SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Between You And Me

Between You And Me

Share:
Author : aikishi
Published : 18 May 2015, Updated : 28 May 2015
Cast : Airin, Park Seung Jin, Lillian, and others. all Original cast.
Tags :
Status : Ongoing
1 Subscribes |10214 Views |1 Loves
Between You and Me
CHAPTER 1 : The Beginning

Seandainya saja saat itu aku tidak membiarkannya untuk pergi meninggalkan aku. Seandainya saja saat itu aku tidak melepaskannya begitu saja. Mungkin saat ini dia masih berada disini, disisiku. Menemaniku. Terlalu banyak kata seandainya tidak akan merubah kenyataan. Terlalu banyak kata mungkin tidak akan pernah mengubah keadaan. Penyesalan akan selalu datang terlambat. Sudah tidak ada gunanya lagi bagiku untuk menyesali itu semua. Penyesalan yang mendalam seperti apapun tidak akan pernah bisa mengembalikan apa yang sudah hancur ke bentuk semula. Ibarat kaca yang telah pecah. Meskipun aku mencoba memperbaikinya dengan cara seperti apapun, jejak-jejak kehancuran itu akan tetap ada di sana. Di sana untuk terus mengingatkanku kepada kesalahanku yang sangat fatal hingga merusak bentuknya yang sempurna. Mengingatkanku kepada kelalaianku yang berakhir dengan kehilanganmu

--*--

Gadis itu masih berdiri di sana, sejak beberapa waktu yang lalu aku mengamatinya. Dia hanya berdiri diam, menunduk dan memejamkan kedua matanya. Tidak bergerak. Hanya diam membatu. Seolah beban berat tengah dipikulnya. Sendiri. Pemandangan ini terlalu indah, sangat indah. Namun juga membuatku penasaran. Apa yang tengah dipikirkannya? Tanpa sadar aku mengarahkan kameraku ke arahnya. Aku berhasil mengabadikan gadis itu dengan kameraku. Beberapa kali terdengar suara shutter dari kameraku, namun gadis itu tidak juga bergeming. Mungkin dia tidak sadar. Mungkin dia tidak mendengar karena tenggelam dalam suara debur ombak. Hembusan angin membuat rambut panjangnya tertiup. Sekali lagi aku mengabadikan momen itu.

Air laut yang perlahan menyentuh ujung kakinya membuat gadis itu membuka kedua matanya. Matahari yang perlahan-lahan mulai tenggelam di ufuk barat menyisakan rona kemerahan membuat sosok gadis itu terlihat semakin mengagumkan. Seorang gadis berbaju putih yang berdiri di tengah-tengah kemegahan rona merah. Dia tertegun, menatap jauh ke cakrawala. Namun pikirannya menerawang entah kemana. Di kedua mata beningnya terlihat bulir-bulir air mata menggenang. Dia menghela nafas panjang, lantas menegakkan kepalanya. Menatap langit. Kedua tangannya terulur ke atas, seolah hendak mencengkram sesuatu. Mencengkram langit, menggapai bintang. Lagi-lagi tanganku secara otomatis bergerak untuk mengabadikan moment itu.

“Don’t you think it’s rude to take others picture repeatedly without even  asking her permission, Sir?”

Aku terkejut. Gadis itu kemudian mengarahkan pandangannya ke arahku. Aku terperanjak. Matanya seolah sedang menghakimiku. Perlahan aku menurunkan kamera yang sedari tadi masih mengarah kepadanya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Gadis yang saat ini menegurku terasa berbeda dengan gadis yang sejak tadi aku perhatikan. Jika tadi dia terlihat amat lemah, saat ini dia terlihat sangat dingin dan berbahaya.

“I’m sorry, I don’t have any intention to bother you. I was just...”

Aku kehilangan kata-kata di hadapannya. Aku tidak dapat merangkai kata-kata untuk melakukan pembelaan diri. Gadis itu masih berdiri di sana. Menatap dan seolah menunggu penjelasanku. Melihatku yang hanya bisa tergugup dan memainkan kameraku, dia tersenyum. Seolah mengejek.

“It’s okay, actually. But seeing someone being so frustrated like you is just...I don’t know. Amusing?”

Dia tertawa, mengalihkan wajahnya lagi ke hamparan laut. Kemudian tanpa ragu-ragu dia duduk di tepi pantai. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang mungkin akan takut gaunnya basah ataupun kotor, tanpa ragu dia duduk begitu saja di atas pasir. Kembali menatap ke arah cakrawala. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Dia sama sekali tidak merasa risih dan terganggu. Untuk beberapa saat kami hanya duduk dan terdiam. Menatap matahari yang sedikit demi sedikit mulai menghilang di telan cakrawala. Tidak ada satupun dari kami yang berusaha untuk membuka percakapan. Kami hanya terdiam menatap ketengah lautan hingga perlahan-lahan bukan lagi rona merah yang menyelimuti kami. DI tengah kegelapan, kami berdua hanya terdiam. Aku dengan pemikiranku sendiri, dan dia kembali ditelan pikirannya sendiri.

“What are you doing here?”

Gadis itu memecah kebisuan dengan satu pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah untuk aku jawab. Namun lagi-lagi aku hanya bisa melihat ke arahnya dan terdiam. Ada apa denganku hari ini? Tidak biasanya aku bersikap seperti ini. Seolah-olah aku terhipnotis oleh suaranya yang halus dan membuai gendang telingaku. Dia masih memandang ke arah laut hingga membuatku jadi ragu, sebenarnya kepada siapa dia mengajukan pertanyaan itu. Aku atau dirinya sendiri?

“I’m here for...”

Kalimatku terpotong oleh dering telepon. Aku mencoba merogoh saku untuk mencari telepon genggamku hingga kemudian aku tersadar bahwa bukan milikku yang berdering. Dia menunjuk ponselnya dan tersenyum. Aku pun tersenyum. Menyadari kebodohanku dan membiarkannya mengangkat panggilan itu.

“yoboseyo.. ne appa.. ”

Jadi ternyata dia juga orang Korea?! Bahasa Inggrisnya yang terucap dengan pelafalan yang sangat baik aku fikir dia adalah penduduk sekitar. Tidak banyak orang Korea yang bisa melafalkan bahasa Inggris dengan sempurna. Dia masih terlihat serius dengan pembicaraannya. Aku tidak begitu menangkap apa yang dia bicarakan, hanya saja sekilas aku menangkap tentang dia yang menolak untuk melakukan sesuatu. Namun entahlah, aku tidak mau dinilai tidak sopan karena mendengarkan pembicaraan orang lain. Aku hanya menunggu sambil melihat-lihat hasil foto yang seharian ini telah aku dapatkan. Aku terpaku pada foto gadis itu yang sempat aku ambil sesaat sebelum dia menegurku. Aku memperbesar foto tersebut. Ternyata benar. Terlihat bulir air mata yang mengalir ketika dia mendongak tadi. Aku kembali berfikir, apa yang kira-kira saat itu dia fikirkan?

“al gesseubnida abeoji.. jeo ddo bogoshippoyo.. omma yo? . ah, okaa-san.. Okaa-san, o genki desu ka? Watashi wa daijobu desu. geogjong hajimaseyo! ”

Aku mencoba untuk tidak mendengarkan, namun bagaimanapun dengan jarak sedekat ini hal itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Jadi aku mencoba untuk menyibukkan diriku dengan memainkan ponselku.

“I’m sorry. where were we? Ah, you were about to tell me what were you doing here and why did you take my picture before?”, ucapnya. Ternyata dia sudah selesai menelepon.

“Aku mengerti bahasa Korea, sama sepertimu. Walau sebenarnya aku cukup terkejut mendapati kenyataan bahwa kamu adalah orang Korea”, jawabku akhirnya, memutuskan untuk menggunakan bahasa Korea.

“Sebenarnya, aku tidak murni Korea. Ibuku orang Jepang”, jawabnya.

“Oh, pantas sekilas aku mendengar kamu berbahasa Jepang. Jadi, bahasa apa yang paling sering kau gunakan?”

“Aku lebih senang berbahasa Indonesia. Sejak kecil aku sangat dekat dengan Nenekku yang keturunan Indonesia, jadi aku rasa bahasa yang paling nyaman aku gunakan adalah Indonesia”

“Jadi kau menguasai 4 bahasa? Mengagumkan”, aku hanya mampu menatapnya dengan takjub.

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di sini?”, dia bertanya sambil menatap mataku. Aku mampu melihat betapa indah bola matanya.

“Aku hanya sedang berjalan-jalan sambil mengambil beberapa foto. Aku hendak melihat sunset yang konon katanya sangat mengagumkan. Kemudian aku melihatmu, berdiri sendiri. Aku tidak bermaksud untuk memata-mataimu. Hanya saja sosokmu yang berdiri memandang laut dengan berlatar langit senja sangat mengagumkan, jadi secara naluriah aku mengambil foto untuk mengabadikannya. Maaf kalau itu mengganggumu. Kau boleh menghapusnya kalau tidak suka.”

Aku mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya dengan sejujurnya. Aku kemudian mengangsurkan kamera yang sedari tadi kupegang kepadanya. Diambilnya kamera tersebut dan dia mulai mengamati foto-foto yang ada di sana. Sangat disayangkan memang apabila foto itu harus dihapus. Namun apa boleh buat, memang tidak seharusnya aku mengambil foto tanpa seijinnya. Aku membiarkannya menguasai kameraku untuk beberapa saat. Aku kembali melihat hamparan laut yang luas dan gelap. Kemudian aku mendengar suara shutter dan aku menengok. Rupanya gadis itu tengah mengambil fotoku.

“Hei, apa yang kau lakukan?”, tanyaku bingung.

“Tidak, melihatmu tadi aku tergerak untuk mengambil fotomu. Nih, kau bisa menghapusnya kalau tidak suka”, ujarnya sambil memberikan kembali kameraku.

Dia tersenyum kemudian beranjak pergi meninggalkanku begitu saja. Aku yang masih sedikit kaget kemudian ikut berdiri dan mengejarnya.

“Hei, kau belum memberitahukan siapa namamu”, ujarku saat berhasil berjalan di sebelahnya.

“Tidakkah seharusnya kau menyebutkan namamu terlebih dahulu sebelum menanyakan nama orang lain?”, jawabnya sambil terus melangkah.

“Kau benar, maaf atas kecerobohanku. Perkenalkan, namaku Park Seung Jin. Boleh aku tahu siapa namamu?”, ujarku sambil mengulurkan tangan.Sejenak dia terlihat ragu untuk menyambut uluran tangan tersebut.

“Airin. Namaku Airin.”, Ujarnya kemudian sambil menerima uluran tanganku.

-*-

Pria itu tersenyum dengan sangat lebar. Aku kemudian menarik kembali tanganku yang masih digenggamnya dan kembali meneruskan langkahku. Sudah terlalu gelap untukku terus berada di sini. Nenek juga pasti sudah menunggu kepulanganku untuk makan malam bersama. Aku mempercepat langkahku agar dapat segera tiba di tumah.

“Hei, tunggu!”, pria itu memanggilku. Mau apa lagi dia?

“Ada apa?”

“Tidak, hanya saja ini terlalu malam untuk seorang gadis berjalan sendiri. Bolehkah aku menemanimu? Kebetulan kita berjalan ke arah yang sama”, ujarnya sambil tersenyum lebar.

Aku hanya mengangkat bahu dan kembali meneruskan langkahku, membiarkannya berjalan di sisiku. Kami berjalan dalam kesunyian. Namun, hal itu justru membuatku lebih nyaman, karena aku memang sedang tidak ingin banyak berbicara. Namun, entah mengapa pria ini memang menarik perhatianku. Aku sudah memperhatikannya sejak dia masih mengambil foto beberapa anak kecil yang tadi bermain di tepi pantai. Dari ekspresinya aku dapat melihat kehangatan. Dia juga mampu untuk berinteraksi dengan anak-anak itu, tanpa sedikitpun merasa risih atau terganggu.

Tak terasa sudah cukup lama kami berjalan dalam diam dan aku sudah tiba di kediaman Nenekku. Bahkan dari luar sini aroma masakan Nenek sudah menguar dari sela-sela jendela dan membangkitkan selera. Ah, aku ingat, seharusnya hari ini memang akan ada tamu yang menginap di rumah Nenek. Rumah Nenek memang sengaja dibuat sebagai sebuah guest-house. Selain untuk keluarga, Nenek juga menyediakan kamar untuk tamu.

“Aku tinggal di sini”, ucapku dan dia secara bersamaan.

Aku dan dia sama-sama terperanjat. Ternyata tamu yang dimaksud Nenek adalah orang ini! Betapa sempitnya dunia ini. Kami berdua berpandangan kemudian tertawa geli atas kebetulan yang sangat aneh itu. Dia membukakan gerbang untukku dan kami berdua melangkah bersama memasuki rumah.

tadaima ” , dia mengucap salam sambil melepaskan sepatunya.

Aku melakukan hal yang sama lalu mengambilkannya sandal untuk dipakai ke dalam ruangan. Nenek menyambut kami berdua dengan senyum terpampang di wajahnya yang sedikit bingung karena melihat kami pulang bersama. Tatapan Nenek kepadaku seolah menuntut penjelasan. Namun, dibalik tatapan itu aku tau Nenek juga mengharapkan sesuatu. Nenek mengharap aku dan pria ini memiliki hubungan khusus.

“Aku bertemu dengannya di pantai tadi, Nek. Kami tidak sengaja bertemu, ternyata dia tinggal disini juga”, ujarku coba menjelaskan kepada Nenek dengan bahasa Indonesia.

Nenek sebenarnya mengerti bahasa Jepang. Hanya saja, aku lebih senang berceloteh dalam bahasa Indonesia kalau sedang bersama Nenek. Nenek pun mengangguk tanda mengerti kemudian mengajak kami untuk makan bersama. Aku mendahului mereka dan mendapati Kakek sudah duduk sambil membaca korannya di ruang makan. Aku baru saja akan duduk di kursi dekatnya ketika Kakek membuka suara.

“Ai, kamu harus mandi dulu. Lihat, bajumu kotor seperti itu. Cepat mandi dan setelah itu kita makan bersama”, ucap Kakek tegas.

Akupun mengangguk dan berjalan menuju kamarku untuk membersihkan diri. Pria itu juga sepertinya memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Aku menuju kamarku yang ada di lantai dua. Pria itu mengikutiku dari belakang. Rupanya Nenek menempatkan kamarnya tepat di hadapan kamarku. Dia menghentikanku yang hendak masuk ke kamarku dengan memegang pergelangan tanganku.

“Hei, walau tadi kita sudah saling berkenalan namun aku ingin mengucapkan ini. Mohon bantuan selama aku disini ya”, ujarnya sambil lagi-lagi mengulurkan tangan.

Aku menyambut uluran tangannya itu dan tersenyum. Diapun tersenyum dan kemudian melangkah masuk menuju kamarnya sendiri. Aku terkesima melihat senyuman pria itu. Senyum yang hangat dan seolah menawarkan perlindungan. Aku mencoba menghapus bayangan wajah pria tersebut dan masuk ke kamarku untuk bersiap makan malam bersama Kakek dan Nenek.

-*-

“Jadi, apa pekerjaanmu? Apa yang kau lakukan di Indonesia?”, suara Kakek terdengar dari ruangan keluarga.

Kami memang sudah selesai makan malam dan saat ini aku dan Nenek sedang membereskan sisa-sisa makan malam kami. Ternyata pria itu lebih cepat beradaptasi dengan Kakek daripada yang aku bayangkan. Kakekku bukanlah tipe orang yang suka berbasa-basi dengan orang baru. Beliau adalah orang yang terlihat kaku, namun memiliki kehangatan hati yang luar biasa. Pria itu mungkin adalah satu-satunya orang yang pernah aku kenal yang mampu untuk dekat dengan Kakek dalam satu hari. Kebanyakan orang akan segan untuk mengobrol dengan Kakek. Sementara dia? Saat ini saja mereka sudah main shogi  sambil menikmati ocha  di ruang keluarga. Aku cukup kaget mengetahui bahwa dia bisa bermain shogi.

“Aku seorang fotografer, sensei . Saat ini aku sedang liburan untuk menyegarkan kembali kepalaku yang seperti akan pecah ini.”, jawabnya dengan sangat sopan dan bahasa Jepang yang lancar.

“Kamu tidak perlu memanggilku Sensei. Panggil saja aku Ojisan atau Kakek seperti Ai. Selama kamu tinggal di sini, kamu sudah aku anggap seperti cucuku sendiri”, jawab Kakek.

Arigatou gozaimasu, sensei. Ah, Oji-san. ”

Aku dan Nenek saling berpandangan. Ini adalah sebuah hal yang baru. Waktu dulu aku sering mengajak teman-temanku untuk berlibur di sini, tidak pernah sekalipun Kakek memberikan ijin kepada mereka memanggilnya Kakek seperti dia memberi ijin kepada pria itu. Mungkin firasatku benar, pria ini berbeda dari yang lain. Dia memiliki aura yang hangat dan bersahabat yang membuat siapapun yang dekat dengannya akan merasa nyaman. Nenek kemudian memintaku untuk membawa semangka yang sudah nenek siapkan dan mengajakku untuk bergabung dengan kedua laki-laki itu. Sebenarnya awalnya aku ingin menghabiskan malam ini dengan berdiam diri di kamarku dan tidak melakukan apapun. Namun, kakek dan nenek pasti akan marah apabila aku tidak menemani tamu dengan baik. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti nenek ke ruang keluarga dan menyaksikan kedua laki-laki itu bermain shogi. Aku yang tidak begitu paham dengan aturan permainannya akhirnya memutuskan untuk bermain-main dengan Neko, kucing hitam milik Kakek.

“Ah, sudah terlalu malam untukku tetap terjaga. Lebih baik aku cepat beristirahat saja. Kalian kalau tetap ingin disini dan mengobrol tidak apa. Nenek, ayo masuk. Biarkan anak muda ini berbicara berdua”, ucap kakek sambil berjalan meninggalkan ruangan.

Pria itu berdiri dan membungkuk membiarkan kakek dan nenek pergi. Sementara aku masih sibuk bermain-main dengan Neko yang sekarang sedang tertidur pulas di pangkuanku. Pria itu berjalan keluar menuju teras rumah dan duduk di sana sambil memandang bintang. Kami berdua lagi-lagi berada dalam dimensi kesunyian tanpa kata. Mengherankan. Ketenangan seperti ini sama sekali tidak memberikan rasa canggung, namun malah memberikan kehangatan yang tidak dapat aku mengerti.

“Ai, lihat! Indah sekali hamparan bintang di sini. Kemarilah!”, ujarnya sambil menepuk lantai di sebelahnya.

Setelah berpikir sejenak, aku pun menggendong Neko dan membawanya keluar, menuju tempat pria itu berada. Aku duduk di sebelahnya dan meletakkan Neko di atas bantal kecil yang biasa dipakainya sebagai alas tidur. Aku menatap langit dan memperhatikan gugusan bintang yang terbentang di langit yang luas. Indah memang. Seperti tengah berada di tengah-tengah cahaya. Pria itu duduk bersandar dan mendongakkan wajahnya menatap langit, seolah tengah benar-benar menikmati gugusan bintang dan tenggelam menari di dalamnya. Lagi-lagi kami berada dalam kesunyian. Tidak ada satupun dari kami yang berusaha untuk memecahkan kesunyian ini. Hanya debur ombak di kejauhan dan dengkur halus Neko yang terdengar. Aku ikut bersandar dan memejamkan mataku mencoba untuk menikmati kesunyian ini lebih jauh lagi. Kesunyian seperti inilah yang aku perlukan untuk dapat melupakan semua masalah dan masa lalu yang tidak ingin aku ingat. Kesunyian seperti inilah yang aku butuhkan untuk menenangkan diriku.

“Kau melakukannya lagi”, ujar pria itu.

Aku menoleh dan menatapnya dengan pandangan tidak mengerti. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Aku melakukan apa katanya?

“Iya, kau melakukannya lagi. Menutup matamu dan menunduk, seolah kamu sedang menanggung sebuah beban berat di pundakmu. Wajahmu yang terlihat sendu seperti inilah yang tadi menarik perhatianku hingga kemudian aku memotretmu dengan kameraku”, jelasnya seraya menatap wajahku.

Aku hanya membalas perkataannya dengan tersenyum. Apakah aku memang terlihat semenyedihkan itu hingga orang yang bahkan tidak mengenalku bisa berpendapat seperti itu?

“Hei, aku harap kamu tidak tersinggung. Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu, hanya saja..”, ucapnya dengan rasa bersalah.

“Tidak, aku tidak apa. Aku hanya sedikit ngantuk saja. Mungkin sebaiknya aku tidur saja sekarang. Sudah terlalu larut. Kamu tidak apa kalau aku tinggalkan sendiri disini?”, jawabku mencoba se sopan mungkin.

“Tidak masalah. Lagipula sebenarnya akupun sedikit mengantuk karena aku belum sempat istirahat sejak turun dari pesawat siang tadi. Mungkin sebaiknya kita beristirahat saja”, ujarnya sambil ikut bangkit dari duduknya.

Aku mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan semua pintu terkunci dan memadamkan lampu, aku berjalan menuju kamarku diikuti pria itu. Lagi-lagi dalam diam, kami berdua beranjak beriringan menuju kamar tidur kami masing-masing. Namun, aku sedikit merasa tidak enak karena sudah membuatnya merasa bersalah. Bagaimanapun, dia berniat baik kepadaku. Dia telah berada di depan pintu kamarnya ketika kemudian aku memutuskan untuk mengucapkan selamat malam.

Seung Jin-ssi. Kamsahabnida. Annyeonghi Jumuseyo”, ucapku sambil membungkuk dan kemudian masuk ke dalam kamarku.

Aku menutup pintu dan bersandar. Tidak lama aku mendengar suara pintu kamarnya yang ditutup. Aku sudah terlalu lelah untuk berpikir. Mungkin memang baiknya aku segera tidur dan berharap besok aku akan terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik lagi. Kupadamkan lampu kamarku dan menyalakan lampu tidur yang selalu terletak di sisi tempat tidurku. Lampu pemberian seseorang yang sangat tahu betapa aku membenci kegelapan.

“Selamat tidur, onnie”. Akupun menutup mata dan dunia mimpi segera menyambutku.

-*-

Aku masih terduduk di depan laptopku dan memandangi foto gadis itu. Ternyata dia tidak jadi menghapusnya. Aku jadi teringat kejadian sesaat sebelum aku masuk ke kamar tadi. Dia tersenyum! Gadis itu tersenyum padaku dan mengucapkan selamat tidur! Mungkin dia tidak sedingin yang aku kira. Mungkin sebenarnya dia adalah gadis yang ramah. Aku rasa dia memiliki sesuatu yang berat yang selalu dipendamnya sendiri sehingga dia menjadi terlihat begitu kesepian. Aku tahu aku memang tidak berhak untuk ikut campur. Namun tidak ada salahnya kan apabila aku menjalin hubungan pertemanan yang baik dengannya? Aku tidak dapat menghilangkan senyum dari wajahku dan memutuskan untuk pergi tidur. Apapun yang dibutuhkan, aku akan berusaha untuk mendekatkan diriku dengannya. Airin. Ai. Apa yang sebenarnya menyebabkan kabut yang begitu tebal menyelimuti mata indahmu?

 
Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK