SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Never Be Alone

Never Be Alone

Share:
Author : tasyaalipya
Published : 17 May 2015, Updated : 22 Jun 2015
Cast : Azkia (OC), Oh Se-hun, Park Chanyeol, Afgan Syah Reza, dll.
Tags :
Status : Ongoing
2 Subscribes |7834 Views |1 Loves
Never Be Alone
CHAPTER 1 : Oppa Or Opah ?

Celoteh burung beo membangunkan Azkia dari mimpi indahnya. Perempuan itu membuka matanya yang sudah teranyam rapih selama berjam-jam dan duduk beberapa menit untuk mengumpulkan nyawanya. "HOOAMMM" wanita itu membuka mulutnya besar-besar, sembari menggeliatkan tubuhnya. Tak lama, ia beranjak dari kasurnya dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

"Selamat pagi biii" ucap gadis berusia 18tahun itu.

"Eh kaka sudah bangun, selamat pagi kembali"

"Papa Mama mana bi?" tanyanya

"Mereka berdua sedang jalan-jalan di taman komplek ka, katanya mengingat masa muda" canda sang asisten rumah tangga  itu.

"Aisshh, mereka sudah tak tahu umur! Lah Abang kemana ? Bukannya minggu ini dia libur tour nusantara?" Kia mengernyitkan alisnya.

"abang tadi sudah berangkat ke Jakarta, Ka. Jam 3 pagi dia sudah dijemput managernya, ada perfrom di acara musik gitu." jawab bibi sembari memberikan segelas susu rasa coklat untuk Azkia.

 

Azkia Syah Reza adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Wanita yang memiliki sejuta "nama panggilan" ini memiliki seorang kaka yang berkecimpung di dunia hiburan tanah air. Meskipun kakaknya seorang idola di negeri ini, khususnya para kaum hawa dan remaja, dia tak pernah "numpang nama" dari ketenaran kakanya itu.Kehidupan sehari-harinya sangatlah sederhana.

 

"Bi, hari ini Papa Mama tidak keluarkan?" tanyanya sambil mengunya roti berselaikan strawberry itu. "Ahh, hari ini Ibu mau hadir di acara sosial gitu, kalau Bapak mau ada kunjungan kerja di luar negeri." jawab wanita paruh baya itu. Waktu sudah menujukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit dan Azkia segera menghabiskan rotinya dan segera menghabiskan susunya dalam satu tegukan. Dan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki.

 

Jarak rumah dengan sekolahnya cukup dekat. Maka dari itu, Azkia lebih memilih berjalan kaki untuk pulang-pergi ke sekolahnya itu. Terkadang ia juga menebeng tetangga sekaligus sahabat kecilnya yang bernama Rangga.

 

"KAKAA!" terdengar teriakan seorang pria yang memanggil "nama panggilannya". Azkia menoleh ke sumber suara itu lalu berlari menghampiri pria tersebut.

"Oh Papah. Mama mana?"

"Mama kamu sedang mampir ke rumah bu RW. Kamu mau berangkat? Cepatlah pergi sebelum kesiangan." ucap Papa Azkia.

"Ohiya Pa, Kia berangkat dulu." Azkia mencium tangan kanan Papanya lalu pergi meninggalkan Papanya.

 

---------

 

Setelah sampai di gerbang sekolah, Kia mempercepat langkahnya untuk memangkas waktu. Sesampainya di kelas, bukannya kedamaian yang ia lihat. Malah anak-anak sedang terlihat berkumpul. 'Hufftt, Sudah biasa' gumam Azkia lalu menyimpan tasnya di tempat duduknya. Anak-anak itu berkumpul bukan untuk bergosip, melainkan untuk saling bertukar jawaban pr. Haha, semua pelajar pasti pernah melakukan hal itu jika sudah ada pr yang sulit dikerjakan.

"Eh itu Azkia!" seru seorang pemuda dari pojok kelas.

"Kia minta jawabanmu dongggg" ucap Rahma memelas.

"Iya kiaa kamu kan baik cantik pinter rajin menabungggggg" goda Prapta.

Azkia pun bingung. Jika dia tidak memberi hasil tugasnya itu, nanti nasib teman-temannya gimana? dan juga Kia terancam akan "dibenci" oleh teman sekelas. Tapi jika mereka diberi hasil tugasnya, dia gak rela karena itu murni hasil pemikirannya selama semalaman.

 

Karena tidak tega, iapun menyerah dan memberi hasil pikirannya itu. Secepat kilat anak-anak berebut buku Azkia untuk menyalin jawabannya. Tak lama, bel tanda masuk berbunyi dan anak-anak segera kembali ke tempat duduknya masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Jam pertama dan kedua telah berlalu, dan bel jam ketiga berbunyi. Jam ketiga adalah jam pelajaran matematika.

 

"Apakah tugas yang saya sudah berikan sudah kalian kerjakan?" ucap seorang wanita muda yang tak lain adalah guru matematika di kelas Azkia.

"Sudah buuu,,," dengan percaya diri anak-anak menjawabnya.

"Apakah kalian mengerjakannya dengan sungguh-sungguh?" wanita itu bertanya kembali.

"Iya dong bu, nih bu lihat mata saya berkantung sekarang gara-gara tugas Ibu." ucap Rahma

"Hallah bohong kamu! Paling kamu gadang nonton drama korea!" Prapta membuka kebohongan Rahma dan melemparkan gumpalan kertas kepada Rahma.

 

"Baiklah, untuk membuktikan kalian benar-benar mengerjakannya,saya akan meminta beberapa anak untuk mengerjakan soal itu di depan. Dan tidak ada yang boleh membawa buku ke depan!" tantang Ibu Farida tegas.

 

Sontak anak-anak pun kaget dengan apa yang dikatakan wanita itu barusan. Bagaimana bisa mereka mengerjakan soal di depan tanpa melihat buku? Sedangkan jawaban mereka saja hasil dari copy paste.

"Oke, karena hari ini tanggal 09 bulan 10 tahun 2013, saya meminta anak bernomor absen 09, 10, dan 13 untuk maju ke depan terlebih dahulu."

'Huhh selamat' gumam Prapta lega.

"Oh untuk soal 4 dan 5, saya meminta anak bernomor absen 3 dan 5 untuk maju kedepan karena pelajaran saya berlangsung dari jam ke 3 sampai jam ke 5." ucap guru itu santai.

"Hah! Saya bu?????" seru Prapta yang bernama Dhevastra Praha Dewa itu. Namun Bu Farida tidak merespon seruan muridnya itu. Setelah nomor 1-3 dicocokkan bersama, selanjutnya soal nomor 4 dan 5 ditulis jawabannya di depan. Kebetulan Azkia bernomor absen 3 dan dengan percaya diri dia menuliskan jawabannya di depan. Setelah Azkia dan Prapta selesai menulis jawaban itu Ibu Farida langsung mencocokkan.

"Siapa yang salah lima? Salah empat? Salah tiga? Salah dua? Salah satu? Betul semua?" tanyanya beruntun.

Anak-anak mengacungkan tangannya sesuai salah yang disebutkan gurunya itu. Ibu Farida heran, kenapa kebanyakan siswa bernilai tinggi sedangkan ketika menjawab di depan hanya jawaban Azkia yang benar.

 

------

 

Tak terasa jam pelajaran matematika telah berakhir dan tersisa 2jam terakhir yang diisi oleh pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan diselingi jam istirahat selama 15 menit. Namun, mungkin untuk hari ini kelas Azkia sangat beruntung. Pasalnya guru pengajar sedang izin karena ada acara. Alhasil anak-anak melakukan hal yang mereka mau, ada yang bergosip, mojok (pacaran), bermain-main, ataupun pergi ke kantin. Namun, ketika Kia sedang asik melihat-lihat kelasnya, ada seorang perempuan yang sedang berteriak histeris gajelas yang menarik perhatiannya.

 

"Lagi apa Ul? Kesambet apa? Ngeliat setan?" Azkia menghampiri perempuan itu sambil menenteng tas kecil yang berisikan laptop itu. Dibukanya tas itu, dan Azkia menyalakan laptopnya.

Aulia kaget ketika Azkia sudah disisinya. " Eh aku teh sedang melihat oppa ku." ucapnya.

"Hah? Opah? Kenapa liat Opah sambil teriak teriak gitu sih?" Azkia yang salah tangkap pun penasaran.

"Karena Oppa sangat tampann." Aulia menjawab enteng dengan mata yang terus terfokus pada layar laptopnya itu.

"Huh! Udah tua aja disebut ganteng. Dasar btn (beunta teu neuleu -> mata yang sadar tapi tidak melihat)!" Azkia memasangkan earphone ke telinganya. Namun tiba-tiba Aulia mencabut earphone yang baru terpasang di kedua telinga temannya itu.

"Hey! Enak saja Oppa ku kau bilang tua!" bentak Aulia.

"EH biasa aja kaliii gausah kasar gini. Opah mu itukan emang sudah tua! Ayahmu saja sudah berumur lebih dari 40tahun mana mungkin dia lebih muna dari ayahmu!" Azkia membela diri.

"Mana mungkin Opahmu berusia 17tahun kalo 71 tahun itu baru bisa dipercaya." lanjutnya ngawur.

"KIIIIIIIAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak Aulia mengheningkan seluruh kelas.

"Itu bukan Opah tapi Oppa! Oppa kia oppa. O-p-p-a!" eja Aulia dengan sedikit menahan amarah.

"Hah Oppa? Nama orangkah? Atau dia pacarmu yang baru?" tanya Azkia dengan polos.

"Aduh anak ini gesrek euy, manya nu kieu ge teu apal! (masa yang kaya gini aja ga tau)" ucap Aulia dengan logat sundanya.

"Heh behel! Jawab atuh! (jawab dong)" bentak Azkia menghiraukan perkataan Aulia.

 

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

lingzhuaxinshi
Sabtu, 27/06/2015 18:20
0
lanjut dong kak...Rame banget ceritanya...pleaseee
#tandaberharap
lingzhuaxinshi
Jumat, 26/06/2015 18:34
0
lanjut dongg rame ceritanya...udah lama aku menunggu cerita selanjutnya ... :D
lingzhuaxinshi
Jumat, 26/06/2015 18:24
0
kenapa kamu tidak menjadikan karya kamu ini dalam bentuk buku saja?, ya buku novel gitu..terus kamu terbitkan :) ,,, dan kamu menjadi penulis yang handal juga sukses :)
POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK