SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > A Long Way

A Long Way

Share:
Author : Luan
Published : 31 Aug 2015, Updated : 03 Sep 2015
Cast : Suzy & Taecyeon
Tags :
Status : Ongoing
0 Subscribes |444 Views |1 Loves
A Long Way
CHAPTER 1 : Oneshoot

Sayang sekali, Taecyeon adalah putra dari keluarga kaya yang sudah menghabiskan tahun-tahunnya di sekolah-sekolah bergengsi di Amerika. Jika saja dia tidak se-kaya itu, Suzy yakin rasa percaya dirinya masih ada untuk bisa mendapatkannya.

Tiga tahun yang lalu mereka bertemu di Myongdong. Ketika itu hujan lebat, Suzy berlarian di sepanjang jalan untuk mencari tempat berteduh. Dan tahu-tahu Taecyeon datang. Ia menawarkan payungnya yang lebar. Suzyyang tidak kenal basa-basi saat itu dengan serta-merta menerima tawaran Taecyeon. Dan mereka berjalan berdua di sepanjang jalan di Myongdong.

Mereka tidak bertemu lagi setelah hari itu. Suzy bahkan tidak tahu siapa nama laki-laki baik yang sudah memberikannya tumpangan itu. Mereka berpisah ketika sampai di stasiun bawah tanah. Suzy hanya mengatakan terima kasih dan laki-laki itu hanya tersenyum kemudian pergi.Baru satu bulan kemudian Suzy melihatnya duduk di spot favoritnya di restorat tempatnya bekerja. Laki-laki itu yang lebih dulu menyapanya. Dia sangat ramah.

“Hei, kau Nona yang waktu itu kan? Yang di Myongdong?”

“Ya, benar. Terima kasih atas bantuan mu saat itu.”

Dia memangut. “Kau bekerja di sini?”

“Ya, aku bekerja paruh waktu di sini.”

“Apa bos mu akan marah jika kau menemani ku mengobrol sebentar?”

“Sebenarnya saat ini aku sedang istriahat.”

Dia tersenyum. “Kalau begitu, kau tidak keberatan bukan?”

Sejak hari itu mereka seling kenal. Taecyeon hampir setiap hari datang ke restoran untuk mengobrol dengannya. Ketika Taecyeon tahu di mana rumahnya, ia selalu mengatarnya pulang sehabis kerja. Selama beberapa bulan Taecyeon selalu mengantarnya pulang dengan duduk di bangku belakang bis, lalu berjalan berdua melintasi gang menuju rumah Suzy.Suatu ketika Taecyeon datang membawa mobil mewahnya, dan saat itulah akhirnya Suzy menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ingin ia tanyakan.

Jawaban itu mengejutkan tapi Suzy bisa menerimanya dengan baik. Mereka masih jalan bersama selama beberapa bulan─ sebelum Suzy merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. Suzy mulai menghindarinya. Dan terus menghidarinya.

Suzy tidak tahu sejak kapan hal-hal sederhana itu membuat rasa suka tumbuh di hatinya. Dan sepertinya rasa suka itu sudah hinggap cukup lama. Harusnya ia bisa menyadari itu lebih awal─ sebelum ia tahu kalau Taecyeon adalah putra dari keluarga kaya─ sehingga ia dapat mengutarakan perasaaannya. Jikapun Taecyeon menolaknya dan akhirnya Suzypun tahu tentang latar belakangnya, perasaannya tidak akan begitu tersiksa seperti sekarang.

Tidak seharusnya juga Suzy bersembunyi─ ia menyesalinya sekarang (namun merasa yakin itulah yang terbaik untuknya juga Taecyeon). Toh, selama Suzy mengenalnya, Taecyeon bukanlah laki-laki yang membeda-bedakan orang dengan harta. Taecyeon hanya laki-laki ramah yang baik hati. Meskipun kenyataannya dia sangat pintar, dia tidak pernah mejadi seseorang yang sok. Dia itu... ah, sungguh apa yang telah diimpi-impikan.

Hanya saja selalu ‘si miskin dan si kaya’ yang menjadi masalahnya.

Jikalau Taecyeon akhirnya menerima dirinya─dengan seutuhnya─ apakah keluarganya juga akan melakukan itu kepadanya? Menerimanya dengan tangan terbuka dan senyuman yang seindah bunga. Tidak, tidak, bukannya Suzy berfikir bahwa keluarga Taecyeon adalah keluarga yang... yah anggap saja jahat─ Suzy hanya merasa bahwa ia tak pantas.Lagipula mana ada orang tua yang ingin anaknya menikah dengan gadis yang hidup dari hari ke hari seperti dirinya?

Oke, oke. Anggap saja keluarganya akan menerima keadaan finansialnya. Mereka sama seperti Taecyeon, bukan orang yang membeda-bedakan orang lain dengan harta. Dan mereka merestui Taecyeon memiliki hubungan dengannya. Setelah menghabiskan masa-masa pacaran yang indah, laki-laki itu meminta Suzy untuk menjadi istrinya, dan, tentu saja, Suzy menerimanya. Tapi ternyata Taecyeon tidak mengatakan kepada keluarganya bahwa Suzy adalah gadis yang tumbuh tanpa orang tua, kerabat, atau semacamnya karena suatu hal. Dan begitu Taecyeon mengatakan hal tersebut kepada mereka, masihkah mereka dapat menerimanya? Oh, Suzy pikir ia akan gila jika pernikahannya dibatalkan dan laki-laki itu dipisahkan jauh darinya. Suzy tidak sanggup untuk kemungkinan itu.

Sebelum perasaan sukanya merubah laki-laki itu menjadi darah dagingnya, menghindarinya adalah  hal yang tepat. Suzy berusaha melupakan perasaannya. Seiring  berjalannya waktu, Suzy menemukan laki-laki lain yang dirasa lebih pantas untuknya. Suzy memiliki perasaan yang istimewa kepada laki-laki itu. Dia akhirnya berhasil melupakan Taecyeon.

***

Di suatu sore, ketika Suzy berada duduk menunggu kekasihnya di taman, tahu-tahu bayangan Taecyeon muncul di benaknya. Suzy rasakan rindu meremas hatinya. Makasore itu Suzy batalkan kencan dengan kekasihnya. Ada sahabat lama yang ingin sekali ku temui, katanya. Ia pulang ke rumah untuk mengacak-acak beberapa kardus di gudang apartemennya─ ia yakin masih menyimpan buku telepon yang bergambar Okcat itu─ ada nomor telepon Taecyeon di sana.

Suzy menemukan buku telepon itu, namun tidak dengan nomor telepon Taecyeon. Ia baru ingat kalau ia telah merobek dan membakarnya ketika berusaha melupakan laki-laki itu dulu. Untungnya didalam buku itu masih ada nomor telepon temannya yang juga merupakan teman Taecyeon. Suzy rasa ia bisa menghubunginya untuk dapat mengetahui bagaimana hidup Taecyeon sekarang.

Beberapa hari kemudian ia bertemu dengan temannya itu. Awalnya Suzy sendiri terlonjat mendapati dirinya yang setengah mati penasaran dengan kehidupan orang yang sudah di lupakannya bertahun-tahun yang lalu. Tapi Suzy anggap itu sebagai tenggang rasa karena mereka pernah sama-sama kenal─ tidak ada salahnya untuk mengetahui kabar masing-masing. Sayangnya, begitu mendengar cerita mengenai Taecyeon dari temannya itu, rasa penasaran Suzy malah berubah menjadi penyesalan. Penyesalan yang teramat sangat.

Kepadanya, temannya itu bercerita:“Taecyeon begitu sedih ketika kau tiba-tiba saja pergi dulu. Kau tahu? Taecyeon bermaksud menjadikan mu kekasihnya. Yah... mungkin kau merasa ia tidak menunjukkan hal seperti itu, tapi... ya, kau tahu ‘kan? Taecyeon memang tidak pandai menunjukan perasaannya. Dan apa kau tahu kalau Taecyeon sudah menceritakan banyak hal tentang mu kepada orang tuanya? Waktu itu, orang tua Taecyeon sendiri yang mengatakan padaku tentang keinginan mereka untuk menemui mu─ku rasa mereka menyukai mu. Ah... kenapa kau menghilang seperti itu? Taecyeon benar-benar sedih tahu! Dua tahun yang lalu, ketika dia merasa tidak bisa menemukan mu, dia pergi ke luar negeri. Aku tidak tahu di mana─ aku tidak mendengar kabar apapun lagi setelah itu.”

Setelah pertemuan itu, Suzy berbaring selama berhari-hari di atas ranjang kerena demam.Demam itu menyerang sampai ke hatinya. Suzy rasakan hatinya memanas, sakit, dan tak berdaya. Suzy baru sadar; ia menyukai Taecyeon lebih dari laki-laki manapun yang pernah ditemuinya. Dan Suzy merasa begitu menyesal tidak pernah berusaha memperjuangkannya, padahal laki-laki itu─ tanpa sepengetahuannya─ telah mempertaruhkan segalanya untuknya.Alangkah bodohnya aku ini.

Suzy putuskan untuk memperjuangkan Taecyeon ketika demamnya telah membaik. Melalui sambungan telepon, Suzy putuskan hubungannya dengan kekasihnya; dan menjelaskan semua alasannya. Beruntung, dia adalah laki-laki yang berjiwa besar. Dia bahkan mendoakan semoga Suzy dapat menemukan cinta sejatinya.

***

Rumah Suzy kini pindah ke daerah Myongdong, tempat mereka bertemu dulu. Sekarang Suzy memang sudah berbeda, dia memiliki pekerjaan tetap dan dapat membeli sebuah rumah. Itu juga membuatnya sedikit percaya diri untuk menatap Taecyeon ketika ia berhasil menemukannya nanti. Ya, Suzy tahu: Taecyeon berada di luar negeri, bukan Myongdong. Tapi seingat Suzy, Taecyeon memiliki banyak teman di sini. Beberapa dari mereka masih Suzy ingat wajahnya. Suzy yakin bisa mendapatkan informasi tenatang Taecyeon dari mereka.

Sayangnya, setelah mengahabiskan setengah tahun di Myongdong, Suzy belum mendapatkan informasi yang bagus mengenai Taecyeon. Informasi terbagus yang ia punya saat ini adalah Taecyeon dan keluarganya pindah keluar negeri dan sekitar satu tahun yang lalu ada surat kabar yang mengatakan ia sekeluarga tengah berada di China. Menurut teman Taecyeon, ia hanya berlibur di sana. Dia juga tidak tahu di mana percisnya Taecyeon tinggal. Parahnya, ketika ditanya perihal nomor teleponnya, temannya mengatakan Taecyeon dan keluarganya sudah mengganti semua nomor telepon mereka. Dan dia tidak memilikinya.

Suzy pernah datang ke perusahaan milik keluarga Taecyeon beberapa minggu yang lalu─ ia dapatkan alamat itu dari salah seorang teman Taecyeon. Tapi pegawai di sana tidak ada satupun yang mau mengatakan di mana pemilik perusahaan itu tinggal, bahkan ketika Suzy sudah mengatkan ia mengenal putra mahkotanya. Menyedihkan, tapi setidaknya Suzy sekarang tahu kalau perusahaan miliki keluarga lelaki itu tersebar di empat negara di Asia. Salah satunya China.

Uang yang Suzy punya sekarang ini cukup untuk pergi ke luar negeri dan tinggal beberapa bulan di sana. Jujur saja, Suzy hampir putus asa sekarang. Ia ingin pergi ke China, tempat terakhir kali Taecyeon memberitakan keberadaanya. Yah.. ia memang tidak tahu apakah Taecyeon ada di sana atau tidak, tapi tidak ada salahnya mencoba. Lagipula, sudah hampir pasti Taecyeon tidak akan datang lagi ke Korea.

Dan Suzypun terbang ke China. Ia ingin tinggal untuk beberapa bulan dan menyewa kamar kecil yang letaknya tidak jauh dari anak perusahaan milik keluarga laki-laki itu. Suzy juga bermaksud untuk melamar menjadi karyawan di sana.Dengan begitu ia bisa dengan cepat mengetahui di mana Taecyeon. Sial memang, ketika melamar, Suzy malah tidak lolos, bahkan tidak mendapat kesempatan untuk melakukan tes. Akhirnya Suzy putuskan untuk bekerja di perusahaan lain. Posisinya memang tidak sebagus sewaktu dia bekerja di Korea, tapi setidaknya gajinya cukup untuk membiayainya pergi ke negeara lain jikalu Taecyeon memang tidak berada di sini.

Selama beberapa bulan itu, sebelum dan sesudah berangkat kerja, Suzy datang ke anak perushaan milik keluarga Taecyeon itu. Untuk melihat Taecyeon ada di sana atau tidak, tentunya. Ia benar-benar ke sulitan di sini. Ia bahkan tidak tahu kepada siapa harus bertanya. Dan tidak tahu bagaimana menanyakannya. Ia sudah berusaha mencari foto-foto Taecyeon ataupun informasi sekecil appun mengenainya di surat kabar, koran, dan segalanya tapi tidak membuahkan hasil apa-apa.

Suzy pikir ia harus pindah ke negara berikutnya, uangnya juga sudah lebih dari cukup. Hanya saja ia tidak tahu kemana. Turki atau Thailand, ia tidak tahu harus pilih yang mana. Ia tidak ingin salah pilih, ia ingin segera menemukan Taecyeon. Akhirnya Suzy putuskan untuk mendatangi anak perusahaan itu dan melihat apakah dia bisa mendapatkan sesuatu di sana.

Keputusan Suzy tepat sasaran. Baru saja sampai di halaman depan gedung perusahaan tersebut, Suzy mendengar beberapa orang karyawan yang sedang membicarakan keluarga pemilik perusahaan itu.

“Ku dengar, anak perushaan di Thailand sedang mengalami masa sulit.” Kata salah satu dari mereka dengan bahasa China.

“Ya, aku juga dengar bahwa putra Presdir sendiri yang akan turun tangan untuk menangani masalah itu.”

Akhirnya, bisik batin Suzy. Dengan perasaan senang ia bergegas pulang dan merapihkan semua barang-barangnya untuk bersiap terbang ke Thailand.

Sesampainya di Thailand ia segera mencari di mana letak perusahaan milik keluarga Taecyeon. Namun, setelah menemukannya, Suzy tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin bertanya, tapi ia tidak bisa berbahasa. Jika ini adalah Korea atau China, tentu tidak akan sulit untuknya. Tapi ini Thailand, Suzy bahkan belum sempat mempelajari kata ‘hallo’. Dan bahasa Inggrisnya juga tidak terlalu bagus. Ini akan jauh lebih sulit dari yang sebelum-sebelumnya.

Suzy putuskan untuk mencari sebuah penginapan di sana. Ia rasa ia tidak butuh menyewa sepetak kamar untuk berbulan-bulan seperti di China. Ia memiliki firasat yang baik; ia akan segera berjumpa dengan Taecyeon.

Penginapan itu bergaya khas tradisional Thailand. Suzy sangat menyukai penginapan ini karena harga per-malamnya yang sangat murah. Sambil menepi di ranjang, Suzy sandarkan kepalanya dan berandai-andai─ adaikan esoklah hari perjumpaannya dengan Taecyeon, ia pasti akan sangat bahagia. Mungkin Taecyeon juga sama. Dari situ semuanya terasa bahagia sampai Suzy menutup matanya.

***

Suzy dalam pernerbangan menuju Turki. Sungguh sial, informasi yang dia dapatkan dari karyawan di China kemarin salah besar. Tadi pagi, sekitar sepuluh jam sebelum penerbangan, Suzy membaca surat kabar lokal. Ketika Suzy mendapatkan surat kabar tersebut di depan pintu kamarnya, ia tidak tertarik sama sekali untuk membacanya─ Suzy tidak akan mengerti mengenai isinya. Namun, ketika melihat nama perusahaan miliki keluarga Taecyeon terpampang di halam utamanya, Suzy kelimpungan karena tidak dapat membacanya.

Suzy sudah mengeluarkan cukup tenaga dan uang untuk mencari orang yang dapat menerjemahkan isi surat kabar tersebut. Dan... sangat mengecewakan! Walaupun kemampuan bahasa Inggris Suzy pas-pasan, Suzy masih bisa menangkap dengan jelas apa yang orang asing itu katakan. Anak perusahaan yang berada di Thailand sudah dialihtangankan kepada orang lain. Dalam kata lain, perusahaan itu bukan lagi milik keluarga Taecyeon.Itulah yang orang asing itu katakan.

‘Tak apalah. Aku anggap ini adalah harga yang harus ku bayar untuk dapat mengetahuikalau Taecyeon dan keluarganya menetap di Turki sekarang.

***

Minggu pertama di Turki, Suzy semakin tidak mendapatkan apa-apa. Suzy juga belum bisa mendapatkatkan pekerjaan. Bahkan ia belum menemukan di mana letak perusahaan Taecyeon. Ia tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan─walaupun sebagian orang berbicara dalam bahasa Inggis.Beruntung masih ada penduduk pribumi yang baik dan ramah. Ketika Suzy datang tanpa pengetahuan apa-apa, mereka yang─dengan aksen bahasa Inggris yang sedikit aneh─ bersusah payah memberitahukan tempat-tempat penginapan yang murah dan jalan-jalan yang aman dari pencopet. Tapi, sebelum mereka memberitahukan itu, sebagian uang Suzy sudah dicopet lebih dulu. Ia tidak yakin dapat membayar walaupun itu adalah sebuah penginapan dengan harga termurah.

Ketika hari sudah gelap, Suzy masih berdiri di depan sebuah toko roti sambil menyumpahi orang yang telah mencopet uangnya. Ia juga berharap toko yang di belakngnya itu ─walaupun sedikit tidak mungkin─ adalah toko roti langganan Taecyeon. Sehingga Taecyeon akan datang dan melihatnya berdiri di sana. Ketimbang rasa kesalnya terhadap sang pencopet, rasa rindunya kepada Taecyeon jauh lebih banyak.

“Apa yang kamu lakukan di sini, nak? Ini sudah larut─ tidak baik seorang gadis muda berada di luar rumah.” Kata seorang wanita berkerudung dengan bahasa Turki yang cepat.

Suzy menatapnya, bungkam. Dan wanita itu langsung mengerti bahwa Suzy tidak mengerti apa yang di ucapkannya. Maka wanita itu mengulanginya lagi dengan bahasa Inggris beraksen aneh.

“Uang ku dicopet.” Jawab Suzy seadanya.

“Kau datang dari mana?”

“Aku dari Thailand. Tapi tempat tinggal ku di Korea.”

Wanita itu mengangguk-anggukan kepalanya.Dia paham dan tampak berempati untuk Suzy. Ketika suami wanita itu datang menjemputnya, ia mengajak Suzy pulang bersamanya.

***

Bu Ahmed dan Pak Ahmed tinggal sebuah rumah di pinggir kota Istanbul, jauh dari para turis. Rumah mereka sederhana, tapi sangat hangat. Tidak pernah terdengar keribuatan. Pak Ahmed, Bu Ahmed, dan kedua anaknya sangat rukun. Mereka adalah orang-rang yang berhati tulus. Suzy ingat ketika ia kehilagan uangnya dan Bu Ahmed membawanya pulang tanpa berfikir ia adalah orang jahat atau mengatakan Suzy dapat membayar biaya hidupnya setelah ia punya uang nanti. Mereka benar-benar orang yang dirahmati. Tinggal bersama mereka membuat Suzy merasa memiliki keluarga. Dan ini adalah bulan kedua mereka tinggal bersama.

Biasanya Suzy membantu bu Ahmed berjualan roti di tengah kota. Asal tahu saja, roti buatan Bu Ahmed sangatlah enak. Tapi, entah apa masalahnya, tokonya sering sepi pengunjung. Bulan lalu Suzy sarankan untuk membuat varian rasa roti yang berbeda setiap harinya dan memajang menunya di depan toko. Cara itu cukup berhasil dan hasil penjualan mereka bertambah. Sayangnya, tetap ada saat-saat di mana sedikit sekali orang yang mengunjungi toko. Kalau banyak sisa, Bu Ahmed tidak bisa membuat varian rasa yang berbeda esoknya. Itu akan merugikan.

Hari ini Suzy tidak sedang membantu bu Ahmed. Ia sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan. Di perusahaan milik keluarga laki-laki itu. Anak laki-laki keluarga Ahmed yang menemukan alamatnya dan membatu Suzy medapatkan pekerjaan di sana.

Dua hari setelah Bu Ahmed dan suaminya membawanya pulang, mereka menanyakan alasannya datang ke Turki.

“Apa yang membawa mu sampai ke sini?” caranya bertanya sangat lembut, Suzy masih ingat.

“Ada seseorang yang aku cari.”

“Siapa?”

“Seseorang. Dulu aku meninggalkannya karena suatu alasan. Ku pikir itu tidak akan memberikan dampak apapun terhadapnya─ ternyata aku salah. Dia menghabiskan banyak waktu untuk mencari ku. Ketika itu aku sudah lupa semua hal tentangnya dan tidak pernah ada niat untuk kembali. Ya, dia tidak berhasil menemukan ku, aku bersembunyi dengan baik,”

“Sungguh, saat itu aku tidak tahu kalau dia akan seperti itu, dan mencari ku. Hingga suatu ketika aku teringat tentangnya, aku merasakan sesuatu yang meremas-remas hati ku. Aku mencari tahu tetang kehidupannya─ teman kami mengatakan dia berserta keluarga telah pergi, tidak ada yang tahu ke mana.”

“Lalu, mengapa Turki?”

“Aku dapat informasi kalau keluarganya memiliki beberapa anak perusahaan yang tersebar di Asia, salah satunya di Turki. Beberapa hari yang lalu, aku membaca surat kabar di Thailand yang mengatakan kalau dia dan keluarganya tinggal di negara ini sekarang. Jadi, aku terbang ke sini untuk bisa menemukan perusahaan itu, menjadi salah satu karyawan di sana, mencari sebanyak-banyaknya informasi tentangnya, dan... jika beruntung aku akan langsung bertemu dengannya,”

“Ini yang terakhir. Jika aku tidak bisa menemukannya di sini... aku tidak tahu lagi harus ke mana.”

Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. “Perjalanan mu panjang, nak. Beritahu kami apa nama perusahaan itu. Aku tidak bisa menjamin, tapi insyaallah kami akan menjadi kendaraan mu. Kau harus melaju dengan cepat di jalan yang panjang─kau tidak tahu kapan waktu mu habis. Kami ingin membantu.”

Dan di sinilah Suzy. Ia berdiri di salah satu gedung megah di tengah kota Istanbul─ berkat Bu Ahmed dan keluarganya. Ini tidak akan lama lagi, batin Suzy.

***

Suzy menjalani hidup mewah dan menyenangkan di Swiss, negeri yang sudah ia impi-impikan sejak kecil.

Usia Suzy tiga puluh lima tahun sekarang. Dia telah menjadi seorang pebisnis ternama. Namanya mencuak sejak restorannya mendapatkan pengakuan dari masayarakat internasianal. Awal berdiri di Turki, sekarang restoran Suzy sudah menjamah negara-negara lain seperti Korea, China, Tahiland, Spanyol, Kanada dan negara-negara lainnya.Ah, Turki. Suzy sungguh tidak menyangka negeri yang berada di antara barat dan timur itu menjadi titik antara kehancuran dan keberhasilannya.

Suzy pernah menjadi gelandangan di sana. Tinggal di jalanan. Hidup dari hari ke hari.Bekerja di perusahaan itu─ tanpa bermaksud tidak menghargai usaha anak laki-laki Bu Ahmed─ tidak menghasilkan apa-apa bagi Suzy. Dia tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkannya. Ok Taecyeon... bahkan telinganya tidak pernah sekalipun mendengar nama itu disebut. Ketika rasa putus asa itu mencekiknya, tiba-tiba saja seorang atasannya menebak tujuannya bekerja di perusahaan itu. Suzy bahagia mendengar atasannya menawarkan bantuan padanya. Walaupun Suzy harus memberikan seluruh uang tabungannya─ dia rela─ untuk mendapatkan informasi tentang Taecyeon, akan ia berikan semuanya.

Berhari-hari, bermingu-minggu, atasannya itu tidak datang lagi padanya. Suzy yang sudah tidak sabar lagi menunggu  akhirnya memutuskan untuk datang ke ruangannya. Dia tidak ada di sana. Di meja kerjanya, berkas-berkas menggunung. Nampaknya dia sudah lama tidak datang untuk bekerja. Hati Suzy gusar seketika, tapi di kesempatan itu ia mengacak-acak seluruh ruangannya untuk menemukan apa yang di carinya. Suzy menemukan sebuahbussines file dengan beberapa lembar kertas di dalamnya.

Suzy menangis ketika membacanya. Kertas-kertas itu memiliki semua fakta tentang perusahaan itu. Termasuk fakta bahwa Taecyeon dan keluarganya sudah mengalihtangankan seluruh perusahaan dan anak-anak perusahaan. Hati Suzy hancur se-hancur-hancurnya. Dan menjadi puluhan kalilipat lebih hancur ketika mendengar bahwa atasannya itu tersandung kasus korupsi dan melarikan diri satu bulan yang lalu, tepat di hari di mana Suzy memberikan seluruh uang tabungannya. Belum cukup di situ, Suzypun ikut terseret oleh masalah itu karena ada beberapa karyawan yang melihatnya memberikan uang kepada atasannya itu. Mereka menuduh Suzy membantunya melarikan diri. Mereka juga tidak mau mengerti bahwa Suzy juga korban di situ. Pada akhirnya, Suzy dipecat secara tidak terhormat tanpa mendapat gaji dan uang pesangonnya.

Suzy hidup sebagai gelandangan sejak itu. Ia malu untuk mengunjungi keluarga Ahmed lagi. Tapi selama hidup di jalanan, Suzy mengingat dan mencoba mengamalkan nasihat-nasihat yang pernah mereka berikan kepadanya.

“Jangan pulang malam dan melalui tempat yang sepi. Jika kau sudah menemukan oang yang kau cari, mintalah dia menemani mu jika kamu ingin pergi keluar rumah, kemanapun itu. Karena kau seorang gadis yang belum bersuami, atau memiliki muhrim di negeri ini─laki-laki bisa mencelakai mu kapan saja.”  Nasihat Pak Ahmed.

“Jangan bawa laki-laki masuk ke rumah mu.  Akan menjadi fitnah karena kau tidak bersuami dan tidak memiliki muhrim di sini. Orang-orang akan memperlakukan mu dengan sangat kejam jika fitnah semacam itu menyebar.” Nasihat anak perempuan keluarga Ahmed.

“Aku sudah pernah mejelaskan ciri-ciri temapat-tempat yang tidak boleh kau kunjungi. Kau masih ingat ‘kan? Tolong ingat terus itu. Dan aku sudah memberitahu di mana saja daerah pertokoan yang memiliki pemilik yang ramah. Itu juga harus kau ingat.” Nasihat anak laki-laki keluarha Ahmed.

“Suzy, aku menyayangi mu seperti anak perempuan ku. Aku juga menjaga mu seperti aku menjaga anak perempuan ku. Karena itulah, kau harus ingat selalu bagaimana aku melakukan itu pada mu. Jauhkan dirimu dari arak, rokok dan obat-obatan. Pakailah pakaian tertutup, laki-laki di sini tidak semuanya terbiasa dengan apa yang turis-turis wanita itu pakai. Utamakan naik kendaraan umum dibandingkan taksi. Roti yang pernah ku ajarkan cara membuatnya pada mu dapat mengganjal perut mu jika kau benar-benar tidak punya uang. Ada begitu banyak... aku yakin... aku yakin... kau akan terus mengingatnya walupun aku tidak lagi mengucapkannya.” Nasihat Bu Ahmed yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya.

Selama tinggal di jalanan, Suzy rajin menawari pemilik-pemilik toko bantuannya. Sebagai imbalannya, pemilik toko itu hanya perlu memberinya makan siang dan tempat untuk tidur di malamnya. Berkat pelajaran bahasa singkat yang diberikan keluarga Ahmed, usaha Suzy setidaknya sedikit terbantu. Ia bisa berkomunikasi lebih baik, pemilik-pimilik toko itu mengerti apa yang dikatakannya.

Suzy juga pernah sakit ketika itu. Dia demam berhari-hari. Dia tidak memiliki makanan, obat, apalagi uang. Tidak ada hal lain yang ada di pikiran Suzy. Tidak kampung halamannya, apalagi Taecyeon. Suzy hanya terus berjalan dan mencari pemilik-pemilik toko yang mungkin berkenan jika ia ikut membantu. Kasih sayang Tuhan tercurah padanya; seorang pemilik yayasan mempersilahkannya beristirahat di salah satu kamar di yayasannya. Ketika Suzy membaik, pemilik yayasan itu memberikannya pekerjaan, tempat tinggal, dan gaji.

Sayangnya, sang pemilik yayasan tidak bisa memberi banyak pada Suzy. Suzy juga memakluminya. Yayasan ini dihuni oleh banyak anak yatim- piatu, para lansia, juga orang-orang yang mentalnya terganggu─dan yayasan ini miskin donatur. Mereka sering kelimpungan karena masalah ekonomi. Semuanya serba kekurangan. Pernah di suatu hari, mereka hampir tidak bisa makan. Uang yang mereka miliki benar-benar tipis. Tidak ada yang bisa memastikan semua orang disana akan mendapatkan makanan.

Suzy ingat roti yang pernah diajarkan Bu Ahmed kepadanya. Di bandingkan membeli ubi atau kentang, membeli bahan-bahan untuk membuat roti itu jauh lebih murah. Maka, Suzy mengusulkannya kepada ketua yayasan. Akhirnya roti itupun di buat, semua orang di sana dapat makanan, keuangan yayasan setidaknya cukup untuk menunggu bantuan datang.

Kejadian itu sungguh menginspirasi bagi Suzy. Hingga suatu ketika uang tabungannya cukup untuk modal membuat usaha, Suzy keluar dari yayasan itu dan mulai menjadi seorang pedagang roti.

Singkat cerita, Suzypun sukses dengan usahanya. Ia memiliki restoran di Turki, dan mendirikan restoran khusus untuk keluarga Ahmed. Lalu Suzy menyebarkan restorannya ke beberapa negara lainnya. Suzy benar-benar sukses sekarang.

Setelah pulang ke kampung halamannya di Korea dan menetap di sana selama beberapa tahun, Suzy memutuskan untuk tinggal di negeri yang sudah lama ia impi-impikan, Swiss.

Well, ketika ia jatuh ke titik terendah dan jatuh sakit beberapa tahun yang lalu, nama Taecyeon lenyap begitu saja dari ingatannya.

***

Udara di Swiss sungguh lembap. Tapi Suzy merasa kekeringan. Dari kulit sampai ke kerongkongannya. Juga hatinya. Tetesan air langit yang merintik di atap, teras, dan halamanbukan harmoni ketenangan. Mereka adalah harmoni rindu. Daun-daun yang melambai-lambai seakan mengusap satu persatu lapisan kenangan di matanya. Hujan di Myeongdong. Hujan di Swiss selalu membawanya ke sana. Ingin sekali lagi berlari-larian di sana dengan seseorang yang kini... entahlah.

Suzy sudah lama mengabaikan perasaannya. Ia tidak ingin mengingat Taecyeon. Ia merasa bodoh karena sudah bersusah payah mengejarnya. Juga merasa sakit. Taecyeon mungkin sudah memiliki kekasih atau bahkan istri. Dia mungkin sudah lupa pada Suzy. Bagaimapun, harusnya ia memikirkan itu sebelum melakukan perjalanan yang melelahkan dan menyakitkan itu. Dia benar-benar merasa bodoh.

Dan bagaimanapun juga, Suzy tetap merasa dia bodoh. Dalam benaknya ia selalu bertanya-tanya. Mengapa sekarang, dengan kondisi ku yang serba ada, aku malah menyerah untuk mendapatkannya? Aku sudah menjadi wanita yang pantas sekarang. Kenapa aku begitu takut? Bahkan untuk mengetik namanya di situs pencarian?Aku merasa bersalah pada diri ku yang dulu, merasa bodoh. Pada Suzy yang dengan segala keterbatasannya tetapi rela mengorbankan segalanya untuk segelintir informasi, aku minta maaf.

Cinta seperti apa yang aku harapkan? Aku ingin cinta yang tidak membuatku bodoh. Yang tidak membuatku sakit dan mengaduh. Dan yang tidak membuatku berlari sedemikian jauh lalu merampas kasar asa ku. Jadi aku kehilangan. Takut pada cinta. Aku ingin bersembunyi saja. Sesekali berdoa semoga dia terbalas tanpa perlu aku menjadi bodoh, berlari dan sakit. Tapi cinta ku yang masih sepihak ini rajin meniupkan rindu yang membuat aku... tidak berdaya. Aku memang mencintainya. Dan tidak bisa mengusirnya. Aku bersembunyi tetapi cintaku mengatakan tidak mau.

***

Sepanjang hari itu Suzy berkendara dengan mobilnya. Biasanya perasaan rindu itu tidak pernah mengusiknya sampai seperti ini. Suzy merasa rindu itu sudah mencuri jiwanya. Suzy dalam perjalanan untuk menjemput jiwanya yang entah berada di mana. Berusaha mencarinya pada keramaian-keramaian yang membuat bibir orang tertarik lebar.

Ketika menjelang sore, Suzy tidak menemukan jiwanya di mana-mana. Tiba-tiba saja Suzy menepikan kendaraanya di sebuah jalan yang sepi. Dia sandarkan tubuhnya lalu menepuk-nepuk keningnya dengan perasaan sedih dan kesal.

“Aku akan segera berumur. Tapi aku tidak bisa mencintai orang lain, dan tidak bisa mengejar orang yang ku cintai. Hidupku akan sendirian. Aku akan mati dengan rasa kesepian,” Gumamnya.

“Andaikan saja tempat itu adalah finish untuk perjalanan panjang ku.” Katanya sambil bertelanjang kaki menyusuri padang hijau yang terbentang di sekitarnya. Masih gerimis, tapi Suzy seakan tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang mudah sekali terjangkit flu. Dia berjalan di tengah-tengah gerombolan domba yang sedang makan. Atau melempar sisa biskuit di dalam sakunya kepada segerombolan unggas yang berbecekan di genangan. Dan berjalan lagi menuju bukit hijau yang seakan-akan menanti kedatanganya.

Ketika Suzy hampir sampai di puncak, gerimisnya berhenti. Suzy melihat ada bunga di puncak sana, dan menduga ada gerombolan domba juga di sana─ suara mereka keras sekali. Dengan perasaan yang tidak jauh lebih baik dari sebelumnya, Suzy sampai di puncak dan melihat banyak sekali bunga dan segerombolan besar domba. Domba-domba itu saling menghapus jarak, makan, lalu bernyanyi bersama-sama. Membuat Suzy iri saja.

Suzy duduk menepi diatas rerumputan, diantara bunga-bunga yang tumbuh tidak beraturan. Tiba-tiba saja ia ingin langit menumpahkan seluruh air yang di milikinya. Ia ingin tahu apa yang akan terjadi pada segerombolan domba itu jika hujan datang. Apakah mereka akan berpencar dan melindungi diri masing-masing? Jika seperti itu, apakah setelahnya mereka akan saling mencari dan bersatu kembali? Atau mereka tidak terpisah sama sekali? Suzy ingin sekali tahu.

Mata Suzy nyalang ketika gerombolan domba itu mulai bergerak kesana-kemari, terlihat gusar. Tapi bukan pergerakan domba itu yang menjadi fokusnya, melainkan sesuatu yang berada di tengah-tengah mereka, yang mengeluarkan suara itu.

“A! A! Hentikan! Aw!” Suzy pastikan itu adalah suara seorang manusia yang sepertinya sedang memerlukan sedikit pertolongan. Dengan segera Suzy bangkit dari duduknya lalu perlahan-lahan mendekati gerombolan domba itu. Orang itu berjongkok di tengah-tengah gerombolan domba itu sambil melindungi kepala dengan tangannya, sepertinya kesulitan keluar dari sana.

“Apa kau baik-baik saja? Tunggu sebentar, aku akan membantu mu.” Kata Suzy dengan bahasa Swiss yang cepat. Ia buru-buru mengamankan tas kesayangannya sebelum berusaha masuk ke gerombolan domba itu. Suzy membalik tubuhnya dengan tergesa-gesa, lalu berlari kecil untuk menghampiri gerombolan domba itu.

Dua mata yang memiliki manik berwarna hitam. Rambutnya juga hitam─ tidak tertata dengan baik, terutama bagian yang menutupi keningnya. Ada rambut-rambut hitam yang tipis pada sekitar bibir dan dagunya, dan yang mengikuti garis rahangnya. Dia berdiri tegap dengan balutan kaos lengan panjang berwana cream yang hampir coklat. Harusnya, dalam penampilan yang seperti itu, Suzy tidak mengenalinya. Tapi tetap saja, kakinya tiba-tiba saja berhenti dan jantungnya berdebar kencang ketika melihatnya berdiri di tengah-tengah gerombolan domba itu. Dan entah bagaimana Suzy tahu kalau orang itu juga merindukannya.

“Kau bilang ingin membantu ku? Kenapa diam saja? Aku kesulitan keluar dari sini.” Suzy semakin tergegun mendengar suaranya yang berat tapi halus, masih sama seperti dulu.

“Hey? Apa kau tidak jadi membantu ku?” orang itu mengulangi.

Suzy akhirnya terbangun dengan wajah yang sumringah. Matanya berkaca-kaca karena tiba-tiba saja jiwanya kembali dengan cara yang sangat halus sehingga hatinya merasa terharu. Sambil tersenyum, Suzy berusaha masuk ke dalam gerombolan domba tersebut.

“Kau datang lama sekali.” Kata orang itu ketika Suzy sampai di sana.

Suzy tersipu malu. “Ya, memang lama. Tapi apa kau tahu betapa sulitnya untuk sampai ke sini?”

“Dan apa kau tahu betapa menderitanya menunggu lama di sini?” timpal Taecyeon dengan wajah yang serius.

Mereka hanya saling menatap, lalu tertawa bersama-sama.

“Bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

“Aku ingat kau pernah bilang ini adalah negara yang paling ingin kau kunjungi. Ketika aku tidak berhasil menemukan mu bertahun-tahun yang lalu, aku putuskan untuk menunggu di sini.”

“Sudah berapa lama?”

“Sangat lama. Dan aku mengunggu setiap hari. Tanpa berusaha menyerah atau berpikiran untuk menyerah. Aku yakin kau akan mewujudkan keinginan mu untuk datang ke negara ini.”

Suzy menghela nafas panjang. Ia teringat akan perjuangannya untuk sampai ke tempat ini.

“Kau tahu, Taec? Aku juga mencari mu. Ketika teman mu mengatakan keluarga mu memiliki perusahaan di China, Thailand, dan Turki, aku mendatangi semua negara itu. Dan menjadi susah, pernah menjadi gelandangan. Aku juga pernah memutuskan untuk tidak mencari mu sama sekali─ walaupun aku sudah memiliki segala hal yang dapat memudahkan ku untuk menemukan mu. Sangat bodoh, kan? Tapi hari ini aku merasa jiwa ku telah di curi, aku memutuskan untuk mencarinya. Aku sampai di tempat ini, dan menemukan mu. Kupikir aku sudah sampai di garis finish.

“Ya, sepertinya begitu,” kata Taecyeon sambil memangutkan kepalanya. “Tapi Zy, kenapa waktu itu kau menghilang?”

“Aku merasa tidak pantas untuk mu.”

“Bagaimana sekarang?”

“Hmm... kupikir aku sudah pantas sekarang. Setelah semua perjuangan ku, dan buah yang aku petik, aku merasa pantas sekarang. Dan semua itu karena mu, Taec.”

“Tidak. Aku hanya bagian kecil dari perjalanan mu, Zy.”

Suzy menggengam tangan laki-laki yang berdiri tegap di sebelahnya. “Tapi kau adalah bagian kecil yang menjadi tujuan ku.”

Taecyeon tersenyum.

“Taec, apa yang membuatmu sampai ke sini?”

“Bukankah tadi aku sudah mengatakannya? Aku menunggu mu.”

“Bukan, maksud ku yang membuatmu berada di tengah-tengah gerombolan domba ini? Apa kau menjadi  seorang gembala?”

Taecyeon membulatkan kedua matanya. “Mwo? Aku terlalu tampan untuk jadi gembala. Tapi aku adalah seorang peternak. Keluarga ku mengalihtangankan semua perusahaan, lalu memilih untuk memiliki pertenakan di sini. Kami mengelola peternakan dan pabrik keju.”

“Pantas saja.”

“Apa?”

“Bau tubuhmu aneh.”

“Apa? Benarkah? Itu tidak mungkin.”

“Ya,ya. Tapi kita harus segera keluar dari sini. Nanti kita benar-benar menjadi bau.”

“Kenapa? Apa kau tahu? Kita mirip sekali dengan mereka.”

“Mirip? Yang benar saja.”

“Gerombolan domba yang ini, menurutku, aneh. Saat hujan tadi, ada sebagian domba yang langsung berlari mencari tempat berteduh. Ada yang berjalan pelan-pelan. Dan ada yang awalnya diam sajatapi lama-kelaman ikut mencari tempat berteduh. Mereka berpencar. Berteduh di tempat masing-masing. Tapi ketika hujan reda, walaupun mereka tidak tahu dimana teman-teman mereka berada, mereka tahu ke mana mereka harus berjalan dan menunggu.”

“Dan mereka bersatu lagi.”

“Kita juga sama, kan?Jadi kenapa harus pergi lagi?”

 

End.

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2020 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK