku pinjamkan ponselku untuk menelpon Ayahmu’ tungkas Hoshi yang memberikan ponselnya kepada Woohyun.

 

 

Menjelang istirahat wali kelas memberikan tugas kelompok yang sangat banyak. Membuat murid yang ada di kelas mengeluh dengan banyaknya tugas. Satu persatu murid di suruh maju untuk mengambil nomer kelompok. Ada dari mereka yang senang mendapatkan kelompok yng sama dengan teman mereka dan ada dari mereka yang sedih karena tidak dapat berkerja sama dengan teman mereka.

‘Selamat siang, jangan lupa untuk belajar’ tungkas wali kelas yang meninggalkan kelas.

‘Kalian dapat nomer berapa?’ tanya Hoshi.

‘Kelompok 4’ tungkas Woohyun dan Hanbin secara bersamaan, mereka senang karena mereka di pertemukan dalam satu kelompok.

‘Kamu?’ tanya Hoshi ke Hyungwon.

‘Aku dapat kelompok 3, rasanya ingin tukar dengan orang yang memiliki kelompok nomer 4’ keluh Hyungwon.

‘Aku ingin tukar ke kelompok nomer 4’ pinta Hoshi.

Mereka berempat terdiam sejenak, memikirkan bagaimana mereka bisa menukar nomer kelompok.

Hoshi berjalan ke depan kelas dan berdiri dekat meja guru ‘Hey, siapa yang memiliki kelompok nomer 4’ tungkas Hoshi dengan suara agak keras, membuat teman-teman kelasnya menengok ke dirinya. Ada dua orang yang mengangkat tangan.

‘Maukah kalian menukar nomer kalian dengan nomer ku dan Hyungwon? Woohyunie akan memberikan kalian kesempatan foto bareng bersama Kwon Bora nanti sore’ ucapah Hoshi membuat teman-teman kelasnya bersorak dan berebut nomer 4.

‘Ya! Aku tidak bilang seperti itu’ protes Woohyun.

‘Hoshi memang suka memanfaatkan orang lain’ keluh Hanbin yang melihat temannya itu. Seorang teman perempuanya mengangkat tangan ‘Aku tidak ingin foto dengan Kwon Bora’ tungkas gadis itu.

‘Yah, aku tahu, kau akan lebih menyukai nonton bersama Hyungwon, makan malam bersama Woohyun atau jalan bersama Hanbin’ tungkas Hoshi yang membuat ketiga temannya menatapnya dan Hoshi hanya membalas tatapan teman-temannya dengan tawa.

‘Aku setuju untuk bertukar kelompok, asal bisa foto bersama dengan Kwon Bora’ tungkas seorang anak laki-laki, Hoshi mendadak senang. Woohyun menutup kedua matanya dan mengerutkan keningnya.

‘Aku juga setuju untuk bertukar kelompok, asal bisa nonton bersama Hyungwon’ ucap seorang gadis yang membuat seisi kelas menjadi bising.

‘Deal’ tungkas Hoshi. Ia kembali ketepat duduknya dengan perasaan senang. Woohyun memutarkan tubuhnya ke bangku belakang dan menatap Hoshi.

‘Kerja yang bagus, aku tau kau sangat menyusahkan’ gerutu Woohyun.

‘Terimakasih tidak melibatkanku’ tungkas Hanbin dengan senyum lebar.

‘Berhenti untuk menjual namaku’ tungkas Hyungwon.

Hyungwon berdiri dan berjalan menuju tempat gadis yang ingin bertukar nomer kelompok dengannya. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan lalu menatap Hyungwon dengan malu-malu.

‘Jadwal ku minggu ini sangat padat dengan les, aku rasa aku tidak pergi nonton denganmu. Bagaimana aku tukar dengan konsultasi pelajaran? Kamu boleh menanyakan apapun tentang pelajaran ke akun Line ku’ tungkas Hyungwon yang memberikan ponselnya ke gadis itu agar gadis itu mengetik ID Line nya. Setelah mengetiknya, gadis itu mengembalikan ponsel Hyungwon dengan malu-malu.

‘Apa kamu mengunakan Line karena Hoshi?’ tanya gadis itu.

‘Tentu, bagaimana tidak? Hoshi selalu memaksa kami untuk membuat banyak aku media sosial tempat Ayahnya menanam modal. Tapi kami suka dengan itu’ tungkas Hyungwon yang di akhir dengan senyuman, membuat gadis yang duduk di hadapannya hampir terpekik senang.

‘Jangan sok tampan, aku yang paling tampan disini’ tungkas Woohyun yang merangkul bahu Hyungwon dan membawa Hyungwon keluar dari kelas. Hanbin dan Hoshi mengikutinya dari belakang.

‘Kira-kira siapa satu lagi yang masuk kelompok kita yah?’ tanya Hanbin.

‘Entahlah, aku harap dia adalah pencinta ku’ tungkas Woohyun dengan percaya diri.

‘Aku hanya berharap kamu akan terus merasa kesulitan karena Wooyeon Noona’ ledek Hoshi. Yang meledek hanya berlari sepanjang lorong kelas.

‘Oh.. Bora Noona’ tungkas Hoshi yang melihat Bora keluar dari mobil berwarna hitam. Ketiga temannya mengerubungi Hoshi untuk melihat Bora.

‘Ya! Aku tak menyangka ia sangat cantik sekarang’ puji hanbin.

‘Pantas saja ponsel mu tertinggal, kau terpanah dengan kecantikan Bora Noona’ tungkas Hoshi.

‘Aku tak menyangka ia banyak berubah’ komentar Hyungwon.

‘Ayo kita samperin’ ajak Woohyun.

‘Hoshi-e, cepat panggil laki-laki yang ingin berfoto dengan Noona. Kami tunggu di bawah yah’ tungkas Hanbin yang jalan duluan bersama Hyungwon dan Woohyun.

 

 

Untuk menjaga segala pembicaraan yang akan terjadi, Hyungwon, Woohyun dan Hanbin masuk kedalam mobil Bora. Hanbin duduk di depan, samping supir, sedangkan Hyungwon duduk di tengah sendirian. Woohyun dan Bora duduk di belakang.

‘Apa kamu tidak memiliki foto ataupun lagu ku di ponselmu?’ protes Bora.

‘Apa Noona memeriksa ponselku?’ tanya Woohyun.

‘Tidak, aku hanya meminjam ponselmu ketika aku bosan’ tungkas Bora yang memberikan ponsel milik Woohyun.

‘Woo.. case nya sudah berubah’ tungkas Hyungwon yang melihat case ponsel woohyun lewat kaca dekat supir.

‘Tidak terlalu buruk’ komentar Woohyun ketika melihat ponselnya.

‘Aku hanya memberikan case yang sudah tidak terpakai lagi. Jangan terlalu senang’ tungkas Bora dengan suara sedikit ketus.

‘Noona, Jjang. Memang tidak pernah berubah judes nya’ komentar Hanbin yang membuat kepalanya di pukul oleh Hyungwon.

‘Ah.. sakit’keluh Hanbin.

‘Tunggu sampai kamu aku jadikan photographer pribadi ku, maka kamu akan lihat sisi lain dari diriku’ tungkas Bora.

‘Tidak mau! Bergaul dengan Woohyun, Hyungwon dan Hoshi saja sudah menjadi beban tersendiri. Apa lagi jika aku jadi photographer Noona’ tungkas Hanbin.

‘Apa kamu mau mati?’ tungkas Woohyun yang di barengi oleh Hyungwon yang memukul kepala Hanbin agar Hanbin bisa diam.

‘Ah, sakit’ keluh Hanbin dengan kesal.

‘Noona, Annyeong’ tungkas Hoshi yang membuka pintu samping supir.

‘Syukur kau cepat datang’ tugkas Hanbin yang turun dari dalam mobil, kini Hoshi duduk di tempat hanbin duduk tadi. Seorang laki-laki masuk dan duduk di samping Hyungwon.

‘Siapa dia?’ tanya Bora.

‘Noona, aku minta maaf. Maukah kamu berfoto dengannya sebentar?’ mohon Woohyun.

‘Apa kamu telah menjual namaku?’ tanya Bora dengan nada bicara yang sedikit tinggi di ujung kalimatnya.

‘Ayolah Noona’ bujuk Hyungwon yang memasang wajah sok imut. Bora menghela nafas.

‘Aku akan berikan Noona boneka Brown dari Line, boneka yang besar’ tungkas Hoshi.

‘Tidak perlu, aku hanya ingin lipstick yang di gunakan Hyungwon. Sangat manis’ ledek Bora. Yang di ledek malah menatap Bora dengan Kesal.

‘Noona, Gomawo’ Tungkas Woohyun setelah Bora berfoto dengan laki-laki itu. Setelah laki-laki itu keluar, Bora memberikan sebuah hadiah dalam tas karton ke Hyungwon. Yang di beri hadiah hanya menatap Bora.

‘Ini untuk mu’ tungkas Bora.

‘Ayo kita turun, Noona memang hanya mencintai Hyungwon’ protes Woohyun yang keluar dari mobil Bora dan di susul oleh Hoshi, tak lama kemudian Hyungwon juga keluar dari mobil Bora.

‘Ayo cepat. Murid lainnya sudah melihat kearah kita’ tungkas Hanbin yang melihat jendela kelasnya.

‘Ini untuk kalian, makan yang banyak, belajar yang banyak dan berbelanja yang banyak’ Bora memberikan sebuah tas karton besar dengan isi makanan, dan beberapa barang-barang. Woohyun mengambil tas karton yang di berikan Bora.

‘Ayo kita ke kelas, aku sudah rindu dengan Fans ku’ tungkas Woohyun saat membalikan tubuhnya menghadap sekolahnya. Di sampingnya berdiri Hanbin, Hyungwon dan Hoshi yang sama-sama melihat kearah sekolah.

Mereka dapat melihat banyaknya murid yang berdiri di depan jendela dan bersorak ketika mobil Bora keluar.

‘Aku harap aku tidak pernah jadi seorang artis’ tungkas Hanbin yang berjalan duluan.

‘Inikah rasanya memiliki banyak fans?’ tungkas Hoshi yang melamun menatap kaca-kaca sekolahnya.

‘Terkadang memiliki teman artis tidak enak’ Tungkas Hyungwon yang berjalan membawa tas karton dari Bora.

‘Ah.. Aku memang yang paling tampan’ tungkas Woohyun sambil berlari mengejar Hanbin. Ia berjalan merangkul Hanbin.

 

 

Woohyun membuka pintu kelas, ia memasuki kelas, disusul dengan Hoshi, Hanbin dan Hyungwon. Seisi kelas sibuk membicarakan mereka yang baru saja bertemu dengan Bora di lapangan sekolah tadi. Hyungwon dan Woohyun meletakan tas karton yang mereka bawa di meja masing-masing. Karena mereka harus mengerjakan tugas kelompok yang sangat banyak, mereka memutuskan untuk menyatukan meja mereka. Woohyun dan Hanbin duduk sejajar, di depan mereka duduk Hyungwon dan Hoshi. Mereka mengeluarkan buku pelajaran mereka.

‘Aku mau lihat apa yang Bora Noona berikan’ tungkas Hoshi, Woohyun memberikan tas karton besar itu kepada Hoshi.

Hoshi membongkar tas karton tersebut dan memberikan barang-barang yang ada di dalam tas karton tersebut sesuai dengan namanya. Woohyun mendapatkan sebuah dompet baru, Hanbin mendapatkan sebuah celengan berbentuk lensa kamera, Hoshi mendapatkan mp4 baru, Sedangkan seluruh makanan yang ada di dalam tas karton tersebut tertulis dengan nama Hyungwon. Yang di beri banyak makanan hanya tertawa.

‘Lalu apa isi tas itu?’ tanya Hanbin penasaran. Hyungwoon membuka tas karton tersebut, ketiga temannya bersorak, bahkan murid-murid di kelas juga bersorak melihat kado yang di keluarkan oleh Hyungwon dari dalam tasnya.

‘Aku pernah lihat Noona memakainnya’ tungkas Hoshi yang sibuk mencari foto Bora memakai tas yang sedang Hyungwon pegang.

‘Noona hanya mencintai kamu’ tungkas Woohyun dengan kesal. Hoshi memperlihatkan foto di ponselnya, membuktikan kalau Bora pernah memakai tas tersebut.

‘Kau memang terkenal’ komentar Hanbin.

Bora memberikan sebuah tas berwarna hitam berbahan kulit dari merek terkenal Zara. Hyungwon hanya menatap satu persatu sahabatnya dengan senyuman lalu memasukan tas tersebut kedalam tas karton dan meletakan tas karton tersebut di kolong meja. Kini meja mereka telah penuh dengan buku-buku dan alat tulis.

‘Siapa lagi yang masuk kelompok kami?’ tanya Woohyun yang sedang mengerjakan tugas. Beberapa menit kemudian Seolhyun duduk di samping Woohyun.

‘Syukurlah tetangga baru yang masuk kedalam kelompok kami’ ucap Hyungwon.

‘Dari dekat kamu sungguh sangat cantik, tapi kenapa kamu begitu angkuh?’ tanya Woohyun yang menompang kepalanya dengan sebelah tangan dan menatap Seolhyun yang sedang fokus denga buku pelajarannya. Merasa di acuhkan, Woohyun mengambil coklat dalam tasnya.

‘Aku minta maaf masalah menabrakmu kemarin’ tungkas Woohyun yang menyodorkan sebatang coklat ke hadapan Seolhyun.

‘Hai Tuan muda, berhentilah memanfaatkan apa yang kalian punya untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan’ tegur Seolhyun. Ke empat laki-laki yang duduk di meja yang sama menatap Seolhyun.

‘Itu sebabnya aku tak suka dengan Haters’ celetuk Hanbin yang kembali mengerjakan tugasnya.

‘Kamu harus mengenal kami, maka kamu akan tahu kami seperti apa’ tungkas Hoshi.

‘Apa salahnya terima saja coklat dari Woohyun, ia jarang memberikan barang kepada gadis’ tungkas Hyungwon yang sibuk membaca buku.

‘Selain cantik dan angkuh, kamu juga keras kepala. Tapi aku suka’ tungkas Woohyun yang di selingi tawa. Seolhyun hanya bisa mengerutu dalam hati karena di hadapkan empat cowok menyebalkan.

Matahari hampir tenggelam, mereka baru saja menyelesaikan setengah tugas mereka.

‘Aku lelah’ tungkas Woohyun yang melentangkan tanganya. Hoshi yang jarang fokus dengan tugasnya harus menempelkan kepalanya di atas buku yang cukup tebal.

‘Aku hampir saja tertidur karena semua tugas ini’ keluh Hanbin yang memasukan semua buku-bukunya kedalam tas.

‘Besok mari kita lanjutkan’ ajak Hyungwon yang menutup bukunya. ia memasukan semua buku-buknya kedalam tas, begitu juga dengan Hoshi. Woohyun dan Seolhyun.

‘Kita sudah lama tidak upload video di Youtube’ tungkas Hoshi.

‘Uangnya masih ada, aku bingung mau aku apakan’ tungkas Woohyun yang mengecek dompet barunya.

‘Aku punya konsep baru untuk video kita, bagaimana jika jumat ini kumpul di rumahku’ ajak Hanbin.

‘Kenapa tidak hari minggu saja?’ tanya Hyungwon.

‘Betul, aku bisa kena omel jika Noona tahu aku ke rumah mu bukan untuk belajar, melainkan untuk main’ keluh Hoshi.

‘Hari minggu aku ingin pergi dengan Eunha’ Tungkas Hanbin. ketiga temannya tidak dapat memprotes hal tersebut. Namun sebuah rasa menyelinap di hati Seolhyun, rasanya sungguh tidak nyaman. Ia hanya bisa berdiam diri.

‘Kamu harus datang jumat nanti, aku akan pinjamkan banyak buku pelajaran kepadamu’ tungkas Hyungwon kepada Seolhyun.

‘Baiklah’ tungkas Seolhyun yang berdiri dan berniat untuk pamit.

‘Ya! Ayo kita makan, aku yang traktir’ tungkas Woohyun ketika melihat dompet yang di berikan Bora. Ketiga temannya bersorak ketika mendengar ucapan Woohyun.

‘Aku pergi duluan’ tugkas Seolhyun.

‘Mau kemana kamu? Kamu harus ikut’ tungkas Woohyun yang mengandeng lengan Seolhyun, yang di gandeng terkejut dan mencoba untuk melepaskan tangan Woohyun.

 

Hoshi melihat pantulan giginya di cermin, ia sedikit berfikir tentang warna apa yang akan ia pakai untuk karet behelnya.

‘Bukannya kamu harus menganti karet behel mu?’ tungkas Hanbin yang sibuk dengan SLR nya.

‘Iya, besok sore aku akan menganti warna karet behelku’ tungkas Hoshi yang masih melihat giginya di depan cermin.

‘Bagaimana dengan Noona mu?’ tanya Woohyun yang penasaran dengan cerita Noona kembar Hoshi.

‘Terkadang aku rasa aku harus bunuh diri ketika bertemu dengan mereka berdua. Kalian tahu, sebelum Hyungwon pulang, kedua Noona ku ada dalam persidangan yang sama. Sola Noona menjadi pengecara dan Soona Noona menjadi Jaksa. Mereka menangani kasus pembunuhan salah satu pejabat dan akhirnya kasus itu membuka kasus korupsi yang di lakukan oleh sang tersangka’ Keempat teman Hoshi serius mendengarkan cerita Hoshi.

‘Lalu siapa yang menang?’ celetuk Hyungwon.

‘Soona Noona. Aku hampir tak bisa menelan nasi saat makan di rumah karena suasana yang sangat dingin yang mereka ciptakan di meja makan. Saat kasus selesai mereka memutuskan untuk berbelanja bersama. Terkadang aku bertanya kepada mereka, apa mereka lupa kalau mereka selalu membuat aku takut kepada mereka’ tungkas Hoshi dengan wajah sedih, namun ke empat temannya hanya menertawakan nasib Hoshi.

‘Soona Noona memang hebat, Aku semakin mencintainya’ tungkas Hyungwon yang meletakan tanganya di dada dan tersenyum lebar.

‘Apa kamu mau mati?’ tungkas Hoshi dengan nada tinggi, membuat Woohyun tertawa lepas.

‘Untung aku tidak memiliki seorang kakak perempuan’ tungkas Hanbin yang langsung melahap makananya ketika pelayan mengantarkan ke meja mereka. Untuk beberapa saat mereka terdiam, sibuk dengan makanan mereka masing-masing.

‘Ah, bagaimana dengan Wooyeon Noona? Apa ia sudah pulang dari Busan?’ tanya Hanbin.

‘Malam ini ia akan pulang, aku curiga ia memiliki seorang kekasih’ tungkas Woohyun dengan makanan yang penuh di mulutnya.

‘Ah, aku bisa patah hati’ tungkas Hyungwon yang meletakan kedua tanganya di dadanya.

‘Kalian harus dengar, aku memaklumi semua sikap Hyungwon karena ia adalah sahabatku yang ganteng, pintar dan baik. Jika bukan karena itu, aku akan membuat mukanya seperti kimchi’ tungkas Hoshi dengan cepat.

‘Ah, sepertinya hanya kamu yang tak berbicara sama sekali’ Hyungwon melihat Seolhyun yang asik mengabiskan makan malamnya.

‘Jangan ganggu gadisku’ tungkas Woohyun.

‘Makasih untuk makan malamnya’ tungkas Seolhyun dengan sedikit senyuman tipis, membuat empat laki-laki yang duduk dekatnya tidak berkedip.

‘Aih, Aku lupa mengabarkan Eunha’ tungkas Hanbin yang mengalihkan pandanganya. Ucapan Hanbin membuat teman-temannya fokus kembali kepada makanan yang ada di hadpaan mereka.

‘Ini untukmu, aku baru mendapatnya kemarin lusa’ tungkas Hoshi yang memberikan boneka Cony kepada Seolhyun.

‘Terimakasih’ tungkas Seolhyun.

‘Dasar wanita, aneh’ gerutu Woohyun.

‘Untuk kejadian tadi siang, aku mengucapkan terimakasih’ tungkas Seolhyun yang menundukan kepalanya ketika mengucapkan terimakasih.

‘Ini untuk kamu’ Hyungwon memberika es stoberi kepada Seolhyun.

‘Kenapa kamu memberikan ini kepadaku?’ tanya Seolhyun.

‘Karena kamu seperti stoberi. Terlihat cantik, tapi kata-katamu terkadang manis dan terkadang asam’ ujar Hyungwon yang membuat teman-temannya tertawa.

‘Aku sudah selesai makannya’ tungkas Woohyun. Yang meletakan sumpit yang tadi ia pegang di atas meja.

‘Kamu tidak menghabiskan makanannya?’ tanay Seolhyun.

‘Ia tidak akan menghabiskan makanannya saat sedang makan mood nya mendadak jelek’ ucap Hyungwon. Woohyun mengeluarkan sejumlah uang dan meletakan di atas meja.

‘Aku duluan yah, jangan pulang malam-malam kalian, besok kita mesti harus sekolah’ tungkas Woohyun yang bangkit dari duduknya. Saat ia sudah beranjak dari meja tempat ia makan, ia memutar tubuhnya dan menengok ke Seolhyun.

‘Kamu tidak pulang? Hyungwon akan Les, Hoshi akan latihan dance, dan Hanbin akan menjemput Hanbyul. Ayo kita pulang!’ tungkas Woohyun yang menarik tangan Seolhyun untuk pulang.

COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK