SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
periscope dreamers
google plus dreamers
LOUNGE
HOW IT WORKS
HOW TO BE DFF OF THE WEEK
TERMS OF USE
CONTACT US
  • Latest
  • Most Viewed
  • Most Loved
  • A-Z
  • My Fanfiction
  • My Subscriptions
  • My Subscribers
  • Create New Fanfiction
Fan Fiction > Just Another Lonely Night

Just Another Lonely Night

Share:
Author : Hyunbae92
Published : 27 Apr 2015, Updated : 29 Apr 2015
Cast : Lee Howon / Hoya ( INFINITE )
Tags :
Status : Ongoing
1 Subscribes |554 Views |1 Loves
Just Another Lonely Night
CHAPTER 1 : Just Another Lonely Night

Tittle : Just Another Lonely Night

Author : @hojae92

Cast : Lee Howon / Hoya (INFINITE), Anh Hyunbae (OC)

Genre : Romance, Drama, Angst, Hurt

Song fict : 24 Hours & Just Another Lonely Night (INFINITE Song)

Length : Oneshoot

Rating : PG-17

Disclamair       : Cerita yang tertuang disini hanyalah FIKTIF belaka dan asli buatan author. Segala usaha plagiat akan berpotensi dosa dan author nggak mau tahu dampaknya. Mohon dukungan INSPIRITDERS berupa READ COMENT and LIKE. Dilarang keras menjadi SILENT READERS ya… ;) Terima kasih sudah mau membaca dan mengapresiasinya. Maaf untuk segala typo yang bertebaran karena author juga manusia yang butuh bimbingan untuk proses penulisan yang lebih baik.

 

NOTE ::::

Mungkin aneh ya balik lagi bikin FF bergenre sad begini setelah sekian lama hidup dengan FF ringan yang penuh humor. Oke,,, ini karena request tepatnya Non Depa yang kangen tampaknya sama tulisan bergenre sad ini. Kekekekeke….. Dan recommed banget ya kalo dengerin Together Ver Japan, Just Another Lonely Night dan 24 Hours. Kenapa harus tiga lagu itu? Karena lagu- lagu ini yang menginspirasiku agar menulis FF bertema seperti ini. Hehehehehe

 

 

**JUST ANOTHER LONELY NIGHT**

 

Seperti malam- malam sebelumnya, sepi melandaku tanpa henti di ujung perasaan perih ini. Kehilangan, kecewa, frutasi dan segala macam perasaan yang tak mengenakkan mengecap di sudut lidahku. Siap mengembalikan rasa pahit ke dalam lambungku. Dan aku kembali merasa mual ketika mengingat rasa sakit ini.

 

Demi tuhan!

 

Kenapa kau tak enyahkan rasa pedih ini dalam satu malam? Gila sekali aku tak bisa merasa rileks barangkali satu dua hari tanpa ingat padamu. Oh ya, satu tahun kita berpisah. Ralat—satu setengah tahun yang benar.

 

Di ruangan yang sama dengan tempatku menghabiskan lelapku, kau menumpahkan kata- kata selamat tinggal dengan ekspresi dingin. Dan aku tak bisa melupakan aroma apel yang melekat di rambutmu. Tanganku masih merasa hangat begitu menggenggam telapak tanganmu. Senyumanmu terasa manis meskipun senyuman yang ku lihat ini adalah delusi. Aku tak menolak kehadiranmu yang berupa delusi. Aku tak mengusirmu pergi meskipun hanya sebuah mimpi.

 

Kau masih ada. Tinggal di hatiku untuk waktu yang tak kunjung berhenti dalam sisa kehidupanku.

 

“Hyunbae!” desisku memanggil namamu. Kerongkonganku tersumbat batu yang tak terlihat. Berton- ton batu memberati kepala dan pundakku. Aku jatuh terkulai tanpa semangat menatap foto berbingkai jalinan kerang. Aku tak bisa menangis, panas merambati kelopak mataku. Pedih tanpa ampun. Kedua telapak tanganku mengepal erat sampai buku jariku nyeri.

 

Kau masih nyata dalam delusiku. Dan aku tak ingin kehilanganmu. Selama aku bisa mengingat wajah dan suaramu, aku baik- baik saja meskipun ragamu tak ku temukan disini.

 

Ku raih bingkai kerang itu. Aku memeluk bingkai dengan tangis kepedihan tanpa air mata atau suara. Hanya rasa sesak tanpa daya melandaku. Disini aku terpaku pada tempatku, enggan meninggalkan kenanganmu.

 

Bingkai kerang. Sebuah barang yang paling berkesan dalam kehidupanku. Aku menerawang kembali ke masa satu tahun yang lalu. tahun terbaikku bersamamu.

 

**JUST ANOTHER LONELY NIGHT**

 

Angin kembali berguncang di tengah badai salju. Pemanas ruangan sudah menyala maksimal. Tapi ruang apartemen yang ku sewa sepuluh derajad lebih dingin daripada kalau aku masih tinggal di kelas seni mengolah vas keramik. Aku diam membaca buku ketika kau sibuk mondar- mandir mencari sesuatu.

 

“Hoya Oppa, kau punya lem tembak?” kau bertanya dengan sorot mata menjelajahi rak buku paling atas.

 

Aku menutup bukuku. Ku tatap wajah merahmu yang kedinginan. Aku tersenyum menikmati betapa kau sangat cantik. Lemah lembut dalam perlindunganku saat ini. Aku merentangkan tangan kepadamu.

 

“Kesini kau, akan ku beri tahu tempatnya.”

 

Kau mendekat, duduk di sampingku. Dan aku langsung menangkap tubuh mungilmu dalam pelukanku. Ku cium bibir yang hangat dan pipimu semakin merona.

 

“Kau ini.” Kau bergumam pelan, terkejut tapi bahagia. Ku rasakan jemari lembutmu mencubit lenganku. Aku tertawa melihat reaksi malumu.

 

“Ayo katakan dimana lem tembaknya?”

 

“Ku ambilkan.” Aku beranjak dari sofa, enggan meninggalkan kebersamaan ini meski hanya untuk tiga puluh detik. Di atas tempat menyimpan segala sesuatu yang tak begitu penting seperti lem tembak dan semacamnya ini aku mengambilnya. Kau menarik meja lebih dekat ke sofa. Ada beberapa wadah menampung serbuk pasir, kerang, benang dan kayu.

 

“Untuk apa barang- barang ini?” tanyaku keheranan. Kau tersenyum manis, matamu berbinar terang. Aku langsung paham menangkap arti mata seperti itu. Kali ini kau sedang kreatif untuk mengerjakan sesuatu.

 

“Aku ingin membuat bingkai kerang.” katamu dengan suara penuh semangat.

 

“Untuk apa?”

 

“Yah… Sebenarnya aku ingin ke pantai. Kau tahu aku sangat menyukai laut. Tapi aku tak sempat untuk pergi kemana- mana saat ini. Jadi aku akan membuat barang berasal dari laut. Paling tidak, kalau aku membuat bingkai kerang, aku tak terlalu ingin pergi.”

 

“Perlukah aku mengajakmu liburan?” aku menawarkan gagasan padamu.

 

“Aniya!” kau menggeleng dengan cepat. Lagi- lagi kau tersenyum menenangkan. Kalau kau bilang ‘ya’ padaku, kali ini aku akan mengambil cuti empat hari dari kantor.

 

“Baiklah. Ini.”Aku menyerahkan lem tembak ke tanganmu. Kau mengucapkan terima kasih dan sibuk mengukur kertas karton dengan penggaris. Aku kembali melanjutkan membaca buku. Sesekali kita berbincang untuk menandakan nafas satu sama lain masih berhembus.

 

“Oppa…” kau memanggilku. Tapi aku masih terlalu asyik dengan bukuku. “Lihat ini.”pintamu. Aku hanya menjawab dengan deheman pelan. Aku tahu kau terganggu dengan sikap tak acuhku. Kau mendekat padaku dan melayangkan ciuman ringan di bibirku. Rasanya seperti apel. Yah, kau sukses menarik perhatianku kalau begitu.

 

“Apa?” tanyaku.

 

“Bagaimana dengan ini?” tanyamu. Kau memamerkan barang kerajinan yang sangat cantik. Sebuah barang bekas dan tak berguna akhirnya menjadi barang yang bernilai. Kayu tripleks yang tipis kau lapisi dengan serbuk pantai berwarna kuning krem. Di beberapa sisi kau melekatkan kerang kecil.

 

“Cantik.” Aku bergumam pelan, memujinya dengan tulus.

 

“Benarkah, tapi apakah tidak miring ya? Tak persis persegi sama sisi. Dan ini seperti…”

 

“Transpesium.” Aku melanjutkan perkataanmu, kau mengangguk setuju.

 

“Apa aku harus merombaknya?”

 

“Tak perlu. Ini sangat cantik. Memangnya, foto siapa yang ingin kau simpan?”

 

“Foto kita berdua.”

 

“Ide bagus.” Aku menemukan peluang. Kau mengerucutkan bibir, setengah berpikir. Aku menyambar seperti elang menangkap salmon. Ku cium bibirmu dengan lumatan kecil.

 

“Hei… jangan mengejutkanku seperti itu lagi!” kau menggerutu. Tapi aku tertawa puas. Aku menyukai pipi meronamu ketika malu.

 

“Kalau kau melakukan seperti itu lagi, aku tak segan- segan untuk memukulmu. Paham?”

 

“Baiklah.” Aku pura- pura kecewa. Dan kau tertawa pelan.

 

“Oppa, eomma menelponku. Ia menanyakan sesuatu tentang hubungan kita. Apa persisnya hubungan ini.”

 

“Hm… kita berkencan.”

 

Kau mengangguk setuju, tapi aku tahu kau serius sekarang.

 

“Apa ibumu menyuruhku segera menikahimu?”

 

“Entahlah. Kalau seorang ibu bertanya seperti itu.”

 

Aku tertawa, paham akan maksudmu meskipun sebenarnya kau enggan membicarakan topik ini.

 

“Menikah bukan prioritasku sekarang.” kataku dengan suara enteng. “Kalau kau siap menikah denganku, aku akan menikahimu. Tapi kalau tidak, ya kita pikirkan hal yang lain. Seperti misalnya aku akan menyiapkan toko handycraft untukmu.”

 

“Benarkah kau akan membuatkan toko untukku?”

 

“Hm..”

 

“Terima kasih Oppa.” Katamu penuh syukur. “Kau laki- laki terbaik yang ku kenal. Penuh kejutan.”

 

Aku tertawa melihatmu menghambur dalam pelukanku. Dan itu adalah kenangan termanis yang ku miliki. Aroma sampomu, suara manjamu, atau bahkan ciumanmu sebagai pengalih perhatian dari segala aktifitasku.

 

**JUST ANOTHER LONELY NIGHT**

 

Tapi disinilah aku sekarang. Terjebak akan kenangan yang menggila. Kau jatuh dalam takdir lain yang tak mungkin ku tolak. Aku hanyalah pria melankonis yang merindukanmu. Aku bertahan di kota kecil, sibuk meratapi nasib dengan kehidupan itu- itu saja. Berangkat kerja tanpa sarapan, pulang kerja tanpa makan malam. Aku duduk memandangi langit. Rasi orion benar- benar terang diantara jutaan bintang lain melambangkan kalajengking.

 

“Hyunbae, aku merindukanmu.” kataku dengan suara berdesis lirih. Ku peluk bingkai kerang, satu- satunya barang kesayanganmu yang kau tinggalkan untukku.

 

“Maafkan aku.” Lagi- lagi aku terisak dalam tangisan getir tanpa suara dan air mata. Ku cengkeram dadaku yang perlahan nyeri luar biasa akibat ledakan emosi.

 

“Ku mohon, kali ini saja kau kembali. Tak apa hanya dalam delusi. Asalkan kau datang malam ini.” Aku duduk merosot dan bersandar di bingkai jendela.

 

“Maafkan aku Hyunbae-ya, karenaku kau terbunuh.” Isakku penuh sesal.

 

Ingatan mengerikan ketika darah berceceran di kamar mandi. Aroma anyir dan ketakutan melandaku. Aku terserang kepanikan yang luar biasa ketika mendobrak kamar mandi yang dikunci dari dalam. Kau, jatuh terkulai tanpa nyawa. Matamu terpejam rapat tanpa mengucapkan perpisahan. Tanganmu terluka dengan sayatan dalam, urat nadimu putus teriris pisau tajam di tanganmu yang lain.

 

“Tidak!!!!!” teriakku, sibuk mengenyahkan pikiran terkelamku. “Ku mohon tidak!” teriakanku bergema sama seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu.

 

“Tolong.” kataku meronta. Tapi bayanganmu menyedot semakin dalam. Membuat hatiku dicakar sampai daging- daging terlepas dari tempatnya.

 

“Hyunbae!” teriakku semakin sesal. Panik menyerangku hebat. Baru kemarin kau tertawa bahagia membuat bingkai kerang, dan sekarang kejadian tragis menimpamu.

 

Kau meninggalkan pesan dalam surat yang tersimpan di balik bingkai kerang. Ku baca tulisan kecil penuh air mata. Surat yang menyimpan permintaan maaf untuk pergi menjauh dari dunia ini.

 

Aku telah memicu pertengkaran antara kau dan ibumu. Hubungan yang tak direstui inilah yang keu pilih. Kau kabur dari perjodohan yang diatur. Tapi ibumu bahkan tak berhenti mengusikmu sampai akhirnya kau bunuh diri. Tapi kenapa harus dengan pilihan seperti itu? tidakkah kau mau menunguku sebentar? Aku pulang terlambat ini juga baru bertransaksi membeli sepetak tanah untuk tokomu.

 

Aku memejamkan mata. Ku rasakan semilir angin berhembus dari celah jendela. Hangat. Seluruh badanku meremang, tapi aku memilih diam.

 

Oppa…” panggilan manjamu lagi- lagi terdengar. Aku menajamkan indra pendengaranku. Dengan mata terpejam rapat, aku berkonsentrasi penuh.

 

Angin kembali merebak di sejur tubuhku.

 

Just Another Lonely Night. Ini malam kesepianmu yang lain. Sama seperti sebelumnya. Ku pinta kau berhenti menyalahkan diri. Percayalah, aku bahagia dengan pilihanku sekarang. Dua puluh empat jam kau memikirkanku seperti ini, bagaimana aku bisa tenang bila kau tak melepaskanku?” bisikan itu bergema lirih.

 

Maaf meninggalkanmu dengan penuh rasa duka. Lepaskan kematianku dengan tenang. Suatu saat kita akan bertemu di ujung waktu. Aku akan menunggumu di altar.” Suara itu milikmu Hyunbae. Tapi aku tak berani membuka mata untuk melihat wujudmu. Takut kalau kau tak akan muncul lagi.

 

“Just Another Lonely Night. Malam kesepianmu yang lain. Ku harap kau tak lagi mengalaminya. Aku mencintaimu sedalam perasaanmu.” Suara itu pelahan mengabur. Dan tersisa sepoi angin lembut yang masih membuaiku. Perlahan perasaanku menjadi lebih baik, tenang dan rileks. Ku buka mataku perlahan dan bingkai kerang itu masih ku peluk. Seraut wajahmu sedang tersenyum. Senyuman yang bermakna kau bahagia telah hidup bersamaku.

 

“Akan ku temui kau di kehidupan yang lain. Malam tanpa sepi. Hanya ada kita.” ucapku lirih. Aku bangkit dari lantai, menyiapkan secangkir coklat panas untuk mengganjal perut. Akan ku coba untuk menikmati makan malam meskipun harus ku lewati tanpamu. Kehidupanku tak selamanya meratapi nasib, berharap kau kembali dalam nyata. Kau terbang ke dunia akhirat. Meninggalkanku sendiri di malam kesepian yang lain.

 

Hyunbae, aku akan menjalani hidup seperti semula. Meskipun aneh kalau tanpamu. Anehnya rongga dadaku kosong ketika mencoba tertawa. Ya berbulan- bulan tanpa selera humor membuat bibirku mengejang kaku.

 

“Mimpilah yang indah.” kataku pada diriku sendiri.

 

Just another lonely night. Ya… seperti itulah malamku tanpamu. Malam tak berkesudahan yang perlahan akan memiliki tantangan dan warna baru.

 

**JUST ANOTHER LONELY NIGHT**

 

Hyunbae POV

Aku sedang menatap pria itu sedang murung. Tak jelas apa yang ada dipikirannya. Tapi aku sudah menangkap ekspresi penuh penderitaannya. Bibirnya bergerak memanggil namaku sekali. Aku ingin sekali memeluk pria itu dalam pelukanku. Seperti sebelumnya, aku gagal menyentuhnya. Ia mengabaikan orang lain dan mengabaikan kesehatannya sendiri. Melewatkan jam makan malam sepanjang waktu. Duduk melamun menatap langit. Aku tahu ia merindukanku. Getir rasanya ketika aku tak bisa menolong tawanya. Ia padam di bawah jutaan bintang, memikirkan namaku,

 

“Just Another Lonely Night. Malam kesepianmu yang lain. Ku harap kau tak lagi mengalaminya. Aku mencintaimu sedalam perasaanmu.”

 

Benar. Hanya itu yang mampu ku ucapkan sebagai perpisahan untuk menedeuhkan hatinya. Kemudian angin menarikku pergi ke ruang yang tak pernah aku tahu dimana keberadaanya. Yang jelas aku tak akan pernah kembali lagi untuk berjumpa dengan Hoya Oppa.

 

“Selamat tinggal Oppa.” kataku pelan. Dan aku melesat pergi dengan perasaan kebas. Paling tidak pria itu tak akan merasakan sepi lagi seperti sebelumnya. Just another lonely night, malamnya akan indah ketika ia akan tersenyum melepaskanku.

 

I hope we meet each other in another place and time.

 

**END**

 

Jember, 27 April 2015 11.30 WIB

Komentar
Nama
Gender
Email
Comment

POPULAR FANFICTION
COPYRIGHT 2019 DREAMERS.ID PUBLISHED BY DREAMERS NETWORK